Kategori: Quranic Parenting

  • Kemuliaan Para Penghafal Al-Qur’an (IV)

    Kemuliaan Para Penghafal Al-Qur’an (IV)

    Allah Menjaga Kemurnian Al-Qur’an Melalui Para Penghafal Al-Qur’an

    Al-Qur’an merupakan kitab petunjuk bagi orang-orang yang berakal. Untaian kalimat  yang  indah di  dalam Al-Qur’an,  telah Allah jadikan untuk  mudah  dihafal  dan  dipahami  oleh  para  penghafalnya.  Kita  sebagai  umat Islam  turut  berbangga  karena  ada ribuan  bahkan  puluhan  ribu  umat  Islam  yang telah  hafal Al-Qur’an,  bahkan sebagian  dari  mereka  adalah  anak-anak  kecil  yang masih  belum  baligh. 

    Allah telah memilih Para Penghafal Al-Qur’an untuk menjaga keautentikan, keaslian dan kemurnian Al-Qur’an. Betapa amanat yang begitu agung bagi Para Penghafal Al-Qur’an, karena melalui merekalah, Allah jaga kemurnian Al-Qur’an hingga akhir zaman.

    Allah berfiman dalam QS. Al-Hijr ayat 9 :

    إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

    “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.”

    Tafsir Al-Muyassar menjelaskan bahwa dengan keagungan dan kekuasaan Allah, Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi, dan Allah akan menjaganya hingga hari kiamat dari segala pengubahan.”

    Salah satu penjagaan Allah terhadap Al-Qur’an adalah Allah memilih diantara hamba-hambaNya yang bisa menghafal Al-Qur’an. Jadi, para Penghafal Al-Qur’an itu pilihan Allah.  Dan pilihan Allah ini, tidak semata  bergantung kepada kecerdasan otak. Betapa banyak orang-orang yang cerdas tapi tidak bisa menghafal Al-Qur’an.

    Banyak kita lihat, para ahli ilmu eksak, ilmu sains, teknik dls bahkan para juara di Perguruan Tinggi, mereka dengan mudah lolos mencapai nilai tinggi. Namun pada saat menghafal Al-Qur’an, belum tentu mereka akan mudah menjalaninya. Demikian karena Penghafal Al-Qur’an adalah pilihan-pilihan Allah. Maka sebagai penghafal Al-Qur’an hendaknya harus banyak berdoa.

    Tidak ada satupun kitab di muka bumi ini yang dihafal oleh para pemeluknya, oleh orang-orang yang mengimaninya sebanyak Al-Qur’an. Maka jangan pernah seseorang berharap mengubah satu huruf pun dari Al-Qur’an. Karena para penghafal Al-Qur’an ini selalu meneliti dan akan selalu melihat ayat-ayat Al-Qur’an. Maka, begitu ada kesalahan satu huruf saja di dalam sebuah mushaf,  akan segera cepat diketahui oleh para Penghafalnya.

    Para Penghafal Al Baqarah dan Ali Imran Mendapat Kedudukan Mulia di Mata Para Sahabat

    Para Penghafal Al-Qur’an memiliki kedudukan istimewa sepanjang zaman. Dahulu, para sahabat yang mampu menghafal, memahami surat Al-Baqarah dan Ali Imran, maka mendapat keududukan yang agung dan mulia di mata para sahabat.

    Sahabat Anas bin Malik RA juga mengatakan :

    من فضلهما أن قال فيهما أنس رضي الله عنه: “كان الرجل إذا قرأ البقرة وآل عمران جد فينا _ يعني عظم _ ” رواه الإمام أحمد في المسند (12236), وقال شيخ الإسلام ابن تيمية في الصارم المسلول (123):”هذا إسناد صحيح.

    “Dahulu orang yang membaca (hafal dan faham) surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran adalah dianggap agung (mulia) diantara kami”. (Riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad.  Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah dalam Ash-Shorimul Maslul berkata: Ini sanadnya shahih).

    Mengapa kedua surat tersebut menjadi sangat istimewa? Demikian karena kedua surat tersebut disebut juga sebagai az zahrowain sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits:

    Az Zahrowain adalah sebutan dari Rasulullah ﷺ untuk surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan melalui jalan Sahabat  Abu Umamah Al-Bahili RA, Rasulullah ﷺ bersabda:

    (اقرؤوا القرآن؛ فإنّه يأتي يومَ القِيامِة شفيعاً لأصحابهِ؛ اقرؤوا الزّهراوينِ: البقرةَ وسورةَ آلِ عمرانَ؛ فإنّهما تأتيانِ يومَ القِيامِة كأنّهما غمامتانِ، أو كأنّهما غيايتانِ، أو كأنّهما فِرقان من طيرٍ صوَافّ، تحاجَّانِ عن أصحابِهما؛ اقرؤوا سورةَ البقرِة؛ فإنّ أخذها برَكةٌ، وتركها حسرةٌ، ولا يستطيعها البَطَلةُ).

    “Bacalah Al-Qur`an, karena Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat nanti memberi syafa’at kepada para sahabatnya (Sahabat Al-Qur’an). Bacalah Az-Zahrowain, yaitu Al-Baqarah dan Ali ‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat nanti, seperti dua tumpuk awan yang menaungi para sahabat keduanya (Sahabat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran), atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang berbaris membela para sahabat keduanya (Sahabat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran). Bacalah surah Al-Baqarah, karena mengambilnya (membaca, mempelajari dan mengamalkannya) adalah berkah dan meninggalkannya adalah penyesalan. Dan para penyihir tidak akan dapat menghafalkannya (atau tidak mampu mengganggu para pembacanya).”(HR. Imam Muslim dalam shahihnya, Imam Ahmad, dll)

    Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim ketika menjelaskan makna Az-Zahrowain: “Keduanya (Al-Baqarah dan Ali ‘Imran) dinamakan Az-Zahrowain karena cahaya keduanya dan petunjuk keduanya serta besarnya pahala keduanya”.

    Al-Hafidh Zainuddin AbdurRauf Al-Munawi Rahimahullah dalam “As-Sirajul Munir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir”:  “Makna Az-Zahrowain adalah dua cahaya yang bersinar. Keduanya (Al-Baqarah dan Ali ‘Imran) dinamakan dengan nama tersebut karena banyaknya cahaya hukum-hukum syari’at dan nama-nama Allah dalam keduanya atau karena keduanya memberikan hidayah petunjuk kepada pembacanya”.

