Kategori: Quranic Parenting

  • Apa yang Cocok Untuk Anak Kita?

    🏘 KAJIAN QUR’ANIC PARENTING ONLINE 🏘

    Bagaimana mengetahui apa saja yang tepat untuk pertumbuhan anak kita?

    Bagaimana sebaikanya memperlakukannya dengan cara yang baik.

    Bukan hanya baik di mata kita namun sesuai juga dengan metode pendidikan anak dan tentunya yang lebih penting sesuai tuntunan Qur’an dan hadits.

    Lantas apakah kita sebagai orang tua telah menemukan cara atau metode yang cocok bagi anak kita?

    Apakah selama ini yang kita jalani baik menurut pendidikan anak, dan diridhoi oleh Allah Ta’ala?

    Yuk Ikuti Kajian Parenting Online Bersama Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I., Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, dengan membahas;

    📋 Tema: Apa yang Cocok Untuk Anak Kita?
    🗓 Tanggal: Sabtu, 15 Rabiul Akhir 1443 H/20 November 2021 M
    🕰 Waktu: 19.45 WIB – Selesai
    🎥 Live on Youtube Channel Darsuna TV:
    https://youtube.com/c/DarsunaTV

    ➖➖➖➖➖➖
    .
    .
    Mari ajak keluarga, rekan, dan sahabat untuk bersama saling menimba ilmu, meningkatkan kapasitas diri dalam mendidik dengan mengikuti majelis ilmu yang bermanfaat ini.
    .
    .
    .
    🏷 Find Us On:

    Instagram Qur’anic Parenting: https://bit.ly/IGquranicparenting
    Grup Facebook Qur’anic Parenting: https://www.facebook.com/groups/229276489202028/?ref=share
    Twitter Qur’anic Parenting: https://twitter.com/parenting_qur?s=08
    Lantama
    https://instagram.com/lantamawisata?utm_medium=copy_link
    Instagram;
    •Bimbel SaQu : https://instagram.com/bimbelsaqu_wm?igshid=1byytnk9u70bs
    •ICWM : https://instagram.com/ic_wadimubarak?igshid=16yvuiperya78
    🔗 Web : https://wadimubarak.com

  • Rambu-Rambu Penting Dalam Mendidik Anak

    🌍 KAJIAN QUR’ANIC PARENTING ONLINE 🌍

    Rambu-Rambu Penting dalam Mendidik Anak..

    Dalam sebuah pendidikan tentunya membutuhkan rambu-rambu yang perlu diperhatikan bagi seorang pendidik, terlebih mendidik sang buah hati tercinta.

    Dengan rambu-rambu yang kita berikan maka anak akan mengetahui apa yang seharusnya ia kerjakan dan apa yang tidak baik ia kerjakan.
    Melindunginya dan memberinya rambu-rambu adalah tanda kasih sayang orang tua terhadap anak-anaknya.

    Apa saja rambu-rambu yang penting itu?

    Yuk contek tips mendidik anak agar patuh sejak kecil.

    Ikutilah Kajian Parenting Online
    Bersama
    Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I.,
    Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak
    pembahasan:

    📑 Tema: Rambu-Rambu Penting dalam Mendidik Anak.
    🗓 Tanggal: Sabtu, 30 Oktober 2021
    📱Waktu: 19.30 WIB – Selesai
    🎥 Live on Youtube Channel Darsuna TV:
    https://youtube.com/c/DarsunaTV

    ➖➖➖➖➖➖

    ✒ Mari ajak keluarga, rekan, dan sahabat bersama-sama menimba ilmu, meningkatkan kapasitas diri dengan mengikuti majelis ilmu yang bermanfaat ini.
    .
    .
    .

    Find Us On:
    Instagram;
    •Graha Quran : https://www.instagram.com/grahaquran_wm/
    •ICWM : https://instagram.com/ic_wadimubarak?igshid=16yvuiperya78
    •Lantama Wisata : https://instagram.com/lantamawisata?utm_medium=copy_link
    🔗 Web : https://wadimubarak.com

  • KAJIAN QUR’ANIC PARENTING ONLINE: Bijak Dalam Mendidik Anak

    🍀 KAJIAN QUR’ANIC PARENTING ONLINE 🍀

    📓 Bijak Dalam Mendidik Anak📓

    Bijak mendidik anak, seperti apa?
    Kira-kira, pertanyaan inilah yang terbersit di dalam benak orangtua, bahkan calon orangtua.

