Kategori: Hadist

  • Bercanda Tapi Bohong. Hati-Hati!

    Bercanda Tapi Bohong. Hati-Hati!

    Senda gurau saat berinteraksi dengan kawan sejawat diperbolehkan dalam Islam, begitu pula dengan bercanda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tauladan bagi seluruh umat manusia pun sesekali bercanda dengan para sahabat, bahkan kepada istri-istri beliau pun tetap bercanda.

    Banyak manfaat dari bercanda. Selain menambah keakraban kepada sesama sejawat, bercanda pun dapat menyehatkan tubuh serta pikiran.

    Bercanda yang menimbulkan tawa akan menggerakkan otot-otot wajah, sehingga menyegarkan pikiran dan dapat menghilangkan depresi atau stress. Walaupun guyonan tersebut hanya sebatas mengakibatkan senyum dari yang mendengarnya tentu itu sangat bermanfaat untuk menambah kebahagiaan suasana hati.

    Tentu candaan atau pun guyonan tersebut sebatas candaan dan guyonan positif, tidak mengandung ketersinggungan orang lain hingga sakit hati mendengarnya atau menimbulkan bahaya.

    Baca Juga: Keluhuran Akhlak Rasulullah ﷺ 

    Bagaimana jika candaan atau guyonan tersebut mengandung kebohongan?

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan keras bagi seseorang yang berguyonan namun mengandung kebohongan. Diberitakan oleh Bahz bin Hakim, telah menceritakan kepadaku Ayahku dari kakekku, ia berkata: ” Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

     وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ

    “Celakalah orang yang berbicara kemudian berbohong agar orang lain mentertawakannya, celakalah dia, celakalah dia.”
    (HR. Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi)

    Selain banyaknya hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang seseorang untuk berbohong, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mensifati orang yang berbohong itu termasuk ke dalam golongan orang munafik.

    Bohong dalam rangka apapun akan melahirkan kebohongan lainnya. Sehingga disebutkan dalam pepatah “Bohong adalah pangkal dari dosa”.

    Baca Juga: Nongkrong Di Pinggir Jalan? Ingat 4 (Empat) Hal Ini

    Begitu besar bahaya bohong dalam Islam sehingga Allah subhanallahu wa ta’ala memasukkan orang yang suka berbohong ke dalam salah satu sifat orang tidak beriman.

    إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

    “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta”
    (QS. An-Nahl: 105).

    Maka untuk menjadi seorang mukmin yang sempurna, hendaklah tinggalkan kebohongan dalam bercanda meski sekecil apapun itu. Jika tidak ingin berkata namun ada unsur bohong maka diam adalah lebih baik baginya.

    Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

    لَا يُؤْمِنُ الْعَبْدُ الْإِيمَانَ كُلَّهُ حَتَّى يَتْرُكَ الْكَذِبَ فِي الْمُزَاحِ وَالْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ صَادِقًا  

    “Seorang hamba tidak beriman dengan sempurna, hingga ia meninggalkan berkata bohong saat bercanda dan meninggalkan debat walau ia benar.”
    (HR. Ahmad)

    Wallahu a’lam

    Penulis: Abu Samudera
    Editor: Al.Choer

  • Nongkrong Di Pinggir Jalan? Ingat 4 (Empat) Hal Ini!

    Nongkrong Di Pinggir Jalan? Ingat 4 (Empat) Hal Ini!

    Duduk-duduk di pinggir jalan pastinya sangat mengasikkan bagi sebagian orang. Melihat lalu lalang orang atau pun kendaraan bisa menyegarkan mata.

    Tapi tahukah Pembaca, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam melarang duduk-duduk di pinggir jalan, kecuali beberapa sebab sehingga perbuatan itu diperbolehkan.

    Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang dibawakan oleh Abu Sa’id Al-Khudry radhiallahu ‘anhu:

    إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! مَا لَنَا بُدٌّ مِنْ مَجَالِسِنَا; نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ: فَأَمَّا إِذَا أَبَيْتُمْ فَأَعْطُوا اَلطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا: وَمَا حَقُّهُ؟ قَالَ: غَضُّ اَلْبَصَرِ وَكَفُّ اَلْأَذَى وَرَدُّ اَلسَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ اَلْمُنْكَرِ
    “Jauhkanlah dirimu untuk suka duduk di jalan-jalan.” Mereka berkata: Wahai Rasulullah itu hanyalah bagian dari tempat duduk kami di mana kami biasa berbincang-bincang di sana. Beliau menjawab: “Jika kalian menolak (nasehat ini) maka berilah jalan kepada haknya.” Mereka bertanya: Apakah haknya؟. Beliau bersabda: “Menundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemungkaran.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

    Baca Juga: Malu Perisai Iman

    Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa pada awalnya Rasulullah saw melarang duduk-duduk di pinggir jalan. Namun para sahabat yang terbiasa melakukan itu memberi jawaban dan alasan kepada beliau bahwa mereka hanya berbincang-bincang saja. Sehingga beliau pun membolehkan dengan syarat memberikan hak orang lain yang lewat di jalan itu.

