Kategori: Akhlaq

  • Hadiah ‘Nafas Qur’ani’ untuk Si Buah Hati

    Hadiah ‘Nafas Qur’ani’ untuk Si Buah Hati

    Kerusakan akhlak merupakan salah satu hal yang dituding oleh Syakib Arslan, salah seorang pemikir besar abad ke-20, sebagai faktor penyebab kemunduran umat Islam pada era ini.

    Dalam bukunya Li Madza Ta’akhkhar al-Muslimun, ahli sejarah kelahiran Lebanon ini menyebutkan bahwa hilangnya nilai-nilai luhur yang diajarkan Al-Qur’an membawa efek dekadensi moral para pemimpin. Ketiadaan political will para negarawan untuk mengemban amanah umat melarutkan nilai agama dalam kepentingan-kepentingan nafsu duniawi, menyebabkan agama terpinggirkan di pojok-pojok masyarakat.

    Tentu masih ada yang masih bisa kita lakukan untuk memperjuangkan umat ini. Beberapa mengambil jalan kekuasaan untuk merebut kembali kejayaan Islam, sedangkan beberapa yang lain menawarkan jalan pendidikan; jalan yang lambat namun bertahan lebih lama.

    Baca Juga: Informasi Pendaftaran Islamic Center Wadi Mubarak Tahun 2022-2023

    Di antara jalan pendidikan tersebut adalah mendekatkan kembali umat Islam kepada Al-Qur’an yang mereka miliki; bahkan sejak usia dini.

    Memberi ‘Nafas Qur’ani’ Sejak Dini

    Usaha untuk menciptakan kembali generasi qurani mesti dimulai sedini mungkin—kalau bisa—sejak nafas pertama si buah hati. Karena hanya dengan cara itu kita dapat mendidik penerus perjuangan yang mencintai Al-Qur’an, sebelum mereka terkontaminasi oleh lingkungan masyarakat yang cenderung merusak.

    Dengan pendekatan yang baik dan manusiawi, potensi anak-anak usia dini (2-7 tahun) sangatlah mungkin. Sebagaimana disebut oleh Muhibbin S., anak-anak pada masa perkembangan kognitif pra-operasional sudah memiliki kesadaran object permanence, dalam artian ia sudah sadar bahwa suatu benda itu tetap ada di tempat meski ditinggalkan dan tidak terlihat lagi. Dalam penyataan yang lebih singkat, ia sudah mampu menghafal.

     Bukan hanya itu, dalam merespon lingkungan, mereka juga memiliki kemampuan untuk meniru perilaku orang lain. Imitasi adalah salah satu bentuk perkembangan kognitif anak. Maka sudah barang tentu, lebih baik menyibukkan anak untuk meniru-niru para qurra` dibanding para penyanyi bukan?

    Dari situ, harus bagi kita untuk memberikan ‘nafas-nafas qurani’ kepada mereka sejak dini, mulai dari memperdengarkan murattal, mengajak mereka mengaji, memberi mereka reward bila mereka ketika berhasil menghafal surat-surat pendek, dan lain sebagainya, agar ‘nafas-nafas qurani’ tersebut dapat hidup dalam relung hati mereka dan menjadi cinta pertama mereka.

    Baca Juga 5 (Lima) Manfaat Husnuzan Kepada Allah Ta’ala

    Menghafal adalah Langkah Awal

    Salah satu ‘nafas qurani’ tersebut adalah memberi mereka motivasi untuk menghafal Al-Qur’an. Karena dengan menghafal, akal pikiran mereka tertambat kepada Al-Qur’an dan membuat mereka lebih intens untuk terus bersama Al-Qur’an.

    Helena Boyle dalam Quranic Schools: Agents of Preservation and Change, mengutip komentar tidak baik dari Zerdoumi N. mengenai lembaga-lembaga pendidikan Al-Qur’an, bahwa pendidikan menghafal Alquran itu tidak produktif secara intelektual maupun moral juga tidak membangkitan minat dan bakat siswa.

    Hal ini dibantah oleh Boyle, bahwa pandangan miring seperti ini disebabkan Zerdoumi melihat menghafal Al-Qur’an itu adalah akhir dari pembelajaran, padahal menghafal Al-Qur’an sebenarnya adalah awal dari perjalanan intelektual seorang muslim. Setelah menghafal, mereka baru akan mulai membangun dasar-dasar keilmuan dan moralitas dengan terus berpegang kepada Al-Qur’an.

    Apapun yang mereka pelajari setelah itu, baik itu  akidah, fiqih, hadis ataupun biologi, matematika, dan sosiologi, mereka akan tetap melirik kembali kepada Al-Qur’an.

    Maka, menghafal Al-Qur’an bukanlah puncak dari prestasi intelektual seorang anak, justru ia adalah langkah awal dari kembalinya umat pada posisi peradaban yang tinggi.

    Baca Juga: Wisuda Pendidikan Guru Tahfizh Anak Usia Dini Sahabat Qur’an (PG-TAUD SaQu) Angkatan XV

    ‘Alquran Berjalan’, Bukan ‘Mushaf Berjalan’    

    Mari kita kembali ke pembicaraan awal kita, yaitu tentang perbaikan akhlak. Sebagaimana jelas ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Al-Qur’an tercermin pada akhlak Rasulullah ﷺ :

    عَنْ يَزِيدَ بْنِ بَابَنُوسَ ، قَالَ :دَخَلْنَا عَلَى عَائِشَةَ، فَقُلْنَا يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، مَا كَانَ خُلُقُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَتْ: كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ.

    Dari Yazid ibn Babanus, ia mengatakan: “Kami mendatangi Umm al-Mu’minin (‘Aisyah radhiallahu ‘anha), lalu kami berkata: ‘Wahai Umm al-Mu’minin! Bagaimana akhlak Rasulullah ﷺ dulu?’ Ia pun menjawab, ‘Akhlaknya adalah (sebagaimana) Al-Qur’an’”
    (HR. Al-Bukhari)

    Penjelasan Umm al-Mu’minin di atas memberi kita gambaran bagaimana Rasulullah ﷺ menjadi role model dari nilai-nilai yang terkandung di Al-Qur’an. Perbuatan-perbuatannya tidak pernah lepas dari garis-garis yang sudah ditetapkan Al-Qur’an. Beliau ﷺ, singkatnya, adalah ‘Alquran yang berjalan’ di muka bumi ini.

