Kategori: Artikel

  • KAJIAN QUR’ANIC PARENTING: Menyikapi Anak Yang Banyak Bertanya

    KAJIAN QUR’ANIC PARENTING: Menyikapi Anak Yang Banyak Bertanya

    🛑 KAJIAN ONLINE 🛑

    🛑QUR’ANIC PARENTING 🛑

    Menyikapi Anak Yang Banyak Bertanya
    https://youtu.be/Oyk8xeeQNyM

    Hadirnya Buah Hati adalah suatu kebahagiaan yang besar bagi semua orang, jiwanya yang masih suci dan kepolosannya membuat sejuk orang-orang yang memandanginya.

    Tidak jarang Si Buah Hati menanyakan semua hal, bahkan hal-hal yang kritis “Ibu.. siapa yang menciptakan Allah??.. Ibu.. bagaimana aku dilahirkan kemuka bumi??”,

    Bagaimana cara menyikapinya?

    Bagaimana cara menjawabnya?

    Yuk Ikuti Kajian Parenting Online

    Bersama

    Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I.,

    Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak

    📑 Tema: Menyikapi Anak Yang Banyak Bertanya
    🗓 Tanggal: Sabtu, 18 Desember 2021
    📱Waktu: 19.45 WIB – Selesai
    🎥 Live on Youtube Channel Darsuna TV:
    https://youtube.com/c/DarsunaTV

    ➖➖➖➖➖➖

    ✒ Mari ajak keluarga, rekan, dan sahabat bersama-sama menimba ilmu, meningkatkan kapasitas diri dengan mengikuti majelis ilmu yang bermanfaat ini.
    .
    .
    .
    Find Us On:

    •Instagram Graha Qur’an : https://instagram.com/grahaquran_wm?utm_medium=copy_link
    •ICWM : https://instagram.com/ic_wadimubarak?igshid=16yvuiperya78
    •Nur Ramadhan: https://instagram.com/nurramadhan_wisata?utm_medium=copy_link
    •Anugrah Wisata: https://instagram.com/acm.anugerahwisata?utm_medium=copy_link
    🔗 Web : https://wadimubarak.com

  • Hadiah ‘Nafas Qur’ani’ untuk Si Buah Hati

    Hadiah ‘Nafas Qur’ani’ untuk Si Buah Hati

    Kerusakan akhlak merupakan salah satu hal yang dituding oleh Syakib Arslan, salah seorang pemikir besar abad ke-20, sebagai faktor penyebab kemunduran umat Islam pada era ini.

    Dalam bukunya Li Madza Ta’akhkhar al-Muslimun, ahli sejarah kelahiran Lebanon ini menyebutkan bahwa hilangnya nilai-nilai luhur yang diajarkan Al-Qur’an membawa efek dekadensi moral para pemimpin. Ketiadaan political will para negarawan untuk mengemban amanah umat melarutkan nilai agama dalam kepentingan-kepentingan nafsu duniawi, menyebabkan agama terpinggirkan di pojok-pojok masyarakat.

    Tentu masih ada yang masih bisa kita lakukan untuk memperjuangkan umat ini. Beberapa mengambil jalan kekuasaan untuk merebut kembali kejayaan Islam, sedangkan beberapa yang lain menawarkan jalan pendidikan; jalan yang lambat namun bertahan lebih lama.

    Baca Juga: Informasi Pendaftaran Islamic Center Wadi Mubarak Tahun 2022-2023

    Di antara jalan pendidikan tersebut adalah mendekatkan kembali umat Islam kepada Al-Qur’an yang mereka miliki; bahkan sejak usia dini.

    Memberi ‘Nafas Qur’ani’ Sejak Dini

    Usaha untuk menciptakan kembali generasi qurani mesti dimulai sedini mungkin—kalau bisa—sejak nafas pertama si buah hati. Karena hanya dengan cara itu kita dapat mendidik penerus perjuangan yang mencintai Al-Qur’an, sebelum mereka terkontaminasi oleh lingkungan masyarakat yang cenderung merusak.

