Penulis: Editor Wadi Mubarak

  • TESTIMONI BIMBEL QUR’AN ONLINE (BATCH 1)

    TESTIMONI PESERTA BIMBEL QUR’AN ONLINE (BATCH 1)

    “Sebelumnya, ana ini mualaf, ustadzah. Benar-benar baru belajar Al-Qur’an yang bisa ana fahami pas belajar Tibyan. Beberapa kali ikut belajar metode lain, tapi ga seperti ana dapatkan ilmunya seperti ana belajar Tibyan.” Begitulah penuturan dari salah satu peserta BIMBEL Qur’an Online (Batch 1) yang bernama Indra Octavianty.

    Alhamdulillah, atas izin Allah, hadirnya program BIMBEL SaQu telah ikut memberikan sumbangsih berupa kemudahan dalam mempelajari baca Al -Qur’an bagi seluruh peserta dengan mempergunakan metode At Tibyan.

    Demikian karena, BIMBEL SaQu menerapkan sistem pembelajaran secara daring selama masa pandemi Covid19 merebak, sehingga bisa dirasakan manfaatnya dan terjangkau oleh para peserta dalam mempelajari Al-Qur’an dengan dipandu langsung oleh Asatidz dan Ustadzat Islamic Center Wadi Mubarak.

    Testimoni dari Ibu Indra Octavianty adalah salah satu contoh contoh keberhasilan program BIMBEL SaQu dalam memberikan kemanfaatan pembelajaran kepada peserta.

    Program BIMBEL SaQu angkatan 1 yang dilaksanakan sejak 22 September hingga 23 Desember 2020 ini diikuti oleh 1000 peserta dari 4750 peserta pendaftar yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia dan juga dari beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.

    “Apa yang kami ajarkan kepada seluruh peserta itu, Insya Allah niatnya ikhlas karena Allah guna membantu setiap peserta memperbaiki bacaan Qur’annya. Adapun jika apa yang kami berikan kepada peserta dirasa memuaskan, maka itu semua adalah atas izin Allah dan kami hanya menyampaikan sebagian dari ilmu-Nya saja yang Maha Luas.” Demikian tutur Ustadz Ferri Eka Rahayu (2/1) selaku Penanggung Jawab BIMBEL SaQu pada saat acara penutupan program tersebut untuk angkatan pertama. (Prince of Alhambra)

    Editor: Ibn Al.Choer

  • KULIAH UMUM MANAJEMEN MASJID

    Tips Manajemen Masjid ala Masjid Jogokariyan

    Siapa yang tidak kenal Masjid Jogokariyan? Salah satu masjid di daerah Yogyakarta ini dikenal luas sebagai salah satu masjid percontohan dalam hal manajemen dan kemakmuran masjidnya.

    Pada malam Sabtu 15 Januari 2021, Kampus STIU Wadi Mubarak bersyukur dikunjungi oleh tamu istimewa dari Masjid Jogokariyan, beliau adalah salah satu dari Dewan Syuro Masjid Jogokariyan yang juga mantan Ketua Takmir Masjid tersebut.

    Dalam kesempatan istimewa tersebut, Ustadz Fanni Rahman, akrab dipanggil abah Fani, berkenan memberikan kuliah umum singkat tentang tips mengelola masjid yang baik. Tentu saja, berdasarkan pengalaman yang berhasil diterapkan di Masjid Jogokariyan.

    Pertama, penamaan masjid.

    Bukan tanpa alasan masjidnya diberi nama Jogokariyan. Menurut penjelasan Abah Fanni, penamaan ini diniatkan untuk mencontoh Rasulullah SAW yang biasa memberi nama masjid sesuai nama daerah di mana masjid tersebut berada. Dengan kata lain, Jogokariyan sebetulnya nama daerah di mana masjid berada.

    Kedua, kenali jamaah masjid kita.

    Mengenali sasaran atau jamaah masjid merupakan hal penting. Mengenal jamaah masjid kita, bukan sekadar mengenal jumlah dan nama jamaah saja. Bahkan, mengetahui kondisi sosial, ekonomi dan informasi penting lainnya yang bisa menentukan jenis pelayanan masjid terhadap jamaahnya.

    Ketiga, butuh proses panjang dalam memakmurkan masjid.

    Butuh kesabaran. Step by step. Pencapaian Masjid Jogokariyan saat ini tidak dicapai dalam kurun waktu yang singkat. Ada susah payahnya. Ada perjuangannya. Upaya kerja keras yang dilakukan oleh para pengurus masjid tentu akan membuahkan hasil. Dulu, misalnya, Masjid Jogokariyan pernah mengalami beberapa bentuk penolakan dari masyarakat, namun akhirnya bisa diatasi dengan baik oleh pengurus disertai dukungan masyarakat lainnya. Intinya, untuk mendapat kepercayaan itu butuh proses.

    Keempat, dibutuhkan kreativitas dalam menyusun program.

    Tidak banyak masjid yang memberi perhatian pada musafir atau orang-orang yang sedang bepergian, terutama yang kehabisan bekal atau ongkos. Masjid Jogokariyan menangkap fenomena ini dengan membuat program berupa santunan ongkos pulang bekerjasama dengan PTKAI supaya musafir tersebut bisa kembali pulang ke tempat asalnya. Ini adalah salah satu bentuk kreativitas pengurus dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

    Kelima, Berkomitmen menjadi pelayan umat atau Jamaah.

    Karena masalah kepercayaan, banyak masjid menerapkan jam buka dan tutup masjid. Tetapi, ketika kepercayaan masyarakat sudah terbangun, maka masjid harus memaksimalkan fungsi pelayanan terhadap jamaahnya. Di Masjid Jogokariyan, jamaah bisa datang kapan saja ke masjid. Masjid 24 jam terbuka bagi siapa saja yang ingin beribadah.

    Keenam, Masjid harus menjadi bagian pemecahan masalah umat atau jamaah.

    Masalah yang dihadapi jamaah pasti sangat banyak. Tidak melulu masalah moral dan akidah, juga masalah sosial dan ekonomi. Selain mengenali permasalahan jamaah tersebut, Masjid Jogokariyan berupaya menjadi problem solver dengan membuat program-program yang bisa mengatasi atau meringankan masalah yang dihadapi jamaahnya. Misal, program pelunasan hutang bagi jamaah yang terlilit hutang terutama hutang riba. Juga masih banyak program sosial ekonomi lain yang sifatnya berkelanjutan.

    Demikian beberapa tips manajemen masjid yang disampaikan oleh tamu kampus dari Masjid Jogokariyan. Abah Fanni meminta tips-tips di atas menjadi perhatian bagi mahasiswa STIU Wadi Mubarak yang kelak menjadi da’i di tengah masyarakat.

    Sebagai dai, kita harus mampu merangkul dan memberdayakan masyarakat dengan kegiatan dan acara-acara yang edukatif dan tidak hanya menjadikan masjid sebagai tempat sholat saja, tetapi sebagai pusat pelayanan dan pemberdayaan masyarakat. (RF/Prince of Alhambra)

  • SAHABAT QUR’AN PEDULI

    SAHABAT QUR’AN PEDULI

    Banjir Melanda. Air begitu deras, memenuhi setiap celah bumi, pepohonan turut tumbang dan hanyut, ribuan rumah terendam, bahkan roboh. Dan kini, Banjir telah memakan korban jiwa.

    Pada musibah ini, beberapa lembaga Pondok Pesantren, TAUD SaQu dan Masjid-masjid binaan Wadi Mubarak turut terkena dampak banjir.

    Akibat banjir, banyak sarana transportasi terputus, jalanan rusak, bangunan roboh, kitab-kitab turut hanyut, fasilitas pendidikan juga mengalami kerusakan. Musibah ini tentu menyisakan kesedihan yang mendalam bagi para Asatidz senior Wadi Mubarak dan segenap Dewan Pengajar Team YASAQU-Wadi Mubarak yang saat ini berdomisili di wilayah bencana banjir.

