Kategori: Artikel

  • KAJIAN QUR’ANIC PARENTING ONLINE: Bijak Dalam Mendidik Anak

    🍀 KAJIAN QUR’ANIC PARENTING ONLINE 🍀

    📓 Bijak Dalam Mendidik Anak📓

    Bijak mendidik anak, seperti apa?
    Kira-kira, pertanyaan inilah yang terbersit di dalam benak orangtua, bahkan calon orangtua.

    Anak adalah anugerah terindah yang diberikan Allah dalam sebuah keluarga.
    Kehadiran buah hati menjadi kebahagiaan tersendiri, apalagi jika kelak ia mampu membanggakan orangtua dan berguna bagi orang lain.

    Namun ada tahap yang akan terus dipelajari oleh si kecil agar bisa seperti yang diharapkan orangtua.

    Ingin menjadi orangtua bijak…?

    Ikuti Kajian Parenting Online
    Bersama
    Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I.,
    Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak

    dengan membahas;

    📑 Tema: Bijak Dalam Mendidik Anak
    🗓 Tanggal: Sabtu, 16 Oktober 2021
    📱Waktu: 20.00 WIB – Selesai
    🎥 Live on Youtube Channel Darsuna TV:
    https://youtube.com/c/DarsunaTV

    ➖➖➖➖➖➖
    .
    .
    Mari ajak keluarga, rekan, dan sahabat untuk bersama saling menimba ilmu, meningkatkan kapasitas diri dengan mengikuti majelis ilmu yang bermanfaat ini.

    ➖➖➖➖➖
    Find Us On :
    Instagram;
    •Graha Qur’an : https://instagram.com/grahaquran_wm?utm_medium=copy_link
    •ICWM : https://instagram.com/ic_wadimubarak?igshid=16yvuiperya78
    •Nur Ramadhan : https://instagram.com/nurramadhan_wisata?utm_medium=copy_link
    •Anugerah Wisata : https://instagram.com/acm.anugerahwisata?utm_medium=copy_link
    🔗 Web : https://wadimubarak.com

  • 5 (Lima) Keuntungan Dari Menjaga Kualitas Ibadah

    5 (Lima) Keuntungan Dari Menjaga Kualitas Ibadah

    Salah satu aset terbesar dan termahal yang di miliki oleh orang-orang yang beriman adalah mengenal Allah subhanahu wata’ala. Sekecil apapun, walau berupa lintasan hati, sungguh itu merupakan sebuah keimanan apalagi mengucapkan dengan lisan yaitu memujinya dan beristigfar pada-Nya.

    Oleh karena itu, ciri orang yang telah mengenal Allah dengan sebaik-baiknya adalah dia tidak takut dan sedih dengan urusan duniawi. Kita bisa mengukur sejauh mana kualitas kita mengenal Allah. Salah satu ciri orang yang mengenal Allah adalah selalu menjaga kualitas ibadahnya.

    Orang yang selalu menjaga kualitas ibadahnya adalah dia yang selalu mengingat kewajiban-kewajiban yang telah Allah subhanallahu wa ta’ala perintahkan padanya lalu ia mengerjakannya. Kewajiban utama yang paling penting yaitu adalah Shalat 5 waktu, terkhusus bagi seorang laki-laki yaitu berjama’ah di mesjid dan bagi perempuan yaitu di rumah.

    Baca juga: Informasi Pendaftaran MAHABBAH BOARDING SCHOOL Program Tahfizh Tingkat SMP-SMA Putri

    Shalat merupakan amalan utama yang akan pertama dihisab oleh Allah pada hari kiamat. Orang yang meremehkan shalat maka akan merugikan dirinya di dunia dan di akhirat.

    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

    () فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ () الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ
    “Maka celakalah orang yang shalat. (yaitu) orang yang lalai terhadap Salatnya”
    (QS. Al-Ma’un: 4-5)

    Selama kita menjaga shalat dengan tepat waktu,dan sungguh-sungguh serta ikhlas dalam menjalankannya, Allah akan memberikan pahala kepada kita dan mendapatkan berkah dalam hidup kita.

    Banyak manfaat yang akan didapatkan jika kita selalu menjaga ibadah kita dengan benar. Adapun terjaganya ibadah akan mendatangkan keuntungan hidup yang tidak bisa dibeli dengan kekuasaan, uang, pangkat, jabatan atau popularitas.