    Anak adalah anugerah terindah yang diberikan Allah dalam sebuah keluarga.
    Kehadiran buah hati menjadi kebahagiaan tersendiri, apalagi jika kelak ia mampu membanggakan orangtua dan berguna bagi orang lain.

    Namun ada tahap yang akan terus dipelajari oleh si kecil agar bisa seperti yang diharapkan orangtua.

    Ingin menjadi orangtua bijak…?

    Ikuti Kajian Parenting Online
    Bersama
    Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I.,
    Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak

    dengan membahas;

    📑 Tema: Bijak Dalam Mendidik Anak
    🗓 Tanggal: Sabtu, 16 Oktober 2021
    📱Waktu: 20.00 WIB – Selesai
    🎥 Live on Youtube Channel Darsuna TV:
    https://youtube.com/c/DarsunaTV

    ➖➖➖➖➖➖
    .
    .
    Mari ajak keluarga, rekan, dan sahabat untuk bersama saling menimba ilmu, meningkatkan kapasitas diri dengan mengikuti majelis ilmu yang bermanfaat ini.

    ➖➖➖➖➖
    Find Us On :
    Instagram;
    •Graha Qur’an : https://instagram.com/grahaquran_wm?utm_medium=copy_link
    •ICWM : https://instagram.com/ic_wadimubarak?igshid=16yvuiperya78
    •Nur Ramadhan : https://instagram.com/nurramadhan_wisata?utm_medium=copy_link
    •Anugerah Wisata : https://instagram.com/acm.anugerahwisata?utm_medium=copy_link
    🔗 Web : https://wadimubarak.com

  • 8 (Delapan) Tanggung Jawab Orang Tua Yang Harus Diketahui – 2

    Keempat: Tanggung jawab mengajarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi anak. Dan ini adalah salah satu dari lima tujuan Syariat Islam yaitu “حفظ العقل “ (menjaga akal) dan Islam menganjurkan menuntut ilmu secara umum, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah subhanallahu wa ta’ala:

    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ  خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ  اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ  عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
    “Baca dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahui” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)

    Lain dari itu pun, seorang bapak harus mendidik dan mengajari anak tentang pemikiran Islam yang beredar dan diberitahukan juga tentang segala sesuatu yang baru di bidang ini dan tentunya sesuai dengan tahap perkembangannya.

    Tradisi Islam yang sesuai sunnah tentunya mempengaruhi perilaku dan hubungan mereka dengan orang tua, saudara serta orang lain. Anak juga harus diberi peringatan mengenai adanya pemikiran-pemikiran yang dapat merusak dan menjauhkan mereka dari nilai-nilai moral keislaman.

    Baca Juga: Rumah Seperti Surga, Bag-1

    Kelima: Tanggung jawab menafkahi anak secukup kebutuhannya secara halal, tidak boros namun juga tidak pelit.

    Firman Allah subhanallahu wa ta’ala:

    قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ
    “Katakanlah: Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat…” (Al-Baqarah: 215).

    Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu tentang pengaduan Hindun kepada beliau mengenai kekikiran suaminya, Abu Sufyan:

    خُذِي ما يكفيكِ وبَنِيكِ بالمعروفِ
    “Ambillah olehmu apa yang cukup bagimu dan anak-anakmu secara wajar” (HR. Bukhori)

    Keenam: Tanggung jawab mendidik anak dalam hal kehidupan, serta memberikan kepada mereka pengalaman-pengalaman baru untuk menjalani hidupnya kelak.

    Karena tidak semua hal yang dapat ditemukan dalam buku pelajaran namun didapat dari pengalaman yang biasanya diturunkan dari generasi-generasi sebelumnya.

    Seperti mengajak para anak untuk ikut terlibat dalam hal memecahkan suatu masalah (problem solving) sesuai usia mereka. Hal ini akan meningkatkan daya pikir dan keterampilan kognitif terhadap suatu masalah.

    Baca Juga: 5 Alasan Penting Pendidikan Al-Qur’an Sejak Usia Dini

    Ketujuh: Tanggung jawab mendidik anak untuk ikut terjun berdakwah. Baik berdakwah bil hikmah yaitu menyampaikan dakwah dengan cara yang arif bijaksana maupun berdakwah dengan cara mau’izhoh hasanah yaitu memberikan pelajaran/nasihat yang baik.

