Kategori: Artikel

  • HIKMAH KARANTINA PANDEMI COVID 19

    HIKMAH KARANTINA PANDEMI COVID 19

    Tausyiah Online Dr. Muhammad Didik Hariyanto, Lc., M.P.I. Bersama Pengelola TAUD SaQu-MIT SaQu se-Indonesia

    Pengajar adalah Profesi Mulia

    Salah satu profesi Rasulullah ﷺ, adalah sebagai pengajar atau pendidik, sebagaimana yang termaktub dalam sebuah hadits:

    وإنما بعثت معلما
    “𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘪𝘥𝘪𝘬 /𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳” ( HR. Ibnu Majah).

    Maka berbahagialah bagi sesiapapun yang memiliki profesi tersebut, karena sejatinya telah mewarisi profesi mulia nabi ﷺ yaitu menjadi Guru.

    Hikmah Menjalani Masa Karantina Global

    Karantina menjadi pilihan solusi di berbagai dunia dalam rangka meminimalisir peyebaran pandemi covid 19. Terdapat beberapa hikmah yang bisa kita ambil, dibalik takdir pandemi global ini, diantaranya yaitu:

    • Sarana mengevaluasi diri.

    Saat inilah, masa dimana Allah berikan banyaknya keluangan waktu di rumah, menjadi sarana untuk merenungi perjalanan hidup kita.  Evaluasi tersebut sangat bermanfaat sebagai sarana untuk memperbaiki diri menuju pribadi yang lebih baik.

    • Waktu untuk berkhalwat bersama Allah.

    Berkhalwat adalah waktu khusus yang kita sediakan untuk menyendiri, berdoa kepada Allah. Hendaknya setiap hari,  kita selalu meluangkan waktu  untuk berkhalwat kepada Allah.  Waktu tersebut kita pergunakan untuk merenungi apa yang selama ini sudah kita kerjakan. Kesalahan apa yang sudah kita perbuat. Dan segera meminta ampunan kepada Allah. Juga memaafkan semua kesalahan dari sesama kita.  Efek positif dari aktivitas ini adalah akan mewujudkan lompatan keilmuan juga lompatan kegiatan dakwah yang kita dapatkan dari petunjuk Allah.

    • Masa untuk saling menumbuhkan semangat keimanan.

    Panjangnya masa karantina, yang membatasi aktivitas diluar rumah, seringkali menimbulkan kejenuhan dan kegelisahan. Hal tersebut wajar terjadi. Bahkan para ulama terdahulu pun terkadang merasakan kejenuhan dalam masa menuntut ilmu. Adapun salah satu solusi yang dijalankan oleh para ulama terdahulu adalah saling memanggil, membuat majelis, untuk saling memperbarui semangat keimanan.

    Cara Menumbuhkan Keimanan

    • Kembali kepada Alquran

    Salah satu hal yang paling utama dalam menumbuhkan keimanan adalah kembali kepada Alquran.  Berikut adalah salah satu doa indah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ;

    اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي

    “Ya Allah, sungguh aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku pada diriku, keputusan-Mu adil terhadapku, Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang merupakan milik-Mu, nama yang engkau lekatkan sendiri untuk menamai diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang di antara hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar engkau menjadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku dan pelenyap keresahanku.( HR. Al-Imam Ahmad bin Hanbal), [Musnad Ahmad no. 3712]

    • Jadikan Alquran sebagai tempat berseminya hati.

                Kata رَبِيعَ dalam doa tersebut, mempunya makna; semi. Doa tersebut mengajarkan kita agar menjadikan Alquran sebagai tempat berseminya hati kita. Istilah semi, jika dianalogikan pada sebuah musim. Maka musim semi inilah musim yang terindah, dimana daun yang sebelumnnya berguguran mulai menghijau, dan pepohonan mulai menumbuhkan beraneka rupa bunga.

                Jika seseroang sedang penat dan lelah. Kemudian memasuki sebuah taman. Dimana didalamnya bertumbuh beraneka macam tanaman, dengan dedaunan dan bunga bunga yang indah dan berwarna warni. Tentu akan memunculkan kebahagiaan bagi pengunjungnya. Rasa lelah dan penat, bisa hilang dan terobati dari kebahagiaan menikmati taman bunga yang menghibur. Nah demikian juga Alquran. Dengan upaya kita untuk menjadi Alquran sebagai tempat kembali, maka segala penat dan lelah pun akan hilang, karena Alquran memberikan kebahagiaan yang hakiki.

    • Jadikan Alquran sebagai cahaya

                Banyak pesan pesan yang Allah berikan melalui Alquran. Alquran merupakan cahaya abadi yang bersumber dari Allah. Barangsiapa yang membacanya, mentadabburinya, mengamalkannya, bukan saja mendapatkan limpahan pahala, melainkan juga membuatnya terjauh dari kesedihan dan gundah gulana.

    Zaman milenial ini, banyak yang mencari ketenangan melalui musik atau tempat tempat hiburan malam. Sesungguhnya hal tersebut hanyalah fatamorgana belaka. Setan membuat hal haram seolah  menjadi indah. Para pelakunya pun tidak akan mendapatkan ketenangan. Karena pencerahan hakiki adalah yang bersumber dari Alquran

    • Buatlah aktivitas amaliah yang manfaat

    Masa karantina covid 19 adalah masa yang abnormal. Dimana kita tidak bisa melaksanakan aktivitas seperti sebelum masa karantina. Maka hanya orang prang yang sadar dan pandai memanfaatkan waktulah yang bisa berhasil menjalani masa karantina ini.

    Beragam pilihan aktivitas yang dijalankan dalam mengisi masa karantina. Ada yang bersantai santai di rumah, ada yang mempunyai target meningkatkan keilmuan dengan membaca kitab kitab ilmiah ada juga yang berlomba menghafal dan menghatamkan Alquran.

    Dalam mengisi karantina, bahkan, ada hamba Allah yang selama 22 tahun dan ia mampu istiqomah menghatamkan Alquran setiap 2 hari. Akan menjadi seperti apakah kita setelah 3 bulan kedepan? Apakah menjadi pribadi yang lebih baik ataukah menjadi pribadi yang merugi? Outputnya berbeda beda.  Ada yang menghafalkan Alquran dalam 3 bulan. Ada juga yang menghatamkan Alquran berkali kali dalam 3 bulan. Itukah kita?

