Penulis: Editor Wadi Mubarak

  • Jalin Kerjasama UIKA Bogor dan STIU Wadi Mubarak

    Jalin Kerjasama UIKA Bogor dan STIU Wadi Mubarak

    UIKA Bogor dan STIU Wadi Mubarak Bogor Jalin Kesepahaman Bersama

    Bogor, 21 Desember 2020. Siang tadi, bertempat di ruang rektorat Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, baru saja ditandatangani kesepahaman bersama antara UIKA Bogor dan Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Wadi Mubarak Bogor.

    Kesepahaman menerangkan UIKA sebagai kampus pembina STIU Wadi Mubarak. Sebaliknya, pihak STIU Wadi Mubarak Bogor berstatus sebagai kampus binaan.

    Rektor UIKA Bogor, Dr Endin Mujahidin, M.Si., menjelaskan bahwa kesepahaman ini dibangun dalam rangka meningkatkan kerja sama kedua kampus di bidang tridharma perguruan tinggi yaitu kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

    Nota Kesepahaman ini Insyaallah akan ditindaklanjuti dengan penandatangan dokumen Perjanjian Kerjasama yang mencakup beberapa kegiatan, diantaranya:

    Satu, kerjasama di bidang penelitian dan publikasi ilmiah melalui jurnal.

    Dua, kerjasama di bidang presentasi hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk penyelenggaraan seminar, baik tingkat Nasional maupun Internasional.

    Tiga, kerjasama berupa pembinaan di bidang peningkatan jabatan akademik dosen.

    Empat, kegiatan pembinaan berupa pemanfaatan dan penggunaan sistem plagiarism checker milik UIKA Bogor oleh pihak STIU Wadi Mubarak.

    Lima, kerjasama dalam bidang pendidikan berupa kegiatan studi tingkat lanjut bagi lulusan.

    Sebagai kampus binaan, pihak STIU Wadi Mubarak sangat bersyukur dan melihat kerjasama ini sebagai kesempatan berharga untuk terus berkembang. Menurut Ketua STIU Wadi Mubarak Bogor, kesempatan ini bukan sekadar kerjasama yang saling menguntungkan kedua pihak, tetapi bernilai lebih khususnya bagi pihak STIU Wadi Mubarak Bogor.

    Semoga kerjasama ini berjalan lancar, dan senantiasa dalam bimbingan dan ridho Allah subhaanahu wa ta’ala. (ARH)

  • Kemuliaan Para Penghafal Al-Qur’an (II)

    Kemuliaan Para Penghafal Al-Qur’an (II)

    Raih Kualitas Shalat Terbaik Melalui Hafalan Al-Qur’an

    Para Penghafal Al-Qur’an dengan jumlah hafalan yang dimilikinya, maka ia mendapat peluang besar untuk meraih kualitas shalat terbaik.  Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa shalat yang paling afdhal adalah Qunut yang lama.

     وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَيُّ الصَّلاَةِ أَفْضَلُ ؟ قَالَ : (( طُولُ القُنُوتِ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ . المُرَادُ بِـ (( القُنُوْتِ )) : القِيَامُ .

    Jabir RA berkata, “Rasulullah ﷺ ditanya, ‘Shalat manakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Yang lama berdiri.’ [HR. Muslim, no. 756]. Yang dimaksud dengan qunut adalah berdiri.

    قال النووي : المراد بالقنوت هنا طول القيام باتفاق العلماء فيما علمت . أ.هـ

     Menurut Imam Nawawi, sebagaimana disepakati oleh para ulama, Qunut berarti lamanya waktu berdiri pada saat shalat.

    Qunut  sendiri, secara bahasa ada beberapa makna yaitu dawamuth tha’ah (terus menerus dalam ketaatan), thulul qiyam (berdiri yang lama), sukut (diam), ad-du’aa (berdoa). Sedangkan kalau para fuqaha menyebut qunut, maka yang dimaksud adalah doa dalam shalat saat berdiri. Namun sesuai dengan konteks hadits tersebut diatas, Qunut berarti berdiri.

    Para penghafal Al-Qur’an memiliki kesempatan terbesar untuk mendapatkan keutamaan ini. Mereka  bisa berdiri cukup lama di dalam shalatnya (terutama shalat malam dan shalat-shalat sunnah lainnya) dengan membaca Al-Qur’an sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ  yaitu dengan membaca surat Al Baqarah, An Nisa, Al Imran dalam satu rakaat pada waktu melaksanakan shalat malam.

