Kategori: Quranic Parenting

  • Nabi Zakaria-Kisah Inspiratif Sepanjang Masa (2)

    Nabi Zakaria Selalu Optimis dalam Berdoa

    Allah Ta’ala berfirman,          

     قَالَ رَبِّ إِنِّى وَهَنَ ٱلْعَظْمُ مِنِّى وَٱشْتَعَلَ ٱلرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا 

    Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku”. (Qs.Maryam: 4)

    Ayat tersebut menjelaskan bahwa nabi Zakaria  mencurahkan isi hatinya dan berdoa  kepada Allah. ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah berusia lanjut, dan tulang-tulangku telah melemah (sehingga kekuatannya telah melemah) dan ia tidak pernah merasa kecewa, sebab setiap kali berdoa, pasti Allah akan mengabulkannya.’

    Sudah menjadi sunnatullah, bahwa manusia diciptakan dari bayi, beranjak menjadi anak-anak, remaja, dewasa dan tua.

    Allah Ta’ala berfirman:

    اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

    “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Qs.Ar Rum: 54)

    Allah Ta’aala memberitahukan tentang luasnya ilmu-Nya, besarnya kemampuan-Nya dan sempurnanya hikmah-Nya, di mana Dia menciptakan manusia dari keadaan yang lemah, yakni tahapan pertama penciptaannya, yaitu mani yang selanjutnya berubah menjadi segumpal darah dan berubah menjadi segumpal daging sampai menjadi makhluk hidup dalam rahim, selanjutnya ia dilahirkan dari bayi dan menjadi kanak-kanak.

    Setelah itu, kekuatannya semakin bertambah  hingga tiba usia muda, usia dewasa, 20 th, 30th, dan 40 tahun. Pada usia 40 tahun ini, seseorang mencapai puncak kesempurnaan keadaan lahir dan batinnya.

    Setelah tahapan tersebut dilalui, maka ia sedikit demi sedikit menjadi lemah kembali; menua, beruban dan pikun. Termasuk kebijaksanaan-Nya adalah Dia memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya, bahwa Allah Maha Sempurna menciptakan segala sesuatu, mengatur segala urusan tanpa merasakan kelemahan dan kelelahan.

    Nabi Zakaria, pada usia hampir mendekati usia 100 tahun, tetap berdoa kepada Allah agar diberi keturunan yang mewarisinya. Usia dimana beliau dan istrinya sudah mulai melemah, dan sesuatu yang seolah mustahil terwujud yaitu lahirnya anak dari rahim istri yang mandul juga telah berusia senja.

    Baca: Nabi Zakaria – Kisah Inspiratif Sepanjang Masa 1

    Doa adalah senjata terbaik

    Doa merupakan power (kekuatan) yang sebenarnya. Banyak kisah para Nabi yang diberi pertolongan atau keajaiban yang menakjubkan melalui kekuatan doa. Doa adalah satu satunya amalan yang mampu merubah qadla. Maka salah satu teladan Nabi Zakaria yang patut kita contoh adalah selalu mendawamkan doa kepada Allah Ta’ala.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    لا يرد القدر إلا الدعاء

    “Tidak ada yang bisa menolak (merubah) qadla kecuali doa”.(HR.Tirmidzi)

    Salah satu amalan yang sangat dianjurkan bagi hamba yang beriman adalah doa. Melalui doa, masih terbuka luas kesempatan untuk meminta dikabulkannya harapan dan cita cita kita kepada Allah. Jika Allah menghendaki, tidak ada yang mustahil untuk tidak terjadi, karena Allah mengabulkan permintaan seluruh hambanya, sebagaimana firman Allah:

     وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

    Artinya; Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah 186)

    Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab tafsirnya, bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan doa seorang hamba yang meminta kepada-Nya, bahwa doa itu tidak akan tersia-sia dan akan dicatat. Sebab Allah adalah Zat yang Maha Mendengarkan doa. Karenanya, Kita hendaknya tidak meremehkan doa. Memintalah kepada Allah, untuk semua perkara yang kita inginkan. Baik itu perkara ringan maupun besar.

    (Bersambung Bag. III)

    Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan // Ibn Al.Choer

  • Nabi Zakaria-Kisah Inspiratif Sepanjang Masa (1)

    Keutamaan Menuntut Ilmu

    Ilmu merupakan sarana untuk beramal saleh. Menuntut ilmu memiliki keutamaan yang agung. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa menuntut ilmu itu lebih baik dari seratus rakaat shalat sunnah.  Sebuah hadits menyebutkan:

    يَا أَبَاذَرٍّ ، لَأَنْ تَغْدَوْا فَتُعَلِّمَ اَيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَّكَ مِنْ اَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ ، وَلَأَنْ تَغْدُوْا فَتُعَلِّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ عُمِلَ بِهِ اَوْ لَمْ يُعْمَلْ خَيْرٌ مِنْ اَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ رَكْعَةٍ . (ابن ماجة)

    “Wahai Aba Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah telah baik bagimu dari pada shalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik dari pada shalat seribu rakaat.” (HR. Ibn Majah)

    Begitu agungnya keutamaan menuntut ilmu, sehingga jika ada pilihan diantara kita, antara menuntut ilmu atau shalat sunnah. Maka dahulukan menuntut ilmu, sebagaimana Imam Ahmad dahulu saat ditanya anaknya, “Wahai Ayahku, mengapa engkau sangat mendahulukan mudzakarah (belajar bersama sang Guru yaitu Ibnu Ma’in) dibanding mengerjakan shalat malam?” Maka Imam Ahmad menjawab, “Jika aku ketinggalan shalat malam, maka aku bisa menggantikannya di malam malam berikutnya. Namun jika aku ketinggalan untuk menimba ilmu dari Ibnu Ma’in, maka aku tidak akan bisa mengulanginya.” 

    Imam Ibnu Ma’in merupakan imam ahlussunah, seorang pakar hadits (muhadits) dan ahli ilmu rijal (analisis kritis terhadap perawi hadits). Ia merupakan salah satu guru dari Imam Bukhari juga senior dari pakar hadits lainnya, diantaranya adalah Imam Ahmad. Imam Ibnu Ma’in, Ulama yang menjadi rujukan dalam ilmu hadits pada masanya ini pernah berkata; “Aku menulis dengan tanganku sejuta hadits.” Adapun saat beliau wafat, meninggalkan kitab karyanya sebanyak 114 rak dan 4 peti penuh.

    Baca: Meneladani Sang Khalilullah Ibrahim As Bag IV

    Alquran, Syafaat  Hamba Beriman

    Salah satu keutamaan Alquran adalah sebagai syafaat di akhirat kelak. Seluruh harta, benda, kekayaan, materi, kekuasaan, jabatan, kesemuanya tidak akan dibawa mati. Berbahagialah hamba beriman yang senantiasa dekat dengan Alquran. Karena Alquran akan menjadi pembelanya di hari kiamat kelak.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

     الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، يَقُولُ الصِّيَامُ : أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ . وَيَقُولُ الْقُرْآنُ : مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ . قَالَ : فَيُشَفَّعَانِ

    “Shiyam (Puasa) dan Al-Qur’an akan memberikan syafaatnya kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makanan dan syahwat pada siang hari, maka berilah ijin kepadaku untuk memberikan syafa’at kepadanya.’ Al-Qur’an berkata, ‘Aku telah menahannya dari tidur pada malam hari, maka berilah saya ijin untuk memberikan syafaat kepadanya.’ Keduanya dapat ijin untuk memberikan syafa’atnya” (hadits shahih riwayat Ahmad).

    Kita hendaknya bersyukur kepada Orang Tua kita, Guru-Guru dan Pimpinan kita yang telah menunjukkan dan mengajarkan Alquran untuk kita. Mereka yang setiap hari mengisi hari-harinya dengan Alquran, ialah yang kelak akan beruntung, karena mendapat keistimewaan syafaat dari Alquran.

    Para Guru, para Pengajar Alquran, yang telah merelakan waktunya untuk bangun malam, mempersiapkan hafalan Alquran, mempersiapkan cara mengajarkan Alquran, maka in sya Allah, tidak akan sia sia disisi Allah. Hal tersebutlah yang akan menjadi pembela kita kelak di akhirat, juga yang membantu menentukan tingkatan surga sebagai hadiah dari Allah Ta’ala.

    Nabi Zakaria Berdoa dengan Suara Lembut

    Nabi Zakaria berdoa kepada Allah dengan suara yang lirih, dan hal itu pula yang Allah sukai, maka Allah mengabadikan kisahnya di dalam Alquran untuk menjadi contoh bagi umat sesudahnya.

