Kategori: Tausiyah

  • Menjadi Pendidik Yang Positif

    Menjadi Pendidik Yang Positif

    Kajian Parenting Islamic Center Wadi Mubarak: Menjadi Pendidik yang Positif

    Hafal Al-Quran juga hadits saja tidaklah cukup untuk menjadi pendidik atau orang tua yang baik. Hal ini disadari betul oleh pengasuh, KH. Dr. Didik Hariyanto, Lc. M.P.I., sehingga beliau merasa perlu secara rutin melakukan kajian parenting bagi seluruh sivitas Islamic Center Wadi Mubarak.

    Berikut adalah beberapa catatan penting dalam kajian beliau.

    Parenting Butuh Ilmu

    Parenting bisa jadi sebuah kemampuan yang tidak secara khusus ada jenjang pendidikannya. Tidak seperti menyiapkan seorang dokter, misalnya. Meski begitu, parenting adalah peran yang akan dijalani setiap manusia yang sudah berkeluarga. Tentu saja ini butuh ilmu.

    Setiap asatidz, juga santri sangat perlu untuk menyiapkan diri sebagai orang tua yang baik. Persiapan ini salah satunya dengan ilmu. Tanpa ilmu ini, bisa jadi seorang sukses dan terkenal, tidak suskses menjadi orang tuanya ketika anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang bermasalah. Singkatnya, perlu ilmu untuk melahirkan generasi unggul, baik di rumah maupun di sekolah.

    Baca Juga: Umat Islam Yang Diumpamakan Seperti Jeruk

    Memiliki generasi unggul berarti kita punya jariyah. Punya anak yang sholeh yang mendoakan kita. Punya murid yang sukses yang mendoakan kita.

    3 Tipe Parenting

    Jika dikelompokkan, ada 3 jenis pengasuhan atau pendidikan anak atau peserta didik:

    Pertama, Tipe pemadam kebakaran.

    Ada yang menghitung dan berpendapat mungkin ada sekira 70% pendidik seperti ini.

    Pendidik ini bersikap reaktif ketika mendapati anak atau peserta didiknya bermasalah. Mereka tidak antisipastif. Mereka sejak awal tidak berorientasi dan kurang memperhatikan bagaimana cara membangun pribadi yang tidak bermasalah.

    Kedua, Tipe pawang/penjinak.

    Seakan-akan anak itu sama dengan hewan buas. Butuh dijinakkan.

    Banyak orang tua berharap memiliki anak yang penurut. Banyak sumber bahkan menjelaskan bagaimana cara membentuk anak penurut.

    Dalam Islam, harapan ini tidak sepenuhnya tepat bahkan bisa berdampak pada pembunuhan karakter dan jiwa anak. Fitrah anak khususnya usia dini tidaklah demikian.

    Baca Juga: Graha Quran Online Angkatan 3

    Orang tua yang mendidik anak-anaknya dengan menuntut anaknya menjadi penurut bahkan sejak usia dini masuk tipe orang tua pawang.

    Dalam beberapa kasus, model pendidikan ini malah berdampak terbalik. Alih-alih mencetak pribadi yang baik dan hormat, malah melahirkan jiwa yang memberontak ketika ada kesempatan. Ia kelak akan mengharap orang lain bersikap penurut padanya dengan cara apapun. Berjiwa preman.

    Ketiga, Pendidik yang positif.

    Pendidik yang positif sangat tergantung pada kemampuannya membangun hubungan yang positif. Baik dengan pasangan, maupun dengan anak. Dalam konteks lingkungan sekolah, hubungan ini berlaku antarsivitas akademika.

    Membangun hubungan positif sangat tergantung pada pandangan yang positif. Pandangan positif inilah yang mempengaruhi bagaimana orang tua atau pendidik melihat obyek didik. Anak dan peserta didik.

    Salah satu cara membangun hubungan yang positif adalah dengan membangun budaya saling menasihati. Budaya ini penting dibangun dalam pola parenting kita. Terhadap pasangan, juga anak.

    Salah satu indikator parenting positif juga ketika kita tidak bersikap gila hormat. Misal, seorang suami dari istrinya. Orangtua dari anaknya.

    Baca Juga: Pendaftaran PG TAUD Angkatan XV

    Dalam konteks pendidikan di sekolah, sikap tidak positif adalah ketika seorang dosen atau musyrif merasa berhak mendapat penghormatan yang berlebihan.

    Padahal, ketimbang mengharapkan hormat, seorang guru harus kebih mengingat untuk harus selalu mencurahkan perhàtian dan kasih sayang terhadap peserta didiknya. Demikian juga dalam konteks berkeluarga.

    Ciri pendidikan positif berikutnya adalah ketika seorang pendidik atau orang tua lebih fokus pada penguatan pribadi dan karakter.

    Dibanding mendidik anak penurut tapi rapuh jiwanya, pendidik positif akan membangun kepercayaan terhadap anak atau peserta didiknya sehingga terbangun jiwa yang kuat.

    Pendidik positif akan melatih anak atau peserta didiknya untuk bertanggungjawab terhadap sesuatu. Hal ini mungkin dilakukan karena membangun kepercayaan menjadi salah satu faktor dalam membangun hubungan positif. Dengan pengalaman menanggung beban atau tanggung jawab, seorang anak atau peaerta didik bisa memiliki karakter dan jiwa dan kuat.

    4 Pondasi Parenting Positif

    Selain penjelasan 3 tipe pendidik di atas, pengasuh juga menjelaskan tentang 4 pondasi penting yang harus tegak dibangun untuk menjalankan kepengasuhan atau pendidikan yang positif.

    Pertama, membangun koneksi atau hubungan yang positif.

    Kedua, membangun kepercayaan.

    Ketiga, pengembangan karakter positif.

    Empat, perbaikan karakter negatif atau buruk.

    Dari 4 pondasi ini, hal yang paling besar adalah kemampuan membangun hubungan yang positif.

    Bayangkan, ketika hubungan yang positif ini tidak terbangun. Anak atau peserta didik curiga pada guru atau orang tuanya. Orang tua dan guru tidak percaya pada anak dan peserta didiknya. Situasi ini tentu hanya akan melahirkan lingkungan pendidikan yang buruk, baik di sekolah maupun di rumah.

