Kategori: Quranic Parenting

  • KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. VI)

    KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. VI)

    14. Pembaca Alquran Akan Dibangkitkan Bersama Malaikat

    Hari kebangkitan merupakan sebuah keniscayaan, yang pasti akan dirasakan oleh seluruh umat manusia di muka bumi. Setelah manusia dibangkitkan dari  alam kubur, maka Allah akan mengumpulkan manusia di Padang Mahsyar untuk menunggu keputusan Allah. Pada hari tersebut, hari dimana manusia dibangkitkan sesuai amalannya, dan tiada berguna lagi harta benda bahkan ikatan persaudaraan. Hanya amal solihlah yang menemani pada hari kebangkitan yang dahsyat tersebut.

    Betapa beruntungnya, bilamana manusia dibangkitkan bersama para malaikat mulia, bersama para nabi, sahabat, dan kaum muslimin. Siapakah yang beruntung untuk dibangkitkan bersama para malaikat tersebut? Ialah sang ahlul Quran. Yang rajin membaca Alquran, mentadabburinya dan mengamalkannya. Sebagaimana dalam sebuah hadits: 

    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

    Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala”. (HR. Muslim)

    penjelasan imam muslim :

    وَأَمَّا الَّذِي يَتَتَعْتَعُ فِيهِ فَهُوَ الَّذِي يَتَرَدَّدُ فِي تِلَاوَتِهِ لِضَعْفِ حِفْظِهِ فَلَهُ أَجْرَانِ : أَجْرٌ بِالْقِرَاءَةِ ، وَأَجْرٌ بِتَتَعْتُعِهِ فِي تِلَاوَتِهِ وَمَشَقَّتِهِ .

    ‘Adapun orang yg terbata bata dalam membaca alqur’an adalah yg berulang2 dalam membacanya sebab lemahnya hafalan maka baginya dua pahala yaitu pahala membaca dan pahala kesulitan dalam membacanya.’

    Sungguh, tiada kerugian bagi sang Ahlul Quran. Bagi seseorang yang mahir, maka mendapat kemuliaan dibangkitkan bersama malaikat. Adapun bagi Sahabat Quran yang masih terbata karena kurang lancar membaca Alquran, bahkan tetap diganjar dua pahala. Bahkan bagi Shohibul Quran yang telah berazzam untuk menghafalkan Alquran, namun kemampuannya terbatas dan tetap mengisi hari harinya dengan bacaan Alquran, maka iapun akan dibangkitkan bersama para Penghafal Alquran. Demikian karena manusia akan dibangkitkan bersama yang ia cintainya.

    15. Buah Utrujah, Identitas Keharuman Pembaca Alquran

    Buah utrujah atau buah jeruk yang harum dan manis merupakan salah satu buah yang dianalogikan sebagai umat islam yang gemar membaca Alquran. Sebagaimana dalam sebuah hadits:  Dari Abu Musa Al Asy’ariy RA, Rasulullah ﷺ bersabda,

    الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ

    “Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 5059)

    Betapa indahnya analogi tersebut, buah jeruk yang harum, wangi semerbak, warnanya ranum, rasanya  manis, tentu membuat semua orang ingin mencicipinya. Buah jeruk mengandung banyak manfaat. Bukan hanya daging buahnya namun juga kulit dan bijinya.

    Sebagaimana dilansir dalam sebuah artikel kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, buah jeruk dikenal sebagai buah yang rendah kalori, mengandung banyak air, tinggi serat, dan vitamin C.  Beberapa manfaat buah jeruk yang baik untuk tubuh, di antaranya yaitu;  buah jeruk  mengandung senyawa flavonoid hesperitin dan  naringenin yang dapat mengurangi risiko kanker. Kandungan citric acid and citrates, juga telah terbukti mencegah pembentukan batu ginjal. Komponen antiinflamasi dan antioksidan dari jeruk dapat membantu mencegah penuaan kulit dengan melawan radikal bebas, membantu menurunkan berat badan, menjaga kesehatan jantung, mencegah anemia, mencegah stroke, menurunkan tekanan darah, mencegah kerusakan kulit, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menjaga kesehatan mata dls. [1]

    Bukan hanya buahnya yang bermanfaat, kulit jeruk juga mengandung nutrisi yang tinggi  yakni serat, vitamin, dan mineral. Seratus gram kulit jeruk mengandung 11 gram serat, sementara satu sendok makan kulit jeruk mengandung vitamin C dengan jumlah 3 kali lipat dari daging buahnya.

    Maka mengkonsumsi kulit jeruk bisa meningatkan kesehatan jantung. Polifenol yang terkadung di dalam kulit jeruk bisa menurunkan berbagai penyakit. Adapun kandungan senyawa antibakteri serta mineral yang berupa fosfor dan kalsium dalam kulit jeruk, bisa membantu mencegah pembentukan gigi berlubang dan membantu menjaga kesehatan tulang.[2] Cara mengkonsumsi kulit jeruk yaitu dengan mengeringkannya dan menyeduhnya menggunakan air panas.

     Masya Allah, sedemikian kayanya manfaat dari buah jeruk. Sangatlah pantas jika mukmin yang rajin membaca dan mengamalkan Alquran dipermisalkan seperti buah jeruk, karena seorang mukmin itu jiwanya bagus, qalbunya juga baik, dan ia bisa memberikan kebaikan kepada orang lain. Duduk bersamanya terdapat kebaikan. Maka seorang mukmin yang rajin membaca Alquran adalah baik seluruhnya, baik pada dzatnya dan baik untuk orang lain.

    Adapun seorang mukmin yang tidak membaca Alquran adalah seperti buah kurma. Rasanya enak namun tidak memiliki aroma yang wangi dan harum. Jadi seorang mukmin yang rajin membaca Alquran jauh lebih utama dibanding yang tidak membaca Alquran. Tidak membaca Alquran artinya tidak mengerti bagaimana membaca Alquran, dan tidak pula berupaya untuk mempelajarinya.

    Perumpamaan seorang munafiq, namun ia rajin membaca Alquran adalah seperti buah Raihanah : aromanya wangi namun rasanya pahit. Karena orang munafiq itu pada dzatnya jelek, tidak ada kebaikan padanya. Munafiq adalah : orang yang menampakkan dirinya sebagai muslim namun hatinya kafir.   Kaum munafiq inilah yang Allah nyatakan dalam firman-Nya :

    Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” [Al-Baqarah : 8 – 10]

    Didapati orang-orang munafiq yang mampu membaca Alquran dengan bacaan yang bagus dan tartil. Namun mereka hakekatnya adalah para munafiq yang kondisi mereka ketika membaca Alquran adalah seperti yang digambarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ :

    يقرؤون القرآن لا يتجاوز حناجرهم

    “Mereka rajin membaca Alquran, namun bacaan Alquran mereka tidak melewati kerongkongan mereka.”

    Maka Nabi ﷺ mengumpamakan mereka dengan buah Raihanah, yang harum aromanya, karena mereka terlihat rajin membaca Alquran; namun buah tersebut pahit rasanya, karena jelek dan jahatnya jiwa mereka serta rusaknya niat mereka.

    Adapun orang munafiq yang tidak rajin membaca Alquran, maka diumpamakan oleh Rasulullah ﷺ seperti buah Hanzhalah, rasanya pahit dan tidak memiliki aroma wangi. Inilah munafiq yang tidak memiliki kebaikan sama sekali. Tidak memiliki aroma wangi, karena memang ia tidak bisa membaca Alquran, selain itu, dzat dan jiwanya juga dzat dan jiwa yang jelek dan jahat. Demikian jenis dan tipe manusia terkait dengan Alquran. Semoga Allah masukkan kita ke dalam golongan mukmin yang sekaligus ahlul Quran. Aamiin (Selesai)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    *Penulis skrip dan editor Tanti Ummu Fahdlan


    [1] Arnarson, Atli, PhD. 2019. Oranges 101: Nutrition Facts and Health Benefits. https://www.healthline.com/nutrition/foods/oranges#plant-compounds. (Diakses pada 24 Januari 2020).

    [2] Diah Ayu, hellosehat.com, ditinjau oleh dr.Patricia Lukas Goentoro

  • KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. V)

    KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. V)

    12. Allah Menyebut Namanya di Hadapan Para Malaikat Mulia

    Popularitas hakiki bukanlah kepopuleran dan masyhurnya nama seseorang dihadapan mahluk. Sebagaimana popularitasnya artis yang dipuja-puji oleh jutaan penggemarnya. Popularitas sejati bagi hamba yang mukmin adalah ketika ia diridloi oleh Allah dan namanya dikenal oleh Penghuni Langit karena ketakwaan dan keimanannya.

    Salah satu karunia yang Allah berikan kepada pembaca Alquran maka namanya akan disebut-sebut oleh Allah. Kebahagian manakah yang pantas dibanggakan melebihi kebahagiaan dari dikenalnya kita, disebutnya kita oleh Allah?

    Abu Hurairah RA dalam Shahih Muslim, Rasululllah ﷺ bersabda:

     “وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ، فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ، إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ.”

     “Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah (masjid), sedang mereka membaca kitab Allah (al-Qur-an) dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali akan turun ketenangan atas mereka, dan mereka diliputi rahmat Allah, serta para Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyebut-nyebut (membanggakan) mereka pada (para Malaikat) yang ada di dekat-Nya.”

    Disebutnya nama kita di majelis Kekasih kita merupakan nikmat yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Dalam analogi sederhana, jika kita disanjung didepan tokoh ternama, maka kit akan merasa senang. Bagaimana jika yang menyanjung itu Allah dan disanjung di hadapan makhluk mulia, yaitu malakait yang tak pernah maksiat?

    Dari Abu Hurairah RA, Nabi ﷺ bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

    أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِى فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ خَيْرٍ مِنْهُ

    “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku. Aku bersamanya kala ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, maka aku akan menyebut-nyebutnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu.” (HR. Muslim, no. 2675)

    Tak inginkah kita mendapatkan ketenangan jiwa dan keutamaan seperti dikemukakan dalam hadits di atas. Maka marilah memperbanyak majelis kita dengan bacaan Alquran, dengan memperbanyak dzikrullah, agar kita selalu diingat oleh Rabb Pencipta kita.

    13. Allah Bebaskan Para Pembaca Alquran Dari  Golongan Orang Lalai

    Sesungguhnya di antara sebab yang bisa mendatangkan kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah membaca Alquran dengan khusyu’ dan berusaha memahaminya. Sehingga tidak mengherankan, apabila kedekatan dengan Alquran merupakan perwujudan ibadah yang bisa mendatangkan cinta Allah.