    Banyak cara untuk mendidik anak agar suka berdakwah, salah satunya ketika anak masih usia remaja, diikutsertakan dalam pertemuan-pertemuan keagamaan. Sehingga anak tersebut dibesarkan dalam lingkungan dan pemahaman Islam yang benar.

    Kedelapan: Tanggungjawab membesarkan anak agar menjadi orang yang bebas, tidak hanya menjadi anak yang berlindung di bawah ketiak orang tuanya.

    Maka orang tua harus bisa menjaga perasaan dan martabat anak. Tidak ringan tangan, tidak mempermalukan dan tidak menekani anak. Karena perbuatan-perbuatan itu hanya akan melahirkan anak untuk menjadi pengecut dan penakut. Selain itu juga dapat merampas hak kebebasan anak yang akan melemahkan kepribadian anak.

    Simak dan Ikuti: Pendaftaran Grup Whatsapp Quranic Parenting

    Jika ayah memenuhi tanggung jawab ini, dan ibu memenuhi tanggung jawabnya – seperti yang disebutkan di atas – maka akan ada anak yang saleh, bebas dengan kepribadian yang kuat yang dapat melakukan tugasnya terhadap agamanya, maupun terhadap urusan duniawinya. Baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Dan yang terpenting adalah ia akan tumbuh menjadi dirinya sendiri di masa depan.

    Anak yang dibesarkan dalam didikan secara Islami di bawah asuhan orang tua, dalam hal nilai-nilai keimanan, akhlak yang luhur, perilaku yang baik dan secara alami akan melahirkan anak yang berhasil dalam semua aspek kehidupan. Insyaallah..

    Ditulis oleh Abu Samudera
    Editor: Al.Choer

    Referensi: https://fiqh.islamonline.net/واجبات-الآباء-نحو-الأبناء/

    Sebelumnya 8 (Delapan) Tanggung Jawab Orang Tua Yang Harus Diketahui – 1

  • 8 (Delapan) Tanggung Jawab Orang Tua Yang Harus Diketahui – 1

    Allah subhanallahu wa ta’ala telah membebankan hak anak kepada kedua orangtuanya, terkhusus kepada bapaknya.

    Diantara hak anak yaitu mendapatkan pendidikan Islam yang baik. Hal ini untuk mewujudkan generasi baru dalam memakmurkan bumi serta dan untuk beribadah kepada Allah semata.

    Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat hari kiamat kelak akan membanggakan keadaan umatnya di hadapan umat Nabi lainnya tidak hanya dari kuantitas umat Islam namun kualitas umat pun lebih unggul dari umat lainnya.

    Oleh karena itu, salah satu kewajiban seorang bapak adalah mengasuh anak untuk menegakkan agama agar Allah mempertemukan mereka di hari kiamat kelak.

    Firman Allah subhanallahu wa ta’ala:

    وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
    “Dan orang-orang yang beriman dan anak-anak mereka mengikuti mereka dalam iman, Kami akan menggabungkan anak-anak mereka dengan mereka..” (At-Thur; 21) 

    Baca Juga: Menjadi Pendidik Yang Positif

    Sebagai seorang kepala keluarga, seorang laki-laki juga harus mampu menyelamatkan istri dan anak-anaknya dari api neraka. Bukan hanya dirinya sendiri yang terselamatkan. Firman Allah subhanallahu wa ta’ala:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
    “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..” (At-Tahrim; 6)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan tentang tanggung jawab seorang kepala keluarga dalam hadits yang dibawakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu :

    إنَّ اللَّهَ سائلٌ كلَّ راعٍ عمَّا استرعاهُ أحفِظَ ذلِكَ أم ضيَّعَ حتَّى يسألَ الرَّجلَ على أَهْلِ بيتِهِ
    “Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap penggembala tentang apa yang sudah dipercayakan kepadanya, apakah dia menjaganya atau menghilangkannya? Hingga seorang laki-laki pun akan ditanya tentang isi rumahnya.” (HR. An-Nasa’i dan Ibn Hibban)

    Simak dan Ikuti: Kajian Online: Tujuan Utama Qur’anic Parenting

    Apa Saja Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Anak?

