Kategori: Tausiyah

  • Meneladani Sang Khalilullah – Ibrahim As (Bag. I)

    Kesabaran Nabi Ibrahim dan Kerinduan Hadirnya Anak

    Ibrahim As, Nabi yang mendapat kedudukan istimewa di sisi Allah ini, belum dikaruniai anak, hingga umurnya mencapai 86 tahun. Nabi yang mulia, diantara kemuliaannya adalah ia mendapat gelar sebagai Abul anbiya’ (Bapaknya para nabi). Dimana seluruh nabi-nabi yang lahir setelahnya, kesemuanya adalah keturunannya. Ia juga mendapat gelar ‘khalilullah’ (kekasih Allah), karena ia selalu taat kepada perintah Rabbnya, selalu sabar dan bertaqwa kepada Allah Ta’ala. Dari berbagai gelar yang disematkan kepadanya, maka bisa kita lihat, betapa istimewa dan betapa tingginya kedudukan nabi Ibrahim disisi Allah. Sudah sedemikian istimewanya pun,  Ibrahim belum mendapat karunia anak hingga usianya mencapai 86 tahun.

    Sungguh betapa berat ujiannya, sebanding dengan kemuliaan yang ia dapatkan. Nabi yang juga manusia. Tentu memiliki keinginan selayaknya umumnya manusia, yaitu mempunyai keturunan. Kita bisa membayangkan, betapa besar kerinduan pasangan keluarga Ibrahim akan hadirnya keturunan yang bisa mewarisi kenabiannya. Sebagaimana termaktub dalam Qs. As-Shaffat : 100

    رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

    “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”

    Sebuah rumah tangga, terasa kurang lengkap tanpa hadirnya seorang anak. Anak adalah pelipur lara. Demikian juga yang dirasakan oleh Ibrahim. Ia sangat mendambakan hadirnya anak sebagai pelengkap keluarga, pelipur lara juga mewarisinya dan membantunya dalam ketaatan. 

    Tafsir Almukhtashar menjelaskan ayat tersebut dengan; ”Sesunggunya aku berhiijrah kepada Tuhanku dari negeri kaumku ke tempat dimana aku bisa beribadah kepada Tuhanku. Sesungguhya Dia akan menunjukkan kebaikan kepadaku dalam agama dan duniawiku. Wahai Tuhanku, berilah aku anak yang shalih.”

    Tafsir Almuyasar menyebutkan bahwa Ibrahim meminta kepada Allah untuk dianugerahkan seorang anak yang shalih yang membantunya dalam ketaatan kepada Allah dan menghiburnya di negeri yang asing. Demikian karena Ibrahim dilahirkan dan besar di Irak. Saat mendakwahi kepada kaumnya dan mendapati kaumnya tidak juga beriman, akhirnya Ibrahim hijrah ke Palestina. Dalam masa kemarau panjang, Ibrahim juga sempat hijrah ke Mesir. Hingga akhirnya kembali lagi ke Palestina dan menetap disana. Tepatnya di Hebron (Mantiqah Khalil). Di negeri yang terasing inilah, Ibrahim sangat merindukan hadirnya anak yang bukan saja sebagai penerus kenabiannya, melainkan juga pelipur laranya. 

    Doa Nabi Ibrahim – Meminta Keturunan Shalih

    Salah satu keteladanan yang bisa kita contoh dari Nabi Ibrahim adalah berdoa kepada Allah dengan meminta keturunan shalih. Sebagaimana doanya,

    (Qs. As-Shaffat: 100)  رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

    Kita dianjurkan untuk meminta anak dengan sifat-sifat baik yang diridlai Allah. Diantara sifat yang tak kalah pentingnya untuk kita doakan adalah anak yang bisa menjaga nama baik, juga bisa merawat kedua orang tuanya kelak. Saat orang tua sudah mulai melemah, bertambah usia, kekuatan berkurang, sudah tidak bisa banyak beraktivitas maksimal, maka hadirnya anak yang merawatnya akan sangat membantunya.

    Anak yang shalih, akan tumbuh menjadi anak yang mengerti, memahami orang tua, juga bersedia dengan ihlas merawat kedua orang tuanya kelak. Semua harta benda, kekayaan, bisnis yang kita bangun dengan penuh pengorbanan, sesungguhnya semuanya akan hancur dan tidak dibawa mati. Hanya anak shalihlah yang turut memberikan manfaat kepada kita, bahkan saat kita terbujur kaku menghadap Yang Maha Kuasa.

    Anak Shalih Bisa Mengangkat Derajat Kedua Orangtuanya

    Anak shalih bisa mengangkat derajat kedua orangtuanya, bahkan saat oranguanya sudah meninggal. Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

    إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِيْ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : يَا رَبِّ أَنىَّ لِيْ هَذِهِ ؟ فَيَقُوْلُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

    “Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba-Nya yang shalih di surga,” Maka ia pun bertanya: “Wahai Rabbku, bagaimana ini bisa terjadi?” Allah menjawab: “Berkat istighfar anakmu bagi dirimu”. (Hadits shahih. HR. Ahmad, no. 10232)

    Istighfar di sini maksudnya permohonan ampunan kepada Allah Ta’ala dari seorang anak untuk orangtuanya dalam bentuk doa. Sebagaimana dijelaskan juga dalam hadits yang lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

    إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    “Ketika seorang manusia meninggal, maka putuslah amalannya darinya kecuali dari tiga hal, (yaitu) sedekah (amal) jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

    (Bersambung Bag. II)

    Penulis Skrip dan editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • KEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. IV)

    KEADAAN PARA ULAMA SAAT MENDENGAR BACAAAN ALQURAN

    Abdullan bin Handzalah Sampai Tidak Bisa Duduk Karena Ingat Neraka

    Abdul Rahman bin al-Harith bin Hisyam berkata: “Pada suatu hari aku menjenguk Abdullah bin Hanzalah yang sedang sakit. Beliau terlentang di atas Kasur. Ada seseorang membaca Alquran untuknya. Ketika dia membaca ayat,

    لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

    Bagi mereka tikar  (tempat tidur) dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-A’raf:41)

    Tiba-tiba Abdullah menangis.  Beliau menangis sampai kami khawatir nyawanya akan keluar. Kemudian beliau berkata, “Mereka berada di dalam kawah-kawah neraka!” Tiba-tiba beliau bangun berdiri.  Kemudian orang memintanya duduk namun beliau menjawab, “Aku tidak bisa duduk karena teringat api neraka, jangan-jangan aku termasuk salah seorang dari penghuninya.” (Al-Takhwif mina a-nar, Ibn Rajab al-Hanbali)

    Ali Bin Fudhail Pingsan dan Meninggal Karena Bacaan Alquran

    Fudhail bin Iyadh melaksanakan shalat Maghrib dan di samping beliau ada putranya Ali bin Fudhail. Fudhail membaca اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ ketika saat sampai pada ayat لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَۙ, Ali terjatuh pingsan sementara ayahnya Fudhail tidak sanggup melanjutkan bacaan Qurannya, lalu Ayahnya mengikat Ali, dimana ia baru siuman di tengah malam.

    Ya’qub bin Yusuf berkata, “Dahulu, Fudhail bin Iyyadh jika mengetahui bahwa anaknya, Ali, berada di belakangnya -yakni dalam sholat-, maka ia berusaha berlalu saja (dalam membaca Alquran), tidak berhenti dan tidak menimbulkan takut. Jika ia mengetahui anaknya tidak berada di belakangnya,  maka ia memilih-milih bacaan Alquran yang membuat sedih dan takut.

    Suatu hari,  ia menyangka bahwa putranya tidak berada di belakangnya, sehingga ia membaca ayat ini:

    قَالُوا۟ رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَآلِّينَ

    “Mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan kami adalah orang-orang yang sesat.’ (Al-Mu’minun: 106)

    Maka Ali jatuh pingsan. Ketika  Al Fudhail mengetahui bahwa putranya berada di belakangnya dan jatuh pingsan, maka ia cepat-cepat menyelesaikan bacaannya. Mereka pergi kepada ibunya seraya berkata, “Lihatlah anakmu.” Ibunya datang lalu mencipratkan air padanya, lalu ia siuman. Ibunya berkata kepada al-Fudhail, “Engkau akan membunuh anakku ini.” Beberapa waktu kemudian, karena menyangka putranya tidak berada di belakangnya, ia membaca

    وَبَدَا لَهُم مِّنَ ٱللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا۟ يَحْتَسِبُونَ

     ‘Dan jelaslah bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.’ (Az-Zumar: 47).  Mendengar ayat tersebut, putranya jatuh dan meninggal dunia. [Diambil dari kitab At Tawwaabiin karya Ibnu Qudamah].

    Betapa tingginya rasa takutnya Ali kepada Allah, hingga membuat benar-benar tersentak karena rasa takut dan cinta kepada Allah. Demikianlah air matanya  kaum yang shalih.

    Umar RA Mendengar Surat At Tuur dan Sakit Sebulan

    Imam Ibnu Katsir meriwayatkan sebuah kejadian yang terjadi pada diri Umar bin Khattab. Pada suatu malam, Umar berjalan dengan mengendarai himarnya menyusuri jalan-jalan kota Madinah. Dan sampailah ia di rumah seorang penduduk yang sedang melakukan qiyamullail. Umar berhenti mendengarkan bacaan orang tersebut, yang kebetulan membaca surat At-Thur. Ketika orang tersebut sampai pada ayat ke-7 dan ke-8:

     إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٌ (Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi).

    مَّا لَهُۥ مِن دَافِعٍ (Tidak seorangpun yang dapat menolaknya).

    Maka mendadak terjadi sesuatu pada Umar. Badannya serasa tergodam keras. Ia lemas. Ia mengatakan, “Demi Allah, sumpah itu terjadi.” Lalu ia terpaku dalam diam. Sangat lama. Dan pulang.

    Sampai di rumah, ia sakit sebulan, tak diketahui jelas apa penyakitnya. Sementara itu Zubair bin Muth’im ketika mendengar surat yang sama dari Tilawah Rasulullah ﷺ ketika sholat Maghrib, beliau merasakan takut yang luar biasa terhadap ancaman itu dan saat itulah ia masuk Islam.

    Seorang Gadis di Kufah Wafat Karena Mendengar Bacaan Alquran Manshur bin Ammar

    Ketika Manshur bin Ammar menjalankan ibadah haji, dia tinggal disalah satu kampung di Kuffah. Pada suatu malam yang gelap, karena suatu keperluan, dia pergi keluar rumah seorang diri.

    Ketika sedang berjalan sendirian, tiba-tiba dia mendengar suara seorang yang memelas, “Ya Allah, demi keagungan-Mu. Aku tidak menghendaki perbuatan maksiatku ini untuk menentang-Mu. Kulakukan ini bukan karena kebodohanku, tapi kusadari diriku terperosok ke lembah kemaksiatan. Kini aku mendambakan anugerah-Mu. Sudilah Engkau menerima alasanku ini. Jika antara aku dan engkau ada tabir, sehingga Engkau tidak menerima alasanku ini dan tidak mengampuninya, betapa lamanya ku akan menanggung nestapa dan siksa”.

