Kategori: STIU WM

  • Pembekalan Lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

    Menjelang wisuda kelulusan, Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak mengadakan pembekalan bagi mahasiswa semester akhir pada tanggal 10-21 Oktober 2021 yang bertempat di Meeting Hall Islamic Center Wadi Mubarak.

    Salahsatu kewajiban mahasiswa STIU WM setelah pelaksanaan wisuda adalah menjalani masa pengabdian selama 2 tahun pada instansi yang telah menjalin kerjasama dan direkomendasikan oleh pihak Yayasan Islamic Center Wadi Mubarak.

    Rektor STIU Wadi Mubarak, Ustadz Dr. Abdul Rauf Al-Haris, S.Sos., M.Pd.I. mengatakan terkait pembekalan ini,”Secara umum pembekalan ini bertujuan untuk memastikan kesiapan lulusan di bidang life skill, baik hard skill maupun soft skill, yang nantinya akan diperlukan ketika mereka terjun di masyarakat luas secara umum dan dunia kerja secara khusus.”

    Terdapat banyak rangkaian materi yang disampaikan, di antaranya materi Adab Mu’allim, Kurikulum Tahfizh Al-Quran, Manajemen Halaqah Tahfizh Al-Qur’an, Seni Komunikasi dan Pelayanan publik, Optimalisasi Bidang Kepengasuhan, Islamic Worldview, Critical Thinking, Menolak Hoax: Kritis Membaca Berita, dan masih banyak lagi.

    Materi-materi tersebut disampaikan oleh jajaran asatidz STIU Wadi Mubarak Bogor, diantaranya Syaikh Abdul Qawi Al-Arghaliy sebagai pembina program ketahfizhan, Ustadz Dr. Abdul Rauf Al-Haris  sebagai ketua STIU Wadi Mubarak Bogor, Ustadz Agus Fadilla Sandi sebagai Ketua Bidang Kemahasiswaan, Ustadz Muhammad Qudwah I’tishom Billah sebagai penanggung jawab program bahasa Arab.

    “Pembekalan ini sungguh sangat bermanfaat bagi kami sebagai mahasiswa yang nantinya akan mengabdi kepada masyarakat, sehingga menambah kemampuan kita untuk menalar apa yang harus kita lakukan ketika pengabdian nanti dan juga menurut saya materi kepengasuhan tidak kalah penting, karena apapun bagiannya ketika kita mengabdi nanti hal itu merupakan materi yang sangat kita perlukan”, tutur Muhammad Aufa, salah peserta pembekalan tersebut. (HafidzNZ/Mushaf)

  • 5 (Lima) Keuntungan Dari Menjaga Kualitas Ibadah

    5 (Lima) Keuntungan Dari Menjaga Kualitas Ibadah

    Salah satu aset terbesar dan termahal yang di miliki oleh orang-orang yang beriman adalah mengenal Allah subhanahu wata’ala. Sekecil apapun, walau berupa lintasan hati, sungguh itu merupakan sebuah keimanan apalagi mengucapkan dengan lisan yaitu memujinya dan beristigfar pada-Nya.

    Oleh karena itu, ciri orang yang telah mengenal Allah dengan sebaik-baiknya adalah dia tidak takut dan sedih dengan urusan duniawi. Kita bisa mengukur sejauh mana kualitas kita mengenal Allah. Salah satu ciri orang yang mengenal Allah adalah selalu menjaga kualitas ibadahnya.

    Orang yang selalu menjaga kualitas ibadahnya adalah dia yang selalu mengingat kewajiban-kewajiban yang telah Allah subhanallahu wa ta’ala perintahkan padanya lalu ia mengerjakannya. Kewajiban utama yang paling penting yaitu adalah Shalat 5 waktu, terkhusus bagi seorang laki-laki yaitu berjama’ah di mesjid dan bagi perempuan yaitu di rumah.

    Baca juga: Informasi Pendaftaran MAHABBAH BOARDING SCHOOL Program Tahfizh Tingkat SMP-SMA Putri

    Shalat merupakan amalan utama yang akan pertama dihisab oleh Allah pada hari kiamat. Orang yang meremehkan shalat maka akan merugikan dirinya di dunia dan di akhirat.

    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

    () فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ () الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ
    “Maka celakalah orang yang shalat. (yaitu) orang yang lalai terhadap Salatnya”
    (QS. Al-Ma’un: 4-5)

    Selama kita menjaga shalat dengan tepat waktu,dan sungguh-sungguh serta ikhlas dalam menjalankannya, Allah akan memberikan pahala kepada kita dan mendapatkan berkah dalam hidup kita.

    Banyak manfaat yang akan didapatkan jika kita selalu menjaga ibadah kita dengan benar. Adapun terjaganya ibadah akan mendatangkan keuntungan hidup yang tidak bisa dibeli dengan kekuasaan, uang, pangkat, jabatan atau popularitas.

