Penulis: Editor Wadi Mubarak

  • Profesi Mulia Dunia Akhirat (2)

    Profesi Mulia Dunia Akhirat (2)

    Berikut beberapa kemulian yang Allah berikan kepada para pengajar Al Quran, yang mana tentunya merekalah orang-orang yang senantiasa bercengkrama dengan Al Quran dalam hidup mereka

    Kemuliaan di Dunia

    Pertama, dia didahulukan untuk menjadi imam ketika shalat jamaah

    Dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,

    يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ.

    “Yang paling berhak jadi imam adalah yang paling banyak hafalan al-Quran-nya. Jika dalam hafalan quran mereka sama, maka didahulukan yang paling paham dengan sunnah..”
    (HR. Muslim)

    Kedua,  ketika meninggal dia didahulukan

    Jabir bin Abdillah ِ radhiyallahu ‘anhuma  bercerita,

    Nabi ﷺ menggabungkan dua jenazah uhud dalam satu kain kafan. Setiap hendak memakamkan, beliau tanya, “Siapa yang paling banyak hafalan qurannya?”

    Kemudian Nabi ﷺ memposisikan yang paling banyak hafalannya di posisi paling dekat dengan lahat. Lalu beliau bersabda:

    أَنَا شَهِيدٌ عَلَى هَؤُلاَءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

    “Saya akan menjadi saksi bagi mereka kelak di hari kiamat”
    (HR. Bukhari)

    Baca juga: Menjadi Pendidik Yang Positif

    Ketiga, diutamakan untuk menjadi pemimpin jika dia mampu memagangnya

    Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah, beliau menunjuk Nafi’ bin Abdul Harits untuk menjadi gubernur di Mekah.

    Suatu ketika, Umar bertemu Nafi’ di daerah Asfan.

    “Siapa yang menggantikanmu di Mekah?” tanya Umar.

    “Ibnu Abza.” Jawab Nafi’.

    “Siapa Ibnu Abza?” tanya Umar.

    “Salah satu mantan budak di Mekah.” Jawab Nafi’.

    “Mantan budak kamu jadikan sebagai pemimpin?” tanya Umar.

    “Dia hafal al-Quran, dan paham tentang ilmu faraid.” Jawab Nafi’.

    Kemudian Umar mengatakan, bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:

    إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

    “Sesungguhnya Allah mengangkat sebagian kaum berkat kitab ini (al-Quran), dan Allah menghinakan kaum yang lain, juga karena al-Quran.”
    (HR. Muslim)

    Kemuliaan di Akhirat

    Pertama, , kedudukannya di surga, sesuai banyaknya ayat yang dia hafal

    Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda:

    يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

    Ditawarkan kepada penghafal al-Quran, “Baca dan naiklah ke tingkat berikutnya. Baca dengan tartil sebagaimana dulu kamu mentartilkan al-Quran ketika di dunia. Karena kedudukanmu di surga setingkat dengan banyaknya ayat yang kamu hafal.”
    (HR. Abu Daud)

    Baca juga: Nabi Zakaria As, Kisah Inspiratif Sepanjang Masa (2)

    Kedua, di akhirat, akan diberi mahkota dan pakaian kemuliaan

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

    يَجِىءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً

    Al-Quran akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, “Ya Allah, berikan dia perhiasan.” Lalu Allah berikan seorang hafidz Al-Quran mahkota kemuliaan.
    Al-Quran meminta lagi, “Ya Allah, tambahkan untuknya.” Lalu dia diberi pakaian perhiasan kemuliaan.
    Kemudian dia minta lagi, “Ya Allah, ridhai dia.” Allah-pun meridhainya.
    Lalu dikatakan kepada hafidz quran, “Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca.
    (HR. Turmudzi).

    Ketiga, Al Quran memberi syafaat baginya

    Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

    اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

    “Rajinlah membaca Al Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat.”
    (HR. Muslim).

    Itulah beberapa bukti bahwa Allah muliakan orang yang mengajarkan Al Quran saat di dunia dan kelak di akherat sana, dan tentunya masih banyak lagi dali-dalil menunujakan akan keutamaan dan kemulian para pengajar Al Quran.

    Oleh karena itu jangalah anda berkecil hati ketika anda hanya mampu mengajari segelintir orang saja atau mungkin hanya anak-anak kecil disekitar anda untuk membaca Al Quran. Karena itu adalah kemulian tersendiri yang bahkan banyak orang tak mampu meraihnya.

    Maka disaat manusia berlomba meraih profesi menjadi seorang dokter atau seorang dosen ilmu pengetahuan umum dan segenap profesi yang identik dengan perkara dunia, menjadi pengajar Al Quran merupakan sebuah profesi yang erat kaitannya dengan kemuliaan dunia dan akhirat, adakah yang lebih mulia bagi seorang muslim dibandingkan hal itu ?

    Wallahu a’lam bis showab..