    Pertama: Tanggung jawab membesarkan anak-anak dalam Tauhid kepada Allah subhanallahu wa ta’ala dan cinta kepada-Nya serta cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Hal ini sebagaimana perkataan Lukman Al-Hakim kepada anaknya yang tertera dalam Al-Qur’an:

    وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
    “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar“. (Luqman: 13)

    Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

    ما مِن مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ علَى الفِطْرَةِ
    “Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah)” (Muttafaqun ‘Alaihi)

    Kedua: Tanggung jawab mendidik anak dalam ibadah wajib sejak dini, seperti shalat, puasa, zakat, dan sedekah.

    Inilah yang disebutkan dalam perintah Luqman kepada putranya ketika dia berkata kepadanya:

    يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
    “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. Luqman: 17)

    Hal ini menuntut ayah, khususnya, untuk mengajar dan melatih anak-anaknya shalat, puasa, menemani mereka ke masjid, dan untuk mengatur program pembelajaran praktis bagi mereka. Dalam hal ini bisa dibantu oleh ibu dan saudara laki-laki lainnya di rumah.

    Ketiga: Tanggung jawab memberikan keteladanan.

    Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Jabir bin Samroh radhiyallahu ‘anhu :

    لأن يؤدِّب الرجلُ ولدَه خيرٌ من أن يتصدَّق بصاعٍ
    “Bagi seorang pria mendisiplinkan anaknya lebih baik daripada bersedekah dengan satu sha’ ” (HR. At-Tirmidzi, Hadits ghorib dan Albani menghukuminya Dho’if)

    Hal ini menunjukkan bahwa seorang ayah dituntut untuk memberikan contoh yang baik dalam akhlak dan perilaku sehari-hari kepada anak-anaknya.

    (Bersambung Bagian 2)

    Ditulis oleh Abu Samudera
    Editor: Al.Choer

  • Kajian Online: Tujuan Utama Qur’anic Parenting

    ✨ KAJIAN PARENTING ONLINE ✨

    📘 Tujuan Utama Qur’anic Parenting📘

    Salah satu kunci keberhasilan Rasulullah ﷺ dalam mendakwahkan ajaran Islam ialah dengan mengajarkan Al-Qur’an kepada generasi Sahabat.

    Terbukti hasilnya ialah seluruh jazirah Arab yang berhasil dikenalkan dengan Islam, dan tidak hanya itu bahkan 2 Imperium besar penguasa peradaban kala itu, Persia dan Romawi, berhasil ditutup kurang dari 10 tahun setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.

    Hal ini dapat diambil pelajaran bahwa dengan mengajarkan Al-Qur’an kepada generasi setelah kita berarti kita telah menyiapkan kebesaran untuk masa depannya.

    Ikutilah Kajian Parenting Online Bersama Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I., Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, dengan membahas;

    📋 Tema: Tujuan Utama Qur’anic Parenting
    🗓 Tanggal: Sabtu, 21 Agustus 2021
    🕰 Waktu: 05.30 WIB – Selesai
    🎥 Live on Youtube Channel Darsuna TV:

    ➖➖➖➖➖➖
    .
    .
    Mari ajak keluarga, rekan, dan sahabat untuk bersama saling menimba ilmu, meningkatkan kapasitas diri dengan mengikuti majelis ilmu yang bermanfaat ini.
    .
    .
    .

    Find Us On:
    Instagram;
    •Bimbel SaQu : https://instagram.com/bimbelsaqu_wm?igshid=1byytnk9u70bs
    •ICWM : https://instagram.com/ic_wadimubarak?igshid=16yvuiperya78
    •Nur Ramadhan : https://instagram.com/nurramadhan_wisata?utm_medium=copy_link
    •Anugerah Wisata : https://instagram.com/acm.anugerahwisata?utm_medium=copy_link
    🔗 Web : https://wadimubarak.com

  • Pendaftaran Grup WhatsApp Qur’anic Parenting

    🌸 Dibuka Untuk Umum Pendaftaran Grup WhatsApp Qur’anic Parenting🌸

    ⛔ Kuota Terbatas⛔

    ••• ════ ◇✿•࿐•✿◇ ════ •••⁣
    AJAK SAUDARA/TEMAN ANDA, DAN DAPATKAN PAHALANYA!

    ••• ════ ◇✿•࿐•✿◇ ════ •••⁣
    بسم الله الرحمن الرحيم

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

    “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
    (HR. Muslim no. 1893)


    ➖➖➖➖➖➖➖➖➖
    Pengetahuan mendidik anak adalah bekal yang sangat penting, baik yang sudah berkeluarga (menikah) maupun yang belum menikah.