    Setidaknya terdapat 8 cara yang bisa diupayakan untuk mengembangkan hubungan positif ini. Insyaallah akan dibahas oleh pengasuh di sesi kajian parenting berikutnya. (ARH)

    Editor: Al.Choer

  • Umat Islam Yang Diumpamakan Seperti Jeruk

    Tidak ada suatu nikmat yang Allah ﷻ berikan kepada setiap hamba-Nya selain nikmat untuk bisa dekat dengan al-Qur’an. Karena betapa banyak umat Islam yang ingin mendedikasikan dirinya untuk bisa dekat dengan al-Qur’an namun belum diberikan nikmat ini oleh Allah.

    Makna ‘Dekat’ disini bukanlah karena jarak, melainkan dekat karena bisa terus membacanya, mentadabburinya, menghafalnya, serta mengamalkannya. Sebagaimana Rasulullah bersabda yang disampaikan oleh Abu Musa al-Asy’ari ra:

    مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الأُتْرُجَّةِ؛ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ, وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ؛ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ, وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ؛ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ, وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

    “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur’an adalah seperti buah utrujjah, baunya sedap dan rasanya pun lezat. Sedang orang mukmin yang tidak membaca al-qur’an adalah seperti buah kurma, tidak berbau tetapi rasanya manis. Adapun orang munafiq yang membaca Al Qur’an adalah seperti buah raihanah, baunya harum, namun rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafiq yang tidak membaca al-qur’an adalah seperti buah hanzhalah, tidak berbau dan rasanya pahit.” (HR. Bukhori; 5427 dan Muslim; 797)

    Baca Juga: Pendaftaran PG TAUD SAQU Angkatan XV

    Ustadz Dr. Didik Hariyanto., Lc., M.P.I menjelaskan apa itu Utrujjah. Beliau menuturkan bahwa Utrujjah adalah sejenis buah Jeruk yang teksturnya lembut, aromanya harum, rasanya manis dan menggugah selera. Begitulah perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an.

    Secara kejiwaan ia akan memiliki aura yang baik dan positif. Namun seorang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an, ia seperti kurma yang manis namun tidak beraroma harum. Kepribadiannya tetap baik namun tidak sebaik-sebaik golongan orang yang totalitas memberikan waktunya untuk al-Qur’an.

    Ilustrasi dari hadits di atas di atas telah memberikan pesan kuat bahwa membaca al-Qur’an dengan intensitas tertentu dapat mempengaruhi kualitas kepribadian seseorang, sehingga semakin sering membaca al-Qur’an, akan semakin terasa nyata al-Quran menjadi ruh di dalam kehidupannya.

    Baca Juga: Pendaftaran Graha Qur’an Online Angkatan 3

    Dapat dipahami bahwa umat Islam yang diumpamakan seperti kurma ini adalah orang-orang yang secara individual memiliki kualitas kepribadiannya baik, tetapi kesalehan individualnya tidak diimbangi dengan kesalehan sosial, minimnya berinteraksi dengan al-Quran menjadikan hatinya tumpul tidak peka dan kualitas imannya tidak mampu menampilkan rasa empati dan kepedulian sosial.

    Dan penggambaran bagi umat Islam yang seperti Utrujjah ini adalah mereka yang maka seseorang dengan karakter buah ini adalah pribadi yang menyenangkan lahir dan bathin; tampilan lahirnya sama baiknya dengan kondisi hatinya; bukan hanya sholeh secara individu, tetapi juga sholeh secara sosial karena kehadirannya banyak memberikan manfaat bagi manusia lainnya.

    (Ditulis oleh Prince of Al Hambra, disadur dari tausiyah Ustadz Dr Didik Hariyanto. Lc., M.P.I saat Liqo Maftuh)

    Editor: Al.Choer

  • Meraih Cinta Allah Dengan Bekerja

    Meraih Cinta Allah Dengan Bekerja

    (Ditulis Oleh Ibnu Syam, Mahasiswa STIU WM disadur dari liqo maftuh bersama Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I)

    Kemenangan tidak selamanya ditentukan oleh jumlah yang banyak, tidak selamanya karena kekuatan yang besar. Akan tetapi, adakalanya kemenangan itu ada pada pihak yang kecil, jumlah yang sedikit. Tidak kah kita mendengar firman Allah yang mengatakan: 

    كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةًۢ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

    “Sudah berapa banyak dari golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak atas izin Allah.” (QS: Al-baqarah:249)

    Oleh karenanya, jangan hanya sebab fasilitas yang kurang kita berhenti bekerja, jangan hanya karena SDM yang sedikit kita tidak mau berjuang. Ingat! Jumlah yang banyak bukan jaminan untuk menang.

    Lalu bagaimana bisa terjadi kelompok yang sedikit dapat mengalahkan kelompok yang banyak? Itu terjadi jika Allah mencintai kita. Lalu bagaimana caranya Allah mencintai kita? Renungilah hadits Rasulullah ﷺ berikut ini:

    “إن الله يحب إذا عمل أحدكم عملا أن يتقنه.”  أخرجه أبو يعلى والطبراني

    “Sesungguhnya Allah mencintai jika salah satu di antara kalian melakukan sebuah amalan (pekerjaan) lalu menyempurnakannya.” (HR. Abu ya’la dan At-thabari)

    Jadi, salah satu cara untuk meraih cintanya Allah adalah melakukan suatu pekerjaan dengan sungguh-sungguh.

    Baca Juga: Perbuatan Baik Yang Tersembunyi

    Dari hadits di atas, kita dapat mengambil dua pelajaran penting dalam hidup kita. Yang pertama ialah (عمل) bekerja. Dalam menjalani kehidupan ini kita harus bekerja. Umar bin Khattab pernah berkata: “jika ada seseorang yang mengagumkan akan tetapi dia tidak memiliki pekerjaan, maka ia tidak ada apa-apanya di mataku.”

    Dalam melakukan sebuah pekerjaan kita harus istiqomah, yaitu konsisten dalam pekerjaan. konsisten merupakan salah satu kunci kesuksesan. Ia juga merupakan tanda bahwa Allah mencintai pekerjaan yang kita lakukan. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya:

    أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إلَى اللَّهِ ؟ قَالَ ادومها وان قل

    Pekerjaan apakah yang paling dicintai oleh Allah? Beliau menjawab “pekerjaan yang terus-menerus dilakukan walaupun sedikit’ ” (Muttafaqun Alaih)

    Hal yang juga harus selalu kita perhatikan dalam bekerja adalah keikhlasan. Sebab ikhlas adalah salah satu dari dua syarat pekerjaan kita diterima dan bernilai pahala disisi Allah. 