    Referensi:
    *Akhlak Ahlul Quran, Muhammad bin Al Hasan Al Ajury
    *Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqholany

    Editor: Ummu Fahdlan//Al.Choer

    Baca sebelumnya: Profesi Mulia Dunia Akhirat (1)

  • Profesi Mulia Dunia Akhirat (1)

    Profesi Mulia Dunia Akhirat (1)

    Oleh Muhammad Fatwa Hamidan, alumni Pondok Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta

    Setiap manusia pasti ingin meraih sebuah kemuliaan baik itu kemuliaan disisi manusia lainnya dan terlebih lagi kemuliaan disisi Allah ﷻ.

    Mendapatkan kemulian dunia dan akherat, ya itulah dambaan banyak insan di dunia ini, kemuliaan di dunia denga banyak orang yang menghormati dan mengambil mafaat darinya serta kemuliaan diakherat dengan Allah tinggikan derajatnya diantara makhluk-makhluk Allah lainnya.

    Lantas bagaimanakah cara meraih kemuliaan tersebut?

    Jadilah pengajar Al Quran jawabannya.

    Bagaimana bisa menjadi pengajar Al Quran dapat membuat seseorang mulia dunia dan akherat ?

    Mari kita simak penjelasan berikut ini.

    Dari Abdurrahman As Sulamy dari sahabat Utsman bin Affan ra , Rasulullah ﷺ  bersabda:

    خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القرآنَ وَ عَلَّمَهُ

    “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
    (HR. Bukhori)

    Baca juga: Rumah Seperti Surga (1)

    Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan : ”Diantara amal yang paling mulai adalah mengajar orang lain. Orang yang mengajar orang lain, menjadikan pembelajaran dan pengajarannya itu amal dan manfaat bagi orang lain.

    Al-Quran adalah ilmu yang paling utama. Sehingga orang yang mempelajari dan mengajarkannya kepada orang lain lebih mulia dibandingkan dengan yang mepelajari selain Al-Quran.

    Tidak diragukan bahwa orang yang menggabungkan antara belajar dan mengajarkan Al-Quran ia telah menyempurnakan dirinya dan orang lain, menggabungkan manfaat untuk dirinya dan orang lain.

    Oleh karena itu ia lebih utama, dan ia termasuk orang yang dimaksud dalam firman Allah ﷻ :

    وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِيْن

    “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”
    (QS. Fushilat: 33)

    Mengajak kepada Allah ﷻ dilakukan dengan bermacam cara. Diantaranya adalah dengan mengajar Al-Qur’an. Bahkan ia adalah yang paling mulai dari semuanya.” (Fathul Bari: 9/76)

    Baca juga: 5 Alasan Penting Pendidikan Al-Qur’an Sejak Usia Dini

    Rasulullah ﷺ  bersabda:

    إنَّ اللّٰه وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهل السَمَوَات وَالأَرْضِيْن حَتَّى النَمْلَة فِي جحرها وَحَتَّى الحوت لَيُصَلوْن عَلَى مُعَلِّمِ النَاسَ الخَيْر

    “Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penduduk langit-langit dan bumi, hingga semut di lubangnya, dan hingga ikan, bershalawat untuk orang yang mengajarkan manusia kebaikan.”
    (HR. Tirmidzi dan beliau berkata, hadits ini hasan shahih gharib)

    Yang dimaksud dengan kebaikan di sini adalah agama dan segala yang dapat menyelamatkan manusia. Dan Al-Qur’an adalah kebaikan yang paling utama untuk diajarkan kepada oranglain, bahkan setiap kali ayat yang telah diajarkan kepada oranglain, ia akan mendapat pahala darinya. Bayangkan, sekalipun ia sedang tidur pahala terus datang dan mengalir kepadanya, saat orang yang pernah diajarinya Al-Qur’an itu membacanya.

    Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasululah ﷺ  bersabda:

    مَنْ عَلَّمَ آية مِنْ كِتَابِ اللّٰه عزَّ وَجَل، كَانَ لَهُ ثَوَابُهَا مَا تُلِيَت

    “Siapa saja yang mengajarkan satu ayat dari kitab Allah, maka baginya pahala ayat tersebut selama ayat itu dibaca.” (Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah: 1335)

    (bersambung ke Bag. 2)

    Baca sebelumnya: Rumah Seperti Surga (2)

  • Rumah Seperti Surga (2)

    Rumah Seperti Surga (2)

    Di samping sisi keindahan, “keberkahan” adalah hal penting yang harusnya hadir di rumah kita. Setiap orang pasti mendambakan kehidupan yang penuh berkah.

    Berkah, dalam bahasa Arab disebut barakah, yakni kebaikan yang melimpah (al-khair al-wafir). Rumah yang diberkahi berarti rumah yang dilimpahi kebaikan dan selalu mendapat petunjuk Allah.

    Oleh karena itu, agar rumah kita diberkahi Allah ﷻ maka perlu upaya untuk mewujudkannya, antara lain:

    Pertama, tempat pendidikan.

    Yakni, rumah menjadi tempat pendidikan bagi anggota keluarganya. Khususnya Pendidikan Tauhid dan Keimanan. Sebab tauhid dan iman adalah pondasi yang menguatkan pribadi setiap anggota keluarga. Bencana dunia akan mudah dilewati jika tauhid dan iman tertancap kuat di hati.

