Kategori: STIU WM

  • KULIAH UMUM MANAJEMEN MASJID

    Tips Manajemen Masjid ala Masjid Jogokariyan

    Siapa yang tidak kenal Masjid Jogokariyan? Salah satu masjid di daerah Yogyakarta ini dikenal luas sebagai salah satu masjid percontohan dalam hal manajemen dan kemakmuran masjidnya.

    Pada malam Sabtu 15 Januari 2021, Kampus STIU Wadi Mubarak bersyukur dikunjungi oleh tamu istimewa dari Masjid Jogokariyan, beliau adalah salah satu dari Dewan Syuro Masjid Jogokariyan yang juga mantan Ketua Takmir Masjid tersebut.

    Dalam kesempatan istimewa tersebut, Ustadz Fanni Rahman, akrab dipanggil abah Fani, berkenan memberikan kuliah umum singkat tentang tips mengelola masjid yang baik. Tentu saja, berdasarkan pengalaman yang berhasil diterapkan di Masjid Jogokariyan.

    Pertama, penamaan masjid.

    Bukan tanpa alasan masjidnya diberi nama Jogokariyan. Menurut penjelasan Abah Fanni, penamaan ini diniatkan untuk mencontoh Rasulullah SAW yang biasa memberi nama masjid sesuai nama daerah di mana masjid tersebut berada. Dengan kata lain, Jogokariyan sebetulnya nama daerah di mana masjid berada.

    Kedua, kenali jamaah masjid kita.

    Mengenali sasaran atau jamaah masjid merupakan hal penting. Mengenal jamaah masjid kita, bukan sekadar mengenal jumlah dan nama jamaah saja. Bahkan, mengetahui kondisi sosial, ekonomi dan informasi penting lainnya yang bisa menentukan jenis pelayanan masjid terhadap jamaahnya.

    Ketiga, butuh proses panjang dalam memakmurkan masjid.

    Butuh kesabaran. Step by step. Pencapaian Masjid Jogokariyan saat ini tidak dicapai dalam kurun waktu yang singkat. Ada susah payahnya. Ada perjuangannya. Upaya kerja keras yang dilakukan oleh para pengurus masjid tentu akan membuahkan hasil. Dulu, misalnya, Masjid Jogokariyan pernah mengalami beberapa bentuk penolakan dari masyarakat, namun akhirnya bisa diatasi dengan baik oleh pengurus disertai dukungan masyarakat lainnya. Intinya, untuk mendapat kepercayaan itu butuh proses.

    Keempat, dibutuhkan kreativitas dalam menyusun program.

    Tidak banyak masjid yang memberi perhatian pada musafir atau orang-orang yang sedang bepergian, terutama yang kehabisan bekal atau ongkos. Masjid Jogokariyan menangkap fenomena ini dengan membuat program berupa santunan ongkos pulang bekerjasama dengan PTKAI supaya musafir tersebut bisa kembali pulang ke tempat asalnya. Ini adalah salah satu bentuk kreativitas pengurus dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

    Kelima, Berkomitmen menjadi pelayan umat atau Jamaah.

    Karena masalah kepercayaan, banyak masjid menerapkan jam buka dan tutup masjid. Tetapi, ketika kepercayaan masyarakat sudah terbangun, maka masjid harus memaksimalkan fungsi pelayanan terhadap jamaahnya. Di Masjid Jogokariyan, jamaah bisa datang kapan saja ke masjid. Masjid 24 jam terbuka bagi siapa saja yang ingin beribadah.

    Keenam, Masjid harus menjadi bagian pemecahan masalah umat atau jamaah.

    Masalah yang dihadapi jamaah pasti sangat banyak. Tidak melulu masalah moral dan akidah, juga masalah sosial dan ekonomi. Selain mengenali permasalahan jamaah tersebut, Masjid Jogokariyan berupaya menjadi problem solver dengan membuat program-program yang bisa mengatasi atau meringankan masalah yang dihadapi jamaahnya. Misal, program pelunasan hutang bagi jamaah yang terlilit hutang terutama hutang riba. Juga masih banyak program sosial ekonomi lain yang sifatnya berkelanjutan.

    Demikian beberapa tips manajemen masjid yang disampaikan oleh tamu kampus dari Masjid Jogokariyan. Abah Fanni meminta tips-tips di atas menjadi perhatian bagi mahasiswa STIU Wadi Mubarak yang kelak menjadi da’i di tengah masyarakat.