    Tapi bagaimana menghafal Al-Qur’an bisa memperbaiki akhlak generasi buah hati kita? Apa ada kaitan langsung antara keduanya? Ataukah ada penghubung antara dua proses tersebut?

    Boyle, masih pada bukunya, juga mengangkat teori embodiment (penjelmaan); yaitu bagaimana menghafal Al-Qur’an adalah proses penjelmaan Al-Qur’an, dari nilai-nilai yang hanya di dalam teks menjadi hidup di tengah masyarakat.

    Dalam ungkapan lain, menghafal Al-Qur’an adalah investasi awal menciptakan ‘Al-Qur’an berjalan’, insan yang menjadikan Al-Qur’an sebagai inspirasi kehidupan.

    Simak Live Streaming Qur’anic Parenting Rambu-Rambu Penting Dalam Mendidik Anak

    Dalam salah satu karyanya, Ma’alim at-Tanzil, Sayyid Quthb menerangkan bahwa seharusnya, orang yang mempelajari Al-Qur’an mesti berorientasi pada pengamalan. Ya, inilah penghubung yang mengaitkan proses menghafal Al-Qur’an dan memperbaiki akhlak.

    Disamping itu, perlu bagi guru-guru Al-Qur’an kita untuk bisa mengajarkan nilai-nilai yang terkandung. Tanpa hal tersebut, kita hanya bisa menciptakan para penghafal Al-Qur’an, bukannya pengamal Al-Qur’an.

    Justru berbahaya ketika yang tercetak bukannya ‘Al-Qur’an yang berjalan’, malah ‘mushaf berjalan’. Hanya ada lisan yang mampu membaca tanpa penghayatan. Akhlak-akhlak Al-Qur’an tidak mewarnai hidup mereka, malah Al-Qur’an menjadi label dagang untuk memperlaris ‘jualan’ mereka.

    Generasi yang seperti itu malah terperosok lebih dalam kedalam jurang dekadensi moral karena menyamarkan nafsu-nafsu duniawi mereka dengan jubah kesalehan.

    Penutup

    Umat Islam perlu dibuat dekat kembali dengan Al-Qur’an, terutama sekali generasi-generasi mudanya yang akan memegang tali kendali umat di masa mendatang.

    Salah satu jalannya adalah memanfaatkan usia dini anak-anak untuk membuat mereka cinta pada Al-Qur’an dengan menghafalnya.

    Sembari menghafal, nilai-nilai akhlak yang terkandung juga mesti diajarkan. Barulah kemudian mereka mulai meneruskan perjalanan intelektual membangun peradaban Islam kembali, sembari terus melabuhkan hati kepada Al-Qur’an.

    Wallahu a’lam.

    Penulis: Gilang Eksa Gantara, Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak
    Editor: Al.Choer

  • Orang Tua Adalah Pintu Surga

    Islam sangat menghormati kedudukan orang tua, bahkan menyandingkan ketaatan kepada mereka setelah ketaatan kepada Allah subhanallahu wa ta’ala.

    Dan menjadikan kebaikan seseorang kepada orang tuanya merupakan salah satu tingkatan tertinggi dari kebajikan yang mendatangkan pahala dan kesuksesan dunia akhirat, bahkan jika kedua orang tua bukan seorang muslim.

    Baca Juga Berbakti Kepada Orang Tua

    Maka merawat orang tua adalah kewajiban seorang anak. Apalagi jika orangtua kandung sudah lansia atau terkena penyakit tua.

    وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

    “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
    (Al-Isra’: 23)

    Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari menafsirkan ayat di atas dengan penjelasan berikut:

    لا تؤفف من شيء تراه من أحدهما أو منهما مما يتأذّى به الناس، ولكن اصبر على ذلك منهما، واحتسب في الأجر صبرك عليه منهما، كما صبرا عليك في صغرك

    “Janganlah berkata ah, jika kalian melihat sesuatu dari salah satu atau sebagian dari keduanya yang dapat menyakiti manusia. Akan tetapi bersabarlah dari mereka berdua. Lalu raihlah pahala dengan bersabar pada mereka sebagaimana mereka bersabar merawatmu di waktu kecil.”

    Setiap anak patut mengingat peran orang tua yang telah membesarkannya. Dari keridhaan orang tua, seorang anak akan mendapatkan keridhaan Allah subhanallahu wa ta’ala.

    Baca juga: Informasi Pendaftaran MAHABBAH BOARDING SCHOOL Program Tahfizh Tingkat SMP-SMA Putri

    Dalam riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    الوالِدُ أوسَطُ أبوابِ الجَنَّةِ، فاحفَظْ ذلكَ البابَ أو دَعْهُ

    “Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Maka jagalah pintu itu atau kalian bisa tinggalkan (sia-siakan pintu itu).”

    Sehingga tak ada dalih apapun bagi seorang anak untuk tidak berbakti kepada orang tua.