    Setiap waktu, jumlah pengungsi semakin bertambah. Hingga 16 Januari 2021 pukul 10.00 WIB, terdapat 27.111 rumah yang terendam dan 112.709 warga mengungsi. (sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB)

    اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
    “Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Dalam rangka meringankan beban saudara kita yang terkena musibah Banjir, dimana beberapa TAUD SaQu, Masjid dan Pesantren dibawah naungan Wadi Mubarak juga terkena dampak banjir, maka kami membuka program SAHABAT QUR’AN PEDULI.

    Salurkan bantuan dan infak terbaik antum melalui melalui :

    √ BNI Syariah 9995 14215 an : Lazis Saqu Wadi Mubarak

    √ Bank Mandiri 1330033333451 an : Islamic Center Wadi

    Konfirmasi infaq ke nomor :

    http://wa.me/6287888821199 Lazis Saqu

    Sedikit dari kita, Berharga bagi mereka
    Mari Berbagi, Mari Peduli

    Salam

    YASAQU PEDULI

  • KEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. II)

    KEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. II)

    2. BACAAN ALQURAN MEMBERIKAN KETENANGAN JIWA

    Sungguh sangatlah beruntung seorang mukmin yang bisa menikmati bacaan Al-Quran baik ketika dibaca sendiri maupun saat mendengarkan bacaan orang lain. Kenikmatan yang menimbulkan ketenangan jiwa bahkan mengalahkan nikmatnya rekreasi di tempat wisata.

    Nabi ﷺ pernah meminta sahabat Abdullah bin Mas’ud untuk membaca Alquran hingga kemudian beliau benar-benar menikmati dan merasakan ketenangan yang diikuti linangan air mata dan tanda rasa tunduk pada Allah

    Dari Abdullah bin Mas’ud RA,

    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَأْ عَلَيَّ قَالَ قُلْتُ أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ إِنِّي أَشْتَهِي أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي قَالَ فَقَرَأْتُ النِّسَاءَ حَتَّى إِذَا بَلَغْتُ { فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا } قَالَ لِي كُفَّ أَوْ أَمْسِكْ فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَذْرِفَانِ

    Rasulullah ﷺ bersabda: “Bacakanlah Al Qur`an kepadaku.” Aku pun berkata, “Aku membacakannya untuk Anda, padahal kepada Andalah ia diturunkan?” beliau bersabda: “Sesungguhnya aku suka mendengarnya dari orang lain.” Akhirnya aku pun membacakan surat An-Nisa` dan ketika sampai pada ayat: “Dan bagaimanakah sekiranya Kami mendatangkan manusia dari seluruh umat dengan seorang saksi, lalu kami mendatangkanmu sebagai saksi atas mereka.” Maka beliau pun bersabda padaku: “Cukuplah.” Lalu aku pun melihat kedua mata beliau meneteskan air. (Hadits Bukhari:  4667)

    Demikianlah energi Alquran yang begitu yang kuat. Sebuah kekuatan yang bisa memupus segala jenis keraguan, kemalasan, dan rasa takut, sehingga menimbulkan ketenangan jiwa yang luar biasa.

    Tafsir Ibnu Katsir menyatakan bahwa mereka yang menyungkur sambil menangis adalah orang-orang yang merendahkan diri di hadapan Allah ﷻ dengan keimanan yang paripurna.

    Allah ﷻ berfirman:

    أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ مِن ذُرِّيَّةِ ءَادَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْرَٰٓءِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَٱجْتَبَيْنَآ ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُ ٱلرَّحْمَٰنِ خَرُّوا۟ سُجَّدًا وَبُكِيًّا

    Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (QS. Maryam Ayat 58) 

    Tafsir al-Maraghi, menjelaskan, mereka yang menyungkurkan dagu sambil menangis tak lain karena ekspresi takut kepada Allah ketika mendengar bacaan Alquran.

    Didalam ayat lain, Allah ﷻ berfirman:

    اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ  )الزمر: 23(

    Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. (Qs.Azzumar: 23)

    Tafsir Al Mukhatashar menjelaskan bahwa Alquran mengandung  kisah-kisah, hukum-hukum, hujjah-hujjah dan keterangan-keterangan yang diulang-ulang. Dimana meskipun tilawahnya diulang-ulang namun jiwa tidak pernah merasa bosan.  

    Al Walid Bin Mughirah-Tokoh Kafir Yang Mengakui Kemanisan Alquran

    Al Walid bin Mughirah  yang juga merupakan ayah dari Khalid bin Walid adalah tokoh Quraisy yang terhormat. Saking terhormatnya, maka banyak dari kaumnya yang suka jika dinisbatkan dengannya yaitu Al Mughiri.

    Al Walid termasuk orang terkaya Quraiys. Pada suatu masa, pernah terjadi banjir di kota Mekah sehingga membuat bangunan Ka’bah hampir runtuh. Saat itu, oleh Al Walid dan penduduk Mekah, bangunan Ka’bah dirobohkan untuk dibangun dan diperbaiki ulang. Tiga sisi Ka’bah, biaya pembangunannya ditanggung oleh penduduk Mekah, adapun salah satu sisinya dibangun sendiri dengan harta kekayaan Al Walid. Itu artinya, kekayaan Al Walid mencapai ¼ dari kekayaan masyarakat Mekah.

    Di masa jahiliyah, para kaum kafir bergantian setiap malam untuk melihat gerak-gerik Rasulullah, termasuk mendengarkan bacaan Rasulullah yaitu Alquran.

    Al-Mustadrak al-Hakim dari Ibnu Abbas RA bahwa Al Walid bin  Al Mughirah menemui Rasulullah ﷺ. Kemudian Rasulullah membacakan Alquran kepadanya. Sepertinya Alquran itu melembutkan kekufuran Al Walid. Kabar tersebut sampai ke telinga Abu Jahal. Ia pun datang menemui al-Walid.

    Abu Jahal mengatakan, “Wahai Paman, sesungguhnya kaummu ingin mengumpulkan harta untukmu.”

    “Untuk apa?” tanya al-Walid.

    “Untukmu. Karena Engkau datang menemui Muhammad untuk menentang ajaran sebelumnya (ajaran nenek moyang).” Jawab Abu Jahal.

    Al-Walid bin al-Mughirah menanggapi, “Orang-orang Quraisy tahu, kalau aku termasuk yang paling kaya di antara mereka.”

    “Ucapkanlah suatu perkataan yang menunjukkan kalau engkau mengingkari Alquran atau engkau membencinya.”, kata Abu Jahal.

    Al-Walid mengatakan,

    وماذا أقول؟ فوالله! ما فيكم رجل أعلم بالأشعار مني، ولا أعلم برجز ولا بقصيدة مني، ولا بأشعار الجن، والله! ما يشبه الذي يقول شيئا من هذا، ووالله! إن لقوله الذي يقول حلاوة، وإن عليه لطلاوة، وإنه لمثمر أعلاه مغدق أسفله، وإنه ليعلو وما يعلى، وإنه ليحطم ما تحته

    “Apa menurutmu yang harus kukatakan pada mereka? Demi Allah! Tidak ada di tengah-tengah kalian orang yang lebih memahami syair Arab daripada aku. Tidak juga pengetahuan tentang rajaz dan qashidah-nya yang mengungguli diriku. Tapi apa yang diucapkan Muhammad itu tidak serupa dengan ini semua. Juga bukan sihir jin. Demi Allah! Apa yang ia ucapkan (Alquran) itu manis. Memiliki thalawatan (kenikmatan, baik, dan ucapan yang diterima jiwa). Bagian atasnya berbuah, sedang bagian bawahnya begitu subur. Perkataannya begitu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya, serta menghantam apa yang ada di bawahnya.”

