Kategori: Artikel

  • Istri Imran: Mempersiapkan Keshalihan Anak Sejak dalam Kandungan

    Istri Imran: Mempersiapkan Keshalihan Anak Sejak dalam Kandungan

    Jika ada sebuah film atau cerita, tentu yang sering di-highlight adalah seputar tokoh utama. Begitu pula kisah tentang Hannah binti Faquz, skenarionya sangat istimewa diabadikan dalam surah Ali Imran ayat 33-37. Sangat singkat namun sarat hikmah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

    إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحًا وَءَالَ إِبْرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمْرَٰنَ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ

    “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing).”
    (Ali Imran, 3: 33)

    Setelah Allah berfirman memilih Keluarga Imran sebagai salah satu profil terbaik pada zamannya – disetarakan dengan keutamaan Nabi Adam, Nabi Nuh dan Keluarga Ibrahim ‘alaihimussalam; pada ayat berikutnya Allah langsung menceritakan tentang Istri Imran. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

    إِذْ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ عِمْرَٰنَ رَبِّ إِنِّى نَذَرْتُ لَكَ مَا فِى بَطْنِى مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

    “(Ingatlah), ketika istri `Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” [Ali Imran, 3: 35]

    Baca juga Sosok Ibu Teladan Dalam Sejarah

    Dengan alur yang sangat singkat, dikisahkan tentang kehamilan Hannah dan nadzar kehamilannya kepada Rabbnya. Itu berarti nadzar yang diikrarkan kepada Rabbnya sangat penting untuk direnungkan dan diambil pelajaran bagi kaum Muslimin yang mau mengkajinya.

    Istri Imran berjanji kepada Rabbnya bahwa dia akan mempersiapkan bayi dalam kandungannya kelak menjadi hamba Allah shalih yang berkhidmat di Baitul Maqdis. Isi janjinya lebih bermakna sebagai doa & harapan yang dia pinta dan sampaikan kepada Rabbnya, supaya kelak anak yang dilahirkannya menjadi hamba yang berbakti kepada Allah dan mengabdi untuk agama Allah.

    Sebagai seorang Ibu yang bertaqwa, Hannah pun berkomitmen dengan janji & harapan yang dibuatnya sendiri. Hannah tentu menjaga kehamilannya dengan cermat, tekun beribadah dan senantiasa mendoakan sang calon bayi yang berada dalam kandungannya. Boleh jadi mengajak sang janin berkomunikasi semoga kelak menjadi anak seperti yang diharapkan.

    Tidak mustahil, sebab penelitian saat ini pun menjelaskan bahwa pendengaran janin telah aktif untuk menerima dan merekam rangsangan suara dari luar. Terlebih itu adalah suara ibundanya, dapat berupa bacaan Al-Qur’an maupun doa. Janin juga sudah bisa menerima rangsangan berupa elusan kasih sayang dari kedua orang tuanya di perut.

    Hannah sudah sangat lama menanti kehamilan, sehingga dia hamil di usia senja. Suaminya pun meninggal ketika dia mengandung. Sudah pasti Hannah sangat menjaga bayi dalam kandungannya dengan hati-hati, sebagai bentuk rasa syukur kepada Rabbnya.

    Baca juga Ibu Membentuk Kepribadian Anak

    Hingga masa melahirkan pun, Hannah tak pernah putus komunikasi dengan Rabbnya. Begitu lahir dan mengetahui bayinya seorang perempuan, dia pun mengadu pada Rabbnya. Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya. Dan itulah ketetapan-Nya.

    Sekali lagi Hannah menerima (ridha) dengan apapun yang dikaruniakan Allah kepadanya. Langsung terucap doa keluar dari lisannya bagi bayi Maryam yang dilahirkannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

    فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّى وَضَعْتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلْأُنثَىٰ ۖ وَإِنِّى سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّىٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ

    Maka ketika melahirkannya, dia berkata, “Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. “Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak-cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.”
    [Ali Imran, 3: 36]

    Dari Abu Hurairah yang bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Tiada seorang anak pun yang baru dilahirkan melainkan setan menyentuhnya ketika dilahirkan, lalu ia menjerit menangis karena setan telah menyentuhnya, kecuali Maryam dan anak laki-lakinya.”