    Allah Ta’ala berfirman:

    إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيًّا

    “Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut (lirih).” (QS.Maryam:3)

    Menurut Qatadah, Sesungguhnya Nabi Zakaria melirihkan suaranya dalam berdoa karena kecintaannya kepada Allah  ﷻ. Sesungguhnya Allah mengetahui kalbu orang yang bertakwa, dan Allah mendengar suara yang perlahan. Sebagian ulama Salaf mengatakan, Nabi Zakaria bangun di tengah malam, sedangkan semua muridnya telah tidur, lalu dia berbisik kepada Tuhannya seraya berdoa dengan suara yang lembut. Maka Tuhannya pun berfirman kepadanya, “Kupenuhi seruanmu, Kupenuhi seruanmu, Kupenuhi seruanmu.”

    (Bersambung Bag. II)

    Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan // Ibn Al.Choer

  • Meneladani Sang Khalilullah – Ibrahim As (Bag. IV)

    Meneladani Semangat Siti Hajar

    Pilihan sebagai pengajar, sebagai pendidik, sebagai pendakwah Alquran dan Assunah, merupakan tugas istimewa karena ia meneruskan tugas rasulullah. Dan memang, jalan dakwah bukanlah mulus. Jalan dakwah itu berat, ujian dakwah juga berat, sebanding dengan pahala yang sudah Allah siapkan untuk hamba- hambaNya yang beriman.

    1. Meluruskan Niat

    Hal utama yang harus selalu kita tekankan dan kita evaluasi adalah niat. Meluruskan niat ini sangat penting dalam segala aktivitas kita. Apalagi dalam perkara mendidik anak. Semua niatkan karena mencari ridlo Allah. Bukan semata keinginan agar anak paling berprestasi, agar anak hafalannya banyak sehingga mendapat pujian banyak orang, agar anaknya tampak alim dls. Semua keinginan tersebut memang baik. Tetapi upaya meluruskan niat ini, sebuah upaya agar Allah meridloi kita dan kita bisa melaksanakan segala aktivitas dengan penuh dengan keihlasan, semangat, dan tidak berkeluh kesah. Sesungguhnya jika Allah meridloi, maka Allah yang akan memudahkan dan memberkahi jalan dakwah.

    • Utamakan doa.

    Jangan pernah meremehkan doa. Jangan merasa bahwa usaha kita sudah mampu menjadikan anak didik dan anak anak kita menjadi terbaik. Kita harus bersimpuh kepada Allah, meminta bimbingan Allah. Karena Allahlah penggengam setiap jiwa. Nabi kita Muhammad ﷺbersabda:

    إن قلوب العباد بين إصبعين من أصابع الرحمن يقلبها كيف يشاء

    “Sesungguhnya hati para hamba itu berada di antara dua jari dari jari-jari Allah subhanahu wata’ala, Dia membolak-balikkannya bagaimanapun yang Dia kehendaki.”

    • Pantang menyerah, tak kenal lelah.

    Jika kita mengalami kesulitan, mengalami kelelahan, maka hendaknya kita bercermin. Adakah kesulitan kita melebihi kesulitan yang dialami oleh Siti hajar? Dalam panas terik, di padang pasir, tidak ada rumah, tidak ada penghuni lain, tidak ada air, membawa bayi yang kehausan. Seungguhnya ujian kita sangat jauh dari kesulitan yang dialami oleh Siti Hajar.

    Seberat apapun perjuangan kita, maka harus selalu diingat. Allah tidak akan menyia nyiakan kita. Allah tidak akan menelantarkan kita.

    Baca: Meneladani Sang Khalilullah Ibrahim As Bag III

    Allah mengajari kita untuk selalu berjuang dengan gigih dan pantang menyerah. Sehingga kejayaan islam bisa diraih kembali. Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kita untuk berusaha sekuat tenaga. Dari hasil jerih payah nabi Muhammad ﷺ, bahkan beliau pernah berkurban 100 ekor unta pada haji wada’. Sejumlah 63 ekor, beliau sembelih sendiri dan sisanya disembelih oleh Ali Ra. Dari sejarah tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa rasulullah seorang yang kaya, dermawan, kuat, namun juga sangat sederhana dalam kehidupan sehari harinya. Karena dalam sebuah hadits, pernah juga diceritakan bawa setelah beliau berkurban pada haji wada’ itu, bahkan sampai 3 kali purnama, Aisyah menyampaikan bahwa dapurnya tidak menyalakan api. Itu artinya, Rasulullah tidak memasak di dapurnya selama beberapa bulan. Dan bertahan dengan makan kurma dan air.  Pantaslah jika Allahpun akan hadiahkan surga tertinggi disisiNya.

    Kisah kisah yang dialami para nabi inilah, yang hendaknya menjadi penyemangat kita agar kita terus berusaha pantang menyerah. Karena istirahatnya orang mukmin itu di surga. Dunia adalah tempat untuk beramal ibadah, mengumpulkan sebanyak-banyaknya bekal akhirat.

    سئل الإمام أحمد بن حنبل : متى الراحة يا إمام ؟ فأجاب : عند أول قدم تضعها في الجنة .

    Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya: “Wahai imam, kapankah waktu istirahat itu?” Beliau jawab: “(istirahat yg sesungguhnya ialah) pada saat engkau pertama kali menginjakkan kakimu di dalam Surga.”

    (Selesai//Ibn Al.Choer)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • Meneladani Sang Khalilullah – Ibrahim As (Bag. III)

    Siti Hajar, Figur Teladan Wanita Sabar dan Tangguh

    Perjalanan panjang Hajar bersama Ibrahim. Pengorbanan yang ia lakukan. Tingginya husnudzon Hajar pada suami dan Rabbnya disertai keihlasan, kesabaran dan ketakwaan yang luar biasa inilah yang perlu kita contoh dari Wanita Mulia, Siti Hajar.

    Anak yang shalih terlahir dari rahim ibunya yang kuat keimanannya. Demikian juga Siti Hajar, betapa kuat keimanannya, sehingga lahirlah Ismail, dimana kelak dari keturunannya pula, lahirlah penutup para nabi, Nabi Muhammad ﷺ

    Menyelami perjalan Hajar. Perjalanan jauh yang harus ia tempuh dalam keadaan nifas, membawa bayi yang masih merah, tidak saling bicara dengan suaminya. Memang betapa istimewanya Hajar. Manusia mana yang mampu menjalani pengorbanan tersebut jika bukan karena hamba pilihanNya?

    Di tanah gersang, tandus, tiada banyak pepohonan, terbentang luas padang pasir yang panas. Disitulah Hajar harus bertahan dengan membawa bayi dan perbekalan minim. Bahkan pada saat kondisi sedemikian berat, ia selalu husnudzon kepada Rabbnya, bahwa Allah tidak akan menelantarkannya. Keimanannya yang kokoh, ia wujudkan juga dengan ihtiar kuatnya.

    Yaitu tatkala hanya berdua saja ia tinggal di lembah gersang dan panas. Ketika perbekalannya habis, ketika anaknya kehausan, maka ia berlari kecil mencari sumber air untuk anaknya. Ia berlari berkali kali antara bukit Shafa dan Marwa. Dan bermula dari kisah ini pula,  munculnya sumber air zam-zam. Dimana setiap jiwa yang meminumnya, maka mengalir pula pahala jariyah kepada ibunda mulia, Siti Hajar, hingga hari kiamat kelak.

    Pada era milenial ini, dimana mulai terjadi pergeseran figur teladan. Dimana mulai mengidolakan artis sebagai teladan. Maka kini saatnya. Mengembalikan keteladan kepada para nabi dan sahabat. Siti Hajar adalah sosok mulia yang pantas untuk diteladani. Pribadi kuat dan tangguh seperti Hajar inilah yang bisa turut meraih kejayaan islam. Bukan generasi yang mudah putus asa, tidak percaya diri dan mudah menyerah.

    Baca : Meneladani Sang Khalilullah Ibrahim As Bag II

    Salah satu prinsip Siti Hajar yang patut kita contoh adalah, jika kita berada di jalan Allah, berada pada garis perjuangan, maka tidak usah khawatir, karena Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan. Allah tidak akan melalaikan. Dan pertolonganNya akan hadir, tanpa batas, dari segala arah.

    Warisan Kesalihan Lebih Penting dari Warisan Harta.

    Salah satu doa Ibrahim As yang diajarkan untuk kita dalah doa meminta anak yang shalih. Demikian karena keturunan yang mewarisi kesalihan dan ketakwaan lebih penting dari keturunan yang sekedar mewarisi harta kekayaan.

    Berikut ini sebuah kisah nyata pada masa khalifah yang membukakan wawasan kita, bahwa warisan ketakwaan lebih penting dari warisan harta.