    Abu Jahal bersikukuh agar Al Walid mengatakan sesuatu yang bisa membuat orang-orang Quraisy ridha. Ia berkata, “Kaummu tidak akan ridha kepadamu sampai engkau mengatakan sesuatu yang buruk tentang Alquran itu.”

    “Jika demikian, tinggalkanlah aku, biar aku berpikir dulu,” kata Al-Walid.

    Setelah berpikir, Al Walid mengatakan, “Alquran ini adalah sihir yang dipelajari. Muhammad mempelajarinya dari orang lain.”

    Kemudian Allah menurunkan firman-Nya dalam QS Al Mudatsir ayat 11. Dari ayat 11 dan beberapa ayat seterusnya bercerita tentang Al Walid bin Al Mughirah yang divonis akan mendapatkan azab yang pedih di neraka.

    Kisah tersebut, selain dalam Al Mustadrak, juga bisa dijumpai dalam Sunan Kubra Imam Al Baihaqi dan Al Bidayah wa Al Nihayah Imam Ibnu Katsir.

    Dari kisah tersebut, merupakan bukti bahwa bacaan Alquran sangat manis dan bahkan menyentuh hati orang kafir. Ketika orang kafir pun tersentuh dengan bacaan Alquran, maka kita sebagai muslim lebih berhak untuk tersentuh dengan bacaan Alquran. Jika kita masih bermalasan dan bosan dengan bacaaan Alquran, maka kita perlu menambah istighfar. Karena bagi muslimin yang hatinya bersih, maka ia tidak akan pernah kenyang dengan bacaan Alquran.

    Wanita Amerika Tersentuh Dengan Bacaan Alquran Seorang Khatib

    Salah seorang Ulama dari Mesir sedang melakukan perjalanan menggunakan kapal laut menuju  Amerika. Di atas kapal laut, Ulama tersebut berkhotbah Jumat. Di dalam khotbahnya,  Sang Ulama menyampaikan nasehat kebajikan termasuk juga menyampaikan perkataan para Ulama,  menyampaikan Hadits dan Tafsir.

    Selepas Sholat Jumat, ada seorang Wanita Amerika yang mendatanginya dan memintanya untuk membacakan ulang bacaan Ulama yang tadi disampaikan pada saat khotbah. Ulama tersebut membacakan hadits, perkataan ulama dan tasfsir, namun Wanita Amerika tersebut mengatakan ‘bukan’. Pada saat Ulama tersebut membacakan Alquran, ternyata Wanita tersebut mengatakan ‘Nah bacaan inilah yang saya maksud, bacaannya sangat indah’.

    Subhanallah, inilah keajaiban Alquran yang mampu menyentuh hati orang non muslim.

    Wanita China Kagum Dengan Bacaan Alquran di Hotel Sudan

    Di Sudan, terdapat sebuah Perusahaan Pertambangan milik China. Suatu ketika,  ada seorang wanita China yang melewati sebuah kamar hotel, dimana didalamnya terdapat seorang Syaikh yang sedang murojaah ayat Alquran, dan bacaannya terdengar hingga keluar dari kamar hotel.

    Wanita China tersebut menghentikan langkahnya dan menemui sang pembaca Alquran. “Lagu apakah yang kamu baca? Lagunya sangat indah.” Tanya Wanita China

    “Ini bukan lagu. Yang saya baca tadi adalah Ayat Alquran” jawab Syaikh tersebut menjelaskan.

    Demikianlah energi kedahsyatan Alquran, yang bahkan keindahannya bisa dirasakan oleh non muslim.

    (Bersambung Bag. III)

    Penulis skrip: Ahmad Fahmi dan UKM Mushaf ICWM

    Editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • KEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. I)

    Menjadi Ahlul Quran adalah sebuah misi yang agung. Ahlul Quran adalah keluarganya Allah di muka bumi. Dengan menjadikan misi agung tersebut sebagai misi dalam keluarga kita, maka kita bisa menyiapkan setiap anggota keluarga sebagai Ahlul Quran. Keluarga inilah yang didamba setiap insan, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarga Ahlul Quran di dunia dan akhirat.

    Salah satu kiat yang bisa kita upayakan agar kita menjadi Ahlul Qur’an adalah dengan mendengarkan bacaan Alquran. Beberapa keutamaan dari mendengarkan kalamullah ini adalah:

    1. SEBAGAI HIDAYAH ATAU PETUNJUK

    Mendengarkan bacaan Alquran merupakan sarana diperolehnya hidayah atau petunjuk. Petunjuk ini bukan saja diberikan kepada non muslim, namun juga Allah berikan kepada hambaNya yang muslim yaitu berupa bertambahnya keimanan dan dijauhkannya dari kemaksiatan.

    Allah ﷻberfirmah:

    ٱلَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰب

    Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.  (Az-Zumar Ayat 18) 

    Tafsir Almuyasar menjelaskan bahwa mendengar perkataan yang dimaksud adalah perkataan  dari kitab Allah atau dari sunnah Rasulullah ﷺ, kemudian mereka menjalankan kebaikan yang diperintahkan kepada mereka dan mengamalkannya.

    Umar bin Khatab RA Masuk Islam Lantaran Mendengar Bacaan Alquran

    Dikisahkan dari riwayat Anas yang dikeluarkan oleh Al-Hakim dan Al-Baihaqi, menyebutkan:

    Pada suatu hari ‘‘Umar keluar dengan menyandang sebilah pedang. Di tengah jalan dia bertemu dengan seorang laki-laki dari Bani Zuhrah dan dia berkata: “Akan ke mana engkau, hai ‘‘Umar?” ‘Umar ketika itu menjawab: “Mau membunuh Muhammad.” Laki-laki itu berkata lagi: “Bagaimana engkau dapat merasa aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah setelah membunuh Muhammad?” ‘Umar berkata pula: “Mungkin engkau sendiri sudah menukar agamamu?” Orang itu menukas: “Maukah kau aku tunjukkan kejadian yang lebih menakjubkan? Sesungguhnya saudarimu dan iparmu sudah memeluk Islam dan meninggalkan agama nenek moyangmu.”

    Mendengar hal ini, ‘Umar segera berbalik dan menuju ke rumah saudari dan iparnya yang kebetulan Khabbab sedang berada di sana. Ketika mereka mendengar suara ‘Umar, dia segera bersembunyi di dalam rumah. ‘Umar pun masuk dan berkata: “Suara apa yang kudengar ini?” Waktu itu mereka sedang membaca surat Thaha. Keduanya berkata: “Tidak ada, hanya kami berbincang-bincang biasa.” Kata ‘Umar: “Jangan-jangan kalian berdua sudah masuk Islam?” Iparnya menjawab: “Hai ‘Umar, bagaimana jika al-haq itu ternyata bukan berada pada agamamu?”

    Mendengar hal ini ‘Umar melompat kemudian membanting dan menginjaknya dengan keras. Saudarinya segera datang membela suaminya. Tapi ‘Umar segera memukulnya hingga darah keluar dari wajah saudarinya itu. Wanita itu berkata dalam keadaan sangat marah: “Apakah (kau marah) meskipun al-haq bukan berada pada agamamu? Sungguh aku bersaksi tidak ada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.” (Mungkin karena merasa iba), ‘Umar berkata: “Coba berikan tulisan apa yang ada pada kalian, aku mau membacanya.” ‘Umar termasuk kalangan terpelajar dan pandai membaca. Saudarinya menjawab: “Kamu itu najis. Kitab ini tidak boleh disentuh oleh orang yang najis. Pergilah bersuci!” ‘Umar pun beranjak untuk mandi. Kemudian dia mulai membaca surat Thaha. sampai kepada ayat:

    إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

    “Sesungguhnya Aku adalah Allah yang tidak ada Ilah selain Aku. Maka beribadahlah kepada-Ku dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Thaha: 14)

    ‘Umar berkata: “Tunjukkanlah kepadaku di mana Muhammad!” Ketika Khabbab mendengar hal ini, dia segera keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata: “Gembiralah, hai ‘Umar. Aku berharap engkaulah yang didoakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Ya Allah, muliakanlah Islam dengan ‘Umar bin Al-Khaththab atau ‘Amru bin Hisyam’.