    Rasulullah menganjurkan umatnya untuk selalu membaca Alquran. Jika bisa khatam membacaAlquran dalam beberapa hari, maka itu lebih baik. Namun jika tidak, maka minimal, usahakanlah untuk membaca ayat Alquran, minimal 10 ayat setiap malam. Karena dengan demikian, maka akan terbebaskan dari  golongan orang yang lalai Sebagaimana sebuah hadits;

    “Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

    مَن قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ فِي لَيلَةٍ لَم يُكتَبْ مِنَ الغَافِلِينَ

    “Barangsiapa membaca sepuluh ayat pada malam hari, maka dia tidak termasuk orang-orang yang lalai.” (HR.Hakim).[1]

    Dari hadits tersebut, terdapat sebuah pertanyaan; Pembacaan sepuluh ayat tersebut apakah dikhususkan hanya pada waktu shalat atau waktu malam di luar shalat?

    Keduanya terdapat dalil yang menjelaskan.

    Penjelasan pertama dikuatkan oleh riwayat Abu Dawud, 1398 dari Abdullah bin Amr bin Ash RA berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

    مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنْ الْغَافِلِينَ ، وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْقَانِتِينَ ، وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْمُقَنْطِرِينَ

    “Barangsiapa yang menunaikan (membaca) sepuluh ayat, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang lalai. Dan barangsiapa yang menunaikan seratus ayat, maka dia termasuk qhanitin (ahli ibadah). Barangsiapa menunaikan seribu ayat, maka dia termasuk golongan orang Muqanthirin (berharta sangat banyak).”[2]

    Dalam kitab Aunul Ma’bud dikatakan, “Maksudnya di sini adalah qiyamul lail. Oleh karena itu diriwayatkan oleh Ibnu Hibban hadits tadi dalam bab qiyamul lail dalam shahihya, 4/120 dan dibuat judul ‘Dzikru Nafi Goflah Amman Qama al-Lailah Bi’asyri Ayat’ (Dzikir yang dapat meniadakan kelalaian bagi orang yang menunaikan qiyamul lail dengan sepuluh ayat).

    Muqanthirin yang dimaksud disini adalah orang yang mendapat limpahan pahala yang sangat banyak. Sedangkan satu qinthar saja, dalam sebuah hadist disebutkan bahwa ia lebih baik dari dunia dan seisinya. Bagaimana dengan jika Allah masukkan kedalam golongan Muqanthirin? Maka tentu kebaikannya sangat berlipat ganda melebihi dunia seisinya.

    Dikuatkan juga dengan hadits Abu Hurairah RA dengan teks, “Barangsiapa yang shalat waktu malam dengan seratus ayat, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai. Barangsiapa yang shalat waktu malam dengan dua ratus ayat, maka dia termasuk golongan orang-orang qanithin mukhlisin.” (HR. Hakim).[3]  

    Dalam riwayat Ibnu Huzaimah, 2/180:

    من حافظ على هؤلاء الصلوات المكتوبات لم يكتب من الغافلين ، ومن قرأ في ليلة مائة آية لم يكتب من الغافلين أو لم يكتب من القانتين ..  (قال الألباني في الصحيحة، رقم 643 ، إسناده صحيح على شرط الشيخين)

    “Barangsiapa menjaga shalat wajib, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai. Barangsiapa membaca di waktu malam hari seratus ayat, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai atau termasuk orang-orang qanithin (orang-orang yang bertaqwa).”[4]

    Penggabungan bacaan dengan menyebutkan shalat wajib, mengisyaratkan bahwa yang dimaksud adalah bacaan dalam shalat, yakni shalat lail. Oleh karena itu Ibnu Khuzaimah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah dalam bab “Bab Dzikru Fadhilatus Qira’ah Miah Ayat Fi Shalatil Lail Idz Qori Miah Ayah Fi Lailah La Yuktab Minal Ghofilin (Bab menyebutkan keutamaan bacaan seratus ayat dalam shalat lail ketika membaca seratus ayat waktu malam maka dia tidak termasuk orang-orang yang lalai). Diriwayatkan juga Muhammad bin Nasr Al-Marwazi dalam kitabnya qiyamul lail (164 dengan ringkasan). Dalam bab yang terkait dengan bacaan dalam shalat malam.

    Selain penjelasan tentang bacaan di dalam shalat, ada juga penjelasan yang menerangkan tentang keumuman bacaan Alquran di waktu malam di luar shalat. Baik itu waktu sebelum tidur maupun saat bangun malam.  

    Keumuman makna tersebut, sebagaimana yang dipahami oleh mayoritas  ulama dalam menghukumi hadits tersebut  pada karangan mereka. Misalnya, Sunan Darimi rahimahullah yang telah membuatnya dalam bab 2/54 dengan mengatakan, ‘Bab Fadlu Man Qara Asyra Ayat (Bab keutamaan bagi orang yang membaca sepuluh ayat).’

    Sementara Hakim membuatnya dalam Kitab Mustadraknya, 1738 dengan mengatakan ‘Akhbar Fi Fadhoil Al-Qur’an Jumlatan (Riwayat-riwayat terkait dengan keutamaan Al-Qur’an secara umum). Sebagaimana Al-Munziri membuat bab dalam kitabnya At-Targib Wat Tarhib, 2/76 dengan mengatakan, ‘At-Targib Fi Qiroatil Qur’an Fi Shalah wa Ghoiriha Wa Fadli Ta’allumihi Wa Ta’limihi (Anjuran membaca Al-Qur’an dalam shalat dan lainnya dan keutamaan mempelajari dan mengajarkannya).

    Kemudian dicantumkan juga di bawah bab, 2/116 ‘At-Targib Fi Adzkar Tuqolu Billaili Ghoir Mukhtassoh Bissobah Wal Masa’ (Anjuran zikir yang dibaca waktu malam dan siang yang tidak khusus waktu pagi dan petang hari).

    An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam kitab Al-Adzkar, 1/255: “Ketahuilah bahwa bacaan Al-Qur’an merupakan zikir yang utama, maka hendaknya dibiasakan. Jangan sampai terlewatkan dalam sehari semalam (tanpa membacanya). Hal tersebut dapat teraih dengan sekedar  membaca ayat meskipun sedikit. Kemudian beliau menyebutkan beberapa hadits di antaranya hadits Abu Hurairah tadi.”

    Maka diharapkan, bagi orang yang membaca sepuluh ayat pada malam hari tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai. Baik dia baca dalam shalat malamnya atau di luar shalat. Masya Allah, betapa sangat luasnya kasih sayang Allah yang melimpahkan pahala tak terhingga bagi hambaNya yang dekat dengan Alquran.

    (Bersambung Bag. VI)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    *Penulis skrip dan editor Tanti Ummu Fahdlan


    [1] HR. Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, 1/742, dia mengatakan, “Hadits ini shahih dengan syarat Muslim akan tetapi tidak dikeluarkan olehnya.” Dishahihkan oleh Al-Alabny dalam Shahih At-Targhib, 2/81

    [2] (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud, no. 1264)

    [3] HR.Hakim, 1/452 dishahihkan dengan syarat Muslim. Akan tetapi Al-Albany cenderung melemahkannya sebagaimana dalam Silsilah Ash-Shahihah, 2/243 dan Dhaif At-Targhib, 1/190.

    [4] Al-Albany mengatakan dalam Shahihnya, no. 643 sanadnya shahih dengan syarat Syeikhain

  • KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. IV)

    KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. IV)

    9. Bacaan Alquran Mampu Memberikan Ketenangan

    Manusia tidak pernah lepas dari berbagai ujian hidup, persoalan dan permasalahan. Pada saat futur, manusia sering kali merasakan beban hidup yang terlampau berat sehingga menimbulkan kekhawatiran, kecemasan, ketakutan dan ketidaktenangan. Bahkan banyak juga yang terjerumus kedalam kemaksiatan, karena salah tindakan dalam mencari solusi. Sebagian ada yang menggunakan obat-obatan terlarang untuk menghilangkan berbagai tekanan. Ada juga yang memilih ke club-club musik untuk mencari hiburan.

    Kenapakah tidak kita sadari. Bahwa Allah sebenarnya telah menurunkan sumber ketenangan untuk berbagai masalah. Allah telah memberikan juga obat dari segala macam penyakit. Juga sumber ketentraman dari berbagai kecemasan dan ketakutan. Ialah Alquran, Kalamullah, yang memberikan ketenangan jiwa bagi hambaNya yang membacanya, mentadaburinya dan mengamalkannya.

    Oleh karena itu, ketenangan dan kedamaian jiwa sangat diperlukan dalam kehidupan, apalagi kehidupan sekarang yang terasa kian berat. Dengan jiwa yang tenang kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.

    Untuk bisa menggapai ketenangan jiwa, secara tersurat, Al-Qur’an menyebutkan beberapa kiat praktis, yaitu: Dzikrullah; yakin akan pertolongan Allah; memperhatikan bukti kekuasaan Allah; bersyukur; dan membaca Al-Quran.

    Sebagaimana termaktub dalam Alquran Surat Ar-Ra’d Ayat 28, Allah ﷻ berfirman:

     ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

     “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.

    Tafsir Almuyasar menjelaskan, Orang-orang yang beriman adalah mereka yang diberi petunjuk oleh Allah dan yang bertaubat kepada-Nya. Hati mereka  menjadi tenang dan tentram dengan berzikir kepada Allah dengan lisan mereka, seperti membaca Alquran, bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil, atau dengan mendengarkan zikir tersebut dari orang lain. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, mentahuhidkanNya, membuat hati menjadi tenteram.  Meskipun mentafakkuri makhluk-makhluk Allah, ciptaan-ciptaan, dan mukjizat-mukjizat-Nya secara umum juga bisa menjadikan hati tentram, namun hasilnya tidak seperti ketentraman dengan berzikir kepada Allah.

    10. Membaca Alquran Mendatangkan Rahmat dan Kasih Sayang Allah

    Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Secara bahasa, setiap kata di dalam bahasa Arab,  yang berakar dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm memiliki arti dasar ‘kelembutan, kehalusan dan kasih sayang’.[1]

    Pada dasarnya rahmat (kasih sayang) itu berasal dari Tuhan Maha Pengasih Penyayang (al-Rahmân al-Rahim). Allahﷻ adalah sumber rahmat (kasih sayang) yang tersebar di alam semesta ini. Allah ﷻ mewajibkan bagi diri-Nya sendiri memiliki sifat rahmat (kasih sayang).  Hal tersebut tertuang dalam  QS al-Anʻam [6]: 12. Yang artinya : “Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bum’. Katakanlah: ‘Kepunyaan Allah’. Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.”