    Oleh karena itu sangat penting memahami metode dalam mendidik anak sehingga mampu melahirkan generasi-generasi yang unggul, amanah, dan mandiri.

    Materi diasuh langsung oleh Ustadz Dr. Didik Hariyanto Lc.,M.P.I  yang merupakan pakar Qur’anic Parenting sehingga materi-materi yg disampaikan merupakan riset dan pengalaman panjang beliau dibidang pendidikan.

    Mengenal lebih dekat dengan narasumber:

    Ust. DR. Didik Hariyanto, L.c., M.P.I adalah Putra Emas Umat.

    💠 Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak ini merupakan Alumni TMI Al-Amien Prenduan (1995).

    💠 Beliau menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di Madrasah Sirojiyah Haripur Hazara Pakistan (1997)

    💠 Pada tahun 1998, beliau kuliah di Universitas Islam Madinah Fakultas Hadits dan Islamic Studies.

    💠 Meraih predikat cumlaude saat menempuh pendidikan S3 di Ibnu Khaldun Bogor (Pendidikan Islam) dengan Judul Disertasi “Qur’anic Parenting“.

    💠 Saat ini beliau juga masih menimba ilmu S3 untuk yang kedua kalinya di King Abdul Aziz Jeddah (Hadits)

    💠 Dalam bidang organisasi, saat ini beliau mendapat amanah sebagai Sekjen Lembaga Tahfizh se-Indonesia Robithoh Ma’ahidil Qur’an dari tahun 2015 sampai sekarang.

    Bukan hanya sebagai pemateri, beliau juga berperan sebagai Praktisi Pendidikan. Terbukti beberapa kontribusi beliau dalam Parenting (kepengasuhan) anak dengan al Quran.

    1.) Bekerjasama degan Syaikh Bakr, penemu metode Attibyan, cara mudah mempelajari Alquran. Terbukti anak usia 4-6 th sudah bisa tahaji (membaca ayat Al Quran sekaligus menyebutkan hukum tajwidnya).
    2.) Mendirikan Lembaga Taud SaQu (Tahfidz Anak Usia dini Sahabat Qur’an)
    yang menjadi Labschool Pendidikan Al-Qur’an Usia Dini. Serta pusat metode Attibyan di Indonesia.

    📌 Pendaftaran  16 – 29 Agustus 2021

    Tunggu apalagi segera klik link dibawah ini untuk ikut serta bergabung dalam grup akun whatsApp Qur’anic Parenting (kuota terbatas)

    🏆 *Informasi Pendaftaran*

    👉 *Ikhwan* : https://bit.ly/pendaftaranquranicparentingikhwan2

    👉 *Akhwat*: https://bit.ly/pendaftaranquranicparentingakhwat1

    🏆 *Youtube*: https://bit.ly/YTquranicparrentingWM

    🏆 *Instagram* : https://bit.ly/IGquranicparenting

    🏆 *Grup Facebook* : https://www.facebook.com/groups/229276489202028/?ref=share

    🏆 *Twitter* : https://twitter.com/parenting_qur?s=08

    Baca sebelumnya Pengertian Hadats Kecil Dan Pengaruhnya

  • 5 Alasan Penting Pendidikan Al-Qur’an Sejak Usia Dini

    5 Alasan Penting Pendidikan Al-Qur’an Sejak Usia Dini

    Firman Allah ﷻ :

    يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

    “Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak,”
    (Qs.Maryam, ayat:12).

    Penafsiran dari ayat tersebut, menurut Qatadah,  “Saat itu, Nabi Yahya berusia 2 atau 3 tahun.” Muqotil berkata, “Usia 3 tahun.” Dari dua pendapat tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa umur Nabi Yahya pada saat itu adalah 3 tahun.

    Qatadah berkata, “Sesungguhnya Nabi Yahya tidak pernah bermaksiat kepada Allah sedikitpun, baik dosa kecil maupun besar dan tidak pernah tergoda oleh wanita. Sebagaimana hadits Rasulullah ﷺ  yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ  bersabda, “Setiap anak Adam pada hari kiamat pasti datang membawa dosa, kecuali Yahya.”

    Pendapat Ibnu Katsir, al-hukma bermakna pemahaman, ilmu, kesungguhan, kerja keras, keinginan yang kuat dan suka kebaikan.

    Baca Juga: Menjadi Pendidik Yang Positif

    Dari ayat tersebut, tidak dapat dipungkiri, bahwasannya perhatian pendidikan anak sejak dini ini akan memberikan efek positif pada pembentukan karakter.  Dan tiada pendidikan yang lebih agung selain mengenalkan kitab Al-Qur’an sejak dini.

