Kategori: STIU WM

  • Sepulang Dari Maqarie Quraniyyah Madinah, 4 (Empat) Asatidz Berbagi Pengalaman

    Sepulang Dari Maqarie Quraniyyah Madinah, 4 (Empat) Asatidz Berbagi Pengalaman

    Dilangsungkan di Masjid Jami’ Islamic Center Wadi Mubarak pada Ahad (24/10/2022), acara Sharing session bersama para asatidz STIU Wadi Mubarak yang telah menyelesaikan progam Daurah di Jamiyyah Maqarie Qur’aniyyah Madinah, Arab Saudi disambut dengan suka cita oleh para mahasiswa.

    Pengalaman merupakan hal yang mahal dan berharga bagi siapapun. Maka pengalaman para asatidz selepas menyelesaikan daurah dapat menjadi pelajaran berharga bagi para mahasiswa agar dapat mengambil pelajaran dan meneruskan perjuangan para asatidz tersebut.

    Terlebih lagi kesempatan ini belum tentu bisa didapatkan semua orang.

    Baca Juga: 
    – 4 (Empat) Pengajar ICWM Sukses Memperoleh Ijazah Sanad Al-Qur’an Di Madinah
    – Syaikh Abdullah Bin Muhammad Al-Jarullah Berkunjung Ke ICWM
    – 12 Mahasiswa STIU-WM Dianugerahi Sanad Qira’ah

    Hadir pada acara ini Ustadz Mahfudz, S.Th.I., M.Ag., Mudir Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor, Ustadz Muhammad Aufa, S.Ag., Bagian Kemahasiswaan STIU Wadi Mubarak, serta beberapa Asatidz lainnya yang ikut menyaksikan acara tersebut.

    Acara dimulai dengan pembukaan yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Aufa, lalu dilanjutkan dengan sambutan Ustadz Mahfudz.

    Beliau menyampaikan secara singkat tentang pengalaman (4) empat asatidz yang berhasil menyelesaikan daurah tersebut, yaitu Ustadz Thoriq Mumtaz, S.Ag., Ustadz Fahmi Zulfikar, S.Ag., Ustadz Irsyad Husnul Hidayat, dan Ustadz Ahmad Zaini Hafizhahumullah ta’ala.

    Terlihat bahwa perjuangan yang dilalui untuk sampai pada titik tersebut sangatlah panjang dan berliku, serta penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Bila tanpa hal-hal tersebut, maka mustahil bisa sampai ke titik yang sudah dicapai saat ini.

    Setelah selesai menyampaikan sambutan, beliau mempersilahkan satu-persatu para asatidz untuk menyampaikan pengalaman, pesan, dan kesan selama menjalani daurah di Madinah Al-Munawwarah.

    Baca Juga:
    – 4 (Empat) Pengajar ICWM Tadrib Sanad Di Kota Suci Madinah Al-Munawwarah
    – Syaikh Tamim Ijazahkan Sanad Qiroah Ke Salahsatu Pengajar ICWM Di Madinah
    – Korwil TAUD SaQu Aceh Adakan Seminar Nasional Quranic Parenting
    – Pimpinan ICWM Isi Materi Seminar Ketahanan Keluarga Di Aceh 

    Diawali dengan penyampaian Ustadz Irsyad, Sharing session pun dibuka dengan kisah beliau ketika mengikuti daurah. “Saya banyak berterima kasih kepada Ma’had dan para donatur yang telah memberikan kami kesempatan untuk mengikuti daurah ini”, ucap Ustadz Irsyad menjelaskan dan membuka obrolan.

    Suka dan duka pun bercampur menjadi satu saat mengikuti daurah tersebut, bahkan sampai hampir ditolak setoran karena tidak siap, “Sampai suatu saat sang Syaikh berkata ‘Kalau kamu tidak siap setoran ya tidak perlu setoran ke saya!’, tapi ya jujur saja, saya memang belum siap saat itu!”, pungkas Ustadz Irsyad menambahkan.

    Lalu dilanjutkan dengan penjabaran Ustadz Thoriq Mumtaz tentang kisah beliau mengikuti daurah yang juga tak kalah menarik. Mulai kisah ditinggal Safar oleh sang Syaikh, hingga setoran sambil berkeliling kampus Universitas Islam Madinah karena padatnya jadwal syaikh tersebut. “Sampai kadang ana setoran tapi belum makan” ucap ustadz Thoriq mengkisahkan.

    Baca Juga:
    – LANTAMA Wisata Adakan Umroh Dauroh Dai/Daiyyah
    – 7 (Tujuh) Cara Efektif Menangani Perilaku Menjengkelkan Anak
    – ICWM Rilis Buku 25 Kiat Agar Anak Cinta Al-Qur’an

    Lalu kisah Ustadz Fahmi Zulfikar, S.Ag. saat beliau berkisah yang amat menarik yaitu beliau berkesempatan mengambil sanad dari Syaikh Tamim Az-Zu’bi hafizhahullah ta’ala, salah satu ulama senior di bidang Qiraat yang tersohor di seluruh dunia.

    Kesempatan ini pasti menjadi momen yang tak terlupakan bagi beliau pribadi tentunya. “Sampai sekarang rasa takut itu masih ada saat setoran kepada beliau”, jelas Ustadz Fahmi menyampaikan. Karena Syaikh Tamim terkenal dengan wibawanya yang amat disegani oleh siapapun.

    Hingga acara selesai, para mahasiswa begitu antusias mengikuti sharing session ini. Serta berharap agar dapat meneruskan seperti yang telah dicapai para asatidz tersebut. Acara ditutup dengan menonton dokumentasi singkat kegiatan para asatidz selama di Maqarie Qur’aniyyah Madinah, Arab Saudi.

    Penulis: Faros Nur Muhammad/UKM Mushaf STIU-WM
    Photo: Ahmad Nasuki
    Editor: Al.Choer

    🏆 Informasi Pendaftaran 👇
    Informasi Pendaftaran Islamic Center Wadi Mubarak 2023-2024

  • Wasiat Syaikh Dr. Ahmad Sholih An-Naqib: Wirid Ahlul Qur’an

    Wasiat Syaikh Dr. Ahmad Sholih An-Naqib: Wirid Ahlul Qur’an

    Jumat (30/09) Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak (STIU-WM) kedatangan seorang tamu spesial. Beliau adalah Syaikh Dr. Ahmad Sholih An-Naqib hafidzahullahu ta’ala dari Arab Saudi berdarah Yaman.