    Masya Allah, sedemikian mulianya kedudukan penghafal Al-Baqarah dan Ali Imron disisi Para Sahabat. Lantas bagaimana keistimewaan yang Allah berikan kepada para Penghafal 30 juz Al-Qur’an? Bagaimana pula kedudukan mereka yang mempunyai hafalan dengan sangat mutqin dan kuat? Tentu kedudukan mereka sangatlah istimewa dan mulia. (Selesai)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

  • Kemuliaan Para Penghafal Al-Qur’an (III)

    Kemuliaan Para Penghafal Al-Qur’an (III)

    Penghafal Al-Qur’an Mempunyai Modal Utama Dalam Berdakwah

    Dakwah   merupakan   salah   satu   bentuk   komitmen   muslim   terhadap agamanya.  Setiap   muslim   dan   muslimat  wajib   mendakwahkan  Islam,  sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan masing-masing, sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas  yang  dimiliki,  baik  kepada orang  Islam  maupun  orang-orang  yang  tidak  atau belum  beragama  Islam. 

    Tentang  kewajiban  berdakwah,  Allah  ﷺ  berfirman sebagaimana  yang  terdapat  dalam  Al-Qur’an  Surat  Ali  Imran  ayat  104: “Dan hendaklah ada di antara kamu, segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh  kepada  yang  ma’ruf  dan  mencegah  dari  yang  munkar,  merekalah orang-orang yang beruntung.”

    Setiap muslim diperintahkan agar berusaha mengubah kemungkaran yang diketahuinya.  Kaum  muslimin  diperintahkan  agar  ada  sekelompok  muslim  yang menekuni  ajaran  Islam  secara  khusus  untuk  disampaikan  dan  diajarkan  kepada orang lain. Dan Al-Qur’an menempati  posisi  sebagai  sumber pertama dan utama  dari seluruh ajaran Islam  dan berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman  bagi  umat  manusia  dalam  mencapai  kebahagiaan  hidup  di  dunia  dan  di akhirat. Sebagaimana disebutkan dalam Qs. Al-Isra ayat 9: 

    , إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

    “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”.

    Tafsir Al-Wajiz menjelaskan bahwa Allah mengabarkan tentang kemuliaan dan keagungan Al-Quran, bahwasanya Al-Qur’an lebih adil dan mulia dalam aspek akidah, amal perbuatan, maupun akhlak. Barangsiapa yang meraih petunjuk dengan seruan ajaran Al-Qur’an, maka dialah manusia yang paling sempurna, paling lurus dan paling sarat dengan petunjuk dalam segala urusannya. Al-Qur’an juga memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal shalih, baik itu berupa kewajiban-kewajiban maupun perbuatan-perbuatan yang bersifat sunnah.

    Allah telah menyediakan bagi mereka di tempat kemuliaanNya (surga), yang tidak ada yang mengetahui karakteristiknya kecuali Allah. Adapun orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, maka Allah sediakan bagi mereka azab yang pedih. Al-Qur’an mengandung kabar gembira dan ancaman, serta cara-cara perolehan kabar gembira itu, yaitu (dengan cara) beriman dan beramal shalih, dan sebab-sebab yang memastikan (datangnya) ancaman yaitu (dengan melakukan) perkara yang berlawanan dengannya. [1]

    Para Penghafal Al-Qur’an mempunyai modal yang sangat besar dalam berdakwah. Karena Al-Qur’an merupakan materi utama dalam berdakwah. Bagaimana seseorang bisa berdakwah jika tidak memahami Al-Qur’an?

    Maka disinilah keutamaannya para penghafal Al-Qur’an. Allah  mengistimewakan Para penghafal Al-Qur’an karena melalui lisannya, melalui sikap dan perbuatannya, Allah pilih mereka sebagai penyeru kebaikan yang mengajak manusia dari lembah kegelapan menuju ketauhidan yang menjanjikan kebahagiaan dunia akhirat.

    Para Penghafal Al-Qur’an Menjadi Motivator di Medan Peperangan      

    Keutamaan-keutamaan menghafal Al-Qur’an ini tidak hanya terjadi di dalam sholat. Namun di medan perang pun para penghafal Al-Qur’an adalah orang-orang yang dipilih, orang-orang yang menjadi patokan untuk memotivasi pasukan umat islam saat menyebarkan agama Allah SWT.

    Dalam perang Yamamah di tahun 11H/632 M,  Pasukan Abu Bakar yang dipimpin oleh Khalid bin Walid melawan Pasukan Musailamah Alkadzab. Jumlah pasukan kaum muslimin sebanyak 13.000 sedangkan pasukan murtadin berjumlah 40.000 orang. Pada peperangan tersebut, terdapat jumlah korban yang banyak dari kedua belah pihak.

    Perang ini memiliki cerita tersendiri bagi penghafal Alquran. Panglima pasukan, Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu, memberi mandat kepada pemegang bendera. Bendera tidak boleh jatuh dari tangan mereka kecuali karena mati. Dan jangan pula diambil dari mereka kecuali sebelumnya ruh mereka telah diambil.  

    Apakah yang dilakukan oleh sahabat untuk memotivasi sahabat lain? Para shahabat saling memberikan wasiat di antara sesama mereka, dengan berteriak dan mengatakan, “Wahai para Penghapal surat Al-Baqarah, hari ini saatnya menjadi pahlawan.”

    Abu Hudzaifah berkata, “Wahai penghapal Al-Quran, hiasilah Al-Quran dengan amal kalian.” Lalu ia terus maju ke tengah pasukan musuh hingga gugur.

    Pada peperangan itu, Bendera Muhajirin dipanggul oleh Abdullah bin Hafsh bin Ghanim al-Qurasyi. Panji Muhajirin terus berkibar bersamanya hingga ia terbunuh. Kemudian diserahkan kepada Salim, maula Abi Hudzaifah radhiallahu ‘anhu. Salim mengatakan, “Aku tidak mengerti, mengapa kalian serahi aku bendera ini? Menurut kalian, apakah Penghafal Alquran akan teguh kokoh hingga wafat, sebagaimana pemegang sebelumnya?”

    Orang-orang Muhajirin mengatakan, “Iya, lihat apa yang akan terjadi nanti? Apa engkau khawatir kami ditimpa kekalahan karenamu?”

    “Kalau seperti itu, maka aku adalah seburuk-buruk penghafal Alquran,” bantah Salim menepis keraguan kaumnya.

    Salim terus memegang panji muhajirin. Dia tahu, hal ini adalah perjanjiannya dengan Allah dan kaum muslimin. Janji untuk tidak menyerah dan membiarkan bendera pupus terlepas. Salim genggam erat bendera dengan tangan kanannya, hingga tangan kanannya putus tertebas. Lalu pindah ke tangan kirinya, hingga mengalami nasib serupa. Kemudian ia apit hingga tersungkur, sampai akhirnya ruh berpisah dengan jasadnya. Salim pun menepati janjinya. Ia gugur sebagaimana penghafal Alquran, pemegang panji sebelumnya.

    Di saat kritis, Salim bertanya bagaimana keadaan temannya (mantan tuannya), Abu Hudzaifah, “Apa yang terjadi pada Abu Hudzaifah?” Orang-orang menjawab, “Ia terbunuh (syahid)”. “Letakkan aku bersamanya,” Salim meminta dimakamkan satu liang dengan mantan tuannya. Lalu keduanya dikumpulkan dalam satu makam. Keduanya syahid. Mereka berkumpul di perut bumi sebagaimana waktu menginjakkan kaki di atasnya. Mereka hidup bersama dan wafat bersama. Mereka bersama di saat hijrah dan bersama saat kemenangan tiba. Semoga Allah meridhai keduanya.