    Kemudian suara itu diam. Manshur menyusulnya dengan bacaan ayat suci Alquran surat At-Tahrim : 6. Yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, perliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjagaanya para malaikat yang kasar dan keras, serta tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan –Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya”.                   .  

    Kemudian Manshur mendengar jeritan yang keras dan sesuatu yang bergerak-gerak. Tidak lama kemudian, gerakan itu berhenti. Mansur lalu meninggalkan tempat itu dan meneruskan langkahnya untuk menyelesaikan keperluannya.                    

    Keesokan harinya, Manshur mendatangi tempat tadi malam dimana ia mendengar suara itu. Akan tetapi, di tempat itu terlihat banyak orang bertakhziah. Di situ ada seoran perempuan tua menangis di samping mayat seorang gadis. Ternyata perempuan tua itu adalah ibu si mayat.

    “Pasti Allah akan membalas yang telah membunuh anakku ini,” kata ibu itu disela tangisnya.
    Kemudian dia membaca ayat Alquran di atas (At-Tahrim: 6) . “Saat itu anakku sedang shalat, kemudian dia jatuh tersungkur, hingga meninggal karena mendengar bacaan ayat itu,” sambungnya lagi.

    Masya Allah, sedemikian mulianya air mata dan tangis orang shalih. Tersungkurnya seseorang karena kekhusyukan, ketakutan dan kecintaan yang mendalam kepada Rabbnya. Ibnu al-Qayimm dalam kitabnya al-Fawaid mengatakan, “Jika engkau ingin mengambil manfaat dari Alquran maka pusatkanlah hatimu ketika membaca dan mendengarkannya, fokuskanlah pendengaranmu dan hadirlah seperti seseorang yang sedang diajak bicara oleh Allah ﷻ”

    (Selesai)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    Penulis skrip: Ahmad Fahmi dan UKM Mushaf ICWM

    Editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • KEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. III)

    KEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. III)

    3. BACAAN ALQURAN MENDATANGKAN RAHMAT DAN KASIH SAYANG ALLAH

    Bacaan Alquran akan mendatangkan mendatangkan rahmat dan kasih sayang Allah  dengan syarat jika bacaan tersebut didengar dan diperhatikan dengan baik.

    Allah ﷻ berfirman:

    وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

    Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al-A’raf Ayat 204)

    Ketika dibacakan Alquran kepada kita, maka hendaknya kita mencoba merasakan bahwa seakan-akan kita mendengarnya langsung dari Allah, dan menyadari bahwa bacaan tersebut adalah surat cinta dari Allah,  maka tatkala hal tersebut dapat kita wujudkan, niscaya hati kita  akan dipenuhi dengan indahnya makna ayat-ayat tersebut. Kita pun juga bisa merasakan kelembutan dan keajaiban yang terkandung didalamnya.

    Dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir,  Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, Mudarris Tafsir Universitas Islam Madinah menjelaskan bahwa, sesiapapun yang seksama mendengarkan ayat-ayat Allah ketika dibacakan, sesungguhnya ia sedang menanti turunya rahmat Allah, maka sepanjang malam,  akan menjadi lebih baik jika diseimbangkan antara shalat dan kesetiaan  untuk mendengarkan kalam Allah, karena itu akan memperbanyak turunnya rahmat dari-Nya.

    Seorang Professor fakultas Syari’ah Universitas Qashim menyampaikan, apabila dibacakan Al Quran di dalam shalat atau lainnya, maka dengarkan dan simaklah baik-baik untuk memahami maknanya, diamlah dari segala kesibukan dan pembicaraan untuk mendengarkan bacaannya, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ketika melaksanakan perintah-Nya dan mendengarkan ayat kitab-Nya. Ayat ini turun saat ada yang meninggikan bacaan shalat di belakang Nabi. (Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, Saudi Arabia)

    Dalam Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, Pakar Fiqih dan Tafsir Suriah  menyampaikan bahwa bagi semua orang yang mendengar Alquran ketika dibaca, maka diperintahkan untuk diam, dan mendengarkan. Perintah ini berlaku umum. Perbedaan antara diam dan mendengarkan, yaitu:  bahwa diam secara zahir adalah dengan meninggalkan pembicaraan atau tidak menyibukkan diri dengan sesuatu yang membuatnya tidak mendengar.

    Adapun mendengar, maka maksudnya adalah menyimak dengan membuka hati dan merenungkan apa yang didengar. Barangsiapa yang memegang kedua perkara ini ketika kitabullah dibaca, maka dia akan mendapatkan kebaikan yang banyak, ilmu yang melimpah, iman yang diperbarui, petunjuk yang selalu bertambah, dan bashirah dalam agamanya.

    Oleh karena itu Allah mengaitkan diraihnya rahmat dengan kedua perkara tersebut, hal ini menujukkan bahwa barangsiapa yang dibacakan Alquran kepadanya, lalu dia tidak mendengar dan tidak diam, maka dia tidak akan meraih bagian rahmat, dan dia telah kehilangan kebaikan yang melimpah. Diantara perintah yang ditekankan kepada Pendengar Alquran adalah hendaknya ia mendengarkan dan diam untuknya dalam shalat jahriyah ketika imamnya membaca Alquran. Dalam kondisi ini, ia diperintahkan untuk diam, bahkan kebanyakan ulama berkata bahwa diamnya adalah lebih baik daripada dia membaca Alfatihah atau lainnya. 

    4. MENDENGARKAN ALQURAN AKAN MENDAPAT PAHALA SEPERTI PEMBACANYA

    Mendengarkan bacaan Alquran, pahalanya sama dengan orang membacanya. Bila kita membaca Alquran satu huruf bernilai sepuluh kebaikan, begitu juga ketika kita mendengarkan, setiap huruf yang kita dengarkan bernilai sepuluh kebaikan.

    Menilik manfaat bacaan Alquran yang sedemikian mulia, maka hendaknya kita memperbanyak bacaan Alqurn, baik itu dengan melantunkannya sendiri maupun mendengarkan dari orang lain. Mendengarkan bacaan Alquran bisa menggunakan HP, Radio, Komputer dls. Bagi yang mendengarkan dengan seksama, maka in sya Allah pahalanya sama dengan pembacanya. 

    Jangan Pernah Puas Dari Mendengarkan Alquran

    Cinta kepada Alquran adalah tanda cinta kepada Allah. Jika ingin mengetahui bagaimana tanda cinta kita kepada Allah maka kita bisa melihat dari seberapa besar kecintaan kita kepada Alquran.

    Ketika membaca Alquran, anggaplah bahwa bacaan tersebut adalah surat cinta Allah yang diberikan khusus kepada kita. Dalam analogi sederhana, hati kita akan membuncah, sangat senang, ketika kita mendapat surat, atau pesan WA dari orang tercinta kita, entah dari orang tua kita, pasangan kita maupun anak kesayangan kita. Bahkan saat isi pesan kurang menyenangkan, kita tetap berharap-harap dan bersemangat membaca pesan dari orang yang kita cintai.

    Nah Alquran ini adalah kalamullah, pesan langsung dari Allah. Maka selayaknya kita perlakukan melebihi pesan cinta dari manusia. Dengan demikian, kita akan selalu senang membacanya dan ingin selalu mengulangnya. Sebagaimana nasehat yang disampaikan Ustman bin Affan:  “Sekiranya hati kita bersih, niscaya hati kita tidak akan pernah merasa kenyang dari firman Allah ‘Azza wa Jalla (Al-Qur’an).”

    Malaikat pun Ingin Mendengar Bacaan Alquran

    Suatu malam, Usaid duduk di beranda belakang rumahnya. Anaknya, Yahya, tidur di dekatnya. Kuda yang selalu siap untuk berperang fi sabilillah, diikat tidak jauh dari tempat duduknya. Suasana malam tenang dan hening. Permukaan langit jernih tanpa mendung. Usaid tergerak untuk membaca ayat AI-Qur’an yang suci.

    “Alif lam miim, Inilah Kitab (Alquran) yang tidak ada keraguan padanya; menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib yang menegakkan shalat, dan yang menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Alquran) yang diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum kamu, serta mereka yang yakin akan adanya (kehidupan) akhirat (QS. Al-Baqarah: 1-4).  

    Mendengar bacaan tersebut, tiba-tiba kuda yang sedang ditambat lari berputar-putar. Hampir saja tali pengikatnya putus. Ketika Usaid diam kuda itu diam dan tenang. Usaid melanjutkan lagi bacaannya. “Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Rabb-nya, dan merekalah orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 5). 

    Kembali kuda Usaid berputar-putar lebih hebat dari semula. Ketika ia memandang ke langit, ia mendapati pemandangan bagai payung yang mengagumkan. Ia belum pernah melihat pemandangan serupa itu sebelumnya. Awan itu indah berkilau, bergantung seperti lampu memenuhi ufuk, bergerak naik dengan sinarnya yang terang. Kemudian perlahan-lahan menghilang dari pandangan. 

    Esok harinya, Usaid pergi menemui Rasulullah SAW menceritakan peristiwa yang dialaminya. Rasulullah berkata, “Itu adalah malaikat yang ingin mendengarkan engkau membaca Alquran. Seandainya engkau teruskan, pastilah akan banyak orang yang bisa melihatnya. Pemandangan itu tidak akan tertutup dari mereka.” (HR. Bukhari-Muslim).

    (Bersambung Bag. IV)

    Penulis skrip: Ahmad Fahmi dan UKM Mushaf ICWM

    Editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • KEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. II)

    KEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. II)

    2. BACAAN ALQURAN MEMBERIKAN KETENANGAN JIWA

    Sungguh sangatlah beruntung seorang mukmin yang bisa menikmati bacaan Al-Quran baik ketika dibaca sendiri maupun saat mendengarkan bacaan orang lain. Kenikmatan yang menimbulkan ketenangan jiwa bahkan mengalahkan nikmatnya rekreasi di tempat wisata.

    Nabi ﷺ pernah meminta sahabat Abdullah bin Mas’ud untuk membaca Alquran hingga kemudian beliau benar-benar menikmati dan merasakan ketenangan yang diikuti linangan air mata dan tanda rasa tunduk pada Allah

    Dari Abdullah bin Mas’ud RA,

    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَأْ عَلَيَّ قَالَ قُلْتُ أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ إِنِّي أَشْتَهِي أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي قَالَ فَقَرَأْتُ النِّسَاءَ حَتَّى إِذَا بَلَغْتُ { فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا } قَالَ لِي كُفَّ أَوْ أَمْسِكْ فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَذْرِفَانِ

    Rasulullah ﷺ bersabda: “Bacakanlah Al Qur`an kepadaku.” Aku pun berkata, “Aku membacakannya untuk Anda, padahal kepada Andalah ia diturunkan?” beliau bersabda: “Sesungguhnya aku suka mendengarnya dari orang lain.” Akhirnya aku pun membacakan surat An-Nisa` dan ketika sampai pada ayat: “Dan bagaimanakah sekiranya Kami mendatangkan manusia dari seluruh umat dengan seorang saksi, lalu kami mendatangkanmu sebagai saksi atas mereka.” Maka beliau pun bersabda padaku: “Cukuplah.” Lalu aku pun melihat kedua mata beliau meneteskan air. (Hadits Bukhari:  4667)

    Demikianlah energi Alquran yang begitu yang kuat. Sebuah kekuatan yang bisa memupus segala jenis keraguan, kemalasan, dan rasa takut, sehingga menimbulkan ketenangan jiwa yang luar biasa.