    Kedatangan beliau ke Islamic Center Wadi Mubarak (ICWM) untuk yang pertama kali ini merupakan kedatangan shilaturrahim antara beliau dengan lembaga-lembaga di Indonesia.

    Syaikh Naqib, menyelesaikan program doktoralnya di Universitas Islam Madinah jurusan Tafsir Al Qur’an pernah mengabdikan diri pada almamaternya tersebut dengan mengajar mata kuliah tafsir di fakultas syari’ah.

    Baca Juga:
    – Perdana Dan Istimewa: Wadi Mubarak Mewisuda 363 Penghafal Al-Qur’an

    – Syaikh Prof. Dr. Thoriq Bin Abdullah Hajjar Kunjungi STIU-WM
    – Tutup Daurah Huffazhul Wahyain; 3 (Tiga) Mahasiswa STIU-WM Dapatkan Umroh Gratis
    – Nasihat Dr. Isa Al-Masmali Di Hadapan Mahasiswa STIU-WM

    Saat kunjungan Jum’at kemarin, tak enggan pula beliau didapuk menjadi khotib di Masjid Jami’ Wadi Mubarak. Salah satu pesan yang beliau sampaikan ialah “Mengisi usia muda dengan banyak kebajikan, karena umur akan diminta pertanggungjawabannya. Terlebih usia muda.”

    Pada keesokan harinya, Sabtu (01/10) selesai pelaksanaan Shalat Shubuh beliau memberikan beberapa nasihat untuk mahasiswa/i STIU-WM yang berkaitan dengan al-qur’an.

    Nasihat ini berkaitan erat dengan aktivitas-aktivitas yang ada di lingkungan Islamic Center Wadi Mubarak.

    Beliau mengawali nasihat dengan menyebutkan hadist Nabi ﷺ : “Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.” Beliau menyebutkan hadist ini dengan berbagai riwayatnya lalu memberikan penjelasan dan motivasi kepada para mahasiswa/i.

    Baca Juga:
    – Korwil TAUD SaQu Aceh Adakan Seminar Nasional Quranic Parenting
    – Pimpinan ICWM Isi Materi Seminar Ketahanan Keluarga Di Aceh 

    – ICWM Rilis Buku 25 Kiat Agar Anak Cinta Al-Qur’an

    Selain itu beliau juga menyebutkan wasiat-wasiat bertajuk washaayaa lii ahlil qur’an (wasiat untuk para ahlul qur’an).

    Wasiat pertama yang beliau sampaikan adalah hendaknya untuk para ahli quran senantiasa mengintropeksi niat mereka. Yaitu ikhlas karena Allah ﷻ.

    Wasiat yang kedua, yaitu diantara yang selalu diwasiatkan untuk para ahlul qur’an adalah taqwa.
    “Sesungguhnya kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan yang selalu bersama al-qur’an” ujar beliau.

    Baca Juga: 
    – 4 (Empat) Pengajar ICWM Tadrib Sanad Di Kota Suci Madinah Al-Munawwarah
    – Syaikh Abdullah Bin Muhammad Al-Jarullah Berkunjung Ke ICWM
    – 12 Mahasiswa STIU-WM Dianugerahi Sanad Qira’ah

    Setelah menyampaikan wasiat, beliau pun memberikan nasihat. “Hendaknya seorang manusia itu memiliki wirid-wirid al-quran. Mulailah sedikit demi sedikit.”

    Beliau menyebutkan wirid-wirid itu dari wirid yang terendah sampai wirid yang tertinggi. Adapun wirid itu ialah: wirid tilawah, wirid hifdz, wirid muraja’ah, wirid istima’, wirid diraasah, wirid mudarrasah serta wirid tadabbur Al-Qur’an.

    Tak hanya itu, beliau pun menegaskan kepada para ahlul quran untuk tidak boleh meninggalkan bacaan al-quran selama hidupnya.//

    Penulis: Faros Nur Muhammad/UKM Mushaf STIU-WM
    Editor: Al.Choer

  • Membanderol Harga Diri; Kuliah Umum Bersama Dr. Isa Al-Masmali hafizhahullah

    Membanderol Harga Diri; Kuliah Umum Bersama Dr. Isa Al-Masmali hafizhahullah

    Sudah menjadi lumrah diketahui bahwa harga diri seseorang berkaitan erat dengan identitasnya.

    Harga diri bagi seseorang yang beridentitas bangsawan tentu tidak sama dengan harga diri seseorang yang beridentitas sebagai rakyat jelata, harga diri guru tentu berbeda dengan harga diri seorang murid. Begitulah singkatnya identitas amat mempengaruhi harga diri seseorang.

    Dalam kesempatan di sore hari ini, Syaikh Isa tampak mengajak mahasiswa/i STIU WM untuk membanderol harga diri mereka bersama-sama.

    Diawali dengan Syaikh yang mengingatkan  para mahasiswa/i tentang do’a yang acap kali dibaca dalam setiap shalat -bahkan bagian wajibnya, yakni Al-Fatihah ayat 6-7:

    اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ . صِرَاطَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ

    “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yakni jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat”

    Lalu Syaikh bertanya secara terbuka bahwa bukankah semua makhluk diberi nikmat? Lalu jalan seperti siapakah yang kita minta untuk ditunjukkan oleh Allah ﷻ? Apakah ada yang dimaksud oleh Allah ﷻ secara khusus dalam penyebutan ‘orang yang diberi nikmat’ tersebut?.

    Dari pertanyaan secara terbuka tersebut, didapatilah jawaban dari para mahasiswa/i STIU yang notabene pembelajar di bidang Tafsir bahwa definisi ‘orang yang diberi nikmat’ tersebut adalah para Nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada’ dan orang-orang shalih yang tak lain adalah mereka yang disebutkan dalam QS. An-Nisa’:69.

    Maka menurut Syaikh, semua faktor yang mengumpulkan jenis manusia-manusia tersebut dalam kategori ‘orang yang diberi nikmat’ adalah agama mereka. Mereka semua orang yang beragama. Maka identitas seseorang sebagai ‘orang beragama’ sudah cukup untuk membedakan harga diri mereka dari orang-orang yang tidak beragama.