    Sebagai dai, kita harus mampu merangkul dan memberdayakan masyarakat dengan kegiatan dan acara-acara yang edukatif dan tidak hanya menjadikan masjid sebagai tempat sholat saja, tetapi sebagai pusat pelayanan dan pemberdayaan masyarakat. (RF/Prince of Alhambra)

  • Mutiara Pengasuh bagi Sivitas Akademika STIU Wadi Mubarak Bogor

    Masjid Jami Wadi Mubarak Bogor, 14 Januari 2021.

    Umat Islam Indonesia kembali kehilangan salah satu guru terbaiknya. Hari ini telah wafat Syaikh Ali Saleh Muhamad Ali Jaber. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan beliau dan menempati tempat terbaik di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

    Fenomena wafatnya ulama menjadi pengantar dalam liqa maftuh yang disampaikan oleh pengasuh STIU Wadi Mubarak, Dr. KH. Didik Haryanto, Lc., M.P.I. di hadapan seluruh sivitas akademika.

    Liqa maftuh ini sudah lama tidak dilakukan sejak beliau kembali menempuh studi doktoral di Timur Tengah sejak dua tahun terakhir. Di kesempatan langka dan berharga ini pengasuh memberikan beberapa nasihat penting bagi seluruh sivitas akademika.

    Pertama, seluruh sivitas, baik mahasiswa dan dosen harus memiliki semangat menuntut ilmu yang tinggi. Menjadi seorang ulama.

    Sudah banyak ulama besar baik nasional maupun internasional wafat di masa pandemi ini. Seluruh mahasiswa, harus menanamkan tekad untuk menjadi pewaris para ulama dengan menerapkan semangat belajar yang tinggi.

    Umat butuh kaderisasi ulama. Allah menghapus ilmu dengan mewafatkan ulama. Jangan sampai, ketika para ulama wafat, masyarakat kehilangan tempat bertanya. Jangan sampai muncul para pemimpin jahil yang mengeluarkan fatwa sesat dan menyesatkan.

    Kedua, tingkatkan daya baca dan daya telaah kita.

    Ulama-ulama besar sangat dekat dengan kitab. Buatlah hari-hari kita lebih produktif dengan membaca. Jangan sampai terlalaikan oleh gawai dan hal-hal lain yang melenakan.

    Ketiga, jangan patah arang dengan kemampuan yg terbatas.

    Tidak semua orang dilahirkan cerdas. Bagi mahasiswa yang lambat menghafal, bersyukurlah Allah membuat antum lebih berlama-lama dengan al Quran ketika teman lain sudah mulai berleha-leha.

    Keempat, bersyukurlah jadi seorang penghafal al Quran.

    Sejatinya, baru mulai menghafal selepas tamat SMA masih terbilang terlambat. Apalagi jika bercita-cita jadi ulama. Bagaimanapun, bersyukurlah berkesempatan menghafal al Quran. Ini sudah menjadi langkah yang tepat untuk menyiapkan diri.

    Kelima, milikilah jiwa melayani.

    Pemimpin yang baik adalah yang sepenuh hati melayani. Jadi seorang ulama yang sepenuh hati melayani dan mengajar muridnya. Jiwa ini haruslah dimiliki oleh seluruh sivitas akademika.

    Keenam, Setiap sivitas akademika harus memiliki jiwa pejuang.

    Jangan pernah takut menjadi pejuang. Jadilah para penolong agama Allah. Allah pasti akan menolong segala macam urusan kita.

    Ketujuh, perkuat dan rawat dzikir harian kita.

    Pertahankan dzikir 5 juz. Dzikir akan mengubah jiwa seseorang. Jangan hiasi lidah kita dengan hal-hal tidak bermanfaat bagi jiwa seperti musik dan hal-hal melalaikan lainnya.

    Kedelapan, jadilah pemuda-pemuda Islam.

    Islam harus menjadi identitas yang mewarnai jati diri kita. Mewarnai cara berfikir kita. Cara bersikap kita. Jadikan Islam sebagai warna diri kita, bukan identitas suku, bangsa atau lainnya.

    Dalam konteks menuntut ilmu, jika mahasiswa Indonesia di luar negeri dikenal pemalu dalam berdiskusi dan pasif dalam perkuliahan, ingatlah bahwa sebagai seorang muslim kita tidak boleh malu dan dituntut memiliki gairah dan semangat dalam belajar.