    وَعَنْ حُذَيْفَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ البَقرَةَ ، فَقُلْتُ : يَرْكَعُ عِنْدَ المئَةِ ، ثُمَّ مَضَى ، فَقُلْتُ : يُصَلِّي بِهَا في رَكْعَةٍ فَمَضَى ، فَقُلْتُ : يَرْكَعُ بِهَا ، ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ، ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا ، يَقرَأُ مُتَرَسِّلاً : إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيْحٌ سَبَّحَ ، وَإذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ ، وَإذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ ، ثُمَّ رَكَعَ ، فَجَعَلَ يَقُولُ : (( سُبْحَانَ رَبِّيَ العَظِيمِ )) فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحْواً مِنْ قِيَامِهِ ، ثُمَّ قَالَ : (( سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ، رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ )) ثُمَّ قَامَ طَوِيْلاً قَِريْباً مِمَّا رَكَعَ ، ثُمَّ سَجَدَ ، فَقَالَ : (( سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى )) فَكَانَ سجُودُهُ قَرِيْباً مِنْ قِيَامِهِ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

    Dari Hudzaifah RA, ia berkata, “Aku shalat bersama Nabi ﷺ pada suatu malam. Maka beliau membuka shalat tersebut dengan surah Al-Baqarah. Lalu aku berkata (dalam hati), ‘Beliau akan rukuk pada ayat yang keseratus, kemudian seratus ayat pun berlalu, beliau melanjutkan bacaannya.’ Lalu aku berkata, ‘Beliau akan shalat dengan surah Al-Baqarah dalam satu rakaat, kemudian ternyata beliau meneruskan bacaannya.’ Lalu aku berkata, ‘Beliau akan segera rukuk, dan ternyata beliau memulai membaca surah An-Nisa’ hingga selesai. Kemudian beliau memulai lagi dengan surah Ali ‘Imran hingga selesai. Beliau membaca dengan perlahan-lahan. Apabila beliau melewati ayat yang di dalamnya terdapat tasbih, beliau bertasbih. Apabila beliau melewati ayat yang berisi permintaan, beliau meminta. Dan apabila beliau melewati ayat yang berisi meminta perlindungan, beliau meminta perlindungan.

    Kemudian beliau rukuk, lalu mulai mengucapkan, ‘SUBHAANA ROBBIYAL ‘AZHIIM’ (artinya: Mahasuci Rabbku Yang Maha Agung).’ Rukuk beliau sama seperti berdirinya, kemudian beliau mengucapkan, ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, ROBBANAA LAKAL HAMDU (artinya: Semoga Allah mendengar kepada siapa saja yang memuji-Nya, Wahai Rabb kami, hanya milik-Mu lah segala puji).’ Kemudian beliau berdiri lamanya hampir sama dengan rukuknya. Lalu beliau sujud, kemudian mengucapkan, ‘SUBHAANA ROBBIYAL A’LAA (artinya: Mahasuci Rabbku Yang Mahatinggi).’ Maka lama sujudnya hampir sama dengan berdirinya.’” [HR. Muslim, no. 772]

    Teladan memperbanyak bacaan surat Al-Qur’an pada waktu shalat, juga dicontohkan oleh para sahabat dan ulama salaf.  Imam an Nawawiy Rahimahullah dalam kitab beliau Attibyan Fii Adaab Hamalat Al Qur’an menjelaskan bahwa

     وأما الذي يختم في ركعة فلا يحصون لكثرتهم فمن المتقدمين عثمان بن عفان وتميم الداري وسعيد بن جبير رضي الله عنهم ختمة في كل ركعة في الكعبة

    “Adapun yang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu raka’at shalat maka jumlahnya juga tidak dapat dihitung karena banyaknya. Diantara mereka yang termasuk shahabat senior adalah ‘Utsman bin ‘Affan, Tamiim Ad Daariy, Sa’iid bin Zubair Rodhiyallahu ‘anhum. Mereka mengkhatamkan Al Qur’an dalam satu raka’at ketika sholat di depan ka’bah.” [1]

    Betapa pentingnya peran hafalan yang dimiliki oleh para Penghafal Al-Qur’an. Semakin banyak hafalan Al-Qur’an yang dimiliki, maka akan semakin panjang waktu shalat yang bisa dikerjakan, dan semakin besarlah peluang untuk meraih kualitas shalat terbaik.

    Penghafal Al-Qur’an Paling Berhak Menjadi Imam

    Diantara keutamaan para Penghafal Al-Qur’an adalah menjadikannya sebagai yang paling berhak menjadi imam shalat. Demikian karena di dalam shalat berjamaah, sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ , hendaknya kita menjadikan mereka yang paling faham dan yang paling banyak hafalannya untuk menjadi imam. Sebagaimana dalam sebuah hadits: Abu Mas’ud Al Anshori rodhiyallahu ‘anhu, Beliau mengatakan,

        قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِى السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِى الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِى سُلْطَانِهِ وَلاَ يَقْعُدْ فِى بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

    Rasulullah ﷺ mengatakan, “Yang menjadi imam dari suatu kaum adalah orang yang paling banyak hafalan terhadap Kitab Allah (Al-Qur’an), jika diantara mereka ada yang memiliki hafalan sama maka yang menjadi imam mereka adalah orang yang paling paham tentang sunnah Nabi (hadits) jika diantara mereka masih sama maka yang paling dahulu hijroh jika mereka dalam masalah hijroh sama maka yang lebih dahulu masuk islam. Janganlah seorang laki-laki menjadi imam seorang lelaki yang lain yang merupakan sulthonnya dalam daerah kekuasaan sulthon tersebut dan tidak pula di rumah orang yang di datanginya sebagai bentuk pemuliaan baginya kecuali atas izin orang tersebut” (HR. Muslim No. 672).

    Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa orang yang paling pandai bacaan Al-Qur’annya dan paling banyak hafalannya lebih berhak menjadi imam shalat. Jika diantara jamaah tersebut sama hafalan Al-Qur’annya maka diutamakan yang lebih paham tentang hukum fiqih dan sunnah. Jika masih sama maka didahulukan yang terlebih dahulu hijrahnya. Jika masih sama maka didahulukan yang lebih dahulu masuk islam. Ada juga yang berpendapat bahwa terlebih dahulu hijrah adalah sinnan atau yang lebih tua usianya. Adapun ahlul bait atau tuan rumah lebih berhak mengimami di rumahnya dibandingkan tamunya. Begitu juga Wali suatu wilayah lebih berhak mengimami di wilayahnya dibandingkan pendatang. Kecuali jika wali tersebut telah menunjuk orang lain sebagai imam atas izinnya.

    (Bersambung Bag. III)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.


    [1]  Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi,  Attibyan Fii Adaab Hamalat Al Qur’an, dengan tahqiq Abu ‘Abdullah Ahmad bin Ibrohim Abul ‘Aynaiyn hal. 70-72 terbitan Maktabah Ibnu ‘Abbas, Kairo, Mesir.

  • Kemuliaan Para Penghafal Al-Qur’an (I)

    Kemuliaan Para Penghafal Al-Qur’an (I)

    KEMULIAAN PARA PENGHAFAL AL-QUR’AN

    Menghafal Al-Qur’an merupakan aktifitas yang sangat mulia.  Kemuliaan tersebut sudah banyak tercantum di dalam Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Rasulullah ﷺ. Sang Ahlul Qur’an, Allah muliakan kedudukannya di dunia dan akhirat. Bahkan saking mulianya, Allah menyematkan gelar bagi para Ahlul Qur’an sebagai keluarga Allah di muka bumi.

    Diantara berbagai keunggulan, keutamaan dan kemuliaan para Ahlul Qur’an tersebut, maka para Penghafal Al-Qur’anlah yang paling banyak mendapatkan keutamaannya. Demikian karena untuk bisa menghafalkan Al-Qur’an, baik itu satu ayat, dua ayat, satu surat, dua surat dan seterusnya, pasti mereka akan membacanya terlebih dahulu.

    Diantara proses menghafal Al-Qur’an, ada juga yang menyertainya dengan mendengarkannya terlebih dahulu, membacanya, membaca tafsirnya, mentadabburinya dan  mengamalkannya. Kenapa semua keutamaan Ahlul Qur’an ini banyak didapatkan oleh para Penghafal Al-Qur’an? Ya, karena bisa dipastikan, para Penghafal Al-Qur’anlah yang paling banyak membaca Al-Qur’an, dan mereka pula yang paling banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an.

    Indahnya Mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ

    Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Sunnah adalah jalan yang dilewati, dan hal itu mencakup berpegang teguh dengan petunjuk Nabi ﷺ dan para Khulafaur Rasyidin, yang berupa keyakinan, amal perbuatan, dan perkataan. Inilah Sunnah yang sempurna”[1]

    Nabi Muhammad ﷺ adalah nikmat Allah ﷻ bagi makhluk-Nya, beliau adalah sosok agung yang Allah utus sebagai perwujudan nikmat dan karunia Allah atas hamba-Nya. Rasulullah diutus untuk menyampaikan ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa manusia, mengajarkan alkitab dan hikmah sehingga membawa manusia dari kejahiliyahan menuju peradaban islam.

    Bagi Penghafal Al-Qur’an, sesungguhnya Allah telah memuliakan mereka karena mereka termasuk golongan yang mengikuti sunnah Rasulullahﷺ. Demikian karena Rasulullah ﷺ juga menghafal Al-Qur’an.  Setiap bulan Ramadhan, malaikat Jibril selalu mendatangi beliau, menemui beliau  dan mengajak beliau untuk tadarus Al-Qur’an dan mengkhatamkannya.

    Sampai pada tahun akhir kehidupan beliau, beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak dua kali di bulan Ramadhan bersama malaikat Jibril.  Jadi, pada saat kita atau putra-putri kita menghafal Al-Qur’an maka secara langsung kita sudah mengikuti sunnah dan tuntunan Rasulullahﷺ.