    اللهم اجعل أبي وأمي من الذاكرين لك، الشاكرين لك، الطائعين لك، المنيبين لك
    اللهم وأعني على خدمتهم كما ينبغي لهما علينا
    اللهم اجعلني باراً طائعين لهما
    اللهم لا تجعلنا ممن يعقّون فنعقّ أو ممّن يهجرون فنهجر
    اللهم لا تتوفاهما إلا وهما راضيين عنا تمام الرضى
    اللهم وأعنا على خدمتهما كما ينبغي لهما علينا
    اللهم اجعلنا بارين طائعين لهما
    اللهم أعنا على الإحسان إليهما في كبرهما
    اللهم تقبل توبتهما، وأجب دعوتهما
    اللهم اجعل أوقاتهما بذكرك معمورة‎
    اللهم أبعد عن أبي وأُمي متاعب الدنيا، ولا تذقهما طعم الألم، ولا دموع الحزن
    يا رب بحجم سمائك السابعة أرح قلوبهما، وأسعدهما واحفظهما لي
    اللهم اجعل ذريتهم ذرية صالحة تدعو لهم بالخير إلى يوم الدين واجعل ذريتهم سترا بينهم وبين نار جهنم
    اللهم أنزل على قبورهم الضياء والنور والفسحة

    Ya Allah, jadikanlah ayahku dan ibuku termasuk orang-orang yang mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, taat kepada-Mu, dan bertaubat kepada-Mu.
    Ya Allah, bantulah aku untuk melayani mereka sebagaimana mestinya.
    Ya Allah, jadikanlah aku orang yang sholeh dan taat kepada mereka.
    Ya Allah, jangan jadikan kami termasuk orang yang cerewet kepada mereka, atau pula termasuk orang yang mendiamkan mereka.
    Ya Allah, jangan wafatkan mereka kecuali mereka benar-benar telah ridha kepada kami.
    Ya Allah, bantulah kami untuk melayani mereka sebagaimana mestinya.
    Ya Allah, bantulah kami untuk berbuat baik kepada mereka di hari tua mereka.
    Ya Allah, terimalah taubat mereka, dan kabulkan doa mereka,
    Ya Allah, penuhi waktu mereka dengan mengingat-Mu.
    Ya Allah, jauhkan ayah dan ibuku dari kesulitan dunia, dan jangan buat mereka merasakan rasa sakit, atau air mata kesedihan.
    Ya Allah, dengan keluasan langit ketujuh-Mu, hiburlah hati mereka, buatlah mereka bahagia, dan jagalah mereka untuk saya.
    Ya Allah, jadikanlah anak-anak mereka keturunan yang shalih yang akan mendoakan mereka sampai hari kiamat, dan jadikan keturunan mereka sebagai penghalang antara mereka dan api neraka.
    Ya Allah, turunkan cahaya dan penerang serta keluasan ruang kubur mereka.
    (Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I)

     
    Penulis: Abu Samudera
    
    
  • Bercanda Tapi Bohong. Hati-Hati!

    Bercanda Tapi Bohong. Hati-Hati!

    Senda gurau saat berinteraksi dengan kawan sejawat diperbolehkan dalam Islam, begitu pula dengan bercanda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tauladan bagi seluruh umat manusia pun sesekali bercanda dengan para sahabat, bahkan kepada istri-istri beliau pun tetap bercanda.

    Banyak manfaat dari bercanda. Selain menambah keakraban kepada sesama sejawat, bercanda pun dapat menyehatkan tubuh serta pikiran.

    Bercanda yang menimbulkan tawa akan menggerakkan otot-otot wajah, sehingga menyegarkan pikiran dan dapat menghilangkan depresi atau stress. Walaupun guyonan tersebut hanya sebatas mengakibatkan senyum dari yang mendengarnya tentu itu sangat bermanfaat untuk menambah kebahagiaan suasana hati.

    Tentu candaan atau pun guyonan tersebut sebatas candaan dan guyonan positif, tidak mengandung ketersinggungan orang lain hingga sakit hati mendengarnya atau menimbulkan bahaya.

    Baca Juga: Keluhuran Akhlak Rasulullah ﷺ 

    Bagaimana jika candaan atau guyonan tersebut mengandung kebohongan?

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan keras bagi seseorang yang berguyonan namun mengandung kebohongan. Diberitakan oleh Bahz bin Hakim, telah menceritakan kepadaku Ayahku dari kakekku, ia berkata: ” Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

     وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ

    “Celakalah orang yang berbicara kemudian berbohong agar orang lain mentertawakannya, celakalah dia, celakalah dia.”
    (HR. Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi)

    Selain banyaknya hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang seseorang untuk berbohong, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mensifati orang yang berbohong itu termasuk ke dalam golongan orang munafik.

    Bohong dalam rangka apapun akan melahirkan kebohongan lainnya. Sehingga disebutkan dalam pepatah “Bohong adalah pangkal dari dosa”.

    Baca Juga: Nongkrong Di Pinggir Jalan? Ingat 4 (Empat) Hal Ini

    Begitu besar bahaya bohong dalam Islam sehingga Allah subhanallahu wa ta’ala memasukkan orang yang suka berbohong ke dalam salah satu sifat orang tidak beriman.

    إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

    “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta”
    (QS. An-Nahl: 105).

    Maka untuk menjadi seorang mukmin yang sempurna, hendaklah tinggalkan kebohongan dalam bercanda meski sekecil apapun itu. Jika tidak ingin berkata namun ada unsur bohong maka diam adalah lebih baik baginya.

    Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

    لَا يُؤْمِنُ الْعَبْدُ الْإِيمَانَ كُلَّهُ حَتَّى يَتْرُكَ الْكَذِبَ فِي الْمُزَاحِ وَالْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ صَادِقًا  

    “Seorang hamba tidak beriman dengan sempurna, hingga ia meninggalkan berkata bohong saat bercanda dan meninggalkan debat walau ia benar.”
    (HR. Ahmad)

    Wallahu a’lam

    Penulis: Abu Samudera
    Editor: Al.Choer

  • Nongkrong Di Pinggir Jalan? Ingat 4 (Empat) Hal Ini!

    Nongkrong Di Pinggir Jalan? Ingat 4 (Empat) Hal Ini!

    Duduk-duduk di pinggir jalan pastinya sangat mengasikkan bagi sebagian orang. Melihat lalu lalang orang atau pun kendaraan bisa menyegarkan mata.

    Tapi tahukah Pembaca, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam melarang duduk-duduk di pinggir jalan, kecuali beberapa sebab sehingga perbuatan itu diperbolehkan.

    Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang dibawakan oleh Abu Sa’id Al-Khudry radhiallahu ‘anhu:

    إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! مَا لَنَا بُدٌّ مِنْ مَجَالِسِنَا; نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ: فَأَمَّا إِذَا أَبَيْتُمْ فَأَعْطُوا اَلطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا: وَمَا حَقُّهُ؟ قَالَ: غَضُّ اَلْبَصَرِ وَكَفُّ اَلْأَذَى وَرَدُّ اَلسَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ اَلْمُنْكَرِ
    “Jauhkanlah dirimu untuk suka duduk di jalan-jalan.” Mereka berkata: Wahai Rasulullah itu hanyalah bagian dari tempat duduk kami di mana kami biasa berbincang-bincang di sana. Beliau menjawab: “Jika kalian menolak (nasehat ini) maka berilah jalan kepada haknya.” Mereka bertanya: Apakah haknya؟. Beliau bersabda: “Menundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemungkaran.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

    Baca Juga: Malu Perisai Iman

    Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa pada awalnya Rasulullah saw melarang duduk-duduk di pinggir jalan. Namun para sahabat yang terbiasa melakukan itu memberi jawaban dan alasan kepada beliau bahwa mereka hanya berbincang-bincang saja. Sehingga beliau pun membolehkan dengan syarat memberikan hak orang lain yang lewat di jalan itu.

    Kewajiban orang yang sedang nongkrong di pinggir jalan menurut hadits di atas adalah:

    1. Menundukkan pandangan

    Firman Allah subhanallahu wa ta’ala:

    قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
    Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.
    (QS. An-Nur; 30)

    Mereka yang nongkrong di pinggir jalan wajib menundukkan pandangannya kepada orang yang lewat. Yaitu tidak memandangi orang yang lewat di jalan itu. Terkhusus adalah bagi para wanita yang tentunya sangat membuat tidak nyaman bagi mereka jika ada yang memandanginya.

    Selain itu, menundukkan pandangan pun akan menjaga hati orang tersebut dari fitnah yang lewat di dekatnya. Seperti kita ketahui, dijaman sekarang tak sedikit wanita keluar rumah dengan mengumbar aurat, atau ada pula yang tertutup tetapi pada hakekatnya adalah telanjang.

    Baca Juga: Keluhuran Akhlak Rasulullah ﷺ 

    2. Tidak mengganggu

    Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam :

    الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
    “Seorang muslim (yang sejati) adalah orang yang mana kaum muslimin lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya.”
    (Muttafaqun ‘Alaihi)

    Jika dengan memandangnya saja dapat mengganggu seseorang, bagaimana dengan gangguan lainnya? Baik gangguan dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Ini tentu lebih besar dosanya dibanding hanya memandangi.

    3. Menjawab salam

    Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam :

    يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي وَالْمَاشِي عَلَى الْقَاعِدِ وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ
    “Hendaknya orang yang berkendara memberi salam kepada yang berjalan, dan yang berjalan memberi salam kepada yang duduk dan (rombongan) yang sedikit kepada (rombongan) yang banyak.”
    (Muttafaqun ‘Alaihi)

    Kewajiban lainnya adalah menjawab salam ketika orang yang lewat itu mengucapkan salam.

    Baca Pelajaran ke-17 Madrasah Online: Hukum Seputar Mandi Wajib – Sebab, Syarat Dan Rukunnya

    4. Menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemungkaran

    Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, disampaikan oleh Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu :

    مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
    “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” 
    (HR. Muslim; 70)

    Sebab duduk-duduk di pinggir jalan itulah ia dapat melihat dan mengetahui sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Beragam orang akan melewatinya dan tak jarang terjadi kemunkaran. Maka kewajiban ia adalah melarang kemungkaran itu.

    Wallahu a’lam

    Penulis: Abu Samudera
    Editor: Al.Choer

  • Malu Perisai Iman

    Malu Perisai Iman

    Salah satu bagian dari keimanan seseorang adalah memiliki rasa malu. Dengan adanya rasa malu, orang yang beriman akan memikirkan terlebih dahulu segala tindakannya. Hal ini tentu berbalik dengan orang tak memiliki rasa malu. Hingga dapat dikatakan tak ada keimanan dalam diri orang tersebut.

    Sebagai fitrah manusia, rasa malu harus menjadi pakaian keseharian setiap orang. Dari adanya rasa malu itulah seseorang akan menahan diri dari perbuatan tercela dan perbuatan buruk. Yang jika sudah hilang rasa malu maka ia akan berbuat sesuka hati.

    Rasulullah ﷺ bersabda, sebagimana telah disampaikan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

    مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
    “Sesungguhnya yang diperoleh manusia dari ucapan kenabian yang pertama adalah jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.”
    (HR Bukhari; 5655)

    Baca Juga: Keluhuran Akhlak Rasulullah ﷺ 

    Dari hadits di atas dapat dipahami bahwa jika kamu tidak memiliki rasa malu terhadap celaan orang lain dari apa yang kamu kerjakan maka kerjakan saja semaumu.

    Maksud hadits ini adalah ancaman bagi orang yang tidak memiliki rasa malu sehingga ia melakukan perbuatan tercela sesukanya, dengan ancaman pembalasan yang akan menderanya di akhirat.

    Baca Pelajaran ke-17 Madrasah Online: Hukum Seputar Mandi Wajib – Sebab, Syarat Dan Rukunnya

    Betapa pentingnya kedudukan rasa malu sehingga Rasulullah ﷺ  mendudukannya dalam akhlak Islam dan barometer keimanan seseorang. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :

    الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ
    “Malu itu adalah sebagian dari iman.”
    (HR. Muslim; 52, Tirmidzi; 2540)

    Maka untuk menumbuhkan perisai iman ini, seseorang haruslah banyak merenungi segala nikmat yang telah Allah limpahkan kepadanya. Disamping itu pula, ia harus sadar bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah swt, dicatat segala perbuatannya dan akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak.