    Kisah ini berasal dari Muqatil bin Sulaiman yang merupakan nasehat dari apa yang ia lihat dan persaksiakan sendiri. Muqatil mengisahkan, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memiliki sebelas anak. Ketika wafat, ia meninggalkan uang delapan belas dinar. Untuk membayar kain kafan lima dinar dan untuk tanah liang kuburnya empat dinar. Sisanya sembilan dinar diwariskan kepada ahli warisnya.

    Uang 9 dinar ini jika dibagi kepada 11 anak, jika dirupiahkan maka masing masing anak menerima sekitar Rp1.500.000,- (dengan acuan emas 22k seharga 450ribu, adapun satu dinar setara dengan 4,25 gram emas 22k atau Rp.1.912.500).

    Baca Informasi Pendaftaran BIMBEL Quran Online Angkatan 2

    Khalifah yang menjabat beberapa tahun sesudahnya adalah Hisyam bin Abdul Malik, yang juga memiliki sebelas anak. Hisyam mewariskan kepada anak anaknya masing masing satu juta dinar. Jika dirupiahkan, masing masing anak Hisyam ini, menerima warisan hampir 2 Triliun (dengan acuan jika 1 dinar setara dengan Rp.1.912.500 maka dikalikan 1 juta mencapai Rp 1.912.500.000.000,-).

    Melihat nominal warisan, secara logika manusia, maka yang akan hidup makmur dan berkecukupan adalah anak anak Hisyam. Namun ternyata harta bukan penjamin kemakmuran. Muqatil bahkan bersumpah demi Allah, bahwa pada suatu hari ia melihat salah seorang anak Umar bin Abdul Aziz bersedekah seratus ekor kuda untuk keperluan jihad fi sabilillah. Dan pada hari yang sama, ia melihat salah seorang anak Hisyam bin Abdul Malik sedang meminta-minta di pasar.

    Orang-orang saat itu bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz menjelang wafatnya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk anak-anakmu?”

    Ia menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka takwa kepada Allah. Jika mereka menjadi orang-orang yang shaleh maka Allah yang akan mengurus mereka, jika tidak menjadi orang-orang yang shaleh maka aku tidak akan menolong mereka untuk bermaksiat kepada Allah.“

    Benarlah kiranya, bahwa Allah akan menjadi wali bagi hamba-hambanya yang shalih. Allah pula yang akan menjamin keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat.

    (Bersambung Bag. IV)

    Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • Meneladani Sang Khalilullah – Ibrahim As (Bag. II)

    Allah Berikan Kabar Gembira Kepada Ibrahim As

    Atas ihtiar panjang, kesabaran, ketaatan Ibrahim kepada Rabbnya, maka Allah pun memberikan kabar gembira Ibrahim, seperti yang termaktub dalam Qs. As Sahffat: 101; فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ  “Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.”

    Dalam tafsir An-Nafahat Al-Makkiyah, anak yang halim, artinya sangat sabar, akhlaknya mulia, dadanya lapang dan suka memaafkan kesalahan orang.

    Anak yang disebutkan sebagai berita gembira bagi Ibrahim tersebut adalah Ismail As.  Putra pertama Ibrahim, Ismail, lahir dari rahim Siti Hajar. Siti Hajar merupakan hadiah dari Raja Mesir kepada Siti Sarah. Mengetahui bahwa dirinya mandul dan Hajar adalah wanita terhormat yang taat dan baik. Maka Sarah meminta Ibrahim untuk menikahi Hajar. Dari rahim Hajar inilah Ismail dilahirkan. Dan saat itu, usia Ibrahim mencapai 86 tahun.

    Pengorbanan Ibrahim As, Membawa Siti Hajar dan Ismail ke Makkah

    Ibrahim As, pantas menyandang gelar khalilullah. Sebanding dengan perjuangannya yang luar biasa dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.

    Hadirnya anak yang dinanti-nanti selama puluhan tahun, tentu menimbulkan kasih sayang yang dalam, kerinduan yang dalam untuk menimangnya juga keinginan untuk selalu mengasuh dan merawatnya. Jangankan hingga 86 tahun menanti kelahiran anak. Pasangan rumah tangga yang menunggu anak dalam hitungan 3 atau 5 tahun saja, itu sangat luar biasa curahan kasih sayang kepada anaknya.

    Ibrahim, setelah sangat lama menunggu kelahiran anak. Saat anaknya, Ismail lahir, dan masih berupa bayi merah. Istrinya pun masih nifas. Allah memerintahkan Ibrahim untuk membawa Hajar dan Ismail untuk hijrah ke Makkah. Kelak disanalah bermula kisahnya zam zam, yang airnya menjadi keberkahan penduduk bumi.

    Siti Hajar, yang kala itu melahirkan Ismail di Hebron, Palestina, mengikuti suaminya untuk hijrah, dalam kondisi masih nifas juga membawa bayi yang masih merah. Selain mendapat perintah untuk hijrah, Ibrahim juga tidak diperbolehkan oleh Allah untuk berbicara selama masa perjalanan. Perjalanan antara Palestina ke Mekkah tersebut menempuh jarak sejauh -+ 1.500 km. Memerlukan waktu berbulan bulan jika ditempuh dengan jalan kaki. Membutuhkan sekitar 40 hari jika ditempuh dengan menggunakan unta atau dua bulan menggunakan keledai.

    Pada masa perjalanan jauh, dimana Allah dengan kebijaksanaanNya melarang Ibrahim untuk berbicara kepada istrinya selama perjalanan. Mari kita bayangkan, betapa pengorbanan besar yang sulit ditempuh oleh manusia.

    Kita sebagai manusia biasa, baru sehari saja tidak bercakap dengan keluarga, itu sangat tidak nyaman. Apalagi jika dalam perjalanan jauh dan tidak bisa bercakap dengan istri. Tentu akan menimbulkan tenakan psikologis yang tinggi. Dan demikianlah Allah memilih Ibrahim sebagai khalilullah. Karena sangat taat dan patuh pada Allah Ta’ala. Dari berbagai cobaan yang ia alami, dapat kita simpulkan, betapa menderitanya dan beratnya ujian yang dialami Ibrahim.

    Setelah perjalanan panjang, sesampainya di tanah Makkah, perbukitan padang pasir, tempat yang gersang, tiada air dan tiada penghuni. Disanalah Ibrahim menempatkan istri dan anaknya, Hajar dan Ismail. Ibrahim menempatkan hajar dan anaknya disisi pohon, dan ditinggalkan perbekalan, berupa kantung berisi kurma dan geriba berisi air.

    Baca artikel sebelumnya: Meneladani Sang Khalilullah Iibrahim As. Bag I

    Sebagaimana dikisahkan dalam sebuah hadits shahih. Rasulullah ﷺbersabda:

    ثُمَّ قَفَّى إِبْرَاهِيمُ مُنْطَلِقًا، فَتَبِعَتْهُ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ فَقَالَتْ: يَا إِبْرَاهِيمُ، أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الوَادِي، الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ؟ فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا، وَجَعَلَ لاَ يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا، فَقَالَتْ لَهُ: آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَتْ: إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا، ثُمَّ رَجَعَتْ

    “… kemudian Ibrahim beranjak pergi, lalu ibunya Ismail (Hajar) mengikutinya dan berkata: “Wahai Ibrahim, kamu mau pergi kemana? kamu tinggalkan kami di lembah ini yang tidak ada manusia dan suatu apapun”. Dia (Hajar) berkata seperti itu berulang kali dan Ibrahim tidak menoleh kepadanya, lalu ia bertanya kepada Ibrahim: “Apakah Allah memerintahkan hal ini kepadamu?” Ibrahim menjawab: ” iya “, lalu ia berkata: “Jika demikian, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”, kemudian ia kembali …” (HR. Al-Bukhari no. 3364 hadits Ibnu ‘Abbas).

    Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa Hajar sempat menanyakan beberapa kali kepada Ibrahim tentang kenapa ia beserta anaknya ditinggalkan disana. Dan Ibrahim pun juga tidak menjawab pertanyaan tersebut lantara Ibrahim harus menaati perintah RabbNya untuk tidak bercakap cakap.  Setelah beberapa kali tidak mendapat jawaban, maka Hajar kembali menegaskan,  آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟  “Allah-kah yang menyuruhmu untuk melakukan hal ini?” Ibrahim akhirnya menganggukan kepala sebagai isyarat jawaban “iya”.

    Disinilah kita melihat, betapa tingginya keimanan Siti hajar. Melihat isyarat jawaban Ibrahim, maka Hajar pun menjawab dengan: إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.”