    Baca Juga:
    5 Alasan Penting Pendidikan Al-Qur’an Sejak Usia Dini
    Menjadi Pendidik Yang Positif

    Kedua, tempat tilawah al-Qur’an.

    Rumah senantiasa dihiasi dengan lantunan tilawah. Tiap saat yang terdengar adalah untaian hikmah. Bukan sekedar obrolan ringan apalagi ghibah (membicarakan orang lain). Tilawah, dilakukan oleh semuanya, baik suami maupun istri. Karena orangtua adalah teladan bagi anak-anaknya.

    Allah ﷻ berfirman:

    وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا
    “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui”
    (Q.S. Al-Ahzab [33]: 34).

    Dari Abu Hurairah, Rasulullahﷺ  bersabda,

    لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
    “Janganalah jadikan rumah kalian seperti kuburan, karena setan itu lari dari rumah yang didalamnya dibacakan surat al-Baqarah.”
    (HR. Muslim no. 1860)

    Ketiga, tempat menegakkan sholat.

    Kita dianjurkan untuk banyak melakukan shalat sunnah di rumah. Lakukanlah shalat-salat sunnah rawatib (shalat sunnah pengiring shalat wajib, baik qobliyah maupun ba’diyah), tahajjud, dan dhuha di rumah kita.

    Rasulullahﷺ bersabda:

    أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة

    “Shalat yang utama bagi seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat-shalat wajib”
    (H.R. Al-Bukhari No. 7290).

    Dalam hadits lainnya, Rasulullahﷺ bersabda:

    اجعلوا في بيوتِكم من صلاتِكم، ولا تتَّخِذوها قبورًا

    “Jadikanlah rumah kalian sebagai tempat shalat kalian, jangan jadikan ia sebagai kuburan”
    (H.R. Al-Bukhari No. 432, 1187, Muslim No. 777)

    Baca Juga:
    Informasi Pendaftaran PG TAUD Angkatan XV
    Informasi Pendaftaran Graha Qur’an Online Angkatan 3

    Bagaimana “Surga”-mu?

    Hingga detik ini, sudah kerasankah kita berada di rumah? Apakah rumah telah menjadi tempat kembali yang selalu dirindukan? Jika belum demikian, sudah saatnya kita muhasabah diri.

    Walau ia hanya sementara, tapi ketahuilah bahwa dari rumah peradaban itu bermula. Sehingga “kekokohan” rumah tidak bergantung pada fisik bangunan semata. Melainkan pada tiap nilai yang ditanamkan pada orang di dalamnya.

    Jika kita berharap hadirnya Surga di rumah kita, maka berupayalah untuk menjadikan rumah kita sebagai tempat yang indah lagi berkah. Keindahan diwujudkan dengan memelihara kebersihan dan kesederhanaan.

    Adapun keberkahan dapat dituai dengan menjadikan rumah sebagai tempat beribadah, mulai dari pendidikan tauhid dan keimanan, hingga tempat tilawah dan shalat ditegakkan.

    Pada akhirnya, semoga Allah ﷻ menjadikan rumah kita di dunia ini serasa Surga, dan semoga kita memiliki rumah di Surga kelak. Sebagaimana do’a Maryam bintu Imran:

    إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

    “…ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga…”
    (Q.S. At-Tahrim [66]: 11).

    Editor: Ummu Fahdlan//Al.Choer

    Baca Sebelumnya: Rumah Seperti Surga (1)

  • Rumah Seperti Surga (1)

    Rumah Seperti Surga (1)

    Ditulis oleh: Agus Fadilla Sandi, Ketua Bagian Kepengasuhan STIU-WM

    Firman Allah ﷻ

    وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّن بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُم مِّن جُلُودِ الْأَنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ ۙ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ

    “Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).”
    (Q.S. An-Nahl [16]: 80)

    “Rumahku Surgaku”, demikianlah ungkapan yang didambakan banyak orang. Berharap keindahan dan keberkahan yang ada di Surga dapat dirasakan sejak hidup di dunia. Sebab tidak ada jaminan, bahwa kita dapat merasakan Surga di akhirat kelak. Maka setidaknya, saat hidup di dunia ini kita berupaya menjadikan Rumah kita serasa Surga.

    Hakikat Rumah

    Secara bahasa, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rumah/ru·mah/ n, berarti: bangunan untuk tempat tinggal; bangunan pada umumnya (seperti gedung). Adapun dalam bahasa Arab, rumah disebut بَيْت (baitun). Baitun berasal dari kata kerja باتَ (baa-ta) yang artinya; bermalam.

    Baca Juga:
    5 Alasan Penting Pendidikan Al-Qur’an Sejak Usia Dini
    Menjadi Pendidik Yang Positif

    Berdasarkan defenisi tersebut, maka “rumah” dalam bahasa Indonesia lebih ditekankan pada makna fisik bangunan, sedangkan dalam bahasa arab bermakna fisik dan fungsi (bermalam).

    Melihat makna dan fungsi rumah di atas, maka idealnya rumah dijadikan sebagai tempat tinggal yang sifatnya sementara atau sekedar bermalam. Bermalam di rumah dimaksudkan untuk mendapatkan ketenangan dari yang sebelumnya bergejolak. Yakni, gejolak kehidupan dunia sejak pagi hingga senja.