    Baca Juga:
    –
     Syaikh Prof. Dr. Thoriq Bin Abdullah Hajjar Kunjungi STIU-WM
    – Tutup Daurah Huffazhul Wahyain; 3 (Tiga) Mahasiswa STIU-WM Dapatkan Umroh Gratis

    Terlebih Syaikh menegaskan bahwa lafadz ‘agama’ di ayat lain merujuk secara tepat terhadap agama Islam sebagai nikmat yang sempurna, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Ma’idah:3 :

    اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ

    “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu”

    Maka beragama Islam adalah identitas pertama yang ditengarai Syaikh untuk dimiliki harga dirinya oleh para mahasiswa.

    Identitas kedua yang diingatkan oleh Syaikh agar disadari oleh setiap mahasiswa/i adalah identitas mereka sebagai penunt ilmu.

    Penuntut ilmu dalam agama Islam memiliki derajat yang amat agung! Bahkan karunia yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Dikarenakan rutinitas mereka yang disibukkan oleh pencapaian perkara-perkara akhirat disaat umumnya manusia disibukkan oleh pencapaian perkara-perkara dunia yang bersifat sementara dan akan segera hilang.

    Baca Juga:
    –
    Nasihat Dr. Isa Al-Masmali Di Hadapan Mahasiswa STIU-WM
    – Mukernas III TAUD SaQu 2022 
    – Perdana Dan Istimewa: Wadi Mubarak Mewisuda 363 Penghafal Al-Qur’an

    Dari sini maka terlihat bahwa harga diri seseorang yang mengejar ‘sesuatu yang awet’ pasti berbeda dengan harga diri orang-orang yang disibukkan oleh hal-hal yang ‘cepat rusak’.

    Identitas ketiga pun terus dirunut oleh Syaikh Isa hafizhahullah dengan menyinggung konsentrasi para mahasiswa/i STIU-WM di bidang Al-Qur’an – sebagaimana diketahui bahwa tahfidz Al-Qur’an merupakan basis dan fokus utama pembelajaran kampus STIU-WM.

    Syaikh mengajak para mahasiswa untuk mengingat-ingat siapa diri mereka melalui dialog interaktif.

    Beliau memulai dengan pertanyaan: “Siapakah umat yang terbaik?”

    “Umat nabi Muhammad ﷺ  ”, jawab para mahasiswa sepakat.

    “Apa yang membuat kalian mengklaim hal tersebut?” Tanya beliau kembali.

    “كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ” para  mahasiswa menjawab dengan membacakan awal ayat QS. Ali Imron:110.

    “Tepat! Lalu ketahuilah bahwa  خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ. Sebaik-baik manusia dari kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”

    Dengan menyadarkan para mahasiswa pada 3 (tiga) identitas tersebut; (1) beragama Islam, (2) penuntut ilmu dan (3) disibukkan dengan pembelajaran Al-Qur’an, Syaikh Isa berharap identitas-identitas tersebut dapat menjadi pelecut semangat belajar.

    Bahkan Syaikh tampak menegaskan bahwa tidak pantas bagi pemilik identitas seagung ini untuk bermalas-malasan. Harga diri para mahasiswa harus tinggi dan tidak mudah lemah karena nikmat yang didapat sebagai pemilik identitas teragung.

    Syaikh juga sempat mengatakan bahwa identitas ini tidak banyak disadari oleh mahasiswa/i, “Diantara kita ada yang kemari hanya karena perintah orangtua, dia melakukan hal-hal yang agung dengan sekenanya. Karena sungguh! Dia tidak sadar siapa dirinya! Nikmat apa yang dimilikinya! Betapa berharga ilmu yang dipelajarinya!”.

    Syaikh memperkuat pembahasan ini dengan memotivasi para mahasiswa/i untuk terus mengingat identitas ini dengan mengatakan bahwa: “Jika kamu merasa lelah, letih. Ketahuilah bahwa kalian itu ada di jalannya para nabi. Para nabi tidak mewariskan harta tapi ilmu. Dan ketahuilah di sekitar kalian para manusia sedang sibuk bahkan tidak lelah terhadap hal-hal yang mubah – makan, minum, bersosialisasi bahkan hal-hal yang haram”.

    *Tulisan dirangkum dari Kuliah Umum Syaikh Dr. Isa bin Muhammad bin Isa Al Masmali, Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Ummul Qura Makkah Mukarramah saat kunjungan ke Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak (STIU-WM) Bogor Jawa Barat pada Senin, 22 Agustus 2022
    Dirangkum oleh: Miladatul Amanah dan Inganatu Rahmawati (Mahasiswi semester 6 STIU-WM)
    Editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • Nasihat Dr. Isa Al-Masmali Di Hadapan Mahasiswa STIU-WM

    Nasihat Dr. Isa Al-Masmali Di Hadapan Mahasiswa STIU-WM

    Senin (22/8) Syaikh Dr. Isa bin Muhammad bin Isa Al Masmali, Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Ummul Qura Makkah Mukarramah datang berkunjung ke Islamic Center Wadi Mubarak (ICWM) Megamendung Bogor.

    Kunjungan beliau ke ICWM merupakan kunjungan muhibah untuk yang kesekian kalinya. Bagi para da’i Asia Tenggara, nama beliau tidaklah asing lagi karena beliau tercatat sebagai pembina Rabithah Ulama wa Du’at Janub Syarqi Asia (Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara).

    Kunjungan beliau ke ICWM layaknya kunjungan orangtua kepada anak-anaknya yang sedang menuntut ilmu. Lain dari itu beliau pun pernah mengirim 2 putranya untuk ikut ‘nyantri’ di ICWM.

    Dihadapan para mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak (STIU WM), Syekh Isa memberikan beberapa nasihat. Beberapa nasihat beliau adalah:

    Baca Juga:
    –
     Syaikh Prof. Dr. Thoriq Bin Abdullah Hajjar Kunjungi STIU-WM
    – Tutup Daurah Huffazhul Wahyain; 3 (Tiga) Mahasiswa STIU-WM Dapatkan Umroh Gratis
    – Mukernas III TAUD SaQu 2022 
    – Perdana Dan Istimewa: Wadi Mubarak Mewisuda 363 Penghafal Al-Qur’an

    Bersyukur

    Agar para mahasiswa selalu bersyukur kepada Allah ﷻ atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada mereka karena tidak semua orang dapat mengenyam pendidikan terkhusus pendidikan dalam menghafal Al-Qur’an.

