Kategori: Tausiyah

  • Belajar Mengaji dari Nol: Wadi Mubarak Gelar Kajian Tahsin Surat Al-Fatihah di Masjid Darul Iman Sumedang

    Belajar Mengaji dari Nol: Wadi Mubarak Gelar Kajian Tahsin Surat Al-Fatihah di Masjid Darul Iman Sumedang

    Tanjungsari, Sumedang — Dalam suasana pagi yang sejuk dan khusyuk, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar menggema dari dalam Masjid Darul Iman, kawasan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Puluhan peserta dari berbagai kalangan hadir dalam Kajian Tahsin Surat Al-Fatihah yang diselenggarakan oleh tim Belajar Mengaji dari 0, bekerja sama dengan DKM Masjid Darul Iman.

    Acara yang berlangsung pada hari Sabtu pagi itu menghadirkan suasana haru sekaligus menggugah. Di antara peserta, tampak wajah-wajah penuh semangat dari para ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga para ayah muda yang datang dengan niat memperbaiki bacaan Al-Qur’an mereka — mulai dari huruf, makhraj, hingga tajwid yang benar.

    “Kami ingin mengajak masyarakat mencintai & banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an. Tapi pada kenyataannya, minimnya minat baca atau interaksi kita dengan Al-Qur’an kerapkali terkendala kemampuan & pemahaman dalam membaca Al-Qur’an. Selain itu banyak di antara kita yang bisa membaca, tapi belum tentu benar membacanya,” ujar pengajar tahsin, Ustaz Dudi, S.Ag., dalam pemaparannya.

    📖 Al-Fatihah: Surat Paling Mulia, Namun Paling Sering Salah Dibaca

    Surat Al-Fatihah disebut sebagai Ummul Kitab — induk dari Al-Qur’an. Surat ini dibaca minimal 17 kali setiap hari dalam shalat lima waktu. Namun, sebagaimana dijelaskan oleh para pembimbing tahsin, masih banyak umat Islam yang belum menyadari kesalahan kecil dalam pelafalan atau panjang-pendek harakat yang dapat mengubah makna.

    Melalui program Belajar Mengaji dari 0, peserta dibimbing langsung memperbaiki bacaan ayat demi ayat dengan pendekatan yang mudah dipahami semua usia. Salah satu metode unggulan yang digunakan adalah talaqqi — yakni membaca langsung di hadapan guru agar bisa dikoreksi secara tepat.

    “Setiap huruf dari Al-Qur’an memiliki haknya masing-masing. Saat bacaan kita diperbaiki, bukan hanya kualitas tilawah yang meningkat, tapi juga kekhusyukan ibadah kita,” tambah Ustaz Dudi.

    Kegiatan tahsin ini menjadi magnet tersendiri bagi warga Sumedang, terutama di wilayah Tanjungsari dan sekitarnya. Banyak peserta mengaku, sejak mengikuti kelas ini, mereka lebih percaya diri membaca Al-Qur’an di rumah dan dalam shalat.

    🌼 Masjid Darul Iman, Pusat Dakwah dan Pendidikan Qur’ani di Tanjungsari

    Masjid Darul Iman, yang baru diresmikan 2 bulan lalu, kini menjadi salah satu pusat pembelajaran Al-Qur’an aktif di Tanjungsari, Sumedang. Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjadi basis kegiatan pendidikan Qur’ani bagi anak-anak dan orang tua, mulai dari kelas tahsin & tahfizh untuk anak-anak, hingga kelas tahsin, tadabbur, dan fiqh untuk orang dewasa.

    Kegiatan Kajian Tahsin Surat Al-Fatihah ini juga menjadi salah satu langkah awal dalam membangun budaya Qur’ani di kawasan tersebut. Para pengurus DKM menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari visi besar menjadikan Masjid Darul Iman sebagai rumah pembelajaran Al-Qur’an yang terbuka untuk semua kalangan.

    “Harapan kami, generasi muda Tanjungsari tumbuh dengan cinta pada Al-Qur’an. Tidak hanya bisa membaca, tapi juga mengamalkan,” ungkap Ustaz Hanif, DKM Masjid Darul Iman – Tanjungsari, yang turut menjadi pembina kegiatan ini.

    🌙 Belajar Mengaji dari Nol: Gerakan Kembali ke Al-Qur’an

    Program Belajar Mengaji dari 0 merupakan inisiatif dakwah dari para alumni Wadi Mubarak yang berfokus pada pemberantasan buta huruf Al-Qur’an di kalangan masyarakat muslim perkotaan maupun pedesaan. Program ini telah menjangkau berbagai daerah di Jawa Barat dan kini menyapa masyarakat Sumedang melalui Masjid Darul Iman.

    Setiap pertemuan menghadirkan sesi praktik langsung, koreksi bacaan, dan pemahaman makna dari surat-surat pendek, dimulai dari Surat Al-Fatihah sebagai fondasi utama. Pendekatannya lembut, personal, dan penuh kasih — sangat membantu bagi mereka yang selama ini merasa malu mengaku belum lancar membaca Al-Qur’an.

    “Kami tidak menilai dari seberapa banyak hafalan, tapi seberapa besar keinginan untuk memperbaiki diri,” ujar salah satu mentor dari tim pengajar.

    Kegiatan seperti ini diharapkan dapat menumbuhkan kembali kesadaran masyarakat Sumedang akan pentingnya pendidikan Al-Qur’an sejak dini — termasuk bagi anak-anak mereka.

    🌱 Dari Orang Tua ke Anak: Warisan Terindah Adalah Al-Qur’an

    Banyak orang tua yang hadir dalam kajian ini merasa tergerak untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah Islam yang berorientasi pada pendidikan Qur’ani. Salah satu yang menjadi perhatian masyarakat Tanjungsari adalah TAUD SaQu Wadi Mubarak – Darul Iman, yang berlokasi tak jauh dari masjid.

    Sekolah ini mengusung visi melahirkan generasi Qur’ani yang cerdas, mandiri, dan berakhlak mulia dengan kurikulum berbasis Al-Qur’an dan sunnah. Para guru di TAUD SaQu dididik untuk menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak usia dini, bukan sekadar menghafal, tapi juga menghayati maknanya.

    Dengan pendekatan Qur’anic Fun Learning, anak-anak belajar dalam suasana gembira, aktif, dan interaktif. Mereka tak hanya belajar membaca, tapi juga memahami kisah-kisah Al-Qur’an yang menginspirasi kehidupan sehari-hari.