    Betapa Maha Kasih Sayangnya Allah, sehingga dalam sebuah hadits juga dijelaskan bahwa Allah menciptakan 100 rahmat dan hanya 1 yang disebar bagi seluruh makhlukNya. satu rahmat itu disebar di muka bumi sehingga cukup bagi seorang ibu menyayangi anaknya dan semua makhluk baik manusia, burung, semua jenis hewan dan jin dapat mengasihi satu sama lain. Lalu 99 rahmat sengaja ditahan oleh Allah swt untuk memberi rahmat bagi seluruh hamba-Nya pada hari kiamat.       

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    إن لله مائة رحمة أنزل منها رحمة واحدة بين الجن والإنس والبهائم والهوام، فيها يتعاطفون، وبها يتراحمون، وبها تعطف الوحش على ولدها، وأخر الله تسعا وتسعين رحمة يرحم بها عباده يوم القيامة

    “Sesungguhnya Allah memiliki 100 rahmat. Salah satu di antaranya diturunkannya kepada kaum jin, manusia, hewan, dan tetumbuhan. Dengan rahmat itulah mereka saling berbelas kasih dan menyayangi. Dengannya pula binatang liar mengasihi anaknya. Dan Allah mengakhirkan 99 rahmat untuk Dia curahkan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat.” (Muttafaq ‘alaih)[2]

    Salah satu cara untuk mendatangkan rahmat dari Allah tersebut adalah dengan membaca kitabullah. Allah ﷻ berfirman:

    وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ مُبَارَكٌ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

    “Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (QS. Al-An’am : 155)

    Tafsir Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah menjelaskan bahwa Alquran memiliki banyak keberkahan, karena ia mengandung berbagai manfaat keduniaan dan keagamaan. Maka bertakwalah yaitu  jauhkanlah diri kalian dari menyelisihinya dan mendustakan isinya. Dimana kalian menerimanya dan tidak menyelisihinya semoga kalian mendapatkan rahmat Allah.[3]

    Maka salah satu cara untuk mendapatkan rammat Allah adalah dengan menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup yaitu melalui tahapan membacanya, mentadaburinya, menghafalkan dan mengamalkannya.

    11. Malaikat pun Turut Mendoakan Sang Pembaca Alquran

    Salah satu ibadah yang utama adalah membaca Alquran. Dalam bab sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa malaikatpun menjelma menjadi awan yang berhimpun dan membentuk seperti cahaya lampu-lampu dikarenakan mendengarkan bacaan Alquran dari Sahabat  Usaid bin Khudhair.

    Hal tersebut merupakan bagian dari keagungan bacaan Alquran, sehingga malaikatpun senang mendengarkan bacaan Alquran dan tentunya turut berdoa bagi sang pembaca Alquran. Rasulullah ﷺbersabda, “Orang yang lancar membaca Al Quran akan bersama malaikat utusan yang mulai lagi berbakti, sedangkan orang yang membaca Alquran dengan tersendat-sendat lagi berat, maka ia akan mendapat dua pahala.” (HR Muslim)

    Bacaan Alquran di dalam rumah juga mendatangkan keberkahan dikarenakan banyak malaikat yang turut berdoa dan menjaga rumah tersebut. Sebagaimana dalam sebuah hadits:

    Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ  bersabda,

     إِنَّ الْبَيْتَ لَيَتَّسِعُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ وَتَهْجُرُهُ الشَّيَاطِينُ ، وَيَكْثُرُ خَيْرُهُ أَنْ يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ ، وَإِنَّ الْبَيْتَ لَيَضِيقُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَهْجُرُهُ الْمَلَائِكَةُ ، وَتَحْضُرُهُ الشَّيَاطِينُ ، وَيَقِلُّ خَيْرُهُ أَنْ لَا يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ   

    “Sesungguhnya rumah yang dibacakan Alquran didalamnya akan menjadi luas bagi pemiliknya, malaikat mendatanginya, setan menjauhinya dan banyak kebaikannya, dan rumah akan menjadi sempit bagi pemiliknya, malaikat menjadi terhalang, setan hadir dan sedikit kebaikannya jika tidak dibacakan Alquran di dalam rumah tersebut.” (HR. Ad Darimi: 3262)

    Hadits tersebut menjadi salah satu dalil, bahwa malaikat akan turut mendatangi sang pembaca Alquran, turut mendoakannya sehingga mendatangkan banyak kebaikan dan keberkahan bagi pembaca Alquran.

    (Bersambung Bag. V)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    *Penulis skrip dan editor Tanti Ummu Fahdlan


    [1] Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah

    [2] (Muttafaq ‘alaih; dalam Shahih Bukhari no. 6104 dan Shahih Muslim no. 2725; lafal hadits ini dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

    [3] Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah 155

  • KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. III)

    KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. III)

    4. Mengangkat Derajat Orang Tua di Surga

    Alquran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ secara mutawatir (bersambung) dengan perantaraan Malaikat Jibril, dan berpahala bagi orang yang membacanya. Alquran merupakan mukjizat yang menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia. Karenanya, Allah memerintahkan untuk membacanya, mentadaburinya, menghafalkan dan mengamalkannya.

    Terhadap para Ahlul Quran ini, maka Allah menjanjikan Mahkota kemuliaan bagi kedua orang tuanya. Dalam sebuah hadits, Buraidah RA,  Nabi  ﷺbersabda,

    من قرأ القرآن وتعلَّم وعمل به أُلبس والداه يوم القيامة تاجاً من نور ضوؤه مثل ضوء الشمس ، ويكسى والداه حلتين لا تقوم لهما الدنيا فيقولان : بم كسينا هذا ؟ فيقال : بأخذ ولدكما القرآن

    Siapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim 1/756 dan dihasankan al-Abani).

    Demikianlah keutamaan Ahlul Quran, semakin ia perbanyak bacaan Alqurannya, semakin diulang-ulang bacaannya, maka bukan hanya pahala yang didapat, melainkan juga derajat yang tinggi di surga. Sang anak yang berhasil mendapatkan derajat tinggi di surga, maka dengan izin Allah bisa turut mengangkat kedua orangtuanya untuk membersamainya di surga. Demikian karena Alquran juga mempunyai keistimewaan manfaat yaitu sebagai syafaat bagi pembacanya.

    5. Menjadi Manusia terbaik

    Kedahsyatan keutamaan Alquran telah terbukti menjadikan kita sebagai manusia terbaik juga menjadi umat terbaik sepanjang zaman.

    Betapa istimewanya Alquran, sehingga malaikat yang diberikan tugas untuk menyampaikannya (Malaikat Jibril) adalah malaikat terbaik, yaitu pemimpinnya para malaikat. Nabi Muhammad ﷺ yang diberi amanah sebagai penerima wahyu Alquran, juga menjadi manusia terbaik, pemimpinnya para nabi, sekaligus sebagai penutup risalah kenabian.  Alquran yang diturunkan pada bulan Ramadhan, maka menjadikan Ramadhan sebagai bulan terbaik, bulan penuh rahmat dan ampunan. Lailatul Qodar, lantaran sebagai malam diturunkannnya Alquran, maka  menjadikannya sebagai malam terbaik, bahkan lebih baik dari seribu bulan, dimana para malaikat dan Jibril turun ke bumi untuk membawa segala urusan yang penuh hikmah.

    Setiap orang tentu mendambakan menjadi yang terbaik. Salah satu cara menjadi manusia terbaik adalah dengan menjadi ahlul Quran. Membaca Alquran merupakan salah satu aktifitas yang mengantarkan kita menjadi manusia terbaik. Sebagaimana dalam sebuah hadits: Dari Utsman RA, Rasulullah ﷺbersabda:

    (خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ  (رواه البخاري والترمذي

    “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR.Bukhari dan Tirmidzi). [1]

    Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa belajar dan mengajarkan Alquran merupakan ciri  orang-orang mukmin yang mengikuti dan meneladani para Rasul. Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain. Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain.[2] Adapun salah satu upaya mempelajari Alquran, tak lain adalah dengan membaca Alquran. Baik itu membaca untuk diri sendiri maupun untuk diperdengarkan kepada yang lain.

    Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺjuga meminta sahabat Ibnu Mas’ud untuk membacakan Alquran. Rasulullah ﷺ bersabda: “Bacakanlah Alquran kepadaku.” Aku pun berkata, “Aku membacakannya untuk Anda, padahal kepada Andalah ia diturunkan?” beliau bersabda: “Sesungguhnya aku suka mendengarnya dari orang lain.” Akhirnya aku pun membacakan surat An-Nisa` dan ketika sampai pada ayat: “Dan bagaimanakah sekiranya Kami mendatangkan manusia dari seluruh umat dengan seorang saksi, lalu kami mendatangkanmu sebagai saksi atas mereka.” Maka beliau pun bersabda padaku: “Cukuplah.” Lalu aku pun melihat kedua mata beliau meneteskan air. (Hadits Bukhari:  4667)

    Hikmah yang bisa diambil dari hadits tsersebut adalah, sunat hukumnya ketika membaca Alquran untuk diperdengarkan kepada orang lain. Sehingga sang pendengar juga bisa mentadaburi Alquran. Pantaslah jika Alquran menjadi wasilah untuk menjadi sebaik-baik manusia. Karena bagi pembaca, pendengar, pengajar maupun yang mengamalkan Alquran, masing-masing mendapatkan keistimewaan disisi Allah.

    6. Alquran Menjadi Syafaat Pada Hari Kiamat

    Syafaat Alquran pada hari kiamat ialah nyata dan tidak terbantahkan. Namun, untuk mendapatkan syafaat Alquran, tentunya seseorang harus memiliki hati yang terikat kuat dan menjadikan Alquran sebagai bacaan utama dan berpegang teguh pada kandungan isinya.

    Dalam sebuah hadits:

    Abu Umamah al-Bahili RA berkata,  Rasulullah ﷺ bersabda :

    (اقْرَءُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ (رواه مسلم

     “Bacalah Alquran, maka sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat memberi syafaat kepada pembacanya.” (HR.Muslim).

    Hadits ini memerintahkan kita agar menjadikan Alquran sebagai bacaan utama harian kita. Kelak Alquranlah yang akan menjadi sahabat di akhirat sebagaimana kedekatan interakisnya dengan Alquran selama di dunia. Jika kita menjaga kelestarian Alquran dengan membaca dan berpegang teguh pada isi kandungannya, niscaya  Alquran akan menjaga kita dengan memberikan syafaat/pertolongan di akhirat kelak.