    • Jadikan Wabah sebagai Pesan Cinta dari Allah

    Masa sekarang ini adalah masa dimana banyak waktu luang bersama anak anak dan keluarga. Perlu kiranya kita meningkatkan peran positif dan memberikan perhatian yang lebih besar kepada keluarga dan anak anak.

    Betapa banyak orang tua yang lalai dalam memperhatikan pertumbuhan pendidikan akhlak anak. Sehingga setelah anaknya dewasa, sudah lebih dari 20 tahun, dan anaknya di luar prediksi dia, tumbuh menjadi anak yang membawa  banyak  masalah, barulah orangtuanya menyadari bahwa selama ini mereka tidak dekat dengan anaknya karena kesibukan.

    Orang tua ini, seakan-akan dengan memberikan uang saku dan materi kepada anak, maka sudah  sudah tertunai kewajibannya. Mereka lupa, bahwa hal yang paling berharga adalah waktu yang orang tua luangkan untuk anak anaknya. Waktu yang orang tua sediakan untuk ibadah bersama, juga  waktu untuk murojaah bersama anak anaknya.

    Zaman sekarang ini, anak sudah jauh dari fitrahnya. Artinya anak tidak lagi dianggap sebagai penyejuk pandangan atau sebagai qurrota a’yun. Demikian karena anak bukan lagi menjadi prioritas perhatian utama. Prioritas orang tua sudah bergeser kepada aktivitas bisnis atau karier yang harus dikejar.

    Maka masa Pandemi ini, jadikan sebagai pesan cinta dari Allah kepada kita, agar kita kembali memaksimalkan waktu kita untuk meningkatkan peran kita kepada keluarga dan anak anak kita.

    • Perbanyak Syukur

    Anak adalah karunia dari Allah. Jika pasangan suami istri melakukan flash back. Pada masa awal setelah pernikahan, maka harapan terbesar adalah ingin disegerakannya mempunyai buah hati. Dan Masya Allah, Allah telah mengkaruniakan anak anak yang menyenangkan disisi kita. Banyak orang orang yang tidak seberuntung kita. Dan itu bukan dialami oleh manusia biasa, melainkan dialami manusia-manusia pilihan. Dialami oleh para Nabi.

    Tidakkah kita bersyukur? Nabi Ibrahim, pada usia menginjak 100 tahun, masih belum dikaruniai anak oleh Allah. Dan banyak lagi manusia yang belum dikaruniai anak, maka mereka mengusahakan sekuat tenaga.  Apapun yang mereka miliki, mereka siap mengorbankannya dan menukarnya dengan seorang anak.

    Betapa banyak juga orang tua yang menginginkan anak, tapi ternyata wafat sebelum melihat anaknya. Tak seorangpun berharap, bahwa ia wafat pada masa sebelum kelahiran anaknya. Tentu semua berharap memiliki anak dan mampu menimangnya serta membesarkannya sebelum diwafatkan. Dan harapan itupun tidak dialami oleh Ayahanda dari Nabi mulia ﷺ, yaitu Abdullah. Dimana Abdullah wafat sebelum sempat melihat kelahiran anaknya. Maka atas semua itu, masih pantaskah kita untuk mengeluh?

    Notulen: Fahmi Afnariyadi

    Editor: Tanti Ummu Fadhlan

  • Seri Tausiyah Online

    Seri Tausiyah Online

    IBUNDA SANG HAFIZH – ASMA’ BINT ABU BAKR (Sesi 1)

    Asma’ Ra, keberhasilannya dalam mendidik putra-putranya, menjadikannya layak sebagai teladan bagi generasi setelahnya.

    Asma’ Ra adalah salah satu sosok mulia yang mempunyai banyak keberkahan. Asma’ Ra terlahir dari Ayahanda yang dijamin masuk surga yaitu Abu Bakr Ra dan merupakan istri dari sahabat yang dijamin masuk surga yaitu Az Zubair Bin Awwam.

    Asma’ Ra juga menjadi salah satu muhajirin yang mendapat keberkahan dari panjangnya usia yaitu mencapai 100 tahun.

    Apa saja keutamaan ibunda teladan ini dalam mendidik generasi Islam?

    Temukan jawabannya dalam Tausiyah Online bersama Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak – Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I. pada:
    ▪️Hari : Ahad, 13 Desember 2020/ 28 Rabi’ul Akhir 1442 H
    ▪️Tema : Ibunda Sang Hafizh – Asma’ Bint Abu Bakr (Sesi 1)
    ▪️Waktu : 18.30 WIB – Selesai
    ▪️Penyelenggara: YAYASAN SAHABAT QUR’AN
    ▪️Peserta : Umum
    ▪️Saksikan Live Streaming melalui:
    •YouTube Channel:

    https://youtube.com/c/ISLAMICCENTERWADIMUBARAKOFFICIAL


    ➖➖➖➖➖➖
    ↪️Yuk bantu share info kajian ini sebanyak-banyaknya.

  • Raih Cinta Allah dan Makhluk-Nya dengan Zuhud

    Raih Cinta Allah dan Makhluk-Nya dengan Zuhud

    Dari Abu Al-Abbas Sahl bin Sa’ad Sā’idi radiallohu anhu dia berkata :

    Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata “ wahai Rasulullah, tunjukan kepadaku suatu amal jika aku mengamalkannya, nisaya aku akan dicintai Allah dan dicintai manusia”. Rasulullah ﷺ bersabda “bersikap zuhudlah terhadap apa yang ada didunia maka Allah kan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia maka manusia pun akan mencintaimu”. (HR Ibnu Majah)

    Permintaan sang lelaki pada Rasulullah pada hakikatnya merupakan permintaan dua perkara yang sangat agung. Pertama adalah meraih cinta Allah dan yang mendapatkan cinta manusia.