    Baca Juga: STIU Wadi Mubarak Gelar Seminar Tafsir Hermeneutika

    Apa saja keuntungannya ketika seseorang selalu menjada ibadahnya dengan benar?

    1. Allah berikan petunjuk yang benar untuk menuntun kehidupannya.

    Tuntunan hidup kepada jalan kebenaran, tidak serta merta hadir bagi orang yang bermalas-malasan. Oleh karenanya, setiap muslim hendaknya selalu mengusahakan meniti jalan kebenaran melalui ikhtiar menyempurnakan ibadahnya.

    2. Allah berikan kemudahan dalam setiap urusannya.

    Allah akan senantiasa memberikan kemudahan kepada hambaNya, selama hambanya selalu berhusnudzan kepadaNya.

    3. Allah akan memberikan ketenangan dalam hidupnya.

    Tenang itu mahal harganya. Ketenanggan tidak bisa dibeli dengan uang. Apapun yang kita miliki, tidak akan pernah kita nikmati bila kita selalu resah dan gelisah.

    Baca juga: Pemuda, Isilah Waktumu Dengan Keilmuan Dan Ketakwaan

    4. Mendapat perlindungan dari maksiat.

    Bagi muslim yang mukmin, setiap kali ia akan melakukan maksiat, maka Allah akan memberikan peringatan padanya agar ia tidak terjerumus dalam kemaksiatan. Demikian karena seorang ahli ibadah akan senantiasa bertaubat.

    5. Seorang ahli ibadah akan memiliki kekuatan ruhiyah dalam dirinya.

    Bukanlah suatu keanehan, ketika kita melihat para ahli ibadah, maka selalu  memancarkan cahaya kewibaan  dari dirinya. Tutur katanya penuh hikmah dan tindakannya selalu tepat dalam mengambil keputsan.

    Saudaraku, oleh karena itu,  mari kita senantiasa menjaga kualitas ibadah kita, menjaga shalat kita, meningkatkan puasa kita, menjaga perbuatan kita dari kemaksiatan dan menjaga keikhlasan kita untuk beribadah kepadaNya.

    Wallahu a’lam

    Penulis: Hafidz Nz – Mahasiswa STIU
    Editor: Tanti Ummu Fahdlan

  • Ngaji Qur’an Online

    📚 Ngaji Qur’an Online Bersama Islamic Center Wadi Mubarak 📚
    Terbuka Untuk Ikhwan & Akhwat

    Mari awali kegiatan di hari Jum’at yang penuh dengan keberkahan dengan hadir ke majelis ilmu, dengan membahas

    📋 Kitab Matan Tuhfatul Athfal 📋

    Disertai bimbingan tahsin Al-Qur’an secara online dengan dibimbing langsung oleh:

    Ustadz Miftahul Arifin, Lc
    (Dewan Penasehat Markaz Iqra’ Wadi Mubarak & Penulis Syarah Matan Tuhfatul Athfal dan Syarah Muqaddimah Jazariyyah)

    🗓️ Hari/Tanggal: Jum’at, 10 September 2021
    ⏰ Waktu: 05.30 WIB – Selesai
    🎥 Live on Youtube: Islamic Center Wadi Mubarak
    https://youtube.com/c/ISLAMICCENTERWADIMUBARAKOFFICIAL

    Ayooo ajak sanak saudara, rekan, dan sahabat untuk bersama saling menimba ilmu, meningkatkan kapasitas diri dengan mengikuti majelis ilmu yang bermanfaat ini.


    Find Us On :
    🔗 Instagram
    •Bimbel SaQu : https://instagram.com/bimbelsaqu_wm?igshid=1byytnk9u70bs
    •ICWM : https://instagram.com/ic_wadimubarak?igshid=16yvuiperya78
    •Nur Ramadhan : https://instagram.com/nurramadhan_wisata?utm_medium=copy_link
    •Anugerah Wisata : https://instagram.com/acm.anugerahwisata?utm_medium=copy_link
    🔗 Web : https://wadimubarak.com

  • 8 (Delapan) Tanggung Jawab Orang Tua Yang Harus Diketahui – 2

    Keempat: Tanggung jawab mengajarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi anak. Dan ini adalah salah satu dari lima tujuan Syariat Islam yaitu “حفظ العقل “ (menjaga akal) dan Islam menganjurkan menuntut ilmu secara umum, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah subhanallahu wa ta’ala:

    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ  خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ  اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ  عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
    “Baca dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahui” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)

    Lain dari itu pun, seorang bapak harus mendidik dan mengajari anak tentang pemikiran Islam yang beredar dan diberitahukan juga tentang segala sesuatu yang baru di bidang ini dan tentunya sesuai dengan tahap perkembangannya.