    Inilah yang mendasari dibukanya kelas belajar Al-Qur’an sejak usia 3 tahun di TAUD SaQu (Tahfizh Anak Usia Dini Sahabat Quran) yang berpusat di Islamic Center Wadi Mubarak Megamendung Bogor Jawa Barat sejak tahun 2014 dan kini telah berkembang jumlahnya. Tidak kurang dari 164 cabang tersebar di nusantara.

    Sahabat Rasulullah ﷺ  yang juga saudara sepupu beliau meyakini akan pentingnya pendidikan Al-Qur’an sejak dini, Ibnu Abbas ra berkata: “Barang siapa yang pandai membaca Al-Qur’an sebelum masuk usia baligh, maka dia termasuk orang yang dikaruniai hikmah semasa kecilnya.” Jelas kiranya, penanaman pendidikan Alquran sejak dini, bukanlah merusak otak anak, justru ia melejitkan kemampuan anak.

    Baca Juga: Wisuda PG TAUD Dan Idad Muallimat

    Alasan Pentingnya Pendidikan Sejak Dini

    1. Otak anak berkembang 80%

    Benjamin S. Bloom, professor pendidikan dari Universitas Chicago menemukan fakta yang cukup mengejutkan:
    a. Ternyata 50% dari semua potensi hidup manusia terbentuk ketika kita berada dalam kandungan sampai usia 4 tahun.
    b. Lalu 30% potensi berikutnya terbentuk pada usia 4-8 tahun.

    Ini berarti 80% potensi dasar manusia terbentuk pada usia dini sampai tahap awal usia sekolah jenjang pendidikan dasar. Nilai-nilai hidupnya, kebiasaanya, kepribadiannya, akhlaknya, dan sikapnya terbentuk dari madrasah pertamanya, yaitu di rumah. Peluang emas ini akankah dimaksimalkan atau diabaikan?

    2. Anak terlahir fitrah

    Sabda Rasulullah ﷺ :

    (مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ (رواه البخارى ومسلم

    “Setiap anak dilahirkan atas fitrah (kesucian agama yang sesuai dengan naluri), sehingga lancar lidahnya, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
    (HR. Bukhori Muslim)

    3. Anak-anak mudah dibentuk

    Dalam kitab Ahkamul Maulud, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah mengatakan: “Yang sangat dibutuhkan anak adalah perhatian terhadap akhlaknya. Ia akan tumbuh menurut apa yang dibiasakan oleh pendidiknya ketika kecil. Jika sejak kecil ia terbiasa marah, keras kepala, tergesa-gesa dan mudah mengikuti hawa nafsu, serampangan, tamak dan seterusnya maka akan sulit baginya untuk memperbaiki diri dan menjauhi hal itu ketika dewasa. Perangai seperti ini akan menjadi sifat dan perilaku yang melekat pada dirinya. Jika ia tidak dibentengi dari hal itu, maka pada suatu ketika nanti semua perangai itu akan muncul. Karena itu kita temukan manusia yang menyimpang akhlaknya itu disebabkan pendidikan yang dilaluinya.”

    4. Anak-anak ingatannya sangat kuat

    Ada sebuah pepatah Arab yang berbunyi:

    الحفظ في الصغر كالنقش على الحجر

    “Menghafal di waktu kecil laksana mengukir di atas batu.”

    5. Anak-anak belajar dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakannya

    ‘Amru bin ‘Atabah pernah memberikan pegangan kepada para pengasuh anaknya dengan berkata:

    لِيَكُنْ أَوَّلُ إِصْلاَحِكَ لِولدَى إِصْلاَحَكَ لِنَفْسِكَ فَإِنَّ عُيُوْنَهُمْ مَعْقُوْدَةٌ بِعَيْنِكَ، فَالْحَسَنُ عِنْدَهُمْ مَا صَنَعْتَ وَالْقَبِيْحُ عِنْدَهُمْ مَا تَرَكْتَ

    “Hendaklah tuntunan perbaikan yang pertama bagi anak-anakku, dimulai dari perbaikan anda terhadap diri anda sendiri. Karena mata dan perhatian mereka selalu terikat kepada anda. Mereka menganggap baik segala yang anda kerjakan, dan mereka menganggap jelek segala yang anda jauhi.”