    Sejalan dengan firman Allah ﷻ dalam Surat An-Naba’ [78] ayat 10-11: وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا (dan Kami jadikan malam sebagai pakaian), وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا (dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan).

    Rumah hanyalah tempat singgah, bukan tempat bermegah. Tempat sekedar menyimpan berkas, bukan menimbun emas. Tempat untuk beristirahat, bukan tempat hati tertambat. Rumah yang hakiki bukan tentang fisik dan perkakasnya, tapi tentang orang dan nilai yang ada di dalamnya.

    Dengan demikian, pembahasan rumah tidak sebatas tentang desain bangunan, lebih penting dari itu adalah bagaimana mengokohkan tiap individu dan menumbuhkembangkan nilai-nilai mulia di dalamnya.

    Rumah Indah nan Berkah

    Rumah bukanlah segalanya, tapi ia menjadi sarana hidup di dunia. Dari rumah yang baik akan lahir generasi yang baik pula. Sebab rumah adalah sarana pendidikan karakter bagi setiap anggota keluarga.

    Rumah akan terasa layaknya Surga jika ia diliputi oleh keindahan dan keberkahan. Sehingga tiap orang di dalamnya merasakan ketenangan dan kenyamanan. Layaknya Penghuni Surga yang ingin kekal di dalamnya.

    Keindahan tidak dapat diraih hanya sekedar memperbanyak aksesoris di dalam rumah. Namun lebih dari itu, ialah menjaga nilai kebersihan dan kesederhanaan. Menjaga kebersihan merupakan bagian penting dalam Islam. Allah ﷻ berfirman dalam Surat At-Taubah [9] ayat 108, وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ (Allah Menyukai orang-orang yang bersih).

    Adapun kesederhanaan merupakan sikap hidup yang berkecukupan dan tidak berlebihan. Disebutkan dalam Hadits, bahwa kesederhanaan adalah bagian dari iman. Rasulullah bersabda, أَلَا تَسْمَعُونَ إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ، إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ “Dengarkanlah sesungguhnya kesederhanaan sebagian dari iman, sesungguhnya kesederhanaan sebagian dari iman.” (H.R. Abu Dawud).

    Baca Juga: Keutamaan Mendengarkan Al-Qur’an, Bagian 1

    Selaku Umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita perlu meneladani bagaimana potret rumah beliau semasa hidup. Rasulullah menjalani hidup dengan cara yang sangat sederhana. Sebagai pemimpin umat, beliau tidak tinggal di rumah mewah apalagi istana yang megah.

    Sebaliknya, Rasulullah tinggal di rumah yang hampir menyerupai gubuk. Kala berada di Madinah, rumah beliau bersama Aisyah hanya berukuran sekitar 5 x 4,5 meter dan tingginya 3 meter, berlantaikan tanah. Di dalamnya hanya ada sebuah kamar berukuran 3 x 3,5 meter dengan tempat tidur berupa tikar yang sederhana.

    Aisyah radhiallahu anha menuturkan, “Sering kali kami melewati masa hingga 40 hari, sedang di rumah kami tidak pernah ada lampu yang menyala dan dapur kami tidak pernah mengepul. Maka orang yang mendengarnya bertanya, ‘Jadi apa yang kalian makan untuk bertahan hidup?’ Aisyah menjawab, “Kurma dan air saja, itu pun jika dapat,” (HR. Ahmad).

    Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Baihaqi, Ummul mukminin menuturkan, “Rasulullah tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut. Sebenarnya jika kita mau, kita bisa kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain yang lapar daripada dirinya sendiri.”

    Demikian gambaran keindahan rumah Sang Teladan. Senantiasa bersih dan sederhana yang akhirnya berbuah pada kenyamanan. Sebaliknya, rumah yang mewah dan megah hanya akan menambatkan hati pemiliknya pada cinta dunia yang berlebihan. Menjadi lalai dari hakikat hidup yang sementara.

    Allah ﷻ telah mengingatkan keadaan manusia yang lalai melalui firman-Nya:

    أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2)

    “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur” (
    Q.S. At-Takatsur [102]: 1-8)

    Editor: Ummu Fahdlan//Al.Choer

    Baca Sebelumnya: Macam-Macam Air – Air Suci Namun Tidak Mensucikan & Air Najis

  • Macam-Macam Air – Air Suci Namun Tidak Mensucikan & Air Najis-

    Macam-Macam Air – Air Suci Namun Tidak Mensucikan & Air Najis-

    🕌 Program Madrasah Online Fiqih – Wadi Mubarak
    📚 Pelajaran ke-8
    🗓️ Hari (Kamis), Tanggal 4 Muharram 1442 H. / 12 Agustus 2021 M

    ( Tema | MACAM-MACAM AIR – AIR SUCI NAMUN TIDAK MENSUCIKAN & AIR NAJIS – )
    Oleh Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I.