    Tafsir Ibnu Katsir menyatakan bahwa mereka yang menyungkur sambil menangis adalah orang-orang yang merendahkan diri di hadapan Allah ﷻ dengan keimanan yang paripurna.

    Allah ﷻ berfirman:

    أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ مِن ذُرِّيَّةِ ءَادَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْرَٰٓءِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَٱجْتَبَيْنَآ ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُ ٱلرَّحْمَٰنِ خَرُّوا۟ سُجَّدًا وَبُكِيًّا

    Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (QS. Maryam Ayat 58) 

    Tafsir al-Maraghi, menjelaskan, mereka yang menyungkurkan dagu sambil menangis tak lain karena ekspresi takut kepada Allah ketika mendengar bacaan Alquran.

    Didalam ayat lain, Allah ﷻ berfirman:

    اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ  )الزمر: 23(

    Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. (Qs.Azzumar: 23)

    Tafsir Al Mukhatashar menjelaskan bahwa Alquran mengandung  kisah-kisah, hukum-hukum, hujjah-hujjah dan keterangan-keterangan yang diulang-ulang. Dimana meskipun tilawahnya diulang-ulang namun jiwa tidak pernah merasa bosan.  

    Al Walid Bin Mughirah-Tokoh Kafir Yang Mengakui Kemanisan Alquran

    Al Walid bin Mughirah  yang juga merupakan ayah dari Khalid bin Walid adalah tokoh Quraisy yang terhormat. Saking terhormatnya, maka banyak dari kaumnya yang suka jika dinisbatkan dengannya yaitu Al Mughiri.

    Al Walid termasuk orang terkaya Quraiys. Pada suatu masa, pernah terjadi banjir di kota Mekah sehingga membuat bangunan Ka’bah hampir runtuh. Saat itu, oleh Al Walid dan penduduk Mekah, bangunan Ka’bah dirobohkan untuk dibangun dan diperbaiki ulang. Tiga sisi Ka’bah, biaya pembangunannya ditanggung oleh penduduk Mekah, adapun salah satu sisinya dibangun sendiri dengan harta kekayaan Al Walid. Itu artinya, kekayaan Al Walid mencapai ¼ dari kekayaan masyarakat Mekah.

    Di masa jahiliyah, para kaum kafir bergantian setiap malam untuk melihat gerak-gerik Rasulullah, termasuk mendengarkan bacaan Rasulullah yaitu Alquran.

    Al-Mustadrak al-Hakim dari Ibnu Abbas RA bahwa Al Walid bin  Al Mughirah menemui Rasulullah ﷺ. Kemudian Rasulullah membacakan Alquran kepadanya. Sepertinya Alquran itu melembutkan kekufuran Al Walid. Kabar tersebut sampai ke telinga Abu Jahal. Ia pun datang menemui al-Walid.

    Abu Jahal mengatakan, “Wahai Paman, sesungguhnya kaummu ingin mengumpulkan harta untukmu.”

    “Untuk apa?” tanya al-Walid.

    “Untukmu. Karena Engkau datang menemui Muhammad untuk menentang ajaran sebelumnya (ajaran nenek moyang).” Jawab Abu Jahal.

    Al-Walid bin al-Mughirah menanggapi, “Orang-orang Quraisy tahu, kalau aku termasuk yang paling kaya di antara mereka.”

    “Ucapkanlah suatu perkataan yang menunjukkan kalau engkau mengingkari Alquran atau engkau membencinya.”, kata Abu Jahal.

    Al-Walid mengatakan,

    وماذا أقول؟ فوالله! ما فيكم رجل أعلم بالأشعار مني، ولا أعلم برجز ولا بقصيدة مني، ولا بأشعار الجن، والله! ما يشبه الذي يقول شيئا من هذا، ووالله! إن لقوله الذي يقول حلاوة، وإن عليه لطلاوة، وإنه لمثمر أعلاه مغدق أسفله، وإنه ليعلو وما يعلى، وإنه ليحطم ما تحته

    “Apa menurutmu yang harus kukatakan pada mereka? Demi Allah! Tidak ada di tengah-tengah kalian orang yang lebih memahami syair Arab daripada aku. Tidak juga pengetahuan tentang rajaz dan qashidah-nya yang mengungguli diriku. Tapi apa yang diucapkan Muhammad itu tidak serupa dengan ini semua. Juga bukan sihir jin. Demi Allah! Apa yang ia ucapkan (Alquran) itu manis. Memiliki thalawatan (kenikmatan, baik, dan ucapan yang diterima jiwa). Bagian atasnya berbuah, sedang bagian bawahnya begitu subur. Perkataannya begitu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya, serta menghantam apa yang ada di bawahnya.”

    Abu Jahal bersikukuh agar Al Walid mengatakan sesuatu yang bisa membuat orang-orang Quraisy ridha. Ia berkata, “Kaummu tidak akan ridha kepadamu sampai engkau mengatakan sesuatu yang buruk tentang Alquran itu.”

    “Jika demikian, tinggalkanlah aku, biar aku berpikir dulu,” kata Al-Walid.

    Setelah berpikir, Al Walid mengatakan, “Alquran ini adalah sihir yang dipelajari. Muhammad mempelajarinya dari orang lain.”

    Kemudian Allah menurunkan firman-Nya dalam QS Al Mudatsir ayat 11. Dari ayat 11 dan beberapa ayat seterusnya bercerita tentang Al Walid bin Al Mughirah yang divonis akan mendapatkan azab yang pedih di neraka.

    Kisah tersebut, selain dalam Al Mustadrak, juga bisa dijumpai dalam Sunan Kubra Imam Al Baihaqi dan Al Bidayah wa Al Nihayah Imam Ibnu Katsir.

    Dari kisah tersebut, merupakan bukti bahwa bacaan Alquran sangat manis dan bahkan menyentuh hati orang kafir. Ketika orang kafir pun tersentuh dengan bacaan Alquran, maka kita sebagai muslim lebih berhak untuk tersentuh dengan bacaan Alquran. Jika kita masih bermalasan dan bosan dengan bacaaan Alquran, maka kita perlu menambah istighfar. Karena bagi muslimin yang hatinya bersih, maka ia tidak akan pernah kenyang dengan bacaan Alquran.

    Wanita Amerika Tersentuh Dengan Bacaan Alquran Seorang Khatib

    Salah seorang Ulama dari Mesir sedang melakukan perjalanan menggunakan kapal laut menuju  Amerika. Di atas kapal laut, Ulama tersebut berkhotbah Jumat. Di dalam khotbahnya,  Sang Ulama menyampaikan nasehat kebajikan termasuk juga menyampaikan perkataan para Ulama,  menyampaikan Hadits dan Tafsir.

    Selepas Sholat Jumat, ada seorang Wanita Amerika yang mendatanginya dan memintanya untuk membacakan ulang bacaan Ulama yang tadi disampaikan pada saat khotbah. Ulama tersebut membacakan hadits, perkataan ulama dan tasfsir, namun Wanita Amerika tersebut mengatakan ‘bukan’. Pada saat Ulama tersebut membacakan Alquran, ternyata Wanita tersebut mengatakan ‘Nah bacaan inilah yang saya maksud, bacaannya sangat indah’.

    Subhanallah, inilah keajaiban Alquran yang mampu menyentuh hati orang non muslim.

    Wanita China Kagum Dengan Bacaan Alquran di Hotel Sudan

    Di Sudan, terdapat sebuah Perusahaan Pertambangan milik China. Suatu ketika,  ada seorang wanita China yang melewati sebuah kamar hotel, dimana didalamnya terdapat seorang Syaikh yang sedang murojaah ayat Alquran, dan bacaannya terdengar hingga keluar dari kamar hotel.

    Wanita China tersebut menghentikan langkahnya dan menemui sang pembaca Alquran. “Lagu apakah yang kamu baca? Lagunya sangat indah.” Tanya Wanita China

    “Ini bukan lagu. Yang saya baca tadi adalah Ayat Alquran” jawab Syaikh tersebut menjelaskan.

    Demikianlah energi kedahsyatan Alquran, yang bahkan keindahannya bisa dirasakan oleh non muslim.

    (Bersambung Bag. III)

    Penulis skrip: Ahmad Fahmi dan UKM Mushaf ICWM

    Editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • KEUTAMAAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN (Bag. I)

    Menjadi Ahlul Quran adalah sebuah misi yang agung. Ahlul Quran adalah keluarganya Allah di muka bumi. Dengan menjadikan misi agung tersebut sebagai misi dalam keluarga kita, maka kita bisa menyiapkan setiap anggota keluarga sebagai Ahlul Quran. Keluarga inilah yang didamba setiap insan, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarga Ahlul Quran di dunia dan akhirat.

    Salah satu kiat yang bisa kita upayakan agar kita menjadi Ahlul Qur’an adalah dengan mendengarkan bacaan Alquran. Beberapa keutamaan dari mendengarkan kalamullah ini adalah:

    1. SEBAGAI HIDAYAH ATAU PETUNJUK

    Mendengarkan bacaan Alquran merupakan sarana diperolehnya hidayah atau petunjuk. Petunjuk ini bukan saja diberikan kepada non muslim, namun juga Allah berikan kepada hambaNya yang muslim yaitu berupa bertambahnya keimanan dan dijauhkannya dari kemaksiatan.

    Allah ﷻberfirmah:

    ٱلَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰب

    Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.  (Az-Zumar Ayat 18) 

    Tafsir Almuyasar menjelaskan bahwa mendengar perkataan yang dimaksud adalah perkataan  dari kitab Allah atau dari sunnah Rasulullah ﷺ, kemudian mereka menjalankan kebaikan yang diperintahkan kepada mereka dan mengamalkannya.

    Umar bin Khatab RA Masuk Islam Lantaran Mendengar Bacaan Alquran

    Dikisahkan dari riwayat Anas yang dikeluarkan oleh Al-Hakim dan Al-Baihaqi, menyebutkan:

    Pada suatu hari ‘‘Umar keluar dengan menyandang sebilah pedang. Di tengah jalan dia bertemu dengan seorang laki-laki dari Bani Zuhrah dan dia berkata: “Akan ke mana engkau, hai ‘‘Umar?” ‘Umar ketika itu menjawab: “Mau membunuh Muhammad.” Laki-laki itu berkata lagi: “Bagaimana engkau dapat merasa aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah setelah membunuh Muhammad?” ‘Umar berkata pula: “Mungkin engkau sendiri sudah menukar agamamu?” Orang itu menukas: “Maukah kau aku tunjukkan kejadian yang lebih menakjubkan? Sesungguhnya saudarimu dan iparmu sudah memeluk Islam dan meninggalkan agama nenek moyangmu.”