    Baca Juga: STIU Wadi Mubarak Gelar Seminar Tafsir Hermeneutika

    Apa saja keuntungannya ketika seseorang selalu menjada ibadahnya dengan benar?

    1. Allah berikan petunjuk yang benar untuk menuntun kehidupannya.

    Tuntunan hidup kepada jalan kebenaran, tidak serta merta hadir bagi orang yang bermalas-malasan. Oleh karenanya, setiap muslim hendaknya selalu mengusahakan meniti jalan kebenaran melalui ikhtiar menyempurnakan ibadahnya.

    2. Allah berikan kemudahan dalam setiap urusannya.

    Allah akan senantiasa memberikan kemudahan kepada hambaNya, selama hambanya selalu berhusnudzan kepadaNya.

    3. Allah akan memberikan ketenangan dalam hidupnya.

    Tenang itu mahal harganya. Ketenanggan tidak bisa dibeli dengan uang. Apapun yang kita miliki, tidak akan pernah kita nikmati bila kita selalu resah dan gelisah.

    Baca juga: Pemuda, Isilah Waktumu Dengan Keilmuan Dan Ketakwaan

    4. Mendapat perlindungan dari maksiat.

    Bagi muslim yang mukmin, setiap kali ia akan melakukan maksiat, maka Allah akan memberikan peringatan padanya agar ia tidak terjerumus dalam kemaksiatan. Demikian karena seorang ahli ibadah akan senantiasa bertaubat.

    5. Seorang ahli ibadah akan memiliki kekuatan ruhiyah dalam dirinya.

    Bukanlah suatu keanehan, ketika kita melihat para ahli ibadah, maka selalu  memancarkan cahaya kewibaan  dari dirinya. Tutur katanya penuh hikmah dan tindakannya selalu tepat dalam mengambil keputsan.

    Saudaraku, oleh karena itu,  mari kita senantiasa menjaga kualitas ibadah kita, menjaga shalat kita, meningkatkan puasa kita, menjaga perbuatan kita dari kemaksiatan dan menjaga keikhlasan kita untuk beribadah kepadaNya.

    Wallahu a’lam

    Penulis: Hafidz Nz – Mahasiswa STIU
    Editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • STIU WM Adakan Sidang Skripsi Perdana

    Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak (STIU WM) yang dibuka tahun 2017, pada Rabu (15/9/2021) kemarin untuk pertama kalinya menyelenggarakan sidang skripsi bagi para mahasiswa semester akhir.

    Setelah kurang lebih selama satu semester para mahasiswa melakukan penelitian dengan berbagai serba-serbinya seperti revisi ulang dan lain-lain. Akhirnya pada hari ini, dengan izin Allah subhanallah wa ta’ala telah diselenggarakannya sidang skripsi yang bertempat di kantor prodi STIU Wadi Mubarak.

    Berkaitan dengan tujuan penulisan skripsi ini, Dr. Abdul Rauf Haris, S.Sos., M.Pd.I selaku ketua STIU WM mengungkapkan bahwa:  “Melalui penulisan skripsi, STIU Wadi Mubarak memberikan pengalaman belajar bagi setiap mahasiswa untuk berlatih menerapkan cara berpikir sistematis sesuai kaidah saintifik yang disepakati. kemampuan ini penting dimiliki oleh setiap mahasiswa sebagai insan akademik, terutama bagi siapa saja yang kedepannya berniat terjun di dunia akademik.”

    Baca juga: STIU WM Gelar Seminar Tafsir Hermeneutika

    Gelaran sidang skripsi perdana ini berlangsung selama 6 (enam) hari dan akan berakhir pada hari Senin 20/9/2021. Peserta sidang berjumlah 39 mahasiswa dan melibatkan 8 dosen penguji.

    “Karena sidang ini merupakan sidang perdana, maka sidang ini pasti akan memberikan kesan yang sangat dalam bagi saya pribadi dan patut menjadi sebuah kenangan. Terlepas dari semua hambatan di tengah perjalanan, Alhamdulillah sidang ini dapat terlaksana dengan baik.” Ungkap Nur Arrizkin Nafis mahasiswa semester akhir sebagai peserta perdana sidang hari ini.

    Lebih lanjut ia mengungkapkan: “Secara umum sebelum sidang saya merasa gugup dan deg-degkan karena ini adalah pengalaman pertama bagi saya. Tetapi Alhamdulillah semua berjalan dengan baik dan lancar walaupun ada beberapa koreksi. Pada akhirnya saya bersyukur dan merasa lebih lega dengan berakhirnya persidangan saya.”

    Baca juga: Jalin Kerjasama UIKA Bogor Dan STIU Wadi Mubarak

    Di akhir ia memberikan pesan sekaligus saran kepada para adik kelas di bawahnya terkait penyusunan skripsi. Ia menekankan pada tiga poin. Pertama, selama menjalani penelitian semangat harus tetap dijaga. Termasuk di dalamnya semangat mencari referensi, semangat mengejar pembimbing dan lain sebagainya.