    Ikhlas

    Dalam menuntut ilmu harus dibarengi jiwa ikhlas, yaitu ikhlas karena Allah ﷻ untuk mengangkat kebodohan dari diri sendiri, lingkungan dan umat Islam secara menyeluruh. Tidak terpikat dengan godaan syaitan, riya, sum’ah atau pun ketenaran. Dengan benteng ikhlas itulah syaitan tidak akan bisa menggoda manusia.

    Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ

    Menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai qudwah, yaitu mengikuti apa yang sudah dicontohkan oleh beliau dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya.

    Bersungguh Dalam Beribadah

    Bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah ﷻ dengan cara menuntut ilmu. Karena menuntut ilmu merupakan cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.

    Lain dari itu, beliaupun mengingatkan para mahasiswa untuk tetap menjaga zikir kepada Allah ﷻ, terkhusus zikir setiap pagi sore. Hal ini dikarenakan dengan berzikir akan menguatkan ruh manusia dan zikir adalah santapan ruhani bagi para penuntut ilmu dimana pun berada.

    Tak lupa pula beliau pun berpesan agar para mahasiswa dapat mengambil faedah dari perkataan ulama dan bisa mengambil hikmah kebaikan dari setiap hal yang terjadi.//

    Dirangkum oleh: Ustadz Muhammad Fathurrahman Hamidi
    Foto: Mujiyanto
    Editor: Al.Choer

  • Syaikh Prof. Dr. Thoriq Bin Abdullah Hajjar Kunjungi STIU-WM

    Syaikh Prof. Dr. Thoriq Bin Abdullah Hajjar Kunjungi STIU-WM

    Selepas Salat Maghrib (20/08) di Masjid Jami’ Wadi Mubarak, Bogor. Civitas akademika Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak (STIU-WM) patut bersyukur dengan kehadiran seorang Guru Besar Universitas Islam Madinah Syaikh Prof. Dr. Thoriq Bin Abdullah Hajjar hafizhahullah ta’ala.

    Selain seorang pengajar di Universitas ternama tersebut, beliau merupakan seorang pegiat dakwah yang telah memiliki banyak pengalaman keliling dunia dalam misi dakwah. Selain negara-negara Asia yang sering beliau kunjungi, beberapa negara lainnya pun beliau kunjungi untuk berdakwah, seperti Amerika, Jerman dan lainnya.

    Dalam kesempatan kunjungan kali ini, beliau menyampaikan tentang makna Tauhid, dengan mengangkat tema ”Dimana Allah?”. Beliau menyampaikan, bahwa banyak sekali golongan-golongan yang ingin menyesatkan dan menggiring umat islam kepada pemahaman aqidah yang salah.

    Baca Juga:
    –
    Tutup Daurah Huffazhul Wahyain 3 (Tiga) Mahasiswa STIU-WM Dapatkan Umroh Gratis
    – Mukernas III TAUD SaQu 2022 
    – Perdana Dan Istimewa: Wadi Mubarak Mewisuda 363 Penghafal Al-Qur’an
    – Wisudawan Terbaik Dalam Wisuda Akbar Wadi Mubarak 2022

    Sekularis, liberalis, pluralis, kapitalis, atheis adalah sebagian dari golongan yang memberikan banyak syubuhat hingga sesat dalam pemahaman umat Islam masa kini. Sehingga banyak umat Islam yang salah dalam memahami agamanya.

    Syaikh juga menyampaikan bagaimana pentingnya belajar dan membekali diri dengan ilmu agar tidak mudah terbawa dan terpengaruh oleh pemahaman-pemahaman yang salah tersebut. “Sebagai seorang pemuda maka harus terus banyak belajar dan membekali ilmu. Dan akhlak adalah yang paling utama, karena Rasulullah ﷺ akhlaknya adalah Al-Qur’an”.

    Kajian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Syaikh Thariq dan dilanjutkan dengan shalat Isya berjamaah.

    Ibadurrahman An-Nur, salah satu mahasiswa STIU Wadi Mubarak asal Cirebon Jawa Barat memberikan komentar atas tausiyah beliau: “Senang rasanya dapat mendengarkan banyak pengalaman dan nasihat yang sangat berguna dari Syaikh Thariq”, ucapnya.//

    Berita: Faros Nur Muhammad/UKM Mushaf STIU-WM
    Photo: A. Faeshol
    Editor: Al.Choer

  • Tutup Daurah Huffazhul Wahyain: 3 (Tiga) Mahasiswa STIU-WM Dapatkan Umroh Gratis

    Tutup Daurah Huffazhul Wahyain: 3 (Tiga) Mahasiswa STIU-WM Dapatkan Umroh Gratis

    Daurah Huffazhul Wahyain yang dilaksanakan pada tahun ini adalah daurah pertama yang dilakukan secara onsite (ditempat) setelah 2 tahun lalu dilakukan secara online karena merebaknya Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

    Untuk pertama kali, Daurah Huffazhul Wahyain di Islamic Center Wadi Mubarak (ICWM) Bogor dilaksanakan pada tahun 2016 dengan mendatangkan 80 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Namun untuk pelaksanaan daurah pada tahun 2022 ini hanya dibatasi menjadi 35 orang peserta.

    Daurah Huffazhul Wahyain merupakan progam menghafal Hadist-Hadist Nabi ﷺ  yang diambil dari kitab Al-Jam’u Baina Ash-Shahihaini karangan Al-Hafizh Abu Muhammad Abdul Haq Al-Isybiliy rahimahullahu taa’la. 

    Baca Juga:
    –
    Mukernas III TAUD SaQu 2022 
    – Perdana Dan Istimewa: Wadi Mubarak Mewisuda 363 Penghafal Al-Qur’an
    – Wisudawan Terbaik Dalam Wisuda Akbar Wadi Mubarak 2022

    Kitab ini merupakan kitab yang berisi Hadist-Hadist yang diambil dari kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dirangkum dalam 5 jilid berjumlah total 3574 hadits shohih.

