Penulis: Editor Wadi Mubarak

  • Nabi Zakaria-Kisah Inspiratif Sepanjang Masa (1)

    Keutamaan Menuntut Ilmu

    Ilmu merupakan sarana untuk beramal saleh. Menuntut ilmu memiliki keutamaan yang agung. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa menuntut ilmu itu lebih baik dari seratus rakaat shalat sunnah.  Sebuah hadits menyebutkan:

    يَا أَبَاذَرٍّ ، لَأَنْ تَغْدَوْا فَتُعَلِّمَ اَيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَّكَ مِنْ اَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ ، وَلَأَنْ تَغْدُوْا فَتُعَلِّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ عُمِلَ بِهِ اَوْ لَمْ يُعْمَلْ خَيْرٌ مِنْ اَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ رَكْعَةٍ . (ابن ماجة)

    “Wahai Aba Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah telah baik bagimu dari pada shalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik dari pada shalat seribu rakaat.” (HR. Ibn Majah)

    Begitu agungnya keutamaan menuntut ilmu, sehingga jika ada pilihan diantara kita, antara menuntut ilmu atau shalat sunnah. Maka dahulukan menuntut ilmu, sebagaimana Imam Ahmad dahulu saat ditanya anaknya, “Wahai Ayahku, mengapa engkau sangat mendahulukan mudzakarah (belajar bersama sang Guru yaitu Ibnu Ma’in) dibanding mengerjakan shalat malam?” Maka Imam Ahmad menjawab, “Jika aku ketinggalan shalat malam, maka aku bisa menggantikannya di malam malam berikutnya. Namun jika aku ketinggalan untuk menimba ilmu dari Ibnu Ma’in, maka aku tidak akan bisa mengulanginya.” 

    Imam Ibnu Ma’in merupakan imam ahlussunah, seorang pakar hadits (muhadits) dan ahli ilmu rijal (analisis kritis terhadap perawi hadits). Ia merupakan salah satu guru dari Imam Bukhari juga senior dari pakar hadits lainnya, diantaranya adalah Imam Ahmad. Imam Ibnu Ma’in, Ulama yang menjadi rujukan dalam ilmu hadits pada masanya ini pernah berkata; “Aku menulis dengan tanganku sejuta hadits.” Adapun saat beliau wafat, meninggalkan kitab karyanya sebanyak 114 rak dan 4 peti penuh.

    Baca: Meneladani Sang Khalilullah Ibrahim As Bag IV

    Alquran, Syafaat  Hamba Beriman

    Salah satu keutamaan Alquran adalah sebagai syafaat di akhirat kelak. Seluruh harta, benda, kekayaan, materi, kekuasaan, jabatan, kesemuanya tidak akan dibawa mati. Berbahagialah hamba beriman yang senantiasa dekat dengan Alquran. Karena Alquran akan menjadi pembelanya di hari kiamat kelak.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

     الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، يَقُولُ الصِّيَامُ : أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ . وَيَقُولُ الْقُرْآنُ : مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ . قَالَ : فَيُشَفَّعَانِ

    “Shiyam (Puasa) dan Al-Qur’an akan memberikan syafaatnya kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makanan dan syahwat pada siang hari, maka berilah ijin kepadaku untuk memberikan syafa’at kepadanya.’ Al-Qur’an berkata, ‘Aku telah menahannya dari tidur pada malam hari, maka berilah saya ijin untuk memberikan syafaat kepadanya.’ Keduanya dapat ijin untuk memberikan syafa’atnya” (hadits shahih riwayat Ahmad).

    Kita hendaknya bersyukur kepada Orang Tua kita, Guru-Guru dan Pimpinan kita yang telah menunjukkan dan mengajarkan Alquran untuk kita. Mereka yang setiap hari mengisi hari-harinya dengan Alquran, ialah yang kelak akan beruntung, karena mendapat keistimewaan syafaat dari Alquran.

    Para Guru, para Pengajar Alquran, yang telah merelakan waktunya untuk bangun malam, mempersiapkan hafalan Alquran, mempersiapkan cara mengajarkan Alquran, maka in sya Allah, tidak akan sia sia disisi Allah. Hal tersebutlah yang akan menjadi pembela kita kelak di akhirat, juga yang membantu menentukan tingkatan surga sebagai hadiah dari Allah Ta’ala.

    Nabi Zakaria Berdoa dengan Suara Lembut

    Nabi Zakaria berdoa kepada Allah dengan suara yang lirih, dan hal itu pula yang Allah sukai, maka Allah mengabadikan kisahnya di dalam Alquran untuk menjadi contoh bagi umat sesudahnya.

    Allah Ta’ala berfirman:

    إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيًّا

    “Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut (lirih).” (QS.Maryam:3)

    Menurut Qatadah, Sesungguhnya Nabi Zakaria melirihkan suaranya dalam berdoa karena kecintaannya kepada Allah  ﷻ. Sesungguhnya Allah mengetahui kalbu orang yang bertakwa, dan Allah mendengar suara yang perlahan. Sebagian ulama Salaf mengatakan, Nabi Zakaria bangun di tengah malam, sedangkan semua muridnya telah tidur, lalu dia berbisik kepada Tuhannya seraya berdoa dengan suara yang lembut. Maka Tuhannya pun berfirman kepadanya, “Kupenuhi seruanmu, Kupenuhi seruanmu, Kupenuhi seruanmu.”

    (Bersambung Bag. II)

    Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan // Ibn Al.Choer

  • Meneladani Sang Khalilullah – Ibrahim As (Bag. IV)

    Meneladani Semangat Siti Hajar

    Pilihan sebagai pengajar, sebagai pendidik, sebagai pendakwah Alquran dan Assunah, merupakan tugas istimewa karena ia meneruskan tugas rasulullah. Dan memang, jalan dakwah bukanlah mulus. Jalan dakwah itu berat, ujian dakwah juga berat, sebanding dengan pahala yang sudah Allah siapkan untuk hamba- hambaNya yang beriman.

    1. Meluruskan Niat

    Hal utama yang harus selalu kita tekankan dan kita evaluasi adalah niat. Meluruskan niat ini sangat penting dalam segala aktivitas kita. Apalagi dalam perkara mendidik anak. Semua niatkan karena mencari ridlo Allah. Bukan semata keinginan agar anak paling berprestasi, agar anak hafalannya banyak sehingga mendapat pujian banyak orang, agar anaknya tampak alim dls. Semua keinginan tersebut memang baik. Tetapi upaya meluruskan niat ini, sebuah upaya agar Allah meridloi kita dan kita bisa melaksanakan segala aktivitas dengan penuh dengan keihlasan, semangat, dan tidak berkeluh kesah. Sesungguhnya jika Allah meridloi, maka Allah yang akan memudahkan dan memberkahi jalan dakwah.