    Ibrahim, yang juga manusia, tentu sangat tersayat, pedih hatinya, meninggalkan istri dan buah hatinya yang telah lama ia idamkan. Tapi demikianlah Ibrahim, selalu taat dengan perintah Allah. Maka iapun mendapat kedudukan istimewa di sisi Allah.

    (Bersambung Bag. III)

    Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • Meneladani Sang Khalilullah – Ibrahim As (Bag. I)

    Kesabaran Nabi Ibrahim dan Kerinduan Hadirnya Anak

    Ibrahim As, Nabi yang mendapat kedudukan istimewa di sisi Allah ini, belum dikaruniai anak, hingga umurnya mencapai 86 tahun. Nabi yang mulia, diantara kemuliaannya adalah ia mendapat gelar sebagai Abul anbiya’ (Bapaknya para nabi). Dimana seluruh nabi-nabi yang lahir setelahnya, kesemuanya adalah keturunannya. Ia juga mendapat gelar ‘khalilullah’ (kekasih Allah), karena ia selalu taat kepada perintah Rabbnya, selalu sabar dan bertaqwa kepada Allah Ta’ala. Dari berbagai gelar yang disematkan kepadanya, maka bisa kita lihat, betapa istimewa dan betapa tingginya kedudukan nabi Ibrahim disisi Allah. Sudah sedemikian istimewanya pun,  Ibrahim belum mendapat karunia anak hingga usianya mencapai 86 tahun.

    Sungguh betapa berat ujiannya, sebanding dengan kemuliaan yang ia dapatkan. Nabi yang juga manusia. Tentu memiliki keinginan selayaknya umumnya manusia, yaitu mempunyai keturunan. Kita bisa membayangkan, betapa besar kerinduan pasangan keluarga Ibrahim akan hadirnya keturunan yang bisa mewarisi kenabiannya. Sebagaimana termaktub dalam Qs. As-Shaffat : 100

    رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

    “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”

    Sebuah rumah tangga, terasa kurang lengkap tanpa hadirnya seorang anak. Anak adalah pelipur lara. Demikian juga yang dirasakan oleh Ibrahim. Ia sangat mendambakan hadirnya anak sebagai pelengkap keluarga, pelipur lara juga mewarisinya dan membantunya dalam ketaatan. 

    Tafsir Almukhtashar menjelaskan ayat tersebut dengan; ”Sesunggunya aku berhiijrah kepada Tuhanku dari negeri kaumku ke tempat dimana aku bisa beribadah kepada Tuhanku. Sesungguhya Dia akan menunjukkan kebaikan kepadaku dalam agama dan duniawiku. Wahai Tuhanku, berilah aku anak yang shalih.”

    Tafsir Almuyasar menyebutkan bahwa Ibrahim meminta kepada Allah untuk dianugerahkan seorang anak yang shalih yang membantunya dalam ketaatan kepada Allah dan menghiburnya di negeri yang asing. Demikian karena Ibrahim dilahirkan dan besar di Irak. Saat mendakwahi kepada kaumnya dan mendapati kaumnya tidak juga beriman, akhirnya Ibrahim hijrah ke Palestina. Dalam masa kemarau panjang, Ibrahim juga sempat hijrah ke Mesir. Hingga akhirnya kembali lagi ke Palestina dan menetap disana. Tepatnya di Hebron (Mantiqah Khalil). Di negeri yang terasing inilah, Ibrahim sangat merindukan hadirnya anak yang bukan saja sebagai penerus kenabiannya, melainkan juga pelipur laranya. 

    Doa Nabi Ibrahim – Meminta Keturunan Shalih

    Salah satu keteladanan yang bisa kita contoh dari Nabi Ibrahim adalah berdoa kepada Allah dengan meminta keturunan shalih. Sebagaimana doanya,

    (Qs. As-Shaffat: 100)  رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

    Kita dianjurkan untuk meminta anak dengan sifat-sifat baik yang diridlai Allah. Diantara sifat yang tak kalah pentingnya untuk kita doakan adalah anak yang bisa menjaga nama baik, juga bisa merawat kedua orang tuanya kelak. Saat orang tua sudah mulai melemah, bertambah usia, kekuatan berkurang, sudah tidak bisa banyak beraktivitas maksimal, maka hadirnya anak yang merawatnya akan sangat membantunya.

    Anak yang shalih, akan tumbuh menjadi anak yang mengerti, memahami orang tua, juga bersedia dengan ihlas merawat kedua orang tuanya kelak. Semua harta benda, kekayaan, bisnis yang kita bangun dengan penuh pengorbanan, sesungguhnya semuanya akan hancur dan tidak dibawa mati. Hanya anak shalihlah yang turut memberikan manfaat kepada kita, bahkan saat kita terbujur kaku menghadap Yang Maha Kuasa.

    Anak Shalih Bisa Mengangkat Derajat Kedua Orangtuanya

    Anak shalih bisa mengangkat derajat kedua orangtuanya, bahkan saat oranguanya sudah meninggal. Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

    إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِيْ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : يَا رَبِّ أَنىَّ لِيْ هَذِهِ ؟ فَيَقُوْلُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

    “Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba-Nya yang shalih di surga,” Maka ia pun bertanya: “Wahai Rabbku, bagaimana ini bisa terjadi?” Allah menjawab: “Berkat istighfar anakmu bagi dirimu”. (Hadits shahih. HR. Ahmad, no. 10232)

    Istighfar di sini maksudnya permohonan ampunan kepada Allah Ta’ala dari seorang anak untuk orangtuanya dalam bentuk doa. Sebagaimana dijelaskan juga dalam hadits yang lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

    إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    “Ketika seorang manusia meninggal, maka putuslah amalannya darinya kecuali dari tiga hal, (yaitu) sedekah (amal) jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

    (Bersambung Bag. II)

    Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • KEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. IV)

    KEADAAN PARA ULAMA SAAT MENDENGAR BACAAAN ALQURAN

    Abdullan bin Handzalah Sampai Tidak Bisa Duduk Karena Ingat Neraka

    Abdul Rahman bin al-Harith bin Hisyam berkata: “Pada suatu hari aku menjenguk Abdullah bin Hanzalah yang sedang sakit. Beliau terlentang di atas Kasur. Ada seseorang membaca Alquran untuknya. Ketika dia membaca ayat,

    لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

    Bagi mereka tikar  (tempat tidur) dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-A’raf:41)

    Tiba-tiba Abdullah menangis.  Beliau menangis sampai kami khawatir nyawanya akan keluar. Kemudian beliau berkata, “Mereka berada di dalam kawah-kawah neraka!” Tiba-tiba beliau bangun berdiri.  Kemudian orang memintanya duduk namun beliau menjawab, “Aku tidak bisa duduk karena teringat api neraka, jangan-jangan aku termasuk salah seorang dari penghuninya.” (Al-Takhwif mina a-nar, Ibn Rajab al-Hanbali)

    Ali Bin Fudhail Pingsan dan Meninggal Karena Bacaan Alquran

    Fudhail bin Iyadh melaksanakan shalat Maghrib dan di samping beliau ada putranya Ali bin Fudhail. Fudhail membaca اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ ketika saat sampai pada ayat لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَۙ, Ali terjatuh pingsan sementara ayahnya Fudhail tidak sanggup melanjutkan bacaan Qurannya, lalu Ayahnya mengikat Ali, dimana ia baru siuman di tengah malam.

    Ya’qub bin Yusuf berkata, “Dahulu, Fudhail bin Iyyadh jika mengetahui bahwa anaknya, Ali, berada di belakangnya -yakni dalam sholat-, maka ia berusaha berlalu saja (dalam membaca Alquran), tidak berhenti dan tidak menimbulkan takut. Jika ia mengetahui anaknya tidak berada di belakangnya,  maka ia memilih-milih bacaan Alquran yang membuat sedih dan takut.

    Suatu hari,  ia menyangka bahwa putranya tidak berada di belakangnya, sehingga ia membaca ayat ini:

    قَالُوا۟ رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَآلِّينَ

    “Mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan kami adalah orang-orang yang sesat.’ (Al-Mu’minun: 106)

    Maka Ali jatuh pingsan. Ketika  Al Fudhail mengetahui bahwa putranya berada di belakangnya dan jatuh pingsan, maka ia cepat-cepat menyelesaikan bacaannya. Mereka pergi kepada ibunya seraya berkata, “Lihatlah anakmu.” Ibunya datang lalu mencipratkan air padanya, lalu ia siuman. Ibunya berkata kepada al-Fudhail, “Engkau akan membunuh anakku ini.” Beberapa waktu kemudian, karena menyangka putranya tidak berada di belakangnya, ia membaca

    وَبَدَا لَهُم مِّنَ ٱللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا۟ يَحْتَسِبُونَ

     ‘Dan jelaslah bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.’ (Az-Zumar: 47).  Mendengar ayat tersebut, putranya jatuh dan meninggal dunia. [Diambil dari kitab At Tawwaabiin karya Ibnu Qudamah].