    (HR.At-Tirmidzi kata beliau gharib dan An-Nadhr Abu ‘Umar kata Al-Imam Al-Bukhari dia munkarul hadits).


                Betapa dahsyatnya keutamaan bacaan Alquran, sosok Umar bin Khattab RA yang terkenal sebagai seseorang yang berwatak keras dan bertubuh tegap. Sebelum keislamannya, sering kali kaum muslimin mendapat perlakuan kasar darinya. Pada akhirnya, dengan izin Allah, ia mendapat hidayah masuk islam lantaran mendengarkan bacaan Alquran. 

     Raja An Najasyi Menangis Ketika Mendengarkan Kalamullah

    Ummu Salamah, istri Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bercerita, “Saat kami sampai di negeri Habasyah kami disambut dengan sangat baik oleh Najasyi. Kami aman beragama dan beribadah kepada Allah. Kami tidak diganggu dan tidak mendengar sesuatu pun yang tidak kami suka, Ja’far bin Abu Thalib-lah yang berbicara kepadanya, ‘Paduka, kami dulu adalah kaum yang bodoh, ahli Jahiliyah. Kami menyembah patung, makan bangkai, melakukan perbuatan nista, memutus silaturahim, suka mengganggu tetangga, dan siapa yang kuat di antara kami, akan memakan yang lemah. Begitulah keadaan kami sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul.’ Najasyi bertanya, ‘Apakah kamu hapal sesuatu dari ajarannya?’ ‘Ya,’ jawab Ja’far. ‘Bacakan untukku!’ pinta Najasyi.

    Maka Ja’far pun membaca beberapa ayat awal surat Maryam. Najasyi menangis. Demi Allah, jenggotnya sampai basah oleh air matanya. Uskup-uskupnya pun menangis saat mendengar bacaan Ja’far, sehingga air mata mereka membasahi lembaran-lembaran kitab yang mereka bawa.

    Kemudian Najasyi berkata, ‘Demi Allah, ini dan yang diajarkan Musa (Isa –tolong cek yang benar)  benar-benar berasal dari sumber yang sama. Pulanglah kalian (wahai utusan orang-orang Quraisy!) Aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian selamanya.”

    Berkenaan dengan Najasyi, Allah menurunkan firman-Nya:

    وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

    “Dan apabila mereka mendengarkan apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui.”(Al-Mâ’idah: 83)

    Ibnu Jarir dan yang lainnya meriwayatkan dari Az-Zuhri bahwa ia berkata, ”Saya senantiasa mendengar dari para ulama kita bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Najasyi dan sahabat-sahabatnya

    Fudhail bin Iyadh, Mantan Perampok yang Menjadi Gurunya Para Ulama

    Fudhail bin Iyadh adalah ulama besar yang hidup pada abad ke 2 H,  dan  wafat pada tahun 187 H. Banyak ulama besar yang berguru kepadanya, di antaranya adalah Imam Syafii, Sufyan bin Uyaynah, Yahya bin Said al Qotton, Ibnu Mubarak dan Abdurrahman bin Mahdi.

    Fudhail bin Iyadh dahulunya adalah seorang perampok besar yang sering melakukan kejahatan di rute Abiwarda dan daerah Sarkhos. Siapapun pengelana di jalur tersebut, jika mendengar nama Fudahil maka akan merinding ketakutan. Demikian karena tersohornya operasi perampokkannya di wilayah tersebut.

    Kala itu, Fudhail sedang jatuh cinta dengan seorang gadis. Diapun memanjat tembok untuk menemui wanita  tersebut. Ketika dia berada di atas tembok, ia mendengar suara lantunan Alquran dari wanita tersebut :

    أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

     “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)

    Tak terasa air matanya berlinang, hingga akhirnya dia pun tersungkur jatuh. Seketika badannya yang selama ini kokoh, menjadi rapuh karena mendengar ayat tadi. Dia pun berkata dalam hatinya untuk menjawab pertanyaan Allah yang terdapat dalam ayat di atas, “Wahai Rabb-ku, telah tiba saatnya”.

    Akhirnya, ia pergi menjauh, lalu ia bermalam pada reruntuhan bangunan. Ternyata di samping bangunan itu ada orang-orang yang hendak melewati jalur operasi kajahatannya. Sebagian diantara orang-orang itu berkata, “Ayo kita berangkat”. Sebagian lagi bilang, “Jangan dulu!! Nanti shubuh kita berangkat, karena Fudhail sekarang akan menghadang kita di jalan!!!”.

    Fudhail menceritakan , “Kemudian aku merenung dan bergumam;  aku menjalani kemaksiatan-kemaksiatan di malam hari dan sebagian dari kaum muslimin ketakutan kepadaku, dan tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku bertaubat kepadaMu dan aku jadikan taubat itu dengan tinggal di Baitullah.”

    Setelah kejadian itu, Fudhail pun melalui hari-harinya dengan ketaatan kepada Allah sampai ia dikenal dengan ‘abidul haromain (عَابِدُ الْحَرَمَيْنِ), artinya “Ahli ibadah dua tanah suci (Makkah dan Madinah)”

    Maha suci Allah yang telah membolak-balikkan hati, dan menganugerahkan kepada hamba-Nya hati yang lembut. Itulah kisah seorang penyamun (perampok) jahat berubah menjadi seorang ulama’ dan hamba yang sholeh. [Dinukil dari: Al-Imam Al-Fudhoil bin Iyadh sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hafizh Adz-Dzahabiy dalam kitabnya Siyar A’lam An-Nubala’ (8/423)]

    Jin Pun Mendapat Hidayah Setelah Mendengarkan Alquran

    Allah ﷻ berfirman:

    قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبً 

    “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan,(Q.S.Al-Jin ayat 1.

    Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah membacakan Alquran  kepada Jin, dan tidak pernah melihat mereka. Ketika Rasulullah bersama para sahabatnya menuju ke Pasar Ukkadh, sesampainya di Tuhamah, Rasululllah bersama rombongannya berhenti untuk melakukan sholat fajar. 

    Hal tersebutlah yang menyebabkan terhalangnya setan untuk mencuri  berita-berita di langit. Alih-alih mencuri berita langit, setan malahan mendapat lemparan bintang-bintang dari langit. Sehingga setan pun terpaksa pulang kepada kaumnya.

    Setibanya di tempat kaumnya, setan-setan tersebut  ditanya : “Apa yang terjadi sehingga kalian kembali?”. Mereka menjawab : “Kami terhalang untuk mendapat berita langit”.

    “Tentu ada sebabnya, bersabarlah kalian ke timur dan ke barat dan carilah sebab penghalangnya“. Perintah tersebut, membuat mereka menyebar ke barat dan ke timur mencari sebab penghalangnya tindak pencurian berita langit.

    Dalam tugas pencarian sebab musabab ini,  sebagian dari mereka sampailah di Tuhamah,  tempat Rasulullah berhenti untuk melaksanakan sholat shubuh. Mereka mendengar bacaan Rasulullah dan memperhatikannya serta berkata : “Demi Allah, inilah yang menghalangi kita untuk mencuri berita dari langit“. Mereka pun pulang ke kaumnya dan menyampaikan kejadian itu serta mengagumi Alquran yang membawa mereka kejalan petunjuk Allah sehingga mereka beriman. Maka turunlah ayat ini (surah Jin ayat 1, sebagai pemberitahuan kepada Nabi saw., untuk memberitahukan kepada ummatnya tentang kejadian itu. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan At-Tarmidzi dan yang lainnya yang bersumber dari Ibnu Abbas)

    (Bersambung Bag. II)

    Penulis skrip: Ahmad Fahmi dan UKM Mushaf ICWM

    Editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • Mutiara Pengasuh bagi Sivitas Akademika STIU Wadi Mubarak Bogor

    Masjid Jami Wadi Mubarak Bogor, 14 Januari 2021.