    • Utamakan doa.

    Jangan pernah meremehkan doa. Jangan merasa bahwa usaha kita sudah mampu menjadikan anak didik dan anak anak kita menjadi terbaik. Kita harus bersimpuh kepada Allah, meminta bimbingan Allah. Karena Allahlah penggengam setiap jiwa. Nabi kita Muhammad ﷺbersabda:

    إن قلوب العباد بين إصبعين من أصابع الرحمن يقلبها كيف يشاء

    “Sesungguhnya hati para hamba itu berada di antara dua jari dari jari-jari Allah subhanahu wata’ala, Dia membolak-balikkannya bagaimanapun yang Dia kehendaki.”

    • Pantang menyerah, tak kenal lelah.

    Jika kita mengalami kesulitan, mengalami kelelahan, maka hendaknya kita bercermin. Adakah kesulitan kita melebihi kesulitan yang dialami oleh Siti hajar? Dalam panas terik, di padang pasir, tidak ada rumah, tidak ada penghuni lain, tidak ada air, membawa bayi yang kehausan. Seungguhnya ujian kita sangat jauh dari kesulitan yang dialami oleh Siti Hajar.

    Seberat apapun perjuangan kita, maka harus selalu diingat. Allah tidak akan menyia nyiakan kita. Allah tidak akan menelantarkan kita.

    Baca: Meneladani Sang Khalilullah Ibrahim As Bag III

    Allah mengajari kita untuk selalu berjuang dengan gigih dan pantang menyerah. Sehingga kejayaan islam bisa diraih kembali. Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kita untuk berusaha sekuat tenaga. Dari hasil jerih payah nabi Muhammad ﷺ, bahkan beliau pernah berkurban 100 ekor unta pada haji wada’. Sejumlah 63 ekor, beliau sembelih sendiri dan sisanya disembelih oleh Ali Ra. Dari sejarah tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa rasulullah seorang yang kaya, dermawan, kuat, namun juga sangat sederhana dalam kehidupan sehari harinya. Karena dalam sebuah hadits, pernah juga diceritakan bawa setelah beliau berkurban pada haji wada’ itu, bahkan sampai 3 kali purnama, Aisyah menyampaikan bahwa dapurnya tidak menyalakan api. Itu artinya, Rasulullah tidak memasak di dapurnya selama beberapa bulan. Dan bertahan dengan makan kurma dan air.  Pantaslah jika Allahpun akan hadiahkan surga tertinggi disisiNya.

    Kisah kisah yang dialami para nabi inilah, yang hendaknya menjadi penyemangat kita agar kita terus berusaha pantang menyerah. Karena istirahatnya orang mukmin itu di surga. Dunia adalah tempat untuk beramal ibadah, mengumpulkan sebanyak-banyaknya bekal akhirat.

    سئل الإمام أحمد بن حنبل : متى الراحة يا إمام ؟ فأجاب : عند أول قدم تضعها في الجنة .

    Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya: “Wahai imam, kapankah waktu istirahat itu?” Beliau jawab: “(istirahat yg sesungguhnya ialah) pada saat engkau pertama kali menginjakkan kakimu di dalam Surga.”

    (Selesai//Ibn Al.Choer)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • Meneladani Sang Khalilullah – Ibrahim As (Bag. III)

    Siti Hajar, Figur Teladan Wanita Sabar dan Tangguh

    Perjalanan panjang Hajar bersama Ibrahim. Pengorbanan yang ia lakukan. Tingginya husnudzon Hajar pada suami dan Rabbnya disertai keihlasan, kesabaran dan ketakwaan yang luar biasa inilah yang perlu kita contoh dari Wanita Mulia, Siti Hajar.

    Anak yang shalih terlahir dari rahim ibunya yang kuat keimanannya. Demikian juga Siti Hajar, betapa kuat keimanannya, sehingga lahirlah Ismail, dimana kelak dari keturunannya pula, lahirlah penutup para nabi, Nabi Muhammad ﷺ

    Menyelami perjalan Hajar. Perjalanan jauh yang harus ia tempuh dalam keadaan nifas, membawa bayi yang masih merah, tidak saling bicara dengan suaminya. Memang betapa istimewanya Hajar. Manusia mana yang mampu menjalani pengorbanan tersebut jika bukan karena hamba pilihanNya?

    Di tanah gersang, tandus, tiada banyak pepohonan, terbentang luas padang pasir yang panas. Disitulah Hajar harus bertahan dengan membawa bayi dan perbekalan minim. Bahkan pada saat kondisi sedemikian berat, ia selalu husnudzon kepada Rabbnya, bahwa Allah tidak akan menelantarkannya. Keimanannya yang kokoh, ia wujudkan juga dengan ihtiar kuatnya.

    Yaitu tatkala hanya berdua saja ia tinggal di lembah gersang dan panas. Ketika perbekalannya habis, ketika anaknya kehausan, maka ia berlari kecil mencari sumber air untuk anaknya. Ia berlari berkali kali antara bukit Shafa dan Marwa. Dan bermula dari kisah ini pula,  munculnya sumber air zam-zam. Dimana setiap jiwa yang meminumnya, maka mengalir pula pahala jariyah kepada ibunda mulia, Siti Hajar, hingga hari kiamat kelak.

    Pada era milenial ini, dimana mulai terjadi pergeseran figur teladan. Dimana mulai mengidolakan artis sebagai teladan. Maka kini saatnya. Mengembalikan keteladan kepada para nabi dan sahabat. Siti Hajar adalah sosok mulia yang pantas untuk diteladani. Pribadi kuat dan tangguh seperti Hajar inilah yang bisa turut meraih kejayaan islam. Bukan generasi yang mudah putus asa, tidak percaya diri dan mudah menyerah.

    Baca : Meneladani Sang Khalilullah Ibrahim As Bag II

    Salah satu prinsip Siti Hajar yang patut kita contoh adalah, jika kita berada di jalan Allah, berada pada garis perjuangan, maka tidak usah khawatir, karena Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan. Allah tidak akan melalaikan. Dan pertolonganNya akan hadir, tanpa batas, dari segala arah.

    Warisan Kesalihan Lebih Penting dari Warisan Harta.