    Betapa tingginya rasa takutnya Ali kepada Allah, hingga membuat benar-benar tersentak karena rasa takut dan cinta kepada Allah. Demikianlah air matanya  kaum yang shalih.

    Umar RA Mendengar Surat At Tuur dan Sakit Sebulan

    Imam Ibnu Katsir meriwayatkan sebuah kejadian yang terjadi pada diri Umar bin Khattab. Pada suatu malam, Umar berjalan dengan mengendarai himarnya menyusuri jalan-jalan kota Madinah. Dan sampailah ia di rumah seorang penduduk yang sedang melakukan qiyamullail. Umar berhenti mendengarkan bacaan orang tersebut, yang kebetulan membaca surat At-Thur. Ketika orang tersebut sampai pada ayat ke-7 dan ke-8:

     إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٌ (Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi).

    مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٍ (Tidak seorangpun yang dapat menolaknya).

    Maka mendadak terjadi sesuatu pada Umar. Badannya serasa tergodam keras. Ia lemas. Ia mengatakan, “Demi Allah, sumpah itu terjadi.” Lalu ia terpaku dalam diam. Sangat lama. Dan pulang.

    Sampai di rumah, ia sakit sebulan, tak diketahui jelas apa penyakitnya. Sementara itu Zubair bin Muth’im ketika mendengar surat yang sama dari Tilawah Rasulullah ﷺ ketika sholat Maghrib, beliau merasakan takut yang luar biasa terhadap ancaman itu dan saat itulah ia masuk Islam.

    Seorang Gadis di Kufah Wafat Karena Mendengar Bacaan Alquran Manshur bin Ammar

    Ketika Manshur bin Ammar menjalankan ibadah haji, dia tinggal disalah satu kampung di Kuffah. Pada suatu malam yang gelap, karena suatu keperluan, dia pergi keluar rumah seorang diri.

    Ketika sedang berjalan sendirian, tiba-tiba dia mendengar suara seorang yang memelas, “Ya Allah, demi keagungan-Mu. Aku tidak menghendaki perbuatan maksiatku ini untuk menentang-Mu. Kulakukan ini bukan karena kebodohanku, tapi kusadari diriku terperosok ke lembah kemaksiatan. Kini aku mendambakan anugerah-Mu. Sudilah Engkau menerima alasanku ini. Jika antara aku dan engkau ada tabir, sehingga Engkau tidak menerima alasanku ini dan tidak mengampuninya, betapa lamanya ku akan menanggung nestapa dan siksa”.

    Kemudian suara itu diam. Manshur menyusulnya dengan bacaan ayat suci Alquran surat At-Tahrim : 6. Yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, perliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjagaanya para malaikat yang kasar dan keras, serta tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan –Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya”.                   .  

    Kemudian Manshur mendengar jeritan yang keras dan sesuatu yang bergerak-gerak. Tidak lama kemudian, gerakan itu berhenti. Mansur lalu meninggalkan tempat itu dan meneruskan langkahnya untuk menyelesaikan keperluannya.                    

    Keesokan harinya, Manshur mendatangi tempat tadi malam dimana ia mendengar suara itu. Akan tetapi, di tempat itu terlihat banyak orang bertakhziah. Di situ ada seoran perempuan tua menangis di samping mayat seorang gadis. Ternyata perempuan tua itu adalah ibu si mayat.

    “Pasti Allah akan membalas yang telah membunuh anakku ini,” kata ibu itu disela tangisnya.
    Kemudian dia membaca ayat Alquran di atas (At-Tahrim: 6) . “Saat itu anakku sedang shalat, kemudian dia jatuh tersungkur, hingga meninggal karena mendengar bacaan ayat itu,” sambungnya lagi.

    Masya Allah, sedemikian mulianya air mata dan tangis orang shalih. Tersungkurnya seseorang karena kekhusyukan, ketakutan dan kecintaan yang mendalam kepada Rabbnya. Ibnu al-Qayimm dalam kitabnya al-Fawaid mengatakan, “Jika engkau ingin mengambil manfaat dari Alquran maka pusatkanlah hatimu ketika membaca dan mendengarkannya, fokuskanlah pendengaranmu dan hadirlah seperti seseorang yang sedang diajak bicara oleh Allah ﷻ”

    (Selesai)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    Penulis skrip: Ahmad Fahmi dan UKM Mushaf ICWM

    Editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • KEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. III)

    KEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. III)

    3. BACAAN ALQURAN MENDATANGKAN RAHMAT DAN KASIH SAYANG ALLAH

    Bacaan Alquran akan mendatangkan mendatangkan rahmat dan kasih sayang Allah  dengan syarat jika bacaan tersebut didengar dan diperhatikan dengan baik.

    Allah ﷻ berfirman:

    وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

    Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al-A’raf Ayat 204)

    Ketika dibacakan Alquran kepada kita, maka hendaknya kita mencoba merasakan bahwa seakan-akan kita mendengarnya langsung dari Allah, dan menyadari bahwa bacaan tersebut adalah surat cinta dari Allah,  maka tatkala hal tersebut dapat kita wujudkan, niscaya hati kita  akan dipenuhi dengan indahnya makna ayat-ayat tersebut. Kita pun juga bisa merasakan kelembutan dan keajaiban yang terkandung didalamnya.

    Dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir,  Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, Mudarris Tafsir Universitas Islam Madinah menjelaskan bahwa, sesiapapun yang seksama mendengarkan ayat-ayat Allah ketika dibacakan, sesungguhnya ia sedang menanti turunya rahmat Allah, maka sepanjang malam,  akan menjadi lebih baik jika diseimbangkan antara shalat dan kesetiaan  untuk mendengarkan kalam Allah, karena itu akan memperbanyak turunnya rahmat dari-Nya.

    Seorang Professor fakultas Syari’ah Universitas Qashim menyampaikan, apabila dibacakan Al Quran di dalam shalat atau lainnya, maka dengarkan dan simaklah baik-baik untuk memahami maknanya, diamlah dari segala kesibukan dan pembicaraan untuk mendengarkan bacaannya, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ketika melaksanakan perintah-Nya dan mendengarkan ayat kitab-Nya. Ayat ini turun saat ada yang meninggikan bacaan shalat di belakang Nabi. (Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, Saudi Arabia)

    Dalam Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, Pakar Fiqih dan Tafsir Suriah  menyampaikan bahwa bagi semua orang yang mendengar Alquran ketika dibaca, maka diperintahkan untuk diam, dan mendengarkan. Perintah ini berlaku umum. Perbedaan antara diam dan mendengarkan, yaitu:  bahwa diam secara zahir adalah dengan meninggalkan pembicaraan atau tidak menyibukkan diri dengan sesuatu yang membuatnya tidak mendengar.

    Adapun mendengar, maka maksudnya adalah menyimak dengan membuka hati dan merenungkan apa yang didengar. Barangsiapa yang memegang kedua perkara ini ketika kitabullah dibaca, maka dia akan mendapatkan kebaikan yang banyak, ilmu yang melimpah, iman yang diperbarui, petunjuk yang selalu bertambah, dan bashirah dalam agamanya.

    Oleh karena itu Allah mengaitkan diraihnya rahmat dengan kedua perkara tersebut, hal ini menujukkan bahwa barangsiapa yang dibacakan Alquran kepadanya, lalu dia tidak mendengar dan tidak diam, maka dia tidak akan meraih bagian rahmat, dan dia telah kehilangan kebaikan yang melimpah. Diantara perintah yang ditekankan kepada Pendengar Alquran adalah hendaknya ia mendengarkan dan diam untuknya dalam shalat jahriyah ketika imamnya membaca Alquran. Dalam kondisi ini, ia diperintahkan untuk diam, bahkan kebanyakan ulama berkata bahwa diamnya adalah lebih baik daripada dia membaca Alfatihah atau lainnya. 

    4. MENDENGARKAN ALQURAN AKAN MENDAPAT PAHALA SEPERTI PEMBACANYA

    Mendengarkan bacaan Alquran, pahalanya sama dengan orang membacanya. Bila kita membaca Alquran satu huruf bernilai sepuluh kebaikan, begitu juga ketika kita mendengarkan, setiap huruf yang kita dengarkan bernilai sepuluh kebaikan.

    Menilik manfaat bacaan Alquran yang sedemikian mulia, maka hendaknya kita memperbanyak bacaan Alqurn, baik itu dengan melantunkannya sendiri maupun mendengarkan dari orang lain. Mendengarkan bacaan Alquran bisa menggunakan HP, Radio, Komputer dls. Bagi yang mendengarkan dengan seksama, maka in sya Allah pahalanya sama dengan pembacanya. 