    Mengapa yang pertama disifati oleh para sahabat adalah Al-Qur’an? “Wahai Para Penghafal surat Al-baqarah?” Demikian karena Al-Qur’an membentuk jiwa manusia menjadi  sangat kuat. Ketika hafalan Al-Qur’an  terhujam kuat di dada manusia, dan melekat erat di otak, maka manusia tersebut akan memiliki mental yang kuat dan tidak mudah menyerah. Selain itu akan mendatangkan juga berkah bantuan dari Allah ﷻ  lantaran  adanya para penghafal Al-Qur’an.

    Alquran adalah panji Islam. Para penghafal Alquran adalah pemegang panjinya. Oleh karena itu, mereka diprioritaskan membawa panji Islam bahkan di tengah kecamuk perang. Pembawa Alquran adalah mereka yang membawanya dalam wujud ilmu dan amal. Mereka memuliakan diri dengan Alquran. Kemudian Islam memuliakan mereka. Dan Allah menjadikan mereka mulia.

    Pada kisah tersebut dapat kita simpulkan bahwa para penghafal Al-Qur’an bukan saja memiliki jiwa yang kuat namun juga terkenal sangat pemberani di medan peperangan. Demikian karena mu’jizat Al-Qur’an yang sangat luar biasa pengaruhnya bagi seluruh alam.

    Allah ﷻ dalam Surat Al Hasyr berfirman dalam QS Al-Hasyr ayat 21 :

    لَوْ أَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْءَانَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُۥ خٰشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ

    “Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah …”

    Kalau sekiranya  Allah turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah) Yakni keagungan, kefasihan, dan kandungan Al-Qur’an yang penuh pelajaran yang dapat melembutkan hati, dan jika ia diturunkan kepada salah satu gunung, meskipun gunung itu sangat kuat dan keras niscaya akan hancur karena ketakutannya kepada Allah dan siksaa-Nya, dan karena kekhawatirannya tidak dapat menjalankan pengagungan firman Allah yang diwajibkan kepadanya. (Zubdatut Tafsir)

    Gunung yang sedemikian kuat, akan bisa menjadi hancur lebur karena Al-Qur’an. Apalagi jika manusia memilki Al-Qur’an di dalam dadanya, yang melekat di otaknya, yang ia pahami dan ia amalkan, pastilah Al-Qur’an ini akan membentuk manusia menjadi sosok yang tangguh, yang mempunyai mental sangat kuat. Ia akan mampu menghadapi berbagai kesulitan dan rintangan dalam hidupnya.

    Kita memerlukan generasi yang bermental sangat kuat, tangguh, pemberani juga pantang menyerah. Demikian karena tantangan yang akan dihadapi oleh generasi anak-anak kita akan jauh lebih berat dibandingkan masa generasi kita.

    Dahulu, tidak ada godaan narkoba, pornografi dls. Kedepannya, godaan tersebut tentu akan menjadi lebih banyak lagi. Belum lagi tantangan globalisasi  dan integrasi budaya internasional, dimana terjadi pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan secara besar-besaran. Jika generasi penerus kita tidak bermental kuat, maka mereka akan kesulitan menghadapi tantangan masa depan.

    Nah, untuk menguatkan mental generasi penerus kita, salah satu jalan utamanya adalah menggiring mereka untuk dekat dengan Al-Qur’an, meminta mereka untuk menghafal Al-Qur’an, mentadaburinya, memahaminya dan mengamalkannya. Karena tidak ada cara lain guna meraih kejayaan peradaban islam kecuali melalui Al-Qur’an.

    (Bersambung Bag. IV)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.


    [1] Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Wajiz,  pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah.

  • Kemuliaan Para Penghafal Al-Qur’an (II)

    Kemuliaan Para Penghafal Al-Qur’an (II)

    Raih Kualitas Shalat Terbaik Melalui Hafalan Al-Qur’an

    Para Penghafal Al-Qur’an dengan jumlah hafalan yang dimilikinya, maka ia mendapat peluang besar untuk meraih kualitas shalat terbaik.  Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa shalat yang paling afdhal adalah Qunut yang lama.

     وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَيُّ الصَّلاَةِ أَفْضَلُ ؟ قَالَ : (( طُولُ القُنُوتِ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ . المُرَادُ بِـ (( القُنُوْتِ )) : القِيَامُ .

    Jabir RA berkata, “Rasulullah ﷺ ditanya, ‘Shalat manakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Yang lama berdiri.’ [HR. Muslim, no. 756]. Yang dimaksud dengan qunut adalah berdiri.

    قال النووي : المراد بالقنوت هنا طول القيام باتفاق العلماء فيما علمت . أ.هـ

     Menurut Imam Nawawi, sebagaimana disepakati oleh para ulama, Qunut berarti lamanya waktu berdiri pada saat shalat.

    Qunut  sendiri, secara bahasa ada beberapa makna yaitu dawamuth tha’ah (terus menerus dalam ketaatan), thulul qiyam (berdiri yang lama), sukut (diam), ad-du’aa (berdoa). Sedangkan kalau para fuqaha menyebut qunut, maka yang dimaksud adalah doa dalam shalat saat berdiri. Namun sesuai dengan konteks hadits tersebut diatas, Qunut berarti berdiri.

    Para penghafal Al-Qur’an memiliki kesempatan terbesar untuk mendapatkan keutamaan ini. Mereka  bisa berdiri cukup lama di dalam shalatnya (terutama shalat malam dan shalat-shalat sunnah lainnya) dengan membaca Al-Qur’an sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ  yaitu dengan membaca surat Al Baqarah, An Nisa, Al Imran dalam satu rakaat pada waktu melaksanakan shalat malam.