    Salah satu doa Ibrahim As yang diajarkan untuk kita dalah doa meminta anak yang shalih. Demikian karena keturunan yang mewarisi kesalihan dan ketakwaan lebih penting dari keturunan yang sekedar mewarisi harta kekayaan.

    Berikut ini sebuah kisah nyata pada masa khalifah yang membukakan wawasan kita, bahwa warisan ketakwaan lebih penting dari warisan harta.

    Kisah ini berasal dari Muqatil bin Sulaiman yang merupakan nasehat dari apa yang ia lihat dan persaksiakan sendiri. Muqatil mengisahkan, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memiliki sebelas anak. Ketika wafat, ia meninggalkan uang delapan belas dinar. Untuk membayar kain kafan lima dinar dan untuk tanah liang kuburnya empat dinar. Sisanya sembilan dinar diwariskan kepada ahli warisnya.

    Uang 9 dinar ini jika dibagi kepada 11 anak, jika dirupiahkan maka masing masing anak menerima sekitar Rp1.500.000,- (dengan acuan emas 22k seharga 450ribu, adapun satu dinar setara dengan 4,25 gram emas 22k atau Rp.1.912.500).

    Baca Informasi Pendaftaran BIMBEL Quran Online Angkatan 2

    Khalifah yang menjabat beberapa tahun sesudahnya adalah Hisyam bin Abdul Malik, yang juga memiliki sebelas anak. Hisyam mewariskan kepada anak anaknya masing masing satu juta dinar. Jika dirupiahkan, masing masing anak Hisyam ini, menerima warisan hampir 2 Triliun (dengan acuan jika 1 dinar setara dengan Rp.1.912.500 maka dikalikan 1 juta mencapai Rp 1.912.500.000.000,-).

    Melihat nominal warisan, secara logika manusia, maka yang akan hidup makmur dan berkecukupan adalah anak anak Hisyam. Namun ternyata harta bukan penjamin kemakmuran. Muqatil bahkan bersumpah demi Allah, bahwa pada suatu hari ia melihat salah seorang anak Umar bin Abdul Aziz bersedekah seratus ekor kuda untuk keperluan jihad fi sabilillah. Dan pada hari yang sama, ia melihat salah seorang anak Hisyam bin Abdul Malik sedang meminta-minta di pasar.

    Orang-orang saat itu bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz menjelang wafatnya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk anak-anakmu?”

    Ia menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka takwa kepada Allah. Jika mereka menjadi orang-orang yang shaleh maka Allah yang akan mengurus mereka, jika tidak menjadi orang-orang yang shaleh maka aku tidak akan menolong mereka untuk bermaksiat kepada Allah.“

    Benarlah kiranya, bahwa Allah akan menjadi wali bagi hamba-hambanya yang shalih. Allah pula yang akan menjamin keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat.

    (Bersambung Bag. IV)

    Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • Pendaftaran Program BIMBEL Qur’an Online (Angkatan 2)

    TELAH DIBUKA PENDAFTARAN PROGRAM BIMBEL QUR’AN ONLINE (ANGKATAN 2)

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنْ النَّاسِ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ
    “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia”, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya”
    (HR. Ahmad dan Ibnu Majah.)

    Rasakan mudahnya belajar membaca dan memperbaiki bacaan Al-Qur’an dengan mengikuti program BIMBEL Qur’an Online yang diselenggarakan oleh Yayasan Sahabat Qur’an (YASAQU) Wadi Mubarak. Dibimbing langsung oleh para pengajar professional yang berwawasan luas di bidang ilmu Al-Qur’an. Para pengajar ini semuanya adalah para alumni yang telah menyelesaikan pendidikannya di Islamic Center Wadi Mubarak, dan ada juga yang telah memiliki sanad bacaan Al-Qur’an yang bersambung ke Rasulullah ﷺ.

    Adapun materi program pembelajaran yang bisa diikuti terdiri dari 5 level, yang terdiri dari:

    📖 1) Pra Tahsin:

    • Bagi peserta yang belum bisa membaca Al-Qur’an.
    • Bagi peserta yang sudah belajar membaca namun masih banyak terdapat kesalahan.
    • Pembelajaran menggunakan Metode At-Tibyan.

    📘 2) Tahsin:

    • Bagi peserta yang sudah belajar membaca Al-Qur’an dan ingin memperbaiki tajwidnya.
    • Pembelajaran menggunakan Metode At-Tibyan.

    📔 3) Matan Tuhfatul Athfal

    📗 4) Matan Jazariyah:

    • Level 3 & 4 diperuntukan bagi Peserta yang ingin memahami dan memperdalam ilmu tajwid dan makharijul huruf.

    📗 5) Tahfizh:

    • Bagi peserta yang sudah lancar dan baik dalam membaca Al-Qur’an, ingin memulai untuk mengahafal, atau menambah hafalan Al-Qur’an, atau mengulang hafalan Al-Qur’an.

    KENAPA HARUS IKUT PROGRAM BIMBEL SAQU?
    🥇 1. Metode Pembelajaran Terbaik.
    👳🏻‍♀️ 2. Dibimbing Langsung Oleh Pengajar Professional.
    📋 3. Materi Pengajaran Yang Komprehensif.
    🗣️ 4. Materi Berisi 40% Teori & 60% Praktek.
    🔗 5. Pembelajaran Dapat Dilakukan Dimana Saja Melalui Sarana Google Meet.

    🔖 Fasilitas:
    √ Gratis modul pembelajaran
    √ Sertifikat
    √ Waktu pembelajaran yang dapat dipilih sendiri
    √ Tergabung dalam komunitas Majelis Tadabbur Al-Qur’an di bawah naungan Yayasan Islamic Center Wadi Mubarak

    💷 SIAPKAN INFAQ TERBAIK ANDA
    Nb: Infaq sudah termasuk pembelajaran selama 3 bulan, serta modul pembelajaran, dan sertifikat tanda tamat belajar di akhir program. Setiap infaq Anda akan sangat bermanfaat dalam mendukung program pendidikan & dakwah Al Qur’an di Islmaic Center Wadi Mubarak.