    Kemudian Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Bacalah oleh kalian jika kalian suka firman berikut,” yaitu: ‘Dan sesungguhnya aku melindungkannya serta anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari setan yang terkutuk.’

    Coba tanyakan pada diri sendiri saat melahirkan, doa apa yang terbetik seketika. Biasanya harapan menjadi anak shalih, penyejuk mata hati, sehat ibu dan bayinya. Hanya seputar anak yang dilahirkan. Namun berbeda dengan Hannah, spontanitas mendoakan untuk bayi yang dilahirkan serta anak keturunannya.

    Baca juga: Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta

    Perhatikanlah doa Istri Imran saat persalinannya. Dia tidak hanya mendoakan bayi yang baru saja lahir, akan tetapi sekaligus anak keturunannya. Seperti itulah karakter seorang wanita mukminah yang memiliki visi dan pemikiran yang jauh (hingga generasi) ke depan. Pandangannya melampaui zamannya.

    Sekarang kita belajar dari Hannah tentang salah satu berdoa terbaik saat melahirkan. Allah abadikan kisahnya supaya para wanita beriman mengambil teladan dari para wanita mulia masa lampau di dalam Al-Qur’an.

    Tidak hanya itu, Hannah telah mempersiapkan keshalihan sang jabang bayi sejak dalam kandungan, walau dia tak tahu yang akan dilahirkannya laki-laki atau perempuan.

    Persiapan dini sejak kehamilan hingga saat persalinan, memikirkan generasi melampaui zamannya, hanya dapat dilakukan oleh wanita mukminah yang visioner seperti Istri Imran.

    Demikianlah kesuksesan Keluarga Imran dalam mempersiapkan anak keturunannya yang terbaik di zamannya hingga lahir biidznillah: Maryam, wanita yang dipuji Rabbnya sangat menjaga kehormatannya dan termasuk qanitin (hamba yang taat); dan Isa putra Maryam seorang Nabi Allah yang istimewa.

    Bisa disimpulkan potret keluarga Imran yang utama, dimulai dan kunci awalnya terdapat pada sosok Hannah, istri Imran, seorang wanita yang bertaqwa, dekat dengan Rabbnya serta visioner. Wallahu a’lam.

    Oleh: A. Damayanti Ahmad, M.Pd.I.

    Baca sebelumnya: Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan

  • Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan

    Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan

    Benar kiranya bahwa ibu adalah madrasah nomor satu, karena ibu ini sejatinya telah mendidik buah hatinya, sejak janin tersebut dalam kandungan. Selama 9 bulan, janin bertumbuh didalam rahim sang ibu. Atas jerih payah sang ibu inilah, maka kewajiban kita adalah memuliakannya dalam seluruh aktivitas kehidupan kita.

    وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

    “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”
    (QS. Luqman (31): 14)

    Baca juga: Sosok Ibu Teladan Dalam Sejarah

    Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika anak masih dalam kandungan:

    Membacakan doa
    Salah satu cara mendidik anak sejak dalam kandungan adalah dengan memanjatkan doa. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Zakaria didalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 38: Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik (shaleh). Sesungguhnya Engkaulah Maha Pendengar doa”

    Stimulasi suara
    Suara adalah salah satu sumber stimulasi janin. Suara ini bentuk komunikasi antara Ibu dan janin. Janin mendengar melalui vibrasi pada tulang kraniumnya. Untuk alasan inilah, suara ibu mempunyai resonansi yang unik bagi janin. Adapun suara yang paling utama untuk diperdengarkan ke janin adalah suara-suara bacaan Ayat al-Qur’an.