    Kewajiban orang yang sedang nongkrong di pinggir jalan menurut hadits di atas adalah:

    1. Menundukkan pandangan

    Firman Allah subhanallahu wa ta’ala:

    قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
    Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.
    (QS. An-Nur; 30)

    Mereka yang nongkrong di pinggir jalan wajib menundukkan pandangannya kepada orang yang lewat. Yaitu tidak memandangi orang yang lewat di jalan itu. Terkhusus adalah bagi para wanita yang tentunya sangat membuat tidak nyaman bagi mereka jika ada yang memandanginya.

    Selain itu, menundukkan pandangan pun akan menjaga hati orang tersebut dari fitnah yang lewat di dekatnya. Seperti kita ketahui, dijaman sekarang tak sedikit wanita keluar rumah dengan mengumbar aurat, atau ada pula yang tertutup tetapi pada hakekatnya adalah telanjang.

    Baca Juga: Keluhuran Akhlak Rasulullah ﷺ 

    2. Tidak mengganggu

    Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam :

    الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
    “Seorang muslim (yang sejati) adalah orang yang mana kaum muslimin lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya.”
    (Muttafaqun ‘Alaihi)

    Jika dengan memandangnya saja dapat mengganggu seseorang, bagaimana dengan gangguan lainnya? Baik gangguan dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Ini tentu lebih besar dosanya dibanding hanya memandangi.

    3. Menjawab salam

    Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam :

    يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي وَالْمَاشِي عَلَى الْقَاعِدِ وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ
    “Hendaknya orang yang berkendara memberi salam kepada yang berjalan, dan yang berjalan memberi salam kepada yang duduk dan (rombongan) yang sedikit kepada (rombongan) yang banyak.”
    (Muttafaqun ‘Alaihi)

    Kewajiban lainnya adalah menjawab salam ketika orang yang lewat itu mengucapkan salam.

    Baca Pelajaran ke-17 Madrasah Online: Hukum Seputar Mandi Wajib – Sebab, Syarat Dan Rukunnya

    4. Menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemungkaran

    Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, disampaikan oleh Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu :

    مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
    “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” 
    (HR. Muslim; 70)

    Sebab duduk-duduk di pinggir jalan itulah ia dapat melihat dan mengetahui sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Beragam orang akan melewatinya dan tak jarang terjadi kemunkaran. Maka kewajiban ia adalah melarang kemungkaran itu.

    Wallahu a’lam

    Penulis: Abu Samudera
    Editor: Al.Choer

  • Malu Perisai Iman

    Malu Perisai Iman

    Salah satu bagian dari keimanan seseorang adalah memiliki rasa malu. Dengan adanya rasa malu, orang yang beriman akan memikirkan terlebih dahulu segala tindakannya. Hal ini tentu berbalik dengan orang tak memiliki rasa malu. Hingga dapat dikatakan tak ada keimanan dalam diri orang tersebut.

    Sebagai fitrah manusia, rasa malu harus menjadi pakaian keseharian setiap orang. Dari adanya rasa malu itulah seseorang akan menahan diri dari perbuatan tercela dan perbuatan buruk. Yang jika sudah hilang rasa malu maka ia akan berbuat sesuka hati.

    Rasulullah ﷺ bersabda, sebagimana telah disampaikan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

    مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
    “Sesungguhnya yang diperoleh manusia dari ucapan kenabian yang pertama adalah jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.”
    (HR Bukhari; 5655)

    Baca Juga: Keluhuran Akhlak Rasulullah ﷺ 

    Dari hadits di atas dapat dipahami bahwa jika kamu tidak memiliki rasa malu terhadap celaan orang lain dari apa yang kamu kerjakan maka kerjakan saja semaumu.

    Maksud hadits ini adalah ancaman bagi orang yang tidak memiliki rasa malu sehingga ia melakukan perbuatan tercela sesukanya, dengan ancaman pembalasan yang akan menderanya di akhirat.