    وَعَنْ حُذَيْفَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ البَقرَةَ ، فَقُلْتُ : يَرْكَعُ عِنْدَ المئَةِ ، ثُمَّ مَضَى ، فَقُلْتُ : يُصَلِّي بِهَا في رَكْعَةٍ فَمَضَى ، فَقُلْتُ : يَرْكَعُ بِهَا ، ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ، ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا ، يَقرَأُ مُتَرَسِّلاً : إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيْحٌ سَبَّحَ ، وَإذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ ، وَإذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ ، ثُمَّ رَكَعَ ، فَجَعَلَ يَقُولُ : (( سُبْحَانَ رَبِّيَ العَظِيمِ )) فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحْواً مِنْ قِيَامِهِ ، ثُمَّ قَالَ : (( سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ، رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ )) ثُمَّ قَامَ طَوِيْلاً قَِريْباً مِمَّا رَكَعَ ، ثُمَّ سَجَدَ ، فَقَالَ : (( سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى )) فَكَانَ سجُودُهُ قَرِيْباً مِنْ قِيَامِهِ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

    Dari Hudzaifah RA, ia berkata, “Aku shalat bersama Nabi ﷺ pada suatu malam. Maka beliau membuka shalat tersebut dengan surah Al-Baqarah. Lalu aku berkata (dalam hati), ‘Beliau akan rukuk pada ayat yang keseratus, kemudian seratus ayat pun berlalu, beliau melanjutkan bacaannya.’ Lalu aku berkata, ‘Beliau akan shalat dengan surah Al-Baqarah dalam satu rakaat, kemudian ternyata beliau meneruskan bacaannya.’ Lalu aku berkata, ‘Beliau akan segera rukuk, dan ternyata beliau memulai membaca surah An-Nisa’ hingga selesai. Kemudian beliau memulai lagi dengan surah Ali ‘Imran hingga selesai. Beliau membaca dengan perlahan-lahan. Apabila beliau melewati ayat yang di dalamnya terdapat tasbih, beliau bertasbih. Apabila beliau melewati ayat yang berisi permintaan, beliau meminta. Dan apabila beliau melewati ayat yang berisi meminta perlindungan, beliau meminta perlindungan.

    Kemudian beliau rukuk, lalu mulai mengucapkan, ‘SUBHAANA ROBBIYAL ‘AZHIIM’ (artinya: Mahasuci Rabbku Yang Maha Agung).’ Rukuk beliau sama seperti berdirinya, kemudian beliau mengucapkan, ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, ROBBANAA LAKAL HAMDU (artinya: Semoga Allah mendengar kepada siapa saja yang memuji-Nya, Wahai Rabb kami, hanya milik-Mu lah segala puji).’ Kemudian beliau berdiri lamanya hampir sama dengan rukuknya. Lalu beliau sujud, kemudian mengucapkan, ‘SUBHAANA ROBBIYAL A’LAA (artinya: Mahasuci Rabbku Yang Mahatinggi).’ Maka lama sujudnya hampir sama dengan berdirinya.’” [HR. Muslim, no. 772]

    Teladan memperbanyak bacaan surat Al-Qur’an pada waktu shalat, juga dicontohkan oleh para sahabat dan ulama salaf.  Imam an Nawawiy Rahimahullah dalam kitab beliau Attibyan Fii Adaab Hamalat Al Qur’an menjelaskan bahwa

     وأما الذي يختم في ركعة فلا يحصون لكثرتهم فمن المتقدمين عثمان بن عفان وتميم الداري وسعيد بن جبير رضي الله عنهم ختمة في كل ركعة في الكعبة

    “Adapun yang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu raka’at shalat maka jumlahnya juga tidak dapat dihitung karena banyaknya. Diantara mereka yang termasuk shahabat senior adalah ‘Utsman bin ‘Affan, Tamiim Ad Daariy, Sa’iid bin Zubair Rodhiyallahu ‘anhum. Mereka mengkhatamkan Al Qur’an dalam satu raka’at ketika sholat di depan ka’bah.” [1]

    Betapa pentingnya peran hafalan yang dimiliki oleh para Penghafal Al-Qur’an. Semakin banyak hafalan Al-Qur’an yang dimiliki, maka akan semakin panjang waktu shalat yang bisa dikerjakan, dan semakin besarlah peluang untuk meraih kualitas shalat terbaik.

    Penghafal Al-Qur’an Paling Berhak Menjadi Imam

    Diantara keutamaan para Penghafal Al-Qur’an adalah menjadikannya sebagai yang paling berhak menjadi imam shalat. Demikian karena di dalam shalat berjamaah, sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ , hendaknya kita menjadikan mereka yang paling faham dan yang paling banyak hafalannya untuk menjadi imam. Sebagaimana dalam sebuah hadits: Abu Mas’ud Al Anshori rodhiyallahu ‘anhu, Beliau mengatakan,

        قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِى السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِى الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِى سُلْطَانِهِ وَلاَ يَقْعُدْ فِى بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

    Rasulullah ﷺ mengatakan, “Yang menjadi imam dari suatu kaum adalah orang yang paling banyak hafalan terhadap Kitab Allah (Al-Qur’an), jika diantara mereka ada yang memiliki hafalan sama maka yang menjadi imam mereka adalah orang yang paling paham tentang sunnah Nabi (hadits) jika diantara mereka masih sama maka yang paling dahulu hijroh jika mereka dalam masalah hijroh sama maka yang lebih dahulu masuk islam. Janganlah seorang laki-laki menjadi imam seorang lelaki yang lain yang merupakan sulthonnya dalam daerah kekuasaan sulthon tersebut dan tidak pula di rumah orang yang di datanginya sebagai bentuk pemuliaan baginya kecuali atas izin orang tersebut” (HR. Muslim No. 672).

    Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa orang yang paling pandai bacaan Al-Qur’annya dan paling banyak hafalannya lebih berhak menjadi imam shalat. Jika diantara jamaah tersebut sama hafalan Al-Qur’annya maka diutamakan yang lebih paham tentang hukum fiqih dan sunnah. Jika masih sama maka didahulukan yang terlebih dahulu hijrahnya. Jika masih sama maka didahulukan yang lebih dahulu masuk islam. Ada juga yang berpendapat bahwa terlebih dahulu hijrah adalah sinnan atau yang lebih tua usianya. Adapun ahlul bait atau tuan rumah lebih berhak mengimami di rumahnya dibandingkan tamunya. Begitu juga Wali suatu wilayah lebih berhak mengimami di wilayahnya dibandingkan pendatang. Kecuali jika wali tersebut telah menunjuk orang lain sebagai imam atas izinnya.

    (Bersambung Bag. III)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.


    [1]  Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi,  Attibyan Fii Adaab Hamalat Al Qur’an, dengan tahqiq Abu ‘Abdullah Ahmad bin Ibrohim Abul ‘Aynaiyn hal. 70-72 terbitan Maktabah Ibnu ‘Abbas, Kairo, Mesir.

  • Kemuliaan Para Penghafal Al-Qur’an (I)

    Kemuliaan Para Penghafal Al-Qur’an (I)

    KEMULIAAN PARA PENGHAFAL AL-QUR’AN

    Menghafal Al-Qur’an merupakan aktifitas yang sangat mulia.  Kemuliaan tersebut sudah banyak tercantum di dalam Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Rasulullah ﷺ. Sang Ahlul Qur’an, Allah muliakan kedudukannya di dunia dan akhirat. Bahkan saking mulianya, Allah menyematkan gelar bagi para Ahlul Qur’an sebagai keluarga Allah di muka bumi.

    Diantara berbagai keunggulan, keutamaan dan kemuliaan para Ahlul Qur’an tersebut, maka para Penghafal Al-Qur’anlah yang paling banyak mendapatkan keutamaannya. Demikian karena untuk bisa menghafalkan Al-Qur’an, baik itu satu ayat, dua ayat, satu surat, dua surat dan seterusnya, pasti mereka akan membacanya terlebih dahulu.