    Bersikap zuhudlah dalam dua hal. Demikian inti jawaban beliau shallallaahu álaihi wa sallam. Pertama, Bersikap zuhudlah terhadap apa yang ada di dunia maka Allah akan mencintaimu. Zuhud terhadap dunia artinya berpaling darinya atau tidak mengambil bagian darinya kecuali apa yang bermanfaat baginya kelak di akhirat.

    Kedua, bersikap zuhudlah terhadap apa yang ada ditangan manusia, maka manusia pun akan mencintaimu. Agar kita tidak melihat atau iri dengan apa yang ada ditangan manusia, bencilah terhadap apa yang manusia punya maka manusia akan mencintaimu. Nasihat ini juga merupakan anjuran agar kita tidak meminta sesuatu apapun kepada manusia, karena sesungguhnya tangan diatas itu lebih baik daripada tangan dibawah.

    Hadits di atas jika dirinci, setidaknya mengandung beberapa faidah.

    Faedah pertama keutamaan zuhud diunia. Zuhud terhadap dunia adalah engkau meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagimu kelak diakhirat.

    Adapun zuhud terhadap dunia bukan berarti anda tidak memakai pakaian yang bagus, tidak mengendarai kendaraan yang mahal atau nyaman, tidak memakan makanan yang enak, dan hal-hal lain yang semacam itu. Akan tetapi arti zuhud adalah agar manusia mensyukuri dan merasa senang dengan apa-apa yang telah Allah berikan kepadanya.

    Faedah kedua. Zuhud adalah salah satu sebab kecintaan Allah terhadap hambanya. Dan salah satu sebab kecintaan Allah terhadap hambanya adalah dengan mengikuti apa-apa yang dibawa nabi kita, nabi Muhammad ﷺ. Sebagaimana firman Allah ta’aala yang artinya “Katakanlah (ya Muhammad), jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian” (QS. Ali Imron: 31)

    Faedah ketiga. Adanya anjuran untuk bersikap zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia. Nabi ﷺ menjadikan sikap ini sebagai penyebab tumbuhnya kecintaannya manusia terhadap sesamanya. Anjuran ini juga menyiratkan nasihat supaya tidak meminta kepada manusia.

    Demikian beberapa nasihat tentang zuhud dan keutamaanya. Semoga kita semua mendapatkan barokah dari Alquran dan semoga Allah ta’ala membimbing kita ke jalan yang diridhoi-Nya. Aamiin yaa robbal alamiin. (ramadhan-mushaf)

    (Tulisan dikembangkan dari salah satu khutbah dalam program khithobah harian STIU Wadi Mubarak, disampaikan dalam bahasa Arab oleh Abdul Mannan, mahasiswa Semester III asal Karawang Jawa Barat dan dialihbahasakan oleh UKM Mushaf STIU-WM)

    Editor: AlChoer

  • Adab dan Langkah-Langkah Dalam Pengajaran Ilmu Syar’i (Bag. 2)

    Adab dan Langkah-Langkah Dalam Pengajaran Ilmu Syar’i (Bag. 2)

    Kiat-kiat selanjutnya ialah:

    7. Menggunakan metode hiwar (percakapan) dalam mengajar.

    Dalam mengajarkan Ilmu Syar’i terdapat beberapa metode yang dapat diterapkan, salah satunya adalah metode hiwar, yaitu metode percakapan. Metode ini lebih diutamakan dari metode-metode lain, karena didalam metode ini terdapat kebebasan dalam berpendapat dari seorang murid.

    Bukan hanya dari gurunya saja ia mendapatlkan ilmu, akan tetapi guru dapat memancing para murid untuk mengeluarkan ide dan pendapatnya, sehingga ia dapat istinbath (menyimpulkan) sendiri apa yang disampaikan oleh gurunya. Jika yang disampaikan murid tersebut benar maklumatnya, maka guru mengapresiasinya. Dan jika maklumatnya salah, maka guru membenarkannya.

    8. Menggunakan gerakan tangan dan badan.

    Salah satu hal yang membuat para murid memperhatikan kita adalah gerakan tangan dan badan. Karena dalam memberikan maklumat Ilmu Syar’i tidak cukup dengan perkataan saja, akan tetapi dibutuhkan gerakan-gerakan yang membuat para murid lebih faham apa yang disampaikan pengajar. Contohnya tata cara wudhu dan shalat.

    Dan tentunmya gerakan tangan dan badan ini sesuai dengan materi yang diajarkan, tidak keluar dari materi pembahasan.

    9. Memperhatikan perbedaan kemampuan setiap murid.

    Allah menciptakan manusia dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam memahami dan menyerap ilmu. Ada yang dimudahkan dalam memahami materi, ada pula yang sulit dalam memahaminya. Maka, seorang guru hendaknya memperhatikan hal ini.

    Seorang murid yang sulit memahami materi maka perhatian kepadanya akan lebih banyak dari pada murid yang cepat memahami. Bahkan jika mampu, pengajar tersebut memberikan waktu khusus di luar jam pelajaran untuk mengajari murid yang lambat memahami materi tersebut.

    10. Memotivasi kepada para murid tentang keutamaan mempelajari Ilmu Syar’i.

    Dalam mempelajari Ilmu Syar’i terdapat keutamaan didalamnya, kerena hal tersebut adalah bentuk memahami agamanya. Maka, kita dari setiap muslim dan muslimah harus mengetahui perkara yang wajib bagi kita. Contohnya, kita menjelaskan keutamaan-keutamaan penuntut ilmu terlebih yang mengajarkannya.

    Apalagi terdapat banyak hadits yang menjelaskan keutaman-keutamaan bagi seseorang yang mempelajari Ilmu Agama. Salah satunya: Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan memahamkan kepadanya agama (Islam)”. (H.R. Bukhari & Muslim).

    11. Mengkaitkan Ilmu Syar’i yang ada dalam buku dengan keadaan realita sekarang.

    Banyak orang yang berpendapat bahwa Ilmu Syar’i adalah ilmu yang berhubungan dengan orang-orang terdahulu dan orang arab saja, tidak sesuai dengan zaman sekarang. Maka, jalan keluar dalam menjawab pandangan ini adalah dengan menghubungkan maklumat yang ada pada kitab dengan keadaan sekarang yang kita alami.