    💠 AIR SUCI NAMUN TIDAK MENSUCIKAN
    • Air Musta’mal:
    – Air Bekas Dipakai Bersuci
    – Air yang Jatuh dari Badan
    – Air yang Sedikit

    • Air yang Bercampur Dengan Benda-Benda yang Suci

    💠 AIR NAJIS
    {Apabila Air Terkena Najis Maka Ada 2 Hukum}

    1. Apabila Airnya Sedikit
    – Air yang Dibawah 2 Kulah (193 Liter) dan Terkena Najis, Berubah Maupun Tidak Berubah 3 Unsurnya (Warna, Bau, dan Rasa Air Tersebut), Maka Hukum Air Tersebut Menjadi Najis.

    2. Apabila Airnya Banyak
    – Apabila Tidak Berubah Warna, Bau, dan Rasanya Maka Tetap Suci.
    – Hukum Air Tersebut Menjadi Najis Apabila Berubah Warna, Bau, dan Rasanya.

    📌 Perkuat & Simak Rincian Materi Melalui Link Video Dibawah ini 👇🏻

    Baca juga
    Pelajaran ke-7: Macam-Macam Air
    Pelajaran ke-9: Pengertian Hadats Kecil Dan Pengaruhnya

    ➖➖➖➖➖
    .
    .
    Jika Ada yang Ingin Ditanyakan dari Hasil Pemaparan Materi, Silahkan Diajukan Dengan Mengisi Google Form Berikut:
    https://forms.gle/WQaeJsN4Ns1Nu63y9
    ➖➖➖➖➖
    💭 Bagikan manfaat dan ringkasan materi anda dengan Hashtag #WadiMubarak dan Tag akun Official Bimbel SaQu & Islamic Center Wadi Mubarak di Instagram atau di Facebook
    ➖➖➖➖➖
    .
    .
    Find Us On :
    Instagram;
    •Bimbel SaQu : https://instagram.com/bimbelsaqu_wm?igshid=1byytnk9u70bs
    •ICWM : https://instagram.com/ic_wadimubarak?igshid=16yvuiperya78
    •Nur Ramadhan : https://instagram.com/nurramadhan_wisata?utm_medium=copy_link
    •Anugerah Wisata : https://instagram.com/acm.anugerahwisata?utm_medium=copy_link
    🔗 Web : https://wadimubarak.com

  • Macam-Macam Air

    🕌 Program Madrasah Online Fiqih – Wadi Mubarak
    📚 Pelajaran ke-7
    🗓️ Hari (Rabu), Tanggal 3 Muharram 1442 H. / 11 Agustus 2021 M

    (Tema | MACAM-MACAM AIR)
    Oleh Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I.

    🖊️ {Secara Global, Air di dalam Bersuci atau Thaharah Dibagi Menjadi Tiga}

    💠 1. Air Muthlaq;
    Air Muthlaq Adalah Air yang Suci dan bisa Mensucikan dari Hadats ataupun Najis

    • Hukum Pemakaian Air Muthlaq;
    – Mubah
    – Makruh: Air yang Panas Karena Terkena Sinar Matahari.
    – Haram: Air Curian

    💠 2. Air Suci Namun Tidak Mensucikan

    💠 3. Air Najis

    📌 Perkuat & Simak Rincian Materi Melalui Link Video Dibawah ini 👇🏻

    Baca juga
    Pelajaran ke-6: Bersuci Dari Hadats
    Pelajaran ke-8: Macam-Macam Air -Air Suci Namun Tidak Mensucikan & Air Najis

    ➖➖➖➖➖
    .
    .
    Jika Ada yang Ingin Ditanyakan dari Hasil Pemaparan Materi, Silahkan Diajukan Dengan Mengisi Google Form Berikut:
    https://forms.gle/WQaeJsN4Ns1Nu63y9
    ➖➖➖➖➖
    💭 Bagikan manfaat dan ringkasan materi anda dengan Hashtag #WadiMubarak dan Tag akun Official Bimbel SaQu & Islamic Center Wadi Mubarak di Instagram atau di Facebook
    ➖➖➖➖➖
    .
    .
    Find Us On :
    Instagram;
    •Bimbel SaQu : https://instagram.com/bimbelsaqu_wm?igshid=1byytnk9u70bs
    •ICWM : https://instagram.com/ic_wadimubarak?igshid=16yvuiperya78
    •Nur Ramadhan : https://instagram.com/nurramadhan_wisata?utm_medium=copy_link
    •Anugerah Wisata : https://instagram.com/acm.anugerahwisata?utm_medium=copy_link
    🔗 Web : https://wadimubarak.com

    Baca Sebelumnya: Bersuci Dari Hadats

  • Bersuci Dari Hadats

    🕌 Program Madrasah Online Fiqih – Wadi Mubarak
    📚 Pelajaran ke-6
    🗓️ Hari (Selasa), Tanggal 2 Muharram 1442 H. / 10 Agustus 2021 M

    (Tema | BERSUCI DARI HADATS)
    Oleh Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I.