    🕌 Masjid dan Sekolah: Dua Sayap Dakwah Islam di Sumedang

    Kerja sama antara DKM Masjid Darul Iman, Tim Belajar Mengaji dari 0, dan TAUD SaQu Wadi Mubarak – Darul Iman mencerminkan sinergi ideal antara masjid dan lembaga pendidikan Islam. Keduanya menjadi pusat pembinaan umat — masjid sebagai sumber nilai dan spiritualitas, sekolah sebagai ruang tumbuhnya karakter dan ilmu.

    “Kami ingin agar setiap langkah anak dan orang tua di Tanjungsari berawal dari masjid. Dari sini lahir generasi Qur’ani yang siap menerangi dunia,” tutur Ustadz Didik dalam sesi penutupan kajian.

    📣 Untuk Anda yang Ingin Bergabung: Mari Jadi Bagian dari Gerakan Qur’ani

    Semangat belajar Al-Qur’an tidak berhenti di kajian ini saja. Tim Belajar Mengaji dari 0 telah membuka kelas lanjutan untuk masyarakat Sumedang yang ingin memperbaiki bacaan dan memahami Al-Qur’an dari dasar. Jadwal kegiatan dan pendaftaran dapat diakses langsung melalui pengurus DKM Masjid Darul Iman.

    Bagi para orang tua yang ingin mengenalkan pendidikan Qur’ani sejak dini kepada anaknya, TAUD SaQu Wadi Mubarak – Darul Iman kini juga membuka pendaftaran Tahun Ajaran 2026/2027 dengan kuota terbatas.

    📞 Informasi & Pendaftaran:
    TAUD SaQu Wadi Mubarak – Darul Iman
    📍 Tanjungsari, Sumedang
    📱 Hubungi edu consultant TAUD SaQu : +62 855-4506-7860

    Bismillah, semoga langkah kecil ini menjadi awal lahirnya generasi Qur’ani di bumi Sumedang — yang bukan hanya bisa membaca Al-Qur’an, tapi juga hidup bersamanya.🌿

  • Tausiyah Syaikh Ahmad Jilan Di Hadapan Mahasiswa STIU Wadi Mubarak

    Tausiyah Syaikh Ahmad Jilan Di Hadapan Mahasiswa STIU Wadi Mubarak

    “Bersyukurlah karena Allah ﷻ jadikan kita fokus dalam mendalami serta mempelajari Al-Qur’an, karena itu merupakan sesuatu yang paling harus didalami dan dipelajari”, begitu kiranya petikan nasehat yang disampaikan oleh Syaikh Ahmad Jilan saat kunjungannya di Islamic Center Wadi Mubarak Bogor pada Senin (3/7/2023).

    Sesi tausiyah ini berlangsung selepas salat asar berjamaah yang diikuti oleh seluruh civitas akademika Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor (STIU-WM).

    Memulai tausiyah yang akan diberikan, beliau menyampaikan kegembiraanya atas kesempatan untuk berkunjung ke Islamic Center Wadi Mubarak Bogor. Ini merupakan kali pertama kunjungan beliau ke tempat ini.

    Baca Juga:
    – Ketua Yayasan ICWM Dapatkan Sanad Al-Qur’an Di Madinah
    – Lantama Wisata Salurkan Profit Usaha Rp 400 Juta Ke Islamic Center Wadi Mubarak
    – Kerjasama Dengan STIUWM Walikota Padang Buka Pelatihan Guru Al-Qur’an

    Tentunya, kunjungan ini juga merupakan sebuah kehormatan bagi segenap pengurus Wadi Mubarak karena dapat menyambut kehadiran beliau yang juga merupakan pengajar di Masjid Nabawi dan Masjid Al-Haram, Arab Saudi.

    Tafsir dan pendalaman makna Surat Al-Fatihah beliau pilih pada kesempatan kali ini. Surat Al-Fatihah memiliki kandungan dan muara makna yang sangat dalam dan luas. Walaupun berkali-kali diselami, tak akan pernah habis untuk diresapi serta diambil pelajarannya.

    Salah satu yang disampaikan, bahwa surat Al-Fatihah menjelaskan bahwa dalam kata ”Al-Hamdu” pada ayat kedua memiliki makna bahwa segala pujian bagi Allah ﷻ itu selalu ada, baik di awal maupun di akhir, jugalah semua pujian dan sanjungan hanya milikNya semata.

    Faedah lain yang disampaikan adalah makna “Ar-Rahman” yang menunjukkan bahwa ilmu itu Rahmah diantara para pegiatnya.

    Dalam sampaiannya, beliau menyampaikan bahwa ilmu yang benar itu akan menyatukan umat dan menjadikannya kuat, bukan malah memecah belah dan mencerai beraikan. Karena esensi ilmu yang benar itu akan membimbing umat kepada persatuan.

    Di akhir kalimat, beliau menyampaikan tentang doa terbaik yang juga terkandung di surah Al-Fatihah, yaitu pada ayat ”اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ“, yang bermakna “Bimbinglah kami ke jalan yang lurus,” Doa inilah yang semestinya senantiasa dipanjatkan dan diminta oleh setiap muslim dalam doanya, karena inilah yang lebih dibutuhkan bahkan daripada makan dan minum.

    Esensi sebuah jalan yang lurus pun Allah ﷻ telah jelaskan pada ayat berikutnya, “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.”

    Sesi kajian dan nasehat kali ini berlangsung penuh antusias dari para mahasiswa. Dalam penyampaian tausiyah ini, beliau mengiringinya dengan tanya jawab, kuis serta interaksi dengan para mahasiswa dan mustami’ sehingga mejadikan suasana kajian yang hidup. “Kajian yang sangat menarik”, ucap salah satu mahasiswa semester enam asal Lombok, Sayid Abdullah A.R.// (mushaf/al.C)

  • 5 (Lima) Kiat Sukses Bagi Seorang Muslim, Kajian Shubuh Syaikh Turki Ash-Shā’igh

    5 (Lima) Kiat Sukses Bagi Seorang Muslim, Kajian Shubuh Syaikh Turki Ash-Shā’igh

    Beliau adalah Syaikh Turkī ibn ‘Abd ar-Rahmān ash-Shā’igh, seorang ulama asal Riyadh, Kerajaan Saudi Arabia. Pernah menjabat Atase Agama di Kedutaan Besar KSA di Filipina dan Anggota Dakwah dan Bimbingan di Provinsi Qassim, Saudi Arabia.

    Mengawali nasihatnya kepada para mahasiswa STIU, beliau membawakan kisah Abu’l Misk Kafur, seorang budak yang menjadi penguasa Bani Ikhsyid di Mesir.