    Hal ini butuh keahlian yang khusus dari para guru atau pengajar, yang memiliki pengalaman yang luas dalam mengajar, disertai dengan membaca banyak referensi dari buku dan internet.

    12. Mengajarkan Ilmu Syar’i dengan Bahasa Arab.

    Tidak diragukan lagi bahwa semua bidang Ilmu Syar’i kembali kepada dua sumber, yaitu Al-Quran dan Hadist. Contohnya Ilmu Tafsri kembali kepada Al-Quran, Ilmu Mustolahul Hadist kembali kepada Hadist, Ilmu Fiqih kembali kepada Al-Quran dan Hadist, dan begitu seterusnya dari Ilmu-Ilmu Syar’i yang lain.

    Sebagaimana kita ketahui, bahwa Al-Quran diturunkan dengan berbahasa Arab, dan Hadist diriwayatkan dengan bahasa Arab. Oleh karena itu, tidaklah sempurna penyampaian Ilmu-Ilmu Syar’i kecuali dengan bahasa Arab. Sebagaima pepatah mengatakan: “Bahasa arab adalah kunci dari setiap ilmu”.

    13. Menutup pelajaran dengan hamdalah, kaffarotul majlis, sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad sallaahu ‘alaihi wa sallam dan salam.

    Sebagaimana memulai pelajaran dengan salam, basmalah dan sholawat dan salam kepada Nabi, begitu juga dengan menutup pelajaran. Ditambah dengan membaca kaffarotul majlis yaitu doa yang berbunyi:“subhaanaka allaahumma wa bi hamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik”. Agar pelajaran pada hari itu diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

    Semoga artikel ini dapat mencerahkan para guru dan pengajar Agama Islam dimanapun berada. Dan saya berharap semoga generasi muda sekarang lebih berminat untuk belajar Agama Islam.

    Sungguh saya sangat sedih dan miris sekali ketika menemukan seorang muslim atau muslimah yang sudah berumur, akan tetapi praktik ibadahnya masih banyak yang belum sesuai sebagaimana yang di contohkan oleh Nabi.

     Maka, ini adalah kewajiban kita para guru, dosen, ustadz, ustadzah, da’i, mubaligh, alim, dan semua orang yang mempunyai ilmu Agama Islam untuk menyampaikan ilmu tersebut walupun hanya sedikit. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadist: “ballighu ‘anni walau aayah”, “sampaikanlah (ilmu) dariku walau hanya satu ayat”. Terimakasih, wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barokaatuh

    Editor: UKM Mushaf STIU-WM//AlChoer

  • Berbakti Kepada Orang Tua

    Berbakti Kepada Orang Tua

    Dalam salah satu wasiatnya, Rasulullah menyampaikan bahwa misi utama risalah beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

    “Sesungguhnya aku diutus menjadi seorang rasul tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang Saleh atau akhlak yang baik.” 

    Dengan pesan serupa, sebuah riwayat lain menyebutkan:

    لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

    “Yaitu untuk menyempurnakan  Akhlak Yang Mulia.”

    Demikianlah. Di antara beberapa tugasnya, Allah subhaanahu wa ta’ala menugaskan Rasulullaah untuk menyempurnakan akhlak manusia untuk menjadi akhlak yang baik dan mulia. Inilah salah satu tugas khusus sekaligus tugas utama beliau. Inilah salah satu misi tertinggi beliau.

    Kemuliaan akhlak bukan hanya diwasiatkan oleh Rasulullah, melainkan merupakan wasiat Allah subhaanahu wa ta’ala dalam beberapa ayat dalam al Quran. Dengan kata lain, kemuliaan akhlak juga merupakan wasiat Allaah subhaanahu wa ta’ala. Ini kemudian menjadi sebuah pertimbangan tersendiri bagi al Imam Bukhari ketika memasukkan wasiat terkait kemuliaan akhlak dalam kitab beliau yaitu Kitab Adab al Mufrad.

    Dalam kitab tersebut Imam al Bukhari mencantumkan salah satu wasiat Allah subhaanahu wa ta’ala tentang kemuliaan akhlak:

    وَوَصَّيۡنَا الۡاِنۡسَانَ بِوَالِدَيۡهِ حُسۡنًا‌

    “Dan kami wasiatkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orangtuanya.”

    Maasyaallah. Dengan berbakti kepada orang tua kita berarti kita sedang menjalankan wasiat Allah yang juga diwasiatkan oleh Rasulullah. Dan wasiat ini adalah misi utama kenabian Rasulullaah. Amal ini sudah barang tentu memiliki kedudukan yang istimewa.  

    Dalam kitab Adab al Mufrad juga Imam Bukhori radhiallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat yang mulia Abdullah bin umar radhiallahu ‘anhu. Beliau berkata:

    – قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ: ((الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا)). قَالَ ثُمَّ أَيُّ قَالَ: ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْن قَالَ ثُمَّ أَيّ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ 

    “Wahai Rasulullah Apakah perbuatan yang paling dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala?” maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun menjawab:“Yaitu salat pada waktunya”. Kemudian beliau kembali bertanya: “Apa lagi ya Rasulullah?” Rasulullah kembali menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua”. Kemudian beliau kembali bertanya: “Apalagi ya Rasulullah?” Rasulullah kembali menjawab: “Berjihad di jalan Allah”.

    Hadits di atas kembali menegaskan keistimewaan akhlak mulia khususnya berbakti kepada orang tua. Amalan ini memiliki posisi yang tinggi lagi mulia di sisi Allah ta’ala.

    Mengapa Allah dan RasulNya menekankan kepada kita untuk berbakti kepada kedua orang tua? Jawabannya bisa kita lihat dalam riwayat yang juga disampaikan oleh sahabat Abdullah bin umar. Beliau mengatakan:

    _عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ , وَسُخْطُهُ فِي سُخْطِهِمَا

    Dari Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ridha Allah terdapat pada ridha kedua orangtua, dan murka Allah juga terdapat pada murka kedua orangtua.”

    Ridha Allah ada pada keridhoan kedua orang tua kita. Demikian sebaliknya. Itulah sebabnya mengapa wasiat berbuat baik kepada kedua orang tua sangat dijunjung tinggi, Serta mulia di sisi Allah azza wa jalla.