    Baca Juga: Pendaftaran Graha Qur’an Online Angkatan-3

    Lakukanlah pekerjaan dengan penuh rasa cinta, bukan karena benci. Dengan begitu pekerjaan akan lebih ringan dikerjakan. Jangan lupa pula, barengi selalu pekerjaan dengan komitmen dan prinsip. Agar tidak mudah terombang-ambing dengan segala rintangan yang dihadapi.

    Pelajaran yang kedua adalah (اتقان في العمل ) menyempurnakan pekerjaan. Dalam menyempurnakan sebuah pekerjaan setidaknya ada empat kriteria yang harus kita perhatikan. Di antaranya ialah:

    Kerja keras

    Sungguh-sungguh dalam bekerja, memberikan yang terbaik dalam pekerjaan, dan mengerahkan semua kemampuan yang kita miliki merupakan bagian dari kerja keras. Dengarlah slogan orang-orang yang mengatakan: “kerja-kerja-kerja”.

    Kerja Cerdas

    Bekerja dengan ilmu dan skill, terus belajar dan tidak malu belajar dari siapapun, adalah salah satu wujud nyata bahwa kita bekerja dengan cerdas. Ada ungkapan yang mengatakan: “bekerja bukan hanya dengan otot tapi juga harus dibarengi dengan pemikiran matang”.

    Kerja Tuntas

    Jangan berhenti hanya karena pekerjaan yang banyak dan sulit. Tetapi bekerjalah sampai akhir sampai mendapat hasil. Renungilah kata-kata ini: “hasil takkan pernah mengkhianati usaha”

    Kerja Ikhlas

    Niatkan! Semua yang kita lakukan adalah karena Allah. Dengan begitu semua sepak terjang kita dalam bekerja akan bernilai pahala di sisi Allah aza wa jalla. Tadabburilah firman Allah berikut ini: 

    فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ

    “Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatupun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS: Al-Kahfi:110)

    Editor: Al.Choer

  • Perbuatan Baik Yang Tersembunyi

    Perbuatan Baik Yang Tersembunyi

    Khobi’ah Sholihah

    Oleh Ibnu syam, Mahasiswa STIU WM. Tulisan disadur dari liqo’ maftuh bersama Ust. Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I.

    Pernah suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkumpul bersama para sahabat di masjid. Pada saat itu tiba-tiba beliau bersabda kepada para sahabatnya: “Sebentar lagi kalian akan melihat seseorang dari penduduk surga.” Tak lama setelah itu, lewatlah seorang sahabat di hadapan mereka. 

    Para sahabat yang berkumpul pun menyadari bahwa yang dimaksud seseorang dari penduduk surga oleh Rasulullah adalah sahabat yang lewat tersebut. Sebab hanya dialah yang lewat pas setelah sabda rasulullah.

    Keesokan harinya, Rasulullah dan para sahabatnya kembali berkumpul di masjid. Pada waktu yang sama, Rasulullah kembali bersabda persis seperti sabda beliau di hari kemarin: “Sebentar lagi kalian akan melihat seseorang dari penduduk surga.” Tak lama kemudian lewatlah di hadapan mereka sahabat yang sama di hari kemarin.

    Para sahabat pun bertambah yakin bahwa seseorang dari penduduk surga itu adalah sahabat tersebut. Sebab dua kali telah Rasulullah bersabda dengan sabda yang sama, namun yang mereka lihat tetaplah sahabat yang sama.

    Baca Juga: Raih Cinta Allah Dan MakhlukNya Dengan Zuhud

    Keesokan harinya, tepatnya di hari ketiga setelah Rasulullah saw bersabda tentang seseorang dari penduduk surga, Kembali Rasulullah berkumpul bersama para sahabatnya di masjid dan mengulangi sabda tersebut. Hasilnya pun tetap sama. Tak lama setelah itu lewatlah sahabat yang sama, yang lewat di hari pertama dan hari kedua.

    Akhirnya para sahabat sudah sangat yakin bahwa sahabat yang lewat tersebutlah yang dimaksud oleh Rasulullah saw sebagai seseorang dari penduduk surga. Mereka pun penasaran, heran, dan takjub terhadapnya. Salah satunya adalah sahabat Abdullah bin Amru bin Al-’ash ra. Ia bertanya-tanya, amalan spesial apa yang dilakukan sahabat tersebut sampai- sampai Rasulullah tiga kali bersabda tentangnya.

    Mulailah sahabat Abdullah bin Amru bin Al-’ash mencari tahu tentang sahabat tersebut. Kemudian Abdullah bin Amru bin Al-’ash berkunjung kerumahnya, lalu meminta izin untuk menginap disana. Selama tinggal di rumah tersebut Abdullah bin Amru bin Al-’ash memperhatikan dan mengamati amalan apa saja yang dilakukannya. Namun anehnya, Abdullah bin Amru bin Al-’ash tidak mendapati sahabat tersebut melakukan amalan yang spesial dari sahabat yang lain.

    Baca Juga: Pendaftaran Graha Qur’an Online Angkatan 3

    Selama tinggal di rumahnya, dia tidak mendapatinya banyak melakukan ibadah sholat lebih banyak daripada sahabat yang lain. Begitupun dengan ibadah-ibadah lainnya. Akhirnya Abdullah bin Amru bin Al-’ash mengungkapkan keheranannya akan sahabat tersebut. “amalan apa yang sebenarnya yang kamu kerjakan sampai-sampai Rasulullah mensifatimu sebagai seseorang dari penduduk surga, sedangkan aku tidak melihat dari dirimu sesuatu yang spesial?”

    Sahabat tersebut pun menjawab: “aku pun tidak tahu, kecuali aku selalu berusaha untuk tidak mendapati dalam diriku sesuatu dari tipu muslihat dan tidak pula rasa dengki terhadap seseorang dari kaum muslimin atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya.” Setelah mendengar jawaban tersebut sahabat Abdullah bin Amru bin Al-’ash berkata: “amalan itulah yang membuatmu mendapatkan derajat itu, dan amalan itu pulalah yang belum kami kerjakan.

    Dari kisah tersebut kita dapat melihat agungnya sebuah khobi’ah sholihah (perbuatan baik yang tersembunyi). Lihatlah, seorang sahabat yang dikabarkan sebagai penduduk surga, sebab dia mempunyai suatu amalan yang dirahasiakan. Hanya Allah dan dirinya yang tahu. Dia merahasiakannya dari para sahabat hingga Rasulullah lah yang memberikan kabar akan derajat yang dia peroleh.