    Kalimat “Bacalah Alquran” dapat dipahami perintah membaca secara tekstual maupun perintah untuk mentadabburi isi kandungannya. Mayoritas ulama memahami perintah ini dengan membaca secara tekstual secara istiqamah setiap hari berdasarkan hadis-hadis tentang keutamaan membaca Alquran. Salah satunya sabda Rasulullah ﷺ dari Anas bin Malik RA,

    “Barangsiapa yang membaca Alquran siang atau malam 50 ayat niscaya tidak tergolong orang-orang yang melalaikan (Alquran), dan barangsiapa yang membaca Alquran 100 ayat niscaya tergolong orang yang taat, dan barangsiapa yang membaca Alquran 200 ayat niscaya Alquran tidak akan menghujatnya pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Sinni)

    Kalimat “memberi syafaat kepada pembacanya” menunjukkan kehadiran Alquran pada hari kiamat sebagai sahabat sejati pembacanya dengan tampil sebagai pemberi syafaat. Pada hari itu, Alquran akan tampil mengawal sahabatnya meniti jalan menuju surga.

    7. Allah Tinggikan Derajat Seseorang Melalui Alquran

    Salah satu keutamaan dan kemuliaan bagi Ahlul Quran yang senantiasa membaca Alquran, mengkaji dan mengamalakannya adalah akan ditinggikan derajatnya oleh Allah ﷻ. Allah akan memberikan balasan surga dengan kenikmatan  dan keindahan tiada batas. Sebaliknya, barangsiapa yang tidak mengamalkan Al-Qur’an, berpaling dari Alquran dan tidak berhukum dengannya, niscaya Allah ﷻ akan menghinakannya.

    Sebagaimana sebuah hadits  yang diriwayatkan dari Umar bin Khatab RA, bahwa Rasulullah ﷺbersabda.

    اَنّ اللّٰهَ يَرْ فَعُ بِهَذَ الْكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ

    “Sesungguhnya Allah ﷻ mengangkat derajat beberapa kaum dengan Alquran ini dan merendahkan  yang lain dengannya pula.” hadits riwayat Muslim.

    Maknanya, sesungguhnya Allah Ta’ala mengangkat derajat suatu kaum melalui Alquran, yakni dengan mengimaninya, mengagungkannya serta mengamalkannya dengan ikhlas.  Allah Ta’ala menjadikan mereka mulia dan terhormat baik di dunia maupun akhirat. Dan Allah merendahkan serta menghinakan yang lain dengan Alquran, yakni mereka yang tidak mengimaninya, atau beriman serta tidak mengamalkannya secara ikhlas.[3]

    8. Alquran Menguatkan Keimanan

    Bacaan Alquran merupakan dzikir yang agung. Semakin diulang maka semakin memperkuat keimanan. Semakin diulang tilawahnya maka semakin meningkatkan kenikmatan. Oleh karenanya, para Sahabat Rasul terdahulu, mereka sering saling memanggil untuk memperbarui keimaan mereka melalui nasehat, dzikrullah dan bacaaan Alquran, sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits,   Mu’adz berkata:

    اِجْلِسْ بِنَا نُؤْمِنُ سَاعَةً

    “Duduklah dengan kami, kita beriman (memperbaharui dan menguatkan keimanan) sesaat.” (HR. al-Bukhari)[4]

    Para Sahabat Rasul jika bertemu kawannya di jalan, maka saling memanggil, untuk saling memperbarui keimanan. Kemudian mereka membaca QS Al Ashr.

    1. وَٱلْعَصْرِ
      • (Demi masa)
    2. إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ
      • (Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian)
    3. إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
      • (Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan kesabaran.)

    (Bersambung Bag. IV)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    *Penulis skrip dan editor Tanti Ummu Fahdlan

    _________

    [1] Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (hadis no. 4639), Abu Dawud (hadis no. 1240), al-Tirmizi (hadis no. 2832), dan Ibn Majah (hadis no. 207)

    [2] Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadhail Quran halaman 126-127

    [3] Faidh Al Qadir, 2/302

    [4] (HR. al-Bukhari “Kitabul Iman”, secara mu’allaq (tanpa sanad), disambungkan sanadnya oleh Ibnu Abi Syaibah (30363), dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Kitabul Iman Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam (20))


  • KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. II)

    KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. II)

    1. Pahala 10 Kebaikan Pada Setiap Huruf Alquran

    Betapa besarnya pahala ketika membaca Alquran. Bahkan setiap huruf dalam Alquran, bisa mendatangkan pahala hingga 10 kebaikan. Sebagaimana dalam sebuah hadits:

    عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

    “Abdullah bin Mas’ud RA berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Alquran, maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)[1]

    Ketika kita membaca surat terpendek dalam Alquran yaitu QS.Alkautsar yang terdiri dari 3 ayat, dimana surat tersebut mengandung 42 huruf, maka bisa mendatangkan pahala 420 kebaikan, bagaimana halnya dengan membaca surat lain yang lebih panjang?

    Imam Syafii dalam sebuah kitabnya menyampaikan bahwa total semua huruf dalam Alquran sebanyak 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu). Jumlah ini sudah termasuk jumlah huruf ayat yang di-nasakh.[2] Bayangkan jika kita menghatamkan Alquran, maka bisa mencapai 10 juta kebaikan yang didapatkan.

    Dalam analogi sederhana, jika kita diminta membaca ayat Alquran oleh seorang Juri Lomba, dimana satu hurufnya akan diberi hadiah senilai 10 $, maka kita akan berlomba dan berlama-lama membacanya. Demikian karena hanya dengan duduk saja, membaca satu halaman Alquran yang terdiri dari 600 huruf, maka sudah bisa mengantongi 6.000$ atau setara dengan 87 juta rupiah.  

    Siapakah yang tidak tergiur dengan hadiah tunai sebesar itu? Adapun derajat kebaikan yang Allah siapkan disisiNya, sesungguhnya lebih mulia, lebih agung daripada nominal duniawi. Dimana surga yang Allah siapkan, saking indahnya, bahkan belum pernah ada di lintasan imaginasi manusia. Apakah hadiah yang sedemikian agungnya tidak lebih layak untuk diraih? Hadiah pahala dari Allah ﷻ yang membawa keberkahan bukan saja di dunia, namun juga di akhirat.

    2. Paling Berhak Menjadi Imam

    Salah satu kemuliaan bagi seseorang yang bagus bacaan Alqurannya adalah haknya untuk menjadi Imam. Meskipun usianya lebih muda, namun jika bacaaan Alqurannya bagus, tartil, dan lebih banyak hafalan Alqurannya, maka ia berhak menjadi imam. Ia berhak mengimami makmum yang lebih tua usianya baik dalam shalat sunnah maupun shalat fardhu.

    Sebagaimana sebuah hadits: Nabi ﷺ bersabda,

    يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ وَأَقْدَمُهُمْ قِرَاءَةً فَإِنْ كَانَتْ قِرَاءَتُهُمْ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِى الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَكْبَرُهُمْ سِنًّا وَلاَ تَؤُمَّنَّ الرَّجُلَ فِى أَهْلِهِ وَلاَ فِى سُلْطَانِهِ وَلاَ تَجْلِسْ عَلَى تَكْرِمَتِهِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ أَنْ يَأْذَنَ لَكَ أَوْ بِإِذْنِهِ

    “Yang menjadi imam adalah yang paling banyak hafalan Alqurannya dan paling sempurna bacaannya. Jika bacaan Alqurannya sama, maka yang berhak menjadi imam adalah yang paling duluan berhijrah. Jika hijrahnya sama, maka yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling tua usianya. Dan janganlah seseorang mengimami di wilayah orang lain, kecuali dengan izinnya.” (HR. Muslim 1566 & Abu Daud 582).

    Anak usia dini, yang sudah mumayyiz (mampu membedakan yang baik dan buruk) meskipun belum berusia dewasa, jika memiliki bacaan Alquran yang paling bagus,  maka diperbolehkan juga untuk menjadi Imam.

    Dalam sebuah hadits, yang diriwayatkan oleh ‘Amr bin Salamah,

    عن عمرو بن سلمة-رضي الله عنه-أن النَّبيَّ-صلى الله عليه وسلم-,قال لأبيه: (و ليؤمكم أكثركم قرآناً) فنظروا فلم يكن أحد أكثر قرآناً مني؛ لما كنت أتلقى من الركبان، فقدموني بين أيديهم، وأنا ابن ست سنين أو سبع سنين

    Dari ‘Amr bin Salamah RA, bahwasanya Nabi ﷺ berkata kepada ayah ‘Amar: “dan hendaknya yang mengimami kalian adalah yang paling banyak (bacaan) Alqurannya !” Kemudian para sahabat saling berpandangan dan mereka tidak melihat seorangpun yang paling banyak bacaan Alquran-nya kecuali saya. Ketika saya turun dari tunggangan, mereka pun mendorong saya menjadi Imam mereka dan usia saya waktu itu 6 atau 7  tahun.“[3] (Shahih Bukhari).

    Pelajaran dari  Hadits tersebut adalah, diperbolehkannya anak kecil menjadi imam dalam shalat wajib dan sunnah. Pendapat tersebut merupakan pendapat Ulama Syafi’iyah dan riwayat dari Imam Ahmad. Anak kecil tersebut, dipilih menjadi imam apabila ia paling pandai di dalam membaca Alquran.

    Kedua hadits tersebut, juga menjadi bukti, bahwa kemuliaan derajat seseorang juga ditentukan melalui Alquran. Kita bisa melihat pada masa kekhalifahan. Pasca rasulullah wafat, yang diminta untuk menjadi imam adalah Abu Bakar ra. Sahabat Nabi tersebut sangat bagus pemahamannya terhadap Alquran. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ketika Rasulullah ﷺ sakit keras, ada seseorang yang menanyakan imam shalat kemudian beliau bersabda,

    مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ

    “Perintahkan pada Abu Bakar agar ia mengimami shalat.” ‘Aisyah lantas berkata,

    إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ ، إِذَا قَرَأَ غَلَبَهُ الْبُكَاءُ

    “Sesungguhnya Abu Bakr itu orang yang sangat lembut hatinya. Apabila ia membaca Alquran, ia tidak dapat menahan tangisnya.” Namun beliau bersabda, “Tetap perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 713 dan Muslim no. 418)

    Demikianlah, kualitas iman Abu Bakar sangat terlihat, terutama saat shalat, dimana beliau seringkali menitikkan air mata saat membaca ayat ayat Alquran. Selain Abu Bakar, mari kita lihat sekilas profil khalifah sesudahnya, yaitu Umar bin Khatab ra. Sahabat yang bergelar Alfaruq ini juga didaulat menjadi imam pasca wafatnya Abu Bakar ra. Bahkan Umar ra pun wafat lantaran ditikam oleh seorang yahudi pada saat menjadi imam shalat subuh. Luka tikaman itulah yang menjadi sebab syahidnya Umar ra. Jika kita mengamati para imam tersebut, ternyata mereka terpilih  menjadi pemimpin umat juga.

    فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ  Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan? Sungguh betapa besar karunia dan nikmat yang telah Allah anugerahkan untuk kita. Ketika Allah menunjukkan kita untuk menekuni perkara terbaik yaitu menjadi pendakwah Alquran, penjaga Alquran maka itulah jalan yang bisa memuliakan kita di dunia dan akhirat. Adapun mayoritas pekerjaan  yang telah Allah karuniakan kepada kita, untuk dekat kepada Alquran, maka itulah jalan kemuliaan kita.

    3. Kesempatan Meraih Surga Tertinggi

    Surga merupakan balasan yang diberikan Allah ﷻ kepada  hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Surga memiliki beberapa tingkatan. Salah satu hadiah istimewa dari Allah bagi para Ahlul Quran adalah derajat tingkatan Syrga yang tinggi dengan bacaan Alqurannya.

    Sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

                يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

    “Dikatakan kepada orang yang membaca Alquran nanti : ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud no. 1464 dan Tirmidzi no. 2914.)

    Imam al-Khathabi rahimahullah menjelaskan bahwa terdapat dalam atsar dimana jumlah ayat Alquran menentukan ukuran tangga surganya. Disampaikan kepada para penghafal Alquran, ‘Naiklah ke tangga sesuai dengan yang kamu baca dari Alquran. Barangsiapa yang menyempurnakan bacaan seluruh Alquran maka ia mendapatkan tangga surga tertinggi dan siapa yang membaca satu juz darinya maka akan naik ke tangga sesuai ukuran tersebut. Sehingga ujungnya pahala berada pada ujungnya bacaannya’.[4]

    Subhanallah demikianlah busyra (kabar gembira) dari Allah kepada para pembaca Alquran. Adapun para pengafal Alquran tentu mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk meraih surga tertinggi karena tidaklah seseorang bisa menghafal Alquran kecuali setelah ia mengulang-ulang bacaannya.

    (Bersambung Bag. III)

    _________

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    *Penulis skrip dan editor Tanti Ummu Fahdlan


    [1] Dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469

    [2] Imam Syafi’i dalam kitab Majmu al-Ulum wa Mathli’u an Nujum dan dikutip oleh Imam ibn ‘Arabi dalam mukaddimah al-Futuhuat al-Ilahiyah

    [3] Hadis tersebut terdapat dalam Shahih Al Bukhari, Sunan Abi Dawud, dan Sunan Al-Nasa’i.

    [4] Dalam Ma’âlim as-Sunan (2/136)

  • KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. I)

    KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. I)

    Alquran, Kitab Terbaik Sepanjang Masa

    Al Quran adalah kitab terbaik, alat peneguh yang paling utama. Ia merupakan  tali  Allah  yang  kuat, petunjuk dan cahaya penerang bagi umat islam yang berpegang teguh padanya. Al Quran merupakan kitab yang paling sempurna, dimana tidak ada satupun kitab yang mampu menandingi Al Quran, sejak manusia mengenal baca tulis dari ribuan tahun silam hingga akhir zaman. Kemuliaan Al Quran juga disebutkan di dalam kitabullah, Allah ﷻ berfirman:

    ….”وَإِنَّهُۥ لَكِتَٰبٌ عَزِيزٌ.”

    “…Sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia.”(QS.Fussilat: 41).

    Tafsir Al Mukhtashar menjelaskan bahwa sesungguhnya Al Quran adalah kitab yang mulia dengan pemuliaan dari Allah dan penjagaannya dari segala perubahan dan pergantian.

    لَّا يَأْتِيهِ ٱلْبَٰطِلُ مِنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِۦ ۖ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

    “Yang tidak datang kepadanya (Alquran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS.Fussilat: 42)

    Segala kebatilan tidak akan menyusupinya dari arah manapun dan tidak ada sesuatu pun yang membatalkannya, ia terjaga sehingga tidak bisa dikurangi atau ditambah. Diturunkan dari Allah yang Mahabijaksana untuk mengatur segala perkara hamba-hambaNya, Dia Maha Terpuji karena Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan.

    Al Quran Bukti Keimanan Hamba Beriman

    Menyatakan keimanan tidaklah cukup sebatas lisan. Iman harus dikukuhkan dengan pembenaran di dalam hati dan pelaksanaannya di dalam kehidupan. Imam Syafi’i mengatakan bahwa “Iman itu meliputi perkataan dan perbuatan. Ia bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambah dengan sebab ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.” Maka Iman tanpa pengaplikasian tindakan nyata sama saja dengan kebohongan. Ibarat orang yang percaya kepada Allah, tetapi tidak mau menjalankan perintahNya dan melakukan pelanggaran berupa kemaksiatan. Maka yang demikian itu, imannya akan menjadi gugur.

    Begitu pula iman kepada Alquran, jangan sampai keimanan yang kita dengungkan, akan menjadi pincang atau gugur lantaran lalai dengan Alquran. Salah satu bukti keimanan kepada Alquran adalah dengan menjadi Sahabat Quran (Sohibul Quran) baik itu dengan mempelajarinya (ta’allamahu) maupun mengajarkannnya kepada orang lain (ta’limuhu).

    Belajar dan mengajarkan Alquran ini meliputi beberapa aspek diantaranya adalah memenuhi kebenaran bacaan, kebenaran pemahaman dan penerapannya dalam kehidupan sehari hari. Upaya untuk meraih kebenaran bacaan ini bisa kita dapatkan melalui belajar tajwid dan mempraktikkan bacaannya dengan tartil. Membaca Alquran dengan tartil adalah sebuah keharusan, sebagaimana dalam firman Allah ﷻ:

    …”وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا”

    “…Dan bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al-Muzzammil Ayat 4)

    Tafsir Almuyasar menjelaskan  “Lalu bacalah Al-quran dengan perlahan dan sungguh-sungguh sehingga kalian bisa memahami dan mengambil maknanya. Tartil adalah adalah membaca keseluruhan huruf dengan memenuhi atau membaca sesuai dengan makhraj dan tajwidnya.”

    Iman kepada Alquran merupakan salah satu pilar dalam rukun iman. Dimana selain mengimani Alquran kita juga wajib mengimani kitab-kitab Allah ﷻ yang diturunkan sebelumnya, yaitu meliputi: Kitab Taurat, Zabur dan Injil. Allah ﷻ berfirman:

    ٱلَّذِينَ ءَاتَيۡنَٰهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ يَتۡلُونَهُۥ حَقَّ تِلَاوَتِهِۦٓ أُوْلَٰٓئِكَ يُؤۡمِنُونَ بِهِۦۗ وَمَن يَكۡفُرۡ بِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ.

    Artinya: “Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS.Albaqara: 121)

    Dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Asbabun Nuzul menjelaskan bahwa firman-Nya (الذين آتيناهم الكتاب يتلونه حق تلاوته), dari Qatadah, bahwa Sa’id meriwayatkan: ‘Mereka itu adalah para sahabat Rasulullah ﷺ’. Abu Al-Aliyah, dari Ibnu Mas’ud meriwayatkan: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya yang dimaksud dengan membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, adalah menghalalkan apa yang dihalalkan-Nya dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya serta membacanya sesuai dengan apa yang diturunkan Allah Ta’ala, tidak mengubah kalimat dari tempatnya, dan tidak menafsirkan satu kata pun dengan penafsiran yang tidak seharusnya.” Al-Hasan Al-Bashri mengatakan: “Mereka mengamalkan ayat-ayat muhkam di dalam Alquran dan beriman dengan ayat-ayat mutasyabihat yang ada di dalamnya, serta menyerahkan hal-hal yang sulit dipahami kepada yang mengetahuinya.”

    Firman-Nya (يتلونه حق تلاوته), Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengatakan: “Maksudnya adalah mereka mengikutinya dengan sebenar-benarnya.” Setelah itu Ibnu Abbas membaca Surah Asy-Syams ayat 2 yang artinya: “Dan bulan apabila mengiringnya,” ia mengatakan kata (تلاها) pada ayat ini maksudnya yaitu mengikutinya.”

    Firman-Nya (أولئك يؤمنون به) merupakan penjelasan dari kalimat sebelumnya. Artinya, ‘Barangsiapa diantara Ahlul Kitab yang menegakkan kitab Allah Ta’ala yang diturunkan kepada para nabi terdahulu dengan sebenar-benarnya, maka ia akan beriman kepada apa yang Nabi Muhammad ﷺ bawa’, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Maidah ayat 66 yang artinya: “Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil serta Al-Qur’an yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.”

    Artinya, jika kalian benar-benar menegakkan (mengamalkan) Taurat, Injil dan Alquran, beriman kepadanya dengan sebenar-benarnya, serta membenarkan kandungannya yang memuat berita-berita mengenai pengutusan Nabi Muhammad ﷺ, sifat-sifatnya, perintah untuk mengikutinya dan membantu serta mendukungnya, niscaya hal itu akan menuntun kalian kepada kebenaran dan menjadikan kalian mengikuti kebaikan di dunia dan di akhirat, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surah Al-A’raaf ayat 157 yang artinya: “(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.” Dan dalam hadits Sahih Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

    وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ: يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ لَا يُؤْمِنُ بِي، إِلَّا دَخَلَ النَّارَ”

    Artinya: “Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, tiada seorang pun yang mendengar tentangku dari kalangan umat ini, baik orang Yahudi ataupun orang Nasrani, kemudian ia tidak beriman kepadaku, melainkan dia masuk neraka.”

    Demikianlah keagungan Alquran yang menjadi petunjuk seluruh umat manusia di Akhir Zaman. Sesiapapun yang hidup pada masa setelah kenabian Muhammad ﷻ wajib untuk mengimani Alquran. Maka Alquran menjadi bukti keimanan seseorang.

    Iman kepada Alquran adalah bagian dari pilar agama islam. Meninggalkannya, akan memincangkan iman sekaligus menjembatani runtuhnya agama mulia ini. Tiada jalan lain dalam menggapai kejayaan Islam kecuali dekat dengan Alquran.

    Al Quran adalah jembatan antara kita dengan surga. Sampai tidaknya kita ke surga, tergantung dari seberapa dekatnya kita dengan Al Quran. Bukti terbesar cinta kita kepada Allah adalah dengan mencintai Al Quran, yaitu melalui mempelajarinya, membacanya, memahaminya, merenungi dan memikirkan makna-maknanya. Membaca Al Quran, merupakan salah satu amalan yang memiliki banyak keutamaan. Berikut adalah berbagai keutamaan dari membaca Al Quran. 