    Mendengar hal ini, ‘Umar segera berbalik dan menuju ke rumah saudari dan iparnya yang kebetulan Khabbab sedang berada di sana. Ketika mereka mendengar suara ‘Umar, dia segera bersembunyi di dalam rumah. ‘Umar pun masuk dan berkata: “Suara apa yang kudengar ini?” Waktu itu mereka sedang membaca surat Thaha. Keduanya berkata: “Tidak ada, hanya kami berbincang-bincang biasa.” Kata ‘Umar: “Jangan-jangan kalian berdua sudah masuk Islam?” Iparnya menjawab: “Hai ‘Umar, bagaimana jika al-haq itu ternyata bukan berada pada agamamu?”

    Mendengar hal ini ‘Umar melompat kemudian membanting dan menginjaknya dengan keras. Saudarinya segera datang membela suaminya. Tapi ‘Umar segera memukulnya hingga darah keluar dari wajah saudarinya itu. Wanita itu berkata dalam keadaan sangat marah: “Apakah (kau marah) meskipun al-haq bukan berada pada agamamu? Sungguh aku bersaksi tidak ada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.” (Mungkin karena merasa iba), ‘Umar berkata: “Coba berikan tulisan apa yang ada pada kalian, aku mau membacanya.” ‘Umar termasuk kalangan terpelajar dan pandai membaca. Saudarinya menjawab: “Kamu itu najis. Kitab ini tidak boleh disentuh oleh orang yang najis. Pergilah bersuci!” ‘Umar pun beranjak untuk mandi. Kemudian dia mulai membaca surat Thaha. sampai kepada ayat:

    إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

    “Sesungguhnya Aku adalah Allah yang tidak ada Ilah selain Aku. Maka beribadahlah kepada-Ku dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Thaha: 14)

    ‘Umar berkata: “Tunjukkanlah kepadaku di mana Muhammad!” Ketika Khabbab mendengar hal ini, dia segera keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata: “Gembiralah, hai ‘Umar. Aku berharap engkaulah yang didoakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Ya Allah, muliakanlah Islam dengan ‘Umar bin Al-Khaththab atau ‘Amru bin Hisyam’.

    (HR.At-Tirmidzi kata beliau gharib dan An-Nadhr Abu ‘Umar kata Al-Imam Al-Bukhari dia munkarul hadits).


                Betapa dahsyatnya keutamaan bacaan Alquran, sosok Umar bin Khattab RA yang terkenal sebagai seseorang yang berwatak keras dan bertubuh tegap. Sebelum keislamannya, sering kali kaum muslimin mendapat perlakuan kasar darinya. Pada akhirnya, dengan izin Allah, ia mendapat hidayah masuk islam lantaran mendengarkan bacaan Alquran. 

     Raja An Najasyi Menangis Ketika Mendengarkan Kalamullah

    Ummu Salamah, istri Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bercerita, “Saat kami sampai di negeri Habasyah kami disambut dengan sangat baik oleh Najasyi. Kami aman beragama dan beribadah kepada Allah. Kami tidak diganggu dan tidak mendengar sesuatu pun yang tidak kami suka, Ja’far bin Abu Thalib-lah yang berbicara kepadanya, ‘Paduka, kami dulu adalah kaum yang bodoh, ahli Jahiliyah. Kami menyembah patung, makan bangkai, melakukan perbuatan nista, memutus silaturahim, suka mengganggu tetangga, dan siapa yang kuat di antara kami, akan memakan yang lemah. Begitulah keadaan kami sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul.’ Najasyi bertanya, ‘Apakah kamu hapal sesuatu dari ajarannya?’ ‘Ya,’ jawab Ja’far. ‘Bacakan untukku!’ pinta Najasyi.

    Maka Ja’far pun membaca beberapa ayat awal surat Maryam. Najasyi menangis. Demi Allah, jenggotnya sampai basah oleh air matanya. Uskup-uskupnya pun menangis saat mendengar bacaan Ja’far, sehingga air mata mereka membasahi lembaran-lembaran kitab yang mereka bawa.

    Kemudian Najasyi berkata, ‘Demi Allah, ini dan yang diajarkan Musa (Isa –tolong cek yang benar)  benar-benar berasal dari sumber yang sama. Pulanglah kalian (wahai utusan orang-orang Quraisy!) Aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian selamanya.”

    Berkenaan dengan Najasyi, Allah menurunkan firman-Nya:

    وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

    “Dan apabila mereka mendengarkan apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui.”(Al-Mâ’idah: 83)

    Ibnu Jarir dan yang lainnya meriwayatkan dari Az-Zuhri bahwa ia berkata, ”Saya senantiasa mendengar dari para ulama kita bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Najasyi dan sahabat-sahabatnya

    Fudhail bin Iyadh, Mantan Perampok yang Menjadi Gurunya Para Ulama

    Fudhail bin Iyadh adalah ulama besar yang hidup pada abad ke 2 H,  dan  wafat pada tahun 187 H. Banyak ulama besar yang berguru kepadanya, di antaranya adalah Imam Syafii, Sufyan bin Uyaynah, Yahya bin Said al Qotton, Ibnu Mubarak dan Abdurrahman bin Mahdi.

    Fudhail bin Iyadh dahulunya adalah seorang perampok besar yang sering melakukan kejahatan di rute Abiwarda dan daerah Sarkhos. Siapapun pengelana di jalur tersebut, jika mendengar nama Fudahil maka akan merinding ketakutan. Demikian karena tersohornya operasi perampokkannya di wilayah tersebut.

    Kala itu, Fudhail sedang jatuh cinta dengan seorang gadis. Diapun memanjat tembok untuk menemui wanita  tersebut. Ketika dia berada di atas tembok, ia mendengar suara lantunan Alquran dari wanita tersebut :

    أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

     “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)

    Tak terasa air matanya berlinang, hingga akhirnya dia pun tersungkur jatuh. Seketika badannya yang selama ini kokoh, menjadi rapuh karena mendengar ayat tadi. Dia pun berkata dalam hatinya untuk menjawab pertanyaan Allah yang terdapat dalam ayat di atas, “Wahai Rabb-ku, telah tiba saatnya”.

    Akhirnya, ia pergi menjauh, lalu ia bermalam pada reruntuhan bangunan. Ternyata di samping bangunan itu ada orang-orang yang hendak melewati jalur operasi kajahatannya. Sebagian diantara orang-orang itu berkata, “Ayo kita berangkat”. Sebagian lagi bilang, “Jangan dulu!! Nanti shubuh kita berangkat, karena Fudhail sekarang akan menghadang kita di jalan!!!”.

    Fudhail menceritakan , “Kemudian aku merenung dan bergumam;  aku menjalani kemaksiatan-kemaksiatan di malam hari dan sebagian dari kaum muslimin ketakutan kepadaku, dan tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku bertaubat kepadaMu dan aku jadikan taubat itu dengan tinggal di Baitullah.”

    Setelah kejadian itu, Fudhail pun melalui hari-harinya dengan ketaatan kepada Allah sampai ia dikenal dengan ‘abidul haromain (عَابِدُ الْحَرَمَيْنِ), artinya “Ahli ibadah dua tanah suci (Makkah dan Madinah)”

    Maha suci Allah yang telah membolak-balikkan hati, dan menganugerahkan kepada hamba-Nya hati yang lembut. Itulah kisah seorang penyamun (perampok) jahat berubah menjadi seorang ulama’ dan hamba yang sholeh. [Dinukil dari: Al-Imam Al-Fudhoil bin Iyadh sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hafizh Adz-Dzahabiy dalam kitabnya Siyar A’lam An-Nubala’ (8/423)]

    Jin Pun Mendapat Hidayah Setelah Mendengarkan Alquran

    Allah ﷻ berfirman:

    قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبً 

    “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan,(Q.S.Al-Jin ayat 1.

    Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah membacakan Alquran  kepada Jin, dan tidak pernah melihat mereka. Ketika Rasulullah bersama para sahabatnya menuju ke Pasar Ukkadh, sesampainya di Tuhamah, Rasululllah bersama rombongannya berhenti untuk melakukan sholat fajar. 

    Hal tersebutlah yang menyebabkan terhalangnya setan untuk mencuri  berita-berita di langit. Alih-alih mencuri berita langit, setan malahan mendapat lemparan bintang-bintang dari langit. Sehingga setan pun terpaksa pulang kepada kaumnya.

    Setibanya di tempat kaumnya, setan-setan tersebut  ditanya : “Apa yang terjadi sehingga kalian kembali?”. Mereka menjawab : “Kami terhalang untuk mendapat berita langit”.

    “Tentu ada sebabnya, bersabarlah kalian ke timur dan ke barat dan carilah sebab penghalangnya“. Perintah tersebut, membuat mereka menyebar ke barat dan ke timur mencari sebab penghalangnya tindak pencurian berita langit.

    Dalam tugas pencarian sebab musabab ini,  sebagian dari mereka sampailah di Tuhamah,  tempat Rasulullah berhenti untuk melaksanakan sholat shubuh. Mereka mendengar bacaan Rasulullah dan memperhatikannya serta berkata : “Demi Allah, inilah yang menghalangi kita untuk mencuri berita dari langit“. Mereka pun pulang ke kaumnya dan menyampaikan kejadian itu serta mengagumi Alquran yang membawa mereka kejalan petunjuk Allah sehingga mereka beriman. Maka turunlah ayat ini (surah Jin ayat 1, sebagai pemberitahuan kepada Nabi saw., untuk memberitahukan kepada ummatnya tentang kejadian itu. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan At-Tarmidzi dan yang lainnya yang bersumber dari Ibnu Abbas)

    (Bersambung Bag. II)

    Penulis skrip: Ahmad Fahmi dan UKM Mushaf ICWM

    Editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. VI)

    KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. VI)

    14. Pembaca Alquran Akan Dibangkitkan Bersama Malaikat

    Hari kebangkitan merupakan sebuah keniscayaan, yang pasti akan dirasakan oleh seluruh umat manusia di muka bumi. Setelah manusia dibangkitkan dari  alam kubur, maka Allah akan mengumpulkan manusia di Padang Mahsyar untuk menunggu keputusan Allah. Pada hari tersebut, hari dimana manusia dibangkitkan sesuai amalannya, dan tiada berguna lagi harta benda bahkan ikatan persaudaraan. Hanya amal solihlah yang menemani pada hari kebangkitan yang dahsyat tersebut.

    Betapa beruntungnya, bilamana manusia dibangkitkan bersama para malaikat mulia, bersama para nabi, sahabat, dan kaum muslimin. Siapakah yang beruntung untuk dibangkitkan bersama para malaikat tersebut? Ialah sang ahlul Quran. Yang rajin membaca Alquran, mentadabburinya dan mengamalkannya. Sebagaimana dalam sebuah hadits: 

    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

    Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala”. (HR. Muslim)

    penjelasan imam muslim :

    وَأَمَّا الَّذِي يَتَتَعْتَعُ فِيهِ فَهُوَ الَّذِي يَتَرَدَّدُ فِي تِلَاوَتِهِ لِضَعْفِ حِفْظِهِ فَلَهُ أَجْرَانِ : أَجْرٌ بِالْقِرَاءَةِ ، وَأَجْرٌ بِتَتَعْتُعِهِ فِي تِلَاوَتِهِ وَمَشَقَّتِهِ .