    Baca Juga: STIU Wadi Mubarak Menggelar Kuliah Umum Bersama Wakil Ketua MPR RI

    Begitu pula halnya kita sebagai seorang mukmin. Sudah sepatutnya kita mempunyai simpanan amalan sholeh yang tidak diketahui oleh orang lain. Jangan sampai semua amalan yang kita punya terpublikasikan.

    Maka mulailah memilih amalan seperti apa yang akan kita rahasiakan. Dan berusahalah untuk istiqomah di dalamnya. Kalau masih bingung atau terasa sulit, maka mulailah dari yang paling mudah kita lakukan. 

    Berdo’a misalnya. Do’akanlah selalu orang-orang yang kita sayangi, orang-orang terdekat kita, orang-orang yang terbaik dalam hidup kita. Do’a yang tidak diketahui kecuali kita dengan Allah. Atau ibadah-ibadah lain yang lebih mudah bagi kita. Kemudian jaga ibadah tersebut, hingga ajal datang menjemput. 

    Editor: Al.Choer

  • Nabi Zakaria-Kisah Inspiratif Sepanjang Masa (2)

    Nabi Zakaria Selalu Optimis dalam Berdoa

    Allah Ta’ala berfirman,          

     قَالَ رَبِّ إِنِّى وَهَنَ ٱلْعَظْمُ مِنِّى وَٱشْتَعَلَ ٱلرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا 

    Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku”. (Qs.Maryam: 4)

    Ayat tersebut menjelaskan bahwa nabi Zakaria  mencurahkan isi hatinya dan berdoa  kepada Allah. ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah berusia lanjut, dan tulang-tulangku telah melemah (sehingga kekuatannya telah melemah) dan ia tidak pernah merasa kecewa, sebab setiap kali berdoa, pasti Allah akan mengabulkannya.’

    Sudah menjadi sunnatullah, bahwa manusia diciptakan dari bayi, beranjak menjadi anak-anak, remaja, dewasa dan tua.

    Allah Ta’ala berfirman:

    اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

    “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Qs.Ar Rum: 54)

    Allah Ta’aala memberitahukan tentang luasnya ilmu-Nya, besarnya kemampuan-Nya dan sempurnanya hikmah-Nya, di mana Dia menciptakan manusia dari keadaan yang lemah, yakni tahapan pertama penciptaannya, yaitu mani yang selanjutnya berubah menjadi segumpal darah dan berubah menjadi segumpal daging sampai menjadi makhluk hidup dalam rahim, selanjutnya ia dilahirkan dari bayi dan menjadi kanak-kanak.

    Setelah itu, kekuatannya semakin bertambah  hingga tiba usia muda, usia dewasa, 20 th, 30th, dan 40 tahun. Pada usia 40 tahun ini, seseorang mencapai puncak kesempurnaan keadaan lahir dan batinnya.

    Setelah tahapan tersebut dilalui, maka ia sedikit demi sedikit menjadi lemah kembali; menua, beruban dan pikun. Termasuk kebijaksanaan-Nya adalah Dia memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya, bahwa Allah Maha Sempurna menciptakan segala sesuatu, mengatur segala urusan tanpa merasakan kelemahan dan kelelahan.

    Nabi Zakaria, pada usia hampir mendekati usia 100 tahun, tetap berdoa kepada Allah agar diberi keturunan yang mewarisinya. Usia dimana beliau dan istrinya sudah mulai melemah, dan sesuatu yang seolah mustahil terwujud yaitu lahirnya anak dari rahim istri yang mandul juga telah berusia senja.

    Baca: Nabi Zakaria – Kisah Inspiratif Sepanjang Masa 1

    Doa adalah senjata terbaik

    Doa merupakan power (kekuatan) yang sebenarnya. Banyak kisah para Nabi yang diberi pertolongan atau keajaiban yang menakjubkan melalui kekuatan doa. Doa adalah satu satunya amalan yang mampu merubah qadla. Maka salah satu teladan Nabi Zakaria yang patut kita contoh adalah selalu mendawamkan doa kepada Allah Ta’ala.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    لا يرد القدر إلا الدعاء

    “Tidak ada yang bisa menolak (merubah) qadla kecuali doa”.(HR.Tirmidzi)

    Salah satu amalan yang sangat dianjurkan bagi hamba yang beriman adalah doa. Melalui doa, masih terbuka luas kesempatan untuk meminta dikabulkannya harapan dan cita cita kita kepada Allah. Jika Allah menghendaki, tidak ada yang mustahil untuk tidak terjadi, karena Allah mengabulkan permintaan seluruh hambanya, sebagaimana firman Allah:

     وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

    Artinya; Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah 186)

    Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab tafsirnya, bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan doa seorang hamba yang meminta kepada-Nya, bahwa doa itu tidak akan tersia-sia dan akan dicatat. Sebab Allah adalah Zat yang Maha Mendengarkan doa. Karenanya, Kita hendaknya tidak meremehkan doa. Memintalah kepada Allah, untuk semua perkara yang kita inginkan. Baik itu perkara ringan maupun besar.

    (Bersambung Bag. III)

    Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan // Ibn Al.Choer

  • Nabi Zakaria-Kisah Inspiratif Sepanjang Masa (1)

    Keutamaan Menuntut Ilmu

    Ilmu merupakan sarana untuk beramal saleh. Menuntut ilmu memiliki keutamaan yang agung. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa menuntut ilmu itu lebih baik dari seratus rakaat shalat sunnah.  Sebuah hadits menyebutkan:

    يَا أَبَاذَرٍّ ، لَأَنْ تَغْدَوْا فَتُعَلِّمَ اَيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَّكَ مِنْ اَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ ، وَلَأَنْ تَغْدُوْا فَتُعَلِّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ عُمِلَ بِهِ اَوْ لَمْ يُعْمَلْ خَيْرٌ مِنْ اَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ رَكْعَةٍ . (ابن ماجة)

    “Wahai Aba Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah telah baik bagimu dari pada shalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik dari pada shalat seribu rakaat.” (HR. Ibn Majah)

    Begitu agungnya keutamaan menuntut ilmu, sehingga jika ada pilihan diantara kita, antara menuntut ilmu atau shalat sunnah. Maka dahulukan menuntut ilmu, sebagaimana Imam Ahmad dahulu saat ditanya anaknya, “Wahai Ayahku, mengapa engkau sangat mendahulukan mudzakarah (belajar bersama sang Guru yaitu Ibnu Ma’in) dibanding mengerjakan shalat malam?” Maka Imam Ahmad menjawab, “Jika aku ketinggalan shalat malam, maka aku bisa menggantikannya di malam malam berikutnya. Namun jika aku ketinggalan untuk menimba ilmu dari Ibnu Ma’in, maka aku tidak akan bisa mengulanginya.” 