    (Bersambung Bag. II)

    _________

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    *Penulis skrip dan editor Tanti Ummu Fahdlan

  • Kenapa Kita Harus Menghafal Al Qur’an?  (Bag. IV)

    Kenapa Kita Harus Menghafal Al Qur’an? (Bag. IV)

    KIAT ULAMA SALAF AGAR MEMILIKI HAFALAN YANG KUAT

    Ulama Salaf dalam menuntut ilmu dimulai dari menghafal Al-Qur’an. Bahkan para Ulama juga mengatakan, bagi seseorang yang sudah terlanjur menuntut ilmu lain, walaupun sudah tua, sebaiknya dihentikan dahulu kegiatan-kegiatan keilmuannya dan mengkhususkan untuk menghafal Al-Qur’an terlebih dahulu.

    Memulai Menghafal Lima Ayat Demi Lima Ayat.

    Banyak metode yang digunakan oleh Ulama Salaf dalam menghafal Al-Qur’an. Diantaranya adalah memulai menghafal dengan lima ayat demi lima ayat. Demikian karena Malaikat Jibril, menurunkan Al-Qur’an kepada Rasulullah ﷺ juga secara bertahap yaitu dimulai dari lima ayat. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah Hadits Riwayat  Ibnu Asakir:

    ان أبو سعيد الخدرى يعلمنا القرأن خمس أيات بالغداة وخمس ايات بالعشى ويخبر أن جبريل نزل بالقران خمس اايات خمس ايات

      (رواه إبن عساكر)

    Artinya: “Abu Said al-Khudri mengajarkan Al-Qur’an kepada kami, lima ayat di waktu pagi dan lima ayat di waktu petang. Dia memberitahukan bahwa jibril menurunkan Al-Qur’an lima ayat-ayat.”

    Dan juga ada Hadis Riwayat Baihaqi

    (تعلموا القران خمس اايات خمس ايات فان جريل كان ينزل بالقران على النبى صلى الله عليه وسلم خمسا خمسا (رواه البيهقى

    Artinya: Pelajarilah Al-Qur’an lima ayat demi lima ayat, karena Jibril menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi SAW. Lima ayat demi lima ayat.”

    Ketika kita menghafal Al-Qur’an, jangan menjadikan keinginan untuk cepat khatam Al-Qur’an sebagai prioritas utama. Sehingga tergesa-gesa di dalam membacanya, lantaran mengejar keinginan untuk segera menuntaskan hafalan 30 juz. Semestinya yang kita lakukan adalah meniru cara ulama terdahulu di dalam menghafal. Yaitu memulai dengan jumlah hafalan yang sedikit. Membacanya dengan tartil, selalu mengulangi hafalannya, sehingga hafalan yang dimilkinya akan mutqin.

    Jadi bagi kita yang mungkin kesulitan dalam menghafal Al-Qur’an maka bisa memulai dari jumlah yang sedikit. Bahkan dimulai dengan satu ayat. Karena ulama salaf ada juga yang menghafal dengan jumlah satu ayat. Namun Ia ulangi satu ayat tersebut dalam jumlah yang banyak.

    Padahal di dalam Al-Qur’an ada enam ribuan ayat. Itu berarti membutuhkan waktu selama 18 tahun untuk selesai menghafal Al-Qur’an.  Hendaknya kita bisa menikmati proses menghafal Al-Qur’an karena para ulama terdahulu juga membutuhkan waktu yang panjang dalam menghafalkan Al-Qur’an.

    Saat ini, ada beberapa lembaga Pesantren yang menetapkan target bagi santrinya, yaitu dalam waktu satu-dua atau tiga tahun untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur’an. Nah yang terpenting dari target tersebut adalah kemutqinannya.   

    Jika Allah memberikan kelebihan kepada kita berupa mudahnya menghafal dan kuatnya muraja’ah, kemudian bisa hafal dalam enam bulan atau dalam setahun, maka itu bagus sekali dan luar biasa. Dan yang terpenting mutqin.

    Adapula lembaga yang membuat program yaitu hafal dan khatam dalam 30 hari, 40 hari, jika target tersebut dipaksakan, maka dikhawatirkan akan cepat hilang juga hafalannya. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah firmanNya:

    “وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّتِى نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثًا….”

    “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…..” Qs. An Nahl: 92

    Ayat tersebut menjelaskan bahwa janganlah seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya,  Yakni benang yang telah telah dipintal baik itu dari katun, wol, atau lainnya dan setelah menguatkan pintalannya, ia mencerai beraikannya seperti sedia kala. [1]

    Ayat tersebut juga memberikan kiasan, bahwasannya jangan sampai kita hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan hafalan, yaitu dengan selalu menyetorkan hafalan baru tanpa murojaah. Sehingga hafalan yang dimilikinya akan cepat hilang. Maka yang menjadi acuan kita dalam menghafal, adalah metode yang diterapkan ulama salaf. Yaitu memprioritaskan kekuatan hafalan atau mutqin dan memulainya dengan hafalan jumlah ayat yang sedikit.

    ____________

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.


    [1] Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz,Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah (Madinah, Markaz Ta’dzhim al-Qur’an-Fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah)

  • Kenapa Kita Harus Menghafal Al Qur’an? (Bag. III)

    Kenapa Kita Harus Menghafal Al Qur’an? (Bag. III)

    Para Ulama Salaf Sudah Hafal Al-Qur’an Sejak Kecil

    Para ulama terdahulu adalah orang orang yang sangat patut kita contoh semangatnya dalam menuntut ilmu, sekaligus patut kita ambil ilmunya. Sebab, dicabutnya ilmu tiada lain ialah dengan dicabutnya para ulama itu sendiri dalam arti diwafatkan.

    Maka hendaknya kita banyak belajar kepada para ulama, termasuk mencontoh mereka dalam menuntut ilmu, agar suatu ilmu tersebut tidak lenyap karena tidak ada yang memeliharanya. Salah satu upaya menuntut ilmu yang dicontohkan oleh para ulama salaf adalah menghafal Al-Qur’an sejak kecil.

    Berikut ini beberapa ulama yang sudah menghafalkan Al-Qur’an sejak kecil:

    1. Imam Syafi’i Rahimahullah beliau hafal Al-Qur’an di usia 7 tahun dan hafal Muwaththa’ karya Imam Malik di usia 10 tahun. Jika pada usia 7 tahun sudah hafal Al-Qur’an, maka beliau mulai belajar dan tahap menghafal pada sebelum usia 7 tahun.
    2. Syaikhul Islam, ibnu Taimiyah, ulama madzhab Hambali sudah hafal Al-Qur’an sejak usia 7 tahun.
    3. Ibnu Hajar, Syaikh Amin Syinqithi pengarang kitab Adwa Al-Bayan, beliau hafal Al-Qur’an usia 10 tahun.
    4. Syaikh Muhammad Ibrohim, beliau termasuk anggota Majelis Ulama Saudi, hafal Al-Qur’an di usia 11 tahun
    5. Syaikh Bin Baz, ulama  kontemporer  yang  ahli  dibidang sains Hadist,  Aqidah,  dan Fiqh telah mampu menghafal Al-Qur’an sejak kecil, pada saat menghafalnya dia rutin bermurojaah kepada Syaikh Abdullah bin Furaij. Beliau menjadi Penghafal Al-Qur’an sebelum usia baligh.

    Betapa Kuatnya Hafalan Para Ulama Salaf

    Bila kita membuka lembaran kisah perjalanan hidup para ulama salaf terdahulu, maka akan kita dapatkan banyak sekali pelajaran dan hikmah yang sangat berharga dari kehidupan mereka. Perjuangan, pengorbanan, penderitaan, cita-cita,  harapan, dan doa, semuanya itu seakan mewarnai perjalanan hidup mereka yang sangat berharga bagi kita, bahkan bisa kita katakan ” ajaib “, karena sangat jarang dan mungkin tidak kita temukan di zaman sekarang ini. Diantara keajaiban tersebut adalah kekuatan hafalan para ulama salaf yang diabadikan dalam berbagai kitab sejarah.

    Diantara Ulama Salaf sekaligus Penguasa Mesir yang kuat hafalannya adalah Maslamah bin Makhalad. Maslamah merupakan  salah satu dari empat panglima perang yang terpilih oleh Umar RA untuk memimpin empat ribu pasukan dalam melawan tentara Romawi di Mesir. Bahkan masing-masing pasukan ini, kekuatannya menyamai seribu pasukan. Ketiga lainnya adalah Zubair bin Awwam, Miqdad bin Aswad dan Ubadah bin Shamid.

    Maslamah terlahir di Madinah pada 616 M dari suku Khazraj, salah satu suku tersesar di Madinah. Oleh karenanya, dibelakang namanya di sematkan nama “al-Kharaji”. Meninggal pada 53 H ( April 682 M) di Iskandariyah Mesir.

    Maslamah masuk islam ketika usia 4 tahun, dan ketika Rasulullah wafat,  usia Maslamah adalah 14 tahun. Pada era Bani Umayah, Maslamah diangkat menjadi Gubernur Mesir dan disanalah menjadi inisiator pertama yang membuat menara khusus untuk azan. [1]

    Mujahid, seorang imam dalam bidang tafsir, dimana hidup sejaman dengan Maslamah, pernah mengatakan tentang Masmalah; “Tadinya aku mengira dirikulah orang yang paling baik dalam hafalan Al-Qur’an. Namun ketika aku shalat di belakang Maslamah, ia membaca surah Albaqarah secara utuh tanpa kesalahan sedikitpun baik wau atau alif”[2]

    Masya Allah, sedemikian dahsyatnya pengaruh Al-Qur’an dalam membentuk pribadi yang kuat dan tangguh. Maslamah, seorang Panglima Perang yang kekuatannya menyamai seribu tentara, ternyata ia adalah Penghafal  Al-Qur’an yang bahkan membuat Mujahid takjub.  Lantaran saking kuatnya hafalannya dan bahkan Mujahid tidak menemukan kesalahan setiap hurufnya saat Maslamah membaca Surat Albaqarah.

    Al A’masy-Ulama yang Mendapat Julukan Al-Mushaf.