    ⚠️ Catatan: Peserta terbatas hanya untuk IKHWAN saja ⚠️

    📆 BATAS WAKTU PENDAFTARAN
    Tahap 1 : 5 Februari s/d 12 Februari 2021
    Tahap 2 : 13 Februari s/d 20 Februari 2021
    ⛔ Kuota Terbatas ⛔

    **Program pembelajaran berlangsung selama 3 bulan.
    In Syaa Allah akan dimulai dari tanggal 1 Maret s/d 31 Mei 2021.

    INFORMASI & PENDAFTARAN:
    📱 Ikhwan: http://bit.ly/BIMBEL_SAQU_Ikhwan
    .
    .
    Web: https://wadimubarak.com/bimbel-saqu-angkatan-2/
    Youtube: https://bit.ly/YoutubeChannel_ICWM
    Instagram: https://www.instagram.com/bimbelsaqu_wm/

  • Motivasi Pengasuh Bagi Pengurus dan Santri

    MOTIVASI PENGASUH BAGI PENGURUS DAN SANTRI WADI MUBARAK

    Masjid Jami’ Wadi Mubarak, Bogor – Pimpinan sekaligus Pengasuh Islamic Center Wadi Mubarak, K.H. Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I., menyampaikan motivasi bagi segenap Pengurus dan Santri pada hari Kamis (28/01/2021) bertempat di Masjid Jami’ Wadi Mubarak. Motivasi ini disampaikan sebagai bentuk kepedulian Pengasuh kepada para pengurus dan santri agar tumbuh rasa kepercayaan diri mereka sebagai Ahlul Qur’an.

    Kajian Motivasi berlangsung setelah sholat maghrib hingga waktu isya’. Segenap Pengurus dan Santri Wadi Mubarak mengikutinya dengan penuh khidmat. Sesekali diselingi senyum dan tawa dari candaan khas pengasuh yang penuh makna.

    Pengasuh mengawali motivasi dengan penyampaian tentang ni’mat belajar al-qur’an. Sembari menekankan agar ni’mat ini harus dijaga dan jangan sampai dirusak dengan maksiat yang dilakukan. Dengan penuh keyakinan Beliau tegaskan, “Antum sudah diberikan hal (al-qur’an) yang sangat mewah dan berharga dari Allah, maka jangan rusak itu dengan maksiat”.

    Setelah mendapatkan ni’mat belajar al-qur’an, maka kewajiban berikutnya adalah mengajarkannya. Dalam Hadist disebutkan, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya” (HR. Bukhori). Menjadi Pengajar Al-Qur’an harus punya sifat adil dalam pribadinya.

    Kriteria Adil adalah ketika seseorang selamat dari sebab-sebab kefasikan dan hal-hal yang merusak kewibawaan. Fasik bermakna melakukan dosa besar walau hanya sekali, atau melakukan dosa-dosa kecil secara berulang-ulang. Adapun kewibawaan, tidak selalu berkaitan dengan agama, namun juga berkaitan dengan adat istiadat yang berlaku di masyarakat.

    Pengasuh mengingatkan agar para pengurus dan santri benar-benar memperhatikan kriteria adil tersebut. Sebab para ahlul qur’an memiliki tanggungjawab yang lebih besar, serta harus menjaga adab yang lebih baik daripada masyarakat awam pada umumnya. Apa-apa yang mungkin lumrah bagi masyarakat, misal pergi ke tempat karoeke, tapi menjadi pantangan bagi para ahlul qur’an.

    Setelah menguraikan tentang ni’mat al-qur’an dan bagaimana kriteria pengajar al-qur’an, Pengasuh menambahkan poin penting yang harus selalu menjadi perhatian bersama. Pertama, Luruskan niat karena Allah. Niat menjadi pondasi dasar dalam dakwah, sebab medan dakwah sering kali berada pada kondisi yang tidak ideal. Jika tanpa niat yang lurus, niscaya akan berangsur “patah arang”. Terkait Fasilitas, Beliau menekankan agar jangan pernah bergantung pada fasilitas. Harus diubah cara pandangnya, bagaimana dengan fasilitas yang ada dakwah tetap bisa berkembang. Jika menunggu fasilitas lengkap, siapapun bisa. Tapi hanya orang hebatlah yang lahir dari segala keterbatasan.

    Kedua, Totalitas untuk Ilmu. Jangan menunggu waktu kosong untuk belajar al-qur’an, tapi kosongkan waktu untuk al-qur’an. Orang yang punya qur’an jauh lebih kaya dibanding orang lain di muka bumi ini. Karena hafalan al-qur’an tidak bisa dibeli. Harus berlelah-lelah dahulu. Kita harus totalitas untuk ilmu. Sebab jika kita setengah-setengah, ilmu tidak akan memberikan apapun kepada kita.

    Di akhir, Pengasuh mengajak para pengurus dan santri agar terbiasa berfikir besar, dan memberikan manfaat kepada orang lain. Tidak hanya sibuk mengurusi diri sendiri. Menurut beliau, “Penting untuk kerja bareng-bareng. Dalam amal jama’i tentu ada friksi dan gesekan, tapi kalau niat karena Allah serta punya tujuan yang sama, maka barisan akan tetap kuat.”

    Melalui Kajian Motivasi, semoga para pengurus dan santri dapat lebih percaya diri dengan status mulia yang Allah anugerahkan kepada mereka, yakni Ahlul Qur’an. Sebagaimana dalam Hadits disebutkan, “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para Ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihan-Nya,” (HR. Ahmad). [AFS]

    Editor: Ibn Al.Choer

  • Meneladani Sang Khalilullah – Ibrahim As (Bag. II)

    Allah Berikan Kabar Gembira Kepada Ibrahim As

    Atas ihtiar panjang, kesabaran, ketaatan Ibrahim kepada Rabbnya, maka Allah pun memberikan kabar gembira Ibrahim, seperti yang termaktub dalam Qs. As Sahffat: 101; فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ  “Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.”

    Dalam tafsir An-Nafahat Al-Makkiyah, anak yang halim, artinya sangat sabar, akhlaknya mulia, dadanya lapang dan suka memaafkan kesalahan orang.

    Anak yang disebutkan sebagai berita gembira bagi Ibrahim tersebut adalah Ismail As.  Putra pertama Ibrahim, Ismail, lahir dari rahim Siti Hajar. Siti Hajar merupakan hadiah dari Raja Mesir kepada Siti Sarah. Mengetahui bahwa dirinya mandul dan Hajar adalah wanita terhormat yang taat dan baik. Maka Sarah meminta Ibrahim untuk menikahi Hajar. Dari rahim Hajar inilah Ismail dilahirkan. Dan saat itu, usia Ibrahim mencapai 86 tahun.

    Pengorbanan Ibrahim As, Membawa Siti Hajar dan Ismail ke Makkah

    Ibrahim As, pantas menyandang gelar khalilullah. Sebanding dengan perjuangannya yang luar biasa dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.