    Mari kita senantiasa berdo’a kepada Allah. Semoga kita diberikan hidayah dan petunjukNya dalam mengamalkan wasiat berupa berbakti kepada orang tua kita.

    *Adalah alumni Universitas Islam Madinah, Dosen STIU Wadi Mubarak, Mudir Ma’had Miftahul Jannah Akbar, Cisarua.

    Penulis Naskah: UKM Mushaf STIU-WM

    Editor: Bagas Widigdo

  • Adab dan Langkah-Langkah Dalam Pengajaran Ilmu Syar’i (Bag. 1)

    Adab dan Langkah-Langkah Dalam Pengajaran Ilmu Syar’i (Bag. 1)

    Bismillahirrahmaanirrahiim.

    Segala puji bagi Allah yang telah mengutus NabiNya mengajarkan adab kepada umatnya, sebagaimana tertera dalam sabdanya: “Sungguh aku diutus menjadi rasul tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang saleh (baik).”

    Shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi  Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam yang menjadi contoh yang sempurna bagi umatnya. Lewat beliaulah Allah Ta’ala menyempurnakan risalahNya, menutup para NabiNya sehingga sempurnalah cahayaNya.

    Kemampuan mengajar yang baik dapat membantu siswa dalam menangkap pelajaran yang disampaikan. Demikian juga dalam pengajaran ilmu syar’i. Mengajar ilmu syar’i berarti megajarkan sesuatu yang agung. Dalam proses pengajarannya, bukan hanya memerlukan metode yang sesuai, juga terdapat adab-adab yang perlu ditunaikan.

    Berikut langkah-langkah mengajar yang baik dan benar dalam mengajarkan Ilmu syar’i :

    1. Persiapan yang matang sebelum mengajar

    Sebelum mengajarkan Ilmu Syar’i sebaiknya seorang pengajar menyiapkan materi yang akan diajarkan dan menguasainya dengan baik. Walaupun materi yang akan ia ajarkan pernah disampaikan sebelumnya, akan tetapi sebaiknya ia membaca dan meyiapkan kembali materi tersebut. Karena mungkin saja ia akan mendapatkan sesuatu yang baru dari apa yang ia baca.

    Pengajar harus memilki wawasan yang luas tentang materi yang akan diajarkan, dengan membaca buku-buku lain yang berhubungan dengan materi.

    Penguasaan materi sebelum mengajar akan berpengaruh baik bagi guru saat mengajar. Seperti membangun kepercayaan diri bagi pengajar, membuat kelas menjadi lebih hidup, dan membangun kepercayaan dari para murid bahwa pengajar mereka adalah pengajar yang profesional dalam bidangnya.

    2. Berpenampilan yang baik dan sopan

    Madzhar (penampilan) adalah salah satu hal yang penting dalam mengajarkan ilmu agama Islam, karena penampilan adalah hal pertama yang dilihat oleh para murid ketika guru masuk kelas.

     Jika penampilannya baik dan sopan, maka akan membuat kesan yang baik. Dan sebaliknya, jika dari awal masuk penampilan guru sudah tidak baik, maka akan membuat kesan yang tidak baik. Kita harus senantiasa ingat: guru adalah uswah bagi para muridnya.

    3. Memulai dengan salam, basmalah, dan sholawat serta salam kepada Nabi Muhammad sallaahu ‘alaihi wa sallam

    Ini adalah muqodimah atau permulaan yang baik dalam memulai sesuatu, baik ketika mengajar ataupun ketika menulis buku. Selain mendapatkan pahala dalam mengucapkannya, permulaan ini juga adalah kebiasaan para ulama terdahulu dalam mengajar dan menulis kitab. Mereka memulai dengan salam, basmalah dan sholawat kepada Nabi Muhammad sallaahu ‘alaihi wa sallam.

    4. Memilih kata-kata yang baik dan sopan

    Dalam menyampaikan ajaran agama Islam hendaknya seorang pengajar menggunakan kata-kata yang baik, dan lembut. Sebagaimana Allah perintahkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam ketika bermuamalah dengan para sahabatnya.

    Allah berfirman yang artinya: “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”. (QS. Ali Imran 159).

    5. Mengajarkan Ilmu Syar’i dengan tadarruj (bertahap)

    Allah berfirman dalam Al-Quran yang artinya: “Jadilah kamu rabbaniyyin, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya”. (Q.S. Ali Imran: 79).

    Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata dalam tafsir rabbaniyyin: “Mereka adalah orang yang mengajarkan ilmu yang kecil  (sederhana) dahulu sebelum mengajarkan ilmu yang besar (rumit)”.

    Dalam mempelajari dan mengajarkan Ilmu Syar’i hendaknya seorang pengajar memperhatikan tahapan-tahapan tersebut. Tahapan ini dibagi menjadi tiga tahapan, pertama, ke-dua, dan ke-tiga. Tahapan pertama adalah tahapan pemula, tahapan ke-dua adalah tahapan penengah, dan tahapan ketiga adalah tahapan akhir.

    Misalnya dalam bidang ilmu Nahwu. Tahapan pertama adalah Al-jurumiyah, tahapan kedua adalah Al-mutammimah Al-jurumiyah, dan tahapan ketiga adalah Alfiyah ibnu Malik. Maka, seorang pengajar harus memperhatikan tahapan-tahapan ini ketika mengajar, yaitu memulai dengan kitab pertama, lalu ke-dua dan kemudia kitab ke-tiga. Dan tentunya dengan menyesuaikan kemampuan para murid.