    Kafur adalah budak asal Habasyah (Ethiopia) yang diperjualbelikan di pasar Nikhasah (pasar khusus jual-beli budak). Tidak ada yang istimewa darinya. Kulitnya hitam, kakinya cacat, jalannya lambat lagi buruk rupa wajahnya. Meskipun begitu ia memiliki tekad yang kuat untuk menjadi seorang amir (pemimpin) Mesir.

    Jika budak semisalnya ingin dibeli oleh orang yang kaya, orang yang baik agar dapat hidup di tengah kenikmatan namun justru Kafur memiliki tekad yang tinggi. Ia selalu mengatakan di dalam hatinya bahwa aku ingin menjadi penguasa negeri ini (Mesir).

    Singkat cerita Kafur kemudian dibeli oleh penjual minyak dan ia dipekerjakan secara tidak manusiawi. Dari kondisi tersebut ia belajar menempa diri dan melatih mentalnya. Kemudian tak berselang lama ia dibeli oleh tuan yang baru yaitu seorang penulis.

    Dari penulis utulah ia belajar membaca dan menulis serta menambah wawasan keilmuannya. Pada masa-masa ini ia tak pernah lupa akan mimpinya untuk menjadi penguasa Mesir.

    Suatu hari sang tuan ingin mengirimkan hadiah kepada Amir Mesir kala itu, Muhammad bin Thagj. Hal ini dikarenakan si penulis pernah memiliki kedekatan dengan sang Amir sebelum ia menjadi penguasa. Ia pun mengirim hadiah untuk sang Amir melalui perantara Kafur, budaknya.

    Baca Juga:
    –
     12 Mahasiswa STIU-WM Dianugerahi Sanad Qira’ah
    – Tutup Daurah Huffazhul Wahyain; 3 (Tiga) Mahasiswa STIU-WM Dapatkan Umroh Gratis

    Tatkala sang Amir melihat Kafur, ia memiliki firasat bahwa Kafur bukan orang biasa. Menyadari hal itu segeralah ia beli Kafur dari si penulis. Dari sinilah mulai terang apa yang diimpikan oleh Kafur.

    Kafur menjadi pembantu di istana hingga wafatnya Muhammad bin Thagj. Naiklah putra sang Amir yaitu Unujur yang masih berusia lima belas tahun. Hal tersebut menyulut api protes dan amuk dari rakyat. Di saat itulah Kafur dengan tekad yang selama ini ia pendam mencoba menjadi “penyelamat”.

    Dengan segala pengalaman dan kemampuan yang telah ia miliki ia mengambil alih urusan pemerintahan. Hal tersebut menarik respek rakyat Mesir dan membuat mereka lebih yakin kepada kepemimpinan Kafur. Kafur pun diangkat menjadi amir Mesir pada masa Bani Ikhsyid dan menjabat selama dua tahun.

    Dari kisah Kafur, Syaikh memotivasi mahasiswa STIUWM agar memiliki tekad yang tinggi sebagaimana ia bertekad. Meskipun Kafur berstatus sebagai budak hal tersebut tidak menghalanginya untuk tetap bertekad menjadi amir. Dengan bermodal tekad yang kuat dan usaha yang gigih Allah pun mengabulkan impian Kafur dan menjadikannya amir Mesir.

    Kemudian Syaikh melanjutkan nasihatnya dengan membawakan dalil-dalil perintah untuk memiliki tekad tinggi. Di dalam Al Qur’an Allah ﷻ telah memerintahkan Rasulullah ﷺ agar bersabar. Namun perintah di sini bukan sekadar perintah untuk sabar melainkan untuk meniru sabarnya para Ululazmi, para rasul yang terbaik. Allah ta’ala berfirman:

    …… فَٱصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْعَزْمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ

    “Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) sebagaimana ululazmi (orang-orang yang memiliki keteguhan hati) dari kalangan para rasul telah bersabar…”
    (QS: Al Ahqaaf: 35)

    Dalam ayat di atas terdapat motivasi kepada seorang muslim agar meniru dan mengidolakan tokoh yang paling baik dan bukan sembarang tokoh, yaitu para rasul ululazmi.

    Baca Juga:
    – Pendaftaran Daurah Menghafal Shohih Bukhari Muslim

    – Prof Rasjid Soeparwata Isi Kuliah Umum STIU Wadi Mubarak

    Selain ayat Alquran, Syaikh juga membawakan hadits Nabi shallaulaahu ‘alaihi wa sallam yang mengandung isyarat perintah untuk memiliki tekad tinggi. Nabi ﷺ bersabda:

    … احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ …

    “Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah”
    (HR. Muslim dan Ahmad)

    Syaikh juga membawakan sebuah bait syair tentang tekad yang tinggi,

    وَمَنْ يَتَهَيَّبْ صُعُوْدَ الْجِبَال   ۞   يَعِشْ أَبَدَ الدَّهْرِ بَيْنَ الْحُفَرِ

    Barangsiapa tak pernah bernyali untuk mendaki gunung,
    Niscaya selamanya ia akan mendekam di dalam lubang,

    Kemudian nasihat beliau tutup dengan membawakan 5 kiat sukses bagi seorang muslim pemilik himmah Aaliyah:

    1. Target yang jelas (وضوح الهدف)

    Target yang jelas merupakan langkah paling awal baginya. Jika ia memiliki target maka ia tahu ke mana akan melangkah. Berbeda dengan seorang yang tidak memiliki tujuan. Sampai kapanpun ia hanya melangkah tanpa tujuan dan tidak mengetahui apa yang ia cari.

    Begitulah sejatinya seorang muslim. Ia sudah memiliki target dan tujuan yang jelas dalam kehidupannya. Semua perbuatan dan aktivitasnya bermuara kepada satu hal, yaitu peribadatan kepada Allah. Allah ﷻ berfirman: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku,” (QS: Az-Zariyaat: 56)

    2. Memperbanyak doa (الإكثار من الدعاء).

    Dikisahkan bahwa Syaikh Abdul Karim Al Khudhair (seorang muhaddits dan murid senior Syaikh Ibn Baz) tidak pernah lepas daripada berdoa:

    ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما

    “Ya Allah karuniakanlah kami istri-istri dan anak-anak yang menjadi penyejuk mata kami dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang bertakwa,”

    Allah pun mengabulkan doa beliau. Beliau menjadi ulama hadits senior dan menjadi rujukan para penuntut ilmu. Anak-anak beliau merupakan dai-dai di jalan Allah. Oleh karenanya beliau senantiasa memotivasi kaum muslimin agar selalu berdoa dengan doa ini.