    2 (dua) dari persyaratan untuk mengikuti Daurah yang satu-satunya di Indonesia ini adalah peserta sudah menyelesaikan hafalan 30 Juz Al-Qur’an dibuktikan dengan tes hafalan dan menguasai bahasa Arab secara aktif.

    Daurah yang menggratiskan para pesertanya ini mendapatkan atensi tinggi dari para penuntut ilmu, selain bimbingan menghafal oleh para masyayikh (pengajar) ada reward harian berupa uang riyal yang diberikan kepada peserta terbaik hari itu.

    Reward yang sangat dinantikan para peserta adalah reward di akhir acara yaitu berupa paket Umroh gratis ke tanah suci bagi 2 (dua) peserta terbaik di setiap pelaksanaannya.

    Baca Juga:
    – ICWM Gelar Daurah Huffazh Wahyain
    – Temu Wali Santri Mahabbah Boarding School (MBS)
    – Wujudkan Kota Tahfiz, Wali Kota Padang Kunjungi Islamic Center Wadi Mubarak Bogor

    Setelah hampir sebulan penuh daurah yang dimulai sejak Sabtu (16/7) hingga Kamis (11/8) kemarin akhirnya secara resmi ditutup.

    Didampingi Ustadz Ahmad Jayadi, Lc sebagai ketua Daurah Huffazhul Wahyain Wadi Mubarak, penutupan daurah yang dihadiri oleh para pengurus Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak (STIU WM) dan utusan Yayasan Huffazhul Wahyain, Riyadh – Arab Saudi diantaranya adalah Syeikh Anas Abdul Aziz Assayyari, Syeikh Abdullah Al-Husain dan Syeikh Ibrohim Attamimi diumumkan 3 (tiga) peserta terbaik.

    Ketiga peserta terbaik tersebut masing-masing berhak mendapatkan 1 paket Umrah gratis. Ketiganya merupakan Mahasiswa STIU Wadi Mubarak: Hayyun Bil Haq dan Saiful Bahri (semester 2) dan Sayyid Abdullah (semester 4).//

    Sumber berita: Ahmad Jayadi
    Ditulis oleh: Al.Choer
    Potografi: Doc. Panitia

  • Perdana Dan Istimewa: Wadi Mubarak Mewisuda 363 Penghafal Al-Qur’an

    Perdana Dan Istimewa: Wadi Mubarak Mewisuda 363 Penghafal Al-Qur’an

    Ahad, 7/8/2022 bertempat di Grand Smesco Hills Puncak Bogor, Jawa Barat. Islamic Center Wadi Mubarak (ICWM) menggelar Wisuda Akbar untuk pertama kalinya.

    Seluruh peserta Wisuda Akbar, Tamu Undangan, Wali Santri dan segenap simpatisan yang mencapai 1500 orang turut memadati Hall Grand Smesco Hills Bogor yang terletak di Kampung Cipari Langoan, Cisarua, Bogor. (07/08/2022)

    Saksikan: [LIVE STREAMING] WISUDA AKBAR ISLAMIC CENTER WADI MUBARAK 2022

    Wisuda Akbar kali ini memang sangat istimewa, karena melibatkan peserta wisudawan dari berbagai lembaga Pusat dan Cabang di bawah naungan Islamic Center Wadi Mubarak – ICWM, dari seluruh Indonesia.

    Peserta yang diwisuda dalam acara ini sebanyak 363 wisudawan, meliputi Wisuda Program Sarjana (S-1) Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor (STIU WM): 48 orang. Wisuda Huffazhul Qur’an Al-Karim jenjang SMP, SMU dan Program Kaderisasi Muhaffizh Wadi Mubarak (PKM WM) se-Indonesia: 96 orang. Wisuda Tahfizh Anak Usia Dini Sahabat Qur’an (TAUD SaQu) se-Indonesia: 163 orang dan Wisuda Madrasah Ibtidaiyah Tahfizh Sahabat Qur’an (MIT SaQu) se-Indonesia: 56 orang. 

    Baca Juga: 
    – 12 Mahasiswa STIU-WM Dianugerahi Sanad Qira’ah
    –  Penganugerahan Sanad Qiraah di ICWM

    Turut meramaikan podium Wisuda Akbar juga adalah Peserta Huffazhul Wahyain ke VII. Wahyain merupakan istilah untuk 2 wahyu yaitu Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah ﷺ. Sehingga syarat untuk mengikuti daurah ini adalah harus hafal 30 juz Al-Qur’an dan lancar. Daurah Huffazhul Wahyain kali ini adalah menghafal hadits Bukhari dan Muslim yang diikuti oleh 35 peserta se-Indonesia.

    Dari total 363 wisudawan, terdapat 145 orang yang sudah hafal 30 Juz Al-Qur’an. Sebuah kesyukuran yang mendalam, dimana ICWM menerapkan standar Tahsin dan Tahfizh yang ketat dalam mengantarkan para santri mengkhatamkan 30 Juz hafalan Al-Qur’an. 

    Selanjutnya …
    …Wisudawan Terbaik 2022

    Sumber Berita: Panitia Wisuda Akbar Wadi Mubarak 2022
    Ditulis oleh: Tanti Ummu Fahdlan/Al.Choer/Media Center Wadi Mubarak
    Photografer: Tim IT WM
    Youtube live streaming: Tim IT WM

  • 12 Mahasiswa STIU-WM Dianugerahi Sanad Al-Qur’an

    12 Mahasiswa STIU-WM Dianugerahi Sanad Al-Qur’an

    Untuk kesekian kalinya Sekolah Tingi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak (STIU-WM) bersama dengan Markaz Iqra Wadi Mubarak, salah satu unit kerja di struktur Islamic Center Wadi Mubarak (ICWM) Bogor Jawa Barat memberikan Ijazah Sanad Qiro’ah kepada 12 (dua belas) mahasiswanya.

    Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keinginan STIU-WM untuk terus berkontribusi menjaga keotentikan Al-Qur’an berupa pemberian sanad sebagai bentuk standarisasi bacaan Al Quran sebagai mana bacaan Nabi ﷺ.

