Penulis: Editor Wadi Mubarak

  • Adab dan Langkah-Langkah Dalam Pengajaran Ilmu Syar’i (Bag. 2)

    Adab dan Langkah-Langkah Dalam Pengajaran Ilmu Syar’i (Bag. 2)

    Kiat-kiat selanjutnya ialah:

    7. Menggunakan metode hiwar (percakapan) dalam mengajar.

    Dalam mengajarkan Ilmu Syar’i terdapat beberapa metode yang dapat diterapkan, salah satunya adalah metode hiwar, yaitu metode percakapan. Metode ini lebih diutamakan dari metode-metode lain, karena didalam metode ini terdapat kebebasan dalam berpendapat dari seorang murid.

    Bukan hanya dari gurunya saja ia mendapatlkan ilmu, akan tetapi guru dapat memancing para murid untuk mengeluarkan ide dan pendapatnya, sehingga ia dapat istinbath (menyimpulkan) sendiri apa yang disampaikan oleh gurunya. Jika yang disampaikan murid tersebut benar maklumatnya, maka guru mengapresiasinya. Dan jika maklumatnya salah, maka guru membenarkannya.

    8. Menggunakan gerakan tangan dan badan.

    Salah satu hal yang membuat para murid memperhatikan kita adalah gerakan tangan dan badan. Karena dalam memberikan maklumat Ilmu Syar’i tidak cukup dengan perkataan saja, akan tetapi dibutuhkan gerakan-gerakan yang membuat para murid lebih faham apa yang disampaikan pengajar. Contohnya tata cara wudhu dan shalat.

    Dan tentunmya gerakan tangan dan badan ini sesuai dengan materi yang diajarkan, tidak keluar dari materi pembahasan.

    9. Memperhatikan perbedaan kemampuan setiap murid.

    Allah menciptakan manusia dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam memahami dan menyerap ilmu. Ada yang dimudahkan dalam memahami materi, ada pula yang sulit dalam memahaminya. Maka, seorang guru hendaknya memperhatikan hal ini.

    Seorang murid yang sulit memahami materi maka perhatian kepadanya akan lebih banyak dari pada murid yang cepat memahami. Bahkan jika mampu, pengajar tersebut memberikan waktu khusus di luar jam pelajaran untuk mengajari murid yang lambat memahami materi tersebut.

    10. Memotivasi kepada para murid tentang keutamaan mempelajari Ilmu Syar’i.

    Dalam mempelajari Ilmu Syar’i terdapat keutamaan didalamnya, kerena hal tersebut adalah bentuk memahami agamanya. Maka, kita dari setiap muslim dan muslimah harus mengetahui perkara yang wajib bagi kita. Contohnya, kita menjelaskan keutamaan-keutamaan penuntut ilmu terlebih yang mengajarkannya.

    Apalagi terdapat banyak hadits yang menjelaskan keutaman-keutamaan bagi seseorang yang mempelajari Ilmu Agama. Salah satunya: Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan memahamkan kepadanya agama (Islam)”. (H.R. Bukhari & Muslim).

    11. Mengkaitkan Ilmu Syar’i yang ada dalam buku dengan keadaan realita sekarang.

    Banyak orang yang berpendapat bahwa Ilmu Syar’i adalah ilmu yang berhubungan dengan orang-orang terdahulu dan orang arab saja, tidak sesuai dengan zaman sekarang. Maka, jalan keluar dalam menjawab pandangan ini adalah dengan menghubungkan maklumat yang ada pada kitab dengan keadaan sekarang yang kita alami.

    Hal ini butuh keahlian yang khusus dari para guru atau pengajar, yang memiliki pengalaman yang luas dalam mengajar, disertai dengan membaca banyak referensi dari buku dan internet.

    12. Mengajarkan Ilmu Syar’i dengan Bahasa Arab.

    Tidak diragukan lagi bahwa semua bidang Ilmu Syar’i kembali kepada dua sumber, yaitu Al-Quran dan Hadist. Contohnya Ilmu Tafsri kembali kepada Al-Quran, Ilmu Mustolahul Hadist kembali kepada Hadist, Ilmu Fiqih kembali kepada Al-Quran dan Hadist, dan begitu seterusnya dari Ilmu-Ilmu Syar’i yang lain.

    Sebagaimana kita ketahui, bahwa Al-Quran diturunkan dengan berbahasa Arab, dan Hadist diriwayatkan dengan bahasa Arab. Oleh karena itu, tidaklah sempurna penyampaian Ilmu-Ilmu Syar’i kecuali dengan bahasa Arab. Sebagaima pepatah mengatakan: “Bahasa arab adalah kunci dari setiap ilmu”.

    13. Menutup pelajaran dengan hamdalah, kaffarotul majlis, sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad sallaahu ‘alaihi wa sallam dan salam.