    Jangan Pernah Puas Dari Mendengarkan Alquran

    Cinta kepada Alquran adalah tanda cinta kepada Allah. Jika ingin mengetahui bagaimana tanda cinta kita kepada Allah maka kita bisa melihat dari seberapa besar kecintaan kita kepada Alquran.

    Ketika membaca Alquran, anggaplah bahwa bacaan tersebut adalah surat cinta Allah yang diberikan khusus kepada kita. Dalam analogi sederhana, hati kita akan membuncah, sangat senang, ketika kita mendapat surat, atau pesan WA dari orang tercinta kita, entah dari orang tua kita, pasangan kita maupun anak kesayangan kita. Bahkan saat isi pesan kurang menyenangkan, kita tetap berharap-harap dan bersemangat membaca pesan dari orang yang kita cintai.

    Nah Alquran ini adalah kalamullah, pesan langsung dari Allah. Maka selayaknya kita perlakukan melebihi pesan cinta dari manusia. Dengan demikian, kita akan selalu senang membacanya dan ingin selalu mengulangnya. Sebagaimana nasehat yang disampaikan Ustman bin Affan:  “Sekiranya hati kita bersih, niscaya hati kita tidak akan pernah merasa kenyang dari firman Allah ‘Azza wa Jalla (Al-Qur’an).”

    Malaikat pun Ingin Mendengar Bacaan Alquran

    Suatu malam, Usaid duduk di beranda belakang rumahnya. Anaknya, Yahya, tidur di dekatnya. Kuda yang selalu siap untuk berperang fi sabilillah, diikat tidak jauh dari tempat duduknya. Suasana malam tenang dan hening. Permukaan langit jernih tanpa mendung. Usaid tergerak untuk membaca ayat AI-Qur’an yang suci.

    “Alif lam miim, Inilah Kitab (Alquran) yang tidak ada keraguan padanya; menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib yang menegakkan shalat, dan yang menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Alquran) yang diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum kamu, serta mereka yang yakin akan adanya (kehidupan) akhirat (QS. Al-Baqarah: 1-4).  

    Mendengar bacaan tersebut, tiba-tiba kuda yang sedang ditambat lari berputar-putar. Hampir saja tali pengikatnya putus. Ketika Usaid diam kuda itu diam dan tenang. Usaid melanjutkan lagi bacaannya. “Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Rabb-nya, dan merekalah orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 5). 

    Kembali kuda Usaid berputar-putar lebih hebat dari semula. Ketika ia memandang ke langit, ia mendapati pemandangan bagai payung yang mengagumkan. Ia belum pernah melihat pemandangan serupa itu sebelumnya. Awan itu indah berkilau, bergantung seperti lampu memenuhi ufuk, bergerak naik dengan sinarnya yang terang. Kemudian perlahan-lahan menghilang dari pandangan. 

    Esok harinya, Usaid pergi menemui Rasulullah SAW menceritakan peristiwa yang dialaminya. Rasulullah berkata, “Itu adalah malaikat yang ingin mendengarkan engkau membaca Alquran. Seandainya engkau teruskan, pastilah akan banyak orang yang bisa melihatnya. Pemandangan itu tidak akan tertutup dari mereka.” (HR. Bukhari-Muslim).

    (Bersambung Bag. IV)

    Penulis skrip: Ahmad Fahmi dan UKM Mushaf ICWM

    Editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • KEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. II)

    KEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. II)

    2. BACAAN ALQURAN MEMBERIKAN KETENANGAN JIWA

    Sungguh sangatlah beruntung seorang mukmin yang bisa menikmati bacaan Al-Quran baik ketika dibaca sendiri maupun saat mendengarkan bacaan orang lain. Kenikmatan yang menimbulkan ketenangan jiwa bahkan mengalahkan nikmatnya rekreasi di tempat wisata.

    Nabi ﷺ pernah meminta sahabat Abdullah bin Mas’ud untuk membaca Alquran hingga kemudian beliau benar-benar menikmati dan merasakan ketenangan yang diikuti linangan air mata dan tanda rasa tunduk pada Allah

    Dari Abdullah bin Mas’ud RA,

    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَأْ عَلَيَّ قَالَ قُلْتُ أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ إِنِّي أَشْتَهِي أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي قَالَ فَقَرَأْتُ النِّسَاءَ حَتَّى إِذَا بَلَغْتُ { فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا } قَالَ لِي كُفَّ أَوْ أَمْسِكْ فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَذْرِفَانِ

    Rasulullah ﷺ bersabda: “Bacakanlah Al Qur`an kepadaku.” Aku pun berkata, “Aku membacakannya untuk Anda, padahal kepada Andalah ia diturunkan?” beliau bersabda: “Sesungguhnya aku suka mendengarnya dari orang lain.” Akhirnya aku pun membacakan surat An-Nisa` dan ketika sampai pada ayat: “Dan bagaimanakah sekiranya Kami mendatangkan manusia dari seluruh umat dengan seorang saksi, lalu kami mendatangkanmu sebagai saksi atas mereka.” Maka beliau pun bersabda padaku: “Cukuplah.” Lalu aku pun melihat kedua mata beliau meneteskan air. (Hadits Bukhari:  4667)

    Demikianlah energi Alquran yang begitu yang kuat. Sebuah kekuatan yang bisa memupus segala jenis keraguan, kemalasan, dan rasa takut, sehingga menimbulkan ketenangan jiwa yang luar biasa.

    Tafsir Ibnu Katsir menyatakan bahwa mereka yang menyungkur sambil menangis adalah orang-orang yang merendahkan diri di hadapan Allah ﷻ dengan keimanan yang paripurna.

    Allah ﷻ berfirman:

    أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ مِن ذُرِّيَّةِ ءَادَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْرَٰٓءِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَٱجْتَبَيْنَآ ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُ ٱلرَّحْمَٰنِ خَرُّوا۟ سُجَّدًا وَبُكِيًّا

    Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (QS. Maryam Ayat 58) 

    Tafsir al-Maraghi, menjelaskan, mereka yang menyungkurkan dagu sambil menangis tak lain karena ekspresi takut kepada Allah ketika mendengar bacaan Alquran.

    Didalam ayat lain, Allah ﷻ berfirman:

    اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ  )الزمر: 23(

    Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. (Qs.Azzumar: 23)

    Tafsir Al Mukhatashar menjelaskan bahwa Alquran mengandung  kisah-kisah, hukum-hukum, hujjah-hujjah dan keterangan-keterangan yang diulang-ulang. Dimana meskipun tilawahnya diulang-ulang namun jiwa tidak pernah merasa bosan.  

    Al Walid Bin Mughirah-Tokoh Kafir Yang Mengakui Kemanisan Alquran

    Al Walid bin Mughirah  yang juga merupakan ayah dari Khalid bin Walid adalah tokoh Quraisy yang terhormat. Saking terhormatnya, maka banyak dari kaumnya yang suka jika dinisbatkan dengannya yaitu Al Mughiri.

    Al Walid termasuk orang terkaya Quraiys. Pada suatu masa, pernah terjadi banjir di kota Mekah sehingga membuat bangunan Ka’bah hampir runtuh. Saat itu, oleh Al Walid dan penduduk Mekah, bangunan Ka’bah dirobohkan untuk dibangun dan diperbaiki ulang. Tiga sisi Ka’bah, biaya pembangunannya ditanggung oleh penduduk Mekah, adapun salah satu sisinya dibangun sendiri dengan harta kekayaan Al Walid. Itu artinya, kekayaan Al Walid mencapai ¼ dari kekayaan masyarakat Mekah.

    Di masa jahiliyah, para kaum kafir bergantian setiap malam untuk melihat gerak-gerik Rasulullah, termasuk mendengarkan bacaan Rasulullah yaitu Alquran.

    Al-Mustadrak al-Hakim dari Ibnu Abbas RA bahwa Al Walid bin  Al Mughirah menemui Rasulullah ﷺ. Kemudian Rasulullah membacakan Alquran kepadanya. Sepertinya Alquran itu melembutkan kekufuran Al Walid. Kabar tersebut sampai ke telinga Abu Jahal. Ia pun datang menemui al-Walid.

    Abu Jahal mengatakan, “Wahai Paman, sesungguhnya kaummu ingin mengumpulkan harta untukmu.”

    “Untuk apa?” tanya al-Walid.

    “Untukmu. Karena Engkau datang menemui Muhammad untuk menentang ajaran sebelumnya (ajaran nenek moyang).” Jawab Abu Jahal.