    Imam Ibnu Ma’in merupakan imam ahlussunah, seorang pakar hadits (muhadits) dan ahli ilmu rijal (analisis kritis terhadap perawi hadits). Ia merupakan salah satu guru dari Imam Bukhari juga senior dari pakar hadits lainnya, diantaranya adalah Imam Ahmad. Imam Ibnu Ma’in, Ulama yang menjadi rujukan dalam ilmu hadits pada masanya ini pernah berkata; “Aku menulis dengan tanganku sejuta hadits.” Adapun saat beliau wafat, meninggalkan kitab karyanya sebanyak 114 rak dan 4 peti penuh.

    Baca: Meneladani Sang Khalilullah Ibrahim As Bag IV

    Alquran, Syafaat  Hamba Beriman

    Salah satu keutamaan Alquran adalah sebagai syafaat di akhirat kelak. Seluruh harta, benda, kekayaan, materi, kekuasaan, jabatan, kesemuanya tidak akan dibawa mati. Berbahagialah hamba beriman yang senantiasa dekat dengan Alquran. Karena Alquran akan menjadi pembelanya di hari kiamat kelak.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

     الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، يَقُولُ الصِّيَامُ : أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ . وَيَقُولُ الْقُرْآنُ : مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ . قَالَ : فَيُشَفَّعَانِ

    “Shiyam (Puasa) dan Al-Qur’an akan memberikan syafaatnya kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makanan dan syahwat pada siang hari, maka berilah ijin kepadaku untuk memberikan syafa’at kepadanya.’ Al-Qur’an berkata, ‘Aku telah menahannya dari tidur pada malam hari, maka berilah saya ijin untuk memberikan syafaat kepadanya.’ Keduanya dapat ijin untuk memberikan syafa’atnya” (hadits shahih riwayat Ahmad).

    Kita hendaknya bersyukur kepada Orang Tua kita, Guru-Guru dan Pimpinan kita yang telah menunjukkan dan mengajarkan Alquran untuk kita. Mereka yang setiap hari mengisi hari-harinya dengan Alquran, ialah yang kelak akan beruntung, karena mendapat keistimewaan syafaat dari Alquran.

    Para Guru, para Pengajar Alquran, yang telah merelakan waktunya untuk bangun malam, mempersiapkan hafalan Alquran, mempersiapkan cara mengajarkan Alquran, maka in sya Allah, tidak akan sia sia disisi Allah. Hal tersebutlah yang akan menjadi pembela kita kelak di akhirat, juga yang membantu menentukan tingkatan surga sebagai hadiah dari Allah Ta’ala.

    Nabi Zakaria Berdoa dengan Suara Lembut

    Nabi Zakaria berdoa kepada Allah dengan suara yang lirih, dan hal itu pula yang Allah sukai, maka Allah mengabadikan kisahnya di dalam Alquran untuk menjadi contoh bagi umat sesudahnya.

    Allah Ta’ala berfirman:

    إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيًّا

    “Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut (lirih).” (QS.Maryam:3)

    Menurut Qatadah, Sesungguhnya Nabi Zakaria melirihkan suaranya dalam berdoa karena kecintaannya kepada Allah  ﷻ. Sesungguhnya Allah mengetahui kalbu orang yang bertakwa, dan Allah mendengar suara yang perlahan. Sebagian ulama Salaf mengatakan, Nabi Zakaria bangun di tengah malam, sedangkan semua muridnya telah tidur, lalu dia berbisik kepada Tuhannya seraya berdoa dengan suara yang lembut. Maka Tuhannya pun berfirman kepadanya, “Kupenuhi seruanmu, Kupenuhi seruanmu, Kupenuhi seruanmu.”

    (Bersambung Bag. II)

    Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan // Ibn Al.Choer

  • Meneladani Sang Khalilullah – Ibrahim As (Bag. IV)

    Meneladani Semangat Siti Hajar

    Pilihan sebagai pengajar, sebagai pendidik, sebagai pendakwah Alquran dan Assunah, merupakan tugas istimewa karena ia meneruskan tugas rasulullah. Dan memang, jalan dakwah bukanlah mulus. Jalan dakwah itu berat, ujian dakwah juga berat, sebanding dengan pahala yang sudah Allah siapkan untuk hamba- hambaNya yang beriman.

    1. Meluruskan Niat

    Hal utama yang harus selalu kita tekankan dan kita evaluasi adalah niat. Meluruskan niat ini sangat penting dalam segala aktivitas kita. Apalagi dalam perkara mendidik anak. Semua niatkan karena mencari ridlo Allah. Bukan semata keinginan agar anak paling berprestasi, agar anak hafalannya banyak sehingga mendapat pujian banyak orang, agar anaknya tampak alim dls. Semua keinginan tersebut memang baik. Tetapi upaya meluruskan niat ini, sebuah upaya agar Allah meridloi kita dan kita bisa melaksanakan segala aktivitas dengan penuh dengan keihlasan, semangat, dan tidak berkeluh kesah. Sesungguhnya jika Allah meridloi, maka Allah yang akan memudahkan dan memberkahi jalan dakwah.

    • Utamakan doa.

    Jangan pernah meremehkan doa. Jangan merasa bahwa usaha kita sudah mampu menjadikan anak didik dan anak anak kita menjadi terbaik. Kita harus bersimpuh kepada Allah, meminta bimbingan Allah. Karena Allahlah penggengam setiap jiwa. Nabi kita Muhammad ﷺbersabda:

    إن قلوب العباد بين إصبعين من أصابع الرحمن يقلبها كيف يشاء

    “Sesungguhnya hati para hamba itu berada di antara dua jari dari jari-jari Allah subhanahu wata’ala, Dia membolak-balikkannya bagaimanapun yang Dia kehendaki.”

    • Pantang menyerah, tak kenal lelah.