    Editor: Ummu Fahdlan//Al.Choer

    Baca sebelumnya: Mengadili Si Ahli Maksiat

  • Kajian Online: Menyiapkan Generasi Baru, Generasi Qur’an, Generasi Unggul

    ✨KAJIAN PARENTING ONLINE ✨

    📘Kajian Mendidik Anak Dengan Al Qur’an📘

    Salah satu kunci keberhasilan Rasulullah dalam mendakwahkan ajaran Islam ialah dengan mengajarkan Al Qur’an kepada generasi sahabat. Terbukti hasilnya ialah seluruh jazirah Arab yang berhasil dikenalkan dengan Islam, dan tidak hanya itu bahkan 2 imperium besar penguasa peradaban kala itu Persia dan Romawi berhasil ditutup kurang dari 10 tahun setelah wafatnya Rasulullah.

    Hal ini dapat diambil pelajaran bahwa dengan mengajarkan Al Qur’an kepada generasi setelah kita berarti kita telah menyiapkan kebesaran untuk masa depannya.

    Ikutilah kajian parenting online bersama Ustadz. Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I (Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak) dengan membahas


    📋 Tema: Menyiapkan Generasi Baru, Generasi Qur’an, Generasi Unggul
    🗓 Hari/Tanggal: Sabtu, 7 Agustus 2021
    🕰 Waktu: 05.30 WIB – Selesai
    🎥 Live on Youtube Channel: Darsuna TV

    https://www.youtube.com/watch?v=aL4r0HxeAac

    💭 Bagikan manfaat dan ringkasan materi anda dengan Hashtag #WadiMubarak dan Tag akun Official Bimbel SaQu & Islamic Center Wadi Mubarak di Instagram atau di Facebook
    ➖➖➖➖➖
    .
    .
    Find Us On :
    Instagram;
    •Bimbel SaQu : https://instagram.com/bimbelsaqu_wm?igshid=1byytnk9u70bs
    •ICWM : https://instagram.com/ic_wadimubarak?igshid=16yvuiperya78
    •Nur Ramadhan : https://instagram.com/nurramadhan_wisata?utm_medium=copy_link
    •Anugerah Wisata : https://instagram.com/acm.anugerahwisata?utm_medium=copy_link
    🔗 Web : https://wadimubarak.com

  • Menjadi Pendidik Yang Positif

    Menjadi Pendidik Yang Positif

    Kajian Parenting Islamic Center Wadi Mubarak: Menjadi Pendidik yang Positif

    Hafal Al-Quran juga hadits saja tidaklah cukup untuk menjadi pendidik atau orang tua yang baik. Hal ini disadari betul oleh pengasuh, KH. Dr. Didik Hariyanto, Lc. M.P.I., sehingga beliau merasa perlu secara rutin melakukan kajian parenting bagi seluruh sivitas Islamic Center Wadi Mubarak.

    Berikut adalah beberapa catatan penting dalam kajian beliau.

    Parenting Butuh Ilmu

    Parenting bisa jadi sebuah kemampuan yang tidak secara khusus ada jenjang pendidikannya. Tidak seperti menyiapkan seorang dokter, misalnya. Meski begitu, parenting adalah peran yang akan dijalani setiap manusia yang sudah berkeluarga. Tentu saja ini butuh ilmu.

    Setiap asatidz, juga santri sangat perlu untuk menyiapkan diri sebagai orang tua yang baik. Persiapan ini salah satunya dengan ilmu. Tanpa ilmu ini, bisa jadi seorang sukses dan terkenal, tidak suskses menjadi orang tuanya ketika anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang bermasalah. Singkatnya, perlu ilmu untuk melahirkan generasi unggul, baik di rumah maupun di sekolah.

    Baca Juga: Umat Islam Yang Diumpamakan Seperti Jeruk

    Memiliki generasi unggul berarti kita punya jariyah. Punya anak yang sholeh yang mendoakan kita. Punya murid yang sukses yang mendoakan kita.

    3 Tipe Parenting

    Jika dikelompokkan, ada 3 jenis pengasuhan atau pendidikan anak atau peserta didik:

    Pertama, Tipe pemadam kebakaran.

    Ada yang menghitung dan berpendapat mungkin ada sekira 70% pendidik seperti ini.