    Demikianlah 8 nasihat yang diringkas dari begitu banyak kalimat berharga yang disampaikan pengasuh STIU Wadi Mubarak Bogor kepada sivitas akademika. Dalam liqa maftuh ini sangat tampak kerinduan pengasuh kepada seluruh sivitas akademika. Begitu pun sebaliknya, para mahasiswa, dosen, musyrif, dan seluruh staf tampak antusias hadir dan menyimak. (ARH)

  • Jalin Kerjasama UIKA Bogor dan STIU Wadi Mubarak

    Jalin Kerjasama UIKA Bogor dan STIU Wadi Mubarak

    UIKA Bogor dan STIU Wadi Mubarak Bogor Jalin Kesepahaman Bersama

    Bogor, 21 Desember 2020. Siang tadi, bertempat di ruang rektorat Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, baru saja ditandatangani kesepahaman bersama antara UIKA Bogor dan Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Wadi Mubarak Bogor.

    Kesepahaman menerangkan UIKA sebagai kampus pembina STIU Wadi Mubarak. Sebaliknya, pihak STIU Wadi Mubarak Bogor berstatus sebagai kampus binaan.

    Rektor UIKA Bogor, Dr Endin Mujahidin, M.Si., menjelaskan bahwa kesepahaman ini dibangun dalam rangka meningkatkan kerja sama kedua kampus di bidang tridharma perguruan tinggi yaitu kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

    Nota Kesepahaman ini Insyaallah akan ditindaklanjuti dengan penandatangan dokumen Perjanjian Kerjasama yang mencakup beberapa kegiatan, diantaranya:

    Satu, kerjasama di bidang penelitian dan publikasi ilmiah melalui jurnal.

    Dua, kerjasama di bidang presentasi hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk penyelenggaraan seminar, baik tingkat Nasional maupun Internasional.

    Tiga, kerjasama berupa pembinaan di bidang peningkatan jabatan akademik dosen.

    Empat, kegiatan pembinaan berupa pemanfaatan dan penggunaan sistem plagiarism checker milik UIKA Bogor oleh pihak STIU Wadi Mubarak.

    Lima, kerjasama dalam bidang pendidikan berupa kegiatan studi tingkat lanjut bagi lulusan.

    Sebagai kampus binaan, pihak STIU Wadi Mubarak sangat bersyukur dan melihat kerjasama ini sebagai kesempatan berharga untuk terus berkembang. Menurut Ketua STIU Wadi Mubarak Bogor, kesempatan ini bukan sekadar kerjasama yang saling menguntungkan kedua pihak, tetapi bernilai lebih khususnya bagi pihak STIU Wadi Mubarak Bogor.

    Semoga kerjasama ini berjalan lancar, dan senantiasa dalam bimbingan dan ridho Allah subhaanahu wa ta’ala. (ARH)

  • Program Khithobah Mahasiswa STIU-WM

    Program Khithobah Mahasiswa STIU-WM

    Allah Ta’ala telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena bahasa Arab adalah bahasa terbaik yang pernah ada. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

    إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

    “Sesungguhnya Kami telah jadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkannya.” (QS. Yusuf [12]: 2)

    Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas, ”Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas, dan paling banyak pengungkapan makna yang dapat menenangkan jiwa. Oleh karena itu, kitab yang paling mulia ini (yaitu Al-Qur’an) diturunkan dengan bahasa yang paling mulia (yaitu bahasa Arab).”

    Dalam rangka meningkatkan kemampuan bahasa Arab mahasiswa, Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak pun membuat program rutin harian, yaitu program khutbah singkat berbahasa Arab yang diadakan setiap bakda dzuhur. Dibawah bimbingan Ustadz Muhammad Qudwah, Lc sekaligus kepala program bahasa Arab, kegiatan ini diikuti semua mahasiswa STIU WM.

    Selain melatih kecakapan para mahasiswa dalam berbahasa arab, program ini juga melatih mental para mahasiswa untuk berorasi, serta mengasah bakat dan potensi mahasiswa dalam berbicara di depan umum.