    🖊️ {Ada 4 Komponen dalam Bersuci}

    💠 1. Orang yang Bersuci;
    – Muslim
    – Mumayyiz (Seseorang yang Sudah Bisa Membedakan Antara Hal yang Baik dan Buruk)

    💠 2. Alat Untuk Bersuci;
    – Air Muthlaq

    💠 3. Yang Disucikan;
    – Hadats Kecil
    – Hadats Besar

    💠 4. Cara Bersuci;
    – Cara Bersuci dari Hadats Kecil Adalah dengan berwudhu
    – Cara Bersuci dari Hadats Besar Adalah dengan Mandi Wajib (Mandi Janabah)

    📌 Perkuat & Simak Rincian Materi Melalui Link Video Dibawah ini 👇🏻

    Baca juga
    Pelajaran ke-5: Thaharah (Bersuci)
    Pelajaran ke-7: Macam-Macam Air

    ➖➖➖➖➖
    .
    .
    Jika Ada yang Ingin Ditanyakan dari Hasil Pemaparan Materi, Silahkan Diajukan Dengan Mengisi Google Form Berikut:
    https://forms.gle/WQaeJsN4Ns1Nu63y9


    ➖➖➖➖➖
    💭 _Bagikan manfaat dan ringkasan materi anda dengan Hashtag #WadiMubarak dan Tag akun Official Bimbel SaQu & Islamic Center Wadi Mubarak di Instagram atau di Facebook_
    ➖➖➖➖➖
    .
    .
    Find Us On :
    Instagram;
    •Bimbel SaQu : https://instagram.com/bimbelsaqu_wm?igshid=1byytnk9u70bs
    •ICWM : https://instagram.com/ic_wadimubarak?igshid=16yvuiperya78
    •Nur Ramadhan : https://instagram.com/nurramadhan_wisata?utm_medium=copy_link
    •Anugerah Wisata : https://instagram.com/acm.anugerahwisata?utm_medium=copy_link
    🔗 Web : https://wadimubarak.com

    Baca Sebelumnya: 5 Alasan Penting Pendidikan Al-Qur’an Sejak Usia Dini

  • 5 Alasan Penting Pendidikan Al-Qur’an Sejak Usia Dini

    5 Alasan Penting Pendidikan Al-Qur’an Sejak Usia Dini

    Firman Allah ﷻ :

    يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

    “Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak,”
    (Qs.Maryam, ayat:12).

    Penafsiran dari ayat tersebut, menurut Qatadah,  “Saat itu, Nabi Yahya berusia 2 atau 3 tahun.” Muqotil berkata, “Usia 3 tahun.” Dari dua pendapat tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa umur Nabi Yahya pada saat itu adalah 3 tahun.

    Qatadah berkata, “Sesungguhnya Nabi Yahya tidak pernah bermaksiat kepada Allah sedikitpun, baik dosa kecil maupun besar dan tidak pernah tergoda oleh wanita. Sebagaimana hadits Rasulullah ﷺ  yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ  bersabda, “Setiap anak Adam pada hari kiamat pasti datang membawa dosa, kecuali Yahya.”

    Pendapat Ibnu Katsir, al-hukma bermakna pemahaman, ilmu, kesungguhan, kerja keras, keinginan yang kuat dan suka kebaikan.

    Baca Juga: Menjadi Pendidik Yang Positif

    Dari ayat tersebut, tidak dapat dipungkiri, bahwasannya perhatian pendidikan anak sejak dini ini akan memberikan efek positif pada pembentukan karakter.  Dan tiada pendidikan yang lebih agung selain mengenalkan kitab Al-Qur’an sejak dini.

    Inilah yang mendasari dibukanya kelas belajar Al-Qur’an sejak usia 3 tahun di TAUD SaQu (Tahfizh Anak Usia Dini Sahabat Quran) yang berpusat di Islamic Center Wadi Mubarak Megamendung Bogor Jawa Barat sejak tahun 2014 dan kini telah berkembang jumlahnya. Tidak kurang dari 164 cabang tersebar di nusantara.

    Sahabat Rasulullah ﷺ  yang juga saudara sepupu beliau meyakini akan pentingnya pendidikan Al-Qur’an sejak dini, Ibnu Abbas ra berkata: “Barang siapa yang pandai membaca Al-Qur’an sebelum masuk usia baligh, maka dia termasuk orang yang dikaruniai hikmah semasa kecilnya.” Jelas kiranya, penanaman pendidikan Alquran sejak dini, bukanlah merusak otak anak, justru ia melejitkan kemampuan anak.

    Baca Juga: Wisuda PG TAUD Dan Idad Muallimat

    Alasan Pentingnya Pendidikan Sejak Dini

    1. Otak anak berkembang 80%

    Benjamin S. Bloom, professor pendidikan dari Universitas Chicago menemukan fakta yang cukup mengejutkan:
    a. Ternyata 50% dari semua potensi hidup manusia terbentuk ketika kita berada dalam kandungan sampai usia 4 tahun.
    b. Lalu 30% potensi berikutnya terbentuk pada usia 4-8 tahun.

    Ini berarti 80% potensi dasar manusia terbentuk pada usia dini sampai tahap awal usia sekolah jenjang pendidikan dasar. Nilai-nilai hidupnya, kebiasaanya, kepribadiannya, akhlaknya, dan sikapnya terbentuk dari madrasah pertamanya, yaitu di rumah. Peluang emas ini akankah dimaksimalkan atau diabaikan?