    Al-Qur’an yang hingga sekarang kita baca, keasliannya sangat terjaga karena dikawal oleh Rasulullah ﷺ dan malaikat Jibril AS. Rasulullah selalu didatangi oleh Jibril pada setiap bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur’an. Sebagaimana dalam sebuah hadits:

    عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

    Dari  Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril As menemuinya, dan adalah Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan, dimana Jibril mengajarkannya Al-Quran. Sungguh Rasulullah ﷺ orang yang paling lembut melebihi angin yang berhembus” (HR. Bukhari)

    Hadits tersebut menunjukkan bukti bahwa Nabi bertadarus  (membaca dan mempelajari) Al-Qur’an bersama Jibril selama bulan Ramadhan. Selama tadarus ini, Jibril memberitahu letak dan urutan setiap ayat. Hadits ini menjadi dalil bagi golongan ulama yang meyakini bahwa urutan ayat dan surat Al-Qur’an adalah tauqifi yaitu berdasarkan tuntunan dari Nabi atas petunjuk Allah melalui malaikat Jibril.

    Karena itu, Jibril mengkhatamkan Al-Qur’an setahun sekali bersama Nabi setiap bulan Ramadhan, sedangkan pada tahun dimana Rasulullah meninggal, beliau mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali bersama Jibril.

    Demikianlah, menghafal Al-Qur’an adalah bagian dari sunnah Nabi. Pantaslah berbahagia, bagi sesiapapun yang telah Allah istimewakan menjadi pengikut sunnah Nabi-Nya. Tiada keindahan yang pantas diupayakan, melebihi indahnya mengikuti sunnah dari Rasul teladan, Rasul terbaik di muka bumi.

    (Bersambung Bag. II)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.


    [1] Imam Ibnu Rajab Al Hanbali, Jami’ul-‘Ulum wal-Hikam, penerbit Darul-Ma’rifah, Beirut, cet. 1, th. 1408 H, hlm. 263.

  • Seri Tausiyah Online

    Seri Tausiyah Online

    IBUNDA SANG HAFIZH – ASMA’ BINT ABU BAKR (Sesi 2)

    Asma’ Ra, keberhasilannya dalam mendidik putra-putranya, menjadikannya layak sebagai teladan bagi generasi setelahnya.

    Asma’ Ra adalah salah satu sosok mulia yang mempunyai banyak keberkahan. Asma’ Ra terlahir dari Ayahanda yang dijamin masuk surga yaitu Abu Bakr Ra dan merupakan istri dari sahabat yang dijamin masuk surga yaitu Az Zubair Bin Awwam.

    Asma’ Ra juga menjadi salah satu muhajirin yang mendapat keberkahan dari panjangnya usia yaitu mencapai 100 tahun.

    Apa saja keutamaan ibunda teladan ini dalam mendidik generasi Islam?

    Temukan jawabannya dalam Tausiyah Online bersama Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak – Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I. pada:
    ▪️Hari : Ahad, 20 Desember 2020/ 05 Jumadal ula 1442 H
    ▪️Tema : Ibunda Sang Hafizh – Asma’ Bint Abu Bakr (Sesi 2)
    ▪️Waktu : 18.30 WIB – Selesai
    ▪️Penyelenggara: YAYASAN SAHABAT QUR’AN
    ▪️Peserta : Umum
    ▪️Saksikan Live Streaming melalui:
    •YouTube Channel:

    https://youtube.com/c/ISLAMICCENTERWADIMUBARAKOFFICIAL


    ➖➖➖➖➖➖
    ↪️Yuk bantu share info kajian ini sebanyak-banyaknya.

  • HIKMAH KARANTINA PANDEMI COVID 19

    HIKMAH KARANTINA PANDEMI COVID 19

    Tausyiah Online Dr. Muhammad Didik Hariyanto, Lc., M.P.I. Bersama Pengelola TAUD SaQu-MIT SaQu se-Indonesia

    Pengajar adalah Profesi Mulia

    Salah satu profesi Rasulullah ﷺ, adalah sebagai pengajar atau pendidik, sebagaimana yang termaktub dalam sebuah hadits:

    وإنما بعثت معلما
    “𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘪𝘥𝘪𝘬 /𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳” ( HR. Ibnu Majah).

    Maka berbahagialah bagi sesiapapun yang memiliki profesi tersebut, karena sejatinya telah mewarisi profesi mulia nabi ﷺ yaitu menjadi Guru.

    Hikmah Menjalani Masa Karantina Global

    Karantina menjadi pilihan solusi di berbagai dunia dalam rangka meminimalisir peyebaran pandemi covid 19. Terdapat beberapa hikmah yang bisa kita ambil, dibalik takdir pandemi global ini, diantaranya yaitu:

    • Sarana mengevaluasi diri.