    Diantara proses menghafal Al-Qur’an, ada juga yang menyertainya dengan mendengarkannya terlebih dahulu, membacanya, membaca tafsirnya, mentadabburinya dan  mengamalkannya. Kenapa semua keutamaan Ahlul Qur’an ini banyak didapatkan oleh para Penghafal Al-Qur’an? Ya, karena bisa dipastikan, para Penghafal Al-Qur’anlah yang paling banyak membaca Al-Qur’an, dan mereka pula yang paling banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an.

    Indahnya Mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ

    Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Sunnah adalah jalan yang dilewati, dan hal itu mencakup berpegang teguh dengan petunjuk Nabi ﷺ dan para Khulafaur Rasyidin, yang berupa keyakinan, amal perbuatan, dan perkataan. Inilah Sunnah yang sempurna”[1]

    Nabi Muhammad ﷺ adalah nikmat Allah ﷻ bagi makhluk-Nya, beliau adalah sosok agung yang Allah utus sebagai perwujudan nikmat dan karunia Allah atas hamba-Nya. Rasulullah diutus untuk menyampaikan ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa manusia, mengajarkan alkitab dan hikmah sehingga membawa manusia dari kejahiliyahan menuju peradaban islam.

    Bagi Penghafal Al-Qur’an, sesungguhnya Allah telah memuliakan mereka karena mereka termasuk golongan yang mengikuti sunnah Rasulullahﷺ. Demikian karena Rasulullah ﷺ juga menghafal Al-Qur’an.  Setiap bulan Ramadhan, malaikat Jibril selalu mendatangi beliau, menemui beliau  dan mengajak beliau untuk tadarus Al-Qur’an dan mengkhatamkannya.

    Sampai pada tahun akhir kehidupan beliau, beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak dua kali di bulan Ramadhan bersama malaikat Jibril.  Jadi, pada saat kita atau putra-putri kita menghafal Al-Qur’an maka secara langsung kita sudah mengikuti sunnah dan tuntunan Rasulullahﷺ.

    Al-Qur’an yang hingga sekarang kita baca, keasliannya sangat terjaga karena dikawal oleh Rasulullah ﷺ dan malaikat Jibril AS. Rasulullah selalu didatangi oleh Jibril pada setiap bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur’an. Sebagaimana dalam sebuah hadits:

    عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

    Dari  Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril As menemuinya, dan adalah Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan, dimana Jibril mengajarkannya Al-Quran. Sungguh Rasulullah ﷺ orang yang paling lembut melebihi angin yang berhembus” (HR. Bukhari)

    Hadits tersebut menunjukkan bukti bahwa Nabi bertadarus  (membaca dan mempelajari) Al-Qur’an bersama Jibril selama bulan Ramadhan. Selama tadarus ini, Jibril memberitahu letak dan urutan setiap ayat. Hadits ini menjadi dalil bagi golongan ulama yang meyakini bahwa urutan ayat dan surat Al-Qur’an adalah tauqifi yaitu berdasarkan tuntunan dari Nabi atas petunjuk Allah melalui malaikat Jibril.

    Karena itu, Jibril mengkhatamkan Al-Qur’an setahun sekali bersama Nabi setiap bulan Ramadhan, sedangkan pada tahun dimana Rasulullah meninggal, beliau mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali bersama Jibril.

    Demikianlah, menghafal Al-Qur’an adalah bagian dari sunnah Nabi. Pantaslah berbahagia, bagi sesiapapun yang telah Allah istimewakan menjadi pengikut sunnah Nabi-Nya. Tiada keindahan yang pantas diupayakan, melebihi indahnya mengikuti sunnah dari Rasul teladan, Rasul terbaik di muka bumi.

    (Bersambung Bag. II)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.


    [1] Imam Ibnu Rajab Al Hanbali, Jami’ul-‘Ulum wal-Hikam, penerbit Darul-Ma’rifah, Beirut, cet. 1, th. 1408 H, hlm. 263.

  • Seri Tausiyah Online

    Seri Tausiyah Online

    IBUNDA SANG HAFIZH – ASMA’ BINT ABU BAKR (Sesi 2)

    Asma’ Ra, keberhasilannya dalam mendidik putra-putranya, menjadikannya layak sebagai teladan bagi generasi setelahnya.

    Asma’ Ra adalah salah satu sosok mulia yang mempunyai banyak keberkahan. Asma’ Ra terlahir dari Ayahanda yang dijamin masuk surga yaitu Abu Bakr Ra dan merupakan istri dari sahabat yang dijamin masuk surga yaitu Az Zubair Bin Awwam.

    Asma’ Ra juga menjadi salah satu muhajirin yang mendapat keberkahan dari panjangnya usia yaitu mencapai 100 tahun.

    Apa saja keutamaan ibunda teladan ini dalam mendidik generasi Islam?

    Temukan jawabannya dalam Tausiyah Online bersama Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak – Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I. pada:
    ▪️Hari : Ahad, 20 Desember 2020/ 05 Jumadal ula 1442 H
    ▪️Tema : Ibunda Sang Hafizh – Asma’ Bint Abu Bakr (Sesi 2)
    ▪️Waktu : 18.30 WIB – Selesai
    ▪️Penyelenggara: YAYASAN SAHABAT QUR’AN
    ▪️Peserta : Umum
    ▪️Saksikan Live Streaming melalui:
    •YouTube Channel:

    https://youtube.com/c/ISLAMICCENTERWADIMUBARAKOFFICIAL


    ➖➖➖➖➖➖
    ↪️Yuk bantu share info kajian ini sebanyak-banyaknya.

  • HIKMAH KARANTINA PANDEMI COVID 19

    HIKMAH KARANTINA PANDEMI COVID 19

    Tausyiah Online Dr. Muhammad Didik Hariyanto, Lc., M.P.I. Bersama Pengelola TAUD SaQu-MIT SaQu se-Indonesia

    Pengajar adalah Profesi Mulia

    Salah satu profesi Rasulullah ﷺ, adalah sebagai pengajar atau pendidik, sebagaimana yang termaktub dalam sebuah hadits:

    وإنما بعثت معلما
    “𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘪𝘥𝘪𝘬 /𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳” ( HR. Ibnu Majah).

    Maka berbahagialah bagi sesiapapun yang memiliki profesi tersebut, karena sejatinya telah mewarisi profesi mulia nabi ﷺ yaitu menjadi Guru.

    Hikmah Menjalani Masa Karantina Global

    Karantina menjadi pilihan solusi di berbagai dunia dalam rangka meminimalisir peyebaran pandemi covid 19. Terdapat beberapa hikmah yang bisa kita ambil, dibalik takdir pandemi global ini, diantaranya yaitu:

    • Sarana mengevaluasi diri.