    Secara rutin bagian bahasa memberikan apresiasi kepada mahasiswa-mahasiswa terbaik yang mendapatkan nilai tertinggi dari dewan penilai. Harapannya agar mahasiswa termotivasi dan lebih semangat lagi berbahasa Arab disetiap kegiatan sehari hari. (ramadhan-mushaf)

    Editor: AlChoer

  • Studi Banding Program Hafizh-Nomics IAI Tazkia ke STIU Wadi Mubarak

    Studi Banding Program Hafizh-Nomics IAI Tazkia ke STIU Wadi Mubarak

    Bogor, “Hingga saat ini kami masih menjadikan Wadi Mubarak sebagai benchmark (tolok ukur) dalam penyelenggaraan program tahfizh Al-Qur’an”. Demikian ujar Miftakhus Surur, Direktur Program Matrikulasi dan penanggungjawab program Hafizh-Nomics Institut Agama Islam (IAI) Tazkia, dalam sessi kunjungan studi banding pada senin, 2 november 2020.

    Kunjungan ini sebetulnya bukan sekadar studi banding, tetapi silaturahmi kembali yang sebelumnya rutin dilakukan sejak 3 tahun lalu antara STIU Wadi Mubarak Bogor dan IAI Tazkia, khususnya ketika kedua kampus masih terikat kerja sama dalam penyelenggaran tahfizh Al-Qur’an.

    Baca juga Kunjungan Profesor Dari King Abdul Aziz University (KAU) Ke Islamic Center Wadi Mubarak

    Dari tahun 2017-2019, kedua kampus pernah menjalin kerjasama di bidang penyelenggaraan tahfizh Al-Qur’an untuk mahasiswa program Diploma III Manajemen Keuangan Mikro Syariah melalui program D III Hafizh-Preneur yang kemudian berkembang menjadi program Hafizh-Nomics. Kerjasama dua lembaga ini diharapkan bisa mempertemukan dan membangun sinergi dua program unggulan yang masing-masing dimiliki kedua sekolah tinggi. 

    IAI Tazkia dikenal sebagai perintis kampus ekonomi Islam dan sudah mendapat kepercayaan bahkan pengakuan dari masyarakat baik tingkat nasional maupun internasional. 

    Di sisi lain, STIU Wadi Mubarak Bogor sebagai kampus yang bermula dari program tahfizh juga telah mendapat kepercayaan masyarakat luas baik dalam maupun luar negeri. Beberapa santri dan alumninya berasal dari mancanegara seperti Thailand, Malaysia, Australia, Mali, Yordania, Yaman, bahkan dari Saudi Arabia.

    Meski sejak tahun 2019 kerjasamanya sudah berakhir, silaturahmi dan komunikasi antarkedua pihak tetap terjalin. Di kedatangannya kali ini, program Hafizh-Nomics IAI Tazkia bermaksud membicarakan kemungkinan kerjasama kembali dengan STIU Wadi Mubarak dalam bentuk kegiatan pelatihan dan sertifikasi guru-guru tahfizh Al-Qur’an. 

    Semoga Allah bimbing dan memberikan keberkahan kepada setiap usaha dakwah pendidikan kedua kampus ini. (ARH)

    Baca sebelumnya Tuduhan Para Pembenci Al-Qur’an Dan Bantahannya (Bag-1)

  • 2 Mahasiswa STIU Wadi Mubarak Mewakili Indonesia Menghafal Hadits di Masjidil Haram

    2 Mahasiswa STIU Wadi Mubarak Mewakili Indonesia Menghafal Hadits di Masjidil Haram

    wadimubarak.com – 25 Januari 2020. Belum lama ini, dua mahasiswa STIU Wadi Mubarak baru saja pulang dari Masjidil Haram, Makkah Al Mukaromah. Kedua mahasiswa, Thariq Mumtaz dan Fiqriadi, baru saja mengikuti daurah menghafal hadits muttafaqun ‘alaih selama 21 hari di sana.

    Keduanya termasuk dari 5 peserta terbaik Daurah Huffazhul Wahyain yang diikuti oleh 200an penghafal Al Qur’an terpilih se Indonesia pada Juli tahun kemarin. Peserta terbaik ini berhak atas hadiah umrah dan kesempatan melanjutkan daurah di Makkah.

    Daurah Huffazhul Wahyain merupakan program kerjasama STIU Wadi Mubarak Bogor dengan Markaz Huffazul Wahyain yang berpusat di Riyadh.

    Selain 5 peserta terbaik daurah wahyain, beberapa peserta asal Indonesia lainnya juga ikut serta. Bahkan, kegiatan yang berlangsung selama 21 hari ini diikuti pula oleh peserta dari beberapa negara: Filipina, Kamboja, Jepang, Australia dan lain-lain dengan total peserta 90 orang.