    ‘Adapun orang yg terbata bata dalam membaca alqur’an adalah yg berulang2 dalam membacanya sebab lemahnya hafalan maka baginya dua pahala yaitu pahala membaca dan pahala kesulitan dalam membacanya.’

    Sungguh, tiada kerugian bagi sang Ahlul Quran. Bagi seseorang yang mahir, maka mendapat kemuliaan dibangkitkan bersama malaikat. Adapun bagi Sahabat Quran yang masih terbata karena kurang lancar membaca Alquran, bahkan tetap diganjar dua pahala. Bahkan bagi Shohibul Quran yang telah berazzam untuk menghafalkan Alquran, namun kemampuannya terbatas dan tetap mengisi hari harinya dengan bacaan Alquran, maka iapun akan dibangkitkan bersama para Penghafal Alquran. Demikian karena manusia akan dibangkitkan bersama yang ia cintainya.

    15. Buah Utrujah, Identitas Keharuman Pembaca Alquran

    Buah utrujah atau buah jeruk yang harum dan manis merupakan salah satu buah yang dianalogikan sebagai umat islam yang gemar membaca Alquran. Sebagaimana dalam sebuah hadits:  Dari Abu Musa Al Asy’ariy RA, Rasulullah ﷺ bersabda,

    الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ

    “Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 5059)

    Betapa indahnya analogi tersebut, buah jeruk yang harum, wangi semerbak, warnanya ranum, rasanya  manis, tentu membuat semua orang ingin mencicipinya. Buah jeruk mengandung banyak manfaat. Bukan hanya daging buahnya namun juga kulit dan bijinya.

    Sebagaimana dilansir dalam sebuah artikel kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, buah jeruk dikenal sebagai buah yang rendah kalori, mengandung banyak air, tinggi serat, dan vitamin C.  Beberapa manfaat buah jeruk yang baik untuk tubuh, di antaranya yaitu;  buah jeruk  mengandung senyawa flavonoid hesperitin dan  naringenin yang dapat mengurangi risiko kanker. Kandungan citric acid and citrates, juga telah terbukti mencegah pembentukan batu ginjal. Komponen antiinflamasi dan antioksidan dari jeruk dapat membantu mencegah penuaan kulit dengan melawan radikal bebas, membantu menurunkan berat badan, menjaga kesehatan jantung, mencegah anemia, mencegah stroke, menurunkan tekanan darah, mencegah kerusakan kulit, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menjaga kesehatan mata dls. [1]

    Bukan hanya buahnya yang bermanfaat, kulit jeruk juga mengandung nutrisi yang tinggi  yakni serat, vitamin, dan mineral. Seratus gram kulit jeruk mengandung 11 gram serat, sementara satu sendok makan kulit jeruk mengandung vitamin C dengan jumlah 3 kali lipat dari daging buahnya.

    Maka mengkonsumsi kulit jeruk bisa meningatkan kesehatan jantung. Polifenol yang terkadung di dalam kulit jeruk bisa menurunkan berbagai penyakit. Adapun kandungan senyawa antibakteri serta mineral yang berupa fosfor dan kalsium dalam kulit jeruk, bisa membantu mencegah pembentukan gigi berlubang dan membantu menjaga kesehatan tulang.[2] Cara mengkonsumsi kulit jeruk yaitu dengan mengeringkannya dan menyeduhnya menggunakan air panas.

     Masya Allah, sedemikian kayanya manfaat dari buah jeruk. Sangatlah pantas jika mukmin yang rajin membaca dan mengamalkan Alquran dipermisalkan seperti buah jeruk, karena seorang mukmin itu jiwanya bagus, qalbunya juga baik, dan ia bisa memberikan kebaikan kepada orang lain. Duduk bersamanya terdapat kebaikan. Maka seorang mukmin yang rajin membaca Alquran adalah baik seluruhnya, baik pada dzatnya dan baik untuk orang lain.

    Adapun seorang mukmin yang tidak membaca Alquran adalah seperti buah kurma. Rasanya enak namun tidak memiliki aroma yang wangi dan harum. Jadi seorang mukmin yang rajin membaca Alquran jauh lebih utama dibanding yang tidak membaca Alquran. Tidak membaca Alquran artinya tidak mengerti bagaimana membaca Alquran, dan tidak pula berupaya untuk mempelajarinya.

    Perumpamaan seorang munafiq, namun ia rajin membaca Alquran adalah seperti buah Raihanah : aromanya wangi namun rasanya pahit. Karena orang munafiq itu pada dzatnya jelek, tidak ada kebaikan padanya. Munafiq adalah : orang yang menampakkan dirinya sebagai muslim namun hatinya kafir.   Kaum munafiq inilah yang Allah nyatakan dalam firman-Nya :

    Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” [Al-Baqarah : 8 – 10]

    Didapati orang-orang munafiq yang mampu membaca Alquran dengan bacaan yang bagus dan tartil. Namun mereka hakekatnya adalah para munafiq yang kondisi mereka ketika membaca Alquran adalah seperti yang digambarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ :

    يقرؤون القرآن لا يتجاوز حناجرهم

    “Mereka rajin membaca Alquran, namun bacaan Alquran mereka tidak melewati kerongkongan mereka.”

    Maka Nabi ﷺ mengumpamakan mereka dengan buah Raihanah, yang harum aromanya, karena mereka terlihat rajin membaca Alquran; namun buah tersebut pahit rasanya, karena jelek dan jahatnya jiwa mereka serta rusaknya niat mereka.

    Adapun orang munafiq yang tidak rajin membaca Alquran, maka diumpamakan oleh Rasulullah ﷺ seperti buah Hanzhalah, rasanya pahit dan tidak memiliki aroma wangi. Inilah munafiq yang tidak memiliki kebaikan sama sekali. Tidak memiliki aroma wangi, karena memang ia tidak bisa membaca Alquran, selain itu, dzat dan jiwanya juga dzat dan jiwa yang jelek dan jahat. Demikian jenis dan tipe manusia terkait dengan Alquran. Semoga Allah masukkan kita ke dalam golongan mukmin yang sekaligus ahlul Quran. Aamiin (Selesai)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    *Penulis skrip dan editor Tanti Ummu Fahdlan


    [1] Arnarson, Atli, PhD. 2019. Oranges 101: Nutrition Facts and Health Benefits. https://www.healthline.com/nutrition/foods/oranges#plant-compounds. (Diakses pada 24 Januari 2020).

    [2] Diah Ayu, hellosehat.com, ditinjau oleh dr.Patricia Lukas Goentoro

  • KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. V)

    KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. V)

    12. Allah Menyebut Namanya di Hadapan Para Malaikat Mulia

    Popularitas hakiki bukanlah kepopuleran dan masyhurnya nama seseorang dihadapan mahluk. Sebagaimana popularitasnya artis yang dipuja-puji oleh jutaan penggemarnya. Popularitas sejati bagi hamba yang mukmin adalah ketika ia diridloi oleh Allah dan namanya dikenal oleh Penghuni Langit karena ketakwaan dan keimanannya.

    Salah satu karunia yang Allah berikan kepada pembaca Alquran maka namanya akan disebut-sebut oleh Allah. Kebahagian manakah yang pantas dibanggakan melebihi kebahagiaan dari dikenalnya kita, disebutnya kita oleh Allah?

    Abu Hurairah RA dalam Shahih Muslim, Rasululllah ﷺ bersabda:

     “وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ، فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ، إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ.”

     “Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah (masjid), sedang mereka membaca kitab Allah (al-Qur-an) dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali akan turun ketenangan atas mereka, dan mereka diliputi rahmat Allah, serta para Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyebut-nyebut (membanggakan) mereka pada (para Malaikat) yang ada di dekat-Nya.”

    Disebutnya nama kita di majelis Kekasih kita merupakan nikmat yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Dalam analogi sederhana, jika kita disanjung didepan tokoh ternama, maka kit akan merasa senang. Bagaimana jika yang menyanjung itu Allah dan disanjung di hadapan makhluk mulia, yaitu malakait yang tak pernah maksiat?

    Dari Abu Hurairah RA, Nabi ﷺ bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

    أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِى فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ خَيْرٍ مِنْهُ

    “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku. Aku bersamanya kala ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, maka aku akan menyebut-nyebutnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu.” (HR. Muslim, no. 2675)

    Tak inginkah kita mendapatkan ketenangan jiwa dan keutamaan seperti dikemukakan dalam hadits di atas. Maka marilah memperbanyak majelis kita dengan bacaan Alquran, dengan memperbanyak dzikrullah, agar kita selalu diingat oleh Rabb Pencipta kita.

    13. Allah Bebaskan Para Pembaca Alquran Dari  Golongan Orang Lalai

    Sesungguhnya di antara sebab yang bisa mendatangkan kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah membaca Alquran dengan khusyu’ dan berusaha memahaminya. Sehingga tidak mengherankan, apabila kedekatan dengan Alquran merupakan perwujudan ibadah yang bisa mendatangkan cinta Allah.

    Rasulullah menganjurkan umatnya untuk selalu membaca Alquran. Jika bisa khatam membacaAlquran dalam beberapa hari, maka itu lebih baik. Namun jika tidak, maka minimal, usahakanlah untuk membaca ayat Alquran, minimal 10 ayat setiap malam. Karena dengan demikian, maka akan terbebaskan dari  golongan orang yang lalai Sebagaimana sebuah hadits;

    “Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

    مَن قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ فِي لَيلَةٍ لَم يُكتَبْ مِنَ الغَافِلِينَ

    “Barangsiapa membaca sepuluh ayat pada malam hari, maka dia tidak termasuk orang-orang yang lalai.” (HR.Hakim).[1]

    Dari hadits tersebut, terdapat sebuah pertanyaan; Pembacaan sepuluh ayat tersebut apakah dikhususkan hanya pada waktu shalat atau waktu malam di luar shalat?

    Keduanya terdapat dalil yang menjelaskan.

    Penjelasan pertama dikuatkan oleh riwayat Abu Dawud, 1398 dari Abdullah bin Amr bin Ash RA berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

    مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنْ الْغَافِلِينَ ، وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْقَانِتِينَ ، وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْمُقَنْطِرِينَ

    “Barangsiapa yang menunaikan (membaca) sepuluh ayat, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang lalai. Dan barangsiapa yang menunaikan seratus ayat, maka dia termasuk qhanitin (ahli ibadah). Barangsiapa menunaikan seribu ayat, maka dia termasuk golongan orang Muqanthirin (berharta sangat banyak).”[2]

    Dalam kitab Aunul Ma’bud dikatakan, “Maksudnya di sini adalah qiyamul lail. Oleh karena itu diriwayatkan oleh Ibnu Hibban hadits tadi dalam bab qiyamul lail dalam shahihya, 4/120 dan dibuat judul ‘Dzikru Nafi Goflah Amman Qama al-Lailah Bi’asyri Ayat’ (Dzikir yang dapat meniadakan kelalaian bagi orang yang menunaikan qiyamul lail dengan sepuluh ayat).