    Berdasarkan pengalaman yang penulis dapatkan dari guru-guru penulis, berikut adalah tahapan-tahapan dari beberapa ilmu syari:

    1. Nahwu : 1. Al-Jurumiyah, 2. Al-Mutammimah, 3. Alfiyah ibnu Malik.
    2. Shorof : 1. Matan Al-Bina, 2.Tashriful ‘Izzi, 3. Nadzm Al-Maqsud.
    3. Balagoh : 1. Nadzm Miatul Ma’ani, 2. Nadzm Al-Jauharul Maknun.
    4. Ushul fiqh: 1. Al-Waroqot, 2. Alluma’, 3. Jam’ul Jawami’.
    5. Ushul tafsir: 1. Mandzumah Az-Zamzamiyah, 2. Muqoddimah fi ushul tafsir.
    6. Mustholahul hadist: 1. Al-Baiquniyah, 2. Nukhbatul fikar, 3. Alfiyatul ‘Iroqi.
    7. Tafsir Al-Quran: 1. As-Siroj fi Gharibil Quran, 2. Tafsir Al-Jalalain, 3. Tafsir ibnu Katsir.
    8. Hadist Nabawi: 1. Al-Arba’in An-Nawawiyah, 2. Umdatul Ahkam, 3. Bulughul Maram.
    9. Tauhid: 1. Ushul At-Tsalatsah, 2. Qawaid Al-arba’, 3. Kitab Tauhid.
    10. Siroh: 1. Khulasotu Nurul Yaqin, 2. Ar-Rohiqul Makhtum.
    11. Fiqih: 1. Matan Abu Syuja’, 2. Umdatu As-Salik, 3. Al-Minhaj.

    6. Menggunakan wasilah (alat) ajar yang sesuai

    Seorang murid akan lebih memperhatikan pengajarnya jika pengajar tersebut memperlihatkan hal-hal yang baru dalam pengajarannya. Dan hal-hal tersebut salah satunya berupa alat-alat, seperti papan, alat peraga, speaker, proyektor dan alat lainnya.

    Demikian 6 dari 13 adab dan langkah yang penulis kumpulkan, yang harus dilakukan dalam pengajaran ilmu syar’i. Insya Allah kita akan melanjutkan kiat-kiat terkait pengajaran dalam pembahasan selanjutnya.

    Editor: UKM Mushaf STIU-WM//AlChoer

  • Bersiap-siap Menuju Alam Akhirat

    Bersiap-siap Menuju Alam Akhirat

    Sebuah hadits menyebutkan, manusia yang cerdas adalah yang setiap amalannya berorientasi pada kehidupan setelah kematiannya. Akhirat. Seorang muslim harus meyakini bahwa ada alam lain setelah kehidupan dunia. Keyakinan ini harus diikuti dengan upaya mempersiapkan diri masa depan seperti apa yang akan kita jalani di alam setelah dunia kelak.

    Al Quran dan hadits memberikan berbagai pedoman dan peringatan terkait alam akhirat yang sejatinya merupakan alam kekal dan tujuan akhir setiap manusia.

    Pertama, Manusia hidup di dunia hanya sebentar, dan kelak di akhirat ia dihisab.

    Sesungguhnya kamu adalah hari-hari. Jika berlalu satu harimu, maka berlalu pulalah sebagian dari dirimu. Demikian ucapan Imam Hasan al Bashri. Tak satupun memiliki cadangan hari yang melimpah. Setiap manusia memiliki waktu yang terbatas. Kelak, ia akan diminta pertanggungjawaban dengan amalan apa hari-harinya dilalui.

    Kedua, Bersiap-siap menuju alam akhirat dengan banyak berbuat amal sholeh.

    Amal sholeh akan menghasilkan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat (hayatan thayyibah). Demikian janji Allah dalam QS an Nahl 97. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita untuk menyiapkan diri kita untuk bekal nanti di akhirat (QS al Hasyr ayat 18).

    Ketiga, niat ikhlas dalam beramal.

    Ikhlas beramal merupakan syarat mutlak dalam setiap amalan seorang muslim. Ikhlas adalah ketika setiap amal kita hanya ditujukan untuk Allah taála dan dalam rangka memeroleh keridhoanNya. Setiap amalan yang ditujukan untuk selain Allaah maka amalanya tertolak.

    Keempat, Safar di dunia itu banyak sedangkan safar menuju akhirat hanya sekali.

    kita hanya punya satu kesempatan dalam mempersiapkan perjalanan kita menuju alam akhirat. Manusia hanya hidup sekali di dunia. Tidaklah pantas bagi seorang manusia untuk melalaikan kesempatan hidup yang Allah berikan kepadanya dengan perbuatan yang sia-sia.

    Kelima, Ujian “duniawi”  itu dapat diulang. Ujian persiapan menuju akhirat tidak bisa diulangi.

    Gagal ikut seleksi, gagal berdagang, dan kegagalan lain biasa dialami manusia. Jika seorang manusia gagal menjalani berbagai jenis ujian “duniawi”, jika Allah berkehendak, ia bisa memeroleh kesempatan yang kedua. Pepatah mengatakan, gagal adalah kemenangan yang tertunda. Sayangnya, ujian dalam rangka mempersiapkan diri menuju alam akhirat tidak bisa diulang. Sekali gagal, tinggal sesal yang tersisa.

    Demikian beberapa nasihat tentang pentingnya mempersiapkan kehidupan akhirat. Semoga kita semua mendapatkan barokah dari Alquran dan semoga Allah ta’ala membimbing kita ke jalan yang diridhoi-Nya. Aamiin yaa robbal alamiin….

    (Tulisan dikembangkan dari salah satu khutbah dalam program khithobah harian STIU Wadi Mubarak, disampaikan oleh Muhammad Sila dalam bahasa Arab, mahasiswa STIU Semester I asal Republik Mali)

    Penulis Naskah/Alih Bahasa: UKM Mushaf STIU-WM

    Editor: Bagas Widigdo

  • Bantahan Terhadap Syubhat-Syubhat Seputar al-Qur’an (Bag. 1)

    Bantahan Terhadap Syubhat-Syubhat Seputar al-Qur’an (Bag. 1)

    Bagian 1

    Bantahan Terhadap Syubhat-Syubhat Seputar al-Qur’an

    Kajian nonmuslim atau orientalis terhadap al-Qur’an banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang keluar dari pemahaman yang benar tentang al-Qur’an  bahkan berpotensi menyesatkan. Ini bisa disebabkan oleh niat awal mereka yang bertujuan merusak pemikiran umat Islam, juga bisa disebabkan kekurangan intelektual mereka dalam memahami Islam.