    Baca juga: Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta

    Daurah mengharuskan seluruh peserta mengkhatamkan hafalan kitab muttafaqun ‘alaih beserta catatan-catatan kakinya (muzhallal). Total ada 3 kitab.

    Pihak kampus merasa sangat bersyukur atas kesempatan baik yang Allah berikan melalui mahasiswa-mahasiswanya. Tahun ini bukan kali pertama mahasiswa STIU menjadi salah satu delegasi program daurah mewakili Indonesia. Tahun lalu, beberapa mahasiswa juga mendapat kesempatan yang sama.

    “Kami bersyukur Allah memberikan kesempatan berkumpul menghafal hadits di bawah bimbingan langsung para Masyayikh yg kompeten. Juga bisa berkenalan dengan teman-teman baru dan mengambil faidah dari mereka,” demikian ujar Thariq.

    Pengalaman ini membuat Thariq lebih semangat dalam belajar. “Mungkin kita di Indonesia merasa yang terbaik. Tetapi ketika sudah di Makkah, kita menemukan banyak peserta lain yang mempunyai kemampuan menghafal sangat cepat. Di atas rata-rata,” ujarnya.

    Tidak banyak berbeda dengan menghafal Al Qur’an, tips sukses menghafal hadits menurut Thariq adalah pahami maknanya terlebih dahulu, fokus dan tentu saja, harus lebih kuat duduk lebih lama dari yang lainnya.

    Thariq, juga peserta lainnya merupakan kader-kader umat yang harus terus dilahirkan. Dikembangkan. Semoga di tahun-tahun berikutnya lebih banyak lagi kader umat penghafal Al Qur’an dan hadits seperti ini. Lebih baik, insyallaah. (Ramadhan, mahasiswa tahun kedua STIUWM)

    Baca sebelumnya: Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta

  • Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta

    Menang Menjaga Niat, Mahasiswa STIU WM Sabet Juara 1 Musabaqah Hifzhul Qur’an di Jakarta

    Jakarta, Kamis, 6 Februari 2020. Tiga mahasiswa STIU Wadi Mubarak sedang dalam perjalanan pulang menuju Ma’had. Ketiganya adalah Fahmi Zulfikar, Abdurrakhim dan Muhammad Bilal. Ketiganya baru saja mengikuti Musabaqah Hafalan Al-Qur’an dan Hadits Pangeran Sultan bin Abdul Aziz Alu Su’ud Tingkat Nasional ke-12.

    Atas izin Allaah ta’ala, Fahmi Zulfikar berhasil meraih juara I untuk kategori 30 Juz. Mahasiswa asal Garut ini tentu saja bersyukur. Tapi dirinya tidak hanyut dalam euforia.

    Fahmi masih ingat pesan guru-gurunya sebelum ia dan kedua rekannya berangkat.

    Pertama, niatkan untuk ibadah. Untuk tilawah Al-Qur’an. Bukan yang lain. Demikian pesan Mudir STIU Wadi Mubarak, Ust Muhammad Suaidi Yusuf, sebelum ia dan tim berangkat. “jaga juga nama baik Ma’had,” imbuh beliau.

    Kedua, selain niat ibadah, niatkan juga untuk silaturahmi dengan para penghafal Al-Qur’an . Juga, untuk berlomba dalam kebaikan. Demikian pesan ustadz Miftahul Arifin, Ketua program Markaz Iqra tempat dirinya mengambil sanad Al-Qur’an.

    Ketiga, niatkan sebagai wasilah mencari ridha Allah. Pesan dari keluarganya ini begitu mendalam bagi Fahmi. Selama lomba, tidak putus dirinya berkomunikasi dengan keluarga dan orangtua.

    Ketiga pesan tadi membuat Fahmi dan rekan setim tidak terlalu berekspektasi menang. Sejak awal ma’had memang tidak mempersiapkan khusus. Niatnya lebih untuk berpartisipasi.

    Baca juga Nasihat Hidayah Dari Syaikh Isa

    Sejauh yang Fahmi ingat, pengalaman ikut musabaqah tahfizh adalah dulu ketika kelas 3 SD tingkat kecamatan Tarogong Kidul, Garut. Jauh dari cukup untuk membuatnya mengenal medan perlombaan dan sangat percaya diri bisa melewati perlombaan dengan maksimal.

    Alaa kulli haal, banyak pelajaran yang diambil Fahmi selama musabaqah. Dirinya semakin yakin bahwa Al-Qur’an memberikan banyak berkah dan kemudahan bagi dirinya.