    Tradisi Islam yang sesuai sunnah tentunya mempengaruhi perilaku dan hubungan mereka dengan orang tua, saudara serta orang lain. Anak juga harus diberi peringatan mengenai adanya pemikiran-pemikiran yang dapat merusak dan menjauhkan mereka dari nilai-nilai moral keislaman.

    Baca Juga: Rumah Seperti Surga, Bag-1

    Kelima: Tanggung jawab menafkahi anak secukup kebutuhannya secara halal, tidak boros namun juga tidak pelit.

    Firman Allah subhanallahu wa ta’ala:

    قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ
    “Katakanlah: Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat…” (Al-Baqarah: 215).

    Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu tentang pengaduan Hindun kepada beliau mengenai kekikiran suaminya, Abu Sufyan:

    خُذِي ما يكفيكِ وبَنِيكِ بالمعروفِ
    “Ambillah olehmu apa yang cukup bagimu dan anak-anakmu secara wajar” (HR. Bukhori)

    Keenam: Tanggung jawab mendidik anak dalam hal kehidupan, serta memberikan kepada mereka pengalaman-pengalaman baru untuk menjalani hidupnya kelak.

    Karena tidak semua hal yang dapat ditemukan dalam buku pelajaran namun didapat dari pengalaman yang biasanya diturunkan dari generasi-generasi sebelumnya.

    Seperti mengajak para anak untuk ikut terlibat dalam hal memecahkan suatu masalah (problem solving) sesuai usia mereka. Hal ini akan meningkatkan daya pikir dan keterampilan kognitif terhadap suatu masalah.

    Baca Juga: 5 Alasan Penting Pendidikan Al-Qur’an Sejak Usia Dini

    Ketujuh: Tanggung jawab mendidik anak untuk ikut terjun berdakwah. Baik berdakwah bil hikmah yaitu menyampaikan dakwah dengan cara yang arif bijaksana maupun berdakwah dengan cara mau’izhoh hasanah yaitu memberikan pelajaran/nasihat yang baik.

    Banyak cara untuk mendidik anak agar suka berdakwah, salah satunya ketika anak masih usia remaja, diikutsertakan dalam pertemuan-pertemuan keagamaan. Sehingga anak tersebut dibesarkan dalam lingkungan dan pemahaman Islam yang benar.

    Kedelapan: Tanggungjawab membesarkan anak agar menjadi orang yang bebas, tidak hanya menjadi anak yang berlindung di bawah ketiak orang tuanya.

    Maka orang tua harus bisa menjaga perasaan dan martabat anak. Tidak ringan tangan, tidak mempermalukan dan tidak menekani anak. Karena perbuatan-perbuatan itu hanya akan melahirkan anak untuk menjadi pengecut dan penakut. Selain itu juga dapat merampas hak kebebasan anak yang akan melemahkan kepribadian anak.

    Simak dan Ikuti: Pendaftaran Grup Whatsapp Quranic Parenting

    Jika ayah memenuhi tanggung jawab ini, dan ibu memenuhi tanggung jawabnya – seperti yang disebutkan di atas – maka akan ada anak yang saleh, bebas dengan kepribadian yang kuat yang dapat melakukan tugasnya terhadap agamanya, maupun terhadap urusan duniawinya. Baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Dan yang terpenting adalah ia akan tumbuh menjadi dirinya sendiri di masa depan.

    Anak yang dibesarkan dalam didikan secara Islami di bawah asuhan orang tua, dalam hal nilai-nilai keimanan, akhlak yang luhur, perilaku yang baik dan secara alami akan melahirkan anak yang berhasil dalam semua aspek kehidupan. Insyaallah..

    Ditulis oleh Abu Samudera
    Editor: Al.Choer

    Referensi: https://fiqh.islamonline.net/واجبات-الآباء-نحو-الأبناء/

    Sebelumnya 8 (Delapan) Tanggung Jawab Orang Tua Yang Harus Diketahui – 1

  • 8 (Delapan) Tanggung Jawab Orang Tua Yang Harus Diketahui – 1

    Allah subhanallahu wa ta’ala telah membebankan hak anak kepada kedua orangtuanya, terkhusus kepada bapaknya.

    Diantara hak anak yaitu mendapatkan pendidikan Islam yang baik. Hal ini untuk mewujudkan generasi baru dalam memakmurkan bumi serta dan untuk beribadah kepada Allah semata.

    Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat hari kiamat kelak akan membanggakan keadaan umatnya di hadapan umat Nabi lainnya tidak hanya dari kuantitas umat Islam namun kualitas umat pun lebih unggul dari umat lainnya.

    Oleh karena itu, salah satu kewajiban seorang bapak adalah mengasuh anak untuk menegakkan agama agar Allah mempertemukan mereka di hari kiamat kelak.

    Firman Allah subhanallahu wa ta’ala:

    وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
    “Dan orang-orang yang beriman dan anak-anak mereka mengikuti mereka dalam iman, Kami akan menggabungkan anak-anak mereka dengan mereka..” (At-Thur; 21) 

    Baca Juga: Menjadi Pendidik Yang Positif

    Sebagai seorang kepala keluarga, seorang laki-laki juga harus mampu menyelamatkan istri dan anak-anaknya dari api neraka. Bukan hanya dirinya sendiri yang terselamatkan. Firman Allah subhanallahu wa ta’ala:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
    “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..” (At-Tahrim; 6)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan tentang tanggung jawab seorang kepala keluarga dalam hadits yang dibawakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu :

    إنَّ اللَّهَ سائلٌ كلَّ راعٍ عمَّا استرعاهُ أحفِظَ ذلِكَ أم ضيَّعَ حتَّى يسألَ الرَّجلَ على أَهْلِ بيتِهِ
    “Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap penggembala tentang apa yang sudah dipercayakan kepadanya, apakah dia menjaganya atau menghilangkannya? Hingga seorang laki-laki pun akan ditanya tentang isi rumahnya.” (HR. An-Nasa’i dan Ibn Hibban)

    Simak dan Ikuti: Kajian Online: Tujuan Utama Qur’anic Parenting

    Apa Saja Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Anak?

    Pertama: Tanggung jawab membesarkan anak-anak dalam Tauhid kepada Allah subhanallahu wa ta’ala dan cinta kepada-Nya serta cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Hal ini sebagaimana perkataan Lukman Al-Hakim kepada anaknya yang tertera dalam Al-Qur’an:

    وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
    “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar“. (Luqman: 13)

    Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

    ما مِن مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ علَى الفِطْرَةِ
    “Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah)” (Muttafaqun ‘Alaihi)

    Kedua: Tanggung jawab mendidik anak dalam ibadah wajib sejak dini, seperti shalat, puasa, zakat, dan sedekah.

    Inilah yang disebutkan dalam perintah Luqman kepada putranya ketika dia berkata kepadanya:

    يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
    “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. Luqman: 17)

    Hal ini menuntut ayah, khususnya, untuk mengajar dan melatih anak-anaknya shalat, puasa, menemani mereka ke masjid, dan untuk mengatur program pembelajaran praktis bagi mereka. Dalam hal ini bisa dibantu oleh ibu dan saudara laki-laki lainnya di rumah.

    Ketiga: Tanggung jawab memberikan keteladanan.

    Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Jabir bin Samroh radhiyallahu ‘anhu :

    لأن يؤدِّب الرجلُ ولدَه خيرٌ من أن يتصدَّق بصاعٍ
    “Bagi seorang pria mendisiplinkan anaknya lebih baik daripada bersedekah dengan satu sha’ ” (HR. At-Tirmidzi, Hadits ghorib dan Albani menghukuminya Dho’if)

    Hal ini menunjukkan bahwa seorang ayah dituntut untuk memberikan contoh yang baik dalam akhlak dan perilaku sehari-hari kepada anak-anaknya.

    (Bersambung Bagian 2)

    Ditulis oleh Abu Samudera
    Editor: Al.Choer

  • Bercanda Tapi Bohong. Hati-Hati!

    Bercanda Tapi Bohong. Hati-Hati!

    Senda gurau saat berinteraksi dengan kawan sejawat diperbolehkan dalam Islam, begitu pula dengan bercanda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tauladan bagi seluruh umat manusia pun sesekali bercanda dengan para sahabat, bahkan kepada istri-istri beliau pun tetap bercanda.

    Banyak manfaat dari bercanda. Selain menambah keakraban kepada sesama sejawat, bercanda pun dapat menyehatkan tubuh serta pikiran.

    Bercanda yang menimbulkan tawa akan menggerakkan otot-otot wajah, sehingga menyegarkan pikiran dan dapat menghilangkan depresi atau stress. Walaupun guyonan tersebut hanya sebatas mengakibatkan senyum dari yang mendengarnya tentu itu sangat bermanfaat untuk menambah kebahagiaan suasana hati.