    Baca Juga:
    –
     Mahasiswa Asal Kaltim Dapatkan Ijazah Sanad Al-Qur’an Di ICWM
    – Nikmatnya Umroh Ke Tanah Suci Plus Dauroh Bersama Masyayikh

    3. Mengetahui jalan yang benar (معرفة الطريق الصحيح)

    Pepatah arab mengatakan:

    تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا  ۞  إِنَّ السَّفِيْنَةَ لَا تَجْرِي عَلَى اليَبَس

    Engkau menginginkan kesuksesan namun tak menempuh jalannya,
    Sesungguhnya kapal itu tidak berlayar di daratan,

    Maka kesuksesan tidak mungkin dicapai kecuali dengan menapakai jalan menujunya. Sejauh mana ia mengetahui jalan menuju kesuksesan secepat itu pula ia akan sampai pada kesuksesan.

    4. Teman yang tepat (اختيار الصحبة الصالحة).

    Siapa yang menyangka bahwa Abdurrahman bin Muljam, pembunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib dahulunya adalah seorang ahli ibadah. Bahkan pada saat Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah beliau mengirim Abdurrahman bin Muljam untuk mengajarkan Alquran kepada penduduk Mesir.

    Hal tersebut berubah ketika ia menikahi perempuan Khawarij. Ia menyangka bahwa dirinya tak akan terpengaruh dengan keyakinan si wanita. Namun ternyata ia menjadi seorang Khawarij bahkan menjadi “pahlawan” bagi mereka dengan membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib.

    Begitulah perjalanan seseorang menuju kesuksesan. Tidak ada sesuatu yang paling mempengaruhi seseorang kecuali kondisi teman dekatnya. Maka kesuksesan akan diraih dengan selektif memilih teman yang dapat mengantarkan kepada kesuksesan.

    Baca Juga:
    – 
    Kerjasama Dengan STIUWM Walikota Padang Buka Pelatihan Guru Al-Qur’an
    – Ketua Yayasan ICWM Dapatkan Sanad Al-Qur’an Di Madinah

    5. Muhasabah (محاسبة).

    Siapa yang tidak kenal Dr Thariq Suwaidan? Beliau merupakan penulis, motivator dan trainer manajemen yang sangat terkenal di Timur Tengah. Beliau juga merupakan bos dari perusahan-perusahaan besar.

    Namun siapa sangka ternyata di balik kesuksesan tersebut, beliau pernah mengalami banyak kegagalan. Beliau mengatakan bahwa ada kurang lebih seratus perusahaan yang pernah beliau dirikan. Namun dari jumlah tersebut ada tiga puluh perusahaan yang bangkrut dan gagal.

    Beliau mengatakan rahasia suksesnya tujuh puluh perusahaan sisanya adalah hasil dari evaluasi kegagalan sebelumnya. Maka kesuksesan adalah evaluasi dari kegagalan yang pernah terjadi. Setiap kali kegagalan menimpa jangan pernah putus asa dan menyerah. Jadikan kegagalan sebagai pelajaran. Dengan begitu kesuksesan akan diraih dengan izin Allah. Wallahu ta’ala a’lam//Al.C

    *Dirangkum oleh Ustadz Irsyad Husnul Hidayat Hafizhahullah Ta’ala saat Kajian Shubuh, Rabu (29/03/2023)

  • Liqo’ Maftuh Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak

    Liqo’ Maftuh Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak

    Perasaan bahagia menyelimuti seluruh mahasiswa, dan para asatidzah Islamic Center Wadi Mubarak.

    Pasalnya pada Kamis (1/12/2022) dapat mendengarkan kembali nasehat-nasehat dan pencerahan pada Liqo’ maftuh bersama pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak Bogor, KH. Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I., setelah sekian lama kegiatan ini belum bisa terlaksana dikarenakan kesibukan beliau.

    Liqo’ Maftuh merupakan pertemuan terbuka antara pimpinan dengan seluruh civitas ICWM yang terdiri dari pengurus dan para mahasiswa baik ikhwan maupun akhwat. Selain berisi nasihat dari Pimpinan, Liqo’ Maftuh juga berisi tentang informasi lembaga yang selayaknya diketahui oleh para civitas secara umum.

    Berlangsung setelah menunaikan salat maghrib, para mahasiswa dan asatizah berkumpul di masjid Jami Islamic Center Wadi Mubarak untuk mendengarkan nasehat dan informasi kelembagaan yang akan disampaikan oleh pimpinan.

    Baca Juga: 
    – Prof. Sahya Anggara Isi Kuliah Umum: Tantangan Dakwah Sarjana Muslim Di Era Society 5.0
    – 12 Mahasiswa STIU-WM Dianugerahi Sanad Al-Qur’an
    – Tutup Daurah Huffazhul Wahyain; 3 (Tiga) Mahasiswa STIU-WM Dapatkan Umroh Gratis

    Di awali dalam penyampaiannya, beliau menitik beratkan pada poin keistimewaan ahlul quran dan orang-orang yang mempelajari ilmu agama.

    Karena pada hakikatnya, yang mempelajari ilmu Al-Qur’an dan ilmu agama, memiliki banyak keistimewaan dan keunggulan daripada yang hanya sekedar mengejar dan mempelajari ilmu dunia saja.

    Banyak sekali disebutkan kisah orang-orang yang notabene dapat mencapai puncak karir nya, pun di akhir hidupnya ataupun di masa tuanya menyesal karena tidak dapat mempelajari Al-Qur’an dan agama.

    Maka barangsiapa yang telah Allah ﷻ  berikan kemudahan untuk belajar ilmu agama ini, hendaknya bersyukur dan mempergunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya dalam menuntut ilmu.

    Meluruskan dan menata niat juga menjadi topik yang disampaikan pada Liqo’ maftuh ini. Karena pada hakikatnya, semua kesuksesan dunia yang dapat diraih, merupakan kesuksesan semu belaka yang akan sirna dengan datangnya kematian.

    Allah ﷻ telah menyebutkan kaidah kesuksesan yang sebenarnya dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 185:

    فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ ١٨٥

    “Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”

    Maka setiap muslim menjadikan akhirat sebagai tolak ukur utama dalam menggapai kesuksesan yang hakiki. Karena dunia tidak lain hanya kesenangan yang sementara.


    Baca Juga:
    – 10 Kiat Sukses Memperbaiki Perilaku Anak, Bag. 2
    – Sukses Menghafal Al-Qur’an Ala Sang Turjumanul Qur’an
    – Wadi Mubarak Qur’anic Camp Di Lembang Bandung

    Visi dan misi serta rancangan kegiatan Islamic Center Wadi Mubarak juga turut beliau sampaikan dalam sesi kali ini. Semua ini sebagai bentuk penyemangat bagi para santri dan Asatidzah agar lebih bersemangat dalam menjalani perannya masing-masing.