    Kedua, rajin membaca dan menelaah buku, jurnal dan referensi-referensi lainya. Terutama yang berkaitan dengan Ulumul Qur’an dan Tafsir sebagai fokus utama di STIU ini. Ketiga, sering-sering menulis karya ilmiah sebagai simulasi penulisan skripsi.

    Berita Serupa https://www.instagram.com/infostiuwm/sidangskripsi/

    Ditulis oleh: Ibn Syam
    Editor: Al.Choer

  • STIU WM Gelar Seminar Tafsir Hermeneutika

    Kamis, 9/9/2021, bertempat di Masjid Jami’ Islamic Center Wadi Mubarak, Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak (STIU WM) mengadakan Seminar Tafsir dengan tema: “Studi Kritis Metode Hermeneutika Sebagai Metode Penafsiran Al-Qur’an”

    Mengundang narasumber Ustadz Fahmi Salim, Lc., MA hafizhallahu ta’ala, seminar yang diikuti oleh seluruh mahasiswa STIU WM ini pun terbuka untuk umum dan disiarkan secara langsung melalui channel wadi Mubarak.

    Ikuti Seminar Di: 🔴[LIVE] SEMINAR TAFSIR: Studi Kritis Metode Hermeneutika sebagai Metode Penafsiran Al-Qur’an

    Sebagaimana diketahui, beliau adalah adalah seorang sarjana al-Qur’an lulusan Universitas al-Azhar Kairo dalam bidang tafsir dengan predikat Summa Cum Laude, setelah berhasil mempertahankan tesis-nya yang berjudul Khitabat Da’wah Falsafah at-Ta’wil al-Hermenuthiqi lil-Qur’an ‘Ardh wa Naqd (Studi Analitis-Kritis Diskursus Filsafat Hermeneutika Al-Quran) dan telah dicetak menjadi sebuah buku “Kritik terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal”.

    Dalam sambutan pembukaan seminar, Mudir STIU WM Ustadz Mahfud Shiddiq, M.Ag setelah mengenalkan STIU WM kepada narasumber beliau pun menyarankan kepada para mahasiswa untuk dapat menyimak dengan baik dan serius mengenai penafsiran hermeuneutika yang biasa dipakai untuk menafsirkan bible namun oleh sebagian umat islam ‘dipaksakan’ untuk menafsirkan al-qur’an.

    Mengawali materi seminar, Ustadz Fahmi Salim, Lc., MA yang juga anggota Komisi Kajian & Penelitian MUI Pusat memberikan kalimat yang menggugah kesadaran para mahasiswa, “Menjaga al-qur’an bukan hanya menjaga redaksinya dengan hafalan dan tulisan dalam nash, namun ada hal penting lainnya yaitu dengan menjaga makna al-quran.” Ujar beliau, yang kini menduduki Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).

    Baca Juga: STIU WM Menggelar Kuliah Umum Bersama Wakil Ketua MPR RI

    Diakhiri dengan sesi tanya jawab, beliau menegaskan akan bahaya penyimpangan paham liberal yang secara massif disosialisasikan oleh sarjana-sarjana islam yang terkontaminasi dengan pemikiran plurarisme, liberalisme dan sekulerisme.

    Para intelektual muda tersebut tidak hanya dari lulusan barat namun sudah menjalar ke negara Timur Tengah terkhusus Mesir.

    Maka untuk menghalau paham liberalism berkembang, beliau menyarankan para mahasiswa STIU WM yang juga para hafizh agar mendalami ilmu fiqh dari kitab turots warisan para fuquha’ dan membahasakannya ke masyarakat dalam bahasa yang lebih modern dan ilmiah.

    Ditulis Oleh: Abu Samudera

  • Pemuda, Isilah Waktumu Dengan Keilmuan Dan Ketakwaan

    Pemuda, Isilah Waktumu Dengan Keilmuan Dan Ketakwaan

    Kita sering mendengar kalimat “pemuda adalah harapan agama, pemuda adalah harapan bangsa, dan pemuda adalah harapan masyarakat di masa depan.” Dan tak pernah kita dengar kalimat-kalimat heroik penuh harapan itu dinisbahkan kepada orang yang sudah tua.

    Pemuda merupakan bentuk miniatur dari pada kehidupan bangsa. Akan bagaimana kehidupan suatu bangsa di 10 atau 20 tahun kedepan tergantung dari keadaan pemudanya sekarang ini. Bahkan dari segi agama pun, akan bagaimana warna keberagamaan Islam di Indonesia ini 10 atau 20 tahun ke depan, jawabannya terletak pada pemuda sekarang.

