Kategori: Akhlaq

  • Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan

    Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan

    Benar kiranya bahwa ibu adalah madrasah nomor satu, karena ibu ini sejatinya telah mendidik buah hatinya, sejak janin tersebut dalam kandungan. Selama 9 bulan, janin bertumbuh didalam rahim sang ibu. Atas jerih payah sang ibu inilah, maka kewajiban kita adalah memuliakannya dalam seluruh aktivitas kehidupan kita.

    وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

    “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”
    (QS. Luqman (31): 14)

    Baca juga: Sosok Ibu Teladan Dalam Sejarah

    Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika anak masih dalam kandungan:

    Membacakan doa
    Salah satu cara mendidik anak sejak dalam kandungan adalah dengan memanjatkan doa. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Zakaria didalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 38: Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik (shaleh). Sesungguhnya Engkaulah Maha Pendengar doa”

    Stimulasi suara
    Suara adalah salah satu sumber stimulasi janin. Suara ini bentuk komunikasi antara Ibu dan janin. Janin mendengar melalui vibrasi pada tulang kraniumnya. Untuk alasan inilah, suara ibu mempunyai resonansi yang unik bagi janin. Adapun suara yang paling utama untuk diperdengarkan ke janin adalah suara-suara bacaan Ayat al-Qur’an.

    Mengajak berbicara
    Lakukanlah komunikasi islami dengan buah hati sejak dalam kandungan, karena pada minggu ke-25 janin sudah dapat mendengar dan mengenali suara orang-orang terdekatnya seperti ibu dan ayahnya. Untuk itu maka ajaklah janin untuk berbicara dengan mengelus-elus perut. Misalnya: Ketika sang ibu mau shalat, membaca Al-Qur’an, ataupun bersedekah maka ajaklah sang janin berbicara dengan cara: “Adik, ibu mau shalat, karena shalat merupakan kewajiban setiap muslim dan sebagainya,” Biasanya respon janin dengan tendangan ke arah perut sang ibu.

    Baca juga: Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta

    Menjaga perilaku orang tua
    Bagi ibu yang sedang mengandung, menjaga perilaku sangat penting dan dibutuhkan, karena hubungan emosional sipritual antara ibunda dan janin ini sangatlah kental. Akhlak dan perilaku orang tua sangat berpengaruh terhadap akhlak anak-anaknya kelak, makanya orang tua harus menjaga sikap, ucapan dan perilaku. Jika orang tua berperilaku baik maka anaknya akan ikut baik seperti ibunya pula.

    Referensi:
    1 Syaikh Shaleh al-Fauzan dalam kitab “Makaanatul mar-ati filIslam”
    2 Ka’Selly Astriana (HIMPAS Psikologi) , Seminar Nasional: “Pengajaran Al-Qur’an Sejak Dalam Kandungan”

    Baca sebelumnya Ibu Membentuk Kepribadian Anak

  • Ibu Pembentuk Kepribadian Anak

    Ibu Pembentuk Kepribadian Anak

    Ibu adalah madrasah yang paling utama dalam pembentukan kepribadian anak. Ibu adalah “gudang ilmu”, “pusat peradaban” dan “wadah” yang menghimpun sifat-sifat akhlak mulia. Ibu berperan besar dalam pembentukan watak, karakter dan kepribadian anak-anaknya. Ia adalah sekolah pertama dan utama sebelum si kecil mengenyam pendidikan di sekolah manapun.

    Peran ibu tidak bisa tergantikan oleh siapapun. Ibu memiliki peran lebih dari sekolah yakni membangun kecerdasan emosional anak bahkan membangun kecerdasan spiritual anak. Awal mula tumbuhnya generasi baru adalah dalam asuhan ibu, yang ini semua menunjukkan mulianya tugas kaum wanita dalam (upaya) memperbaiki generasi bangsa.

    Menjadi seorang ibu adalah sebuah kehormatan, oleh karenanya, Islam memandang posisi ibu sebagai posisi paling penting. Kedudukan ibu ini sangat mulia. Ibu juga tiang negara, bila ia baik maka negara akan menjadi baik dan bila ia rusak maka negara pun akan hancur.