    Salah satunya adalah dengan dijajakinya serja sama Islamic Center Wadi Mubarak dengan markaz Maqari’ Quraniyyah di madinah Arab Saudi. Markaz ini merupakan salah satu Markaz yang tersohor dalam bidang qiraat di dunia.

    Juga rencana kedatangan beberapa syekh ahli Qiraat dari timur tengah yang InsyaAllah akan memberikan ilmu dan sanadnya bagi beberapa santri di Wadi Mubarak.

    “Saya berharap antum-antum semua bisa lebih semangat lagi”, tutup Ustadz Didik dalam penyampaiannya.

    Diharapkan apa yang beliau sampaikan dan dicita-citakan oleh segenap pengurus Islamic Center Wadi Mubarak Bogor dapat terealisasi dan terwujud dengan baik kedepannya, Aamiin.

    Penulis: Faros Nur Muhammad /UKM Mushaf STIU-WM

  • Sukses Menghafal Al-Qur’an ala Sang “Turjumanul Qur’an”

    Sukses Menghafal Al-Qur’an ala Sang “Turjumanul Qur’an”

    Betapa banyak orangtua yang mendambakan anaknya dapat menghafal al-Qur’an. Pun banyak orang beragam usia sangat ingin bisa menghafalkannya.

    Bahkan seorang Profesor pernah berujar, “Saya menyesal mengapa dulu tidak menghafalkan seluruh isi al-Qur’an”. Demikianlah mulianya al-Qur’an hingga akan menjadi penyesalan bagi mereka yang tidak menghafalkan.

    Namun, menghafal seperti apa yang baik, dan bagaimana cara terbaik menghafal al-Qur’an?

    Mari kita belajar dari sahabat Nabi; Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang bergelar “Turjumanul Qur’an” (Penerjemah al-Qur’an).

    Ibnu Mas’ud berkata, “Sebaik-baik penafsir al-Qur’an adalah Ibnu Abbas. Andaikan usianya seperti kita maka tidak ada orang yang ilmunya setingkat beliau.” (Al-Itqan, 2:493).

    Baca Juga: 
    – Prof. Sahya Anggara Isi Kuliah Umum: Tantangan Dakwah Sarjana Muslim Di Era Society 5.0
    – 12 Mahasiswa STIU-WM Dianugerahi Sanad Al-Qur’an
    – Tutup Daurah Huffazhul Wahyain; 3 (Tiga) Mahasiswa STIU-WM Dapatkan Umroh Gratis

    Lantas bagaimana kiat sukses menghafal al-Qur’an menurut sang “Turjumanul Qur’an”? Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

    نحن نحفظ في اليوم خمس آيات و لا نجاوزهن حتي نعلم تفسيرهن
    فسيأتي أقوام يحفظون القرآن كله لا يعملون به يقيمون حروفه و لا يقيمون حدوده

    “Kami menghafalkan Al Qur’an dalam sehari sebanyak lima ayat dan kami tidaklah menambah lebih dari itu sampai kami menguasai tafsir ayat-ayat tersebut.
    Sungguh akan datang kaum dimana mereka menghafalkan Al Qur’an seluruhnya, namun mereka tidak mengamalkannya. Mereka begitu mantap menguasai huruf-hurufnya, namun mereka tidak memahami aturan-aturan dalam Al Qur’an.”

    Baca Juga:
    –
    10 Kiat Sukses Memperbaiki Perilaku Anak
    – Sesi 2 Penyaluran Bantuan Penyintas Gempa Cianjur

    Perkataan Ibnu ‘Abbas di atas menggambarkan beberapa kiat dalam menghafal al-Qur’an:

    1. Hafalkan sedikit demi sedikit kadar 5 ayat (sesuai kemampuan, pen)
    2. Membaca tafsir atas ayat-ayat yang tengah dihafal.
    3. Mentadabburinya dan mengambil faidah untuk diamalkan.
    4. Fokus pada hukum bacaan dan kandungan maknanya.

    Inilah rahasia sukses menghafal al-Qur’an ala sang “Turjumanul Qur’an”. Mari kita mulai hari ini menghafal al-Qur’an atau murojaah sedikit demi sedikit dan dilengkapi dengan pemahaman yang baik akan isinya. Moga dengan cara demikian kita mampu menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan.

    Ditulis oleh: Abu Musa, Agus Fadilla Sandi

  • Wasiat Syaikh Dr. Ahmad Sholih An-Naqib: Wirid Ahlul Qur’an

    Wasiat Syaikh Dr. Ahmad Sholih An-Naqib: Wirid Ahlul Qur’an

    Jumat (30/09) Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak (STIU-WM) kedatangan seorang tamu spesial. Beliau adalah Syaikh Dr. Ahmad Sholih An-Naqib hafidzahullahu ta’ala dari Arab Saudi berdarah Yaman.

    Kedatangan beliau ke Islamic Center Wadi Mubarak (ICWM) untuk yang pertama kali ini merupakan kedatangan shilaturrahim antara beliau dengan lembaga-lembaga di Indonesia.

    Syaikh Naqib, menyelesaikan program doktoralnya di Universitas Islam Madinah jurusan Tafsir Al Qur’an pernah mengabdikan diri pada almamaternya tersebut dengan mengajar mata kuliah tafsir di fakultas syari’ah.

    Baca Juga:
    – Perdana Dan Istimewa: Wadi Mubarak Mewisuda 363 Penghafal Al-Qur’an

    – Syaikh Prof. Dr. Thoriq Bin Abdullah Hajjar Kunjungi STIU-WM
    – Tutup Daurah Huffazhul Wahyain; 3 (Tiga) Mahasiswa STIU-WM Dapatkan Umroh Gratis
    – Nasihat Dr. Isa Al-Masmali Di Hadapan Mahasiswa STIU-WM

    Saat kunjungan Jum’at kemarin, tak enggan pula beliau didapuk menjadi khotib di Masjid Jami’ Wadi Mubarak. Salah satu pesan yang beliau sampaikan ialah “Mengisi usia muda dengan banyak kebajikan, karena umur akan diminta pertanggungjawabannya. Terlebih usia muda.”

    Pada keesokan harinya, Sabtu (01/10) selesai pelaksanaan Shalat Shubuh beliau memberikan beberapa nasihat untuk mahasiswa/i STIU-WM yang berkaitan dengan al-qur’an.

    Nasihat ini berkaitan erat dengan aktivitas-aktivitas yang ada di lingkungan Islamic Center Wadi Mubarak.