    Muqanthirin yang dimaksud disini adalah orang yang mendapat limpahan pahala yang sangat banyak. Sedangkan satu qinthar saja, dalam sebuah hadist disebutkan bahwa ia lebih baik dari dunia dan seisinya. Bagaimana dengan jika Allah masukkan kedalam golongan Muqanthirin? Maka tentu kebaikannya sangat berlipat ganda melebihi dunia seisinya.

    Dikuatkan juga dengan hadits Abu Hurairah RA dengan teks, “Barangsiapa yang shalat waktu malam dengan seratus ayat, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai. Barangsiapa yang shalat waktu malam dengan dua ratus ayat, maka dia termasuk golongan orang-orang qanithin mukhlisin.” (HR. Hakim).[3]  

    Dalam riwayat Ibnu Huzaimah, 2/180:

    من حافظ على هؤلاء الصلوات المكتوبات لم يكتب من الغافلين ، ومن قرأ في ليلة مائة آية لم يكتب من الغافلين أو لم يكتب من القانتين ..  (قال الألباني في الصحيحة، رقم 643 ، إسناده صحيح على شرط الشيخين)

    “Barangsiapa menjaga shalat wajib, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai. Barangsiapa membaca di waktu malam hari seratus ayat, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai atau termasuk orang-orang qanithin (orang-orang yang bertaqwa).”[4]

    Penggabungan bacaan dengan menyebutkan shalat wajib, mengisyaratkan bahwa yang dimaksud adalah bacaan dalam shalat, yakni shalat lail. Oleh karena itu Ibnu Khuzaimah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah dalam bab “Bab Dzikru Fadhilatus Qira’ah Miah Ayat Fi Shalatil Lail Idz Qori Miah Ayah Fi Lailah La Yuktab Minal Ghofilin (Bab menyebutkan keutamaan bacaan seratus ayat dalam shalat lail ketika membaca seratus ayat waktu malam maka dia tidak termasuk orang-orang yang lalai). Diriwayatkan juga Muhammad bin Nasr Al-Marwazi dalam kitabnya qiyamul lail (164 dengan ringkasan). Dalam bab yang terkait dengan bacaan dalam shalat malam.

    Selain penjelasan tentang bacaan di dalam shalat, ada juga penjelasan yang menerangkan tentang keumuman bacaan Alquran di waktu malam di luar shalat. Baik itu waktu sebelum tidur maupun saat bangun malam.  

    Keumuman makna tersebut, sebagaimana yang dipahami oleh mayoritas  ulama dalam menghukumi hadits tersebut  pada karangan mereka. Misalnya, Sunan Darimi rahimahullah yang telah membuatnya dalam bab 2/54 dengan mengatakan, ‘Bab Fadlu Man Qara Asyra Ayat (Bab keutamaan bagi orang yang membaca sepuluh ayat).’

    Sementara Hakim membuatnya dalam Kitab Mustadraknya, 1738 dengan mengatakan ‘Akhbar Fi Fadhoil Al-Qur’an Jumlatan (Riwayat-riwayat terkait dengan keutamaan Al-Qur’an secara umum). Sebagaimana Al-Munziri membuat bab dalam kitabnya At-Targib Wat Tarhib, 2/76 dengan mengatakan, ‘At-Targib Fi Qiroatil Qur’an Fi Shalah wa Ghoiriha Wa Fadli Ta’allumihi Wa Ta’limihi (Anjuran membaca Al-Qur’an dalam shalat dan lainnya dan keutamaan mempelajari dan mengajarkannya).

    Kemudian dicantumkan juga di bawah bab, 2/116 ‘At-Targib Fi Adzkar Tuqolu Billaili Ghoir Mukhtassoh Bissobah Wal Masa’ (Anjuran zikir yang dibaca waktu malam dan siang yang tidak khusus waktu pagi dan petang hari).

    An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam kitab Al-Adzkar, 1/255: “Ketahuilah bahwa bacaan Al-Qur’an merupakan zikir yang utama, maka hendaknya dibiasakan. Jangan sampai terlewatkan dalam sehari semalam (tanpa membacanya). Hal tersebut dapat teraih dengan sekedar  membaca ayat meskipun sedikit. Kemudian beliau menyebutkan beberapa hadits di antaranya hadits Abu Hurairah tadi.”

    Maka diharapkan, bagi orang yang membaca sepuluh ayat pada malam hari tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai. Baik dia baca dalam shalat malamnya atau di luar shalat. Masya Allah, betapa sangat luasnya kasih sayang Allah yang melimpahkan pahala tak terhingga bagi hambaNya yang dekat dengan Alquran.

    (Bersambung Bag. VI)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    *Penulis skrip dan editor Tanti Ummu Fahdlan


    [1] HR. Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, 1/742, dia mengatakan, “Hadits ini shahih dengan syarat Muslim akan tetapi tidak dikeluarkan olehnya.” Dishahihkan oleh Al-Alabny dalam Shahih At-Targhib, 2/81

    [2] (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud, no. 1264)

    [3] HR.Hakim, 1/452 dishahihkan dengan syarat Muslim. Akan tetapi Al-Albany cenderung melemahkannya sebagaimana dalam Silsilah Ash-Shahihah, 2/243 dan Dhaif At-Targhib, 1/190.

    [4] Al-Albany mengatakan dalam Shahihnya, no. 643 sanadnya shahih dengan syarat Syeikhain

  • KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. IV)

    KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. IV)

    9. Bacaan Alquran Mampu Memberikan Ketenangan

    Manusia tidak pernah lepas dari berbagai ujian hidup, persoalan dan permasalahan. Pada saat futur, manusia sering kali merasakan beban hidup yang terlampau berat sehingga menimbulkan kekhawatiran, kecemasan, ketakutan dan ketidaktenangan. Bahkan banyak juga yang terjerumus kedalam kemaksiatan, karena salah tindakan dalam mencari solusi. Sebagian ada yang menggunakan obat-obatan terlarang untuk menghilangkan berbagai tekanan. Ada juga yang memilih ke club-club musik untuk mencari hiburan.

    Kenapakah tidak kita sadari. Bahwa Allah sebenarnya telah menurunkan sumber ketenangan untuk berbagai masalah. Allah telah memberikan juga obat dari segala macam penyakit. Juga sumber ketentraman dari berbagai kecemasan dan ketakutan. Ialah Alquran, Kalamullah, yang memberikan ketenangan jiwa bagi hambaNya yang membacanya, mentadaburinya dan mengamalkannya.

    Oleh karena itu, ketenangan dan kedamaian jiwa sangat diperlukan dalam kehidupan, apalagi kehidupan sekarang yang terasa kian berat. Dengan jiwa yang tenang kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.

    Untuk bisa menggapai ketenangan jiwa, secara tersurat, Al-Qur’an menyebutkan beberapa kiat praktis, yaitu: Dzikrullah; yakin akan pertolongan Allah; memperhatikan bukti kekuasaan Allah; bersyukur; dan membaca Al-Quran.

    Sebagaimana termaktub dalam Alquran Surat Ar-Ra’d Ayat 28, Allah ﷻ berfirman:

     ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

     “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.

    Tafsir Almuyasar menjelaskan, Orang-orang yang beriman adalah mereka yang diberi petunjuk oleh Allah dan yang bertaubat kepada-Nya. Hati mereka  menjadi tenang dan tentram dengan berzikir kepada Allah dengan lisan mereka, seperti membaca Alquran, bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil, atau dengan mendengarkan zikir tersebut dari orang lain. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, mentahuhidkanNya, membuat hati menjadi tenteram.  Meskipun mentafakkuri makhluk-makhluk Allah, ciptaan-ciptaan, dan mukjizat-mukjizat-Nya secara umum juga bisa menjadikan hati tentram, namun hasilnya tidak seperti ketentraman dengan berzikir kepada Allah.

    10. Membaca Alquran Mendatangkan Rahmat dan Kasih Sayang Allah

    Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Secara bahasa, setiap kata di dalam bahasa Arab,  yang berakar dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm memiliki arti dasar ‘kelembutan, kehalusan dan kasih sayang’.[1]

    Pada dasarnya rahmat (kasih sayang) itu berasal dari Tuhan Maha Pengasih Penyayang (al-Rahmân al-Rahim). Allahﷻ adalah sumber rahmat (kasih sayang) yang tersebar di alam semesta ini. Allah ﷻ mewajibkan bagi diri-Nya sendiri memiliki sifat rahmat (kasih sayang).  Hal tersebut tertuang dalam  QS al-Anʻam [6]: 12. Yang artinya : “Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bum’. Katakanlah: ‘Kepunyaan Allah’. Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.”

    Betapa Maha Kasih Sayangnya Allah, sehingga dalam sebuah hadits juga dijelaskan bahwa Allah menciptakan 100 rahmat dan hanya 1 yang disebar bagi seluruh makhlukNya. satu rahmat itu disebar di muka bumi sehingga cukup bagi seorang ibu menyayangi anaknya dan semua makhluk baik manusia, burung, semua jenis hewan dan jin dapat mengasihi satu sama lain. Lalu 99 rahmat sengaja ditahan oleh Allah swt untuk memberi rahmat bagi seluruh hamba-Nya pada hari kiamat.       

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    إن لله مائة رحمة أنزل منها رحمة واحدة بين الجن والإنس والبهائم والهوام، فيها يتعاطفون، وبها يتراحمون، وبها تعطف الوحش على ولدها، وأخر الله تسعا وتسعين رحمة يرحم بها عباده يوم القيامة

    “Sesungguhnya Allah memiliki 100 rahmat. Salah satu di antaranya diturunkannya kepada kaum jin, manusia, hewan, dan tetumbuhan. Dengan rahmat itulah mereka saling berbelas kasih dan menyayangi. Dengannya pula binatang liar mengasihi anaknya. Dan Allah mengakhirkan 99 rahmat untuk Dia curahkan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat.” (Muttafaq ‘alaih)[2]

    Salah satu cara untuk mendatangkan rahmat dari Allah tersebut adalah dengan membaca kitabullah. Allah ﷻ berfirman:

    وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ مُبَارَكٌ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

    “Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (QS. Al-An’am : 155)

    Tafsir Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah menjelaskan bahwa Alquran memiliki banyak keberkahan, karena ia mengandung berbagai manfaat keduniaan dan keagamaan. Maka bertakwalah yaitu  jauhkanlah diri kalian dari menyelisihinya dan mendustakan isinya. Dimana kalian menerimanya dan tidak menyelisihinya semoga kalian mendapatkan rahmat Allah.[3]

    Maka salah satu cara untuk mendapatkan rammat Allah adalah dengan menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup yaitu melalui tahapan membacanya, mentadaburinya, menghafalkan dan mengamalkannya.