    Al-Walid bin al-Mughirah menanggapi, “Orang-orang Quraisy tahu, kalau aku termasuk yang paling kaya di antara mereka.”

    “Ucapkanlah suatu perkataan yang menunjukkan kalau engkau mengingkari Alquran atau engkau membencinya.”, kata Abu Jahal.

    Al-Walid mengatakan,

    وماذا أقول؟ فوالله! ما فيكم رجل أعلم بالأشعار مني، ولا أعلم برجز ولا بقصيدة مني، ولا بأشعار الجن، والله! ما يشبه الذي يقول شيئا من هذا، ووالله! إن لقوله الذي يقول حلاوة، وإن عليه لطلاوة، وإنه لمثمر أعلاه مغدق أسفله، وإنه ليعلو وما يعلى، وإنه ليحطم ما تحته

    “Apa menurutmu yang harus kukatakan pada mereka? Demi Allah! Tidak ada di tengah-tengah kalian orang yang lebih memahami syair Arab daripada aku. Tidak juga pengetahuan tentang rajaz dan qashidah-nya yang mengungguli diriku. Tapi apa yang diucapkan Muhammad itu tidak serupa dengan ini semua. Juga bukan sihir jin. Demi Allah! Apa yang ia ucapkan (Alquran) itu manis. Memiliki thalawatan (kenikmatan, baik, dan ucapan yang diterima jiwa). Bagian atasnya berbuah, sedang bagian bawahnya begitu subur. Perkataannya begitu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya, serta menghantam apa yang ada di bawahnya.”

    Abu Jahal bersikukuh agar Al Walid mengatakan sesuatu yang bisa membuat orang-orang Quraisy ridha. Ia berkata, “Kaummu tidak akan ridha kepadamu sampai engkau mengatakan sesuatu yang buruk tentang Alquran itu.”

    “Jika demikian, tinggalkanlah aku, biar aku berpikir dulu,” kata Al-Walid.

    Setelah berpikir, Al Walid mengatakan, “Alquran ini adalah sihir yang dipelajari. Muhammad mempelajarinya dari orang lain.”

    Kemudian Allah menurunkan firman-Nya dalam QS Al Mudatsir ayat 11. Dari ayat 11 dan beberapa ayat seterusnya bercerita tentang Al Walid bin Al Mughirah yang divonis akan mendapatkan azab yang pedih di neraka.

    Kisah tersebut, selain dalam Al Mustadrak, juga bisa dijumpai dalam Sunan Kubra Imam Al Baihaqi dan Al Bidayah wa Al Nihayah Imam Ibnu Katsir.

    Dari kisah tersebut, merupakan bukti bahwa bacaan Alquran sangat manis dan bahkan menyentuh hati orang kafir. Ketika orang kafir pun tersentuh dengan bacaan Alquran, maka kita sebagai muslim lebih berhak untuk tersentuh dengan bacaan Alquran. Jika kita masih bermalasan dan bosan dengan bacaaan Alquran, maka kita perlu menambah istighfar. Karena bagi muslimin yang hatinya bersih, maka ia tidak akan pernah kenyang dengan bacaan Alquran.

    Wanita Amerika Tersentuh Dengan Bacaan Alquran Seorang Khatib

    Salah seorang Ulama dari Mesir sedang melakukan perjalanan menggunakan kapal laut menuju  Amerika. Di atas kapal laut, Ulama tersebut berkhotbah Jumat. Di dalam khotbahnya,  Sang Ulama menyampaikan nasehat kebajikan termasuk juga menyampaikan perkataan para Ulama,  menyampaikan Hadits dan Tafsir.

    Selepas Sholat Jumat, ada seorang Wanita Amerika yang mendatanginya dan memintanya untuk membacakan ulang bacaan Ulama yang tadi disampaikan pada saat khotbah. Ulama tersebut membacakan hadits, perkataan ulama dan tasfsir, namun Wanita Amerika tersebut mengatakan ‘bukan’. Pada saat Ulama tersebut membacakan Alquran, ternyata Wanita tersebut mengatakan ‘Nah bacaan inilah yang saya maksud, bacaannya sangat indah’.

    Subhanallah, inilah keajaiban Alquran yang mampu menyentuh hati orang non muslim.

    Wanita China Kagum Dengan Bacaan Alquran di Hotel Sudan

    Di Sudan, terdapat sebuah Perusahaan Pertambangan milik China. Suatu ketika,  ada seorang wanita China yang melewati sebuah kamar hotel, dimana didalamnya terdapat seorang Syaikh yang sedang murojaah ayat Alquran, dan bacaannya terdengar hingga keluar dari kamar hotel.

    Wanita China tersebut menghentikan langkahnya dan menemui sang pembaca Alquran. “Lagu apakah yang kamu baca? Lagunya sangat indah.” Tanya Wanita China

    “Ini bukan lagu. Yang saya baca tadi adalah Ayat Alquran” jawab Syaikh tersebut menjelaskan.

    Demikianlah energi kedahsyatan Alquran, yang bahkan keindahannya bisa dirasakan oleh non muslim.

    (Bersambung Bag. III)

    Penulis skrip: Ahmad Fahmi dan UKM Mushaf ICWM

    Editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • KEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. I)

    Menjadi Ahlul Quran adalah sebuah misi yang agung. Ahlul Quran adalah keluarganya Allah di muka bumi. Dengan menjadikan misi agung tersebut sebagai misi dalam keluarga kita, maka kita bisa menyiapkan setiap anggota keluarga sebagai Ahlul Quran. Keluarga inilah yang didamba setiap insan, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarga Ahlul Quran di dunia dan akhirat.

    Salah satu kiat yang bisa kita upayakan agar kita menjadi Ahlul Qur’an adalah dengan mendengarkan bacaan Alquran. Beberapa keutamaan dari mendengarkan kalamullah ini adalah:

    1. SEBAGAI HIDAYAH ATAU PETUNJUK

    Mendengarkan bacaan Alquran merupakan sarana diperolehnya hidayah atau petunjuk. Petunjuk ini bukan saja diberikan kepada non muslim, namun juga Allah berikan kepada hambaNya yang muslim yaitu berupa bertambahnya keimanan dan dijauhkannya dari kemaksiatan.

    Allah ﷻberfirmah:

    ٱلَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰب

    Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.  (Az-Zumar Ayat 18) 

    Tafsir Almuyasar menjelaskan bahwa mendengar perkataan yang dimaksud adalah perkataan  dari kitab Allah atau dari sunnah Rasulullah ﷺ, kemudian mereka menjalankan kebaikan yang diperintahkan kepada mereka dan mengamalkannya.

    Umar bin Khatab RA Masuk Islam Lantaran Mendengar Bacaan Alquran

    Dikisahkan dari riwayat Anas yang dikeluarkan oleh Al-Hakim dan Al-Baihaqi, menyebutkan:

    Pada suatu hari ‘‘Umar keluar dengan menyandang sebilah pedang. Di tengah jalan dia bertemu dengan seorang laki-laki dari Bani Zuhrah dan dia berkata: “Akan ke mana engkau, hai ‘‘Umar?” ‘Umar ketika itu menjawab: “Mau membunuh Muhammad.” Laki-laki itu berkata lagi: “Bagaimana engkau dapat merasa aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah setelah membunuh Muhammad?” ‘Umar berkata pula: “Mungkin engkau sendiri sudah menukar agamamu?” Orang itu menukas: “Maukah kau aku tunjukkan kejadian yang lebih menakjubkan? Sesungguhnya saudarimu dan iparmu sudah memeluk Islam dan meninggalkan agama nenek moyangmu.”

    Mendengar hal ini, ‘Umar segera berbalik dan menuju ke rumah saudari dan iparnya yang kebetulan Khabbab sedang berada di sana. Ketika mereka mendengar suara ‘Umar, dia segera bersembunyi di dalam rumah. ‘Umar pun masuk dan berkata: “Suara apa yang kudengar ini?” Waktu itu mereka sedang membaca surat Thaha. Keduanya berkata: “Tidak ada, hanya kami berbincang-bincang biasa.” Kata ‘Umar: “Jangan-jangan kalian berdua sudah masuk Islam?” Iparnya menjawab: “Hai ‘Umar, bagaimana jika al-haq itu ternyata bukan berada pada agamamu?”