    Mengajak berbicara
    Lakukanlah komunikasi islami dengan buah hati sejak dalam kandungan, karena pada minggu ke-25 janin sudah dapat mendengar dan mengenali suara orang-orang terdekatnya seperti ibu dan ayahnya. Untuk itu maka ajaklah janin untuk berbicara dengan mengelus-elus perut. Misalnya: Ketika sang ibu mau shalat, membaca Al-Qur’an, ataupun bersedekah maka ajaklah sang janin berbicara dengan cara: “Adik, ibu mau shalat, karena shalat merupakan kewajiban setiap muslim dan sebagainya,” Biasanya respon janin dengan tendangan ke arah perut sang ibu.

    Baca juga: Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta

    Menjaga perilaku orang tua
    Bagi ibu yang sedang mengandung, menjaga perilaku sangat penting dan dibutuhkan, karena hubungan emosional sipritual antara ibunda dan janin ini sangatlah kental. Akhlak dan perilaku orang tua sangat berpengaruh terhadap akhlak anak-anaknya kelak, makanya orang tua harus menjaga sikap, ucapan dan perilaku. Jika orang tua berperilaku baik maka anaknya akan ikut baik seperti ibunya pula.

    Referensi:
    1 Syaikh Shaleh al-Fauzan dalam kitab “Makaanatul mar-ati filIslam”
    2 Ka’Selly Astriana (HIMPAS Psikologi) , Seminar Nasional: “Pengajaran Al-Qur’an Sejak Dalam Kandungan”

    Baca sebelumnya Ibu Membentuk Kepribadian Anak

  • Ibu Pembentuk Kepribadian Anak

    Ibu Pembentuk Kepribadian Anak

    Ibu adalah madrasah yang paling utama dalam pembentukan kepribadian anak. Ibu adalah “gudang ilmu”, “pusat peradaban” dan “wadah” yang menghimpun sifat-sifat akhlak mulia. Ibu berperan besar dalam pembentukan watak, karakter dan kepribadian anak-anaknya. Ia adalah sekolah pertama dan utama sebelum si kecil mengenyam pendidikan di sekolah manapun.

    Peran ibu tidak bisa tergantikan oleh siapapun. Ibu memiliki peran lebih dari sekolah yakni membangun kecerdasan emosional anak bahkan membangun kecerdasan spiritual anak. Awal mula tumbuhnya generasi baru adalah dalam asuhan ibu, yang ini semua menunjukkan mulianya tugas kaum wanita dalam (upaya) memperbaiki generasi bangsa.

    Menjadi seorang ibu adalah sebuah kehormatan, oleh karenanya, Islam memandang posisi ibu sebagai posisi paling penting. Kedudukan ibu ini sangat mulia. Ibu juga tiang negara, bila ia baik maka negara akan menjadi baik dan bila ia rusak maka negara pun akan hancur.

    Baca juga: Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta

    Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi: “Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan)

    Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Tafsir Al-Qurthubi, Jilid 10 hal. 239)

    Oleh: Tanti Ummu Fadhlan

    Baca sebelumnya Sosok Ibu Teladan Dalam Sejarah

  • Sosok Ibu Teladan dalam Sejarah

    Sosok Ibu Teladan dalam Sejarah

    Dibawah ini, kami paparkan beberapa kisah seorang ibu yang sukses menjadi madrasah pertama hingga lahir darinya generasi sholeh dan sholehah yang tercatat dalam tinta emas sejarah.

    Pertama: Khadijah binti Khuwailid, sosok yang sangat dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena jasa dan perjuangannya yang begitu besar dalam masa awal dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, darinya pula lahir generasi yang sholeh dan sholehah, diantaranya Fathimah radhiallahu ‘anha yang menjadi penghulu wanita surga.

    Kedua, Sahabiah Shofiyyah binti Abdul Mutthalib yang lahir dari rahimnya Sahabat Zubair bin Awwam yang menjadi sahabat diantara sepuluh sahabat yang dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dijuluki dengan hawari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Shofiyyah merupakan bibi Rasulullah, sosok sahabiah yang pemberani.