    Pemikiran-pemikiran yang asal mulanya diperkenalkan oleh kalangan orientalis tersebut tidak jarang digandrungi, diperkenalkan bahkan dielaborasi lebih jauh oleh intelektual-intelektual di kalangan muslim sendiri. Tentu saja ini merupakan tantangan dakwah yang perlu mendapat perhatian serius.

    Sudah cukup banyak sanggahan dan bantahan telak dari para ulama dan intelektual muslim terhadap kekeliruan dan kesesatan pemikiran orientalis tentang al-Qur’an . Argumen dan bantahan ini harus terus diperkenalkan ke masyarakat dalam rangka menjaga dan menguatkan aqidah umat. Terlebih, sampai sekarang pemikiran-pemikiran orientalis tersebut selain dikagumi bahkan masih saja gencar diperkenalkan dan begitu mudah diakses.

    Baca Juga: Inovasi Pengajaran Agama Islam (2)

    Tulisan ini insyaallah akan membahas satu persatu argumen yang membantah beberapa pemikiran atau syubuhat tentang al-Qur’an .

    Tuduhan Pertama:

    Al-Qur’an bukanlah wahyu dari Allah, akan tetapi buku karangan Muhammad.

    Bantahan:

    Orientalis selalu menuntut pembuktian baik empirik maupun logis tentang keyakinan bahwa Al-Qur’an  merupakan Kalamullah yang diturunkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Pun demikian, pendapat mereka bahwa al-Qur’an  bukanlah wahyu melainkan karangan Muhammad juga perlu pembuktian dan penjelasan yang masuk akal. Apakah pendapat mereka bisa diterima dengan akal sehat?

    Ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan jika dikatakan bahwa al-Qur’an  merupakan karangan Muhamad Saw:

    Pertama, jika al-Qur’an  merupakan karangan Muhammad, mengapa beliau tidak menisbahkan “karangannya” yang agung ini pada dirinya sendiri, malah kepada pihak lain (Allah Swt) ?

    Kedua, jika al-Qur’an adalah karangan Muhammad, untuk apa tujuan beliau mengambil resiko dengan menantang seluruh penghuni dunia supaya bisa mendatangkan hal yang sama?

    Ketiga, jika al-Qur’an  adalah karangan Muhammad, bagaimana beliau bisa mengetahui kabar tentang orang-orang terdahulu?

    Keempat, jika al-Qur’an adalah karangan Muhammad, bagaimana beliau bisa menyampaikan banyak perkara ghaib, yang beberapa di antaranya telah terjadi saat beliau masih hidup dan beberapa lainnya masih berlangsung kejadiannya sampai hari kiamat kelak?

    Baca Juga: Inovasi Pengajaran Agama Islam (1)

    Mari kita renungkan. Bayangkan seorang pembohong mencoba menulis sebuah buku berisi tentang berbagai hal termasuk perkara ghaib yang dikarangnya sendiri dan membuat klaim bahwa buku yang ditulisnya tersebut merupakan wahyu Ilahi. Pastinya akan banyak orang cerdik pandai dengan mudah mengungkapkan kebohongan buku tersebut.

    Bukan hal sulit untuk membuktikan bahwa bukunya merupakan karangan manusia biasa. Seorang manusia biasa, ia akan menulis sebuah buku sesuai dengan standar yang dimilikinya sebagai manusia pada umumnya. Tulisannya akan bersumber dari keterbatasan kemampuan, perasaan/penginderaan, ambisi dan keinginan, pengetahuan yang dimiliki, dan konteks pembicaraannya.

    Apakah berbagai keterbatasan manusiawi yang bisa kita lihat dalam al-Qur’an ? Dengan melihat lebih teliti terhadap ayat-ayat Al-Qur’an akan menjadi jelaslah ke-ilahiyah-an Al-Qur’an. Tema-tema yang terdapat dalam al-Qur’an sangatlah tinggi, jauh melampaui apa yang menjadi perhatian para manusia dan apa yang ada dalam pikiran mereka.

    Yang dibicarakan oleh al-Qur’an berkisar pada topik-topik yang tidak dibicarakan oleh manusia pada umumnya dan mereka tidaklah mampu untuk mengarangnya. Seperti pembicaraan tentang sifat-sifat Tuhan, nama-nama, dan tindakan-Nya, tentang hari akhir dan kengeriannya, tentang surga dan neraka, serta pembicaraan tentang sejarah yang telah lampau dan masa yang akan datang.

    Kita juga tidak menemukan ada perasaan dan emosi manusiawi yang terbawa dalam ayat-ayat al-Qur’an. Tidak ada emosi kesedihan di dalam ayat-ayat Makkiyah saat kaum muslimin tengah lemah dan tertindas, ataupun emosi euforia kemenangan dalam ayat-ayat Madaniyah.

    Tidak kita temukan pembicaraan apapun di al-Qur’an yang berhubungan dengan penderitaan, kegembiraan, harapan dan pandangan Nabi. Sebagaimana juga tidak kita dapatkan pembicaraan Al-Qur’an tentang istri beliau Khadijah dan pamannya Abu Thalib di tahun yang penuh duka karena kematian mereka.

    Baca Juga: Selayang Pandang PKM Wadi Mubarak (Flipbook)

    Al-Qur’an tidak menyebutkan apapun tentang perkawinan Rasulullaah atau kelahiran anak-anaknya, atau kematian mereka, atau hal-hal pribadi lainnya yang berkaitan dengan istri-istri atau sahabat-sahabatnya. Al-Qur’an bukanlah sebuah buku yang dimaksudkan untuk mencatat biografi dan cerita, sehingga di dalamnya tidak disebutkan nama salah satu istri atau anak-anak beliau, bahkan tidak terdapat juga nama seorang sahabat maupun musuh dari musuh-musuh beliau, kecuali nama Abu Lahab dan Zaid.

    Bahkan, Al-Qur’an tidak menyebut nama beliau kecuali hanya lima kali saja, sedangkan nama nabi Isa disebutkan sebanyak dua puluh lima kali, dan nama nabi Musa disebutkan lebih dari seratus kali. Ini semakin membuktikan kepada setiap pembaca al-Qur’an bahwa al-Qur’an itu adalah kitabullah, bukan kitab Muhammad.