    Tentu candaan atau pun guyonan tersebut sebatas candaan dan guyonan positif, tidak mengandung ketersinggungan orang lain hingga sakit hati mendengarnya atau menimbulkan bahaya.

    Baca Juga: Keluhuran Akhlak Rasulullah ﷺ 

    Bagaimana jika candaan atau guyonan tersebut mengandung kebohongan?

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan keras bagi seseorang yang berguyonan namun mengandung kebohongan. Diberitakan oleh Bahz bin Hakim, telah menceritakan kepadaku Ayahku dari kakekku, ia berkata: ” Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

     وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ

    “Celakalah orang yang berbicara kemudian berbohong agar orang lain mentertawakannya, celakalah dia, celakalah dia.”
    (HR. Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi)

    Selain banyaknya hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang seseorang untuk berbohong, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mensifati orang yang berbohong itu termasuk ke dalam golongan orang munafik.

    Bohong dalam rangka apapun akan melahirkan kebohongan lainnya. Sehingga disebutkan dalam pepatah “Bohong adalah pangkal dari dosa”.

    Baca Juga: Nongkrong Di Pinggir Jalan? Ingat 4 (Empat) Hal Ini

    Begitu besar bahaya bohong dalam Islam sehingga Allah subhanallahu wa ta’ala memasukkan orang yang suka berbohong ke dalam salah satu sifat orang tidak beriman.

    إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

    “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta”
    (QS. An-Nahl: 105).

    Maka untuk menjadi seorang mukmin yang sempurna, hendaklah tinggalkan kebohongan dalam bercanda meski sekecil apapun itu. Jika tidak ingin berkata namun ada unsur bohong maka diam adalah lebih baik baginya.

    Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

    لَا يُؤْمِنُ الْعَبْدُ الْإِيمَانَ كُلَّهُ حَتَّى يَتْرُكَ الْكَذِبَ فِي الْمُزَاحِ وَالْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ صَادِقًا  

    “Seorang hamba tidak beriman dengan sempurna, hingga ia meninggalkan berkata bohong saat bercanda dan meninggalkan debat walau ia benar.”
    (HR. Ahmad)

    Wallahu a’lam

    Penulis: Abu Samudera
    Editor: Al.Choer

  • Pemuda, Isilah Waktumu Dengan Keilmuan Dan Ketakwaan

    Pemuda, Isilah Waktumu Dengan Keilmuan Dan Ketakwaan

    Kita sering mendengar kalimat “pemuda adalah harapan agama, pemuda adalah harapan bangsa, dan pemuda adalah harapan masyarakat di masa depan.” Dan tak pernah kita dengar kalimat-kalimat heroik penuh harapan itu dinisbahkan kepada orang yang sudah tua.

    Pemuda merupakan bentuk miniatur dari pada kehidupan bangsa. Akan bagaimana kehidupan suatu bangsa di 10 atau 20 tahun kedepan tergantung dari keadaan pemudanya sekarang ini. Bahkan dari segi agama pun, akan bagaimana warna keberagamaan Islam di Indonesia ini 10 atau 20 tahun ke depan, jawabannya terletak pada pemuda sekarang.

    Baca Juga: Nongkrong Di Pinggir Jalan? Ingat 4 (Empat) Hal Ini

    Ali bin Abi thalib radhiallahu ‘anhu pernah berpesan kepada para segenap para pemuda:

    ‘’Wahai pemuda ketahuilah oleh kamu sekalian, sesungguhnya hidup seorang pemuda itu ‘Demi Allah’ harus diisi dengan Ilmu dan Taqwa. Jika dua perkara ini tidak ada dalam diri pemuda, ilmu tidak ada atau taqwa tidak ada, maka tidak ada artinya dari pada kehidupannya.

    Ketika seorang pemuda mencari ilmu di masa mudanya dengan sungguh-sungguh, maka dia akan mendapatkan keberuntungan di hari tua. Sebaliknya jika seorang pemuda tidak memanfaatkan masa mudanya dengan menuntut ilmu apalagi ilmu Agama, maka di hari tua dia akan terlunta-lunta dan di akhirat tinggal penyesalan.