    Baca Pelajaran ke-17 Madrasah Online: Hukum Seputar Mandi Wajib – Sebab, Syarat Dan Rukunnya

    Betapa pentingnya kedudukan rasa malu sehingga Rasulullah ﷺ  mendudukannya dalam akhlak Islam dan barometer keimanan seseorang. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :

    الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ
    “Malu itu adalah sebagian dari iman.”
    (HR. Muslim; 52, Tirmidzi; 2540)

    Maka untuk menumbuhkan perisai iman ini, seseorang haruslah banyak merenungi segala nikmat yang telah Allah limpahkan kepadanya. Disamping itu pula, ia harus sadar bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah swt, dicatat segala perbuatannya dan akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak.

    “Sifat malu itu tidak datang kecuali dengan kebaikan.”
    (HR Bukhari; 5652, Muslim; 53)

    Wallahu a’lam

    Penulis: Abu Samudera
    Editor: Al.Choer

  • Keluhuran Akhlak Rasulullah ﷺ 

    Keluhuran Akhlak Rasulullah ﷺ 

    Nabi Muhammad ﷺ adalah Nabi terakhir yang diutus untuk umat manusia. Sebagai Nabi pamungkas – penutup para nabi dan rasul – tentu memiliki kesempurnaan, baik kesempurnaan risalah yang dibawa maupun kesempurnaan akhlak sebagai pribadi di tengah keluarga maupun masyarakat.

    Banyak sekali akhlak yang patut kita tiru dari perbuatan Rasulullah ﷺ yang semasa hidup telah beliau contohkan kepada para sahabat. Maka tak bisa dipungkiri bahwa beliau adalah teladan bagi umatnya. 

    Perlakuan beliau kepada Fatimah ra sebagai anak, terekam jelas oleh istri beliau ‘Aisyah ra: “Jika Fatimah datang menemui beliau, maka beliau berdiri, meraih tangannya, mencium dan mendudukkannya di tempat duduknya. Dan jika beliau datang menemuinya, maka ia akan meraih tangan beliau, mencium dan mendudukkannya di tempat duduknya.” (HR Abu Daud; 4540)

    Dari sini dapat dilihat bagaimana Rasulullah ﷺ sangat menyayangi dan memberikan kehormatan sekalipun kepada anak. Tak malu untuk berdiri, mencium tangan dan kening lalu memberikan tempat duduk beliau kepada Fatimah ra.

    Baca Juga: Rumah Seperti Surga (1)

    Perlakuan tersebut merupakan salah satu bukti nyata dari sabda beliau yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah dan Ibnu Abbas ra:

    خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
    “Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.”
    (HR Tirmidzi; 3830 dan Ibn Majah; 1967)

    Khusus kepada para istri, sabda Rasulullah ﷺ dari Abi Hurairah ra:

    أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا 
    “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap para istrinya.“
    (HR. Tirmidzi; 1082)

    Rasulullah ﷺ pun berpesan kepada para sahabat dan diteruskan kepada para pengikutnya saat haji wada’ dari Amr bin Al Ahwash: “Ketahuilah; hak istri kalian atas kalian ialah kalian berbuat baik kepada mereka dalam (memberikan) pakaian dan makanan (kepada) mereka.”
    (HR. Tirmidzi; 1083)

    Baca Juga: 5 Alasan Penting Pendidikan Al-Qur’an Sejak Usia Dini

    Dalam Shohih Bukhori disebutkan pertanyaan Al-Aswad kepada ‘Aisyah ra: “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah tentang apa yang dikerjakan Nabi ﷺ ketika berada di rumah. Maka ‘Aisyah pun menjawab, “Beliau selalu membantu keluarganya, jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakannya.”
    (HR. Bukhori; 635)

    Riwayat lain dari Imam Ahmad: “Dari ‘Aisyah ra, ia pernah ditanya mengenai apa yang diperbuat oleh Nabi ﷺ ketika di rumahnya. Ia menjawab; “Beliau menjahit bajunya, mengesol sandalnya, dan beliau melakukan sebagaimana yang dilakukan para lelaki di rumah mereka.” (HR. Ahmad; 25039)

    Hadits ini menjadi petunjuk bahwa dalam keseharian di rumah pun, Rasulullah ﷺ tetap membantu pekerjaan istri dan dari perilaku beliau terhadap para istri dan anak maka tercipta keharmonisan rumah tangga. Perilaku beliau tidak hanya nampak di luar rumah saat bermasyarakat tetapi dalam rumah tangga pun sangat terpuji.