    Baca Juga: Nongkrong Di Pinggir Jalan? Ingat 4 (Empat) Hal Ini

    Ali bin Abi thalib radhiallahu ‘anhu pernah berpesan kepada para segenap para pemuda:

    ‘’Wahai pemuda ketahuilah oleh kamu sekalian, sesungguhnya hidup seorang pemuda itu ‘Demi Allah’ harus diisi dengan Ilmu dan Taqwa. Jika dua perkara ini tidak ada dalam diri pemuda, ilmu tidak ada atau taqwa tidak ada, maka tidak ada artinya dari pada kehidupannya.

    Ketika seorang pemuda mencari ilmu di masa mudanya dengan sungguh-sungguh, maka dia akan mendapatkan keberuntungan di hari tua. Sebaliknya jika seorang pemuda tidak memanfaatkan masa mudanya dengan menuntut ilmu apalagi ilmu Agama, maka di hari tua dia akan terlunta-lunta dan di akhirat tinggal penyesalan.

    Masa muda merupakan masa yang kuat, terkumpul padanya kekuatan fisik baik ketampanan atau kecantikan serta kekuatan pikiran untuk berpikir maupun menghafal. Kalau semua itu tidak dibarengi dengan ketaqwaan, maka para pemuda bisa terjerumus kepada perbuatan yang di haramkan oleh Allah Ta’ala.

    Allah subhanahu wa ta’ala telah menjamin perlindungan pada hari dimana ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungannya. Salah satunya yaitu pemuda yang tumbuh dalam Ibadah kepada Allah.

    Baca Juga: 5 Alasan Penting Pendidikan Al-Qur’an Sejak Usia Dini

    Di zaman sekarang kemaksiatan dan kemunkaran kebanyakan diisi oleh generasi muda atau deretan usia muda. Banyaknya kasus minuman keras, narkoba, perbuatan asusila hingga kecanduan pornografi, jika kita lihat dari data atau realita maka mereka yang terjerumus pada hal-hal negatif tersebut paling banyak pada usia muda. Sungguh merupakan ironi bagi bangsa ini.

    Namun jika pemuda-pemuda dididik dengan benar yaitu dididik dengan ajaran Agama dan Budaya yang tidak bertentangan dengan Syari’at. Maka pemuda akan memiliki pegangan yang kuat dalam berkehidupan. Ini merupakan amanah dan tugas, khususnya orang tua dan umumnya masyarakat agar mengarahkan para pemuda ke jalan yang benar.

    Maka dari itu, tugas seorang pemuda adalah memanfaatkan waktu dengan ilmu dan taqwa. Isilah waktu muda dengan baik. Sebagaimana pepatah mengatakan’’ Waktu itu bagaikan pedang. Kalau anda tidak potong waktu itu, andalah yang akan dipotong dengan waktu.”

    Artinya mumpung kita masih muda, mari kita manfaatkan waktu untuk menghafal Al-Qur’an, menghafal Hadist, belajar Fiqih dan Aqidah kepada para Ulama-Ulama kita.

    Penulis: Hafizh Nz
    Editor: Al.Choer

  • Buah Mengingat Kematian

    Buah Mengingat Kematian

    Dunia yang kita tempati ini hanyalah sebagai tempat persinggahan untuk menunggu hari akhirat. Semua yang hidup pasti akan mati, tak ada seorang pun yang mengetahui tentang datangnya kematian. Islam memandang kematian adalah tanda-tanda kebesaran Allah ﷻ.

    Kehidupan dan kematian adalah sebagian ujian dari makhluk-Nya, agar setiap yang hidup bisa mengambil pelajaran berharga dari sisi keduanya dan melanjutkan perjalanan di dunia yang fana ini dengan selalu beramal apa yang diridhoi Allah ﷻ.

    Kematian menurut Al-Qur’an adalah terpisahnya ruh dari jasad, tidak bisa dipungkiri setiap manusia pasti mengalami saat dimana ruh berpisah dari dari jasad apabila ajal telah menjemputnya.

    Allah ﷻ berfirman:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

    Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. [QS.Al-Hasyr:18]

    Disebutkan dalam hadits Rasulullahﷺ :

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

    Dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. [HR Ibnu Majah, no. 4.258; Tirmidzi; Nasai; Ahmad].

    Baca Juga: Meraih Cinta Allah Dengan Bekerja

    Kematian adalah pemisah antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Pembatas yang memisahkan antara waktu menyiapkan perbekalan dan menerima balasan dari perbekalan itu. Maka tidak ada kesempatan setelah kematian untuk bertobat dan beristighfar dari berbagai amal keburukan. Dan tidak ada pula kesempatan setelahnya untuk memperbanyak amal-amal kebaikan.

    Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

    وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ

    Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. [QS.An-Nisa’:18]

    Kemudian kematian itu menghampiri pada setiap manusia secara pasti, akan menemui mereka tanpa ada keraguan sedikitpun.

    قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاَقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

    Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. [Al Jumu’ah:8].


    أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

    Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [An Nisa:7]

    Baca Juga: Pendaftaran Graha Qur’an Online Angkatan 3

    Baca Juga: Perbuatan Baik Yang Tersembunyi

    Pun kematian itu akan datang kepada semua makhluk-Nya secara tiba-tiba, Allah ﷻ berfirman,

    وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

    Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun. [Al-A’raf:34]

    Maka berapa banyak dari kalangan manusia yang keluar dari rumahnya mengemudi mobilnya lantas dia kembali dalam keadaan dibawa di atas kain kafan. Berapa banyak dari kalangan manusia yang berkata kepada keluarganya, “hidangkanlah bagiku makanan!” Lalu dia meninggal, sedangkan belum sempat memakan makanan tersebut, walau sedikit. Dan berapa banyak dari kalangan manusia yang memakai bajunya, dan tidak ada yang membuka bajunya, kecuali orang yang memandingkan jenazahnya.

    Maka ketika seseorang hamba mengingat kematian, terdapat manfaat yang sangat besar bagi kehidupannya. Dengan selalu mengingat kematian akan sadarlah hati yang lalai, akan hiduplah hati yang mati, dan akan baguslah penghadapan seorang hamba kepada Allah ﷻ, serta hilanglah kelalaian dan keberpalingan dari ketaatan kepada Allah ﷻ.

    Telah berkata Said bin Zubair rahimahullah, seorang ulama Tabi’in:

    لو فارق ذكر الوت قلبي لخشيت أن يفسد علي قلبي

    “Seandainya hatiku terlepas dari mengingat kematian, maka aku sangat mengkhawatirkan hal tersebut akan merusak hatiku”


    Seorang hamba akan terus dalam kebaikan selama dia memperhatikan keadaannya di hadapan Allah ﷻ di hari kiamat serta memikirkan tempat kembalinya setelah kematiannya.

    Baca Juga: Pendaftaran PG TAUD SAQU Angkatan XV

    Berkata Sufyan bin Uyaynah rahimahullah (w. 198 H), telah berkata Ibrohim At-Taimi rahimahullah (Tabi’in), “Aku membayangkan diriku berada di surga, aku memakan buah-buahnnya, aku minum air dari sungai-sungainya, dan aku peluk bidadari-biadarinya. Kemudian aku membayangkan diriku dineraka, aku makan buah zaqqumnya, Aku minum nanah yang ada di dalamnya, dan aku terbelit rantai dan belenggu-belenggunya, seraya aku berkata kepada diriku sendiri. “Wahai jiwa apakah yang kamu inginkan?” Lalu jiwaku menjawab, “Aku ingin agar aku dikembalikan ke dunia sehingga Aku bisa beramal sholih”. Lalu aku berkata, “Sesungguhnya kamu wahai jiwaku hanya berangan-angan maka perbanyaklah amal sholih”.

    Dan katakanlah kepada jiwamu, “Wahai jiwa, jika Aku telah meninggal maka siapakah yang akan mengerjakan shalat untuk diriku,  siapakah yang akan melakukan puasa untuk diriku, dan siapakah yang akan bertaubat untuk diriku dari segala dosa dan kelalaianku. Wallaahu a’lam bish showab.

    (Tulisan dikembangkan dari salah satu khutbah dalam program khithobah harian STIU Wadi Mubarak, disampaikan dalam bahasa Arab oleh Deny Ramadhan, mahasiswa Semester VI asal Lampung dan dialih bahasakan oleh UKM Mushaf STIU-WM)

    Editor: Al.Choer

  • Meraih Cinta Allah Dengan Bekerja

    Meraih Cinta Allah Dengan Bekerja

    (Ditulis Oleh Ibnu Syam, Mahasiswa STIU WM disadur dari liqo maftuh bersama Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I)

    Kemenangan tidak selamanya ditentukan oleh jumlah yang banyak, tidak selamanya karena kekuatan yang besar. Akan tetapi, adakalanya kemenangan itu ada pada pihak yang kecil, jumlah yang sedikit. Tidak kah kita mendengar firman Allah yang mengatakan: 

    كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةًۢ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

    “Sudah berapa banyak dari golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak atas izin Allah.” (QS: Al-baqarah:249)

    Oleh karenanya, jangan hanya sebab fasilitas yang kurang kita berhenti bekerja, jangan hanya karena SDM yang sedikit kita tidak mau berjuang. Ingat! Jumlah yang banyak bukan jaminan untuk menang.

    Lalu bagaimana bisa terjadi kelompok yang sedikit dapat mengalahkan kelompok yang banyak? Itu terjadi jika Allah mencintai kita. Lalu bagaimana caranya Allah mencintai kita? Renungilah hadits Rasulullah ﷺ berikut ini:

    “إن الله يحب إذا عمل أحدكم عملا أن يتقنه.”  أخرجه أبو يعلى والطبراني

    “Sesungguhnya Allah mencintai jika salah satu di antara kalian melakukan sebuah amalan (pekerjaan) lalu menyempurnakannya.” (HR. Abu ya’la dan At-thabari)

    Jadi, salah satu cara untuk meraih cintanya Allah adalah melakukan suatu pekerjaan dengan sungguh-sungguh.