    Umat Islam Indonesia kembali kehilangan salah satu guru terbaiknya. Hari ini telah wafat Syaikh Ali Saleh Muhamad Ali Jaber. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan beliau dan menempati tempat terbaik di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

    Fenomena wafatnya ulama menjadi pengantar dalam liqa maftuh yang disampaikan oleh pengasuh STIU Wadi Mubarak, Dr. KH. Didik Haryanto, Lc., M.P.I. di hadapan seluruh sivitas akademika.

    Liqa maftuh ini sudah lama tidak dilakukan sejak beliau kembali menempuh studi doktoral di Timur Tengah sejak dua tahun terakhir. Di kesempatan langka dan berharga ini pengasuh memberikan beberapa nasihat penting bagi seluruh sivitas akademika.

    Pertama, seluruh sivitas, baik mahasiswa dan dosen harus memiliki semangat menuntut ilmu yang tinggi. Menjadi seorang ulama.

    Sudah banyak ulama besar baik nasional maupun internasional wafat di masa pandemi ini. Seluruh mahasiswa, harus menanamkan tekad untuk menjadi pewaris para ulama dengan menerapkan semangat belajar yang tinggi.

    Umat butuh kaderisasi ulama. Allah menghapus ilmu dengan mewafatkan ulama. Jangan sampai, ketika para ulama wafat, masyarakat kehilangan tempat bertanya. Jangan sampai muncul para pemimpin jahil yang mengeluarkan fatwa sesat dan menyesatkan.

    Kedua, tingkatkan daya baca dan daya telaah kita.

    Ulama-ulama besar sangat dekat dengan kitab. Buatlah hari-hari kita lebih produktif dengan membaca. Jangan sampai terlalaikan oleh gawai dan hal-hal lain yang melenakan.

    Ketiga, jangan patah arang dengan kemampuan yg terbatas.

    Tidak semua orang dilahirkan cerdas. Bagi mahasiswa yang lambat menghafal, bersyukurlah Allah membuat antum lebih berlama-lama dengan al Quran ketika teman lain sudah mulai berleha-leha.

    Keempat, bersyukurlah jadi seorang penghafal al Quran.

    Sejatinya, baru mulai menghafal selepas tamat SMA masih terbilang terlambat. Apalagi jika bercita-cita jadi ulama. Bagaimanapun, bersyukurlah berkesempatan menghafal al Quran. Ini sudah menjadi langkah yang tepat untuk menyiapkan diri.

    Kelima, milikilah jiwa melayani.

    Pemimpin yang baik adalah yang sepenuh hati melayani. Jadi seorang ulama yang sepenuh hati melayani dan mengajar muridnya. Jiwa ini haruslah dimiliki oleh seluruh sivitas akademika.

    Keenam, Setiap sivitas akademika harus memiliki jiwa pejuang.

    Jangan pernah takut menjadi pejuang. Jadilah para penolong agama Allah. Allah pasti akan menolong segala macam urusan kita.

    Ketujuh, perkuat dan rawat dzikir harian kita.

    Pertahankan dzikir 5 juz. Dzikir akan mengubah jiwa seseorang. Jangan hiasi lidah kita dengan hal-hal tidak bermanfaat bagi jiwa seperti musik dan hal-hal melalaikan lainnya.

    Kedelapan, jadilah pemuda-pemuda Islam.

    Islam harus menjadi identitas yang mewarnai jati diri kita. Mewarnai cara berfikir kita. Cara bersikap kita. Jadikan Islam sebagai warna diri kita, bukan identitas suku, bangsa atau lainnya.

    Dalam konteks menuntut ilmu, jika mahasiswa Indonesia di luar negeri dikenal pemalu dalam berdiskusi dan pasif dalam perkuliahan, ingatlah bahwa sebagai seorang muslim kita tidak boleh malu dan dituntut memiliki gairah dan semangat dalam belajar.

    Demikianlah 8 nasihat yang diringkas dari begitu banyak kalimat berharga yang disampaikan pengasuh STIU Wadi Mubarak Bogor kepada sivitas akademika. Dalam liqa maftuh ini sangat tampak kerinduan pengasuh kepada seluruh sivitas akademika. Begitu pun sebaliknya, para mahasiswa, dosen, musyrif, dan seluruh staf tampak antusias hadir dan menyimak. (ARH)

  • KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. VI)

    KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. VI)

    14. Pembaca Alquran Akan Dibangkitkan Bersama Malaikat

    Hari kebangkitan merupakan sebuah keniscayaan, yang pasti akan dirasakan oleh seluruh umat manusia di muka bumi. Setelah manusia dibangkitkan dari  alam kubur, maka Allah akan mengumpulkan manusia di Padang Mahsyar untuk menunggu keputusan Allah. Pada hari tersebut, hari dimana manusia dibangkitkan sesuai amalannya, dan tiada berguna lagi harta benda bahkan ikatan persaudaraan. Hanya amal solihlah yang menemani pada hari kebangkitan yang dahsyat tersebut.

    Betapa beruntungnya, bilamana manusia dibangkitkan bersama para malaikat mulia, bersama para nabi, sahabat, dan kaum muslimin. Siapakah yang beruntung untuk dibangkitkan bersama para malaikat tersebut? Ialah sang ahlul Quran. Yang rajin membaca Alquran, mentadabburinya dan mengamalkannya. Sebagaimana dalam sebuah hadits: 

    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

    Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala”. (HR. Muslim)

    penjelasan imam muslim :

    وَأَمَّا الَّذِي يَتَتَعْتَعُ فِيهِ فَهُوَ الَّذِي يَتَرَدَّدُ فِي تِلَاوَتِهِ لِضَعْفِ حِفْظِهِ فَلَهُ أَجْرَانِ : أَجْرٌ بِالْقِرَاءَةِ ، وَأَجْرٌ بِتَتَعْتُعِهِ فِي تِلَاوَتِهِ وَمَشَقَّتِهِ .

    ‘Adapun orang yg terbata bata dalam membaca alqur’an adalah yg berulang2 dalam membacanya sebab lemahnya hafalan maka baginya dua pahala yaitu pahala membaca dan pahala kesulitan dalam membacanya.’

    Sungguh, tiada kerugian bagi sang Ahlul Quran. Bagi seseorang yang mahir, maka mendapat kemuliaan dibangkitkan bersama malaikat. Adapun bagi Sahabat Quran yang masih terbata karena kurang lancar membaca Alquran, bahkan tetap diganjar dua pahala. Bahkan bagi Shohibul Quran yang telah berazzam untuk menghafalkan Alquran, namun kemampuannya terbatas dan tetap mengisi hari harinya dengan bacaan Alquran, maka iapun akan dibangkitkan bersama para Penghafal Alquran. Demikian karena manusia akan dibangkitkan bersama yang ia cintainya.

    15. Buah Utrujah, Identitas Keharuman Pembaca Alquran

    Buah utrujah atau buah jeruk yang harum dan manis merupakan salah satu buah yang dianalogikan sebagai umat islam yang gemar membaca Alquran. Sebagaimana dalam sebuah hadits:  Dari Abu Musa Al Asy’ariy RA, Rasulullah ﷺ bersabda,

    الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ

    “Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 5059)

    Betapa indahnya analogi tersebut, buah jeruk yang harum, wangi semerbak, warnanya ranum, rasanya  manis, tentu membuat semua orang ingin mencicipinya. Buah jeruk mengandung banyak manfaat. Bukan hanya daging buahnya namun juga kulit dan bijinya.