    “Sifat malu itu tidak datang kecuali dengan kebaikan.”
    (HR Bukhari; 5652, Muslim; 53)

    Wallahu a’lam

    Penulis: Abu Samudera
    Editor: Al.Choer

  • Keluhuran Akhlak Rasulullah ﷺ 

    Keluhuran Akhlak Rasulullah ﷺ 

    Nabi Muhammad ﷺ adalah Nabi terakhir yang diutus untuk umat manusia. Sebagai Nabi pamungkas – penutup para nabi dan rasul – tentu memiliki kesempurnaan, baik kesempurnaan risalah yang dibawa maupun kesempurnaan akhlak sebagai pribadi di tengah keluarga maupun masyarakat.

    Banyak sekali akhlak yang patut kita tiru dari perbuatan Rasulullah ﷺ yang semasa hidup telah beliau contohkan kepada para sahabat. Maka tak bisa dipungkiri bahwa beliau adalah teladan bagi umatnya. 

    Perlakuan beliau kepada Fatimah ra sebagai anak, terekam jelas oleh istri beliau ‘Aisyah ra: “Jika Fatimah datang menemui beliau, maka beliau berdiri, meraih tangannya, mencium dan mendudukkannya di tempat duduknya. Dan jika beliau datang menemuinya, maka ia akan meraih tangan beliau, mencium dan mendudukkannya di tempat duduknya.” (HR Abu Daud; 4540)

    Dari sini dapat dilihat bagaimana Rasulullah ﷺ sangat menyayangi dan memberikan kehormatan sekalipun kepada anak. Tak malu untuk berdiri, mencium tangan dan kening lalu memberikan tempat duduk beliau kepada Fatimah ra.

    Baca Juga: Rumah Seperti Surga (1)

    Perlakuan tersebut merupakan salah satu bukti nyata dari sabda beliau yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah dan Ibnu Abbas ra:

    خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
    “Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.”
    (HR Tirmidzi; 3830 dan Ibn Majah; 1967)

    Khusus kepada para istri, sabda Rasulullah ﷺ dari Abi Hurairah ra:

    أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا 
    “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap para istrinya.“
    (HR. Tirmidzi; 1082)

    Rasulullah ﷺ pun berpesan kepada para sahabat dan diteruskan kepada para pengikutnya saat haji wada’ dari Amr bin Al Ahwash: “Ketahuilah; hak istri kalian atas kalian ialah kalian berbuat baik kepada mereka dalam (memberikan) pakaian dan makanan (kepada) mereka.”
    (HR. Tirmidzi; 1083)

    Baca Juga: 5 Alasan Penting Pendidikan Al-Qur’an Sejak Usia Dini

    Dalam Shohih Bukhori disebutkan pertanyaan Al-Aswad kepada ‘Aisyah ra: “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah tentang apa yang dikerjakan Nabi ﷺ ketika berada di rumah. Maka ‘Aisyah pun menjawab, “Beliau selalu membantu keluarganya, jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakannya.”
    (HR. Bukhori; 635)

    Riwayat lain dari Imam Ahmad: “Dari ‘Aisyah ra, ia pernah ditanya mengenai apa yang diperbuat oleh Nabi ﷺ ketika di rumahnya. Ia menjawab; “Beliau menjahit bajunya, mengesol sandalnya, dan beliau melakukan sebagaimana yang dilakukan para lelaki di rumah mereka.” (HR. Ahmad; 25039)

    Hadits ini menjadi petunjuk bahwa dalam keseharian di rumah pun, Rasulullah ﷺ tetap membantu pekerjaan istri dan dari perilaku beliau terhadap para istri dan anak maka tercipta keharmonisan rumah tangga. Perilaku beliau tidak hanya nampak di luar rumah saat bermasyarakat tetapi dalam rumah tangga pun sangat terpuji.

    Sedangkan kepada pembantu pun Rasulullah ﷺ tetap menjaga sangat menjaga diri dari menyakiti perasaannya, sebagaimana telah diberitakan oleh Anas bin Malik ra selaku pelayan di rumah Rasulullah ﷺ : “Aku menjadi pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Demi Allah, selama itu beliau tidak pernah berkata “Uff’ (Hus) kepadaku, dan tidak pernah membentakku dengan perkataan: “Hai, kenapa engkau perbuat begitu!” (HR. Bukhori; 5578: Muslim; 4269)

    Demikianlah akhlak Rasulullah ﷺ baik dalam rumah tangga maupun di masyarakat. Tak ada kekurangan dan aib beliau dalam berprilaku sebagaimana orang biasa. Maka bahwa beliau adalah benar-benar suritauladan bagi seluruh ummat.

    Maha Benar Allah ﷻ dalam firmanNya:

    وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
    “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang baik.”
    (QS Al-Qalam: 4)

    Penulis: Abu Samudera
    Editor: Al.Choer

  • Profesi Mulia Dunia Akhirat (2)

    Profesi Mulia Dunia Akhirat (2)

    Berikut beberapa kemulian yang Allah berikan kepada para pengajar Al Quran, yang mana tentunya merekalah orang-orang yang senantiasa bercengkrama dengan Al Quran dalam hidup mereka

    Kemuliaan di Dunia

    Pertama, dia didahulukan untuk menjadi imam ketika shalat jamaah

    Dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,

    يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ.

    “Yang paling berhak jadi imam adalah yang paling banyak hafalan al-Quran-nya. Jika dalam hafalan quran mereka sama, maka didahulukan yang paling paham dengan sunnah..”
    (HR. Muslim)

    Kedua,  ketika meninggal dia didahulukan

    Jabir bin Abdillah ِ radhiyallahu ‘anhuma  bercerita,

    Nabi ﷺ menggabungkan dua jenazah uhud dalam satu kain kafan. Setiap hendak memakamkan, beliau tanya, “Siapa yang paling banyak hafalan qurannya?”

    Kemudian Nabi ﷺ memposisikan yang paling banyak hafalannya di posisi paling dekat dengan lahat. Lalu beliau bersabda:

    أَنَا شَهِيدٌ عَلَى هَؤُلاَءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

    “Saya akan menjadi saksi bagi mereka kelak di hari kiamat”
    (HR. Bukhari)

    Baca juga: Menjadi Pendidik Yang Positif

    Ketiga, diutamakan untuk menjadi pemimpin jika dia mampu memagangnya

    Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah, beliau menunjuk Nafi’ bin Abdul Harits untuk menjadi gubernur di Mekah.