    Dialah Sulaiman bin Mihran  Al-Hasadi Al-Kahali abu Muhammad Al-Kufi Al-A’masy dan lebih dikenal dengan panggilan Al-A’masy. Lahir di daerah Ar-Rayi pada tahun 61 H dan kemudian berpindah ke Kufah. Ia adalah salah  seorang ulama yang ahli dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadist dan seorang yang mendapat julukan Al-Mushaf karena kekuatan hafalannya dan kejujurannya. Para ulama banyak mengoreksikan hafalannya pada beliau. Ia seorang yang memang miskin harta dunia  tetapi kaya dengan ilmu pengetahuan.

    Banyak ulama besar yang berguru kepadanya seperti Asy-Syu’bah,Sufyan Ats Tsaury, Sufyan bin ‘Uyainah dls. Beliau merupakan orang yang paling tahu tentang hadist Abdullah bin Mas’ud, beliau pernah melihat sahabat Anas bin Malik akan tetapi beliau tidak meriwayatkannya darinya secara langsung (melalui perantara).[3]   

    Sanjungan Ulama Terhadapnya

    Ahmad bin Abdillah Al-Ajali berkata “Al-A’masy adalah orang yang kokoh pendiriannya dan kuat hafalannya. Dia adalah juru bicara penduduk Kufah pada masanya,dan ada yang mengatakan bahwa ia menguasai empat ribu hadist akan tetapi tidak mempunyai kitab. Ahmad berkata dia sering  membaca Al-Quran,fasih dalam membacanya dan salah seorang yang pakar bidangnya.”[4]

    Dari Ibnu ‘Uyainah dia berkata “Al-A’masy lebih mempunyai tempat di hati kaum muslimin karena ada empat hal : yaitu dia adalah orang yang paling fasih dalam membaca Al-Quran, paling banyak hafalan hadistnya, ahli dalam bidang Faraid dan beberapa keunggulan lainnya.” Ahmad berkata “Abu Ishaq dan Al-A’masy adalah dua tokoh penting penduduk Kufah.”[5]

    Ibnu Madani berkata, “Penjaga ilmu dari ummat Muhammad ada enam Amru bin Dinar di Mekkah, Az-Zuhri di Madinah, Abu Ishaq As-Sabi’I dan Al-A’masy di Kufah Qotadah dan Yahya bin Abi Katsir di Bashrah.” Syu’bah berkata “Tidak ada orang  yang  membacakan hadist kepadaku seperti Al-A’masy.”

    Hasyim berkata, “Aku tidak melihat ada seorangpun di Kufah yang  lebih baik bacaannya tentang kitabullah selain Al-A’masy.”[6]

    Abdulllah bin Dawud Al-Kuraibi berkata “Aku pernah mendengar jika Asy-Syu’bah mendengar nama Al-A’masy maka dengan cepat ia akan berkata Al-Mushaf.” –Al-Mushaf (orang itu seperti mushaf).

    Umar bin Ali berkata: “Al-A’masy disebut dengan al mushaf karena kejujurannya.” [7]

    Waki’ bin Al-Jarah berkata: ”Hampir selama tujuh puluh tahun Al-A’masy tidak pernah tertinggal dari takbiratul ihram pertama (melakukan shalat di awal waktu).”

    Abdullah Al-Khuraibi berkata:  Tidak ada orang yang datang sesudah Al-A’masy yang lebih banyak ibadah darinya.”[8]

    Abdurrazak berkata:  “Beberapa orang dari sahabat kami telah memberitahukan kepada kami , sesungguhnya Al-A’masy sering bangun tidur karena ada keperluan dia tidak menyentuh air akan tetapi meletakan tangannya pada dindng dan bertayamum kemudian tidur lagi lalu ada orang yang menanyakan kebiasaan itu kepadanya dia berkata aku takut meninggal dunia dalam keadaan tidak bersuci.”[9]

    Ibrahim bin Uru’rah berkata:   “Aku pernah mendengar bahwa Yahya Al-Qahtan setiap disebutkan nama Al-A’masy maka dia akan berkata dia adalah ahli ibadah, selalu menjaga shalat berjamaah, dan berada pada barisan terdepan. Dia merupakan simbol dan contoh bagi umat islam dan dia selalu berusaha mendapatkan barisan terdepan.”[10]

    Abu Nu’aim berkata:  “Abdussalam berkata, setiap berbicara,  Al-A’masy selalu tenang dan menghormati ilmu pengetahuan.”[11]

    Demikianlah petikan keteladanan dari para ulama yang penuh dengan pelajaran yang berharga. Al A’masy meninggal pada bulan Rabiul Awal tahun 146 H. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan memberikan balasan atas segala jasa serta kebaikan beliau.

    (Bersambung Bag. IV)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.


    [1] Abdul Wadud Kasyful Humam , 40 Sahabat Nabi yang Memiliki Karamah, Elex Media Komputindo, Jakarta 2016

    [2] Qasim A Ibrahim dan Muahammad A Saleh, Buku Pintar Sejarah Islam – Jejak Langkah Peradaban Islam dari Masa Nabi Hingga Masa Kini, (Al-Mauwsu’ah al-Muyassarah fi al-Tarikh al-Islami), Terj.Zainal Arifin  (Jakarta, Zaman, 2014).

    [3] Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani, Tahdzib At-Tahdzib, (Libanon , Dar Shadir Beirut 1325 H) Juz 4.

    [4] Syaikh Ahmad Farid, Biografi 60 Ulama Salaf, (Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2007 M).

    [5] Imam Adz-Dzahabi, Siyaru ‘Alam An-Nubala, (Libanon, Darul Fikr Beirut, 1996 M / 1417 H) Juz 6.

    [6] Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani, op. cit

    [7] Syaikh Ahmad Farid, op.cit

    [8] Imam Adz-Dzahabi, op.cit

    [9] Syaikh Ahmad Farid, op.cit

    [10] Imam Adz-Dzahabi, op.cit

    [11] Syaikh Ahmad Farid, op.cit

  • Kenapa Kita Harus Menghafal Al Qur’an? (Bag. II)

    Kenapa Kita Harus Menghafal Al Qur’an? (Bag. II)

    Perkataan Ulama Tentang Pentingnya Menghafal Al-Qur’an Sebelum Menuntut Ilmu Lainnya

    Seorang Ulama yang bernama Abdul Malik bin Juraij, beliau berkata, “ Saya dahulu mendatangi Atha bin Abi Rabah untuk belajar ilmu hadits. Disampingku ada Abdullah Ibnu Ubaid Ibnu Umair. Lalu Ibnu Umair berkata kepadaku ‘Apakah kamu sudah bisa membaca Al-Qur’an? Apakah kamu sudah hafal Al-Qur’an hingga kamu ingin belajar hadits?’. Maka aku mengatakan ‘belum’. Kata Ibnu Umair ‘Pergilah, Hafalkanlah Al-Qur’an baru kemudian pelajari ilmu yang lain’ “. Para ulama terdahulu tidak akan mengajarkan hadits, sirah, dan ilmu-ilmu yang lain kalau mereka belum hafal Al-Qur’an.

    Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah salah seorang imam terkemuka madzhab Syafi’i beliau mengatakan, “Seseorang harus memulai dari Al-Qur’an sebelum belajar fiqih, sirah, dan hadits”. Imam An-Nawawi, ketika ada seseorang yang belum hafal Al-Qur’an dan ingin menuntut ilmu fiqih ke beliau, maka beliau minta orang itu untuk menghafalkan Al-Qur’an dahulu.

    Bahkan yang hafal Al-Qur’an pun ketika belajar fiqih, belajar hadits kepada beliau, lalu dilihat oleh beliau bahwasannya pelajaran-pelajaran ini menjadi sebab mereka melupakan hafalan-hafalan Al-Qur’annya, maka beliau hentikan dan memintanya untuk menguatkan hafalan Qur’annya terlebih dahulu.

    Mari kita lihat, bagaimana para ulama terdahulu mendidik putra-putri mereka, mendidik murid-murid mereka sehingga lahirlah ulama-ulama yang tidak hanya berilmu tetapi juga mempunyai akhlak dan jiwa yang bagus. Saat ini, ketika seseorang tidak mempelajari ilmu yang terpenting terlebih dahulu, tidak memulai dari ilmu mendasar dan langsung ke permasalahan besar semisal perbedaan pendapat, akhirnya banyak diantara mereka yang tidak tahu tentang akhlak para ulama.

    Apalagi yang belajarnya dari youtube atau sekedar membaca buku dan tidak berguru kepada ulama. Mereka mungkin punya ilmu namun tidak memiliki akhlak  dan adab. Maka Imam An-Nawawi Rahimahullah tidak memperkenankan seseorang untuk belajar fiqih dan yang lain sebagainya yang didalamnya terdapat perdebatan masalah khilafiyah, sebelum menghafal Al-Qur’an terlebih dahulu. Demikian  karena Al-Qur’an tersebut bisa mensucikan jiwa bagi para penuntut ilmu.  

    Jadi, ketika kita mendidik anak anak kita untuk menghafal Al-Qur’an sejak kecil atau sejak awal itu, bukan menitikberatkan pada bagaimana target hafalan akan tetapi lebih kepada upaya mencapai  keberkahan  dan keutamaan Al-Qur’an yang bisa menyucikan jiwa.

    Menghafal Al-Qur’an sejak kecil, itulah yang menjadikan ulama-ulama terdahulu betul-betul  bisa meraih kejayaan islam. Sehingga menjadikan islam itu mulia. Menjadikan islam sangat dihormati di dunia internasional. Karena mereka dekat sekali dengan Al-Qur’an. Jiwa mereka adalah jiwa Al-Qur’an. Akhlak mereka juga akhlak Al-Qur’an.

    Sekarang ini,  banyak orang yang belum mempelajari Al-Qur’an, belum mendalami ilmu agama,  sudah belajar tentang perbedaan pendapat. Bahkan membicarakan ulama-ulama besar dan memperbincangkan kesalahan-kesalahan mereka. Mereka mengatakan kata fulan begini, kata ulama ini begini. Mengapa mereka tidak menghabiskan waktu mereka untuk menghafal Al-Qur’an saja?

    Seseorang yang pernah dekat dengan Al-Qur’an, yang pernah merasakan susahnya menghafal Al-Qur’an, maka ia akan berfikir seribu kali untuk ghibah apalagi mengghibah para ulama. Kenapa banyak perpecahan dan saling serang antar ulama saat ini? Karena prinsip utama manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam menuntut ilmu ini sudah ditinggalkan oleh banyak orang terutama oleh para penuntut ilmu. Mereka melupakan asas utamanya yaitu Al-Qur’an.