    Baca Juga: Perbuatan Baik Yang Tersembunyi

    Dari hadits di atas, kita dapat mengambil dua pelajaran penting dalam hidup kita. Yang pertama ialah (عمل) bekerja. Dalam menjalani kehidupan ini kita harus bekerja. Umar bin Khattab pernah berkata: “jika ada seseorang yang mengagumkan akan tetapi dia tidak memiliki pekerjaan, maka ia tidak ada apa-apanya di mataku.”

    Dalam melakukan sebuah pekerjaan kita harus istiqomah, yaitu konsisten dalam pekerjaan. konsisten merupakan salah satu kunci kesuksesan. Ia juga merupakan tanda bahwa Allah mencintai pekerjaan yang kita lakukan. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya:

    أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إلَى اللَّهِ ؟ قَالَ ادومها وان قل

    Pekerjaan apakah yang paling dicintai oleh Allah? Beliau menjawab “pekerjaan yang terus-menerus dilakukan walaupun sedikit’ ” (Muttafaqun Alaih)

    Hal yang juga harus selalu kita perhatikan dalam bekerja adalah keikhlasan. Sebab ikhlas adalah salah satu dari dua syarat pekerjaan kita diterima dan bernilai pahala disisi Allah. 

    Baca Juga: Pendaftaran Graha Qur’an Online Angkatan-3

    Lakukanlah pekerjaan dengan penuh rasa cinta, bukan karena benci. Dengan begitu pekerjaan akan lebih ringan dikerjakan. Jangan lupa pula, barengi selalu pekerjaan dengan komitmen dan prinsip. Agar tidak mudah terombang-ambing dengan segala rintangan yang dihadapi.

    Pelajaran yang kedua adalah (اتقان في العمل ) menyempurnakan pekerjaan. Dalam menyempurnakan sebuah pekerjaan setidaknya ada empat kriteria yang harus kita perhatikan. Di antaranya ialah:

    Kerja keras

    Sungguh-sungguh dalam bekerja, memberikan yang terbaik dalam pekerjaan, dan mengerahkan semua kemampuan yang kita miliki merupakan bagian dari kerja keras. Dengarlah slogan orang-orang yang mengatakan: “kerja-kerja-kerja”.

    Kerja Cerdas

    Bekerja dengan ilmu dan skill, terus belajar dan tidak malu belajar dari siapapun, adalah salah satu wujud nyata bahwa kita bekerja dengan cerdas. Ada ungkapan yang mengatakan: “bekerja bukan hanya dengan otot tapi juga harus dibarengi dengan pemikiran matang”.

    Kerja Tuntas

    Jangan berhenti hanya karena pekerjaan yang banyak dan sulit. Tetapi bekerjalah sampai akhir sampai mendapat hasil. Renungilah kata-kata ini: “hasil takkan pernah mengkhianati usaha”

    Kerja Ikhlas

    Niatkan! Semua yang kita lakukan adalah karena Allah. Dengan begitu semua sepak terjang kita dalam bekerja akan bernilai pahala di sisi Allah aza wa jalla. Tadabburilah firman Allah berikut ini: 

    فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ

    “Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatupun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS: Al-Kahfi:110)

    Editor: Al.Choer

  • Persatuan Sebagai Kearifan Bangsa


    (Ditulis berdasarkan Pemaparan Materi Kuliah Umum STIU Wadi Mubarak oleh Wakil Ketua MPR RI H. Ahmad Muzani, S.Sos. Jum’at, 25/6/2021)

    Persatuan merupakan salah satu hal yang mendukung dan melahirkan rasa aman. Masyarakat Indonesia bisa berangkat dan belajar di sekolah dengan aman. Para orang bisa berangkat kerja dengan aman. Semua ini adalah buah adanya persatuan.

    Kita bisa belajar dengan aman. Orang tua kita bisa berangkat kerja dengan tenang. Itu disebabkan negara kita aman. Kita bisa aman, karena ada persatuan yang telah telah diwarisi oleh para pendiri bangsa ini.

    Sejarah mencatat, kehendak mewujudkan persatuan senantiasa menjadi semangat bangsa, terutama para pejuang dan ulama. Peristiwa Sumpah Pemuda pada tahun 1928 dan perubahan sebagian redaksi dalam Piagam Jakarta bisa menjadi contoh dari bagaimana para pahlawan menjaga persatuan akan kedaulatan negeri.

    Dalam Sumpah Pemuda, jauh sebelum kemerdekaan, para pemuda bersepakat menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Padahal, kala itu bahasa Melayu bukanlah bahasa mayoritas dari negeri besar ini.