    Sebagaimana dilansir dalam sebuah artikel kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, buah jeruk dikenal sebagai buah yang rendah kalori, mengandung banyak air, tinggi serat, dan vitamin C.  Beberapa manfaat buah jeruk yang baik untuk tubuh, di antaranya yaitu;  buah jeruk  mengandung senyawa flavonoid hesperitin dan  naringenin yang dapat mengurangi risiko kanker. Kandungan citric acid and citrates, juga telah terbukti mencegah pembentukan batu ginjal. Komponen antiinflamasi dan antioksidan dari jeruk dapat membantu mencegah penuaan kulit dengan melawan radikal bebas, membantu menurunkan berat badan, menjaga kesehatan jantung, mencegah anemia, mencegah stroke, menurunkan tekanan darah, mencegah kerusakan kulit, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menjaga kesehatan mata dls. [1]

    Bukan hanya buahnya yang bermanfaat, kulit jeruk juga mengandung nutrisi yang tinggi  yakni serat, vitamin, dan mineral. Seratus gram kulit jeruk mengandung 11 gram serat, sementara satu sendok makan kulit jeruk mengandung vitamin C dengan jumlah 3 kali lipat dari daging buahnya.

    Maka mengkonsumsi kulit jeruk bisa meningatkan kesehatan jantung. Polifenol yang terkadung di dalam kulit jeruk bisa menurunkan berbagai penyakit. Adapun kandungan senyawa antibakteri serta mineral yang berupa fosfor dan kalsium dalam kulit jeruk, bisa membantu mencegah pembentukan gigi berlubang dan membantu menjaga kesehatan tulang.[2] Cara mengkonsumsi kulit jeruk yaitu dengan mengeringkannya dan menyeduhnya menggunakan air panas.

     Masya Allah, sedemikian kayanya manfaat dari buah jeruk. Sangatlah pantas jika mukmin yang rajin membaca dan mengamalkan Alquran dipermisalkan seperti buah jeruk, karena seorang mukmin itu jiwanya bagus, qalbunya juga baik, dan ia bisa memberikan kebaikan kepada orang lain. Duduk bersamanya terdapat kebaikan. Maka seorang mukmin yang rajin membaca Alquran adalah baik seluruhnya, baik pada dzatnya dan baik untuk orang lain.

    Adapun seorang mukmin yang tidak membaca Alquran adalah seperti buah kurma. Rasanya enak namun tidak memiliki aroma yang wangi dan harum. Jadi seorang mukmin yang rajin membaca Alquran jauh lebih utama dibanding yang tidak membaca Alquran. Tidak membaca Alquran artinya tidak mengerti bagaimana membaca Alquran, dan tidak pula berupaya untuk mempelajarinya.

    Perumpamaan seorang munafiq, namun ia rajin membaca Alquran adalah seperti buah Raihanah : aromanya wangi namun rasanya pahit. Karena orang munafiq itu pada dzatnya jelek, tidak ada kebaikan padanya. Munafiq adalah : orang yang menampakkan dirinya sebagai muslim namun hatinya kafir.   Kaum munafiq inilah yang Allah nyatakan dalam firman-Nya :

    Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” [Al-Baqarah : 8 – 10]

    Didapati orang-orang munafiq yang mampu membaca Alquran dengan bacaan yang bagus dan tartil. Namun mereka hakekatnya adalah para munafiq yang kondisi mereka ketika membaca Alquran adalah seperti yang digambarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ :

    يقرؤون القرآن لا يتجاوز حناجرهم

    “Mereka rajin membaca Alquran, namun bacaan Alquran mereka tidak melewati kerongkongan mereka.”

    Maka Nabi ﷺ mengumpamakan mereka dengan buah Raihanah, yang harum aromanya, karena mereka terlihat rajin membaca Alquran; namun buah tersebut pahit rasanya, karena jelek dan jahatnya jiwa mereka serta rusaknya niat mereka.

    Adapun orang munafiq yang tidak rajin membaca Alquran, maka diumpamakan oleh Rasulullah ﷺ seperti buah Hanzhalah, rasanya pahit dan tidak memiliki aroma wangi. Inilah munafiq yang tidak memiliki kebaikan sama sekali. Tidak memiliki aroma wangi, karena memang ia tidak bisa membaca Alquran, selain itu, dzat dan jiwanya juga dzat dan jiwa yang jelek dan jahat. Demikian jenis dan tipe manusia terkait dengan Alquran. Semoga Allah masukkan kita ke dalam golongan mukmin yang sekaligus ahlul Quran. Aamiin (Selesai)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    *Penulis skrip dan editor Tanti Ummu Fahdlan


    [1] Arnarson, Atli, PhD. 2019. Oranges 101: Nutrition Facts and Health Benefits. https://www.healthline.com/nutrition/foods/oranges#plant-compounds. (Diakses pada 24 Januari 2020).

    [2] Diah Ayu, hellosehat.com, ditinjau oleh dr.Patricia Lukas Goentoro

  • KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. V)

    KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. V)

    12. Allah Menyebut Namanya di Hadapan Para Malaikat Mulia

    Popularitas hakiki bukanlah kepopuleran dan masyhurnya nama seseorang dihadapan mahluk. Sebagaimana popularitasnya artis yang dipuja-puji oleh jutaan penggemarnya. Popularitas sejati bagi hamba yang mukmin adalah ketika ia diridloi oleh Allah dan namanya dikenal oleh Penghuni Langit karena ketakwaan dan keimanannya.

    Salah satu karunia yang Allah berikan kepada pembaca Alquran maka namanya akan disebut-sebut oleh Allah. Kebahagian manakah yang pantas dibanggakan melebihi kebahagiaan dari dikenalnya kita, disebutnya kita oleh Allah?

    Abu Hurairah RA dalam Shahih Muslim, Rasululllah ﷺ bersabda:

     “وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ، فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ، إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ.”

     “Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah (masjid), sedang mereka membaca kitab Allah (al-Qur-an) dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali akan turun ketenangan atas mereka, dan mereka diliputi rahmat Allah, serta para Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyebut-nyebut (membanggakan) mereka pada (para Malaikat) yang ada di dekat-Nya.”

    Disebutnya nama kita di majelis Kekasih kita merupakan nikmat yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Dalam analogi sederhana, jika kita disanjung didepan tokoh ternama, maka kit akan merasa senang. Bagaimana jika yang menyanjung itu Allah dan disanjung di hadapan makhluk mulia, yaitu malakait yang tak pernah maksiat?

    Dari Abu Hurairah RA, Nabi ﷺ bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

    أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِى فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ خَيْرٍ مِنْهُ

    “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku. Aku bersamanya kala ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, maka aku akan menyebut-nyebutnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu.” (HR. Muslim, no. 2675)

    Tak inginkah kita mendapatkan ketenangan jiwa dan keutamaan seperti dikemukakan dalam hadits di atas. Maka marilah memperbanyak majelis kita dengan bacaan Alquran, dengan memperbanyak dzikrullah, agar kita selalu diingat oleh Rabb Pencipta kita.

    13. Allah Bebaskan Para Pembaca Alquran Dari  Golongan Orang Lalai

    Sesungguhnya di antara sebab yang bisa mendatangkan kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah membaca Alquran dengan khusyu’ dan berusaha memahaminya. Sehingga tidak mengherankan, apabila kedekatan dengan Alquran merupakan perwujudan ibadah yang bisa mendatangkan cinta Allah.

    Rasulullah menganjurkan umatnya untuk selalu membaca Alquran. Jika bisa khatam membacaAlquran dalam beberapa hari, maka itu lebih baik. Namun jika tidak, maka minimal, usahakanlah untuk membaca ayat Alquran, minimal 10 ayat setiap malam. Karena dengan demikian, maka akan terbebaskan dari  golongan orang yang lalai Sebagaimana sebuah hadits;

    “Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

    مَن قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ فِي لَيلَةٍ لَم يُكتَبْ مِنَ الغَافِلِينَ

    “Barangsiapa membaca sepuluh ayat pada malam hari, maka dia tidak termasuk orang-orang yang lalai.” (HR.Hakim).[1]

    Dari hadits tersebut, terdapat sebuah pertanyaan; Pembacaan sepuluh ayat tersebut apakah dikhususkan hanya pada waktu shalat atau waktu malam di luar shalat?