    Sedangkan kepada pembantu pun Rasulullah ﷺ tetap menjaga sangat menjaga diri dari menyakiti perasaannya, sebagaimana telah diberitakan oleh Anas bin Malik ra selaku pelayan di rumah Rasulullah ﷺ : “Aku menjadi pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Demi Allah, selama itu beliau tidak pernah berkata “Uff’ (Hus) kepadaku, dan tidak pernah membentakku dengan perkataan: “Hai, kenapa engkau perbuat begitu!” (HR. Bukhori; 5578: Muslim; 4269)

    Demikianlah akhlak Rasulullah ﷺ baik dalam rumah tangga maupun di masyarakat. Tak ada kekurangan dan aib beliau dalam berprilaku sebagaimana orang biasa. Maka bahwa beliau adalah benar-benar suritauladan bagi seluruh ummat.

    Maha Benar Allah ﷻ dalam firmanNya:

    وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
    “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang baik.”
    (QS Al-Qalam: 4)

    Penulis: Abu Samudera
    Editor: Al.Choer

  • Umat Islam Yang Diumpamakan Seperti Jeruk

    Tidak ada suatu nikmat yang Allah ﷻ berikan kepada setiap hamba-Nya selain nikmat untuk bisa dekat dengan al-Qur’an. Karena betapa banyak umat Islam yang ingin mendedikasikan dirinya untuk bisa dekat dengan al-Qur’an namun belum diberikan nikmat ini oleh Allah.

    Makna ‘Dekat’ disini bukanlah karena jarak, melainkan dekat karena bisa terus membacanya, mentadabburinya, menghafalnya, serta mengamalkannya. Sebagaimana Rasulullah bersabda yang disampaikan oleh Abu Musa al-Asy’ari ra:

    مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الأُتْرُجَّةِ؛ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ, وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ؛ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ, وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ؛ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ, وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

    “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur’an adalah seperti buah utrujjah, baunya sedap dan rasanya pun lezat. Sedang orang mukmin yang tidak membaca al-qur’an adalah seperti buah kurma, tidak berbau tetapi rasanya manis. Adapun orang munafiq yang membaca Al Qur’an adalah seperti buah raihanah, baunya harum, namun rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafiq yang tidak membaca al-qur’an adalah seperti buah hanzhalah, tidak berbau dan rasanya pahit.” (HR. Bukhori; 5427 dan Muslim; 797)

    Baca Juga: Pendaftaran PG TAUD SAQU Angkatan XV

    Ustadz Dr. Didik Hariyanto., Lc., M.P.I menjelaskan apa itu Utrujjah. Beliau menuturkan bahwa Utrujjah adalah sejenis buah Jeruk yang teksturnya lembut, aromanya harum, rasanya manis dan menggugah selera. Begitulah perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an.

    Secara kejiwaan ia akan memiliki aura yang baik dan positif. Namun seorang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an, ia seperti kurma yang manis namun tidak beraroma harum. Kepribadiannya tetap baik namun tidak sebaik-sebaik golongan orang yang totalitas memberikan waktunya untuk al-Qur’an.

    Ilustrasi dari hadits di atas di atas telah memberikan pesan kuat bahwa membaca al-Qur’an dengan intensitas tertentu dapat mempengaruhi kualitas kepribadian seseorang, sehingga semakin sering membaca al-Qur’an, akan semakin terasa nyata al-Quran menjadi ruh di dalam kehidupannya.

    Baca Juga: Pendaftaran Graha Qur’an Online Angkatan 3

    Dapat dipahami bahwa umat Islam yang diumpamakan seperti kurma ini adalah orang-orang yang secara individual memiliki kualitas kepribadiannya baik, tetapi kesalehan individualnya tidak diimbangi dengan kesalehan sosial, minimnya berinteraksi dengan al-Quran menjadikan hatinya tumpul tidak peka dan kualitas imannya tidak mampu menampilkan rasa empati dan kepedulian sosial.

    Dan penggambaran bagi umat Islam yang seperti Utrujjah ini adalah mereka yang maka seseorang dengan karakter buah ini adalah pribadi yang menyenangkan lahir dan bathin; tampilan lahirnya sama baiknya dengan kondisi hatinya; bukan hanya sholeh secara individu, tetapi juga sholeh secara sosial karena kehadirannya banyak memberikan manfaat bagi manusia lainnya.