    Jika kita mengalami kesulitan, mengalami kelelahan, maka hendaknya kita bercermin. Adakah kesulitan kita melebihi kesulitan yang dialami oleh Siti hajar? Dalam panas terik, di padang pasir, tidak ada rumah, tidak ada penghuni lain, tidak ada air, membawa bayi yang kehausan. Seungguhnya ujian kita sangat jauh dari kesulitan yang dialami oleh Siti Hajar.

    Seberat apapun perjuangan kita, maka harus selalu diingat. Allah tidak akan menyia nyiakan kita. Allah tidak akan menelantarkan kita.

    Baca: Meneladani Sang Khalilullah Ibrahim As Bag III

    Allah mengajari kita untuk selalu berjuang dengan gigih dan pantang menyerah. Sehingga kejayaan islam bisa diraih kembali. Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kita untuk berusaha sekuat tenaga. Dari hasil jerih payah nabi Muhammad ﷺ, bahkan beliau pernah berkurban 100 ekor unta pada haji wada’. Sejumlah 63 ekor, beliau sembelih sendiri dan sisanya disembelih oleh Ali Ra. Dari sejarah tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa rasulullah seorang yang kaya, dermawan, kuat, namun juga sangat sederhana dalam kehidupan sehari harinya. Karena dalam sebuah hadits, pernah juga diceritakan bawa setelah beliau berkurban pada haji wada’ itu, bahkan sampai 3 kali purnama, Aisyah menyampaikan bahwa dapurnya tidak menyalakan api. Itu artinya, Rasulullah tidak memasak di dapurnya selama beberapa bulan. Dan bertahan dengan makan kurma dan air.  Pantaslah jika Allahpun akan hadiahkan surga tertinggi disisiNya.

    Kisah kisah yang dialami para nabi inilah, yang hendaknya menjadi penyemangat kita agar kita terus berusaha pantang menyerah. Karena istirahatnya orang mukmin itu di surga. Dunia adalah tempat untuk beramal ibadah, mengumpulkan sebanyak-banyaknya bekal akhirat.

    سئل الإمام أحمد بن حنبل : متى الراحة يا إمام ؟ فأجاب : عند أول قدم تضعها في الجنة .

    Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya: “Wahai imam, kapankah waktu istirahat itu?” Beliau jawab: “(istirahat yg sesungguhnya ialah) pada saat engkau pertama kali menginjakkan kakimu di dalam Surga.”

    (Selesai//Ibn Al.Choer)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • Meneladani Sang Khalilullah – Ibrahim As (Bag. III)

    Siti Hajar, Figur Teladan Wanita Sabar dan Tangguh

    Perjalanan panjang Hajar bersama Ibrahim. Pengorbanan yang ia lakukan. Tingginya husnudzon Hajar pada suami dan Rabbnya disertai keihlasan, kesabaran dan ketakwaan yang luar biasa inilah yang perlu kita contoh dari Wanita Mulia, Siti Hajar.

    Anak yang shalih terlahir dari rahim ibunya yang kuat keimanannya. Demikian juga Siti Hajar, betapa kuat keimanannya, sehingga lahirlah Ismail, dimana kelak dari keturunannya pula, lahirlah penutup para nabi, Nabi Muhammad ﷺ

    Menyelami perjalan Hajar. Perjalanan jauh yang harus ia tempuh dalam keadaan nifas, membawa bayi yang masih merah, tidak saling bicara dengan suaminya. Memang betapa istimewanya Hajar. Manusia mana yang mampu menjalani pengorbanan tersebut jika bukan karena hamba pilihanNya?

    Di tanah gersang, tandus, tiada banyak pepohonan, terbentang luas padang pasir yang panas. Disitulah Hajar harus bertahan dengan membawa bayi dan perbekalan minim. Bahkan pada saat kondisi sedemikian berat, ia selalu husnudzon kepada Rabbnya, bahwa Allah tidak akan menelantarkannya. Keimanannya yang kokoh, ia wujudkan juga dengan ihtiar kuatnya.

    Yaitu tatkala hanya berdua saja ia tinggal di lembah gersang dan panas. Ketika perbekalannya habis, ketika anaknya kehausan, maka ia berlari kecil mencari sumber air untuk anaknya. Ia berlari berkali kali antara bukit Shafa dan Marwa. Dan bermula dari kisah ini pula,  munculnya sumber air zam-zam. Dimana setiap jiwa yang meminumnya, maka mengalir pula pahala jariyah kepada ibunda mulia, Siti Hajar, hingga hari kiamat kelak.

    Pada era milenial ini, dimana mulai terjadi pergeseran figur teladan. Dimana mulai mengidolakan artis sebagai teladan. Maka kini saatnya. Mengembalikan keteladan kepada para nabi dan sahabat. Siti Hajar adalah sosok mulia yang pantas untuk diteladani. Pribadi kuat dan tangguh seperti Hajar inilah yang bisa turut meraih kejayaan islam. Bukan generasi yang mudah putus asa, tidak percaya diri dan mudah menyerah.

    Baca : Meneladani Sang Khalilullah Ibrahim As Bag II

    Salah satu prinsip Siti Hajar yang patut kita contoh adalah, jika kita berada di jalan Allah, berada pada garis perjuangan, maka tidak usah khawatir, karena Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan. Allah tidak akan melalaikan. Dan pertolonganNya akan hadir, tanpa batas, dari segala arah.

    Warisan Kesalihan Lebih Penting dari Warisan Harta.

    Salah satu doa Ibrahim As yang diajarkan untuk kita dalah doa meminta anak yang shalih. Demikian karena keturunan yang mewarisi kesalihan dan ketakwaan lebih penting dari keturunan yang sekedar mewarisi harta kekayaan.

    Berikut ini sebuah kisah nyata pada masa khalifah yang membukakan wawasan kita, bahwa warisan ketakwaan lebih penting dari warisan harta.

    Kisah ini berasal dari Muqatil bin Sulaiman yang merupakan nasehat dari apa yang ia lihat dan persaksiakan sendiri. Muqatil mengisahkan, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memiliki sebelas anak. Ketika wafat, ia meninggalkan uang delapan belas dinar. Untuk membayar kain kafan lima dinar dan untuk tanah liang kuburnya empat dinar. Sisanya sembilan dinar diwariskan kepada ahli warisnya.

    Uang 9 dinar ini jika dibagi kepada 11 anak, jika dirupiahkan maka masing masing anak menerima sekitar Rp1.500.000,- (dengan acuan emas 22k seharga 450ribu, adapun satu dinar setara dengan 4,25 gram emas 22k atau Rp.1.912.500).