    2. Anak terlahir fitrah

    Sabda Rasulullah ﷺ :

    (مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ (رواه البخارى ومسلم

    “Setiap anak dilahirkan atas fitrah (kesucian agama yang sesuai dengan naluri), sehingga lancar lidahnya, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
    (HR. Bukhori Muslim)

    3. Anak-anak mudah dibentuk

    Dalam kitab Ahkamul Maulud, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah mengatakan: “Yang sangat dibutuhkan anak adalah perhatian terhadap akhlaknya. Ia akan tumbuh menurut apa yang dibiasakan oleh pendidiknya ketika kecil. Jika sejak kecil ia terbiasa marah, keras kepala, tergesa-gesa dan mudah mengikuti hawa nafsu, serampangan, tamak dan seterusnya maka akan sulit baginya untuk memperbaiki diri dan menjauhi hal itu ketika dewasa. Perangai seperti ini akan menjadi sifat dan perilaku yang melekat pada dirinya. Jika ia tidak dibentengi dari hal itu, maka pada suatu ketika nanti semua perangai itu akan muncul. Karena itu kita temukan manusia yang menyimpang akhlaknya itu disebabkan pendidikan yang dilaluinya.”

    4. Anak-anak ingatannya sangat kuat

    Ada sebuah pepatah Arab yang berbunyi:

    الحفظ في الصغر كالنقش على الحجر

    “Menghafal di waktu kecil laksana mengukir di atas batu.”

    5. Anak-anak belajar dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakannya

    ‘Amru bin ‘Atabah pernah memberikan pegangan kepada para pengasuh anaknya dengan berkata:

    لِيَكُنْ أَوَّلُ إِصْلاَحِكَ لِولدَى إِصْلاَحَكَ لِنَفْسِكَ فَإِنَّ عُيُوْنَهُمْ مَعْقُوْدَةٌ بِعَيْنِكَ، فَالْحَسَنُ عِنْدَهُمْ مَا صَنَعْتَ وَالْقَبِيْحُ عِنْدَهُمْ مَا تَرَكْتَ

    “Hendaklah tuntunan perbaikan yang pertama bagi anak-anakku, dimulai dari perbaikan anda terhadap diri anda sendiri. Karena mata dan perhatian mereka selalu terikat kepada anda. Mereka menganggap baik segala yang anda kerjakan, dan mereka menganggap jelek segala yang anda jauhi.”

    Editor: Ummu Fahdlan//Al.Choer

    Baca sebelumnya: Mengadili Si Ahli Maksiat

  • Mengadili Si Ahli Maksiat

    Mengadili Si Ahli Maksiat

    Oleh: Gilang Eksa Gantara, Mahasiswa STIU WM semester 8

    Kesalahan adalah hal yang biasa dilakukan manusia. Manusia, meski sebagai ciptaan terbaik Allah ﷻ, dibuat tidak lepas dari yang namanya kesalahan.

    Maka dari itu, tidak mengherankan Allah ﷻ dengan seluruh kasih sayang-Nya akan mengampuni segala kesalahan kecuali syirik, sebagaimana Firman-Nya:

    قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا  إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

    Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
    (QS. az-Zumar: 53)

    Di era global seperti sekarang, kabar seseorang berbuat salah juga bisa menyebar dengan cepat. Kesalahan tutur kata atau tingkah laku, sering membuat pelakunya dijatuhi sanksi sosial melebihi apa yang harusnya dia terima.

    Terlepas dari menyesal atau tidaknya, khalayak umum bisa membuat situasi meja hijau dimana ribuan orang menjadi hakimnya sekaligus jaksa penuntut.

    Seringkali objektifitas menjadi barang langka ketika massa bersuara. Suara kicauan para hakim juga seringkali hanya mencaci deviasi tanpa menghadirkan solusi.

    Baca Juga: Menjadi Pendidik Yang Positif

    Hal ini menimpa para pelaku kesalahan, baik salah secara agama ataupun di luar dari itu. Mulai dari kesalahan Asy’ariyyah (dari sudut pandang Ahl al-Hadits), kesalahan Salafiyyah (dari sudut pandang Asy’ariyyah), kesalahan fiqhiyyah, sampai yang berbentuk permasalahan sosial seperti pembunuhan, pencurian atau pelacuran; kita bisa melihat pola-pola ini.

    Perlu cara pandang yang adil dalam menyikapi kesalahan orang lain, supaya timbangan keadilan kita tidak timpang dan hanya menjadi wajan kebencian.

    Cara yang kita perlukan mesti bisa memahami kesalahan tersebut, tanpa membiarkan kebencian menjadi landasan dasar, juga tanpa mengurangi ketegasan akan tatatan wilayah syari’at-nya.

    يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِٱلْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ٱعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ وَٱتَّقُوا ٱللَّهَ  إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

    “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
    (QS. al-Ma’idah: 8)

    Ide-ide kebaikan yang acap kali tidak terealisasi, menyebabkan kita bersikap mendua. Beda sikap ketika bicara idealita dan beda sikap pula ketika bicara realita. Gap of the idea and reality, menjadikan hidup layaknya panggung sandiwara.