    Hadirnya anak yang dinanti-nanti selama puluhan tahun, tentu menimbulkan kasih sayang yang dalam, kerinduan yang dalam untuk menimangnya juga keinginan untuk selalu mengasuh dan merawatnya. Jangankan hingga 86 tahun menanti kelahiran anak. Pasangan rumah tangga yang menunggu anak dalam hitungan 3 atau 5 tahun saja, itu sangat luar biasa curahan kasih sayang kepada anaknya.

    Ibrahim, setelah sangat lama menunggu kelahiran anak. Saat anaknya, Ismail lahir, dan masih berupa bayi merah. Istrinya pun masih nifas. Allah memerintahkan Ibrahim untuk membawa Hajar dan Ismail untuk hijrah ke Makkah. Kelak disanalah bermula kisahnya zam zam, yang airnya menjadi keberkahan penduduk bumi.

    Siti Hajar, yang kala itu melahirkan Ismail di Hebron, Palestina, mengikuti suaminya untuk hijrah, dalam kondisi masih nifas juga membawa bayi yang masih merah. Selain mendapat perintah untuk hijrah, Ibrahim juga tidak diperbolehkan oleh Allah untuk berbicara selama masa perjalanan. Perjalanan antara Palestina ke Mekkah tersebut menempuh jarak sejauh -+ 1.500 km. Memerlukan waktu berbulan bulan jika ditempuh dengan jalan kaki. Membutuhkan sekitar 40 hari jika ditempuh dengan menggunakan unta atau dua bulan menggunakan keledai.

    Pada masa perjalanan jauh, dimana Allah dengan kebijaksanaanNya melarang Ibrahim untuk berbicara kepada istrinya selama perjalanan. Mari kita bayangkan, betapa pengorbanan besar yang sulit ditempuh oleh manusia.

    Kita sebagai manusia biasa, baru sehari saja tidak bercakap dengan keluarga, itu sangat tidak nyaman. Apalagi jika dalam perjalanan jauh dan tidak bisa bercakap dengan istri. Tentu akan menimbulkan tenakan psikologis yang tinggi. Dan demikianlah Allah memilih Ibrahim sebagai khalilullah. Karena sangat taat dan patuh pada Allah Ta’ala. Dari berbagai cobaan yang ia alami, dapat kita simpulkan, betapa menderitanya dan beratnya ujian yang dialami Ibrahim.

    Setelah perjalanan panjang, sesampainya di tanah Makkah, perbukitan padang pasir, tempat yang gersang, tiada air dan tiada penghuni. Disanalah Ibrahim menempatkan istri dan anaknya, Hajar dan Ismail. Ibrahim menempatkan hajar dan anaknya disisi pohon, dan ditinggalkan perbekalan, berupa kantung berisi kurma dan geriba berisi air.

    Baca artikel sebelumnya: Meneladani Sang Khalilullah Iibrahim As. Bag I

    Sebagaimana dikisahkan dalam sebuah hadits shahih. Rasulullah ﷺbersabda:

    ثُمَّ قَفَّى إِبْرَاهِيمُ مُنْطَلِقًا، فَتَبِعَتْهُ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ فَقَالَتْ: يَا إِبْرَاهِيمُ، أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الوَادِي، الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ؟ فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا، وَجَعَلَ لاَ يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا، فَقَالَتْ لَهُ: آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَتْ: إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا، ثُمَّ رَجَعَتْ

    “… kemudian Ibrahim beranjak pergi, lalu ibunya Ismail (Hajar) mengikutinya dan berkata: “Wahai Ibrahim, kamu mau pergi kemana? kamu tinggalkan kami di lembah ini yang tidak ada manusia dan suatu apapun”. Dia (Hajar) berkata seperti itu berulang kali dan Ibrahim tidak menoleh kepadanya, lalu ia bertanya kepada Ibrahim: “Apakah Allah memerintahkan hal ini kepadamu?” Ibrahim menjawab: ” iya “, lalu ia berkata: “Jika demikian, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”, kemudian ia kembali …” (HR. Al-Bukhari no. 3364 hadits Ibnu ‘Abbas).

    Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa Hajar sempat menanyakan beberapa kali kepada Ibrahim tentang kenapa ia beserta anaknya ditinggalkan disana. Dan Ibrahim pun juga tidak menjawab pertanyaan tersebut lantara Ibrahim harus menaati perintah RabbNya untuk tidak bercakap cakap.  Setelah beberapa kali tidak mendapat jawaban, maka Hajar kembali menegaskan,  آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟  “Allah-kah yang menyuruhmu untuk melakukan hal ini?” Ibrahim akhirnya menganggukan kepala sebagai isyarat jawaban “iya”.

    Disinilah kita melihat, betapa tingginya keimanan Siti hajar. Melihat isyarat jawaban Ibrahim, maka Hajar pun menjawab dengan: إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.”

    Ibrahim, yang juga manusia, tentu sangat tersayat, pedih hatinya, meninggalkan istri dan buah hatinya yang telah lama ia idamkan. Tapi demikianlah Ibrahim, selalu taat dengan perintah Allah. Maka iapun mendapat kedudukan istimewa di sisi Allah.

    (Bersambung Bag. III)

    Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • Meneladani Sang Khalilullah – Ibrahim As (Bag. I)

    Kesabaran Nabi Ibrahim dan Kerinduan Hadirnya Anak

    Ibrahim As, Nabi yang mendapat kedudukan istimewa di sisi Allah ini, belum dikaruniai anak, hingga umurnya mencapai 86 tahun. Nabi yang mulia, diantara kemuliaannya adalah ia mendapat gelar sebagai Abul anbiya’ (Bapaknya para nabi). Dimana seluruh nabi-nabi yang lahir setelahnya, kesemuanya adalah keturunannya. Ia juga mendapat gelar ‘khalilullah’ (kekasih Allah), karena ia selalu taat kepada perintah Rabbnya, selalu sabar dan bertaqwa kepada Allah Ta’ala. Dari berbagai gelar yang disematkan kepadanya, maka bisa kita lihat, betapa istimewa dan betapa tingginya kedudukan nabi Ibrahim disisi Allah. Sudah sedemikian istimewanya pun,  Ibrahim belum mendapat karunia anak hingga usianya mencapai 86 tahun.