    Keduanya terdapat dalil yang menjelaskan.

    Penjelasan pertama dikuatkan oleh riwayat Abu Dawud, 1398 dari Abdullah bin Amr bin Ash RA berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

    مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنْ الْغَافِلِينَ ، وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْقَانِتِينَ ، وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْمُقَنْطِرِينَ

    “Barangsiapa yang menunaikan (membaca) sepuluh ayat, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang lalai. Dan barangsiapa yang menunaikan seratus ayat, maka dia termasuk qhanitin (ahli ibadah). Barangsiapa menunaikan seribu ayat, maka dia termasuk golongan orang Muqanthirin (berharta sangat banyak).”[2]

    Dalam kitab Aunul Ma’bud dikatakan, “Maksudnya di sini adalah qiyamul lail. Oleh karena itu diriwayatkan oleh Ibnu Hibban hadits tadi dalam bab qiyamul lail dalam shahihya, 4/120 dan dibuat judul ‘Dzikru Nafi Goflah Amman Qama al-Lailah Bi’asyri Ayat’ (Dzikir yang dapat meniadakan kelalaian bagi orang yang menunaikan qiyamul lail dengan sepuluh ayat).

    Muqanthirin yang dimaksud disini adalah orang yang mendapat limpahan pahala yang sangat banyak. Sedangkan satu qinthar saja, dalam sebuah hadist disebutkan bahwa ia lebih baik dari dunia dan seisinya. Bagaimana dengan jika Allah masukkan kedalam golongan Muqanthirin? Maka tentu kebaikannya sangat berlipat ganda melebihi dunia seisinya.

    Dikuatkan juga dengan hadits Abu Hurairah RA dengan teks, “Barangsiapa yang shalat waktu malam dengan seratus ayat, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai. Barangsiapa yang shalat waktu malam dengan dua ratus ayat, maka dia termasuk golongan orang-orang qanithin mukhlisin.” (HR. Hakim).[3]  

    Dalam riwayat Ibnu Huzaimah, 2/180:

    من حافظ على هؤلاء الصلوات المكتوبات لم يكتب من الغافلين ، ومن قرأ في ليلة مائة آية لم يكتب من الغافلين أو لم يكتب من القانتين ..  (قال الألباني في الصحيحة، رقم 643 ، إسناده صحيح على شرط الشيخين)

    “Barangsiapa menjaga shalat wajib, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai. Barangsiapa membaca di waktu malam hari seratus ayat, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai atau termasuk orang-orang qanithin (orang-orang yang bertaqwa).”[4]

    Penggabungan bacaan dengan menyebutkan shalat wajib, mengisyaratkan bahwa yang dimaksud adalah bacaan dalam shalat, yakni shalat lail. Oleh karena itu Ibnu Khuzaimah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah dalam bab “Bab Dzikru Fadhilatus Qira’ah Miah Ayat Fi Shalatil Lail Idz Qori Miah Ayah Fi Lailah La Yuktab Minal Ghofilin (Bab menyebutkan keutamaan bacaan seratus ayat dalam shalat lail ketika membaca seratus ayat waktu malam maka dia tidak termasuk orang-orang yang lalai). Diriwayatkan juga Muhammad bin Nasr Al-Marwazi dalam kitabnya qiyamul lail (164 dengan ringkasan). Dalam bab yang terkait dengan bacaan dalam shalat malam.

    Selain penjelasan tentang bacaan di dalam shalat, ada juga penjelasan yang menerangkan tentang keumuman bacaan Alquran di waktu malam di luar shalat. Baik itu waktu sebelum tidur maupun saat bangun malam.  

    Keumuman makna tersebut, sebagaimana yang dipahami oleh mayoritas  ulama dalam menghukumi hadits tersebut  pada karangan mereka. Misalnya, Sunan Darimi rahimahullah yang telah membuatnya dalam bab 2/54 dengan mengatakan, ‘Bab Fadlu Man Qara Asyra Ayat (Bab keutamaan bagi orang yang membaca sepuluh ayat).’

    Sementara Hakim membuatnya dalam Kitab Mustadraknya, 1738 dengan mengatakan ‘Akhbar Fi Fadhoil Al-Qur’an Jumlatan (Riwayat-riwayat terkait dengan keutamaan Al-Qur’an secara umum). Sebagaimana Al-Munziri membuat bab dalam kitabnya At-Targib Wat Tarhib, 2/76 dengan mengatakan, ‘At-Targib Fi Qiroatil Qur’an Fi Shalah wa Ghoiriha Wa Fadli Ta’allumihi Wa Ta’limihi (Anjuran membaca Al-Qur’an dalam shalat dan lainnya dan keutamaan mempelajari dan mengajarkannya).

    Kemudian dicantumkan juga di bawah bab, 2/116 ‘At-Targib Fi Adzkar Tuqolu Billaili Ghoir Mukhtassoh Bissobah Wal Masa’ (Anjuran zikir yang dibaca waktu malam dan siang yang tidak khusus waktu pagi dan petang hari).

    An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam kitab Al-Adzkar, 1/255: “Ketahuilah bahwa bacaan Al-Qur’an merupakan zikir yang utama, maka hendaknya dibiasakan. Jangan sampai terlewatkan dalam sehari semalam (tanpa membacanya). Hal tersebut dapat teraih dengan sekedar  membaca ayat meskipun sedikit. Kemudian beliau menyebutkan beberapa hadits di antaranya hadits Abu Hurairah tadi.”

    Maka diharapkan, bagi orang yang membaca sepuluh ayat pada malam hari tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai. Baik dia baca dalam shalat malamnya atau di luar shalat. Masya Allah, betapa sangat luasnya kasih sayang Allah yang melimpahkan pahala tak terhingga bagi hambaNya yang dekat dengan Alquran.

    (Bersambung Bag. VI)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    *Penulis skrip dan editor Tanti Ummu Fahdlan


    [1] HR. Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, 1/742, dia mengatakan, “Hadits ini shahih dengan syarat Muslim akan tetapi tidak dikeluarkan olehnya.” Dishahihkan oleh Al-Alabny dalam Shahih At-Targhib, 2/81

    [2] (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud, no. 1264)

    [3] HR.Hakim, 1/452 dishahihkan dengan syarat Muslim. Akan tetapi Al-Albany cenderung melemahkannya sebagaimana dalam Silsilah Ash-Shahihah, 2/243 dan Dhaif At-Targhib, 1/190.

    [4] Al-Albany mengatakan dalam Shahihnya, no. 643 sanadnya shahih dengan syarat Syeikhain

  • KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. IV)

    KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. IV)

    9. Bacaan Alquran Mampu Memberikan Ketenangan

    Manusia tidak pernah lepas dari berbagai ujian hidup, persoalan dan permasalahan. Pada saat futur, manusia sering kali merasakan beban hidup yang terlampau berat sehingga menimbulkan kekhawatiran, kecemasan, ketakutan dan ketidaktenangan. Bahkan banyak juga yang terjerumus kedalam kemaksiatan, karena salah tindakan dalam mencari solusi. Sebagian ada yang menggunakan obat-obatan terlarang untuk menghilangkan berbagai tekanan. Ada juga yang memilih ke club-club musik untuk mencari hiburan.

    Kenapakah tidak kita sadari. Bahwa Allah sebenarnya telah menurunkan sumber ketenangan untuk berbagai masalah. Allah telah memberikan juga obat dari segala macam penyakit. Juga sumber ketentraman dari berbagai kecemasan dan ketakutan. Ialah Alquran, Kalamullah, yang memberikan ketenangan jiwa bagi hambaNya yang membacanya, mentadaburinya dan mengamalkannya.

    Oleh karena itu, ketenangan dan kedamaian jiwa sangat diperlukan dalam kehidupan, apalagi kehidupan sekarang yang terasa kian berat. Dengan jiwa yang tenang kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.