    Suatu ketika, Umar bertemu Nafi’ di daerah Asfan.

    “Siapa yang menggantikanmu di Mekah?” tanya Umar.

    “Ibnu Abza.” Jawab Nafi’.

    “Siapa Ibnu Abza?” tanya Umar.

    “Salah satu mantan budak di Mekah.” Jawab Nafi’.

    “Mantan budak kamu jadikan sebagai pemimpin?” tanya Umar.

    “Dia hafal al-Quran, dan paham tentang ilmu faraid.” Jawab Nafi’.

    Kemudian Umar mengatakan, bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:

    إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

    “Sesungguhnya Allah mengangkat sebagian kaum berkat kitab ini (al-Quran), dan Allah menghinakan kaum yang lain, juga karena al-Quran.”
    (HR. Muslim)

    Kemuliaan di Akhirat

    Pertama, , kedudukannya di surga, sesuai banyaknya ayat yang dia hafal

    Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda:

    يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

    Ditawarkan kepada penghafal al-Quran, “Baca dan naiklah ke tingkat berikutnya. Baca dengan tartil sebagaimana dulu kamu mentartilkan al-Quran ketika di dunia. Karena kedudukanmu di surga setingkat dengan banyaknya ayat yang kamu hafal.”
    (HR. Abu Daud)

    Baca juga: Nabi Zakaria As, Kisah Inspiratif Sepanjang Masa (2)

    Kedua, di akhirat, akan diberi mahkota dan pakaian kemuliaan

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

    يَجِىءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً

    Al-Quran akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, “Ya Allah, berikan dia perhiasan.” Lalu Allah berikan seorang hafidz Al-Quran mahkota kemuliaan.
    Al-Quran meminta lagi, “Ya Allah, tambahkan untuknya.” Lalu dia diberi pakaian perhiasan kemuliaan.
    Kemudian dia minta lagi, “Ya Allah, ridhai dia.” Allah-pun meridhainya.
    Lalu dikatakan kepada hafidz quran, “Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca.
    (HR. Turmudzi).

    Ketiga, Al Quran memberi syafaat baginya

    Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

    اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

    “Rajinlah membaca Al Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat.”
    (HR. Muslim).

    Itulah beberapa bukti bahwa Allah muliakan orang yang mengajarkan Al Quran saat di dunia dan kelak di akherat sana, dan tentunya masih banyak lagi dali-dalil menunujakan akan keutamaan dan kemulian para pengajar Al Quran.

    Oleh karena itu jangalah anda berkecil hati ketika anda hanya mampu mengajari segelintir orang saja atau mungkin hanya anak-anak kecil disekitar anda untuk membaca Al Quran. Karena itu adalah kemulian tersendiri yang bahkan banyak orang tak mampu meraihnya.

    Maka disaat manusia berlomba meraih profesi menjadi seorang dokter atau seorang dosen ilmu pengetahuan umum dan segenap profesi yang identik dengan perkara dunia, menjadi pengajar Al Quran merupakan sebuah profesi yang erat kaitannya dengan kemuliaan dunia dan akhirat, adakah yang lebih mulia bagi seorang muslim dibandingkan hal itu ?

    Wallahu a’lam bis showab..

    Referensi:
    *Akhlak Ahlul Quran, Muhammad bin Al Hasan Al Ajury
    *Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqholany

    Editor: Ummu Fahdlan//Al.Choer

    Baca sebelumnya: Profesi Mulia Dunia Akhirat (1)

  • Profesi Mulia Dunia Akhirat (1)

    Profesi Mulia Dunia Akhirat (1)

    Oleh Muhammad Fatwa Hamidan, alumni Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta

    Setiap manusia pasti ingin meraih sebuah kemuliaan baik itu kemuliaan disisi manusia lainnya dan terlebih lagi kemuliaan disisi Allah ﷻ.

    Mendapatkan kemulian dunia dan akherat, ya itulah dambaan banyak insan di dunia ini, kemuliaan di dunia denga banyak orang yang menghormati dan mengambil mafaat darinya serta kemuliaan diakherat dengan Allah tinggikan derajatnya diantara makhluk-makhluk Allah lainnya.

    Lantas bagaimanakah cara meraih kemuliaan tersebut?

    Jadilah pengajar Al Quran jawabannya.

    Bagaimana bisa menjadi pengajar Al Quran dapat membuat seseorang mulia dunia dan akherat ?

    Mari kita simak penjelasan berikut ini.

    Dari Abdurrahman As Sulamy dari sahabat Utsman bin Affan ra , Rasulullah ﷺ  bersabda:

    خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القرآنَ وَ عَلَّمَهُ

    “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
    (HR. Bukhori)

    Baca juga: Rumah Seperti Surga (1)

    Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan : ”Diantara amal yang paling mulai adalah mengajar orang lain. Orang yang mengajar orang lain, menjadikan pembelajaran dan pengajarannya itu amal dan manfaat bagi orang lain.

    Al-Quran adalah ilmu yang paling utama. Sehingga orang yang mempelajari dan mengajarkannya kepada orang lain lebih mulia dibandingkan dengan yang mepelajari selain Al-Quran.

    Tidak diragukan bahwa orang yang menggabungkan antara belajar dan mengajarkan Al-Quran ia telah menyempurnakan dirinya dan orang lain, menggabungkan manfaat untuk dirinya dan orang lain.