    Masa muda merupakan masa yang kuat, terkumpul padanya kekuatan fisik baik ketampanan atau kecantikan serta kekuatan pikiran untuk berpikir maupun menghafal. Kalau semua itu tidak dibarengi dengan ketaqwaan, maka para pemuda bisa terjerumus kepada perbuatan yang di haramkan oleh Allah Ta’ala.

    Allah subhanahu wa ta’ala telah menjamin perlindungan pada hari dimana ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungannya. Salah satunya yaitu pemuda yang tumbuh dalam Ibadah kepada Allah.

    Baca Juga: 5 Alasan Penting Pendidikan Al-Qur’an Sejak Usia Dini

    Di zaman sekarang kemaksiatan dan kemunkaran kebanyakan diisi oleh generasi muda atau deretan usia muda. Banyaknya kasus minuman keras, narkoba, perbuatan asusila hingga kecanduan pornografi, jika kita lihat dari data atau realita maka mereka yang terjerumus pada hal-hal negatif tersebut paling banyak pada usia muda. Sungguh merupakan ironi bagi bangsa ini.

    Namun jika pemuda-pemuda dididik dengan benar yaitu dididik dengan ajaran Agama dan Budaya yang tidak bertentangan dengan Syari’at. Maka pemuda akan memiliki pegangan yang kuat dalam berkehidupan. Ini merupakan amanah dan tugas, khususnya orang tua dan umumnya masyarakat agar mengarahkan para pemuda ke jalan yang benar.

    Maka dari itu, tugas seorang pemuda adalah memanfaatkan waktu dengan ilmu dan taqwa. Isilah waktu muda dengan baik. Sebagaimana pepatah mengatakan’’ Waktu itu bagaikan pedang. Kalau anda tidak potong waktu itu, andalah yang akan dipotong dengan waktu.”

    Artinya mumpung kita masih muda, mari kita manfaatkan waktu untuk menghafal Al-Qur’an, menghafal Hadist, belajar Fiqih dan Aqidah kepada para Ulama-Ulama kita.

    Penulis: Hafizh Nz
    Editor: Al.Choer

  • Nongkrong Di Pinggir Jalan? Ingat 4 (Empat) Hal Ini!

    Nongkrong Di Pinggir Jalan? Ingat 4 (Empat) Hal Ini!

    Duduk-duduk di pinggir jalan pastinya sangat mengasikkan bagi sebagian orang. Melihat lalu lalang orang atau pun kendaraan bisa menyegarkan mata.

    Tapi tahukah Pembaca, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam melarang duduk-duduk di pinggir jalan, kecuali beberapa sebab sehingga perbuatan itu diperbolehkan.

    Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang dibawakan oleh Abu Sa’id Al-Khudry radhiallahu ‘anhu:

    إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! مَا لَنَا بُدٌّ مِنْ مَجَالِسِنَا; نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ: فَأَمَّا إِذَا أَبَيْتُمْ فَأَعْطُوا اَلطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا: وَمَا حَقُّهُ؟ قَالَ: غَضُّ اَلْبَصَرِ وَكَفُّ اَلْأَذَى وَرَدُّ اَلسَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ اَلْمُنْكَرِ
    “Jauhkanlah dirimu untuk suka duduk di jalan-jalan.” Mereka berkata: Wahai Rasulullah itu hanyalah bagian dari tempat duduk kami di mana kami biasa berbincang-bincang di sana. Beliau menjawab: “Jika kalian menolak (nasehat ini) maka berilah jalan kepada haknya.” Mereka bertanya: Apakah haknya؟. Beliau bersabda: “Menundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemungkaran.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

    Baca Juga: Malu Perisai Iman

    Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa pada awalnya Rasulullah saw melarang duduk-duduk di pinggir jalan. Namun para sahabat yang terbiasa melakukan itu memberi jawaban dan alasan kepada beliau bahwa mereka hanya berbincang-bincang saja. Sehingga beliau pun membolehkan dengan syarat memberikan hak orang lain yang lewat di jalan itu.

    Kewajiban orang yang sedang nongkrong di pinggir jalan menurut hadits di atas adalah:

    1. Menundukkan pandangan

    Firman Allah subhanallahu wa ta’ala:

    قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
    Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.
    (QS. An-Nur; 30)

    Mereka yang nongkrong di pinggir jalan wajib menundukkan pandangannya kepada orang yang lewat. Yaitu tidak memandangi orang yang lewat di jalan itu. Terkhusus adalah bagi para wanita yang tentunya sangat membuat tidak nyaman bagi mereka jika ada yang memandanginya.