    Saat inilah, masa dimana Allah berikan banyaknya keluangan waktu di rumah, menjadi sarana untuk merenungi perjalanan hidup kita.  Evaluasi tersebut sangat bermanfaat sebagai sarana untuk memperbaiki diri menuju pribadi yang lebih baik.

    • Waktu untuk berkhalwat bersama Allah.

    Berkhalwat adalah waktu khusus yang kita sediakan untuk menyendiri, berdoa kepada Allah. Hendaknya setiap hari,  kita selalu meluangkan waktu  untuk berkhalwat kepada Allah.  Waktu tersebut kita pergunakan untuk merenungi apa yang selama ini sudah kita kerjakan. Kesalahan apa yang sudah kita perbuat. Dan segera meminta ampunan kepada Allah. Juga memaafkan semua kesalahan dari sesama kita.  Efek positif dari aktivitas ini adalah akan mewujudkan lompatan keilmuan juga lompatan kegiatan dakwah yang kita dapatkan dari petunjuk Allah.

    • Masa untuk saling menumbuhkan semangat keimanan.

    Panjangnya masa karantina, yang membatasi aktivitas diluar rumah, seringkali menimbulkan kejenuhan dan kegelisahan. Hal tersebut wajar terjadi. Bahkan para ulama terdahulu pun terkadang merasakan kejenuhan dalam masa menuntut ilmu. Adapun salah satu solusi yang dijalankan oleh para ulama terdahulu adalah saling memanggil, membuat majelis, untuk saling memperbarui semangat keimanan.

    Cara Menumbuhkan Keimanan

    • Kembali kepada Alquran

    Salah satu hal yang paling utama dalam menumbuhkan keimanan adalah kembali kepada Alquran.  Berikut adalah salah satu doa indah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ;

    اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي

    “Ya Allah, sungguh aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku pada diriku, keputusan-Mu adil terhadapku, Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang merupakan milik-Mu, nama yang engkau lekatkan sendiri untuk menamai diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang di antara hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar engkau menjadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku dan pelenyap keresahanku.( HR. Al-Imam Ahmad bin Hanbal), [Musnad Ahmad no. 3712]

    • Jadikan Alquran sebagai tempat berseminya hati.

                Kata رَبِيعَ dalam doa tersebut, mempunya makna; semi. Doa tersebut mengajarkan kita agar menjadikan Alquran sebagai tempat berseminya hati kita. Istilah semi, jika dianalogikan pada sebuah musim. Maka musim semi inilah musim yang terindah, dimana daun yang sebelumnnya berguguran mulai menghijau, dan pepohonan mulai menumbuhkan beraneka rupa bunga.

                Jika seseroang sedang penat dan lelah. Kemudian memasuki sebuah taman. Dimana didalamnya bertumbuh beraneka macam tanaman, dengan dedaunan dan bunga bunga yang indah dan berwarna warni. Tentu akan memunculkan kebahagiaan bagi pengunjungnya. Rasa lelah dan penat, bisa hilang dan terobati dari kebahagiaan menikmati taman bunga yang menghibur. Nah demikian juga Alquran. Dengan upaya kita untuk menjadi Alquran sebagai tempat kembali, maka segala penat dan lelah pun akan hilang, karena Alquran memberikan kebahagiaan yang hakiki.

    • Jadikan Alquran sebagai cahaya

                Banyak pesan pesan yang Allah berikan melalui Alquran. Alquran merupakan cahaya abadi yang bersumber dari Allah. Barangsiapa yang membacanya, mentadabburinya, mengamalkannya, bukan saja mendapatkan limpahan pahala, melainkan juga membuatnya terjauh dari kesedihan dan gundah gulana.

    Zaman milenial ini, banyak yang mencari ketenangan melalui musik atau tempat tempat hiburan malam. Sesungguhnya hal tersebut hanyalah fatamorgana belaka. Setan membuat hal haram seolah  menjadi indah. Para pelakunya pun tidak akan mendapatkan ketenangan. Karena pencerahan hakiki adalah yang bersumber dari Alquran

    • Buatlah aktivitas amaliah yang manfaat

    Masa karantina covid 19 adalah masa yang abnormal. Dimana kita tidak bisa melaksanakan aktivitas seperti sebelum masa karantina. Maka hanya orang prang yang sadar dan pandai memanfaatkan waktulah yang bisa berhasil menjalani masa karantina ini.

    Beragam pilihan aktivitas yang dijalankan dalam mengisi masa karantina. Ada yang bersantai santai di rumah, ada yang mempunyai target meningkatkan keilmuan dengan membaca kitab kitab ilmiah ada juga yang berlomba menghafal dan menghatamkan Alquran.