    Selain dihadiri oleh beberapa Pengajar dan Masyayikh pembimbing tahfizh yang berada dalam naungan STIU-WM, penganugerahan ini pun secara khusus disaksikan oleh Syaikh Hamid Akram Al-Bukhari, beliau adalah seorang Musnid (orang yang memiliki banyak sanad) dan juga Muqri’ (orang menguasai berbagai qira’at) yang diburu para penuntut ilmu di seantero dunia.

    Kehadiran Syaikh Hamid Akram Al Bukhari walau secara daring dari Madinah Al-Munawwarah ini menambah antusias peserta dalam melafalkan bacaannya.

    Simak Kegiatan [LIVE STREAMING] Khataman Sanad Mahasantri Islamic Center Wadi Mubarak

    Kegiatan penganugerahan sanad yang dibuka sejak pagi hari Jum’at (8/8/22) di Masjid Jami’ Wadi Mubarak ini pun akhir dari kegiatan Sardul Qur’an yang digelar sejak Ahad (31/7) hingga kamis (4/8) dengan memperdengarkan 7 orang mahasiswa untuk membacakan hafalannya dengan sekali duduk. Dalam sehari ada 2 santri yang memperdengarkan hafalan bil ghoib didampingi musyrif (pembimbing) masing-masing.

    Ada beberapa syarat yang harus dilakukan untuk mengambil sanad di lingkungan STIU-WM, yaitu: hafal Al-Qur’an dengan mutqin (kuat); memiliki bacaan Al Quran yang benar sesuai kaidah tajwid; menghafal matan Tuhfatul Athfal dan Jazariyyah beserta syarahnya dan juga menyetorkan hafalan 30 juz kepada pembimbing atau syaikh yang direkomendasikan oleh Markaz Iqra’ Wadi Mubarak.

    12 mahasiswa yang dianugerahkan sanad qira’ah pada kegiatan ini adalah:
    1. Imam Mu’tashim, semester 8 asal Solo
    2. Jahid Aminudin, semester 8 asal Bandung
    3. Irvan Rahmatullah, semester 8 asal Kuningan
    4. Fadel Fahmi Albani, semester 8 asal Pati
    5. Thoriq Mumtaz, semester 8 asal Garut
    6. Muhammad Gemilang Muttaqin, semester 8 asal Depok
    7. Iqbal Syahrul Mubarak, semester 8 asal Ponorogo
    8. Muhammad Hilmi Ulwan, semester 8 asal Jakarta
    9. Muhammad Sholeh, semester 8 asal Polewali Mandar
    10. Ahmad Jundiyan Azhari, semester 8 asal Lombok
    11. Faikar Mujaddid, semester 6 asal Cirebon
    12. Riduan Adhi Chandra, semester 6 asal Palembang

    Baca Juga:
    – Penganugerahan Sanad Qiraah di ICWM
    – ICWM Gelar Daurah Huffazh Wahyain

    – Temu Wali Santri Mahabbah Boarding School (MBS)
    – Wujudkan Kota Tahfiz, Wali Kota Padang Kunjungi Islamic Center Wadi Mubarak Bogor

    Sedangkan ketentuan yang diberlakukan untuk lulus Sardul Qur’an (khataman Al-Qur’an sekali duduk atau satu hari) yakni: melafalkan hafalan Al-Qur’an 30 juz bil ghoib (tanpa melihat Al-Qur’an) dengan minimal dua orang penyimak; kesalahan dalam melafalkan hafalan tersebut tidak lebih dari 30 kesalahan; dimulai dari pagi hari hingga selesai melafalkan seluruh hafalannya, biasanya hingga malam hari.//

    Sumber berita: Markaz Iqra’ Wadi Mubarak/Irsyad Husnul Hidayat
    Ditulis oleh: Al.Choer
    Photografer: Zulfikar Az-Zacky Ula
    YouTube Live Steaming: Tim IT WM

  • 8 (Delapan) Hal Sebelum Menghafal Al-Qur’an

    8 (Delapan) Hal Sebelum Menghafal Al-Qur’an

    Al-Qur’an merupakan kitab suci yang diturunkan Allah ﷻ melalui malaikat Jibril yang kemudian disampaikan olehnya kepada Nabi Muhammad ﷺ di Gua Hira. Al-qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang dijamin keasliannya oleh Sang Pencipta.

    Salah satu cara Allah menjaganya dengan adanya para penghafal Al-Qur’an yang menghafalkannya sesuai dengan apa yang ustad-ustad mereka dapatkan dari guru-gurunya secara mutawatir. Dengan ini maka Al-Qur’an akan tetap terjaga sampai hari dimana Allah ﷻ mengangkat kitab ini ke sisi-Nya.

    Mukjizat di dunia sangatlah banyak namun Al-Qur’an merupakan mukjizat yang paling mulia. Ia adalah satu-satunya kitab suci yang dibaca sebanyak 17 kali dalam sehari. Ia adalah satu-satunya kitab suci yang tetap dibaca walaupun belum tentu dipahami maknanya.

    Keistimewaan Al-Qur’an yang telah banyak dirasakan adalah mudah dalam menghafalkannya. Kemudahan Al-Qur’an ini begitu memesona yang tidak bisa dicerna oleh logika. Mulai dari balita sampai usia senja masih tetap bisa menghafalkannya. Seseorang yang di vonis lumpuh otak pun tetap bisa menghafalkannya.

    Ini bukan soal mereka yang kelihatan sehat, namun soal mereka yang diberi hidayah oleh Allah ﷻ agar bisa ikut serta dalam menjaga keaslian dari Al-Qur’an itu sendiri.

    Baca Juga:
    – Penerimaan Santri Baru Ma’had Tahfizh Al-Arqam, TA 2022-2023
    – ICWM Gelar Daurah Huffazh Wahyain
    – Pembukaan Ujian Tasmi’ Dan Lajnah 30 Juz

    Apabila kita ingin ikut serta dalam menjaga Al-Qur’an maka harus kita perhatikan hal-hal ini sebelum kita menghafalnya. Mari kita cermati hal-hal tersebut:

    1. Ikhlas

    Ikhlas merupakan salah satu hal paling penting yang harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin beribadah kepada Allah ﷻ, khususnya bagi mereka yang ingin ikut serta dalam hal ini. Karena apabila tidak ikhlas dalam hal ini maka kitab suci ini tidak akan mau menempel di ingatan kita.