    Sebagaimana memulai pelajaran dengan salam, basmalah dan sholawat dan salam kepada Nabi, begitu juga dengan menutup pelajaran. Ditambah dengan membaca kaffarotul majlis yaitu doa yang berbunyi:“subhaanaka allaahumma wa bi hamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik”. Agar pelajaran pada hari itu diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

    Semoga artikel ini dapat mencerahkan para guru dan pengajar Agama Islam dimanapun berada. Dan saya berharap semoga generasi muda sekarang lebih berminat untuk belajar Agama Islam.

    Sungguh saya sangat sedih dan miris sekali ketika menemukan seorang muslim atau muslimah yang sudah berumur, akan tetapi praktik ibadahnya masih banyak yang belum sesuai sebagaimana yang di contohkan oleh Nabi.

     Maka, ini adalah kewajiban kita para guru, dosen, ustadz, ustadzah, da’i, mubaligh, alim, dan semua orang yang mempunyai ilmu Agama Islam untuk menyampaikan ilmu tersebut walupun hanya sedikit. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadist: “ballighu ‘anni walau aayah”, “sampaikanlah (ilmu) dariku walau hanya satu ayat”. Terimakasih, wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barokaatuh

    Editor: UKM Mushaf STIU-WM//AlChoer

  • Berbakti Kepada Orang Tua

    Berbakti Kepada Orang Tua

    Dalam salah satu wasiatnya, Rasulullah menyampaikan bahwa misi utama risalah beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

    “Sesungguhnya aku diutus menjadi seorang rasul tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang Saleh atau akhlak yang baik.” 

    Dengan pesan serupa, sebuah riwayat lain menyebutkan:

    لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

    “Yaitu untuk menyempurnakan  Akhlak Yang Mulia.”

    Demikianlah. Di antara beberapa tugasnya, Allah subhaanahu wa ta’ala menugaskan Rasulullaah untuk menyempurnakan akhlak manusia untuk menjadi akhlak yang baik dan mulia. Inilah salah satu tugas khusus sekaligus tugas utama beliau. Inilah salah satu misi tertinggi beliau.

    Kemuliaan akhlak bukan hanya diwasiatkan oleh Rasulullah, melainkan merupakan wasiat Allah subhaanahu wa ta’ala dalam beberapa ayat dalam al Quran. Dengan kata lain, kemuliaan akhlak juga merupakan wasiat Allaah subhaanahu wa ta’ala. Ini kemudian menjadi sebuah pertimbangan tersendiri bagi al Imam Bukhari ketika memasukkan wasiat terkait kemuliaan akhlak dalam kitab beliau yaitu Kitab Adab al Mufrad.

    Dalam kitab tersebut Imam al Bukhari mencantumkan salah satu wasiat Allah subhaanahu wa ta’ala tentang kemuliaan akhlak:

    وَوَصَّيۡنَا الۡاِنۡسَانَ بِوَالِدَيۡهِ حُسۡنًا‌

    “Dan kami wasiatkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orangtuanya.”

    Maasyaallah. Dengan berbakti kepada orang tua kita berarti kita sedang menjalankan wasiat Allah yang juga diwasiatkan oleh Rasulullah. Dan wasiat ini adalah misi utama kenabian Rasulullaah. Amal ini sudah barang tentu memiliki kedudukan yang istimewa.  

    Dalam kitab Adab al Mufrad juga Imam Bukhori radhiallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat yang mulia Abdullah bin umar radhiallahu ‘anhu. Beliau berkata:

    – قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ: ((الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا)). قَالَ ثُمَّ أَيُّ قَالَ: ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْن قَالَ ثُمَّ أَيّ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ 

    “Wahai Rasulullah Apakah perbuatan yang paling dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala?” maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun menjawab:“Yaitu salat pada waktunya”. Kemudian beliau kembali bertanya: “Apa lagi ya Rasulullah?” Rasulullah kembali menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua”. Kemudian beliau kembali bertanya: “Apalagi ya Rasulullah?” Rasulullah kembali menjawab: “Berjihad di jalan Allah”.

    Hadits di atas kembali menegaskan keistimewaan akhlak mulia khususnya berbakti kepada orang tua. Amalan ini memiliki posisi yang tinggi lagi mulia di sisi Allah ta’ala.

    Mengapa Allah dan RasulNya menekankan kepada kita untuk berbakti kepada kedua orang tua? Jawabannya bisa kita lihat dalam riwayat yang juga disampaikan oleh sahabat Abdullah bin umar. Beliau mengatakan:

    _عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ , وَسُخْطُهُ فِي سُخْطِهِمَا

    Dari Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ridha Allah terdapat pada ridha kedua orangtua, dan murka Allah juga terdapat pada murka kedua orangtua.”

    Ridha Allah ada pada keridhoan kedua orang tua kita. Demikian sebaliknya. Itulah sebabnya mengapa wasiat berbuat baik kepada kedua orang tua sangat dijunjung tinggi, Serta mulia di sisi Allah azza wa jalla.