    Ketiga, Asma binti Abu Bakar, seorang sahabiah yang agung istri dari Zubair bin Awwam yang lahir darinya generasi yang membanggakan ummat Islam, yaitu Abdullah bin Zubair dan Urwah Bin Zubair.

    Baca juga: Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta

    Keempat, Laila Ummu ‘Ashim, sosok ibu yang sholehah yang mungkin kurang terkenal tentang sejarahnya, tetapi ia adalah sosok yang lahir dari wanita agung penuh iman dan taqwa yang mampu menggetarkan keimanan khalifah Umar bin Khatthab saat sedang melakukan blusukan hingga ia pun menawarkan kepada putranya agar menikahinya, darinya kelak, lahir sosok yang agung pula, yang sejarahnya tercatat sebagai khalifah terbaik setelah khulafaaurrasyidin, dialah Umar bin Abdul Aziz.

    Kelima, Ra’ha, mungkin banyak kaum muslimin yang tidak mengenal sosok agung ini, akan tetapi darinya lahir sosok pemimpin yang ditakuti eropa, sosok yang mampu menghadirkan peradaban dalam berabad-abad lamanya di Andalus, ia adalah Abdurrahman Addakhil, sang pendiri dan pelopor dinasti Umayyah di bumi Andalus yang jasanya masih bisa dirasakan sampai saat ini, padahal ia lahir dalam keadaan yatim, akan tetapi dengan ketaqwaan dan kesholehan ibunya yang mampu menjadi madrasah pertama baginya menjadikan anaknya sebagai sosok yang agung dalam sejarah Islam.

    Baca juga: Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta

    Keenam, Fathimah binti Ubaidillah Azdiah, begitu pula mungkin jarang kaum muslimin mengenal sosok wanita ini, akan tetapi bila disebutkan nama anaknya pastilah semua ummat Islam mengenalnya, dialah Imam Syafi’I, salah satu imam yang pemikirannya diakui menjadi madzhab oleh mayoritas ummat Islam. Terlalu besar dan luas bila mau membahas tentang riwayat Imam Syafi’I karena kemasyhuran namanya sudah menjadi isyarat akan keagungan ilmunya, akan tetapi tidak akan ada Imam Syafi’I bila peran ibunya dinafikan, jasa dan peran ibunyalah yang menjadi sebab dari semuanya setelah kuasa Allah.

    Tentunya banyak sosok ibu agung yang sukses menjadi madrasah bagi anak-anaknya yang jasanya telah tertulis dengan tinta emas sampai saat ini. Begitu banyak ulama yang lahir dari didikan ibunya walau ia terlahir dalam keadaan yatim. Beberapa kisah diatas hanyalah sedikit diantara contoh-contoh kesuksesan ibu dalam mendidik anaknya hingga meraih kemuliaan dunia akhirat. Karena sosok ibu memang kadang banyak terlupakan dalam sejarah, akan tetapi satu kalimat yang agung bahwa dibalik kesuksesan seseorang ada sosok ibu yang senantiasa mandidik dan mendoakan dengan penuh keikhlasan. Wallahu a’lam. ()

    Baca sebelumnya Ibu, Madrasah Nomor Satu

  • Ibu, Madrasah Nomor Satu

    Ibu, Madrasah Nomor Satu

    Madrasah pertama adalah ibu dan keluarga. Menjadi seorang ibu adalah kemuliaan tersendiri yang Allah agungkan dalam syari’at-Nya, dimana Allah subhanallahu wata’ala menyandingkan perintah tauhid dengan berbakti kepada orang tua, begitu juga dengan syukur-Nya digandengkan dengan syukur kepada orang tua, sebagaimana Allah subhanallahu wata’ala sebutkan dalam firman-Nya:

    …وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا

    “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa…”
    (QS. An-Nisa: 36)

    قُلْ تَعَالَوْا۟ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا

    “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, dan berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa…”
    (QS. Al-An’am: 151)

    وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

    “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
    (QS. Al-Isra’: 23)

    وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

    “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”
    (QS. Al-Isra’: 23-24)

    وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

    “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”
    (QS. Luqman: 14)

    Baca juga: 2 Mahasiswa STIU Wadi Mubarak Mewakili Indonesia Menghafal Hadits Di Masjidil Haram

    Ayat-ayat diatas menjadi bukti yang sangat jelas akan keagungan dan posisi kedua orang tua dalam kehidupan manusia ini, karena keutamaan tersebut langsung berasal dari Allah sang Pemilik alam semesta ini.