    Di atas panggung kita berbicara tentang keindahan, tapi di balik panggung hanya ada kegelapan, barang-barang lusuh dan tikus. Tanpa disadari, ide-ide kita yang dulu dipegang erat, semakin rapuh ketika kita mengetahui jurangnya dengan realita. Ya, kita tumbuh menjadi munafik.

    Baca Juga Madrasah Online: Syarat Sah Shalat

    Seringkali sebuah kesalahan atau dosa hanya dilihat sebagai laku buruk yang hukumannya sudah diatur syariat, tanpa ada atau minim upaya terlebih dahulu untuk memahami penyebab dan situasi yang mendorong lahirnya perbuatan tersebut.

    Di sisi lain, realitas duniawi juga menyebabkan kita hanya cukup memaklumi mengapa suatu kesalahan terjadi, tanpa memerhatikan hukum agamanya seperti apa.

    Syaikh Muhammad ibn Shalih al-‘Utsaimin menyebutkan dua perspektif yang harus ditinjau ketika melihat ahl al-ma’ashi (ahli maksiat); yaitu ‘ayn asy-syar’i dan ‘ayn al-qadr.

    ‘Ayn asy-syar’i berarti bagaimana kita melihat mereka dari sudut pandang hukum; maka perlu peninjauan secara ilmiah tentang apa yang mereka lakukan dan apa hukumnya. Ini melibatkan pencarian jawaban dari ‘apa’ dengan menyelidiki nash-nash agama.

    Baca Juga: STIU Wadi Mubarak Menggelar Kuliah Umum Bersama Wakil Ketua MPR RI

    Sisi koin sebelahnya, ‘ayn al-qadr menurut asy-Syaikh adalah melihat maksiat tersebut sebagai qadar Allah ﷻ  untuk membiarkan syaitan menggoda mereka. Sehingga rasa kasih-sayang akan timbul terhadap mereka dan kebencian teralih kepada syaitan yang menjerumuskan pelakunya.

    Tapi, perlu pendekatan baru bagi kita, untuk melihat lebih jauh sebab-sebab apa saja yang menyebabkan syaitan sampai bisa menggodanya; disini peninjauan sosial dan emosional berlaku untuk menjawab ‘mengapa’.

    Lalu dari kedua jawaban yang kita dapat; apa hukumnya dan mengapa terjadi, baru kita bisa melebur keduanya dan menarik sebuah simpulan mengenai ‘bagaimana’ yang harus kita lakukan bersama.

    Inilah bagaimana seharusnya cara pandang kita terhadap orang-orang yang terjerumus pada kesalahan agar kita bisa adil tanpa membenci sebagaimana akar kata kerja meng-adil-i. Dan bukan hanya mencibir apalagi mencaci. ()

    Editor: ARH//Al.Choer

    Baca Sebelumnya Thaharah Bersuci

  • Thaharah (Bersuci)

    🕌 Program Madrasah Online Fiqih – Wadi Mubarak
    📚 Pelajaran ke-5
    🗓️ Hari (Senin), Tanggal 1 Muharram 1442 H. / 9 Agustus 2021 M

    (Tema | THAHARAH {BERSUCI})
    Oleh Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I.

    🖊️ {Thaharah Adalah Menghilangkan Hadats dan Najis Baik Dengan Wudhu, Mandi Wajib atau Tayammum}

    💠 Thaharah Terbagi Menjadi Dua:
    1. Bersuci dari hadats
    2. Bersuci dari najis atau kotoran

    💠 Cara Bersuci;
    Cara Bersucinya Adalah Dengan Menggunakan Air Muthlaq

    📌 Perkuat & Simak Rincian Materi Melalui Link Video Dibawah ini 👇🏻

    Baca Juga
    Pelajaran ke-4: Syarat Sah Shalat
    Pelajaran ke-6: Bersuci Dari Hadats

    ➖➖➖➖➖
    .
    .
    Jika Ada yang Ingin Ditanyakan dari Hasil Pemaparan Materi, Silahkan Diajukan Dengan Mengisi Google Form Berikut:
    https://forms.gle/WQaeJsN4Ns1Nu63y9
    ➖➖➖➖➖
    💭 Bagikan manfaat dan ringkasan materi anda dengan Hashtag #WadiMubarak dan Tag akun Official Bimbel SaQu & Islamic Center Wadi Mubarak di Instagram atau di Facebook
    ➖➖➖➖➖
    .
    .
    Find Us On :
    Instagram;
    •Bimbel SaQu : https://instagram.com/bimbelsaqu_wm?igshid=1byytnk9u70bs
    •ICWM : https://instagram.com/ic_wadimubarak?igshid=16yvuiperya78
    •Nur Ramadhan : https://instagram.com/nurramadhan_wisata?utm_medium=copy_link
    •Anugerah Wisata : https://instagram.com/acm.anugerahwisata?utm_medium=copy_link
    🔗 Web : https://wadimubarak.com