    Baca juga: Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta

    Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi: “Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan)

    Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Tafsir Al-Qurthubi, Jilid 10 hal. 239)

    Oleh: Tanti Ummu Fadhlan

    Baca sebelumnya Sosok Ibu Teladan Dalam Sejarah

  • Sosok Ibu Teladan dalam Sejarah

    Sosok Ibu Teladan dalam Sejarah

    Dibawah ini, kami paparkan beberapa kisah seorang ibu yang sukses menjadi madrasah pertama hingga lahir darinya generasi sholeh dan sholehah yang tercatat dalam tinta emas sejarah.

    Pertama: Khadijah binti Khuwailid, sosok yang sangat dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena jasa dan perjuangannya yang begitu besar dalam masa awal dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, darinya pula lahir generasi yang sholeh dan sholehah, diantaranya Fathimah radhiallahu ‘anha yang menjadi penghulu wanita surga.

    Kedua, Sahabiah Shofiyyah binti Abdul Mutthalib yang lahir dari rahimnya Sahabat Zubair bin Awwam yang menjadi sahabat diantara sepuluh sahabat yang dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dijuluki dengan hawari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Shofiyyah merupakan bibi Rasulullah, sosok sahabiah yang pemberani.

    Ketiga, Asma binti Abu Bakar, seorang sahabiah yang agung istri dari Zubair bin Awwam yang lahir darinya generasi yang membanggakan ummat Islam, yaitu Abdullah bin Zubair dan Urwah Bin Zubair.

    Baca juga: Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta

    Keempat, Laila Ummu ‘Ashim, sosok ibu yang sholehah yang mungkin kurang terkenal tentang sejarahnya, tetapi ia adalah sosok yang lahir dari wanita agung penuh iman dan taqwa yang mampu menggetarkan keimanan khalifah Umar bin Khatthab saat sedang melakukan blusukan hingga ia pun menawarkan kepada putranya agar menikahinya, darinya kelak, lahir sosok yang agung pula, yang sejarahnya tercatat sebagai khalifah terbaik setelah khulafaaurrasyidin, dialah Umar bin Abdul Aziz.

    Kelima, Ra’ha, mungkin banyak kaum muslimin yang tidak mengenal sosok agung ini, akan tetapi darinya lahir sosok pemimpin yang ditakuti eropa, sosok yang mampu menghadirkan peradaban dalam berabad-abad lamanya di Andalus, ia adalah Abdurrahman Addakhil, sang pendiri dan pelopor dinasti Umayyah di bumi Andalus yang jasanya masih bisa dirasakan sampai saat ini, padahal ia lahir dalam keadaan yatim, akan tetapi dengan ketaqwaan dan kesholehan ibunya yang mampu menjadi madrasah pertama baginya menjadikan anaknya sebagai sosok yang agung dalam sejarah Islam.

    Baca juga: Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta

    Keenam, Fathimah binti Ubaidillah Azdiah, begitu pula mungkin jarang kaum muslimin mengenal sosok wanita ini, akan tetapi bila disebutkan nama anaknya pastilah semua ummat Islam mengenalnya, dialah Imam Syafi’I, salah satu imam yang pemikirannya diakui menjadi madzhab oleh mayoritas ummat Islam. Terlalu besar dan luas bila mau membahas tentang riwayat Imam Syafi’I karena kemasyhuran namanya sudah menjadi isyarat akan keagungan ilmunya, akan tetapi tidak akan ada Imam Syafi’I bila peran ibunya dinafikan, jasa dan peran ibunyalah yang menjadi sebab dari semuanya setelah kuasa Allah.

    Tentunya banyak sosok ibu agung yang sukses menjadi madrasah bagi anak-anaknya yang jasanya telah tertulis dengan tinta emas sampai saat ini. Begitu banyak ulama yang lahir dari didikan ibunya walau ia terlahir dalam keadaan yatim. Beberapa kisah diatas hanyalah sedikit diantara contoh-contoh kesuksesan ibu dalam mendidik anaknya hingga meraih kemuliaan dunia akhirat. Karena sosok ibu memang kadang banyak terlupakan dalam sejarah, akan tetapi satu kalimat yang agung bahwa dibalik kesuksesan seseorang ada sosok ibu yang senantiasa mandidik dan mendoakan dengan penuh keikhlasan. Wallahu a’lam. ()

    Baca sebelumnya Ibu, Madrasah Nomor Satu