    2. Serius

    Keseriusan adalah hal yang sangat perlu diperhatikan oleh calon penghafal, karena betapa banyak orang yang ingin menghafal, namun mereka hanya ikut-ikutan temannya yang masuk pondok tahfidz tanpa dia ketahui dahulu hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum masuk ke proses menghafal.

    3. Sabar

    Kesabaran merupakan hal mutlak yang harus dimiliki setiap orang yang ingin menghafalkan Al-Qur’an ataupun mereka yang telah selesai dalam proses menghafal ini. Sifat sabar juga cenderung mendekatkan hamba dengan Allah ﷻ. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Demikian kiranya kedekatan itu dilukiskan dalam al-qur’an.

    4. Yakin

    Keyakinan adalah suatu hal yang sangat penting dalam menghafal Al-Qur’an, karena terkadang ada orang yang baru mulai menghafal dia tidak menanamkan keyakinan dalam dirinya bahwa Allah ﷻ telah menjamin kemudahan dalam menghafal Al-Qur’an. Keyakinan ini harus selalu ditanamkan oleh setiap orang yang akan memulai menghafalkan Al-Qur’an.

    Kemudahan dalam menghafal ini telah Allah ﷻ janjikan dalam firman-Nya sebanyak 4 kali dalam surat al-qamar.

    Baca Juga:
    – Temu Wali Santri Mahabbah Boarding School (MBS)
    – Wujudkan Kota Tahfiz, Wali Kota Padang Kunjungi Islamic Center Wadi Mubarak Bogor
    – Motivasi Satria Antoni PhD dihadapan Civitas Akademika STIU Wadi Mubarak

    5. Menghadirkan Motivasi

    Motivasi dalam menghafal itu sangatlah banyak baik itu dari hadist, perkataan sahabat, tabi’in dan sebagainya. Aktifitas menghafal ini sangatlah unik terkadang ada semangat membara yang hadir di satu ayat, dan terkadang semangat itu menurun ketika ada ayat yang tiba-tiba sulit untuk dihafal.

    Inilah pentingnya menghadirkan motivasi ketika menghafal agar ketika rasa malas itu muncul kita bisa menepisnya dengan motivasi-motivasi yang telah kita siapkan sebelumnya.

    6. Menjadikan Prioritas

    Seseorang yang mempunyai prioritas dalam hidupnya maka dia akan bersemangat dalam menjalankan hal-hal yang dia prioritaskan. Begitupun dalam proses menghafal ini, seseorang yang ingin menghafal harus menjadikan Al-Qur’an menjadi prioritas utamanya di setiap detik yang dia lewati, karena menghafal itu butuh waktu khusus dalam prosesnya.

    Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai prioritas maka seseorang akan selalu ingat bahwa dia punya kewajiban dalam menghafalkannya.

    7. Memilih Guru

    Memilih guru merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan bagi calon penghafal Al-Qur’an. Guru bisa dibilang sebagai bantuan dari luar yang akan selalu membantu kita dalam proses menghafal tersebut. Dia pun akan selalu siap sedia untuk memotivasi ketika kita dalam keadaan malas. Sebagaimana Rasulullah ﷺ yang menjadi pembimbing bagi para sahabatnya dalam hal menghafal.

    8. Istiqamah

    Istiqamah merupakan hal terakhir yang perlu diperhatikan oleh calon penghafal, karena menghafal itu bukan hanya kita hafal kemudian ditinggalkan. Bukan sekedar selesai kemudian diabaikan. Menghafal Al-Qur’an itu harus konsisten, sedikit namun istiqamah itu lebih baik daripada sebaliknya.

    Penulis: Moch. Ilham Ramadhan, Mahasiswa Semester VI STIU-WM
    Editor: Al.Choer

  • Fenomena Malas Shalat di Kalangan Remaja

    Fenomena Malas Shalat di Kalangan Remaja

    Manusia diciptakan dengan memiliki tujuan. Tujuan utama diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Akan tetapi dalam prakteknya, manusia seringkali merasa jenuh, malas dan bosan. Baik dalam ibadah yang sifatnya wajib, apalagi yang sifatnya sunnah.

    Rasa malas dan jenuh ini sudah menjadi fenomena yang sering terjadi di kalangan kaum muslimin. Terlebih lagi di kalangan para remaja. Baik laki-laki maupun perempuan. Diantara ibadah yang sering kali para remaja malas mengerjakannya adalah shalat. Hal ini terjadi karena usia remaja merupakan usia peralihan. Sehingga kebanyakan mereka di usia ini menjadi remaja yang labil.

    Apalagi dengan kedaan zaman yang semakin maju dan perkembangan teknologi yang semakin canggih, bisa menjadikan remaja semakin lalai dari sholatnya. Maka tak jarang kita liat para remaja menunda nunda sholat. Tidak mengerjakannya di awal waktu. Tak jarang diantara mereka yang bahkan tidak melaksanakan sholat.

    Baca Juga:
    – Kesulitan Menghafal Al-Qur’an?
    – Penerimaan Santri Baru Ma’had Tahfizh Al-Arqam TA. 2022-2023
    – Pembukaan Ujian Tasmi’ Dan Lajnah 30 Juz

    Padahal shalat adalah kewajiban utama yang harus dikerjakan seorang muslim. Barangkali ini terjadi karena mereka belum mengetahui tingginya kedudukan shalat di dalam islam. Bahwasanya shalat adalah termasuk tiang agama yang harus ditegakkan. Atau bisa jadi mereka belum mengetahui besarnya keutamaan yang akan diraih oleh orang yang menegakkan shalat.

    Perintah Allah Untuk Menjaga Shalat

    Shalat dalam syariat islam dimaknai sebagai ibadah yang dibuka dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Menurut Prof. Dr. Nasaruddin Umar, ditilik dari fungsinya disebut shalat karena ia merupakan shilah (penghubung) antara seorang hamba dengan Allah. Shalat yang wajib dijaga dan ditegakkan oleh setiap muslim ada lima waktu. Shalat subuh, dzuhur, ashar, maghrib, dan isya. Masing masing memiliki waktu pengerjaannya sendiri. Allah ﷻ dalam Al-Qur’an memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk menjaga ke lima shalat tersebut.