    Jika kita menginginkan persatuan umat Islam, persaudaraan diantara umat islam dan diantara para ulama, menginnginkan kejayaan Islam, maka tidak ada cara utama selain revolusi pendidikan kita, yaitu memulai dengan belajar Al-Qur’an, terutama menghafal Al-Qur’an. Setelah mempelajari dan menghafalkan Al-Qur’an, maka bertahap kepada mempelajari tafsirnya, mentadabburinya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Ketika seorang anak atau seorang penuntut ilmu memulai dengan menghafalkan Al-Qur’an, maka pada saat melalui proses untuk sampai hafal Al-Qur’an itu,  insya Allah akan membentuk hatinya menjadi hati yang tidak mudah untuk menyalahkan orang lain.

    Hati yang selalu terbuka, dada yang lebar untuk menerima perbedaan-perbedaan. Mereka akan menghormati yang lain,  betapapun susah dan salahnya orang lain. Demikian karena mereka memahami, bahwasannya cahaya ilmu tidak akan mendatangi mereka jika menuruti nafsu maksiat. Sebagaimana perkataan Imam Asy-Syafi’i yang pernah mengadu kepada guru beliau :

    شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

    “Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

    Terdapat juga Ulama lain yang bernama Abul ‘Aina, beliau mengatakan, “ Saya mendatangi Abdullah bin Daud. Lalu Abdullah bin Daud ini berkata ‘Apa tujuan kedatanganmu kesini?’, lalu saya menjawab ‘Saya ingin belajar hadits wahai guruku’. Dan Abdullah bin Daud pun menjawab ‘Pergilah, hafalkanlah Al-Qur’an dahulu!’. Saya pun menjawab ‘Saya sudah hafal Al-Qur’an’. lalu beliau pun meminta saya melanjutkan ayat yang berbunyi وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ (Qs. Yunus). Lalu saya baca sampai sepuluh persen dari surat itu”.

    Maksud dari perkataan diatas adalah tidak hanya cukup mengatakan  “Saya sudah hafal Al-Qur’an”, tetapi mesti diuji terlebih dahulu oleh gurunya. Di zaman sekarang ini, jarang kita temui ketika seseorang ingin belajar fiqih, hadits, atau ilmu lainnya, kemudian ditanyakan “Hafal Al-Qur’an tidak?”. Apalagi jika ada yang mengaku “Saya sudah hafal Al-Qur’an”, mestinya seroang guru tidaklah cukup sampai disitu. Guru mesti menguji hafalan muridnya, apakah ia benar-benar Al-Qur’an atau tidak.

    Demikianlah prinsip yang dipegang teguh oleh para Ulama Salaf terdahulu. Maka ilmunya berkah, dan lingkungan masyarakatnya penuh dengan kebaikan, karena manhaj dan metodologi di dalam belajar ilmu agama dimulai dengan menghafal Al-Qur’an terlebih dahulu.

    Ibnul Qoyyim Rahimahullah mengatakan, “Dahulu kami mendapatkan berita bahwa guru-guru kami itu, jika ada orang-orang yang datang ke mereka, kemudian sibuk mempelajari buku karangan mereka dan mereka belum hafal Al-Qur’an, maka mereka (para guru) itu akan mengatakan; ‘sekiranya kalian belajar dan menghafal Qur’an  terlebih dahulu niscaya itu akan jauh lebih baik”.

    Kisah tersebut berbeda dengan fenomena zaman sekarang. Justru banyak pengarang yang meminta orang lain untuk membaca buku karangannya terlebih dahulu.  Sangat bertolak belakang dengan kehidupan para ulama dimana mereka seringkali menanyakan kepada muridnya, “Mengapa kamu sibuk membaca buku karanganku? Apakah kamu sudah hafal Al-Qur’an?”, Jika ditemuinya orang tersebut belum hafal Al-Qur’an akan diminta untuk menghafalkan Al-Qur’an.

    (Bersambung Bag. III)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

  • Kenapa Kita Harus Menghafal Al Quran? (I)

    Kenapa Kita Harus Menghafal Al Quran? (I)

    Al-Qur’an Adalah Pondasi Semua Ilmu.

    Al-Qur’an  merupakan kitab  induk,  rujukan  utama  bagi  segala  rujukan,  sumber  dari segala sumber, basis bagi segala sains dan ilmu pengetahuan. Ia adalah buku induk ilmu pengetahuan, di mana tidak ada satu perkara apapun yang terlewatkan, kecuali sudah tertuangkan di dalam Al-Qur’an.

    Al-Qur’an mengatur berbagai aspek  kehidupan  manusia,  baik  yang  berhubungan  dengan  Allah  (hablum minallah),  sesama  manusia  (hablum  minannas);  alam,  lingkungan,  ilmu  akidah,  ilmu  sosial,  ilmu  alam,  ilmu  emperis,  ilmu  agama,  umum  dan  sebagainya.  Kendati Al-Qur’an telah diturunkan  14  abad  lalu,  namun  ayat-ayatnya  banyak  yang menjelaskan tentang masa depan dan bersifat ilmiah. Bahkan dengan kemajuan  ilmu  dan  teknologi  saat  ini,  banyak dibuktikan kebenarannya melalui ayat-ayat  Al-Qur’an.   Al-Qur’an   memiliki   kebenaran   yang   bersifat mutlak atau absolut.

    Sedemikian sempurnanya Al-Qur’an, maka Al-Qur’an menjadi pondasi untuk  semua ilmu, terutama ilmu agama. Sebagaimana dikatakan oleh para ulama terdahulu, diantaranya adalah perkataan Ibnu Abdil Barr, salah satu ulama terkenal dari madzhab Maliki, beliau mengatakan, :

    ” القرآن أصل العلم “

    “ Al-Qur’an adalah pondasi ilmu pengetahuan (ilmu agama) ”

    Beliau melanjutkan “Maka barangsiapa yang hafal Al-Qur’an dan dia bisa mempelajari ilmu bahasa Arab dan ilmu-ilmu yang lain yang mendukung proses menghafal Al-Qur’an agar bisa memahami makna Qur’an, agar bisa mengetahui penafsiran-penafsiran Al-Qur’an, maka hendaknya hal tersebut dilakukan”.

    Mengapa Demikian? Ya, karena dengan menghafal Al-Qur’an, mempelajari bahasa Arab, dan mempelajari ilmu – ilmu lainnya, bisa membantu para Penghafal Al-Qur’an untuk memahami kandungan isi Al-Qur’an dan Tafsir Al-Qur’an. Sehingga mereka akan mendapatkan ilmu agama yang banyak sekali dari Al-Qur’an. Maka sesiapa yang menuntut ilmu tanpa mempelajari dan menghafal Al-Qur’an laksana bangunan yang pondasinya tidak kuat.

    Tidak hanya Ibnu Abdil Barr yang mengatakan tentang pentingnya menghafal Al-Qur’an sebelum mempelajari ilmu-ilmu lainnya, Al-Khathib Al-Baghdadi –Rahimahullah- beliau juga menyatakan, “Para penuntut ilmu wajib untuk menghafal Al-Qur’an terlebih dahulu”. Mengapa beliau mengatakan demikian? Karena Al-Qur’an adalah ilmu yang terbaik. Dalam sebuah analogi sederhana, jika kita ingin menilai kualitas suatu buku, maka yang kita lihat adalah pengarangnya. Ketika kita belajar Al-Qur’an maka kita belajar firman-firman Allah ﷻ. Adakah yang lebih mulia daripada menguasai dan mempelajari serta menghafal firman-firman Allah ﷻ dimana Pembuat Al-Qur’an  adalah Allah Sang Maha Pencipta?

    Buku-buku selain kitabullah, semuanya karangan manusia, dimana kontennya bisa benar dan bisa salah. Sementara Al-Qur’an itu adalah firman-firman Allah ﷻ yang tidak mungkin akan ada kesalahan. Kebenaran Al-Qur’an bersifat mutlak dan absolut.  Maka kemuliaan ilmu tergantung kepada apa konten pembahasannya. Ketika kita mempelajari Al-Qur’an, menghafal Al-Qur’an, memahami dan mentadabburi Al-Qur’an,  maka kita sedang belajar tentang firman-firman Allah ﷻ. Ilmu termulia yang pantas kita prioritaskan dari semua ilmu di muka bumi.

    Ketika kita mempelajari fiqih, maka itu berarti mempelajari pemahaman para Ulama tentang hukum-hukum yang bersumber pada Al-Qur’an. Adapun kitab Fiqih tersebut adalah karya dari para Ulama. Maka banyak Ulama Salaf yang menganjurkan bahwasannya hendaknya manusia mempelajari ilmu Al-Qur’an terlebih dahulu sebelum ilmu lain. Sebagaimana perkataan Khathib Al-Baghdadi, “Hendaknya bagi para penuntut ilmu agama,  mereka mulai menuntut ilmunya dengan menghafal Al-Qur’an terlebih dahulu”.

    Begitu juga Ibnul Jama’ah beliau mengatakan, “Orang yang menuntut ilmu harus menghafal Al-Qur’an secara mutqin (secara kuat)”.

    Demikian juga Ibnu Khaldun ketika mengkritisi Ibnu Arabi tentang prioritas di dalam menuntut ilmu, beliau mengatakan bahwa, “Al-Qur’an harus didahulukan.” Pun juga ada salah seorang ulama saat ini Syaikh Abdul Aziz Ahmad Al-Humaidi, beliau menyatakan, “Para ulama terdahulu tidak pernah belajar ilmu apapun sebelum menyelesaikan hafalan Al-Qur’an”.

    Itulah kenapa kita memulainya dari Al-Qur’an,  karena para Ulama tersebut, dari dahulu kala sampai sekarang,  mereka mengatakan bahwasannya orang-orang terdahulu tersebut tidaklah belajar ilmu lain, kecuali setelah menghafalkan Al-Qur’an terlebih dahulu. Maka alangkah baiknya, jika kita mulai dari anak-anak kita, terutama yang masih kecil, dengan terlebih dahulu mengajarkannya untuk mempelajari Al-Qur’an.

    Mengapa harus hafal Al-Qur’an? Karena nantinya para penuntut ilmu ini, para murid, para santri, yang menuntut ilmu agama, mereka diharapkan kedepannya bisa menjadi mufti, bisa menjadi khotib, bisa menjadi imam, yang semua itu membutuhkan keahlian dalam menyampaikan dalil dari ayat-ayat Al-Qur’an. Apapun keterangan dalam bidang agama pasti membutuhkan penguat dan dalil dari Al-Qur’an. Bagaimana mereka bisa menyampaikan ayat dan dalil dari Al-Qur’an jika tidak hafal Al-Qur’an? Apalagi jika mereka tidak bisa membaca Al-Qur’an dengan baik.

    (Bersambung Bag. II)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.