    (Ditulis oleh Prince of Al Hambra, disadur dari tausiyah Ustadz Dr Didik Hariyanto. Lc., M.P.I saat Liqo Maftuh)

    Editor: Al.Choer

  • Berbakti Kepada Orang Tua

    Berbakti Kepada Orang Tua

    Dalam salah satu wasiatnya, Rasulullah menyampaikan bahwa misi utama risalah beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

    “Sesungguhnya aku diutus menjadi seorang rasul tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang Saleh atau akhlak yang baik.” 

    Dengan pesan serupa, sebuah riwayat lain menyebutkan:

    لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

    “Yaitu untuk menyempurnakan  Akhlak Yang Mulia.”

    Demikianlah. Di antara beberapa tugasnya, Allah subhaanahu wa ta’ala menugaskan Rasulullaah untuk menyempurnakan akhlak manusia untuk menjadi akhlak yang baik dan mulia. Inilah salah satu tugas khusus sekaligus tugas utama beliau. Inilah salah satu misi tertinggi beliau.

    Kemuliaan akhlak bukan hanya diwasiatkan oleh Rasulullah, melainkan merupakan wasiat Allah subhaanahu wa ta’ala dalam beberapa ayat dalam al Quran. Dengan kata lain, kemuliaan akhlak juga merupakan wasiat Allaah subhaanahu wa ta’ala. Ini kemudian menjadi sebuah pertimbangan tersendiri bagi al Imam Bukhari ketika memasukkan wasiat terkait kemuliaan akhlak dalam kitab beliau yaitu Kitab Adab al Mufrad.

    Dalam kitab tersebut Imam al Bukhari mencantumkan salah satu wasiat Allah subhaanahu wa ta’ala tentang kemuliaan akhlak:

    وَوَصَّيۡنَا الۡاِنۡسَانَ بِوَالِدَيۡهِ حُسۡنًا‌

    “Dan kami wasiatkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orangtuanya.”

    Maasyaallah. Dengan berbakti kepada orang tua kita berarti kita sedang menjalankan wasiat Allah yang juga diwasiatkan oleh Rasulullah. Dan wasiat ini adalah misi utama kenabian Rasulullaah. Amal ini sudah barang tentu memiliki kedudukan yang istimewa.  

    Dalam kitab Adab al Mufrad juga Imam Bukhori radhiallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat yang mulia Abdullah bin umar radhiallahu ‘anhu. Beliau berkata:

    – قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ: ((الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا)). قَالَ ثُمَّ أَيُّ قَالَ: ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْن قَالَ ثُمَّ أَيّ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ 

    “Wahai Rasulullah Apakah perbuatan yang paling dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala?” maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun menjawab:“Yaitu salat pada waktunya”. Kemudian beliau kembali bertanya: “Apa lagi ya Rasulullah?” Rasulullah kembali menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua”. Kemudian beliau kembali bertanya: “Apalagi ya Rasulullah?” Rasulullah kembali menjawab: “Berjihad di jalan Allah”.

    Hadits di atas kembali menegaskan keistimewaan akhlak mulia khususnya berbakti kepada orang tua. Amalan ini memiliki posisi yang tinggi lagi mulia di sisi Allah ta’ala.

    Mengapa Allah dan RasulNya menekankan kepada kita untuk berbakti kepada kedua orang tua? Jawabannya bisa kita lihat dalam riwayat yang juga disampaikan oleh sahabat Abdullah bin umar. Beliau mengatakan:

    _عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ , وَسُخْطُهُ فِي سُخْطِهِمَا

    Dari Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ridha Allah terdapat pada ridha kedua orangtua, dan murka Allah juga terdapat pada murka kedua orangtua.”

    Ridha Allah ada pada keridhoan kedua orang tua kita. Demikian sebaliknya. Itulah sebabnya mengapa wasiat berbuat baik kepada kedua orang tua sangat dijunjung tinggi, Serta mulia di sisi Allah azza wa jalla.

    Mari kita senantiasa berdo’a kepada Allah. Semoga kita diberikan hidayah dan petunjukNya dalam mengamalkan wasiat berupa berbakti kepada orang tua kita.

    *Adalah alumni Universitas Islam Madinah, Dosen STIU Wadi Mubarak, Mudir Ma’had Miftahul Jannah Akbar, Cisarua.

    Penulis Naskah: UKM Mushaf STIU-WM

    Editor: Bagas Widigdo