    Selain itu, menundukkan pandangan pun akan menjaga hati orang tersebut dari fitnah yang lewat di dekatnya. Seperti kita ketahui, dijaman sekarang tak sedikit wanita keluar rumah dengan mengumbar aurat, atau ada pula yang tertutup tetapi pada hakekatnya adalah telanjang.

    Baca Juga: Keluhuran Akhlak Rasulullah ﷺ 

    2. Tidak mengganggu

    Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam :

    الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
    “Seorang muslim (yang sejati) adalah orang yang mana kaum muslimin lainnya selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya.”
    (Muttafaqun ‘Alaihi)

    Jika dengan memandangnya saja dapat mengganggu seseorang, bagaimana dengan gangguan lainnya? Baik gangguan dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Ini tentu lebih besar dosanya dibanding hanya memandangi.

    3. Menjawab salam

    Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam :

    يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي وَالْمَاشِي عَلَى الْقَاعِدِ وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ
    “Hendaknya orang yang berkendara memberi salam kepada yang berjalan, dan yang berjalan memberi salam kepada yang duduk dan (rombongan) yang sedikit kepada (rombongan) yang banyak.”
    (Muttafaqun ‘Alaihi)

    Kewajiban lainnya adalah menjawab salam ketika orang yang lewat itu mengucapkan salam.

    Baca Pelajaran ke-17 Madrasah Online: Hukum Seputar Mandi Wajib – Sebab, Syarat Dan Rukunnya

    4. Menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemungkaran

    Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, disampaikan oleh Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu :

    مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
    “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” 
    (HR. Muslim; 70)

    Sebab duduk-duduk di pinggir jalan itulah ia dapat melihat dan mengetahui sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Beragam orang akan melewatinya dan tak jarang terjadi kemunkaran. Maka kewajiban ia adalah melarang kemungkaran itu.

    Wallahu a’lam

    Penulis: Abu Samudera
    Editor: Al.Choer

  • Malu Perisai Iman

    Malu Perisai Iman

    Salah satu bagian dari keimanan seseorang adalah memiliki rasa malu. Dengan adanya rasa malu, orang yang beriman akan memikirkan terlebih dahulu segala tindakannya. Hal ini tentu berbalik dengan orang tak memiliki rasa malu. Hingga dapat dikatakan tak ada keimanan dalam diri orang tersebut.

    Sebagai fitrah manusia, rasa malu harus menjadi pakaian keseharian setiap orang. Dari adanya rasa malu itulah seseorang akan menahan diri dari perbuatan tercela dan perbuatan buruk. Yang jika sudah hilang rasa malu maka ia akan berbuat sesuka hati.

    Rasulullah ﷺ bersabda, sebagimana telah disampaikan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

    مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
    “Sesungguhnya yang diperoleh manusia dari ucapan kenabian yang pertama adalah jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.”
    (HR Bukhari; 5655)

    Baca Juga: Keluhuran Akhlak Rasulullah ﷺ 

    Dari hadits di atas dapat dipahami bahwa jika kamu tidak memiliki rasa malu terhadap celaan orang lain dari apa yang kamu kerjakan maka kerjakan saja semaumu.

    Maksud hadits ini adalah ancaman bagi orang yang tidak memiliki rasa malu sehingga ia melakukan perbuatan tercela sesukanya, dengan ancaman pembalasan yang akan menderanya di akhirat.

    Baca Pelajaran ke-17 Madrasah Online: Hukum Seputar Mandi Wajib – Sebab, Syarat Dan Rukunnya

    Betapa pentingnya kedudukan rasa malu sehingga Rasulullah ﷺ  mendudukannya dalam akhlak Islam dan barometer keimanan seseorang. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :

    الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ
    “Malu itu adalah sebagian dari iman.”
    (HR. Muslim; 52, Tirmidzi; 2540)

    Maka untuk menumbuhkan perisai iman ini, seseorang haruslah banyak merenungi segala nikmat yang telah Allah limpahkan kepadanya. Disamping itu pula, ia harus sadar bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah swt, dicatat segala perbuatannya dan akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak.

    “Sifat malu itu tidak datang kecuali dengan kebaikan.”
    (HR Bukhari; 5652, Muslim; 53)

    Wallahu a’lam

    Penulis: Abu Samudera
    Editor: Al.Choer

  • Keluhuran Akhlak Rasulullah ﷺ 

    Keluhuran Akhlak Rasulullah ﷺ 

    Nabi Muhammad ﷺ adalah Nabi terakhir yang diutus untuk umat manusia. Sebagai Nabi pamungkas – penutup para nabi dan rasul – tentu memiliki kesempurnaan, baik kesempurnaan risalah yang dibawa maupun kesempurnaan akhlak sebagai pribadi di tengah keluarga maupun masyarakat.