    Beliau mengawali nasihat dengan menyebutkan hadist Nabi ﷺ : “Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.” Beliau menyebutkan hadist ini dengan berbagai riwayatnya lalu memberikan penjelasan dan motivasi kepada para mahasiswa/i.

    Baca Juga:
    – Korwil TAUD SaQu Aceh Adakan Seminar Nasional Quranic Parenting
    – Pimpinan ICWM Isi Materi Seminar Ketahanan Keluarga Di Aceh 

    – ICWM Rilis Buku 25 Kiat Agar Anak Cinta Al-Qur’an

    Selain itu beliau juga menyebutkan wasiat-wasiat bertajuk washaayaa lii ahlil qur’an (wasiat untuk para ahlul qur’an).

    Wasiat pertama yang beliau sampaikan adalah hendaknya untuk para ahli quran senantiasa mengintropeksi niat mereka. Yaitu ikhlas karena Allah ﷻ.

    Wasiat yang kedua, yaitu diantara yang selalu diwasiatkan untuk para ahlul qur’an adalah taqwa.
    “Sesungguhnya kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan yang selalu bersama al-qur’an” ujar beliau.

    Baca Juga: 
    – 4 (Empat) Pengajar ICWM Tadrib Sanad Di Kota Suci Madinah Al-Munawwarah
    – Syaikh Abdullah Bin Muhammad Al-Jarullah Berkunjung Ke ICWM
    – 12 Mahasiswa STIU-WM Dianugerahi Sanad Qira’ah

    Setelah menyampaikan wasiat, beliau pun memberikan nasihat. “Hendaknya seorang manusia itu memiliki wirid-wirid al-quran. Mulailah sedikit demi sedikit.”

    Beliau menyebutkan wirid-wirid itu dari wirid yang terendah sampai wirid yang tertinggi. Adapun wirid itu ialah: wirid tilawah, wirid hifdz, wirid muraja’ah, wirid istima’, wirid diraasah, wirid mudarrasah serta wirid tadabbur Al-Qur’an.

    Tak hanya itu, beliau pun menegaskan kepada para ahlul quran untuk tidak boleh meninggalkan bacaan al-quran selama hidupnya.//

    Penulis: Faros Nur Muhammad/UKM Mushaf STIU-WM
    Editor: Al.Choer

  • Nasihat Dr. Isa Al-Masmali Di Hadapan Mahasiswa STIU-WM

    Nasihat Dr. Isa Al-Masmali Di Hadapan Mahasiswa STIU-WM

    Senin (22/8) Syaikh Dr. Isa bin Muhammad bin Isa Al Masmali, Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Ummul Qura Makkah Mukarramah datang berkunjung ke Islamic Center Wadi Mubarak (ICWM) Megamendung Bogor.

    Kunjungan beliau ke ICWM merupakan kunjungan muhibah untuk yang kesekian kalinya. Bagi para da’i Asia Tenggara, nama beliau tidaklah asing lagi karena beliau tercatat sebagai pembina Rabithah Ulama wa Du’at Janub Syarqi Asia (Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara).

    Kunjungan beliau ke ICWM layaknya kunjungan orangtua kepada anak-anaknya yang sedang menuntut ilmu. Lain dari itu beliau pun pernah mengirim 2 putranya untuk ikut ‘nyantri’ di ICWM.

    Dihadapan para mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak (STIU WM), Syekh Isa memberikan beberapa nasihat. Beberapa nasihat beliau adalah:

    Baca Juga:
    –
     Syaikh Prof. Dr. Thoriq Bin Abdullah Hajjar Kunjungi STIU-WM
    – Tutup Daurah Huffazhul Wahyain; 3 (Tiga) Mahasiswa STIU-WM Dapatkan Umroh Gratis
    – Mukernas III TAUD SaQu 2022 
    – Perdana Dan Istimewa: Wadi Mubarak Mewisuda 363 Penghafal Al-Qur’an

    Bersyukur

    Agar para mahasiswa selalu bersyukur kepada Allah ﷻ atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada mereka karena tidak semua orang dapat mengenyam pendidikan terkhusus pendidikan dalam menghafal Al-Qur’an.

    Ikhlas

    Dalam menuntut ilmu harus dibarengi jiwa ikhlas, yaitu ikhlas karena Allah ﷻ untuk mengangkat kebodohan dari diri sendiri, lingkungan dan umat Islam secara menyeluruh. Tidak terpikat dengan godaan syaitan, riya, sum’ah atau pun ketenaran. Dengan benteng ikhlas itulah syaitan tidak akan bisa menggoda manusia.

    Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ

    Menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai qudwah, yaitu mengikuti apa yang sudah dicontohkan oleh beliau dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya.

    Bersungguh Dalam Beribadah

    Bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah ﷻ dengan cara menuntut ilmu. Karena menuntut ilmu merupakan cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.

    Lain dari itu, beliaupun mengingatkan para mahasiswa untuk tetap menjaga zikir kepada Allah ﷻ, terkhusus zikir setiap pagi sore. Hal ini dikarenakan dengan berzikir akan menguatkan ruh manusia dan zikir adalah santapan ruhani bagi para penuntut ilmu dimana pun berada.

    Tak lupa pula beliau pun berpesan agar para mahasiswa dapat mengambil faedah dari perkataan ulama dan bisa mengambil hikmah kebaikan dari setiap hal yang terjadi.//

    Dirangkum oleh: Ustadz Muhammad Fathurrahman Hamidi
    Foto: Mujiyanto
    Editor: Al.Choer

  • 9 (Sembilan) Keutamaan Shalat Subuh Berjamaah (Bag. 2)

    9 (Sembilan) Keutamaan Shalat Subuh Berjamaah (Bag. 2)

    6. Menjadi sebab dapat melihat Wajah Mulia Allah di Surga

    Diriwayatkan dari Jarir bin Abdillah ra, ketika suatu malam, saat Rasulullah ﷺ bersama para sahabat memandang bulan purnama, beliau berkata:

    أمَا إنَّكم ستُعرَضونَ على رَبِّكم عزَّ وجلَّ، فتَرَونَهُ كما تَرَوْنَ هذا القَمَرَ، لا تُضامونَ فيه، فإنِ استَطَعتُم ألَّا تُغلَبوا على صَلاةٍ قَبلَ طُلوعِ الشَّمسِ وقَبلَ غُروبِها، فافعَلوا، ثم قرَأَ {وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا} [طه: 130]

    “Sesungguhnya kalian akan dihadapkan kepada Allah ﷻ maka kalian pun akan melihat-Nya sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan merasa sulit untuk melihat-Nya. Oleh karena itu jika kalian mampu untuk tidak melalaikan sholat sebelumnya terbitnya matahari (Subuh) dan sholat sebelum matahari terbenam (‘Ashar} maka lakukanlah!” Kemudian beliau membaca Surah Thaha ayat 130 “Bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam“
    (HR. Bukhori Muslim)

    Baca Juga Liburan Berkualitas Dengan Nuansa Qur’ani

    7. Mendapatkan Pahala Besar

    Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin ra, Bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

    ركْعَتَا الفجْرِ خيرٌ من الدنيا وما فِيها

    “Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan apa yang ada di dalamnya”
    (HR. Muslim)

    Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad, mengatakan yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Sunnah Fajar. Jika ini adalah pahala Sunnah, Lalu bagaimana dengan pahala shalat wajib, mana yang lebih dicintai Allah ﷻ?