    11. Malaikat pun Turut Mendoakan Sang Pembaca Alquran

    Salah satu ibadah yang utama adalah membaca Alquran. Dalam bab sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa malaikatpun menjelma menjadi awan yang berhimpun dan membentuk seperti cahaya lampu-lampu dikarenakan mendengarkan bacaan Alquran dari Sahabat  Usaid bin Khudhair.

    Hal tersebut merupakan bagian dari keagungan bacaan Alquran, sehingga malaikatpun senang mendengarkan bacaan Alquran dan tentunya turut berdoa bagi sang pembaca Alquran. Rasulullah ﷺbersabda, “Orang yang lancar membaca Al Quran akan bersama malaikat utusan yang mulai lagi berbakti, sedangkan orang yang membaca Alquran dengan tersendat-sendat lagi berat, maka ia akan mendapat dua pahala.” (HR Muslim)

    Bacaan Alquran di dalam rumah juga mendatangkan keberkahan dikarenakan banyak malaikat yang turut berdoa dan menjaga rumah tersebut. Sebagaimana dalam sebuah hadits:

    Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ  bersabda,

     إِنَّ الْبَيْتَ لَيَتَّسِعُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ وَتَهْجُرُهُ الشَّيَاطِينُ ، وَيَكْثُرُ خَيْرُهُ أَنْ يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ ، وَإِنَّ الْبَيْتَ لَيَضِيقُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَهْجُرُهُ الْمَلَائِكَةُ ، وَتَحْضُرُهُ الشَّيَاطِينُ ، وَيَقِلُّ خَيْرُهُ أَنْ لَا يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ   

    “Sesungguhnya rumah yang dibacakan Alquran didalamnya akan menjadi luas bagi pemiliknya, malaikat mendatanginya, setan menjauhinya dan banyak kebaikannya, dan rumah akan menjadi sempit bagi pemiliknya, malaikat menjadi terhalang, setan hadir dan sedikit kebaikannya jika tidak dibacakan Alquran di dalam rumah tersebut.” (HR. Ad Darimi: 3262)

    Hadits tersebut menjadi salah satu dalil, bahwa malaikat akan turut mendatangi sang pembaca Alquran, turut mendoakannya sehingga mendatangkan banyak kebaikan dan keberkahan bagi pembaca Alquran.

    (Bersambung Bag. V)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    *Penulis skrip dan editor Tanti Ummu Fahdlan


    [1] Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah

    [2] (Muttafaq ‘alaih; dalam Shahih Bukhari no. 6104 dan Shahih Muslim no. 2725; lafal hadits ini dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

    [3] Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah 155

  • KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. III)

    KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. III)

    4. Mengangkat Derajat Orang Tua di Surga

    Alquran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ secara mutawatir (bersambung) dengan perantaraan Malaikat Jibril, dan berpahala bagi orang yang membacanya. Alquran merupakan mukjizat yang menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia. Karenanya, Allah memerintahkan untuk membacanya, mentadaburinya, menghafalkan dan mengamalkannya.

    Terhadap para Ahlul Quran ini, maka Allah menjanjikan Mahkota kemuliaan bagi kedua orang tuanya. Dalam sebuah hadits, Buraidah RA,  Nabi  ﷺbersabda,

    من قرأ القرآن وتعلَّم وعمل به أُلبس والداه يوم القيامة تاجاً من نور ضوؤه مثل ضوء الشمس ، ويكسى والداه حلتين لا تقوم لهما الدنيا فيقولان : بم كسينا هذا ؟ فيقال : بأخذ ولدكما القرآن

    Siapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim 1/756 dan dihasankan al-Abani).

    Demikianlah keutamaan Ahlul Quran, semakin ia perbanyak bacaan Alqurannya, semakin diulang-ulang bacaannya, maka bukan hanya pahala yang didapat, melainkan juga derajat yang tinggi di surga. Sang anak yang berhasil mendapatkan derajat tinggi di surga, maka dengan izin Allah bisa turut mengangkat kedua orangtuanya untuk membersamainya di surga. Demikian karena Alquran juga mempunyai keistimewaan manfaat yaitu sebagai syafaat bagi pembacanya.

    5. Menjadi Manusia terbaik

    Kedahsyatan keutamaan Alquran telah terbukti menjadikan kita sebagai manusia terbaik juga menjadi umat terbaik sepanjang zaman.

    Betapa istimewanya Alquran, sehingga malaikat yang diberikan tugas untuk menyampaikannya (Malaikat Jibril) adalah malaikat terbaik, yaitu pemimpinnya para malaikat. Nabi Muhammad ﷺ yang diberi amanah sebagai penerima wahyu Alquran, juga menjadi manusia terbaik, pemimpinnya para nabi, sekaligus sebagai penutup risalah kenabian.  Alquran yang diturunkan pada bulan Ramadhan, maka menjadikan Ramadhan sebagai bulan terbaik, bulan penuh rahmat dan ampunan. Lailatul Qodar, lantaran sebagai malam diturunkannnya Alquran, maka  menjadikannya sebagai malam terbaik, bahkan lebih baik dari seribu bulan, dimana para malaikat dan Jibril turun ke bumi untuk membawa segala urusan yang penuh hikmah.

    Setiap orang tentu mendambakan menjadi yang terbaik. Salah satu cara menjadi manusia terbaik adalah dengan menjadi ahlul Quran. Membaca Alquran merupakan salah satu aktifitas yang mengantarkan kita menjadi manusia terbaik. Sebagaimana dalam sebuah hadits: Dari Utsman RA, Rasulullah ﷺbersabda:

    (خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ  (رواه البخاري والترمذي

    “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR.Bukhari dan Tirmidzi). [1]

    Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa belajar dan mengajarkan Alquran merupakan ciri  orang-orang mukmin yang mengikuti dan meneladani para Rasul. Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain. Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain.[2] Adapun salah satu upaya mempelajari Alquran, tak lain adalah dengan membaca Alquran. Baik itu membaca untuk diri sendiri maupun untuk diperdengarkan kepada yang lain.

    Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺjuga meminta sahabat Ibnu Mas’ud untuk membacakan Alquran. Rasulullah ﷺ bersabda: “Bacakanlah Alquran kepadaku.” Aku pun berkata, “Aku membacakannya untuk Anda, padahal kepada Andalah ia diturunkan?” beliau bersabda: “Sesungguhnya aku suka mendengarnya dari orang lain.” Akhirnya aku pun membacakan surat An-Nisa` dan ketika sampai pada ayat: “Dan bagaimanakah sekiranya Kami mendatangkan manusia dari seluruh umat dengan seorang saksi, lalu kami mendatangkanmu sebagai saksi atas mereka.” Maka beliau pun bersabda padaku: “Cukuplah.” Lalu aku pun melihat kedua mata beliau meneteskan air. (Hadits Bukhari:  4667)

    Hikmah yang bisa diambil dari hadits tsersebut adalah, sunat hukumnya ketika membaca Alquran untuk diperdengarkan kepada orang lain. Sehingga sang pendengar juga bisa mentadaburi Alquran. Pantaslah jika Alquran menjadi wasilah untuk menjadi sebaik-baik manusia. Karena bagi pembaca, pendengar, pengajar maupun yang mengamalkan Alquran, masing-masing mendapatkan keistimewaan disisi Allah.

    6. Alquran Menjadi Syafaat Pada Hari Kiamat

    Syafaat Alquran pada hari kiamat ialah nyata dan tidak terbantahkan. Namun, untuk mendapatkan syafaat Alquran, tentunya seseorang harus memiliki hati yang terikat kuat dan menjadikan Alquran sebagai bacaan utama dan berpegang teguh pada kandungan isinya.

    Dalam sebuah hadits:

    Abu Umamah al-Bahili RA berkata,  Rasulullah ﷺ bersabda :

    (اقْرَءُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ (رواه مسلم

     “Bacalah Alquran, maka sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat memberi syafaat kepada pembacanya.” (HR.Muslim).

    Hadits ini memerintahkan kita agar menjadikan Alquran sebagai bacaan utama harian kita. Kelak Alquranlah yang akan menjadi sahabat di akhirat sebagaimana kedekatan interakisnya dengan Alquran selama di dunia. Jika kita menjaga kelestarian Alquran dengan membaca dan berpegang teguh pada isi kandungannya, niscaya  Alquran akan menjaga kita dengan memberikan syafaat/pertolongan di akhirat kelak.

    Kalimat “Bacalah Alquran” dapat dipahami perintah membaca secara tekstual maupun perintah untuk mentadabburi isi kandungannya. Mayoritas ulama memahami perintah ini dengan membaca secara tekstual secara istiqamah setiap hari berdasarkan hadis-hadis tentang keutamaan membaca Alquran. Salah satunya sabda Rasulullah ﷺ dari Anas bin Malik RA,

    “Barangsiapa yang membaca Alquran siang atau malam 50 ayat niscaya tidak tergolong orang-orang yang melalaikan (Alquran), dan barangsiapa yang membaca Alquran 100 ayat niscaya tergolong orang yang taat, dan barangsiapa yang membaca Alquran 200 ayat niscaya Alquran tidak akan menghujatnya pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Sinni)

    Kalimat “memberi syafaat kepada pembacanya” menunjukkan kehadiran Alquran pada hari kiamat sebagai sahabat sejati pembacanya dengan tampil sebagai pemberi syafaat. Pada hari itu, Alquran akan tampil mengawal sahabatnya meniti jalan menuju surga.

    7. Allah Tinggikan Derajat Seseorang Melalui Alquran

    Salah satu keutamaan dan kemuliaan bagi Ahlul Quran yang senantiasa membaca Alquran, mengkaji dan mengamalakannya adalah akan ditinggikan derajatnya oleh Allah ﷻ. Allah akan memberikan balasan surga dengan kenikmatan  dan keindahan tiada batas. Sebaliknya, barangsiapa yang tidak mengamalkan Al-Qur’an, berpaling dari Alquran dan tidak berhukum dengannya, niscaya Allah ﷻ akan menghinakannya.

    Sebagaimana sebuah hadits  yang diriwayatkan dari Umar bin Khatab RA, bahwa Rasulullah ﷺbersabda.

    اَنّ اللّٰهَ يَرْ فَعُ بِهَذَ الْكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ

    “Sesungguhnya Allah ﷻ mengangkat derajat beberapa kaum dengan Alquran ini dan merendahkan  yang lain dengannya pula.” hadits riwayat Muslim.