    Dalam peristiwa Piagam Jakarta, para pejuang yang juga berlatar belakang ulama akhirnya mengambil keputusan yang tidak mudah dengan mengubah redaksi “dengan kewajiban menjalankan syariat bagi pemeluk-pemeluknya” dan mencukupkan dengan redaksi pengganti berupa sila pertama pancasila.

    Ini merupakan pengorbanan terbesar umat Islam kala itu. Pancasila adalah konsensus yang lahir dari pengorbanan umat untuk tidak memaksakan kehendak menjadikan Islam sebagai dasar agama. Persatuan jadi kehendak lain yang lebih diutamakan.

    Persatuan, dengan demikian, merupakan sebuah kearifan bangsa yang harus dipertahankan supaya rasa aman bagi warga tetap terjaga. Kearifan inilah yang menjadikan kita bangsa yang kuat.

    4 Pilar Negara dan Pendidikan Islam

    Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional menggunakan kata kunci iman dan taqwa dalam rumusan tujuan pendidikan. Ini mengandung makna bahwa pendidikan agama, termasuk pendidikan Islam merupakan implementasi menegakkan pilar-pilar negara.

    Tidak ada cara untuk mewujudkan iman dan taqwa selain melalui pendidikan agama. Berkembangnya lembaga pendidikan Islam, baik jumlah maupun kualitas, merupakan hal positif yang mendukung pencapaian tujuan pendidikan bangsa.

    Pendidikan Islam sebagai wujud tegaknya pilar negara harus memiliki semangat persatuan. Persatuan akan berdampak pada semakin besarnya juga peluang dan kesempatan dakwah. Persatuan membuka peluang dakwah.

    Baca Juga: STIU Wadi Mubarak Menggelar Kuliah Umum Bersama Wakil Ketua MPR RI

    Peran STIU Wadi Mubarak Bogor dalam Membangun 4 Pilar Negara

    Mahasiswa STIU WM harus menghayati nilai persatuan sebagai nilai kearifan bangsa yang harus dirawat dan dikembangkan. Penghafal Al-Quran memiliki potensi yang tinggi untuk mampu mempelajari berbagai disiplin ilmu dengan baik.

    Jadilah mahasiswa muslim yang kreatif, inovatif dan senantiasa menjadi bagian dari solusi untuk setiap tantangan zaman. Sebagai seorang muslim, mahasiswa STIU WM harus memiliki cara pandang yang positif terhadap setiap tantangan. Situasi pandemi bisa jadi contoh.

    Ilmuwan memperkirakan pandemi baru berakhir beberapa tahun lagi. Sikap tawakal dan ikhlas terhadap qadha dan qadar Allah menjadikan seorang muslim lebih berpotensi memiliki sikap positif. Sikap positif ini kemudian mampu mendorong sikap kreatif, inovatif dan senantiasa tergerak mencari solusi.

    Dalam konteks sebagai seorang akademis sekaligus calon dai, mahasiswa STIU WM dituntut senantiasa mengambil peran untuk menjadi bagian solusi melalui ilmu yang dimilikinya. Jadilah solusi di setiap tantangan umat dan bangsa, sebagaimana para pejuang dan ulama terdahulu melakukannya.

    Peran ini hanya bisa diemban dengan sikap yakin terhadap kebenaran dan diikuti dengan sikap sabar dan upaya penyampaian yang baik sehingga persatuan senantiasa bisa terjaga. Hafalan Al-Quran dan ilmu agama yang dimiliki harus mampu menjadi berkah bagi terrawatnya persatuan bangsa dan negara. (ARH)

    Editor: Al.Choer

  • STIU Wadi Mubarak Menggelar Kuliah Umum bersama Wakil Ketua MPR RI

    Bogor, 25 Juni 2021. H. Ahmad Muzani, S.Sos, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), berkesempatan bersilaturahmi ke kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ushuludin Wadi Mubarak Bogor. Kunjungan ini dikemas dalam bentuk Studium Generale bertemakan 4 Pilar Negara dan Pendidikan Islam: Peran Pendidikan Islam dalam Membangun 4 Pilar Negara.

    Di hadapan ratusan sivitas akademika beliau yang didampingi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) DR. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc membuka kuliah dengan mengajukan pertanyaan retoris, “Kita bisa belajar dengan aman. Orang tua kita bisa berangkat kerja dengan aman. Karena apa?.”

    “Karena Kita punya persatuan,” jawab beliau. Beliau memberikan beberapa contoh negara yang warganya tidak bisa beraktivitas dengan aman karena persatuan di antara mereka tidak tegak. Berbeda dengan negara-negara yg beliau singgung, Indonesia merupakan negara yang aman bagi warganya untuk beraktivitas.

    Lebih jauh, beliau menjelaskan bahwa persatuan yang dimiliki bangsa adalah hasil pengorbanan para pejuang dan ulama Islam. Berubahnya sebagian redaksi dalam Piagam Jakarta menjadi sila kesatu Pancasila seperti saat ini adalah bentuk pengorbanan terbesar pejuang dan ulama Islam dalam rangka meraih persatuan.