    Untuk bisa menggapai ketenangan jiwa, secara tersurat, Al-Qur’an menyebutkan beberapa kiat praktis, yaitu: Dzikrullah; yakin akan pertolongan Allah; memperhatikan bukti kekuasaan Allah; bersyukur; dan membaca Al-Quran.

    Sebagaimana termaktub dalam Alquran Surat Ar-Ra’d Ayat 28, Allah ﷻ berfirman:

     ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

     “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.

    Tafsir Almuyasar menjelaskan, Orang-orang yang beriman adalah mereka yang diberi petunjuk oleh Allah dan yang bertaubat kepada-Nya. Hati mereka  menjadi tenang dan tentram dengan berzikir kepada Allah dengan lisan mereka, seperti membaca Alquran, bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil, atau dengan mendengarkan zikir tersebut dari orang lain. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, mentahuhidkanNya, membuat hati menjadi tenteram.  Meskipun mentafakkuri makhluk-makhluk Allah, ciptaan-ciptaan, dan mukjizat-mukjizat-Nya secara umum juga bisa menjadikan hati tentram, namun hasilnya tidak seperti ketentraman dengan berzikir kepada Allah.

    10. Membaca Alquran Mendatangkan Rahmat dan Kasih Sayang Allah

    Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Secara bahasa, setiap kata di dalam bahasa Arab,  yang berakar dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm memiliki arti dasar ‘kelembutan, kehalusan dan kasih sayang’.[1]

    Pada dasarnya rahmat (kasih sayang) itu berasal dari Tuhan Maha Pengasih Penyayang (al-Rahmân al-Rahim). Allahﷻ adalah sumber rahmat (kasih sayang) yang tersebar di alam semesta ini. Allah ﷻ mewajibkan bagi diri-Nya sendiri memiliki sifat rahmat (kasih sayang).  Hal tersebut tertuang dalam  QS al-Anʻam [6]: 12. Yang artinya : “Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bum’. Katakanlah: ‘Kepunyaan Allah’. Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.”

    Betapa Maha Kasih Sayangnya Allah, sehingga dalam sebuah hadits juga dijelaskan bahwa Allah menciptakan 100 rahmat dan hanya 1 yang disebar bagi seluruh makhlukNya. satu rahmat itu disebar di muka bumi sehingga cukup bagi seorang ibu menyayangi anaknya dan semua makhluk baik manusia, burung, semua jenis hewan dan jin dapat mengasihi satu sama lain. Lalu 99 rahmat sengaja ditahan oleh Allah swt untuk memberi rahmat bagi seluruh hamba-Nya pada hari kiamat.       

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    إن لله مائة رحمة أنزل منها رحمة واحدة بين الجن والإنس والبهائم والهوام، فيها يتعاطفون، وبها يتراحمون، وبها تعطف الوحش على ولدها، وأخر الله تسعا وتسعين رحمة يرحم بها عباده يوم القيامة

    “Sesungguhnya Allah memiliki 100 rahmat. Salah satu di antaranya diturunkannya kepada kaum jin, manusia, hewan, dan tetumbuhan. Dengan rahmat itulah mereka saling berbelas kasih dan menyayangi. Dengannya pula binatang liar mengasihi anaknya. Dan Allah mengakhirkan 99 rahmat untuk Dia curahkan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat.” (Muttafaq ‘alaih)[2]

    Salah satu cara untuk mendatangkan rahmat dari Allah tersebut adalah dengan membaca kitabullah. Allah ﷻ berfirman:

    وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ مُبَارَكٌ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

    “Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (QS. Al-An’am : 155)

    Tafsir Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah menjelaskan bahwa Alquran memiliki banyak keberkahan, karena ia mengandung berbagai manfaat keduniaan dan keagamaan. Maka bertakwalah yaitu  jauhkanlah diri kalian dari menyelisihinya dan mendustakan isinya. Dimana kalian menerimanya dan tidak menyelisihinya semoga kalian mendapatkan rahmat Allah.[3]

    Maka salah satu cara untuk mendapatkan rammat Allah adalah dengan menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup yaitu melalui tahapan membacanya, mentadaburinya, menghafalkan dan mengamalkannya.

    11. Malaikat pun Turut Mendoakan Sang Pembaca Alquran

    Salah satu ibadah yang utama adalah membaca Alquran. Dalam bab sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa malaikatpun menjelma menjadi awan yang berhimpun dan membentuk seperti cahaya lampu-lampu dikarenakan mendengarkan bacaan Alquran dari Sahabat  Usaid bin Khudhair.

    Hal tersebut merupakan bagian dari keagungan bacaan Alquran, sehingga malaikatpun senang mendengarkan bacaan Alquran dan tentunya turut berdoa bagi sang pembaca Alquran. Rasulullah ﷺbersabda, “Orang yang lancar membaca Al Quran akan bersama malaikat utusan yang mulai lagi berbakti, sedangkan orang yang membaca Alquran dengan tersendat-sendat lagi berat, maka ia akan mendapat dua pahala.” (HR Muslim)

    Bacaan Alquran di dalam rumah juga mendatangkan keberkahan dikarenakan banyak malaikat yang turut berdoa dan menjaga rumah tersebut. Sebagaimana dalam sebuah hadits:

    Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ  bersabda,

     إِنَّ الْبَيْتَ لَيَتَّسِعُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ وَتَهْجُرُهُ الشَّيَاطِينُ ، وَيَكْثُرُ خَيْرُهُ أَنْ يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ ، وَإِنَّ الْبَيْتَ لَيَضِيقُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَهْجُرُهُ الْمَلَائِكَةُ ، وَتَحْضُرُهُ الشَّيَاطِينُ ، وَيَقِلُّ خَيْرُهُ أَنْ لَا يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ   

    “Sesungguhnya rumah yang dibacakan Alquran didalamnya akan menjadi luas bagi pemiliknya, malaikat mendatanginya, setan menjauhinya dan banyak kebaikannya, dan rumah akan menjadi sempit bagi pemiliknya, malaikat menjadi terhalang, setan hadir dan sedikit kebaikannya jika tidak dibacakan Alquran di dalam rumah tersebut.” (HR. Ad Darimi: 3262)

    Hadits tersebut menjadi salah satu dalil, bahwa malaikat akan turut mendatangi sang pembaca Alquran, turut mendoakannya sehingga mendatangkan banyak kebaikan dan keberkahan bagi pembaca Alquran.

    (Bersambung Bag. V)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    *Penulis skrip dan editor Tanti Ummu Fahdlan


    [1] Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah

    [2] (Muttafaq ‘alaih; dalam Shahih Bukhari no. 6104 dan Shahih Muslim no. 2725; lafal hadits ini dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

    [3] Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah 155

  • BUKA PUASA SUNNAH SENIN DAN KAMIS

    BUKA PUASA SUNNAH SENIN DAN KAMIS

    BUKA PUASA SUNNAH SENIN DAN KAMIS

    Alhamdulillah Para santriwan dan santriwati Islamic Center Wadi Mubarak setiap hari Senin dan Kamis melakukan puasa sunnah, kami mengajak Bapak/Ibu sekalian untuk ikut berpartisipasi dalam program buka puasa sunnah dengan berdonasi:

    • Rp 25.000 @ porsi

    Salurkan donasi terbaik anda ke :
    Bank mandiri : 133 00 333 33451 (kode bank 008)
    An : Islamic Center Wadi Mubarak

    Bank BNI Syariah : 9995 142 15 ( kode bank 427)
    An : Lazis SaQu Wadi Mubarak

    (Mohon sertakan kode unik :001 saat melakukan transfer untuk donasi buka puasa sunnah santri Islamic Center Wadi Mubarak. Contoh 25.0001)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    ‎مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

    “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah )

    Konfirmasi donasi : 0878 8882 1199 ( admin lazis SaQu)