    Sungguh betapa berat ujiannya, sebanding dengan kemuliaan yang ia dapatkan. Nabi yang juga manusia. Tentu memiliki keinginan selayaknya umumnya manusia, yaitu mempunyai keturunan. Kita bisa membayangkan, betapa besar kerinduan pasangan keluarga Ibrahim akan hadirnya keturunan yang bisa mewarisi kenabiannya. Sebagaimana termaktub dalam Qs. As-Shaffat : 100

    رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

    “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”

    Sebuah rumah tangga, terasa kurang lengkap tanpa hadirnya seorang anak. Anak adalah pelipur lara. Demikian juga yang dirasakan oleh Ibrahim. Ia sangat mendambakan hadirnya anak sebagai pelengkap keluarga, pelipur lara juga mewarisinya dan membantunya dalam ketaatan. 

    Tafsir Almukhtashar menjelaskan ayat tersebut dengan; ”Sesunggunya aku berhiijrah kepada Tuhanku dari negeri kaumku ke tempat dimana aku bisa beribadah kepada Tuhanku. Sesungguhya Dia akan menunjukkan kebaikan kepadaku dalam agama dan duniawiku. Wahai Tuhanku, berilah aku anak yang shalih.”

    Tafsir Almuyasar menyebutkan bahwa Ibrahim meminta kepada Allah untuk dianugerahkan seorang anak yang shalih yang membantunya dalam ketaatan kepada Allah dan menghiburnya di negeri yang asing. Demikian karena Ibrahim dilahirkan dan besar di Irak. Saat mendakwahi kepada kaumnya dan mendapati kaumnya tidak juga beriman, akhirnya Ibrahim hijrah ke Palestina. Dalam masa kemarau panjang, Ibrahim juga sempat hijrah ke Mesir. Hingga akhirnya kembali lagi ke Palestina dan menetap disana. Tepatnya di Hebron (Mantiqah Khalil). Di negeri yang terasing inilah, Ibrahim sangat merindukan hadirnya anak yang bukan saja sebagai penerus kenabiannya, melainkan juga pelipur laranya. 

    Doa Nabi Ibrahim – Meminta Keturunan Shalih

    Salah satu keteladanan yang bisa kita contoh dari Nabi Ibrahim adalah berdoa kepada Allah dengan meminta keturunan shalih. Sebagaimana doanya,

    (Qs. As-Shaffat: 100)  رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

    Kita dianjurkan untuk meminta anak dengan sifat-sifat baik yang diridlai Allah. Diantara sifat yang tak kalah pentingnya untuk kita doakan adalah anak yang bisa menjaga nama baik, juga bisa merawat kedua orang tuanya kelak. Saat orang tua sudah mulai melemah, bertambah usia, kekuatan berkurang, sudah tidak bisa banyak beraktivitas maksimal, maka hadirnya anak yang merawatnya akan sangat membantunya.

    Anak yang shalih, akan tumbuh menjadi anak yang mengerti, memahami orang tua, juga bersedia dengan ihlas merawat kedua orang tuanya kelak. Semua harta benda, kekayaan, bisnis yang kita bangun dengan penuh pengorbanan, sesungguhnya semuanya akan hancur dan tidak dibawa mati. Hanya anak shalihlah yang turut memberikan manfaat kepada kita, bahkan saat kita terbujur kaku menghadap Yang Maha Kuasa.

    Anak Shalih Bisa Mengangkat Derajat Kedua Orangtuanya

    Anak shalih bisa mengangkat derajat kedua orangtuanya, bahkan saat oranguanya sudah meninggal. Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

    إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِيْ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : يَا رَبِّ أَنىَّ لِيْ هَذِهِ ؟ فَيَقُوْلُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

    “Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba-Nya yang shalih di surga,” Maka ia pun bertanya: “Wahai Rabbku, bagaimana ini bisa terjadi?” Allah menjawab: “Berkat istighfar anakmu bagi dirimu”. (Hadits shahih. HR. Ahmad, no. 10232)

    Istighfar di sini maksudnya permohonan ampunan kepada Allah Ta’ala dari seorang anak untuk orangtuanya dalam bentuk doa. Sebagaimana dijelaskan juga dalam hadits yang lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

    إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    “Ketika seorang manusia meninggal, maka putuslah amalannya darinya kecuali dari tiga hal, (yaitu) sedekah (amal) jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

    (Bersambung Bag. II)

    Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • KEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. IV)

    KEADAAN PARA ULAMA SAAT MENDENGAR BACAAAN ALQURAN

    Abdullan bin Handzalah Sampai Tidak Bisa Duduk Karena Ingat Neraka

    Abdul Rahman bin al-Harith bin Hisyam berkata: “Pada suatu hari aku menjenguk Abdullah bin Hanzalah yang sedang sakit. Beliau terlentang di atas Kasur. Ada seseorang membaca Alquran untuknya. Ketika dia membaca ayat,

    لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

    Bagi mereka tikar  (tempat tidur) dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-A’raf:41)

    Tiba-tiba Abdullah menangis.  Beliau menangis sampai kami khawatir nyawanya akan keluar. Kemudian beliau berkata, “Mereka berada di dalam kawah-kawah neraka!” Tiba-tiba beliau bangun berdiri.  Kemudian orang memintanya duduk namun beliau menjawab, “Aku tidak bisa duduk karena teringat api neraka, jangan-jangan aku termasuk salah seorang dari penghuninya.” (Al-Takhwif mina a-nar, Ibn Rajab al-Hanbali)

    Ali Bin Fudhail Pingsan dan Meninggal Karena Bacaan Alquran

    Fudhail bin Iyadh melaksanakan shalat Maghrib dan di samping beliau ada putranya Ali bin Fudhail. Fudhail membaca اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ ketika saat sampai pada ayat لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَۙ, Ali terjatuh pingsan sementara ayahnya Fudhail tidak sanggup melanjutkan bacaan Qurannya, lalu Ayahnya mengikat Ali, dimana ia baru siuman di tengah malam.

    Ya’qub bin Yusuf berkata, “Dahulu, Fudhail bin Iyyadh jika mengetahui bahwa anaknya, Ali, berada di belakangnya -yakni dalam sholat-, maka ia berusaha berlalu saja (dalam membaca Alquran), tidak berhenti dan tidak menimbulkan takut. Jika ia mengetahui anaknya tidak berada di belakangnya,  maka ia memilih-milih bacaan Alquran yang membuat sedih dan takut.