    Oleh karena itu ia lebih utama, dan ia termasuk orang yang dimaksud dalam firman Allah ﷻ :

    وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِيْن

    “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”
    (QS. Fushilat: 33)

    Mengajak kepada Allah ﷻ dilakukan dengan bermacam cara. Diantaranya adalah dengan mengajar Al-Qur’an. Bahkan ia adalah yang paling mulai dari semuanya.” (Fathul Bari: 9/76)

    Baca juga: 5 Alasan Penting Pendidikan Al-Qur’an Sejak Usia Dini

    Rasulullah ﷺ  bersabda:

    إنَّ اللّٰه وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهل السَمَوَات وَالأَرْضِيْن حَتَّى النَمْلَة فِي جحرها وَحَتَّى الحوت لَيُصَلوْن عَلَى مُعَلِّمِ النَاسَ الخَيْر

    “Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penduduk langit-langit dan bumi, hingga semut di lubangnya, dan hingga ikan, bershalawat untuk orang yang mengajarkan manusia kebaikan.”
    (HR. Tirmidzi dan beliau berkata, hadits ini hasan shahih gharib)

    Yang dimaksud dengan kebaikan di sini adalah agama dan segala yang dapat menyelamatkan manusia. Dan Al-Qur’an adalah kebaikan yang paling utama untuk diajarkan kepada oranglain, bahkan setiap kali ayat yang telah diajarkan kepada oranglain, ia akan mendapat pahala darinya. Bayangkan, sekalipun ia sedang tidur pahala terus datang dan mengalir kepadanya, saat orang yang pernah diajarinya Al-Qur’an itu membacanya.

    Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasululah ﷺ  bersabda:

    مَنْ عَلَّمَ آية مِنْ كِتَابِ اللّٰه عزَّ وَجَل، كَانَ لَهُ ثَوَابُهَا مَا تُلِيَت

    “Siapa saja yang mengajarkan satu ayat dari kitab Allah, maka baginya pahala ayat tersebut selama ayat itu dibaca.” (Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah: 1335)

    (bersambung ke Bag. 2)

    Baca sebelumnya: Rumah Seperti Surga (2)

  • Rumah Seperti Surga (2)

    Rumah Seperti Surga (2)

    Di samping sisi keindahan, “keberkahan” adalah hal penting yang harusnya hadir di rumah kita. Setiap orang pasti mendambakan kehidupan yang penuh berkah.

    Berkah, dalam bahasa Arab disebut barakah, yakni kebaikan yang melimpah (al-khair al-wafir). Rumah yang diberkahi berarti rumah yang dilimpahi kebaikan dan selalu mendapat petunjuk Allah.

    Oleh karena itu, agar rumah kita diberkahi Allah ﷻ maka perlu upaya untuk mewujudkannya, antara lain:

    Pertama, tempat pendidikan.

    Yakni, rumah menjadi tempat pendidikan bagi anggota keluarganya. Khususnya Pendidikan Tauhid dan Keimanan. Sebab tauhid dan iman adalah pondasi yang menguatkan pribadi setiap anggota keluarga. Bencana dunia akan mudah dilewati jika tauhid dan iman tertancap kuat di hati.

    Baca Juga:
    5 Alasan Penting Pendidikan Al-Qur’an Sejak Usia Dini
    Menjadi Pendidik Yang Positif

    Kedua, tempat tilawah al-Qur’an.

    Rumah senantiasa dihiasi dengan lantunan tilawah. Tiap saat yang terdengar adalah untaian hikmah. Bukan sekedar obrolan ringan apalagi ghibah (membicarakan orang lain). Tilawah, dilakukan oleh semuanya, baik suami maupun istri. Karena orangtua adalah teladan bagi anak-anaknya.

    Allah ﷻ berfirman:

    وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا
    “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui”
    (Q.S. Al-Ahzab [33]: 34).

    Dari Abu Hurairah, Rasulullahﷺ  bersabda,

    لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
    “Janganalah jadikan rumah kalian seperti kuburan, karena setan itu lari dari rumah yang didalamnya dibacakan surat al-Baqarah.”
    (HR. Muslim no. 1860)

    Ketiga, tempat menegakkan sholat.

    Kita dianjurkan untuk banyak melakukan shalat sunnah di rumah. Lakukanlah shalat-salat sunnah rawatib (shalat sunnah pengiring shalat wajib, baik qobliyah maupun ba’diyah), tahajjud, dan dhuha di rumah kita.

    Rasulullahﷺ bersabda:

    أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة

    “Shalat yang utama bagi seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat-shalat wajib”
    (H.R. Al-Bukhari No. 7290).

    Dalam hadits lainnya, Rasulullahﷺ bersabda:

    اجعلوا في بيوتِكم من صلاتِكم، ولا تتَّخِذوها قبورًا

    “Jadikanlah rumah kalian sebagai tempat shalat kalian, jangan jadikan ia sebagai kuburan”
    (H.R. Al-Bukhari No. 432, 1187, Muslim No. 777)

    Baca Juga:
    Informasi Pendaftaran PG TAUD Angkatan XV
    Informasi Pendaftaran Graha Qur’an Online Angkatan 3

    Bagaimana “Surga”-mu?

    Hingga detik ini, sudah kerasankah kita berada di rumah? Apakah rumah telah menjadi tempat kembali yang selalu dirindukan? Jika belum demikian, sudah saatnya kita muhasabah diri.

    Walau ia hanya sementara, tapi ketahuilah bahwa dari rumah peradaban itu bermula. Sehingga “kekokohan” rumah tidak bergantung pada fisik bangunan semata. Melainkan pada tiap nilai yang ditanamkan pada orang di dalamnya.

    Jika kita berharap hadirnya Surga di rumah kita, maka berupayalah untuk menjadikan rumah kita sebagai tempat yang indah lagi berkah. Keindahan diwujudkan dengan memelihara kebersihan dan kesederhanaan.

    Adapun keberkahan dapat dituai dengan menjadikan rumah sebagai tempat beribadah, mulai dari pendidikan tauhid dan keimanan, hingga tempat tilawah dan shalat ditegakkan.

    Pada akhirnya, semoga Allah ﷻ menjadikan rumah kita di dunia ini serasa Surga, dan semoga kita memiliki rumah di Surga kelak. Sebagaimana do’a Maryam bintu Imran:

    إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

    “…ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga…”
    (Q.S. At-Tahrim [66]: 11).