    Berbekal nasihat dan upaya menjaga niat, selama mengikuti perlombaan dirinya juga kedua rekannya merasakan ketenangan. Tidak terobsesi dengan hasil. Yang penting berusaha sebaik yang ia dan kedua temannya bisa lakukan.

    Fahmi tidak berbangga hati. Dirinya menemukan banyak hal positif dan motivasi belajar dari peserta lain. Salah satu yang menariknya adalah ilmu maqaamat yang secara indah dikuasai beberapa peserta.

    Bagi penggemar sepak bola dan beladiri ini, pengalaman bertemu dengan sesama penghafal membuat dirinya semakin semangat belajar.

    Di balik kesuksesannya dalam belajar, ada satu faktor lagi yang juga penting bagi Fahmi: ridho para gurunya. Ridho dari asatidnya.

    Dirinya yakin, setiap penuntut ilmu butuh ridha dari para gurunya. Semoga ridha ini senantiasa ia dan teman-temannya dapatkan senantiasa. Aamiin yaa Rabbal ‘aalaamin. (ARH)

  • Nasihat Hidayah dari Syaikh Isa

    Nasihat Hidayah dari Syaikh Isa

    wadimubarak.com Selasa, 28 Januari 2020. Syaikh Isa bin Muhammad bin Isa Al Masmali. Demikian nama beliau, Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Ummul Qura yang beberapa hari ini sedang mengunjungi STIU WM. Selasa kemarin, beliau meluangkan waktu bercengkerama dengan para mahasiswa.

    Syaikh Isa, yang juga merupakan salah seorang pembina Raabitahh Al Ulama wad Du’at Asia Tenggara, bukan orang asing bagi keluarga besar Wadi Mubarak.

    Ustadz Suaidi, Mudir STIU Wadi Mubarak memperkenalkan beliau kepada para mahasiswa sebagai “Bapak Kita”. Bagaimana tidak, setiap kali asatidz atau mahasiswa maupun alumni berumrah, Syaikh senantiasa membukakan pintu rumahnya untuk dikunjungi.

    Malam itu Syaikh Isa berbagi ilmu tentang makna hidayah. _Ihdinash shiraathal mustaqiim_. Apa itu hidayah?

    Hidayah itu milik Allah. Hak prerogatif Allah. Allah memberikan hidayah kepada hamba yang dikehendakiNya melalui sesuatu sebab. Allah yang paling tahu sebab apa yang membuat seseorang memeroleh hidayahNya.

    Syaikh ditanya, “kenapa Kita setiap shalat selalu meminta hidayahNya?”

    Beliau menjawab, “pertama, agar kita mendapat keistiqamahan dalam menggenggam hidayah tersebut. Kedua, agar hidayah senantiasa kita dapatkan di setiap aspek kehidupan kita, terutama dalam aspek ibadah.”

    Syaikh Isa Al Masmali adalah salah satu akademisi Timur Tengah yang sering berkunjung ke kampus STIU Wadi Mubarak Bogor. Bukan hanya itu, 2 putra dan 1 keponakannya bahkan mengkhatamkan hafalan Al Qur’an di Wadi Mubarak.

    Sepertinya Kabupaten Bogor, khususnya daerah Megendung tempat Wadi Mubarak berada mendapat tempat istimewa di hati Syaikh. Beberapa hari ini beliau sengaja berkunjung sembari mengerjakan tugas menulis dalam rangka meraih gelar profesor.

    Semoga Allah selalu menjaga beliau, keluarganya. Juga Kita. Semoga senantiasa dalam hidayah Allah subhaanahu wa ta’ala.

    (Ramadhan, Mahasiswa smt III STIUWM)

  • STIU WM

    STIU WM

    Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor atau disingkat STIU WM digagas sebagai upaya pengembangan program tahfizh al-Qur’an Mahad Wadi Mubarak untuk memenuhi semakin tingginya kebutuhan masyarakat terhadap kader yang tidak saja hafal al-Qur’an, tetapi juga mendalami bidang keilmuan al-Qur’an dan secara formal diakui oleh lembaga-lembaga pendidikan lain. Masa Pendidikan program STIU WM terdiri dari 4 tahun belajar ditambah 2 tahun pengabdian. Program ini merupakan program formal strata 1 dengan Program studi yang dipilih adalah Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

    Visi “Menjadi Perguruan Tinggi Pusat Tahfidz di Indonesia pada tahun 2030”

    Laman resmi : stiuwm.ac.id