    Dalam mengisi karantina, bahkan, ada hamba Allah yang selama 22 tahun dan ia mampu istiqomah menghatamkan Alquran setiap 2 hari. Akan menjadi seperti apakah kita setelah 3 bulan kedepan? Apakah menjadi pribadi yang lebih baik ataukah menjadi pribadi yang merugi? Outputnya berbeda beda.  Ada yang menghafalkan Alquran dalam 3 bulan. Ada juga yang menghatamkan Alquran berkali kali dalam 3 bulan. Itukah kita?

    • Jadikan Wabah sebagai Pesan Cinta dari Allah

    Masa sekarang ini adalah masa dimana banyak waktu luang bersama anak anak dan keluarga. Perlu kiranya kita meningkatkan peran positif dan memberikan perhatian yang lebih besar kepada keluarga dan anak anak.

    Betapa banyak orang tua yang lalai dalam memperhatikan pertumbuhan pendidikan akhlak anak. Sehingga setelah anaknya dewasa, sudah lebih dari 20 tahun, dan anaknya di luar prediksi dia, tumbuh menjadi anak yang membawa  banyak  masalah, barulah orangtuanya menyadari bahwa selama ini mereka tidak dekat dengan anaknya karena kesibukan.

    Orang tua ini, seakan-akan dengan memberikan uang saku dan materi kepada anak, maka sudah  sudah tertunai kewajibannya. Mereka lupa, bahwa hal yang paling berharga adalah waktu yang orang tua luangkan untuk anak anaknya. Waktu yang orang tua sediakan untuk ibadah bersama, juga  waktu untuk murojaah bersama anak anaknya.

    Zaman sekarang ini, anak sudah jauh dari fitrahnya. Artinya anak tidak lagi dianggap sebagai penyejuk pandangan atau sebagai qurrota a’yun. Demikian karena anak bukan lagi menjadi prioritas perhatian utama. Prioritas orang tua sudah bergeser kepada aktivitas bisnis atau karier yang harus dikejar.

    Maka masa Pandemi ini, jadikan sebagai pesan cinta dari Allah kepada kita, agar kita kembali memaksimalkan waktu kita untuk meningkatkan peran kita kepada keluarga dan anak anak kita.

    • Perbanyak Syukur

    Anak adalah karunia dari Allah. Jika pasangan suami istri melakukan flash back. Pada masa awal setelah pernikahan, maka harapan terbesar adalah ingin disegerakannya mempunyai buah hati. Dan Masya Allah, Allah telah mengkaruniakan anak anak yang menyenangkan disisi kita. Banyak orang orang yang tidak seberuntung kita. Dan itu bukan dialami oleh manusia biasa, melainkan dialami manusia-manusia pilihan. Dialami oleh para Nabi.

    Tidakkah kita bersyukur? Nabi Ibrahim, pada usia menginjak 100 tahun, masih belum dikaruniai anak oleh Allah. Dan banyak lagi manusia yang belum dikaruniai anak, maka mereka mengusahakan sekuat tenaga.  Apapun yang mereka miliki, mereka siap mengorbankannya dan menukarnya dengan seorang anak.

    Betapa banyak juga orang tua yang menginginkan anak, tapi ternyata wafat sebelum melihat anaknya. Tak seorangpun berharap, bahwa ia wafat pada masa sebelum kelahiran anaknya. Tentu semua berharap memiliki anak dan mampu menimangnya serta membesarkannya sebelum diwafatkan. Dan harapan itupun tidak dialami oleh Ayahanda dari Nabi mulia ﷺ, yaitu Abdullah. Dimana Abdullah wafat sebelum sempat melihat kelahiran anaknya. Maka atas semua itu, masih pantaskah kita untuk mengeluh?

    Notulen: Fahmi Afnariyadi

    Editor: Tanti Ummu Fadhlan

  • Seri Tausiyah Online

    Seri Tausiyah Online

    IBUNDA SANG HAFIZH – ASMA’ BINT ABU BAKR (Sesi 1)

    Asma’ Ra, keberhasilannya dalam mendidik putra-putranya, menjadikannya layak sebagai teladan bagi generasi setelahnya.

    Asma’ Ra adalah salah satu sosok mulia yang mempunyai banyak keberkahan. Asma’ Ra terlahir dari Ayahanda yang dijamin masuk surga yaitu Abu Bakr Ra dan merupakan istri dari sahabat yang dijamin masuk surga yaitu Az Zubair Bin Awwam.

    Asma’ Ra juga menjadi salah satu muhajirin yang mendapat keberkahan dari panjangnya usia yaitu mencapai 100 tahun.

    Apa saja keutamaan ibunda teladan ini dalam mendidik generasi Islam?