    Pendidik ini bersikap reaktif ketika mendapati anak atau peserta didiknya bermasalah. Mereka tidak antisipastif. Mereka sejak awal tidak berorientasi dan kurang memperhatikan bagaimana cara membangun pribadi yang tidak bermasalah.

    Kedua, Tipe pawang/penjinak.

    Seakan-akan anak itu sama dengan hewan buas. Butuh dijinakkan.

    Banyak orang tua berharap memiliki anak yang penurut. Banyak sumber bahkan menjelaskan bagaimana cara membentuk anak penurut.

    Dalam Islam, harapan ini tidak sepenuhnya tepat bahkan bisa berdampak pada pembunuhan karakter dan jiwa anak. Fitrah anak khususnya usia dini tidaklah demikian.

    Baca Juga: Graha Quran Online Angkatan 3

    Orang tua yang mendidik anak-anaknya dengan menuntut anaknya menjadi penurut bahkan sejak usia dini masuk tipe orang tua pawang.

    Dalam beberapa kasus, model pendidikan ini malah berdampak terbalik. Alih-alih mencetak pribadi yang baik dan hormat, malah melahirkan jiwa yang memberontak ketika ada kesempatan. Ia kelak akan mengharap orang lain bersikap penurut padanya dengan cara apapun. Berjiwa preman.

    Ketiga, Pendidik yang positif.

    Pendidik yang positif sangat tergantung pada kemampuannya membangun hubungan yang positif. Baik dengan pasangan, maupun dengan anak. Dalam konteks lingkungan sekolah, hubungan ini berlaku antarsivitas akademika.

    Membangun hubungan positif sangat tergantung pada pandangan yang positif. Pandangan positif inilah yang mempengaruhi bagaimana orang tua atau pendidik melihat obyek didik. Anak dan peserta didik.

    Salah satu cara membangun hubungan yang positif adalah dengan membangun budaya saling menasihati. Budaya ini penting dibangun dalam pola parenting kita. Terhadap pasangan, juga anak.

    Salah satu indikator parenting positif juga ketika kita tidak bersikap gila hormat. Misal, seorang suami dari istrinya. Orangtua dari anaknya.

    Baca Juga: Pendaftaran PG TAUD Angkatan XV

    Dalam konteks pendidikan di sekolah, sikap tidak positif adalah ketika seorang dosen atau musyrif merasa berhak mendapat penghormatan yang berlebihan.

    Padahal, ketimbang mengharapkan hormat, seorang guru harus kebih mengingat untuk harus selalu mencurahkan perhàtian dan kasih sayang terhadap peserta didiknya. Demikian juga dalam konteks berkeluarga.

    Ciri pendidikan positif berikutnya adalah ketika seorang pendidik atau orang tua lebih fokus pada penguatan pribadi dan karakter.

    Dibanding mendidik anak penurut tapi rapuh jiwanya, pendidik positif akan membangun kepercayaan terhadap anak atau peserta didiknya sehingga terbangun jiwa yang kuat.

    Pendidik positif akan melatih anak atau peserta didiknya untuk bertanggungjawab terhadap sesuatu. Hal ini mungkin dilakukan karena membangun kepercayaan menjadi salah satu faktor dalam membangun hubungan positif. Dengan pengalaman menanggung beban atau tanggung jawab, seorang anak atau peaerta didik bisa memiliki karakter dan jiwa dan kuat.

    4 Pondasi Parenting Positif

    Selain penjelasan 3 tipe pendidik di atas, pengasuh juga menjelaskan tentang 4 pondasi penting yang harus tegak dibangun untuk menjalankan kepengasuhan atau pendidikan yang positif.

    Pertama, membangun koneksi atau hubungan yang positif.

    Kedua, membangun kepercayaan.

    Ketiga, pengembangan karakter positif.

    Empat, perbaikan karakter negatif atau buruk.

    Dari 4 pondasi ini, hal yang paling besar adalah kemampuan membangun hubungan yang positif.

    Bayangkan, ketika hubungan yang positif ini tidak terbangun. Anak atau peserta didik curiga pada guru atau orang tuanya. Orang tua dan guru tidak percaya pada anak dan peserta didiknya. Situasi ini tentu hanya akan melahirkan lingkungan pendidikan yang buruk, baik di sekolah maupun di rumah.

    Setidaknya terdapat 8 cara yang bisa diupayakan untuk mengembangkan hubungan positif ini. Insyaallah akan dibahas oleh pengasuh di sesi kajian parenting berikutnya. (ARH)

    Editor: Al.Choer