    Suatu hari,  ia menyangka bahwa putranya tidak berada di belakangnya, sehingga ia membaca ayat ini:

    قَالُوا۟ رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَآلِّينَ

    “Mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan kami adalah orang-orang yang sesat.’ (Al-Mu’minun: 106)

    Maka Ali jatuh pingsan. Ketika  Al Fudhail mengetahui bahwa putranya berada di belakangnya dan jatuh pingsan, maka ia cepat-cepat menyelesaikan bacaannya. Mereka pergi kepada ibunya seraya berkata, “Lihatlah anakmu.” Ibunya datang lalu mencipratkan air padanya, lalu ia siuman. Ibunya berkata kepada al-Fudhail, “Engkau akan membunuh anakku ini.” Beberapa waktu kemudian, karena menyangka putranya tidak berada di belakangnya, ia membaca

    وَبَدَا لَهُم مِّنَ ٱللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا۟ يَحْتَسِبُونَ

     ‘Dan jelaslah bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.’ (Az-Zumar: 47).  Mendengar ayat tersebut, putranya jatuh dan meninggal dunia. [Diambil dari kitab At Tawwaabiin karya Ibnu Qudamah].

    Betapa tingginya rasa takutnya Ali kepada Allah, hingga membuat benar-benar tersentak karena rasa takut dan cinta kepada Allah. Demikianlah air matanya  kaum yang shalih.

    Umar RA Mendengar Surat At Tuur dan Sakit Sebulan

    Imam Ibnu Katsir meriwayatkan sebuah kejadian yang terjadi pada diri Umar bin Khattab. Pada suatu malam, Umar berjalan dengan mengendarai himarnya menyusuri jalan-jalan kota Madinah. Dan sampailah ia di rumah seorang penduduk yang sedang melakukan qiyamullail. Umar berhenti mendengarkan bacaan orang tersebut, yang kebetulan membaca surat At-Thur. Ketika orang tersebut sampai pada ayat ke-7 dan ke-8:

     إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٌ (Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi).

    مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٍ (Tidak seorangpun yang dapat menolaknya).

    Maka mendadak terjadi sesuatu pada Umar. Badannya serasa tergodam keras. Ia lemas. Ia mengatakan, “Demi Allah, sumpah itu terjadi.” Lalu ia terpaku dalam diam. Sangat lama. Dan pulang.

    Sampai di rumah, ia sakit sebulan, tak diketahui jelas apa penyakitnya. Sementara itu Zubair bin Muth’im ketika mendengar surat yang sama dari Tilawah Rasulullah ﷺ ketika sholat Maghrib, beliau merasakan takut yang luar biasa terhadap ancaman itu dan saat itulah ia masuk Islam.

    Seorang Gadis di Kufah Wafat Karena Mendengar Bacaan Alquran Manshur bin Ammar

    Ketika Manshur bin Ammar menjalankan ibadah haji, dia tinggal disalah satu kampung di Kuffah. Pada suatu malam yang gelap, karena suatu keperluan, dia pergi keluar rumah seorang diri.

    Ketika sedang berjalan sendirian, tiba-tiba dia mendengar suara seorang yang memelas, “Ya Allah, demi keagungan-Mu. Aku tidak menghendaki perbuatan maksiatku ini untuk menentang-Mu. Kulakukan ini bukan karena kebodohanku, tapi kusadari diriku terperosok ke lembah kemaksiatan. Kini aku mendambakan anugerah-Mu. Sudilah Engkau menerima alasanku ini. Jika antara aku dan engkau ada tabir, sehingga Engkau tidak menerima alasanku ini dan tidak mengampuninya, betapa lamanya ku akan menanggung nestapa dan siksa”.

    Kemudian suara itu diam. Manshur menyusulnya dengan bacaan ayat suci Alquran surat At-Tahrim : 6. Yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, perliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjagaanya para malaikat yang kasar dan keras, serta tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan –Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya”.                   .  

    Kemudian Manshur mendengar jeritan yang keras dan sesuatu yang bergerak-gerak. Tidak lama kemudian, gerakan itu berhenti. Mansur lalu meninggalkan tempat itu dan meneruskan langkahnya untuk menyelesaikan keperluannya.                    

    Keesokan harinya, Manshur mendatangi tempat tadi malam dimana ia mendengar suara itu. Akan tetapi, di tempat itu terlihat banyak orang bertakhziah. Di situ ada seoran perempuan tua menangis di samping mayat seorang gadis. Ternyata perempuan tua itu adalah ibu si mayat.

    “Pasti Allah akan membalas yang telah membunuh anakku ini,” kata ibu itu disela tangisnya.
    Kemudian dia membaca ayat Alquran di atas (At-Tahrim: 6) . “Saat itu anakku sedang shalat, kemudian dia jatuh tersungkur, hingga meninggal karena mendengar bacaan ayat itu,” sambungnya lagi.

    Masya Allah, sedemikian mulianya air mata dan tangis orang shalih. Tersungkurnya seseorang karena kekhusyukan, ketakutan dan kecintaan yang mendalam kepada Rabbnya. Ibnu al-Qayimm dalam kitabnya al-Fawaid mengatakan, “Jika engkau ingin mengambil manfaat dari Alquran maka pusatkanlah hatimu ketika membaca dan mendengarkannya, fokuskanlah pendengaranmu dan hadirlah seperti seseorang yang sedang diajak bicara oleh Allah ﷻ”

    (Selesai)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    Penulis skrip: Ahmad Fahmi dan UKM Mushaf ICWM

    Editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • KEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. III)

    KEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. III)

    3. BACAAN ALQURAN MENDATANGKAN RAHMAT DAN KASIH SAYANG ALLAH

    Bacaan Alquran akan mendatangkan mendatangkan rahmat dan kasih sayang Allah  dengan syarat jika bacaan tersebut didengar dan diperhatikan dengan baik.

    Allah ﷻ berfirman:

    وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

    Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al-A’raf Ayat 204)

    Ketika dibacakan Alquran kepada kita, maka hendaknya kita mencoba merasakan bahwa seakan-akan kita mendengarnya langsung dari Allah, dan menyadari bahwa bacaan tersebut adalah surat cinta dari Allah,  maka tatkala hal tersebut dapat kita wujudkan, niscaya hati kita  akan dipenuhi dengan indahnya makna ayat-ayat tersebut. Kita pun juga bisa merasakan kelembutan dan keajaiban yang terkandung didalamnya.

    Dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir,  Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, Mudarris Tafsir Universitas Islam Madinah menjelaskan bahwa, sesiapapun yang seksama mendengarkan ayat-ayat Allah ketika dibacakan, sesungguhnya ia sedang menanti turunya rahmat Allah, maka sepanjang malam,  akan menjadi lebih baik jika diseimbangkan antara shalat dan kesetiaan  untuk mendengarkan kalam Allah, karena itu akan memperbanyak turunnya rahmat dari-Nya.