    Temukan jawabannya dalam Tausiyah Online bersama Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak – Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I. pada:
    ▪️Hari : Ahad, 13 Desember 2020/ 28 Rabi’ul Akhir 1442 H
    ▪️Tema : Ibunda Sang Hafizh – Asma’ Bint Abu Bakr (Sesi 1)
    ▪️Waktu : 18.30 WIB – Selesai
    ▪️Penyelenggara: YAYASAN SAHABAT QUR’AN
    ▪️Peserta : Umum
    ▪️Saksikan Live Streaming melalui:
    •YouTube Channel:

    https://youtube.com/c/ISLAMICCENTERWADIMUBARAKOFFICIAL


    ➖➖➖➖➖➖
    ↪️Yuk bantu share info kajian ini sebanyak-banyaknya.

  • Keluarga Alquran

    Keluarga Alquran

    Mau berlibur ke puncak yang kaya makna dan berkah?

    Wisata qur’an insyaallah bisa membantu liburan keluarga Antum jauh lebih bermakna dan berkah. Karena didalamnya ada sajian belajar al-qur’an dan menghafalnya.

    خيركم من تعلم القرآن و علمه
    “Sebaik-baiknya manusia diantara kalian adalah orang yang belajar al-qur’an dan mengajarkannya”

    Mari, jangan sampai dilewatkan paket liburan keluarga bersama Wisata Qur’an.

    Waktu dan Tempat Pelaksanaan: Sabtu-Ahad, 26-27 Desember 2020

    di Hotel Grand Smesco Hills

    Biaya Rp. 500.000,- / KK (Suami-Istri + anak -7th)

    Fasilitas:

    1. Penginapan yang sejuk dan nyaman
    2. Kamar full AC
    3. Makan 3x
    4. Dibimbing oleh para penghafal Alquran
    5. 1 keluarga 1 kamar (kapasitas 4 orang dewasa)
    6. Banner Opening

    Kegiatan:

    1. Qiyamul lail
    2. Kajian Islam
    3. Tahsin Bacaan Alquran
    4. Halaqoh Alquran
    5. Tahsin dan Tahfidz (khusus anak)

    Lokasinya di kawasan puncak loh. Yang kaya dengan pemandangan pegunungan. Jauh dari keramaian kendaraan, menjadikan udara sejuk dan nyaman dinikmati.

    Wisata Keluarga Alquran
    Wisata Keluarga Alquran

    Informasi dan pendaftaran, klik:

    https://wa.me/qr/RMISLZKLJPONN1

  • Pengadaan Perangkat IT Media Center

    Pengadaan Perangkat IT Media Center

    Donasi Pengadaan Sarana Informasi dan Teknologi Wadi Mubarak.

    Semenjak wabah penyakit Corona merebak ke hampir seluruh bumi, banyak aktifitas yang terganggu termasuk diantaranya adalah semakin sulitnya menemukan forum kajian di masjid-masjid.

    Kondisi pada masa pandemi ini, tidaklah menyurutkan niat dan semangat dari Islamic Center Wadi Mubarak-ICWM untuk terus melangsungkan dakwah Al-Qur’an kepada seluruh masyarakat. Oleh karena itu, semenjak diberlakukannya PSBB, lembaga ICWM banyak melakukan kajian-kajian virtual, seperti Kajian Rutin Tausiyah Online, Pembelajaran Attibyan, Tuhfatul Athfal dan Jazariyah melalui youtube juga BIMBEL Qur’an Online melalui Google Meet.

    Adapun dalam memaksimalkan potensi dakwah melalui media online tersebut, masihlah terdapat banyak kekurangan, diantaranya sarana media informatika seperti komputer, kamera, lighting, dll.

    Oleh karenanya, kami mengajak bapak, ibu dan para muhsinin sekalian agar berkenan kiranya membantu mensupport Pengadaan Perangkat IT Wadi Mubarak agar dakwah Al-Qur’an bisa semakin ditingkatkan.

    Alhamdulilah hingga tanggal 30 Desember 2020 telah terkumpul donasi sebesar Rp. 30.420.000,- dari kebutuhan dana Rp. 95.000.000,-

    Semoga donasi dari para muhsinin sekalian, tercatat sebagai amal jariyah yang selalu mengalir kebaikan baik dunia maupun akhirat kelak.

    Masih terbuka kesempatan berdonasi untuk program Pengadaan Sarana IT Wadi Mubarak.

    Salurkan infaq terbaik antum melalui rekening:
    Bank Mandiri 1330033333451 an : Islamic Center Wadi
    BNI Syariah 9995 14215 an : Lazis Saqu Wadi Mubarak

    Konfirmasi infaq ke nomor : http://wa.me/6287888821199 (admin Lazis Saqu)

  • Raih Cinta Allah dan Makhluk-Nya dengan Zuhud

    Raih Cinta Allah dan Makhluk-Nya dengan Zuhud

    Dari Abu Al-Abbas Sahl bin Sa’ad Sā’idi radiallohu anhu dia berkata :

    Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata “ wahai Rasulullah, tunjukan kepadaku suatu amal jika aku mengamalkannya, nisaya aku akan dicintai Allah dan dicintai manusia”. Rasulullah ﷺ bersabda “bersikap zuhudlah terhadap apa yang ada didunia maka Allah kan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia maka manusia pun akan mencintaimu”. (HR Ibnu Majah)

    Permintaan sang lelaki pada Rasulullah pada hakikatnya merupakan permintaan dua perkara yang sangat agung. Pertama adalah meraih cinta Allah dan yang mendapatkan cinta manusia.