    Maknanya, sesungguhnya Allah Ta’ala mengangkat derajat suatu kaum melalui Alquran, yakni dengan mengimaninya, mengagungkannya serta mengamalkannya dengan ikhlas.  Allah Ta’ala menjadikan mereka mulia dan terhormat baik di dunia maupun akhirat. Dan Allah merendahkan serta menghinakan yang lain dengan Alquran, yakni mereka yang tidak mengimaninya, atau beriman serta tidak mengamalkannya secara ikhlas.[3]

    8. Alquran Menguatkan Keimanan

    Bacaan Alquran merupakan dzikir yang agung. Semakin diulang maka semakin memperkuat keimanan. Semakin diulang tilawahnya maka semakin meningkatkan kenikmatan. Oleh karenanya, para Sahabat Rasul terdahulu, mereka sering saling memanggil untuk memperbarui keimaan mereka melalui nasehat, dzikrullah dan bacaaan Alquran, sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits,   Mu’adz berkata:

    اِجْلِسْ بِنَا نُؤْمِنُ سَاعَةً

    “Duduklah dengan kami, kita beriman (memperbaharui dan menguatkan keimanan) sesaat.” (HR. al-Bukhari)[4]

    Para Sahabat Rasul jika bertemu kawannya di jalan, maka saling memanggil, untuk saling memperbarui keimanan. Kemudian mereka membaca QS Al Ashr.

    1. وَٱلْعَصْرِ
      • (Demi masa)
    2. إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ
      • (Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian)
    3. إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
      • (Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan kesabaran.)

    (Bersambung Bag. IV)

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    *Penulis skrip dan editor Tanti Ummu Fahdlan

    _________

    [1] Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (hadis no. 4639), Abu Dawud (hadis no. 1240), al-Tirmizi (hadis no. 2832), dan Ibn Majah (hadis no. 207)

    [2] Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadhail Quran halaman 126-127

    [3] Faidh Al Qadir, 2/302

    [4] (HR. al-Bukhari “Kitabul Iman”, secara mu’allaq (tanpa sanad), disambungkan sanadnya oleh Ibnu Abi Syaibah (30363), dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Kitabul Iman Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam (20))


  • KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. II)

    KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN (Bag. II)

    1. Pahala 10 Kebaikan Pada Setiap Huruf Alquran

    Betapa besarnya pahala ketika membaca Alquran. Bahkan setiap huruf dalam Alquran, bisa mendatangkan pahala hingga 10 kebaikan. Sebagaimana dalam sebuah hadits:

    عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

    “Abdullah bin Mas’ud RA berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Alquran, maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)[1]

    Ketika kita membaca surat terpendek dalam Alquran yaitu QS.Alkautsar yang terdiri dari 3 ayat, dimana surat tersebut mengandung 42 huruf, maka bisa mendatangkan pahala 420 kebaikan, bagaimana halnya dengan membaca surat lain yang lebih panjang?

    Imam Syafii dalam sebuah kitabnya menyampaikan bahwa total semua huruf dalam Alquran sebanyak 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu). Jumlah ini sudah termasuk jumlah huruf ayat yang di-nasakh.[2] Bayangkan jika kita menghatamkan Alquran, maka bisa mencapai 10 juta kebaikan yang didapatkan.

    Dalam analogi sederhana, jika kita diminta membaca ayat Alquran oleh seorang Juri Lomba, dimana satu hurufnya akan diberi hadiah senilai 10 $, maka kita akan berlomba dan berlama-lama membacanya. Demikian karena hanya dengan duduk saja, membaca satu halaman Alquran yang terdiri dari 600 huruf, maka sudah bisa mengantongi 6.000$ atau setara dengan 87 juta rupiah.  

    Siapakah yang tidak tergiur dengan hadiah tunai sebesar itu? Adapun derajat kebaikan yang Allah siapkan disisiNya, sesungguhnya lebih mulia, lebih agung daripada nominal duniawi. Dimana surga yang Allah siapkan, saking indahnya, bahkan belum pernah ada di lintasan imaginasi manusia. Apakah hadiah yang sedemikian agungnya tidak lebih layak untuk diraih? Hadiah pahala dari Allah ﷻ yang membawa keberkahan bukan saja di dunia, namun juga di akhirat.

    2. Paling Berhak Menjadi Imam

    Salah satu kemuliaan bagi seseorang yang bagus bacaan Alqurannya adalah haknya untuk menjadi Imam. Meskipun usianya lebih muda, namun jika bacaaan Alqurannya bagus, tartil, dan lebih banyak hafalan Alqurannya, maka ia berhak menjadi imam. Ia berhak mengimami makmum yang lebih tua usianya baik dalam shalat sunnah maupun shalat fardhu.

    Sebagaimana sebuah hadits: Nabi ﷺ bersabda,

    يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ وَأَقْدَمُهُمْ قِرَاءَةً فَإِنْ كَانَتْ قِرَاءَتُهُمْ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِى الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَكْبَرُهُمْ سِنًّا وَلاَ تَؤُمَّنَّ الرَّجُلَ فِى أَهْلِهِ وَلاَ فِى سُلْطَانِهِ وَلاَ تَجْلِسْ عَلَى تَكْرِمَتِهِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ أَنْ يَأْذَنَ لَكَ أَوْ بِإِذْنِهِ

    “Yang menjadi imam adalah yang paling banyak hafalan Alqurannya dan paling sempurna bacaannya. Jika bacaan Alqurannya sama, maka yang berhak menjadi imam adalah yang paling duluan berhijrah. Jika hijrahnya sama, maka yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling tua usianya. Dan janganlah seseorang mengimami di wilayah orang lain, kecuali dengan izinnya.” (HR. Muslim 1566 & Abu Daud 582).

    Anak usia dini, yang sudah mumayyiz (mampu membedakan yang baik dan buruk) meskipun belum berusia dewasa, jika memiliki bacaan Alquran yang paling bagus,  maka diperbolehkan juga untuk menjadi Imam.

    Dalam sebuah hadits, yang diriwayatkan oleh ‘Amr bin Salamah,

    عن عمرو بن سلمة-رضي الله عنه-أن النَّبيَّ-صلى الله عليه وسلم-,قال لأبيه: (و ليؤمكم أكثركم قرآناً) فنظروا فلم يكن أحد أكثر قرآناً مني؛ لما كنت أتلقى من الركبان، فقدموني بين أيديهم، وأنا ابن ست سنين أو سبع سنين

    Dari ‘Amr bin Salamah RA, bahwasanya Nabi ﷺ berkata kepada ayah ‘Amar: “dan hendaknya yang mengimami kalian adalah yang paling banyak (bacaan) Alqurannya !” Kemudian para sahabat saling berpandangan dan mereka tidak melihat seorangpun yang paling banyak bacaan Alquran-nya kecuali saya. Ketika saya turun dari tunggangan, mereka pun mendorong saya menjadi Imam mereka dan usia saya waktu itu 6 atau 7  tahun.“[3] (Shahih Bukhari).

    Pelajaran dari  Hadits tersebut adalah, diperbolehkannya anak kecil menjadi imam dalam shalat wajib dan sunnah. Pendapat tersebut merupakan pendapat Ulama Syafi’iyah dan riwayat dari Imam Ahmad. Anak kecil tersebut, dipilih menjadi imam apabila ia paling pandai di dalam membaca Alquran.

    Kedua hadits tersebut, juga menjadi bukti, bahwa kemuliaan derajat seseorang juga ditentukan melalui Alquran. Kita bisa melihat pada masa kekhalifahan. Pasca rasulullah wafat, yang diminta untuk menjadi imam adalah Abu Bakar ra. Sahabat Nabi tersebut sangat bagus pemahamannya terhadap Alquran. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ketika Rasulullah ﷺ sakit keras, ada seseorang yang menanyakan imam shalat kemudian beliau bersabda,

    مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ

    “Perintahkan pada Abu Bakar agar ia mengimami shalat.” ‘Aisyah lantas berkata,

    إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ ، إِذَا قَرَأَ غَلَبَهُ الْبُكَاءُ

    “Sesungguhnya Abu Bakr itu orang yang sangat lembut hatinya. Apabila ia membaca Alquran, ia tidak dapat menahan tangisnya.” Namun beliau bersabda, “Tetap perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 713 dan Muslim no. 418)

    Demikianlah, kualitas iman Abu Bakar sangat terlihat, terutama saat shalat, dimana beliau seringkali menitikkan air mata saat membaca ayat ayat Alquran. Selain Abu Bakar, mari kita lihat sekilas profil khalifah sesudahnya, yaitu Umar bin Khatab ra. Sahabat yang bergelar Alfaruq ini juga didaulat menjadi imam pasca wafatnya Abu Bakar ra. Bahkan Umar ra pun wafat lantaran ditikam oleh seorang yahudi pada saat menjadi imam shalat subuh. Luka tikaman itulah yang menjadi sebab syahidnya Umar ra. Jika kita mengamati para imam tersebut, ternyata mereka terpilih  menjadi pemimpin umat juga.

    فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ  Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan? Sungguh betapa besar karunia dan nikmat yang telah Allah anugerahkan untuk kita. Ketika Allah menunjukkan kita untuk menekuni perkara terbaik yaitu menjadi pendakwah Alquran, penjaga Alquran maka itulah jalan yang bisa memuliakan kita di dunia dan akhirat. Adapun mayoritas pekerjaan  yang telah Allah karuniakan kepada kita, untuk dekat kepada Alquran, maka itulah jalan kemuliaan kita.

    3. Kesempatan Meraih Surga Tertinggi

    Surga merupakan balasan yang diberikan Allah ﷻ kepada  hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Surga memiliki beberapa tingkatan. Salah satu hadiah istimewa dari Allah bagi para Ahlul Quran adalah derajat tingkatan Syrga yang tinggi dengan bacaan Alqurannya.

    Sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

                يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

    “Dikatakan kepada orang yang membaca Alquran nanti : ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud no. 1464 dan Tirmidzi no. 2914.)

    Imam al-Khathabi rahimahullah menjelaskan bahwa terdapat dalam atsar dimana jumlah ayat Alquran menentukan ukuran tangga surganya. Disampaikan kepada para penghafal Alquran, ‘Naiklah ke tangga sesuai dengan yang kamu baca dari Alquran. Barangsiapa yang menyempurnakan bacaan seluruh Alquran maka ia mendapatkan tangga surga tertinggi dan siapa yang membaca satu juz darinya maka akan naik ke tangga sesuai ukuran tersebut. Sehingga ujungnya pahala berada pada ujungnya bacaannya’.[4]

    Subhanallah demikianlah busyra (kabar gembira) dari Allah kepada para pembaca Alquran. Adapun para pengafal Alquran tentu mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk meraih surga tertinggi karena tidaklah seseorang bisa menghafal Alquran kecuali setelah ia mengulang-ulang bacaannya.

    (Bersambung Bag. III)

    _________

    Penulis adalah Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, gelar Doktor Quranic Parenting disematkan setelah mempertahankan disertasi berjudul “Konsep Parenting (Al-Tarbiyah Al-Wâlidiyyah) dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Sejarah Nabi Ya’qub A.S.)” di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, tahun 2017.

    *Penulis skrip dan editor Tanti Ummu Fahdlan


    [1] Dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469

    [2] Imam Syafi’i dalam kitab Majmu al-Ulum wa Mathli’u an Nujum dan dikutip oleh Imam ibn ‘Arabi dalam mukaddimah al-Futuhuat al-Ilahiyah

    [3] Hadis tersebut terdapat dalam Shahih Al Bukhari, Sunan Abi Dawud, dan Sunan Al-Nasa’i.

    [4] Dalam Ma’âlim as-Sunan (2/136)