    Editor: Ummu Fahdlan//Al.Choer

    Baca Sebelumnya: Rumah Seperti Surga (1)

  • Rumah Seperti Surga (1)

    Rumah Seperti Surga (1)

    Ditulis oleh: Agus Fadilla Sandi, Ketua Bagian Kepengasuhan STIU-WM

    Firman Allah ﷻ

    وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّن بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُم مِّن جُلُودِ الْأَنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ ۙ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ

    “Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).”
    (Q.S. An-Nahl [16]: 80)

    “Rumahku Surgaku”, demikianlah ungkapan yang didambakan banyak orang. Berharap keindahan dan keberkahan yang ada di Surga dapat dirasakan sejak hidup di dunia. Sebab tidak ada jaminan, bahwa kita dapat merasakan Surga di akhirat kelak. Maka setidaknya, saat hidup di dunia ini kita berupaya menjadikan Rumah kita serasa Surga.

    Hakikat Rumah

    Secara bahasa, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rumah/ru·mah/ n, berarti: bangunan untuk tempat tinggal; bangunan pada umumnya (seperti gedung). Adapun dalam bahasa Arab, rumah disebut بَيْت (baitun). Baitun berasal dari kata kerja باتَ (baa-ta) yang artinya; bermalam.

    Baca Juga:
    5 Alasan Penting Pendidikan Al-Qur’an Sejak Usia Dini
    Menjadi Pendidik Yang Positif

    Berdasarkan defenisi tersebut, maka “rumah” dalam bahasa Indonesia lebih ditekankan pada makna fisik bangunan, sedangkan dalam bahasa arab bermakna fisik dan fungsi (bermalam).

    Melihat makna dan fungsi rumah di atas, maka idealnya rumah dijadikan sebagai tempat tinggal yang sifatnya sementara atau sekedar bermalam. Bermalam di rumah dimaksudkan untuk mendapatkan ketenangan dari yang sebelumnya bergejolak. Yakni, gejolak kehidupan dunia sejak pagi hingga senja.

    Sejalan dengan firman Allah ﷻ dalam Surat An-Naba’ [78] ayat 10-11: وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا (dan Kami jadikan malam sebagai pakaian), وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا (dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan).

    Rumah hanyalah tempat singgah, bukan tempat bermegah. Tempat sekedar menyimpan berkas, bukan menimbun emas. Tempat untuk beristirahat, bukan tempat hati tertambat. Rumah yang hakiki bukan tentang fisik dan perkakasnya, tapi tentang orang dan nilai yang ada di dalamnya.

    Dengan demikian, pembahasan rumah tidak sebatas tentang desain bangunan, lebih penting dari itu adalah bagaimana mengokohkan tiap individu dan menumbuhkembangkan nilai-nilai mulia di dalamnya.

    Rumah Indah nan Berkah

    Rumah bukanlah segalanya, tapi ia menjadi sarana hidup di dunia. Dari rumah yang baik akan lahir generasi yang baik pula. Sebab rumah adalah sarana pendidikan karakter bagi setiap anggota keluarga.

    Rumah akan terasa layaknya Surga jika ia diliputi oleh keindahan dan keberkahan. Sehingga tiap orang di dalamnya merasakan ketenangan dan kenyamanan. Layaknya Penghuni Surga yang ingin kekal di dalamnya.

    Keindahan tidak dapat diraih hanya sekedar memperbanyak aksesoris di dalam rumah. Namun lebih dari itu, ialah menjaga nilai kebersihan dan kesederhanaan. Menjaga kebersihan merupakan bagian penting dalam Islam. Allah ﷻ berfirman dalam Surat At-Taubah [9] ayat 108, وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ (Allah Menyukai orang-orang yang bersih).

    Adapun kesederhanaan merupakan sikap hidup yang berkecukupan dan tidak berlebihan. Disebutkan dalam Hadits, bahwa kesederhanaan adalah bagian dari iman. Rasulullah bersabda, أَلَا تَسْمَعُونَ إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ، إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ “Dengarkanlah sesungguhnya kesederhanaan sebagian dari iman, sesungguhnya kesederhanaan sebagian dari iman.” (H.R. Abu Dawud).

    Baca Juga: Keutamaan Mendengarkan Al-Qur’an, Bagian 1

    Selaku Umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita perlu meneladani bagaimana potret rumah beliau semasa hidup. Rasulullah menjalani hidup dengan cara yang sangat sederhana. Sebagai pemimpin umat, beliau tidak tinggal di rumah mewah apalagi istana yang megah.

    Sebaliknya, Rasulullah tinggal di rumah yang hampir menyerupai gubuk. Kala berada di Madinah, rumah beliau bersama Aisyah hanya berukuran sekitar 5 x 4,5 meter dan tingginya 3 meter, berlantaikan tanah. Di dalamnya hanya ada sebuah kamar berukuran 3 x 3,5 meter dengan tempat tidur berupa tikar yang sederhana.

    Aisyah radhiallahu anha menuturkan, “Sering kali kami melewati masa hingga 40 hari, sedang di rumah kami tidak pernah ada lampu yang menyala dan dapur kami tidak pernah mengepul. Maka orang yang mendengarnya bertanya, ‘Jadi apa yang kalian makan untuk bertahan hidup?’ Aisyah menjawab, “Kurma dan air saja, itu pun jika dapat,” (HR. Ahmad).

    Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Baihaqi, Ummul mukminin menuturkan, “Rasulullah tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut. Sebenarnya jika kita mau, kita bisa kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain yang lapar daripada dirinya sendiri.”

    Demikian gambaran keindahan rumah Sang Teladan. Senantiasa bersih dan sederhana yang akhirnya berbuah pada kenyamanan. Sebaliknya, rumah yang mewah dan megah hanya akan menambatkan hati pemiliknya pada cinta dunia yang berlebihan. Menjadi lalai dari hakikat hidup yang sementara.

    Allah ﷻ telah mengingatkan keadaan manusia yang lalai melalui firman-Nya:

    أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2)

    “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur” (
    Q.S. At-Takatsur [102]: 1-8)

    Editor: Ummu Fahdlan//Al.Choer

    Baca Sebelumnya: Macam-Macam Air – Air Suci Namun Tidak Mensucikan & Air Najis