    Bersikap zuhudlah dalam dua hal. Demikian inti jawaban beliau shallallaahu álaihi wa sallam. Pertama, Bersikap zuhudlah terhadap apa yang ada di dunia maka Allah akan mencintaimu. Zuhud terhadap dunia artinya berpaling darinya atau tidak mengambil bagian darinya kecuali apa yang bermanfaat baginya kelak di akhirat.

    Kedua, bersikap zuhudlah terhadap apa yang ada ditangan manusia, maka manusia pun akan mencintaimu. Agar kita tidak melihat atau iri dengan apa yang ada ditangan manusia, bencilah terhadap apa yang manusia punya maka manusia akan mencintaimu. Nasihat ini juga merupakan anjuran agar kita tidak meminta sesuatu apapun kepada manusia, karena sesungguhnya tangan diatas itu lebih baik daripada tangan dibawah.

    Hadits di atas jika dirinci, setidaknya mengandung beberapa faidah.

    Faedah pertama keutamaan zuhud diunia. Zuhud terhadap dunia adalah engkau meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagimu kelak diakhirat.

    Adapun zuhud terhadap dunia bukan berarti anda tidak memakai pakaian yang bagus, tidak mengendarai kendaraan yang mahal atau nyaman, tidak memakan makanan yang enak, dan hal-hal lain yang semacam itu. Akan tetapi arti zuhud adalah agar manusia mensyukuri dan merasa senang dengan apa-apa yang telah Allah berikan kepadanya.

    Faedah kedua. Zuhud adalah salah satu sebab kecintaan Allah terhadap hambanya. Dan salah satu sebab kecintaan Allah terhadap hambanya adalah dengan mengikuti apa-apa yang dibawa nabi kita, nabi Muhammad ﷺ. Sebagaimana firman Allah ta’aala yang artinya “Katakanlah (ya Muhammad), jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian” (QS. Ali Imron: 31)

    Faedah ketiga. Adanya anjuran untuk bersikap zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia. Nabi ﷺ menjadikan sikap ini sebagai penyebab tumbuhnya kecintaannya manusia terhadap sesamanya. Anjuran ini juga menyiratkan nasihat supaya tidak meminta kepada manusia.

    Demikian beberapa nasihat tentang zuhud dan keutamaanya. Semoga kita semua mendapatkan barokah dari Alquran dan semoga Allah ta’ala membimbing kita ke jalan yang diridhoi-Nya. Aamiin yaa robbal alamiin. (ramadhan-mushaf)

    (Tulisan dikembangkan dari salah satu khutbah dalam program khithobah harian STIU Wadi Mubarak, disampaikan dalam bahasa Arab oleh Abdul Mannan, mahasiswa Semester III asal Karawang Jawa Barat dan dialihbahasakan oleh UKM Mushaf STIU-WM)

    Editor: AlChoer

  • Program Khithobah Mahasiswa STIU-WM

    Program Khithobah Mahasiswa STIU-WM

    Allah Ta’ala telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena bahasa Arab adalah bahasa terbaik yang pernah ada. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

    إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

    “Sesungguhnya Kami telah jadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkannya.” (QS. Yusuf [12]: 2)

    Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas, ”Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas, dan paling banyak pengungkapan makna yang dapat menenangkan jiwa. Oleh karena itu, kitab yang paling mulia ini (yaitu Al-Qur’an) diturunkan dengan bahasa yang paling mulia (yaitu bahasa Arab).”

    Dalam rangka meningkatkan kemampuan bahasa Arab mahasiswa, Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak pun membuat program rutin harian, yaitu program khutbah singkat berbahasa Arab yang diadakan setiap bakda dzuhur. Dibawah bimbingan Ustadz Muhammad Qudwah, Lc sekaligus kepala program bahasa Arab, kegiatan ini diikuti semua mahasiswa STIU WM.

    Selain melatih kecakapan para mahasiswa dalam berbahasa arab, program ini juga melatih mental para mahasiswa untuk berorasi, serta mengasah bakat dan potensi mahasiswa dalam berbicara di depan umum.

    Secara rutin bagian bahasa memberikan apresiasi kepada mahasiswa-mahasiswa terbaik yang mendapatkan nilai tertinggi dari dewan penilai. Harapannya agar mahasiswa termotivasi dan lebih semangat lagi berbahasa Arab disetiap kegiatan sehari hari. (ramadhan-mushaf)

    Editor: AlChoer