    8. Pahala sholat malam

    Nikmat lain yang Allah berikan kepada orang yang melaksanakan sholat shubuh dan isya berjamaah adalah pahala sholat sepanjang malam. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ dari Utsman bin ‘Affan ra:

    من صلَّى العِشَاءَ في جماعةٍ فكأنَّما قام نصفَ الليلِ ومن صلَّى الصبحَ في جماعةٍ فكأنَّما صلَّى الليلَ كلَّهُ

    “Barang siapa yang shalat Isya’ berjamaah, seolah-olah dia shalat setengah malam, dan siapa yang shalat subuh berjamaah, seolah-olah ia telah shalat sepanjang malam”.
    (HR. Muslim)

    Baca Juga Anak: Investasi Berharga Orang Tua

    9. Keluar dari sifat Munafik

    Sholat Subuh berjamaah merupakan tanda keimanan dan kecintaan kepada Allah ﷻ. Jika seorang hamba bangun dari tidurnya di tengah malam, meninggalkan tempat tidurnya, bangun dan berwudhu lalu keluar dari rumahnya ke masjid meskipun banyak kesulitan dalam mengerjakan semua itu, hal tersebut menunjukkan bahwa ia lebih cinta dan tunduk kepada Allah ﷻ dari apapun. Lebih mencari keridhaan-Nya dengan bersusah payah. Tentu hal ini bertentangan dengan sifat orang munafik yang dengan sembunyi-sembunyi berusaha tidak tunduk kepada-Nya.

    Sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan Abu Hurairah ra:

    إنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ علَى المُنَافِقِينَ صَلَاةُ العِشَاءِ، وَصَلَاةُ الفَجْرِ، ولو يَعْلَمُونَ ما فِيهِما لأَتَوْهُما ولو حَبْوًا، وَلقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بالصَّلَاةِ، فَتُقَامَ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فيُصَلِّيَ بالنَّاسِ، ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي برِجَالٍ معهُمْ حُزَمٌ مِن حَطَبٍ إلى قَوْمٍ لا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ، فَأُحَرِّقَ عليهم بُيُوتَهُمْ بالنَّارِ

    “Sholat yang dirasakan berat bagi orang-orang munafik adalah sholat Isya dan sholat subuh, sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga sholat didirikan, kemudian kusuruh seseorang dan dia mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar untuk menjumpai suatu kaum yang tidak menghadiri sholat, lantas aku bakar rumah mereka.”
    (HR Muslim)

    Lain dari itu, faidah dari pelaksanaan sholat subuh berjamaah di masjid merupakan satu bukti seseorang memulai hari tersebut dengan ketaatan kepada Allah ﷻ, Tuhan semesta alam.

    Wallahu A’lam

    Penulis: Abu Samudera

    Baca Sebelumnya 9 (Sembilan) Keutamaan Shalat Subuh Berjamaah (Bag. 1)

    🏆 Informasi Pendaftaran Santri Baru👇
    Informasi Pendaftaran Islamic Center Wadi Mubarak Tahun 2022-2023

  • 9 (Sembilan) Keutamaan Shalat Subuh Berjamaah (Bag. 1)

    9 (Sembilan) Keutamaan Shalat Subuh Berjamaah (Bag. 1)

    Shalat Subuh merupakan salah satu sholat dari lima waktu yang telah diwajibkan Allah ﷻ kepada umat Islam. Tidak ada perselisihan umat mengenai kewajiban ini. Dilakukan pada saat fajar sampai menjelang matahari terbit sebanyak 2 (dua) rakaat dan lebih utama adalah dilakukan berjamaah di masjid.

    Banyak umat Islam tetap menjaga sholat 5 waktu namun tidak sedikit yang meremehkan pelaksanaan sholat subuh berjamaah di masjid. Bahkan ada yang meremehkannya hingga melaksanakan sholat subuh setelah terbit matahari atau melaksanakannya saat akan berangkat kerja atau beraktifitas lainnya seperti ke sekolah.

    Allah ﷻ mendudukan shalat shubuh dengan kedudukan yang lebih besar di banding ke-empat shalat lainnya. Yaitu dari segi pahala yang ditingkatkan lebih besar bagi yang melaksanakannya.

    Baca Juga 3 (tiga) Nasihat Mengisi Bulan Rajab

    Salah satu penyebabnya adalah waktu yang sangat sedikit dan saat suasana masih gelap malam. Saat ini adalah saat yang ternikmat untuk tetap istirahat dan tidur. Terutama saat cuaca dingin menjadikan rasa malas akan bertambah dan menjadikan tidur berselimut semakin menggoda.

    Dalam adzan subuh, ada penambahan kalimat: “Ash-Sholatu khoirun min al-naum” Sholat itu lebih baik dari pada tidur, menjadikannya penyebab perbedaan antara kebanyakan manusia. Dan merupakan ujian keimanan. Maka barangsiapa yang lulus ujian ini akan diberikan hadiah yang besar di dunia dan di akhirat.