    Dengan kata lain, Pancasila sebagai sebuah konsensus dilahirkan dengan alasan mengutamakan persatuan. “Persatuan ini yang memberikan peluang juga terhadap dakwah Islam”, lanjut beliau.

    Baca juga: UIKA Bogor dan STIU Wadi Mubarak Jalin Kerjasama

    Pendidikan Islam sebagai Implementasi 4 Pilar Negara

    “Pendidikan Islam adalah salah satu bentuk perwujudan 4 Pilar Negara”, demikian penjelasan pembicara terkait peran pendidikan Islam dan 4 Pilar Negara.

    Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa frasa ketuhanan Yang Maha Esa pada sila pertama pancasila bisa dilihat sebagai acuan bagi umat Islam untuk menegakkan nilai Islam, yaitu tauhid.  Sila ini kemudian mewarnai rumusan sistem pendidikan Islam dengan adanya kata kunci iman dan taqwa sebagai tujuan pendidikan.

    “Tidak ada jalan lain untuk melahirkan manusia beriman dan bertaqwa kecuali pendidikan agama,” pungkas beliau.

    Kunjungan Program- Program Pendidikan Islamic Center Wadi Mubarak

    Kunjungan H. Ahmad Muzani, S.Sos ke STIU Wadi Mubarak Bogor sebetulnya sudah lama diniatkan. Beliau merupakan salah satu jamaah haji Nur Ramadhan yang dibimbing langsung oleh pengasuh Yayasan Islamic Center Wadi Mubarak Bogor, KH. Dr. Didik Hariyanto, Lc.

    Selain silaturahmi, kunjungan ini juga merupakan agenda untuk menjajagi kerjasama dalam pendidikan Islam dengan yayasan dan sekolah tinggi. Setelah Studium Generale, beliau dan rombongan menyempatkan untuk melihat kegiatan belajar mengajar di program Tahfizh Anak Usia Dini dan Madrasah Ibtidaiyah Tahfizh Sahabat Quran. (ARH)

    Editor: Al.Choer

  • Kuliah Kerja Nyata Perdana STIU WM

    Program KKN Perdana STIU Wadi Mubarak Bogor

    Seminggu lalu terlaksana salah satu kegiatan penting dalam kegiatan penyelenggaraan pendidikan tinggi STIU Wadi Mubarak Bogor. Sebanyak 70 mahasiswa/i baru saja secara resmi dilepas untuk menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat melalu pelaksanaan kegiatan Kuliah Kerja Nyata. Selain penting sebagai bagian dalam tridharma perguruan tinggi, KKN ini juga bersejarah karena menjadi pengalaman pertama bagi sekolah tinggi ini.

    Sebanyak 9 kegiatan KKN diluncurkan kampus yang secara umum terdiri dari 3 program besar yaitu program pelayanan kepada masyarakat, program peningkatan kepada masyarakat dan program pengayaan sumber belajar.

    9 kegiatan utama tadi terdiri dari kegiatan alih aksara naskah klasik tafsir nusantara, kegiatan Tahsin Online, kegiatan Daurah Syarah Matan Tuhfatul Athfaal, Daurah Syarah Matan Jazariyah, Webinar Tafsir Tematik, Input Bibliografi Koleksi Perpustakaan, Pembuatan Poster Dakwah Al-Quran, Pembuatan Artikel Populer Tematik dan Kajian Wali Santri Sekolah Al-Quran. Hampir seluruh kegiatan dilaksanakan secara online mengingat suasana pandemi yang masih belum berakhir.

    Baca: UIKA Bogor Dan STIU Wadi Mubarak Jalin Kerjasama

    9 kegiatan tadi dikaitan dengan bidang ilmu yang diselenggarakan oleh STIU Wadi Mubarak yaitu Program Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir. Sasaran program terdiri dari ratusan masyarakat umum, guru-guru Al-Quran dan lembaga-lembaga pendidikan Al-Quran se-Indonesia.

    KKN perdana STIU Wadi Mubarak Bogor dilakukan bekerjasama dengan salah satu yayasan pendidikan Al-Quran yang memiliki ratusan cabang sekolah Al-Quran, yakni Yayasan Sahabat Al-Quran (YASAQU). Sebanyak 70 mahasiswa ditugaskan untuk melakukan berbagai kegiatan pelayanan dan pengembangan kapasistas bagi guru-guru Al-Quran YASAQU yang tersebar di seluruh Indonesia melalui berbagai kegiatan daring.

    Semoga, kegiatan KKN perdana ini mampu meningkatkan peran dan fungsi sekolah tinggi sebagai abdi masyarakat serta sebagai  institusi pengembangan ilmu pengetahuan. Semoga Allah senantiasa ridho, membimbing dan memudahkan kegiatannya. (ARH)

    Editor: Ibn Al.Choer