    Saat inilah, masa dimana Allah berikan banyaknya keluangan waktu di rumah, menjadi sarana untuk merenungi perjalanan hidup kita.  Evaluasi tersebut sangat bermanfaat sebagai sarana untuk memperbaiki diri menuju pribadi yang lebih baik.

    • Waktu untuk berkhalwat bersama Allah.

    Berkhalwat adalah waktu khusus yang kita sediakan untuk menyendiri, berdoa kepada Allah. Hendaknya setiap hari,  kita selalu meluangkan waktu  untuk berkhalwat kepada Allah.  Waktu tersebut kita pergunakan untuk merenungi apa yang selama ini sudah kita kerjakan. Kesalahan apa yang sudah kita perbuat. Dan segera meminta ampunan kepada Allah. Juga memaafkan semua kesalahan dari sesama kita.  Efek positif dari aktivitas ini adalah akan mewujudkan lompatan keilmuan juga lompatan kegiatan dakwah yang kita dapatkan dari petunjuk Allah.

    • Masa untuk saling menumbuhkan semangat keimanan.

    Panjangnya masa karantina, yang membatasi aktivitas diluar rumah, seringkali menimbulkan kejenuhan dan kegelisahan. Hal tersebut wajar terjadi. Bahkan para ulama terdahulu pun terkadang merasakan kejenuhan dalam masa menuntut ilmu. Adapun salah satu solusi yang dijalankan oleh para ulama terdahulu adalah saling memanggil, membuat majelis, untuk saling memperbarui semangat keimanan.

    Cara Menumbuhkan Keimanan

    • Kembali kepada Alquran

    Salah satu hal yang paling utama dalam menumbuhkan keimanan adalah kembali kepada Alquran.  Berikut adalah salah satu doa indah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ;

    اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي

    “Ya Allah, sungguh aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku pada diriku, keputusan-Mu adil terhadapku, Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang merupakan milik-Mu, nama yang engkau lekatkan sendiri untuk menamai diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang di antara hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar engkau menjadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku dan pelenyap keresahanku.( HR. Al-Imam Ahmad bin Hanbal), [Musnad Ahmad no. 3712]

    • Jadikan Alquran sebagai tempat berseminya hati.

                Kata رَبِيعَ dalam doa tersebut, mempunya makna; semi. Doa tersebut mengajarkan kita agar menjadikan Alquran sebagai tempat berseminya hati kita. Istilah semi, jika dianalogikan pada sebuah musim. Maka musim semi inilah musim yang terindah, dimana daun yang sebelumnnya berguguran mulai menghijau, dan pepohonan mulai menumbuhkan beraneka rupa bunga.

                Jika seseroang sedang penat dan lelah. Kemudian memasuki sebuah taman. Dimana didalamnya bertumbuh beraneka macam tanaman, dengan dedaunan dan bunga bunga yang indah dan berwarna warni. Tentu akan memunculkan kebahagiaan bagi pengunjungnya. Rasa lelah dan penat, bisa hilang dan terobati dari kebahagiaan menikmati taman bunga yang menghibur. Nah demikian juga Alquran. Dengan upaya kita untuk menjadi Alquran sebagai tempat kembali, maka segala penat dan lelah pun akan hilang, karena Alquran memberikan kebahagiaan yang hakiki.

    • Jadikan Alquran sebagai cahaya

                Banyak pesan pesan yang Allah berikan melalui Alquran. Alquran merupakan cahaya abadi yang bersumber dari Allah. Barangsiapa yang membacanya, mentadabburinya, mengamalkannya, bukan saja mendapatkan limpahan pahala, melainkan juga membuatnya terjauh dari kesedihan dan gundah gulana.

    Zaman milenial ini, banyak yang mencari ketenangan melalui musik atau tempat tempat hiburan malam. Sesungguhnya hal tersebut hanyalah fatamorgana belaka. Setan membuat hal haram seolah  menjadi indah. Para pelakunya pun tidak akan mendapatkan ketenangan. Karena pencerahan hakiki adalah yang bersumber dari Alquran

    • Buatlah aktivitas amaliah yang manfaat

    Masa karantina covid 19 adalah masa yang abnormal. Dimana kita tidak bisa melaksanakan aktivitas seperti sebelum masa karantina. Maka hanya orang prang yang sadar dan pandai memanfaatkan waktulah yang bisa berhasil menjalani masa karantina ini.

    Beragam pilihan aktivitas yang dijalankan dalam mengisi masa karantina. Ada yang bersantai santai di rumah, ada yang mempunyai target meningkatkan keilmuan dengan membaca kitab kitab ilmiah ada juga yang berlomba menghafal dan menghatamkan Alquran.

    Dalam mengisi karantina, bahkan, ada hamba Allah yang selama 22 tahun dan ia mampu istiqomah menghatamkan Alquran setiap 2 hari. Akan menjadi seperti apakah kita setelah 3 bulan kedepan? Apakah menjadi pribadi yang lebih baik ataukah menjadi pribadi yang merugi? Outputnya berbeda beda.  Ada yang menghafalkan Alquran dalam 3 bulan. Ada juga yang menghatamkan Alquran berkali kali dalam 3 bulan. Itukah kita?

    • Jadikan Wabah sebagai Pesan Cinta dari Allah

    Masa sekarang ini adalah masa dimana banyak waktu luang bersama anak anak dan keluarga. Perlu kiranya kita meningkatkan peran positif dan memberikan perhatian yang lebih besar kepada keluarga dan anak anak.

    Betapa banyak orang tua yang lalai dalam memperhatikan pertumbuhan pendidikan akhlak anak. Sehingga setelah anaknya dewasa, sudah lebih dari 20 tahun, dan anaknya di luar prediksi dia, tumbuh menjadi anak yang membawa  banyak  masalah, barulah orangtuanya menyadari bahwa selama ini mereka tidak dekat dengan anaknya karena kesibukan.

    Orang tua ini, seakan-akan dengan memberikan uang saku dan materi kepada anak, maka sudah  sudah tertunai kewajibannya. Mereka lupa, bahwa hal yang paling berharga adalah waktu yang orang tua luangkan untuk anak anaknya. Waktu yang orang tua sediakan untuk ibadah bersama, juga  waktu untuk murojaah bersama anak anaknya.

    Zaman sekarang ini, anak sudah jauh dari fitrahnya. Artinya anak tidak lagi dianggap sebagai penyejuk pandangan atau sebagai qurrota a’yun. Demikian karena anak bukan lagi menjadi prioritas perhatian utama. Prioritas orang tua sudah bergeser kepada aktivitas bisnis atau karier yang harus dikejar.

    Maka masa Pandemi ini, jadikan sebagai pesan cinta dari Allah kepada kita, agar kita kembali memaksimalkan waktu kita untuk meningkatkan peran kita kepada keluarga dan anak anak kita.