    Banyak sekali akhlak yang patut kita tiru dari perbuatan Rasulullah ﷺ yang semasa hidup telah beliau contohkan kepada para sahabat. Maka tak bisa dipungkiri bahwa beliau adalah teladan bagi umatnya. 

    Perlakuan beliau kepada Fatimah ra sebagai anak, terekam jelas oleh istri beliau ‘Aisyah ra: “Jika Fatimah datang menemui beliau, maka beliau berdiri, meraih tangannya, mencium dan mendudukkannya di tempat duduknya. Dan jika beliau datang menemuinya, maka ia akan meraih tangan beliau, mencium dan mendudukkannya di tempat duduknya.” (HR Abu Daud; 4540)

    Dari sini dapat dilihat bagaimana Rasulullah ﷺ sangat menyayangi dan memberikan kehormatan sekalipun kepada anak. Tak malu untuk berdiri, mencium tangan dan kening lalu memberikan tempat duduk beliau kepada Fatimah ra.

    Baca Juga: Rumah Seperti Surga (1)

    Perlakuan tersebut merupakan salah satu bukti nyata dari sabda beliau yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah dan Ibnu Abbas ra:

    خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
    “Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.”
    (HR Tirmidzi; 3830 dan Ibn Majah; 1967)

    Khusus kepada para istri, sabda Rasulullah ﷺ dari Abi Hurairah ra:

    أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا 
    “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap para istrinya.“
    (HR. Tirmidzi; 1082)

    Rasulullah ﷺ pun berpesan kepada para sahabat dan diteruskan kepada para pengikutnya saat haji wada’ dari Amr bin Al Ahwash: “Ketahuilah; hak istri kalian atas kalian ialah kalian berbuat baik kepada mereka dalam (memberikan) pakaian dan makanan (kepada) mereka.”
    (HR. Tirmidzi; 1083)

    Baca Juga: 5 Alasan Penting Pendidikan Al-Qur’an Sejak Usia Dini

    Dalam Shohih Bukhori disebutkan pertanyaan Al-Aswad kepada ‘Aisyah ra: “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah tentang apa yang dikerjakan Nabi ﷺ ketika berada di rumah. Maka ‘Aisyah pun menjawab, “Beliau selalu membantu keluarganya, jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakannya.”
    (HR. Bukhori; 635)

    Riwayat lain dari Imam Ahmad: “Dari ‘Aisyah ra, ia pernah ditanya mengenai apa yang diperbuat oleh Nabi ﷺ ketika di rumahnya. Ia menjawab; “Beliau menjahit bajunya, mengesol sandalnya, dan beliau melakukan sebagaimana yang dilakukan para lelaki di rumah mereka.” (HR. Ahmad; 25039)

    Hadits ini menjadi petunjuk bahwa dalam keseharian di rumah pun, Rasulullah ﷺ tetap membantu pekerjaan istri dan dari perilaku beliau terhadap para istri dan anak maka tercipta keharmonisan rumah tangga. Perilaku beliau tidak hanya nampak di luar rumah saat bermasyarakat tetapi dalam rumah tangga pun sangat terpuji.

    Sedangkan kepada pembantu pun Rasulullah ﷺ tetap menjaga sangat menjaga diri dari menyakiti perasaannya, sebagaimana telah diberitakan oleh Anas bin Malik ra selaku pelayan di rumah Rasulullah ﷺ : “Aku menjadi pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Demi Allah, selama itu beliau tidak pernah berkata “Uff’ (Hus) kepadaku, dan tidak pernah membentakku dengan perkataan: “Hai, kenapa engkau perbuat begitu!” (HR. Bukhori; 5578: Muslim; 4269)

    Demikianlah akhlak Rasulullah ﷺ baik dalam rumah tangga maupun di masyarakat. Tak ada kekurangan dan aib beliau dalam berprilaku sebagaimana orang biasa. Maka bahwa beliau adalah benar-benar suritauladan bagi seluruh ummat.

    Maha Benar Allah ﷻ dalam firmanNya:

    وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
    “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang baik.”
    (QS Al-Qalam: 4)

    Penulis: Abu Samudera
    Editor: Al.Choer