    1. Mendapatkan Cahaya yang sempurna di Hari Kiamat

    Allah ﷻ mengganjar mereka yang berjalan dalam kegelapan untuk shalat dengan cahaya yang akan mereka temukan pada Hari Kebangkitan. Sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Buraidah Bin Hushaib Al-Aslami ra:

    بشِّرِ المشَّائينَ في الظُّلَمِ إلى المساجِدِ بالنورِ التامِّ يومَ القيامَةِ

    “Berilah kabar gembira kepada para pejalan kaki di saat gelap gulita menuju masjid-masjid yaitu dengan (mendapatkan) cahaya yang sempurna kelak di hari kiamat”
    (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

    Simak Qur’anic Parenting Memahami Perubahan Sikap Anak

    2. Mendapatkan Penjagaan Allah swt:

    Dalam sahih Muslim yang diriwayatkan oleh Jundub bin Abdillah ra, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

    …. مَن صَلَّى الصُّبْحَ فَهو في ذِمَّةِ اللهِ

    “Barang siapa yang melaksanakan shalat Subuh maka dia berada dalam jaminan Allah…”
    (HR. Muslim)

    3. Disaksikan para malaikat

    Dari Abu Hurairoh ra, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

    يتعاقبون فيكم ملائكةٌ بالليلِ، وملائكةٌ بالنهارِ، ويجتمعون في صلاة الفجرِ، وصلاةِ العصرِ . ثم يعرج الذين باتوا فيكم، فيسألهم وهو أعلم بهم، كيف تركتُم عبادي ؟ فيقولون : تركناهم وهم يصلون، وأتيناهم وهم يصلونَ

    “Di antara kalian ada malaikat yang bergantian pada waktu malam dan siang, mereka berkumpul ketika sholat fajar (Subuh) dan sholat Ashar.” Lantas malaikat malam naik dan Tuhan mereka menanyai mereka (meskipun Allah paling tahu terhadap mereka): “Bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?”. Jawab para malaikat, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sholat, dan kami datangi mereka juga dalam keadaan sholat.“
    (HR. Bukhori dan Muslim)

    Alangkah indahnya kesaksian para malaikat ini. Kesaksian di hadapan Allah ﷻ atas mereka yang menjaga shalat di dua pergantian waktu.

    Baca Juga Bercanda Tapi Bohong, Hati-Hati!

    4. Ayat Al-Qur’an Yang Dibaca saat Shalat Subuh menjadi saksi

    Allah ﷻ berfiman:

    أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيْلِ وَقُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

    “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya Al-Qur’an (yang dibacakan) saat shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)
    (QS. Al-Isra’ 78)

    5. Jalan Masuk Surga

    Mendirikan shalat subuh berjamaah tepat waktu disertai shalat ashar tepat waktu adalah salah satu alasan dimasukan ke dalam surga. Sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-‘Asy’ari ra:

    مَن صَلَّى البَرْدَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ

    “Barangsiapa shalat dua bardain (subuh dan ashar) akan masuk surga”
    (HR. Bukhori, Muslim)

    Dan dalam Sahih Muslim juga disebutkan, sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan ‘Umarah bin Ruwaibah ra:

    لن يَلِجَ النارَ أحَدٌ صَلَّى قبْلَ طُلوعِ الشمسِ وقبْلَ غُروبِها

    “Tidak masuk neraka orang yang mendirikan shalat sebelum matahari terbit (subuh) dan terbenam (‘ashar)”

    Bersambung Bag. 2 Menjadi Sebab Dapat Melihat Wajah Mulia Allah di Surga

    🏆 Informasi Pendaftaran Santri Baru👇
    Informasi Pendaftaran Islamic Center Wadi Mubarak Tahun 2022-2023

  • 3 (Tiga) Nasihat Mengisi Bulan Rajab

    3 (Tiga) Nasihat Mengisi Bulan Rajab

    Menjelang malam tanggal 1 Rajab 1443 H. Salah seorang pembimbing tahfizh Islamic Center Wadi Mubarak Syekh Muhammad bin Yusri mengingatkan jama’ah akan keutamaan bulan Rajab.

    Bertempat di Masjid Wadi Mubarak beliau memberikan beberapa nasihat kepada para jamaah bahwa malam ini telah masuk Bulan Rajab. Bulan yang terletak di antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban. Dan merupakan salah satu bulan haram sebagaimana telah disebutkan dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:

    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

    ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”
    (QS. At Taubah: 36)

    Baca Juga Pelepasan Peserta Kuliah Kerja Nyata STIU-WM Tahun 2022

    Adapun empat bulan haram (suci) yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab. sedangkan Rajab bulan tersendiri dibanding 3 bulan haram lainnya yang berurutan.

    Sabda Nabi saw saat Haji Wada’ sebagaimana disampaikan dari Abu Bakroh Nafi’ bin Harits ra:

    أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم خَطَب في حجَّتِه، فقال: إنَّ الزَّمانَ قد استدار كهيئتِه يومَ خَلَق اللهُ السَّمواتِ والأرضَ، السَّنةُ اثنا عَشَرَ شَهرًا، منها أربعةٌ حُرُمٌ، ثلاثٌ متوالياتٌ: ذو القَعْدةِ، وذو الحِجَّةِ، والمحَرَّمُ، ورَجَبُ مُضَرَ الذي بين جُمادى وشَعبانَ

    “Dan sesungguhnya waktu itu beredar menurut aturannya yaitu saat Allah menciptakan langit dan bumi, dan sesungguhnya bilangan bulan (qamariyah) dalam satu tahun itu ada dua belas bulan di antaranya ada empat bulan haram. Tiga bulan berurutan dan bulan Rajab tergabung (dengan bulan Sya’ban yang kadang-kadang disebut Rajabani) diantara bulan Jumada (akhirah) dan Sya’ban.”
    (HR. Bukhori: 4406, Muslim: 1679 dan Abu Daud:1947)

    Baca Juga Menjadi Pendidik Yang Positif

    Beberapa nasehat yang beliau sampaikan, antara lain:

    1. Hendaknya seseorang menjauhi dirinya dari berbuat dzholim.

    Hal inilah yang secara tegas Allah larang lakukan di bulan haram. Baik zholim kepada diri sendiri terlebih kepada orang lain. Dan dari bentuk kedzholiman yang sangat patut dihindari adalah dzholim kepada sesama manusia. Maka dari itu, meminta maaflah jika ada salah dan jauhilah diri dari perbuatan ghibah (menggunjing orang lain), namimah (mengadu domba orang lain), tajassus (memata-matai orang lain), dan perbuatan lain yang dilarang syari’at.

    2. Jangan bermaksiat.

    Bermaksiat di bulan haram dosanya berlipat. Orang yang bermaksiat akan terbelenggu dengan dosanya, sehingga ia berat untuk taat dan ia pun akan berat meninggalkan kemaksiatan tersebut.

    3. Hendaknya setiap orang latihan beramal sholeh.

    Para salaf terdahulu mengatakan bahwa Rajab adalah “Bulan Menanam” dan Ramadhan “Bulan Memanen“. Karenanya, mulailah berpuasa sunnah, menjaga sholat lima waktu, membaca Al-Qur’an, dan lain sebagainya dari perbuatan sholeh. Sehingga saat memasuki Ramadhan, setiap kita dapat merasakan nikmatnya iman dan khusyu’ dalam beribadah.//AFS

    Editor: Al.Choer

    🏆 Informasi Pendaftaran 👇
    Informasi Pendaftaran Islamic Center Wadi Mubarak Tahun 2022-2023