    Anak yang sholeh dan sholehah tentu merupakan dambaan setiap orang tua, karena ia adalah harta paling berharga yang dimiliki orang tua, ia adalah aset yang akan mendatangkan keuntungan dan kebahagiaan dunia akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam haditsnya:

    إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh”
    (HR. Muslim no. 1631)

    Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala akan mengumpulkan seseorang yang beriman dengan keturunannya yang sholeh, sebagaimana firman-Nya:

    وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَٰهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍ ۚ كُلُّ ٱمْرِئٍۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

    “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”
    (QS. Ath-Thur: 21)

    Tentu ayat dan hadist diatas menjadi pelecut dan penyemangat bagi setiap insan yang beriman agar berlomba-lomba dalam menciptakan generasi sholeh dan sholehah agar kelak bisa berkumpul bersama di surga, untuk itulah setiap orang tua yang beriman berusaha melahirkan generasi sholeh dan sholehah.

    Baca juga: Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta

    Untuk itulah peran dan posisi orang tua dalam pendidikan anak sangat fundamental, khususnya ibu, karena semenjak anak berada dalam kandungannya, ia akan merekam apa-apa yang dilakukan ibunya, begitu juga ketika sudah lahir dan proses menyusui, ia akan meniru dari tingkah ibunya, ia akan mendengar setiap kalimat yang diucapkan ibunya, maka disinilah sang anak mulai merekam secara langsung bagaimana mengenal dunia ini. Untuk itu, disinilah peran ibu sebagai madrasah pertama bagi sang anak sangat dibutuhkan.

    Hal inilah yang menjadi sebab kenapa posisi ibu dalam Islam begitu dimuliakan, karena jasanya dan tanggung jawabnya yang begitu besar dalam menjaga generasi rabbani. Sehingga langkah pertama yang harus ditempuh dalam melahirkan generasi sholeh dan sholehah adalah mencari istri sholehah yang akan menjadi ibu anak-anak nantinya, seperti halnya yang dilakukan sahabat Umar bin Khatthab untuk anaknya hingga lahir darinya sosok Umar bin Abdul Aziz.

    Islam memandang bahwa ibu adalah poros dan sumber kehidupan, untuk itulah kaum sekuler pun berusaha menghilangkan fitrah seorang ibu dengan sibuk mempropagandakan gender hingga ia lupa akan peran utamanya dalam keluarga sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Syaikh Muhammad Ghazali dalam memberikan gambaran tentang sosok seorang ibu dalam kitabnya dengan menyebutkan:

    “Seorang ibu adalah semilir angin sejuk yang menghembuskan nafas kedamaian dan kasih sayang ke seluruh ruang kehidupan. Dan ia sangat berpengaruh dalam pembentukan manusia yang baik”. As-Sunnah An-Nabawiah baina ahlil fiqhi wa ahlil hadits, hal 52

    Benarlah syair yang diungkapkan penyair Hafizh Irahim ketika menggambarkan tentang sosok ibu:

    Ibu adalah madrasah
    Bila kau mempersiapkannya
    Kau mempesiapkan bangsa yang kokoh
    Ibu adalah taman
    Bila engkau merawatnya dengan air sejuk
    Taman itu akan menumbuhkan pohon
    Dengan dedaunan yang lebat menghijau
    Ibu adalah maha guru
    Jejak kakinya terpateri sepanjang sejarah dunia

    ()

    Baca sebelumnya 2 Mahasiswa STIU Wadi Mubarak Mewakili Indonesia Menghafal Hadits Di Masjidil Haram