    Baca Informasi Pendaftaran BIMBEL Quran Online Angkatan 2

    Khalifah yang menjabat beberapa tahun sesudahnya adalah Hisyam bin Abdul Malik, yang juga memiliki sebelas anak. Hisyam mewariskan kepada anak anaknya masing masing satu juta dinar. Jika dirupiahkan, masing masing anak Hisyam ini, menerima warisan hampir 2 Triliun (dengan acuan jika 1 dinar setara dengan Rp.1.912.500 maka dikalikan 1 juta mencapai Rp 1.912.500.000.000,-).

    Melihat nominal warisan, secara logika manusia, maka yang akan hidup makmur dan berkecukupan adalah anak anak Hisyam. Namun ternyata harta bukan penjamin kemakmuran. Muqatil bahkan bersumpah demi Allah, bahwa pada suatu hari ia melihat salah seorang anak Umar bin Abdul Aziz bersedekah seratus ekor kuda untuk keperluan jihad fi sabilillah. Dan pada hari yang sama, ia melihat salah seorang anak Hisyam bin Abdul Malik sedang meminta-minta di pasar.

    Orang-orang saat itu bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz menjelang wafatnya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk anak-anakmu?”

    Ia menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka takwa kepada Allah. Jika mereka menjadi orang-orang yang shaleh maka Allah yang akan mengurus mereka, jika tidak menjadi orang-orang yang shaleh maka aku tidak akan menolong mereka untuk bermaksiat kepada Allah.“

    Benarlah kiranya, bahwa Allah akan menjadi wali bagi hamba-hambanya yang shalih. Allah pula yang akan menjamin keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat.

    (Bersambung Bag. IV)

    Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • Motivasi Pengasuh Bagi Pengurus dan Santri

    MOTIVASI PENGASUH BAGI PENGURUS DAN SANTRI WADI MUBARAK

    Masjid Jami’ Wadi Mubarak, Bogor – Pimpinan sekaligus Pengasuh Islamic Center Wadi Mubarak, K.H. Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I., menyampaikan motivasi bagi segenap Pengurus dan Santri pada hari Kamis (28/01/2021) bertempat di Masjid Jami’ Wadi Mubarak. Motivasi ini disampaikan sebagai bentuk kepedulian Pengasuh kepada para pengurus dan santri agar tumbuh rasa kepercayaan diri mereka sebagai Ahlul Qur’an.

    Kajian Motivasi berlangsung setelah sholat maghrib hingga waktu isya’. Segenap Pengurus dan Santri Wadi Mubarak mengikutinya dengan penuh khidmat. Sesekali diselingi senyum dan tawa dari candaan khas pengasuh yang penuh makna.

    Pengasuh mengawali motivasi dengan penyampaian tentang ni’mat belajar al-qur’an. Sembari menekankan agar ni’mat ini harus dijaga dan jangan sampai dirusak dengan maksiat yang dilakukan. Dengan penuh keyakinan Beliau tegaskan, “Antum sudah diberikan hal (al-qur’an) yang sangat mewah dan berharga dari Allah, maka jangan rusak itu dengan maksiat”.

    Setelah mendapatkan ni’mat belajar al-qur’an, maka kewajiban berikutnya adalah mengajarkannya. Dalam Hadist disebutkan, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya” (HR. Bukhori). Menjadi Pengajar Al-Qur’an harus punya sifat adil dalam pribadinya.

    Kriteria Adil adalah ketika seseorang selamat dari sebab-sebab kefasikan dan hal-hal yang merusak kewibawaan. Fasik bermakna melakukan dosa besar walau hanya sekali, atau melakukan dosa-dosa kecil secara berulang-ulang. Adapun kewibawaan, tidak selalu berkaitan dengan agama, namun juga berkaitan dengan adat istiadat yang berlaku di masyarakat.

    Pengasuh mengingatkan agar para pengurus dan santri benar-benar memperhatikan kriteria adil tersebut. Sebab para ahlul qur’an memiliki tanggungjawab yang lebih besar, serta harus menjaga adab yang lebih baik daripada masyarakat awam pada umumnya. Apa-apa yang mungkin lumrah bagi masyarakat, misal pergi ke tempat karoeke, tapi menjadi pantangan bagi para ahlul qur’an.

    Setelah menguraikan tentang ni’mat al-qur’an dan bagaimana kriteria pengajar al-qur’an, Pengasuh menambahkan poin penting yang harus selalu menjadi perhatian bersama. Pertama, Luruskan niat karena Allah. Niat menjadi pondasi dasar dalam dakwah, sebab medan dakwah sering kali berada pada kondisi yang tidak ideal. Jika tanpa niat yang lurus, niscaya akan berangsur “patah arang”. Terkait Fasilitas, Beliau menekankan agar jangan pernah bergantung pada fasilitas. Harus diubah cara pandangnya, bagaimana dengan fasilitas yang ada dakwah tetap bisa berkembang. Jika menunggu fasilitas lengkap, siapapun bisa. Tapi hanya orang hebatlah yang lahir dari segala keterbatasan.

    Kedua, Totalitas untuk Ilmu. Jangan menunggu waktu kosong untuk belajar al-qur’an, tapi kosongkan waktu untuk al-qur’an. Orang yang punya qur’an jauh lebih kaya dibanding orang lain di muka bumi ini. Karena hafalan al-qur’an tidak bisa dibeli. Harus berlelah-lelah dahulu. Kita harus totalitas untuk ilmu. Sebab jika kita setengah-setengah, ilmu tidak akan memberikan apapun kepada kita.

    Di akhir, Pengasuh mengajak para pengurus dan santri agar terbiasa berfikir besar, dan memberikan manfaat kepada orang lain. Tidak hanya sibuk mengurusi diri sendiri. Menurut beliau, “Penting untuk kerja bareng-bareng. Dalam amal jama’i tentu ada friksi dan gesekan, tapi kalau niat karena Allah serta punya tujuan yang sama, maka barisan akan tetap kuat.”

    Melalui Kajian Motivasi, semoga para pengurus dan santri dapat lebih percaya diri dengan status mulia yang Allah anugerahkan kepada mereka, yakni Ahlul Qur’an. Sebagaimana dalam Hadits disebutkan, “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para Ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihan-Nya,” (HR. Ahmad). [AFS]

    Editor: Ibn Al.Choer

  • Meneladani Sang Khalilullah – Ibrahim As (Bag. II)

    Allah Berikan Kabar Gembira Kepada Ibrahim As

    Atas ihtiar panjang, kesabaran, ketaatan Ibrahim kepada Rabbnya, maka Allah pun memberikan kabar gembira Ibrahim, seperti yang termaktub dalam Qs. As Sahffat: 101; فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ  “Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.”