    • Perbanyak Syukur

    Anak adalah karunia dari Allah. Jika pasangan suami istri melakukan flash back. Pada masa awal setelah pernikahan, maka harapan terbesar adalah ingin disegerakannya mempunyai buah hati. Dan Masya Allah, Allah telah mengkaruniakan anak anak yang menyenangkan disisi kita. Banyak orang orang yang tidak seberuntung kita. Dan itu bukan dialami oleh manusia biasa, melainkan dialami manusia-manusia pilihan. Dialami oleh para Nabi.

    Tidakkah kita bersyukur? Nabi Ibrahim, pada usia menginjak 100 tahun, masih belum dikaruniai anak oleh Allah. Dan banyak lagi manusia yang belum dikaruniai anak, maka mereka mengusahakan sekuat tenaga.  Apapun yang mereka miliki, mereka siap mengorbankannya dan menukarnya dengan seorang anak.

    Betapa banyak juga orang tua yang menginginkan anak, tapi ternyata wafat sebelum melihat anaknya. Tak seorangpun berharap, bahwa ia wafat pada masa sebelum kelahiran anaknya. Tentu semua berharap memiliki anak dan mampu menimangnya serta membesarkannya sebelum diwafatkan. Dan harapan itupun tidak dialami oleh Ayahanda dari Nabi mulia ﷺ, yaitu Abdullah. Dimana Abdullah wafat sebelum sempat melihat kelahiran anaknya. Maka atas semua itu, masih pantaskah kita untuk mengeluh?

    Notulen: Fahmi Afnariyadi

    Editor: Tanti Ummu Fadhlan

  • Seri Tausiyah Online

    Seri Tausiyah Online

    IBUNDA SANG HAFIZH – ASMA’ BINT ABU BAKR (Sesi 1)

    Asma’ Ra, keberhasilannya dalam mendidik putra-putranya, menjadikannya layak sebagai teladan bagi generasi setelahnya.

    Asma’ Ra adalah salah satu sosok mulia yang mempunyai banyak keberkahan. Asma’ Ra terlahir dari Ayahanda yang dijamin masuk surga yaitu Abu Bakr Ra dan merupakan istri dari sahabat yang dijamin masuk surga yaitu Az Zubair Bin Awwam.

    Asma’ Ra juga menjadi salah satu muhajirin yang mendapat keberkahan dari panjangnya usia yaitu mencapai 100 tahun.

    Apa saja keutamaan ibunda teladan ini dalam mendidik generasi Islam?

    Temukan jawabannya dalam Tausiyah Online bersama Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak – Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I. pada:
    ▪️Hari : Ahad, 13 Desember 2020/ 28 Rabi’ul Akhir 1442 H
    ▪️Tema : Ibunda Sang Hafizh – Asma’ Bint Abu Bakr (Sesi 1)
    ▪️Waktu : 18.30 WIB – Selesai
    ▪️Penyelenggara: YAYASAN SAHABAT QUR’AN
    ▪️Peserta : Umum
    ▪️Saksikan Live Streaming melalui:
    •YouTube Channel:

    https://youtube.com/c/ISLAMICCENTERWADIMUBARAKOFFICIAL


    ➖➖➖➖➖➖
    ↪️Yuk bantu share info kajian ini sebanyak-banyaknya.

  • Istri Imran: Mempersiapkan Keshalihan Anak Sejak dalam Kandungan

    Istri Imran: Mempersiapkan Keshalihan Anak Sejak dalam Kandungan

    Jika ada sebuah film atau cerita, tentu yang sering di-highlight adalah seputar tokoh utama. Begitu pula kisah tentang Hannah binti Faquz, skenarionya sangat istimewa diabadikan dalam surah Ali Imran ayat 33-37. Sangat singkat namun sarat hikmah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

    إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحًا وَءَالَ إِبْرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمْرَٰنَ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ

    “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing).”
    (Ali Imran, 3: 33)

    Setelah Allah berfirman memilih Keluarga Imran sebagai salah satu profil terbaik pada zamannya – disetarakan dengan keutamaan Nabi Adam, Nabi Nuh dan Keluarga Ibrahim ‘alaihimussalam; pada ayat berikutnya Allah langsung menceritakan tentang Istri Imran. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

    إِذْ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ عِمْرَٰنَ رَبِّ إِنِّى نَذَرْتُ لَكَ مَا فِى بَطْنِى مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

    “(Ingatlah), ketika istri `Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” [Ali Imran, 3: 35]

    Baca juga Sosok Ibu Teladan Dalam Sejarah

    Dengan alur yang sangat singkat, dikisahkan tentang kehamilan Hannah dan nadzar kehamilannya kepada Rabbnya. Itu berarti nadzar yang diikrarkan kepada Rabbnya sangat penting untuk direnungkan dan diambil pelajaran bagi kaum Muslimin yang mau mengkajinya.

    Istri Imran berjanji kepada Rabbnya bahwa dia akan mempersiapkan bayi dalam kandungannya kelak menjadi hamba Allah shalih yang berkhidmat di Baitul Maqdis. Isi janjinya lebih bermakna sebagai doa & harapan yang dia pinta dan sampaikan kepada Rabbnya, supaya kelak anak yang dilahirkannya menjadi hamba yang berbakti kepada Allah dan mengabdi untuk agama Allah.

    Sebagai seorang Ibu yang bertaqwa, Hannah pun berkomitmen dengan janji & harapan yang dibuatnya sendiri. Hannah tentu menjaga kehamilannya dengan cermat, tekun beribadah dan senantiasa mendoakan sang calon bayi yang berada dalam kandungannya. Boleh jadi mengajak sang janin berkomunikasi semoga kelak menjadi anak seperti yang diharapkan.

    Tidak mustahil, sebab penelitian saat ini pun menjelaskan bahwa pendengaran janin telah aktif untuk menerima dan merekam rangsangan suara dari luar. Terlebih itu adalah suara ibundanya, dapat berupa bacaan Al-Qur’an maupun doa. Janin juga sudah bisa menerima rangsangan berupa elusan kasih sayang dari kedua orang tuanya di perut.

    Hannah sudah sangat lama menanti kehamilan, sehingga dia hamil di usia senja. Suaminya pun meninggal ketika dia mengandung. Sudah pasti Hannah sangat menjaga bayi dalam kandungannya dengan hati-hati, sebagai bentuk rasa syukur kepada Rabbnya.

    Baca juga Ibu Membentuk Kepribadian Anak

    Hingga masa melahirkan pun, Hannah tak pernah putus komunikasi dengan Rabbnya. Begitu lahir dan mengetahui bayinya seorang perempuan, dia pun mengadu pada Rabbnya. Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya. Dan itulah ketetapan-Nya.

    Sekali lagi Hannah menerima (ridha) dengan apapun yang dikaruniakan Allah kepadanya. Langsung terucap doa keluar dari lisannya bagi bayi Maryam yang dilahirkannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

    فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّى وَضَعْتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلْأُنثَىٰ ۖ وَإِنِّى سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّىٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ

    Maka ketika melahirkannya, dia berkata, “Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. “Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak-cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.”
    [Ali Imran, 3: 36]

    Dari Abu Hurairah yang bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Tiada seorang anak pun yang baru dilahirkan melainkan setan menyentuhnya ketika dilahirkan, lalu ia menjerit menangis karena setan telah menyentuhnya, kecuali Maryam dan anak laki-lakinya.”