    Seorang Professor fakultas Syari’ah Universitas Qashim menyampaikan, apabila dibacakan Al Quran di dalam shalat atau lainnya, maka dengarkan dan simaklah baik-baik untuk memahami maknanya, diamlah dari segala kesibukan dan pembicaraan untuk mendengarkan bacaannya, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ketika melaksanakan perintah-Nya dan mendengarkan ayat kitab-Nya. Ayat ini turun saat ada yang meninggikan bacaan shalat di belakang Nabi. (Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, Saudi Arabia)

    Dalam Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, Pakar Fiqih dan Tafsir Suriah  menyampaikan bahwa bagi semua orang yang mendengar Alquran ketika dibaca, maka diperintahkan untuk diam, dan mendengarkan. Perintah ini berlaku umum. Perbedaan antara diam dan mendengarkan, yaitu:  bahwa diam secara zahir adalah dengan meninggalkan pembicaraan atau tidak menyibukkan diri dengan sesuatu yang membuatnya tidak mendengar.

    Adapun mendengar, maka maksudnya adalah menyimak dengan membuka hati dan merenungkan apa yang didengar. Barangsiapa yang memegang kedua perkara ini ketika kitabullah dibaca, maka dia akan mendapatkan kebaikan yang banyak, ilmu yang melimpah, iman yang diperbarui, petunjuk yang selalu bertambah, dan bashirah dalam agamanya.

    Oleh karena itu Allah mengaitkan diraihnya rahmat dengan kedua perkara tersebut, hal ini menujukkan bahwa barangsiapa yang dibacakan Alquran kepadanya, lalu dia tidak mendengar dan tidak diam, maka dia tidak akan meraih bagian rahmat, dan dia telah kehilangan kebaikan yang melimpah. Diantara perintah yang ditekankan kepada Pendengar Alquran adalah hendaknya ia mendengarkan dan diam untuknya dalam shalat jahriyah ketika imamnya membaca Alquran. Dalam kondisi ini, ia diperintahkan untuk diam, bahkan kebanyakan ulama berkata bahwa diamnya adalah lebih baik daripada dia membaca Alfatihah atau lainnya. 

    4. MENDENGARKAN ALQURAN AKAN MENDAPAT PAHALA SEPERTI PEMBACANYA

    Mendengarkan bacaan Alquran, pahalanya sama dengan orang membacanya. Bila kita membaca Alquran satu huruf bernilai sepuluh kebaikan, begitu juga ketika kita mendengarkan, setiap huruf yang kita dengarkan bernilai sepuluh kebaikan.

    Menilik manfaat bacaan Alquran yang sedemikian mulia, maka hendaknya kita memperbanyak bacaan Alqurn, baik itu dengan melantunkannya sendiri maupun mendengarkan dari orang lain. Mendengarkan bacaan Alquran bisa menggunakan HP, Radio, Komputer dls. Bagi yang mendengarkan dengan seksama, maka in sya Allah pahalanya sama dengan pembacanya. 

    Jangan Pernah Puas Dari Mendengarkan Alquran

    Cinta kepada Alquran adalah tanda cinta kepada Allah. Jika ingin mengetahui bagaimana tanda cinta kita kepada Allah maka kita bisa melihat dari seberapa besar kecintaan kita kepada Alquran.

    Ketika membaca Alquran, anggaplah bahwa bacaan tersebut adalah surat cinta Allah yang diberikan khusus kepada kita. Dalam analogi sederhana, hati kita akan membuncah, sangat senang, ketika kita mendapat surat, atau pesan WA dari orang tercinta kita, entah dari orang tua kita, pasangan kita maupun anak kesayangan kita. Bahkan saat isi pesan kurang menyenangkan, kita tetap berharap-harap dan bersemangat membaca pesan dari orang yang kita cintai.

    Nah Alquran ini adalah kalamullah, pesan langsung dari Allah. Maka selayaknya kita perlakukan melebihi pesan cinta dari manusia. Dengan demikian, kita akan selalu senang membacanya dan ingin selalu mengulangnya. Sebagaimana nasehat yang disampaikan Ustman bin Affan:  “Sekiranya hati kita bersih, niscaya hati kita tidak akan pernah merasa kenyang dari firman Allah ‘Azza wa Jalla (Al-Qur’an).”

    Malaikat pun Ingin Mendengar Bacaan Alquran

    Suatu malam, Usaid duduk di beranda belakang rumahnya. Anaknya, Yahya, tidur di dekatnya. Kuda yang selalu siap untuk berperang fi sabilillah, diikat tidak jauh dari tempat duduknya. Suasana malam tenang dan hening. Permukaan langit jernih tanpa mendung. Usaid tergerak untuk membaca ayat AI-Qur’an yang suci.

    “Alif lam miim, Inilah Kitab (Alquran) yang tidak ada keraguan padanya; menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib yang menegakkan shalat, dan yang menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Alquran) yang diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum kamu, serta mereka yang yakin akan adanya (kehidupan) akhirat (QS. Al-Baqarah: 1-4).  

    Mendengar bacaan tersebut, tiba-tiba kuda yang sedang ditambat lari berputar-putar. Hampir saja tali pengikatnya putus. Ketika Usaid diam kuda itu diam dan tenang. Usaid melanjutkan lagi bacaannya. “Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Rabb-nya, dan merekalah orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 5). 

    Kembali kuda Usaid berputar-putar lebih hebat dari semula. Ketika ia memandang ke langit, ia mendapati pemandangan bagai payung yang mengagumkan. Ia belum pernah melihat pemandangan serupa itu sebelumnya. Awan itu indah berkilau, bergantung seperti lampu memenuhi ufuk, bergerak naik dengan sinarnya yang terang. Kemudian perlahan-lahan menghilang dari pandangan. 

    Esok harinya, Usaid pergi menemui Rasulullah SAW menceritakan peristiwa yang dialaminya. Rasulullah berkata, “Itu adalah malaikat yang ingin mendengarkan engkau membaca Alquran. Seandainya engkau teruskan, pastilah akan banyak orang yang bisa melihatnya. Pemandangan itu tidak akan tertutup dari mereka.” (HR. Bukhari-Muslim).

    (Bersambung Bag. IV)

    Penulis skrip: Ahmad Fahmi dan UKM Mushaf ICWM

    Editor: Tanti Ummu Fahdlan