    Mari kita senantiasa berdo’a kepada Allah. Semoga kita diberikan hidayah dan petunjukNya dalam mengamalkan wasiat berupa berbakti kepada orang tua kita.

    *Adalah alumni Universitas Islam Madinah, Dosen STIU Wadi Mubarak, Mudir Ma’had Miftahul Jannah Akbar, Cisarua.

    Penulis Naskah: UKM Mushaf STIU-WM

    Editor: Bagas Widigdo

  • Adab dan Langkah-Langkah Dalam Pengajaran Ilmu Syar’i (Bag. 1)

    Adab dan Langkah-Langkah Dalam Pengajaran Ilmu Syar’i (Bag. 1)

    Bismillahirrahmaanirrahiim.

    Segala puji bagi Allah yang telah mengutus NabiNya mengajarkan adab kepada umatnya, sebagaimana tertera dalam sabdanya: “Sungguh aku diutus menjadi rasul tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang saleh (baik).”

    Shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi  Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam yang menjadi contoh yang sempurna bagi umatnya. Lewat beliaulah Allah Ta’ala menyempurnakan risalahNya, menutup para NabiNya sehingga sempurnalah cahayaNya.

    Kemampuan mengajar yang baik dapat membantu siswa dalam menangkap pelajaran yang disampaikan. Demikian juga dalam pengajaran ilmu syar’i. Mengajar ilmu syar’i berarti megajarkan sesuatu yang agung. Dalam proses pengajarannya, bukan hanya memerlukan metode yang sesuai, juga terdapat adab-adab yang perlu ditunaikan.

    Berikut langkah-langkah mengajar yang baik dan benar dalam mengajarkan Ilmu syar’i :

    1. Persiapan yang matang sebelum mengajar

    Sebelum mengajarkan Ilmu Syar’i sebaiknya seorang pengajar menyiapkan materi yang akan diajarkan dan menguasainya dengan baik. Walaupun materi yang akan ia ajarkan pernah disampaikan sebelumnya, akan tetapi sebaiknya ia membaca dan meyiapkan kembali materi tersebut. Karena mungkin saja ia akan mendapatkan sesuatu yang baru dari apa yang ia baca.

    Pengajar harus memilki wawasan yang luas tentang materi yang akan diajarkan, dengan membaca buku-buku lain yang berhubungan dengan materi.

    Penguasaan materi sebelum mengajar akan berpengaruh baik bagi guru saat mengajar. Seperti membangun kepercayaan diri bagi pengajar, membuat kelas menjadi lebih hidup, dan membangun kepercayaan dari para murid bahwa pengajar mereka adalah pengajar yang profesional dalam bidangnya.

    2. Berpenampilan yang baik dan sopan

    Madzhar (penampilan) adalah salah satu hal yang penting dalam mengajarkan ilmu agama Islam, karena penampilan adalah hal pertama yang dilihat oleh para murid ketika guru masuk kelas.

     Jika penampilannya baik dan sopan, maka akan membuat kesan yang baik. Dan sebaliknya, jika dari awal masuk penampilan guru sudah tidak baik, maka akan membuat kesan yang tidak baik. Kita harus senantiasa ingat: guru adalah uswah bagi para muridnya.

    3. Memulai dengan salam, basmalah, dan sholawat serta salam kepada Nabi Muhammad sallaahu ‘alaihi wa sallam

    Ini adalah muqodimah atau permulaan yang baik dalam memulai sesuatu, baik ketika mengajar ataupun ketika menulis buku. Selain mendapatkan pahala dalam mengucapkannya, permulaan ini juga adalah kebiasaan para ulama terdahulu dalam mengajar dan menulis kitab. Mereka memulai dengan salam, basmalah dan sholawat kepada Nabi Muhammad sallaahu ‘alaihi wa sallam.

    4. Memilih kata-kata yang baik dan sopan

    Dalam menyampaikan ajaran agama Islam hendaknya seorang pengajar menggunakan kata-kata yang baik, dan lembut. Sebagaimana Allah perintahkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam ketika bermuamalah dengan para sahabatnya.

    Allah berfirman yang artinya: “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”. (QS. Ali Imran 159).

    5. Mengajarkan Ilmu Syar’i dengan tadarruj (bertahap)

    Allah berfirman dalam Al-Quran yang artinya: “Jadilah kamu rabbaniyyin, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya”. (Q.S. Ali Imran: 79).

    Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata dalam tafsir rabbaniyyin: “Mereka adalah orang yang mengajarkan ilmu yang kecil  (sederhana) dahulu sebelum mengajarkan ilmu yang besar (rumit)”.

    Dalam mempelajari dan mengajarkan Ilmu Syar’i hendaknya seorang pengajar memperhatikan tahapan-tahapan tersebut. Tahapan ini dibagi menjadi tiga tahapan, pertama, ke-dua, dan ke-tiga. Tahapan pertama adalah tahapan pemula, tahapan ke-dua adalah tahapan penengah, dan tahapan ketiga adalah tahapan akhir.

    Misalnya dalam bidang ilmu Nahwu. Tahapan pertama adalah Al-jurumiyah, tahapan kedua adalah Al-mutammimah Al-jurumiyah, dan tahapan ketiga adalah Alfiyah ibnu Malik. Maka, seorang pengajar harus memperhatikan tahapan-tahapan ini ketika mengajar, yaitu memulai dengan kitab pertama, lalu ke-dua dan kemudia kitab ke-tiga. Dan tentunya dengan menyesuaikan kemampuan para murid.

    Berdasarkan pengalaman yang penulis dapatkan dari guru-guru penulis, berikut adalah tahapan-tahapan dari beberapa ilmu syari:

    1. Nahwu : 1. Al-Jurumiyah, 2. Al-Mutammimah, 3. Alfiyah ibnu Malik.
    2. Shorof : 1. Matan Al-Bina, 2.Tashriful ‘Izzi, 3. Nadzm Al-Maqsud.
    3. Balagoh : 1. Nadzm Miatul Ma’ani, 2. Nadzm Al-Jauharul Maknun.
    4. Ushul fiqh: 1. Al-Waroqot, 2. Alluma’, 3. Jam’ul Jawami’.
    5. Ushul tafsir: 1. Mandzumah Az-Zamzamiyah, 2. Muqoddimah fi ushul tafsir.
    6. Mustholahul hadist: 1. Al-Baiquniyah, 2. Nukhbatul fikar, 3. Alfiyatul ‘Iroqi.
    7. Tafsir Al-Quran: 1. As-Siroj fi Gharibil Quran, 2. Tafsir Al-Jalalain, 3. Tafsir ibnu Katsir.
    8. Hadist Nabawi: 1. Al-Arba’in An-Nawawiyah, 2. Umdatul Ahkam, 3. Bulughul Maram.
    9. Tauhid: 1. Ushul At-Tsalatsah, 2. Qawaid Al-arba’, 3. Kitab Tauhid.
    10. Siroh: 1. Khulasotu Nurul Yaqin, 2. Ar-Rohiqul Makhtum.
    11. Fiqih: 1. Matan Abu Syuja’, 2. Umdatu As-Salik, 3. Al-Minhaj.

    6. Menggunakan wasilah (alat) ajar yang sesuai

    Seorang murid akan lebih memperhatikan pengajarnya jika pengajar tersebut memperlihatkan hal-hal yang baru dalam pengajarannya. Dan hal-hal tersebut salah satunya berupa alat-alat, seperti papan, alat peraga, speaker, proyektor dan alat lainnya.

    Demikian 6 dari 13 adab dan langkah yang penulis kumpulkan, yang harus dilakukan dalam pengajaran ilmu syar’i. Insya Allah kita akan melanjutkan kiat-kiat terkait pengajaran dalam pembahasan selanjutnya.

    Editor: UKM Mushaf STIU-WM//AlChoer

  • Bersiap-siap Menuju Alam Akhirat

    Bersiap-siap Menuju Alam Akhirat

    Sebuah hadits menyebutkan, manusia yang cerdas adalah yang setiap amalannya berorientasi pada kehidupan setelah kematiannya. Akhirat. Seorang muslim harus meyakini bahwa ada alam lain setelah kehidupan dunia. Keyakinan ini harus diikuti dengan upaya mempersiapkan diri masa depan seperti apa yang akan kita jalani di alam setelah dunia kelak.

    Al Quran dan hadits memberikan berbagai pedoman dan peringatan terkait alam akhirat yang sejatinya merupakan alam kekal dan tujuan akhir setiap manusia.

    Pertama, Manusia hidup di dunia hanya sebentar, dan kelak di akhirat ia dihisab.

    Sesungguhnya kamu adalah hari-hari. Jika berlalu satu harimu, maka berlalu pulalah sebagian dari dirimu. Demikian ucapan Imam Hasan al Bashri. Tak satupun memiliki cadangan hari yang melimpah. Setiap manusia memiliki waktu yang terbatas. Kelak, ia akan diminta pertanggungjawaban dengan amalan apa hari-harinya dilalui.

    Kedua, Bersiap-siap menuju alam akhirat dengan banyak berbuat amal sholeh.

    Amal sholeh akan menghasilkan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat (hayatan thayyibah). Demikian janji Allah dalam QS an Nahl 97. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita untuk menyiapkan diri kita untuk bekal nanti di akhirat (QS al Hasyr ayat 18).

    Ketiga, niat ikhlas dalam beramal.

    Ikhlas beramal merupakan syarat mutlak dalam setiap amalan seorang muslim. Ikhlas adalah ketika setiap amal kita hanya ditujukan untuk Allah taála dan dalam rangka memeroleh keridhoanNya. Setiap amalan yang ditujukan untuk selain Allaah maka amalanya tertolak.

    Keempat, Safar di dunia itu banyak sedangkan safar menuju akhirat hanya sekali.

    kita hanya punya satu kesempatan dalam mempersiapkan perjalanan kita menuju alam akhirat. Manusia hanya hidup sekali di dunia. Tidaklah pantas bagi seorang manusia untuk melalaikan kesempatan hidup yang Allah berikan kepadanya dengan perbuatan yang sia-sia.

    Kelima, Ujian “duniawi”  itu dapat diulang. Ujian persiapan menuju akhirat tidak bisa diulangi.

    Gagal ikut seleksi, gagal berdagang, dan kegagalan lain biasa dialami manusia. Jika seorang manusia gagal menjalani berbagai jenis ujian “duniawi”, jika Allah berkehendak, ia bisa memeroleh kesempatan yang kedua. Pepatah mengatakan, gagal adalah kemenangan yang tertunda. Sayangnya, ujian dalam rangka mempersiapkan diri menuju alam akhirat tidak bisa diulang. Sekali gagal, tinggal sesal yang tersisa.

    Demikian beberapa nasihat tentang pentingnya mempersiapkan kehidupan akhirat. Semoga kita semua mendapatkan barokah dari Alquran dan semoga Allah ta’ala membimbing kita ke jalan yang diridhoi-Nya. Aamiin yaa robbal alamiin….

    (Tulisan dikembangkan dari salah satu khutbah dalam program khithobah harian STIU Wadi Mubarak, disampaikan oleh Muhammad Sila dalam bahasa Arab, mahasiswa STIU Semester I asal Republik Mali)

    Penulis Naskah/Alih Bahasa: UKM Mushaf STIU-WM

    Editor: Bagas Widigdo

  • SIAPAPUN BISA MENJADI ORANG TUA ASUH

    SIAPAPUN BISA MENJADI ORANG TUA ASUH

    ✿❀ بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ✿❀

    SIAPAPUN BISA MENJADI ORANG TUA ASUH

    Wujudkan Impian Menjadi Keluarga Allah di Muka Bumi dengan Mensupport Pendidikan Para Ahlul Qur’an.

    “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia“. Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul ﷺ menjawab, “Para ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya,” (HR. Ahmad).

    Memiliki generasi keturunan yang hafal dan mengamalkan Al-Qur’an adalah impian setiap insan.

    Demikian karena para Ahlul Quranlah yang menjadi keluarga Allah di muka bumi. Dan tentunya, mereka adalah generasi pilihan dan istimewa disisi Allah. Mereka pulalah yang kelak akan memaikan mahkota cahaya bagi kedua orangtuanya.

    Alhamdulillah atas izin Allah dan support dari para muhsinin, Islamic Center Wadi Mubarak-ICWM telah hadir sebagai lembaga pendidikan yang fokus terhadap pendidikan dan pengajaran Al-Qur’an.

    Dalam perkembangannya, ICWM telah melahirkan lebih dari 1000 penghafal Al-Qur’an yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia dan mancanegara.

    Peluang besar bagi Sahabat Qur’an sekalian yang ingin bergabung menjadi orang tua asuh bagi 400 santri penghafal Al-Qur’an di Islamic Center Wadi Mubarak.

    Melalui Lazis SaQu, Sahabat Qur’an sekalian bisa mewujudkan impian menjadi orang tua asuh dari para penghafal Al-Qur’an. Dimana in sya Allah akan mendapatkan pahala jariyah dari setiap bacaan Qur’an anak asuhnya.

    Pastikan antum menjadi bagian dari orang-orang yang berperan dalam melahirkan generasi penerus ulama yang berintelektual, kreatif, dan berakhlaq Qur’ani.

    Wujudkan Impian menjadi Orang Tua Asuh melalui link berikut:

    http://bit.ly/OrangTuaAsuhLazisSaQuWadiMubarak

  • Studi Banding Program Hafizh-Nomics IAI Tazkia ke STIU Wadi Mubarak

    Studi Banding Program Hafizh-Nomics IAI Tazkia ke STIU Wadi Mubarak

    Bogor, “Hingga saat ini kami masih menjadikan Wadi Mubarak sebagai benchmark (tolok ukur) dalam penyelenggaraan program tahfizh Al-Qur’an”. Demikian ujar Miftakhus Surur, Direktur Program Matrikulasi dan penanggungjawab program Hafizh-Nomics Institut Agama Islam (IAI) Tazkia, dalam sessi kunjungan studi banding pada senin, 2 november 2020.

    Kunjungan ini sebetulnya bukan sekadar studi banding, tetapi silaturahmi kembali yang sebelumnya rutin dilakukan sejak 3 tahun lalu antara STIU Wadi Mubarak Bogor dan IAI Tazkia, khususnya ketika kedua kampus masih terikat kerja sama dalam penyelenggaran tahfizh Al-Qur’an.

    Baca juga Kunjungan Profesor Dari King Abdul Aziz University (KAU) Ke Islamic Center Wadi Mubarak

    Dari tahun 2017-2019, kedua kampus pernah menjalin kerjasama di bidang penyelenggaraan tahfizh Al-Qur’an untuk mahasiswa program Diploma III Manajemen Keuangan Mikro Syariah melalui program D III Hafizh-Preneur yang kemudian berkembang menjadi program Hafizh-Nomics. Kerjasama dua lembaga ini diharapkan bisa mempertemukan dan membangun sinergi dua program unggulan yang masing-masing dimiliki kedua sekolah tinggi. 

    IAI Tazkia dikenal sebagai perintis kampus ekonomi Islam dan sudah mendapat kepercayaan bahkan pengakuan dari masyarakat baik tingkat nasional maupun internasional. 

    Di sisi lain, STIU Wadi Mubarak Bogor sebagai kampus yang bermula dari program tahfizh juga telah mendapat kepercayaan masyarakat luas baik dalam maupun luar negeri. Beberapa santri dan alumninya berasal dari mancanegara seperti Thailand, Malaysia, Australia, Mali, Yordania, Yaman, bahkan dari Saudi Arabia.

    Meski sejak tahun 2019 kerjasamanya sudah berakhir, silaturahmi dan komunikasi antarkedua pihak tetap terjalin. Di kedatangannya kali ini, program Hafizh-Nomics IAI Tazkia bermaksud membicarakan kemungkinan kerjasama kembali dengan STIU Wadi Mubarak dalam bentuk kegiatan pelatihan dan sertifikasi guru-guru tahfizh Al-Qur’an. 

    Semoga Allah bimbing dan memberikan keberkahan kepada setiap usaha dakwah pendidikan kedua kampus ini. (ARH)

    Baca sebelumnya Tuduhan Para Pembenci Al-Qur’an Dan Bantahannya (Bag-1)

  • Bantahan Terhadap Syubhat-Syubhat Seputar al-Qur’an (Bag. 1)

    Bantahan Terhadap Syubhat-Syubhat Seputar al-Qur’an (Bag. 1)

    Bagian 1

    Bantahan Terhadap Syubhat-Syubhat Seputar al-Qur’an

    Kajian nonmuslim atau orientalis terhadap al-Qur’an banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang keluar dari pemahaman yang benar tentang al-Qur’an  bahkan berpotensi menyesatkan. Ini bisa disebabkan oleh niat awal mereka yang bertujuan merusak pemikiran umat Islam, juga bisa disebabkan kekurangan intelektual mereka dalam memahami Islam.

    Pemikiran-pemikiran yang asal mulanya diperkenalkan oleh kalangan orientalis tersebut tidak jarang digandrungi, diperkenalkan bahkan dielaborasi lebih jauh oleh intelektual-intelektual di kalangan muslim sendiri. Tentu saja ini merupakan tantangan dakwah yang perlu mendapat perhatian serius.

    Sudah cukup banyak sanggahan dan bantahan telak dari para ulama dan intelektual muslim terhadap kekeliruan dan kesesatan pemikiran orientalis tentang al-Qur’an . Argumen dan bantahan ini harus terus diperkenalkan ke masyarakat dalam rangka menjaga dan menguatkan aqidah umat. Terlebih, sampai sekarang pemikiran-pemikiran orientalis tersebut selain dikagumi bahkan masih saja gencar diperkenalkan dan begitu mudah diakses.

    Baca Juga: Inovasi Pengajaran Agama Islam (2)

    Tulisan ini insyaallah akan membahas satu persatu argumen yang membantah beberapa pemikiran atau syubuhat tentang al-Qur’an .

    Tuduhan Pertama:

    Al-Qur’an bukanlah wahyu dari Allah, akan tetapi buku karangan Muhammad.

    Bantahan:

    Orientalis selalu menuntut pembuktian baik empirik maupun logis tentang keyakinan bahwa Al-Qur’an  merupakan Kalamullah yang diturunkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Pun demikian, pendapat mereka bahwa al-Qur’an  bukanlah wahyu melainkan karangan Muhammad juga perlu pembuktian dan penjelasan yang masuk akal. Apakah pendapat mereka bisa diterima dengan akal sehat?

    Ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan jika dikatakan bahwa al-Qur’an  merupakan karangan Muhamad Saw:

    Pertama, jika al-Qur’an  merupakan karangan Muhammad, mengapa beliau tidak menisbahkan “karangannya” yang agung ini pada dirinya sendiri, malah kepada pihak lain (Allah Swt) ?

    Kedua, jika al-Qur’an adalah karangan Muhammad, untuk apa tujuan beliau mengambil resiko dengan menantang seluruh penghuni dunia supaya bisa mendatangkan hal yang sama?

    Ketiga, jika al-Qur’an  adalah karangan Muhammad, bagaimana beliau bisa mengetahui kabar tentang orang-orang terdahulu?

    Keempat, jika al-Qur’an adalah karangan Muhammad, bagaimana beliau bisa menyampaikan banyak perkara ghaib, yang beberapa di antaranya telah terjadi saat beliau masih hidup dan beberapa lainnya masih berlangsung kejadiannya sampai hari kiamat kelak?

    Baca Juga: Inovasi Pengajaran Agama Islam (1)

    Mari kita renungkan. Bayangkan seorang pembohong mencoba menulis sebuah buku berisi tentang berbagai hal termasuk perkara ghaib yang dikarangnya sendiri dan membuat klaim bahwa buku yang ditulisnya tersebut merupakan wahyu Ilahi. Pastinya akan banyak orang cerdik pandai dengan mudah mengungkapkan kebohongan buku tersebut.

    Bukan hal sulit untuk membuktikan bahwa bukunya merupakan karangan manusia biasa. Seorang manusia biasa, ia akan menulis sebuah buku sesuai dengan standar yang dimilikinya sebagai manusia pada umumnya. Tulisannya akan bersumber dari keterbatasan kemampuan, perasaan/penginderaan, ambisi dan keinginan, pengetahuan yang dimiliki, dan konteks pembicaraannya.

    Apakah berbagai keterbatasan manusiawi yang bisa kita lihat dalam al-Qur’an ? Dengan melihat lebih teliti terhadap ayat-ayat Al-Qur’an akan menjadi jelaslah ke-ilahiyah-an Al-Qur’an. Tema-tema yang terdapat dalam al-Qur’an sangatlah tinggi, jauh melampaui apa yang menjadi perhatian para manusia dan apa yang ada dalam pikiran mereka.

    Yang dibicarakan oleh al-Qur’an berkisar pada topik-topik yang tidak dibicarakan oleh manusia pada umumnya dan mereka tidaklah mampu untuk mengarangnya. Seperti pembicaraan tentang sifat-sifat Tuhan, nama-nama, dan tindakan-Nya, tentang hari akhir dan kengeriannya, tentang surga dan neraka, serta pembicaraan tentang sejarah yang telah lampau dan masa yang akan datang.

    Kita juga tidak menemukan ada perasaan dan emosi manusiawi yang terbawa dalam ayat-ayat al-Qur’an. Tidak ada emosi kesedihan di dalam ayat-ayat Makkiyah saat kaum muslimin tengah lemah dan tertindas, ataupun emosi euforia kemenangan dalam ayat-ayat Madaniyah.

    Tidak kita temukan pembicaraan apapun di al-Qur’an yang berhubungan dengan penderitaan, kegembiraan, harapan dan pandangan Nabi. Sebagaimana juga tidak kita dapatkan pembicaraan Al-Qur’an tentang istri beliau Khadijah dan pamannya Abu Thalib di tahun yang penuh duka karena kematian mereka.

    Baca Juga: Selayang Pandang PKM Wadi Mubarak (Flipbook)

    Al-Qur’an tidak menyebutkan apapun tentang perkawinan Rasulullaah atau kelahiran anak-anaknya, atau kematian mereka, atau hal-hal pribadi lainnya yang berkaitan dengan istri-istri atau sahabat-sahabatnya. Al-Qur’an bukanlah sebuah buku yang dimaksudkan untuk mencatat biografi dan cerita, sehingga di dalamnya tidak disebutkan nama salah satu istri atau anak-anak beliau, bahkan tidak terdapat juga nama seorang sahabat maupun musuh dari musuh-musuh beliau, kecuali nama Abu Lahab dan Zaid.

    Bahkan, Al-Qur’an tidak menyebut nama beliau kecuali hanya lima kali saja, sedangkan nama nabi Isa disebutkan sebanyak dua puluh lima kali, dan nama nabi Musa disebutkan lebih dari seratus kali. Ini semakin membuktikan kepada setiap pembaca al-Qur’an bahwa al-Qur’an itu adalah kitabullah, bukan kitab Muhammad.

    Bagaimana jika tuduhan serupa kita alamatkan pada kitab-kitab suci yang diyakini agama lain saat ini? Misalnya kitab Kristen dan Yahudi saat ini. Beberapa penelitian, bahkan yang dilakukan oleh kalangan mereka sendiri, menemukan bahwa kitab tersebut penuh dengan bukti bahwa ia merupakan karangan seorang manusia, penuh dengan cerita tentang kesedihan manusia, rasa sakit, harapan dan keinginan. Wallaahu a’lam bish showab.

    *Penulis adalah Alumni Universitas Islam Madinah, Mudir Mahad dan Dosen Tetap STIU Wadi Mubarak

  • Inovasi Pengajaran Agama Islam (Bag. 2)

    Inovasi Pengajaran Agama Islam (Bag. 2)

    Sebelum kita mengetahui lebih jauh tentang inovasi dalam mengajarkan agama Islam atau Ilmu Syar’i, terdapat hal yang perlu diperhatikan oleh setiap guru sebelum mengajar yaitu “ikhlas” mengharap ridho Allah ta’ala semata.

    Kenapa harus ikhlas?. Karena mengajar adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah ta’ala, jika diniatkan ibadah. Dan suatu ibadah tidak dapat diterima dan diberi pahala oleh Allah, kecuali jika ibadah tersebut diniatkan karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam.

    Maka, niat-niat yang keluar dari jalur ikhlas agar diajuhi oleh para pengajar. Seperti ingin mendapatkan pujian manusia, atau ingin mendatkan upah semata, atau ingin disebut pengajar yang profesional, atau ingin menjadi orang yang terkenal, atau juga ingin mempunyai banyak pengikut. Nasalullaahal ‘afiyah.

    Berbicara tentang inovasi adalah berbicara tentang sesuatu yang baru dan berbeda dari sebelumnya. Dan jika kita melihat Ilmu Syar’i dari sisi isinya terbagi menjadi dua macam: pertama tsawabit  (isi yang tetap), dan ke-dua mutagoyyirot (isi yang berubah).

    Ilmu tsawabit atau yang tetap tidak ada inovasi dan pembaharuan terhadap isinya, seperti Aqidah dan Tafsir. Adapun ilmu mutagoyyirot atau ilmu yang berubah, maka boleh ada pembaharuan dalam contoh-contoh isinya, seperti ilmu Fikih.

    Sedangkan jika kita melihat Ilmu Syar’i dari sisi cara mengajarkannya, maka sangat dibutuhkan sekali inovasi, baik ilmu tsawabit maupun ilmu mutagoyyirot. Karena zaman sekarang telah berubah dari zaman sebelumnya.

    (bersambung)

  • Inovasi Pengajaran Agama Islam (Bag. 1)

    Inovasi Pengajaran Agama Islam (Bag. 1)

    Agama Islam adalah agama yang diridhoi oleh Allah subahanahu wa ta’ala. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

    إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَٰمُ

    “Sesungguhnya agama disisi Allah ialah Islam”
    (QS Ali ‘Imran: 19).

    Agama Islam adalah agama yang paling banyak dianut oleh negara Indonesia. Agama Islam ini mempunyai landasan utama yaitu Al-Quran dan Hadist. Dan di dalam dua landasan ini terkumpul semua ilmu agama Islam, yaitu: Tafsir, Hadist, Aqidah, Fiqih, Siroh, Nahwu, Shorof, Ushul fiqh, dan ilmu-ilmu lainnya.

    Pembagian Ilmu Syar’i

    Ilmu-ilmu Agama Islam ini disebut juga dengan istilah “Ilmu Syar’i”. Ilmu Syar’i dibagi menjadi dua bagian, yaitu: ilmu alat dan ilmu goyah. Ilmu alat adalam ilmu perantara yang dipelajari untuk memahami ilmu goyah. Contohnya adalah Nahwu, Shorof, Balagoh, Ushul Fiqih, Ushul Tafsir, dan Mustolahul Hadist.

    Baca juga Syaikh Abdul Aziz Al-Hubaisi Lembaga Kaderisasi Imam Dan Dai Sahabat Qur’an (LKIDSAQU)

    Semua ilmu tersebut dipelajari sebagai alat untuk memahami ilmu goyah. Adapun ilmu goyah adalah ilmu tujuan yang dipelajari untuk memahami ilmu itu sendiri. Contohnya adalah Tafsir, Hadist, Fiqih, Aqidah, dan Siroh.

    Ilmu Syar’i ini baik ilmu alat ataupun ilmu goyah perlu disampaikan dan diajarkan kepada masyarakat dengan cara yang baik dan benar. Karena mengajarkan ilmu adalah salah satu kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah, tentunya setelah menuntut ilmu dan mengamalkannya.

    Kewajiban Umat Terhadap Ilmu

    Karena kewajiban setiap muslim dan muslimah ada empat, yaitu: menuntut ilmu, mengamalkan ilmu tersebut, kemudian mengajarkan atau mendakwahkan ilmu tersebut dan yang terakhir adalah sabar dalam menuntut, mengamalkan, dan mengajarkan ilmu tersebut.

    Baca juga Kunjungan Profesor Dari King Abdul Aziz University (KAU) Ke Islamic Center Wadi Mubarak

    Kemudian yang perlu kita ketahui bersama, bahwa mengajarkan Ilmu Syar’i berbeda dengan mengajarkan Ilmu Duniawi. Karena dalam mempelajari dan mengajarkan Ilmu Syar’i terdapat  keutamaan yang disebutkan dalam Al-Quran dan Hadist.

    Allah ta’ala berfirman:

    ….يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

    “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat, dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan“
    (QS. Al-Mujadilah: 11)

    Dan dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Sahabat Utsman bin ‘Affan, bahwa Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan yang mengajarkannya.” (H.R. Bukhori). Dalam hadist tersebut terdapat keutamaan bagi penutut ilmu dan juga bagi pengajarnya, karena mempelajari Al-Quran salah satu bentuk mempelajari Ilmu Syar’i.

    (bersambung)

    Baca sebelumnya Informasi Pendaftaran STIU Wadi Mubarak