    Bagaimana jika tuduhan serupa kita alamatkan pada kitab-kitab suci yang diyakini agama lain saat ini? Misalnya kitab Kristen dan Yahudi saat ini. Beberapa penelitian, bahkan yang dilakukan oleh kalangan mereka sendiri, menemukan bahwa kitab tersebut penuh dengan bukti bahwa ia merupakan karangan seorang manusia, penuh dengan cerita tentang kesedihan manusia, rasa sakit, harapan dan keinginan. Wallaahu a’lam bish showab.

    *Penulis adalah Alumni Universitas Islam Madinah, Mudir Mahad dan Dosen Tetap STIU Wadi Mubarak

  • Inovasi Pengajaran Agama Islam (Bag. 2)

    Inovasi Pengajaran Agama Islam (Bag. 2)

    Sebelum kita mengetahui lebih jauh tentang inovasi dalam mengajarkan agama Islam atau Ilmu Syar’i, terdapat hal yang perlu diperhatikan oleh setiap guru sebelum mengajar yaitu “ikhlas” mengharap ridho Allah ta’ala semata.

    Kenapa harus ikhlas?. Karena mengajar adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah ta’ala, jika diniatkan ibadah. Dan suatu ibadah tidak dapat diterima dan diberi pahala oleh Allah, kecuali jika ibadah tersebut diniatkan karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam.

    Maka, niat-niat yang keluar dari jalur ikhlas agar diajuhi oleh para pengajar. Seperti ingin mendapatkan pujian manusia, atau ingin mendatkan upah semata, atau ingin disebut pengajar yang profesional, atau ingin menjadi orang yang terkenal, atau juga ingin mempunyai banyak pengikut. Nasalullaahal ‘afiyah.

    Berbicara tentang inovasi adalah berbicara tentang sesuatu yang baru dan berbeda dari sebelumnya. Dan jika kita melihat Ilmu Syar’i dari sisi isinya terbagi menjadi dua macam: pertama tsawabit  (isi yang tetap), dan ke-dua mutagoyyirot (isi yang berubah).

    Ilmu tsawabit atau yang tetap tidak ada inovasi dan pembaharuan terhadap isinya, seperti Aqidah dan Tafsir. Adapun ilmu mutagoyyirot atau ilmu yang berubah, maka boleh ada pembaharuan dalam contoh-contoh isinya, seperti ilmu Fikih.

    Sedangkan jika kita melihat Ilmu Syar’i dari sisi cara mengajarkannya, maka sangat dibutuhkan sekali inovasi, baik ilmu tsawabit maupun ilmu mutagoyyirot. Karena zaman sekarang telah berubah dari zaman sebelumnya.

    (bersambung)

  • Inovasi Pengajaran Agama Islam (Bag. 1)

    Inovasi Pengajaran Agama Islam (Bag. 1)

    Agama Islam adalah agama yang diridhoi oleh Allah subahanahu wa ta’ala. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

    إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَٰمُ

    “Sesungguhnya agama disisi Allah ialah Islam”
    (QS Ali ‘Imran: 19).

    Agama Islam adalah agama yang paling banyak dianut oleh negara Indonesia. Agama Islam ini mempunyai landasan utama yaitu Al-Quran dan Hadist. Dan di dalam dua landasan ini terkumpul semua ilmu agama Islam, yaitu: Tafsir, Hadist, Aqidah, Fiqih, Siroh, Nahwu, Shorof, Ushul fiqh, dan ilmu-ilmu lainnya.

    Pembagian Ilmu Syar’i

    Ilmu-ilmu Agama Islam ini disebut juga dengan istilah “Ilmu Syar’i”. Ilmu Syar’i dibagi menjadi dua bagian, yaitu: ilmu alat dan ilmu goyah. Ilmu alat adalam ilmu perantara yang dipelajari untuk memahami ilmu goyah. Contohnya adalah Nahwu, Shorof, Balagoh, Ushul Fiqih, Ushul Tafsir, dan Mustolahul Hadist.

    Baca juga Syaikh Abdul Aziz Al-Hubaisi Lembaga Kaderisasi Imam Dan Dai Sahabat Qur’an (LKIDSAQU)

    Semua ilmu tersebut dipelajari sebagai alat untuk memahami ilmu goyah. Adapun ilmu goyah adalah ilmu tujuan yang dipelajari untuk memahami ilmu itu sendiri. Contohnya adalah Tafsir, Hadist, Fiqih, Aqidah, dan Siroh.

    Ilmu Syar’i ini baik ilmu alat ataupun ilmu goyah perlu disampaikan dan diajarkan kepada masyarakat dengan cara yang baik dan benar. Karena mengajarkan ilmu adalah salah satu kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah, tentunya setelah menuntut ilmu dan mengamalkannya.

    Kewajiban Umat Terhadap Ilmu

    Karena kewajiban setiap muslim dan muslimah ada empat, yaitu: menuntut ilmu, mengamalkan ilmu tersebut, kemudian mengajarkan atau mendakwahkan ilmu tersebut dan yang terakhir adalah sabar dalam menuntut, mengamalkan, dan mengajarkan ilmu tersebut.

    Baca juga Kunjungan Profesor Dari King Abdul Aziz University (KAU) Ke Islamic Center Wadi Mubarak

    Kemudian yang perlu kita ketahui bersama, bahwa mengajarkan Ilmu Syar’i berbeda dengan mengajarkan Ilmu Duniawi. Karena dalam mempelajari dan mengajarkan Ilmu Syar’i terdapat  keutamaan yang disebutkan dalam Al-Quran dan Hadist.

    Allah ta’ala berfirman:

    ….يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

    “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat, dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan“
    (QS. Al-Mujadilah: 11)

    Dan dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Sahabat Utsman bin ‘Affan, bahwa Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan yang mengajarkannya.” (H.R. Bukhori). Dalam hadist tersebut terdapat keutamaan bagi penutut ilmu dan juga bagi pengajarnya, karena mempelajari Al-Quran salah satu bentuk mempelajari Ilmu Syar’i.

    (bersambung)

    Baca sebelumnya Informasi Pendaftaran STIU Wadi Mubarak