    Mendengar hal ini ‘Umar melompat kemudian membanting dan menginjaknya dengan keras. Saudarinya segera datang membela suaminya. Tapi ‘Umar segera memukulnya hingga darah keluar dari wajah saudarinya itu. Wanita itu berkata dalam keadaan sangat marah: “Apakah (kau marah) meskipun al-haq bukan berada pada agamamu? Sungguh aku bersaksi tidak ada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.” (Mungkin karena merasa iba), ‘Umar berkata: “Coba berikan tulisan apa yang ada pada kalian, aku mau membacanya.” ‘Umar termasuk kalangan terpelajar dan pandai membaca. Saudarinya menjawab: “Kamu itu najis. Kitab ini tidak boleh disentuh oleh orang yang najis. Pergilah bersuci!” ‘Umar pun beranjak untuk mandi. Kemudian dia mulai membaca surat Thaha. sampai kepada ayat:

    إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

    “Sesungguhnya Aku adalah Allah yang tidak ada Ilah selain Aku. Maka beribadahlah kepada-Ku dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Thaha: 14)

    ‘Umar berkata: “Tunjukkanlah kepadaku di mana Muhammad!” Ketika Khabbab mendengar hal ini, dia segera keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata: “Gembiralah, hai ‘Umar. Aku berharap engkaulah yang didoakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Ya Allah, muliakanlah Islam dengan ‘Umar bin Al-Khaththab atau ‘Amru bin Hisyam’.

    (HR.At-Tirmidzi kata beliau gharib dan An-Nadhr Abu ‘Umar kata Al-Imam Al-Bukhari dia munkarul hadits).


                Betapa dahsyatnya keutamaan bacaan Alquran, sosok Umar bin Khattab RA yang terkenal sebagai seseorang yang berwatak keras dan bertubuh tegap. Sebelum keislamannya, sering kali kaum muslimin mendapat perlakuan kasar darinya. Pada akhirnya, dengan izin Allah, ia mendapat hidayah masuk islam lantaran mendengarkan bacaan Alquran. 

     Raja An Najasyi Menangis Ketika Mendengarkan Kalamullah

    Ummu Salamah, istri Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bercerita, “Saat kami sampai di negeri Habasyah kami disambut dengan sangat baik oleh Najasyi. Kami aman beragama dan beribadah kepada Allah. Kami tidak diganggu dan tidak mendengar sesuatu pun yang tidak kami suka, Ja’far bin Abu Thalib-lah yang berbicara kepadanya, ‘Paduka, kami dulu adalah kaum yang bodoh, ahli Jahiliyah. Kami menyembah patung, makan bangkai, melakukan perbuatan nista, memutus silaturahim, suka mengganggu tetangga, dan siapa yang kuat di antara kami, akan memakan yang lemah. Begitulah keadaan kami sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul.’ Najasyi bertanya, ‘Apakah kamu hapal sesuatu dari ajarannya?’ ‘Ya,’ jawab Ja’far. ‘Bacakan untukku!’ pinta Najasyi.

    Maka Ja’far pun membaca beberapa ayat awal surat Maryam. Najasyi menangis. Demi Allah, jenggotnya sampai basah oleh air matanya. Uskup-uskupnya pun menangis saat mendengar bacaan Ja’far, sehingga air mata mereka membasahi lembaran-lembaran kitab yang mereka bawa.

    Kemudian Najasyi berkata, ‘Demi Allah, ini dan yang diajarkan Musa (Isa –tolong cek yang benar)  benar-benar berasal dari sumber yang sama. Pulanglah kalian (wahai utusan orang-orang Quraisy!) Aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian selamanya.”

    Berkenaan dengan Najasyi, Allah menurunkan firman-Nya:

    وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

    “Dan apabila mereka mendengarkan apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui.”(Al-Mâ’idah: 83)

    Ibnu Jarir dan yang lainnya meriwayatkan dari Az-Zuhri bahwa ia berkata, ”Saya senantiasa mendengar dari para ulama kita bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Najasyi dan sahabat-sahabatnya

    Fudhail bin Iyadh, Mantan Perampok yang Menjadi Gurunya Para Ulama

    Fudhail bin Iyadh adalah ulama besar yang hidup pada abad ke 2 H,  dan  wafat pada tahun 187 H. Banyak ulama besar yang berguru kepadanya, di antaranya adalah Imam Syafii, Sufyan bin Uyaynah, Yahya bin Said al Qotton, Ibnu Mubarak dan Abdurrahman bin Mahdi.

    Fudhail bin Iyadh dahulunya adalah seorang perampok besar yang sering melakukan kejahatan di rute Abiwarda dan daerah Sarkhos. Siapapun pengelana di jalur tersebut, jika mendengar nama Fudahil maka akan merinding ketakutan. Demikian karena tersohornya operasi perampokkannya di wilayah tersebut.

    Kala itu, Fudhail sedang jatuh cinta dengan seorang gadis. Diapun memanjat tembok untuk menemui wanita  tersebut. Ketika dia berada di atas tembok, ia mendengar suara lantunan Alquran dari wanita tersebut :

    أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

     “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)

    Tak terasa air matanya berlinang, hingga akhirnya dia pun tersungkur jatuh. Seketika badannya yang selama ini kokoh, menjadi rapuh karena mendengar ayat tadi. Dia pun berkata dalam hatinya untuk menjawab pertanyaan Allah yang terdapat dalam ayat di atas, “Wahai Rabb-ku, telah tiba saatnya”.

    Akhirnya, ia pergi menjauh, lalu ia bermalam pada reruntuhan bangunan. Ternyata di samping bangunan itu ada orang-orang yang hendak melewati jalur operasi kajahatannya. Sebagian diantara orang-orang itu berkata, “Ayo kita berangkat”. Sebagian lagi bilang, “Jangan dulu!! Nanti shubuh kita berangkat, karena Fudhail sekarang akan menghadang kita di jalan!!!”.

    Fudhail menceritakan , “Kemudian aku merenung dan bergumam;  aku menjalani kemaksiatan-kemaksiatan di malam hari dan sebagian dari kaum muslimin ketakutan kepadaku, dan tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku bertaubat kepadaMu dan aku jadikan taubat itu dengan tinggal di Baitullah.”

    Setelah kejadian itu, Fudhail pun melalui hari-harinya dengan ketaatan kepada Allah sampai ia dikenal dengan ‘abidul haromain (عَابِدُ الْحَرَمَيْنِ), artinya “Ahli ibadah dua tanah suci (Makkah dan Madinah)”

    Maha suci Allah yang telah membolak-balikkan hati, dan menganugerahkan kepada hamba-Nya hati yang lembut. Itulah kisah seorang penyamun (perampok) jahat berubah menjadi seorang ulama’ dan hamba yang sholeh. [Dinukil dari: Al-Imam Al-Fudhoil bin Iyadh sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hafizh Adz-Dzahabiy dalam kitabnya Siyar A’lam An-Nubala’ (8/423)]

    Jin Pun Mendapat Hidayah Setelah Mendengarkan Alquran

    Allah ﷻ berfirman:

    قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبً 

    “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan,(Q.S.Al-Jin ayat 1.

    Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah membacakan Alquran  kepada Jin, dan tidak pernah melihat mereka. Ketika Rasulullah bersama para sahabatnya menuju ke Pasar Ukkadh, sesampainya di Tuhamah, Rasululllah bersama rombongannya berhenti untuk melakukan sholat fajar. 

    Hal tersebutlah yang menyebabkan terhalangnya setan untuk mencuri  berita-berita di langit. Alih-alih mencuri berita langit, setan malahan mendapat lemparan bintang-bintang dari langit. Sehingga setan pun terpaksa pulang kepada kaumnya.

    Setibanya di tempat kaumnya, setan-setan tersebut  ditanya : “Apa yang terjadi sehingga kalian kembali?”. Mereka menjawab : “Kami terhalang untuk mendapat berita langit”.

    “Tentu ada sebabnya, bersabarlah kalian ke timur dan ke barat dan carilah sebab penghalangnya“. Perintah tersebut, membuat mereka menyebar ke barat dan ke timur mencari sebab penghalangnya tindak pencurian berita langit.

    Dalam tugas pencarian sebab musabab ini,  sebagian dari mereka sampailah di Tuhamah,  tempat Rasulullah berhenti untuk melaksanakan sholat shubuh. Mereka mendengar bacaan Rasulullah dan memperhatikannya serta berkata : “Demi Allah, inilah yang menghalangi kita untuk mencuri berita dari langit“. Mereka pun pulang ke kaumnya dan menyampaikan kejadian itu serta mengagumi Alquran yang membawa mereka kejalan petunjuk Allah sehingga mereka beriman. Maka turunlah ayat ini (surah Jin ayat 1, sebagai pemberitahuan kepada Nabi saw., untuk memberitahukan kepada ummatnya tentang kejadian itu. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan At-Tarmidzi dan yang lainnya yang bersumber dari Ibnu Abbas)

    (Bersambung Bag. II)

    Penulis skrip: Ahmad Fahmi dan UKM Mushaf ICWM

    Editor: Tanti Ummu Fahdlan