    Kemudian Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Bacalah oleh kalian jika kalian suka firman berikut,” yaitu: ‘Dan sesungguhnya aku melindungkannya serta anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari setan yang terkutuk.’

    Coba tanyakan pada diri sendiri saat melahirkan, doa apa yang terbetik seketika. Biasanya harapan menjadi anak shalih, penyejuk mata hati, sehat ibu dan bayinya. Hanya seputar anak yang dilahirkan. Namun berbeda dengan Hannah, spontanitas mendoakan untuk bayi yang dilahirkan serta anak keturunannya.

    Baca juga: Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta

    Perhatikanlah doa Istri Imran saat persalinannya. Dia tidak hanya mendoakan bayi yang baru saja lahir, akan tetapi sekaligus anak keturunannya. Seperti itulah karakter seorang wanita mukminah yang memiliki visi dan pemikiran yang jauh (hingga generasi) ke depan. Pandangannya melampaui zamannya.

    Sekarang kita belajar dari Hannah tentang salah satu berdoa terbaik saat melahirkan. Allah abadikan kisahnya supaya para wanita beriman mengambil teladan dari para wanita mulia masa lampau di dalam Al-Qur’an.

    Tidak hanya itu, Hannah telah mempersiapkan keshalihan sang jabang bayi sejak dalam kandungan, walau dia tak tahu yang akan dilahirkannya laki-laki atau perempuan.

    Persiapan dini sejak kehamilan hingga saat persalinan, memikirkan generasi melampaui zamannya, hanya dapat dilakukan oleh wanita mukminah yang visioner seperti Istri Imran.

    Demikianlah kesuksesan Keluarga Imran dalam mempersiapkan anak keturunannya yang terbaik di zamannya hingga lahir biidznillah: Maryam, wanita yang dipuji Rabbnya sangat menjaga kehormatannya dan termasuk qanitin (hamba yang taat); dan Isa putra Maryam seorang Nabi Allah yang istimewa.

    Bisa disimpulkan potret keluarga Imran yang utama, dimulai dan kunci awalnya terdapat pada sosok Hannah, istri Imran, seorang wanita yang bertaqwa, dekat dengan Rabbnya serta visioner. Wallahu a’lam.

    Oleh: A. Damayanti Ahmad, M.Pd.I.

    Baca sebelumnya: Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan

  • Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan

    Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan

    Benar kiranya bahwa ibu adalah madrasah nomor satu, karena ibu ini sejatinya telah mendidik buah hatinya, sejak janin tersebut dalam kandungan. Selama 9 bulan, janin bertumbuh didalam rahim sang ibu. Atas jerih payah sang ibu inilah, maka kewajiban kita adalah memuliakannya dalam seluruh aktivitas kehidupan kita.

    وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

    “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”
    (QS. Luqman (31): 14)

    Baca juga: Sosok Ibu Teladan Dalam Sejarah

    Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika anak masih dalam kandungan:

    Membacakan doa
    Salah satu cara mendidik anak sejak dalam kandungan adalah dengan memanjatkan doa. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Zakaria didalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 38: Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik (shaleh). Sesungguhnya Engkaulah Maha Pendengar doa”

    Stimulasi suara
    Suara adalah salah satu sumber stimulasi janin. Suara ini bentuk komunikasi antara Ibu dan janin. Janin mendengar melalui vibrasi pada tulang kraniumnya. Untuk alasan inilah, suara ibu mempunyai resonansi yang unik bagi janin. Adapun suara yang paling utama untuk diperdengarkan ke janin adalah suara-suara bacaan Ayat al-Qur’an.

    Mengajak berbicara
    Lakukanlah komunikasi islami dengan buah hati sejak dalam kandungan, karena pada minggu ke-25 janin sudah dapat mendengar dan mengenali suara orang-orang terdekatnya seperti ibu dan ayahnya. Untuk itu maka ajaklah janin untuk berbicara dengan mengelus-elus perut. Misalnya: Ketika sang ibu mau shalat, membaca Al-Qur’an, ataupun bersedekah maka ajaklah sang janin berbicara dengan cara: “Adik, ibu mau shalat, karena shalat merupakan kewajiban setiap muslim dan sebagainya,” Biasanya respon janin dengan tendangan ke arah perut sang ibu.

    Baca juga: Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta

    Menjaga perilaku orang tua
    Bagi ibu yang sedang mengandung, menjaga perilaku sangat penting dan dibutuhkan, karena hubungan emosional sipritual antara ibunda dan janin ini sangatlah kental. Akhlak dan perilaku orang tua sangat berpengaruh terhadap akhlak anak-anaknya kelak, makanya orang tua harus menjaga sikap, ucapan dan perilaku. Jika orang tua berperilaku baik maka anaknya akan ikut baik seperti ibunya pula.

    Referensi:
    1 Syaikh Shaleh al-Fauzan dalam kitab “Makaanatul mar-ati filIslam”
    2 Ka’Selly Astriana (HIMPAS Psikologi) , Seminar Nasional: “Pengajaran Al-Qur’an Sejak Dalam Kandungan”

    Baca sebelumnya Ibu Membentuk Kepribadian Anak

  • Ibu Pembentuk Kepribadian Anak

    Ibu Pembentuk Kepribadian Anak

    Ibu adalah madrasah yang paling utama dalam pembentukan kepribadian anak. Ibu adalah “gudang ilmu”, “pusat peradaban” dan “wadah” yang menghimpun sifat-sifat akhlak mulia. Ibu berperan besar dalam pembentukan watak, karakter dan kepribadian anak-anaknya. Ia adalah sekolah pertama dan utama sebelum si kecil mengenyam pendidikan di sekolah manapun.

    Peran ibu tidak bisa tergantikan oleh siapapun. Ibu memiliki peran lebih dari sekolah yakni membangun kecerdasan emosional anak bahkan membangun kecerdasan spiritual anak. Awal mula tumbuhnya generasi baru adalah dalam asuhan ibu, yang ini semua menunjukkan mulianya tugas kaum wanita dalam (upaya) memperbaiki generasi bangsa.

    Menjadi seorang ibu adalah sebuah kehormatan, oleh karenanya, Islam memandang posisi ibu sebagai posisi paling penting. Kedudukan ibu ini sangat mulia. Ibu juga tiang negara, bila ia baik maka negara akan menjadi baik dan bila ia rusak maka negara pun akan hancur.

    Baca juga: Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta

    Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi: “Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan)

    Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Tafsir Al-Qurthubi, Jilid 10 hal. 239)

    Oleh: Tanti Ummu Fadhlan

    Baca sebelumnya Sosok Ibu Teladan Dalam Sejarah