    Firman Allah ﷻ :

    حَٰفِظُوا۟ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلْوُسْطَىٰ وَقُومُوا۟ لِلَّهِ قَٰنِتِينَ

    “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’”.
    (QS al-Baqarah 238)

    Ayat ini menjadi dalil yang kuat wajibnya shalat lima waktu bagi kaum muslimin. Allah ﷻ secara khusus menyebut shalat ashar karena kedudukan dan keutamaannya yang sangat besar.

    Baca Juga:
    – Wujudkan Kota Tahfiz, Wali Kota Padang Kunjungi Islamic Center Wadi Mubarak Bogor
    – Motivasi Satria Antoni PhD dihadapan Civitas Akademika STIU Wadi Mubarak

    Kedudukan Shalat Dalam Islam

    Shalat memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam islam. Bahkan kedudukannya melebihi ibadah-ibadah yang lain. Hal itu karena pentingnya shalat itu sendiri, dimana Allah ﷻ menjadikannya sebagai rukun islam yang kedua. Setelah yang terpenting yakni mengucap dua kalimat syahadat. Adapun kedudukan dan pentingnya shalat dalam islam di antaranya:

    1. Shalat adalah tiang agama

    Setiap yang berpondasi pasti memiliki tiang. Tiang ini diumpamakan seperti pondasi dalam sebuah bangunan. Jika pondasinya rusak maka hancurlah bangunan tersebut. Seperti itulah perumpamaan shalat. Jika shalat dikerjakan dan ditegakkan dengan baik, maka keimanan seorang muslim akan semakin kokoh dan kuat. Dalam sebuah hadis Mu’adz disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ  bersabda : “ Pokok dari segala bentuk ibadah adalah islam; tiangnya adalah shalat; dan amalan yang paling tinggi adalh jihad.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

    2. Shalat amal ibadah yang pertama kali dihisab pada hari kiamat

    Setiap manusia pasti akan menghadapi proses hisab. Amal ibadah yang akan dihisab pertama kali pada hari kiamat nanti adalah shalat. Shalat akan dijadikan tolak ukur bagi amal ibadah lainnya. Maka jika shalatnya baik maka amal ibadah yang lainnya akan ikut baik, begitu pula sebaliknya. Dalam sebuah hadits Anas Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ bersabda: “Amal seseorang yang pertama kali akan dihisab adalah kelak pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka seluruh amal yang lainnya akan ikut baik pula; dan jika shalatnya buruk maka seluruh amal yang lainnya akan ikut buruk pula.” (HR. Abu Hurairah)

    3. Allah memberi pujian kepada orang yang mendirikan shalat

    Sudah hal umum bahwasanya Allah ﷻ suka dan cinta kepada kebaikan. Apalagi mereka yang setia mendirikan shalat. Terlebih lagi mereka yang juga memerintahkan keluarga dan kerabatnya untuk melaksanakan shalat. Maka tak heran jika Allah memberikan pujian kepada hambanya yang rutin mendirikan shalat. Dalam al-Qur’an Allah ﷻ berfirman: “ Ceritakanlah (hai muhammad kepada mereka) kisah Isma’il (yang tersebut) dalam Al- Qur’an. Sesungguhnya ia adalah orang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi. Ia menyuruh keluarganya untuk mengerjakan shalat dan menunaikan zakat; dan ia adalah orang yang diridai di sisi Rabb-Nya.” (QS. Maryam : 54-55).

    4. Shalat termasuk rukum Islam

    Telah dijelaskan sebelumnya bahwasanya shalat adalah rukun Islam kedua setelah syahadat. Maka sudah seharusnya bagi umat islam untuk selalu menunaikannya. Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Umar, dari Rasulullah ﷺ bersabda : “Islam didirikan diatas lima dasar: bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah; mendirikan shalat; menunaikan zakat’ berpuasa pada bulan Ramadhan; dan mengerjakan haji ke Baitullah.” (HR. Muslim)

    Baca Juga:
    – Wisuda Angkatan III Dan Wisuda Tahfizh Mahad Sulthon Al-Islamy
    – Daftar Pondok Cabang Islamic Center Wadi Mubarak

    Keutamaan shalat lima waktu

    Banyak sekali kaum muslimin yang kadang masih lalai dari ibadah shalat. Padahal shalat punya kedudukan yang sangat tinggi dalam islam. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Barangkali mereka lalai karena belum mengetahui besarnya keutamaan yang akan diraih oleh orang yang melaksanakan shalat. Diantara keutamaan shalat adalah:

    1. Shalat adalah sebaik baik amalan setelah syahadat

    Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah ﷺ, amalan apakah yang paling afdhol? Jawab Rasulullahu ﷺ, “Shalat di awal waktu”. Lalu aku bertanya lagi, “Terus apa?”, “Berbakti pada orang tua” Jawab Nabi ﷺ. “Lalu apalagi” aku bertanya kembali. “Jihad di jalan Allah”, jawab beliau. (HR. Bukhari no. 7534 dan Muslim no.85).

    2. Shalat sebagai penggugur dosa

    Dari Abu Hurairah , ia berkata bahwa Rasulullahu ﷺ bersabda, “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu rumah salah seorang diantara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa sedikit pun kotorannya walau sedikit?“ para sahabat menjawab, “Tidak akan tersebut sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa”. (HR. Bukhari no.528 dan Muslim no.667).

    Dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah, Rasulullahu ﷺ bersabda : “Di antara shalat yang lima waktu, di antara jumat yang satu dengan jumat yang lain, di antara Ramadhan yang satu dengan Ramadhan lainnya, itu akan mengahapuskan dosa di antara keduanya selama menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no.233).

    3. Shalat akan menjadi cahaya di dunia dan di akhirat

    Dalam sebuah hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang menjaga shalat lima waktu, baginya cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, bukti, dan juga keselamatan. Pada hari kiamat ia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Kholaf,” (HR. Ahmad 2:169. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

    Sebagaiman telah dijelaskan bahwasanya malas shalat telah menjadi fenomena yang tersebar di kalangan remaja. Sebabnya bermacam macam. Diantaranya minimnya pengetahuan tentang kedudukan dan keutamaan shalat dalam islam. Maka tulisan ini diharapkan bisa menjadi motivasi bagi mereka untuk kembali rajin melaksanakan shalat.

    Penulis: Luthfi Hamzah, Mahasiswa Semester 6 STIU-WM
    Editor: Al.Choer