    Dalam tafsir An-Nafahat Al-Makkiyah, anak yang halim, artinya sangat sabar, akhlaknya mulia, dadanya lapang dan suka memaafkan kesalahan orang.

    Anak yang disebutkan sebagai berita gembira bagi Ibrahim tersebut adalah Ismail As.  Putra pertama Ibrahim, Ismail, lahir dari rahim Siti Hajar. Siti Hajar merupakan hadiah dari Raja Mesir kepada Siti Sarah. Mengetahui bahwa dirinya mandul dan Hajar adalah wanita terhormat yang taat dan baik. Maka Sarah meminta Ibrahim untuk menikahi Hajar. Dari rahim Hajar inilah Ismail dilahirkan. Dan saat itu, usia Ibrahim mencapai 86 tahun.

    Pengorbanan Ibrahim As, Membawa Siti Hajar dan Ismail ke Makkah

    Ibrahim As, pantas menyandang gelar khalilullah. Sebanding dengan perjuangannya yang luar biasa dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.

    Hadirnya anak yang dinanti-nanti selama puluhan tahun, tentu menimbulkan kasih sayang yang dalam, kerinduan yang dalam untuk menimangnya juga keinginan untuk selalu mengasuh dan merawatnya. Jangankan hingga 86 tahun menanti kelahiran anak. Pasangan rumah tangga yang menunggu anak dalam hitungan 3 atau 5 tahun saja, itu sangat luar biasa curahan kasih sayang kepada anaknya.

    Ibrahim, setelah sangat lama menunggu kelahiran anak. Saat anaknya, Ismail lahir, dan masih berupa bayi merah. Istrinya pun masih nifas. Allah memerintahkan Ibrahim untuk membawa Hajar dan Ismail untuk hijrah ke Makkah. Kelak disanalah bermula kisahnya zam zam, yang airnya menjadi keberkahan penduduk bumi.

    Siti Hajar, yang kala itu melahirkan Ismail di Hebron, Palestina, mengikuti suaminya untuk hijrah, dalam kondisi masih nifas juga membawa bayi yang masih merah. Selain mendapat perintah untuk hijrah, Ibrahim juga tidak diperbolehkan oleh Allah untuk berbicara selama masa perjalanan. Perjalanan antara Palestina ke Mekkah tersebut menempuh jarak sejauh -+ 1.500 km. Memerlukan waktu berbulan bulan jika ditempuh dengan jalan kaki. Membutuhkan sekitar 40 hari jika ditempuh dengan menggunakan unta atau dua bulan menggunakan keledai.

    Pada masa perjalanan jauh, dimana Allah dengan kebijaksanaanNya melarang Ibrahim untuk berbicara kepada istrinya selama perjalanan. Mari kita bayangkan, betapa pengorbanan besar yang sulit ditempuh oleh manusia.

    Kita sebagai manusia biasa, baru sehari saja tidak bercakap dengan keluarga, itu sangat tidak nyaman. Apalagi jika dalam perjalanan jauh dan tidak bisa bercakap dengan istri. Tentu akan menimbulkan tenakan psikologis yang tinggi. Dan demikianlah Allah memilih Ibrahim sebagai khalilullah. Karena sangat taat dan patuh pada Allah Ta’ala. Dari berbagai cobaan yang ia alami, dapat kita simpulkan, betapa menderitanya dan beratnya ujian yang dialami Ibrahim.

    Setelah perjalanan panjang, sesampainya di tanah Makkah, perbukitan padang pasir, tempat yang gersang, tiada air dan tiada penghuni. Disanalah Ibrahim menempatkan istri dan anaknya, Hajar dan Ismail. Ibrahim menempatkan hajar dan anaknya disisi pohon, dan ditinggalkan perbekalan, berupa kantung berisi kurma dan geriba berisi air.

    Baca artikel sebelumnya: Meneladani Sang Khalilullah Iibrahim As. Bag I

    Sebagaimana dikisahkan dalam sebuah hadits shahih. Rasulullah ﷺbersabda:

    ثُمَّ قَفَّى إِبْرَاهِيمُ مُنْطَلِقًا، فَتَبِعَتْهُ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ فَقَالَتْ: يَا إِبْرَاهِيمُ، أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الوَادِي، الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ؟ فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا، وَجَعَلَ لاَ يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا، فَقَالَتْ لَهُ: آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَتْ: إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا، ثُمَّ رَجَعَتْ

    “… kemudian Ibrahim beranjak pergi, lalu ibunya Ismail (Hajar) mengikutinya dan berkata: “Wahai Ibrahim, kamu mau pergi kemana? kamu tinggalkan kami di lembah ini yang tidak ada manusia dan suatu apapun”. Dia (Hajar) berkata seperti itu berulang kali dan Ibrahim tidak menoleh kepadanya, lalu ia bertanya kepada Ibrahim: “Apakah Allah memerintahkan hal ini kepadamu?” Ibrahim menjawab: ” iya “, lalu ia berkata: “Jika demikian, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”, kemudian ia kembali …” (HR. Al-Bukhari no. 3364 hadits Ibnu ‘Abbas).

    Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa Hajar sempat menanyakan beberapa kali kepada Ibrahim tentang kenapa ia beserta anaknya ditinggalkan disana. Dan Ibrahim pun juga tidak menjawab pertanyaan tersebut lantara Ibrahim harus menaati perintah RabbNya untuk tidak bercakap cakap.  Setelah beberapa kali tidak mendapat jawaban, maka Hajar kembali menegaskan,  آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟  “Allah-kah yang menyuruhmu untuk melakukan hal ini?” Ibrahim akhirnya menganggukan kepala sebagai isyarat jawaban “iya”.

    Disinilah kita melihat, betapa tingginya keimanan Siti hajar. Melihat isyarat jawaban Ibrahim, maka Hajar pun menjawab dengan: إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.”

    Ibrahim, yang juga manusia, tentu sangat tersayat, pedih hatinya, meninggalkan istri dan buah hatinya yang telah lama ia idamkan. Tapi demikianlah Ibrahim, selalu taat dengan perintah Allah. Maka iapun mendapat kedudukan istimewa di sisi Allah.

    (Bersambung Bag. III)

    Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan