
Penulis: Editor Wadi Mubarak
-

PROFIL – Islamic Center Wadi Mubarak 2017 (Arabic Version)
Lembaga Kaderisasi Imam & Da’i (eLKID) didirikan pada tahun 2008. Di bawah pimpinan Ust. DR. Didik Hariyanto, Lc. MA., (Alumnus Jami’ah Islamiyyah Madinah). Lokasinya sangat strategis karena terletak di daerah pegunungan yang asri dan berjarak kira-kira 70 Km dari arah Jakarta. Yaitu di Desa Kuta RT.001/RW.001 Kab. Megamendung, Bogor – Jawa Barat Indonesia.
Kurikulum Lembaga Kaderisasi Imam & Da’i (eLKID) lebih menekankan pada pendidikan Al-Qur’an, bahasa Arab dan Dirasat ‘Ulum Syar’iyyah dengan jenjang pendidikan selama 2 Tahun (6 Caturwulan). Yaitu sebagai berikut:
Caturwulan 1: Program Tahsin bacaan Al-Qur’an dan penguasaan bahasa Arab.
Caturwulan 2, 3&4: Program Tahfizhul Qur’an 30 Juz.
Dan Caturwulan 5&6: Program Dirasat ‘Ulum Syar’iyyah.
Visi: Mencetak kader imam dan da’i yang hafal al qur’an secara lancar dan benar, mampu berbahasa Arab aktif dan pasif dan memiliki wawasan Islam.
MISI:
- Mendidik santri menjadi hafidz Al-Qur’an 30 juz dengan itqon.
- Menyelenggarakan pengajaran bahasa Arab dan ulum syar’iyyah.
- Menggali dan meningkatkan seluruh aspek kepribadian santri.
- Membekali santri dengan berbagai macam keterampilan (life skills).
- Memberikan pelatihan-pelatihan penunjang misi da’wah.
- Memberikan pengalaman berda’wah kepada santri melalui program pengabdian.
-

Wisuda Pendidikan Guru Tahfizh Anak Usia Dini Sahabat Qur’an-PGTAUD SaQu
Selamat dan sukses bagi para wisudawati. Selamat kembali ke wilayah masing-masing. Selamat Membuka TAUD SaQu baru. Wisuda bukanlah akhir dari perjuangan, justru ini adalah awal dari perjuangan dakwah yang sesungguhnya.
Beberapa mahasantri yang turut mendapatkan penghargaan saat Wisuda, Nominasi Mahiroh, di antaranya: Nazla Rujaman, Wiwin Purwanti dan Risalaturosulillah. Sedangkan Nominasi Akhlaqul Karimah: Akmala Hayatina, Siti Rahmawati, dan Mufidatun Nafilah. Sementara untuk Nominasi Putri Tibyan, diraih oleh Fadhiya Noor Aisyah.
Fatul Athfal (Nadzam Ilmu Tajwid), At Tibyan atau Bayan tentang Tahsin dan Tajwid Al-Qur’an, Dalil Muallim atau Metode Pengajaran, Psikologi Anak, Psikologi Perkembangan, Manajemen Pendidikan TAUD SaQu, Pengelolaan Kelas, Macro Teaching dan Micro Teaching, serta Display Kelas.
Baca sebelumnya Syaikh Abdul Aziz Al-Hubaisi Lembaga Kaderisasi Imam Dan Dai Sahabat Qur’an (eLKIDSAQU)

-

Syaikh Abdul Aziz al-Hubaisi, Lembaga Kaderisasi Imam dan Da’i Sahabat Qur’an-LKID SaQu
Sesungguhnya mempelajari ilmu agama (tafaqquh fiddin) termasuk amalan yang paling utama dan termasuk tanda kebaikan pada seseorang.
Syarat diterimanya amalan ada dua yaitu sesuai dengan tuntunan syariat dan ikhlash. Sedangkan untuk mengerjakan amalan supaya sesuai dengan tuntunan syaria’at dibutuhkan ilmu.
Dengan mendalami ilmu agama, akan mengantarkan kita kepada ilmu yang bermanfaat, di mana setiap amalan shalih dibangun di atas ilmu.
Kembali, Mahasantri LKID SaQu mendapat kesempatan menimba ilmu bersama Dosen Internasional. Syaikh Abdul Aziz al-Hubaisyi, dalam kunjungannya ke ICWM (25/10) kali ini, menyempatkan diri untuk menyampaikan Urgensi Tafaquh Fiddin di hadapan para kader imam dan da’i.
Baca juga Istri Imran Mempersiapkan Keshalihan Anak Sejak Dalam Kandungan
Syaikh yang juga merupakan dosen di salah satu Jami’ah (Universitas) di Bahrain ini menyampaikan bahwa pemahaman agama sangatlah diperlukan, apalagi di tengah kehidupan masyarakat yang penuh dengan kesyirikan.
Syirik adalah menyekutukan Allah. Termasuk perbuatan syirik yaitu, mendatangi para normal, ahli nujum dan penyihir, dan membenarkan perkataannya.
Mempersembahkan sesuatu baik benda maupun makanan pun salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah Ta’ala, seperti juga berdoa (memohon) kepada orang-orang shaleh yang telah mati, meminta pengampunan dosa, menghilangkan kesulitan (hidup), atau mendapatkan sesuatu yang diinginkan, seperti keturunan dan kesembuhan penyakit, kepada orang-orang shaleh yang telah meninggal tersebut.
Termasuk kesyikiran juga adalah mengagung-agungkan harta dan jabatan dan menjadikannya sebagai tuhan tuhan kemuliaan.
Semoga kita semua, diwafatkan dalam khusnul khotimah. Terhindar dari kesyirikan baik kecil maupun besar.
Baca sebelumnya Kunjungan Profesor Dari King Abdul Aziz University (KAU) Ke Islamic Center Wadi Mubarak

-

Kunjungan Profesor Dari King Abdul Aziz University (KAU) ke Islamic Center Wadi Mubarak
Sebagai salah satu lembaga pendidikan Al-Qur’an di Indonesia, Islamic Center Wadi Mubarak (ICWM) layak bersyukur karena beberapa sinergi yang telah dilakukan bersama Masyayikh Timur Tengah. Salahsatunya adalah kunjungan Syaikh Abdul Hakim Assyubrumi, Syaikh Solih Assyubrumi, Syaikh Turkey Assyubrumi dan Syaikh Sulaiman Assyubrumi.
Tujuan utama kehadiran masyayikh tersebut adalah Peresmian Gedung MIT SaQu (11/10). Gedung MIT SaQu dengan total luas 384 M2, merupakan donasi dari Syaikh Abdul Hakim Assyubrumi dan Syaikh Solih Assyubrumi.
Binar kebahagiaan para Masyayikh tampak jelas saat mengunjungi masing masing kelas TAUD SaQu dan MIT SaQu. Kagum dengan pencapaian siswa-siswi, baik untuk materi hafalan, tahajji, tuhfatul athfal, adab dan materi lainnya.
Baca juga Ibu Membentuk Kepribadian Anak
Antusiasme tersebut tampak saat masyayikh tersebut turut merekam semua penampilan siswa siswi TAUD SaQu dan MIT SaQu.
Selain melihat KBM sekolah, Masyayikh juga turut serta berkeliling ke Gedung Baru MIT SaQu. Masyayih tersebut menyampaikan kebahagiaannya akan pengerjaan gedung yang rapi, dan mengharapkan agar dipisahkan antara kamar mandi ikhwan dan akhwat.
Usai mengunjungi KBM TAUD SaQu dan MIT SaQu, masyayikh juga mengunjungi kelas Bahasa Arab Mahasantri STIU. Saat mahasantri diberi pertanyaan tentang Nahwu, alhamdulilah, pertanyaan bisa dijawab dengan baik. Masyayikh juga menyampaikan rasa senangnya karena para mahasantri bisa diajak komunikasi dengan Bahasa Arab.
Bakda Sholat Dhuhur, Syaikh Abdul Hakim, yang juga sebagai Imam Besar di Jeddah ini menyampaikan tausyiahnya tentang keutamaan menuntut ilmu. Ia mengaku bangga dengan ICWM yang telah memberikan support luar biasa dalam pendidikan Al-Qur’an.
Baca juga Istri Imran Mempersiapkan Keshalihan Anak Sejak Dalam Kandungan
“Pendidikan yang ada di ICWM ini mutawashilah wa kamilah“, demikian uangkapnya. Yang menunjukkan bahwa pendidikan di ICWM adalah Pendidikan yang berkesinambungan dan komplit mulai dari jenjang Raudhatul Athfal sampai Sekolah Tinggi. Bahkan dilengkapi juga pendidikan pengkaderan guru dan imam.
Atas rasa syukurnya tersebut, Syaikh Abdul Hakim yang sekaligus professor di KSA ini menawarkan untuk dikirimkannya dosen-dosen dari King Abdul Aziz University untuk mengajarkan mata kuliah di STIU dengan durasi sepekan sampai 10 hari. Biidznillah, semoga ini menjadi awal yang baik untuk masa depan pendidikan Al-Qur’an di lingkungan ICWM.
Baca sebelumnya Al-Qur’an Dan Hadits Adalah Warisan Tak Lekang Jaman

-

Al-Qur’an dan Hadits adalah Warisan Tak Lekang Jaman
Tiada pendidikan yang lebih utama untuk diprioritaskan, selain pendidikan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.
Al-Qur’an merupakan kitab suci terakhir yang diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala. Ia adalah penyempurna bagi kitab-kitab Allah yang pernah diturunkan sebelumnya.
Ia merupakan sumber pokok ajaran Islam dan pedoman hidup umat Islam. Dan di antara petunjuk Al-Qur’an bagi umat Islam yang berkenaan dengan pendidikan adalah pendidikan anak usia dini.
Hadits adalah segala perkataan, perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaih wasallam. Ia merupakan sumber hukum kedua dalam Islam.
Baca juga Ibu Membentuk Kepribadian Anak
Segala perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaih wasallam menjadi suri tauladan bagi umat manusia, termasuk dalam bidang pendidikan anak usia dini.
Adalah Ibnu Abbas yang mendapat pendidikan langsung dari
manusia terbaik sedunia. Ia adalah salah satu dari para sahabat yang mendapat pendidikan langsung dari Sang Pendidik Agung, Rasulullah shallallahu ‘alaih wasallam sejak usianya masih dini.Sehingga ia tumbuh menjadi seorang muslim yang penuh inisiatif, haus ilmu, dekat dengan Allah dan Rasul-Nya.
Baca sebelumnya Istri Imran Mempersiapkan Keshalihan Anak Sejak Dalam Kandungan

-

Istri Imran: Mempersiapkan Keshalihan Anak Sejak dalam Kandungan
Jika ada sebuah film atau cerita, tentu yang sering di-highlight adalah seputar tokoh utama. Begitu pula kisah tentang Hannah binti Faquz, skenarionya sangat istimewa diabadikan dalam surah Ali Imran ayat 33-37. Sangat singkat namun sarat hikmah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحًا وَءَالَ إِبْرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمْرَٰنَ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing).”
(Ali Imran, 3: 33)Setelah Allah berfirman memilih Keluarga Imran sebagai salah satu profil terbaik pada zamannya – disetarakan dengan keutamaan Nabi Adam, Nabi Nuh dan Keluarga Ibrahim ‘alaihimussalam; pada ayat berikutnya Allah langsung menceritakan tentang Istri Imran. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
إِذْ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ عِمْرَٰنَ رَبِّ إِنِّى نَذَرْتُ لَكَ مَا فِى بَطْنِى مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
“(Ingatlah), ketika istri `Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” [Ali Imran, 3: 35]
Baca juga Sosok Ibu Teladan Dalam Sejarah
Dengan alur yang sangat singkat, dikisahkan tentang kehamilan Hannah dan nadzar kehamilannya kepada Rabbnya. Itu berarti nadzar yang diikrarkan kepada Rabbnya sangat penting untuk direnungkan dan diambil pelajaran bagi kaum Muslimin yang mau mengkajinya.
Istri Imran berjanji kepada Rabbnya bahwa dia akan mempersiapkan bayi dalam kandungannya kelak menjadi hamba Allah shalih yang berkhidmat di Baitul Maqdis. Isi janjinya lebih bermakna sebagai doa & harapan yang dia pinta dan sampaikan kepada Rabbnya, supaya kelak anak yang dilahirkannya menjadi hamba yang berbakti kepada Allah dan mengabdi untuk agama Allah.
Sebagai seorang Ibu yang bertaqwa, Hannah pun berkomitmen dengan janji & harapan yang dibuatnya sendiri. Hannah tentu menjaga kehamilannya dengan cermat, tekun beribadah dan senantiasa mendoakan sang calon bayi yang berada dalam kandungannya. Boleh jadi mengajak sang janin berkomunikasi semoga kelak menjadi anak seperti yang diharapkan.
Tidak mustahil, sebab penelitian saat ini pun menjelaskan bahwa pendengaran janin telah aktif untuk menerima dan merekam rangsangan suara dari luar. Terlebih itu adalah suara ibundanya, dapat berupa bacaan Al-Qur’an maupun doa. Janin juga sudah bisa menerima rangsangan berupa elusan kasih sayang dari kedua orang tuanya di perut.
Hannah sudah sangat lama menanti kehamilan, sehingga dia hamil di usia senja. Suaminya pun meninggal ketika dia mengandung. Sudah pasti Hannah sangat menjaga bayi dalam kandungannya dengan hati-hati, sebagai bentuk rasa syukur kepada Rabbnya.
Baca juga Ibu Membentuk Kepribadian Anak
Hingga masa melahirkan pun, Hannah tak pernah putus komunikasi dengan Rabbnya. Begitu lahir dan mengetahui bayinya seorang perempuan, dia pun mengadu pada Rabbnya. Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya. Dan itulah ketetapan-Nya.
Sekali lagi Hannah menerima (ridha) dengan apapun yang dikaruniakan Allah kepadanya. Langsung terucap doa keluar dari lisannya bagi bayi Maryam yang dilahirkannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّى وَضَعْتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلْأُنثَىٰ ۖ وَإِنِّى سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّىٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ
Maka ketika melahirkannya, dia berkata, “Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. “Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak-cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.”
[Ali Imran, 3: 36]Dari Abu Hurairah yang bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Tiada seorang anak pun yang baru dilahirkan melainkan setan menyentuhnya ketika dilahirkan, lalu ia menjerit menangis karena setan telah menyentuhnya, kecuali Maryam dan anak laki-lakinya.”
Kemudian Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Bacalah oleh kalian jika kalian suka firman berikut,” yaitu: ‘Dan sesungguhnya aku melindungkannya serta anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari setan yang terkutuk.’
Coba tanyakan pada diri sendiri saat melahirkan, doa apa yang terbetik seketika. Biasanya harapan menjadi anak shalih, penyejuk mata hati, sehat ibu dan bayinya. Hanya seputar anak yang dilahirkan. Namun berbeda dengan Hannah, spontanitas mendoakan untuk bayi yang dilahirkan serta anak keturunannya.
Baca juga: Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta
Perhatikanlah doa Istri Imran saat persalinannya. Dia tidak hanya mendoakan bayi yang baru saja lahir, akan tetapi sekaligus anak keturunannya. Seperti itulah karakter seorang wanita mukminah yang memiliki visi dan pemikiran yang jauh (hingga generasi) ke depan. Pandangannya melampaui zamannya.
Sekarang kita belajar dari Hannah tentang salah satu berdoa terbaik saat melahirkan. Allah abadikan kisahnya supaya para wanita beriman mengambil teladan dari para wanita mulia masa lampau di dalam Al-Qur’an.
Tidak hanya itu, Hannah telah mempersiapkan keshalihan sang jabang bayi sejak dalam kandungan, walau dia tak tahu yang akan dilahirkannya laki-laki atau perempuan.
Persiapan dini sejak kehamilan hingga saat persalinan, memikirkan generasi melampaui zamannya, hanya dapat dilakukan oleh wanita mukminah yang visioner seperti Istri Imran.
Demikianlah kesuksesan Keluarga Imran dalam mempersiapkan anak keturunannya yang terbaik di zamannya hingga lahir biidznillah: Maryam, wanita yang dipuji Rabbnya sangat menjaga kehormatannya dan termasuk qanitin (hamba yang taat); dan Isa putra Maryam seorang Nabi Allah yang istimewa.Bisa disimpulkan potret keluarga Imran yang utama, dimulai dan kunci awalnya terdapat pada sosok Hannah, istri Imran, seorang wanita yang bertaqwa, dekat dengan Rabbnya serta visioner. Wallahu a’lam.
Oleh: A. Damayanti Ahmad, M.Pd.I.
Baca sebelumnya: Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan

-

Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan
Benar kiranya bahwa ibu adalah madrasah nomor satu, karena ibu ini sejatinya telah mendidik buah hatinya, sejak janin tersebut dalam kandungan. Selama 9 bulan, janin bertumbuh didalam rahim sang ibu. Atas jerih payah sang ibu inilah, maka kewajiban kita adalah memuliakannya dalam seluruh aktivitas kehidupan kita.
وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”
(QS. Luqman (31): 14)Baca juga: Sosok Ibu Teladan Dalam Sejarah
Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika anak masih dalam kandungan:
Membacakan doa
Salah satu cara mendidik anak sejak dalam kandungan adalah dengan memanjatkan doa. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Zakaria didalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 38: Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik (shaleh). Sesungguhnya Engkaulah Maha Pendengar doa”Stimulasi suara
Suara adalah salah satu sumber stimulasi janin. Suara ini bentuk komunikasi antara Ibu dan janin. Janin mendengar melalui vibrasi pada tulang kraniumnya. Untuk alasan inilah, suara ibu mempunyai resonansi yang unik bagi janin. Adapun suara yang paling utama untuk diperdengarkan ke janin adalah suara-suara bacaan Ayat al-Qur’an.Mengajak berbicara
Lakukanlah komunikasi islami dengan buah hati sejak dalam kandungan, karena pada minggu ke-25 janin sudah dapat mendengar dan mengenali suara orang-orang terdekatnya seperti ibu dan ayahnya. Untuk itu maka ajaklah janin untuk berbicara dengan mengelus-elus perut. Misalnya: Ketika sang ibu mau shalat, membaca Al-Qur’an, ataupun bersedekah maka ajaklah sang janin berbicara dengan cara: “Adik, ibu mau shalat, karena shalat merupakan kewajiban setiap muslim dan sebagainya,” Biasanya respon janin dengan tendangan ke arah perut sang ibu.Baca juga: Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta
Menjaga perilaku orang tua
Bagi ibu yang sedang mengandung, menjaga perilaku sangat penting dan dibutuhkan, karena hubungan emosional sipritual antara ibunda dan janin ini sangatlah kental. Akhlak dan perilaku orang tua sangat berpengaruh terhadap akhlak anak-anaknya kelak, makanya orang tua harus menjaga sikap, ucapan dan perilaku. Jika orang tua berperilaku baik maka anaknya akan ikut baik seperti ibunya pula.Referensi:
1 Syaikh Shaleh al-Fauzan dalam kitab “Makaanatul mar-ati filIslam”
2 Ka’Selly Astriana (HIMPAS Psikologi) , Seminar Nasional: “Pengajaran Al-Qur’an Sejak Dalam Kandungan”Baca sebelumnya Ibu Membentuk Kepribadian Anak

-

Ibu Pembentuk Kepribadian Anak
Ibu adalah madrasah yang paling utama dalam pembentukan kepribadian anak. Ibu adalah “gudang ilmu”, “pusat peradaban” dan “wadah” yang menghimpun sifat-sifat akhlak mulia. Ibu berperan besar dalam pembentukan watak, karakter dan kepribadian anak-anaknya. Ia adalah sekolah pertama dan utama sebelum si kecil mengenyam pendidikan di sekolah manapun.
Peran ibu tidak bisa tergantikan oleh siapapun. Ibu memiliki peran lebih dari sekolah yakni membangun kecerdasan emosional anak bahkan membangun kecerdasan spiritual anak. Awal mula tumbuhnya generasi baru adalah dalam asuhan ibu, yang ini semua menunjukkan mulianya tugas kaum wanita dalam (upaya) memperbaiki generasi bangsa.
Menjadi seorang ibu adalah sebuah kehormatan, oleh karenanya, Islam memandang posisi ibu sebagai posisi paling penting. Kedudukan ibu ini sangat mulia. Ibu juga tiang negara, bila ia baik maka negara akan menjadi baik dan bila ia rusak maka negara pun akan hancur.
Baca juga: Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta
Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi: “Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan)
Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Tafsir Al-Qurthubi, Jilid 10 hal. 239)
Oleh: Tanti Ummu Fadhlan
Baca sebelumnya Sosok Ibu Teladan Dalam Sejarah