    Dengan pendekatan yang baik dan manusiawi, potensi anak-anak usia dini (2-7 tahun) sangatlah mungkin. Sebagaimana disebut oleh Muhibbin S., anak-anak pada masa perkembangan kognitif pra-operasional sudah memiliki kesadaran object permanence, dalam artian ia sudah sadar bahwa suatu benda itu tetap ada di tempat meski ditinggalkan dan tidak terlihat lagi. Dalam penyataan yang lebih singkat, ia sudah mampu menghafal.

     Bukan hanya itu, dalam merespon lingkungan, mereka juga memiliki kemampuan untuk meniru perilaku orang lain. Imitasi adalah salah satu bentuk perkembangan kognitif anak. Maka sudah barang tentu, lebih baik menyibukkan anak untuk meniru-niru para qurra` dibanding para penyanyi bukan?

    Dari situ, harus bagi kita untuk memberikan ‘nafas-nafas qurani’ kepada mereka sejak dini, mulai dari memperdengarkan murattal, mengajak mereka mengaji, memberi mereka reward bila mereka ketika berhasil menghafal surat-surat pendek, dan lain sebagainya, agar ‘nafas-nafas qurani’ tersebut dapat hidup dalam relung hati mereka dan menjadi cinta pertama mereka.

    Baca Juga 5 (Lima) Manfaat Husnuzan Kepada Allah Ta’ala

    Menghafal adalah Langkah Awal

    Salah satu ‘nafas qurani’ tersebut adalah memberi mereka motivasi untuk menghafal Al-Qur’an. Karena dengan menghafal, akal pikiran mereka tertambat kepada Al-Qur’an dan membuat mereka lebih intens untuk terus bersama Al-Qur’an.

    Helena Boyle dalam Quranic Schools: Agents of Preservation and Change, mengutip komentar tidak baik dari Zerdoumi N. mengenai lembaga-lembaga pendidikan Al-Qur’an, bahwa pendidikan menghafal Alquran itu tidak produktif secara intelektual maupun moral juga tidak membangkitan minat dan bakat siswa.

    Hal ini dibantah oleh Boyle, bahwa pandangan miring seperti ini disebabkan Zerdoumi melihat menghafal Al-Qur’an itu adalah akhir dari pembelajaran, padahal menghafal Al-Qur’an sebenarnya adalah awal dari perjalanan intelektual seorang muslim. Setelah menghafal, mereka baru akan mulai membangun dasar-dasar keilmuan dan moralitas dengan terus berpegang kepada Al-Qur’an.

    Apapun yang mereka pelajari setelah itu, baik itu  akidah, fiqih, hadis ataupun biologi, matematika, dan sosiologi, mereka akan tetap melirik kembali kepada Al-Qur’an.

    Maka, menghafal Al-Qur’an bukanlah puncak dari prestasi intelektual seorang anak, justru ia adalah langkah awal dari kembalinya umat pada posisi peradaban yang tinggi.

    Baca Juga: Wisuda Pendidikan Guru Tahfizh Anak Usia Dini Sahabat Qur’an (PG-TAUD SaQu) Angkatan XV

    ‘Alquran Berjalan’, Bukan ‘Mushaf Berjalan’    

    Mari kita kembali ke pembicaraan awal kita, yaitu tentang perbaikan akhlak. Sebagaimana jelas ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Al-Qur’an tercermin pada akhlak Rasulullah ﷺ :

    عَنْ يَزِيدَ بْنِ بَابَنُوسَ ، قَالَ :دَخَلْنَا عَلَى عَائِشَةَ، فَقُلْنَا يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، مَا كَانَ خُلُقُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَتْ: كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ.

    Dari Yazid ibn Babanus, ia mengatakan: “Kami mendatangi Umm al-Mu’minin (‘Aisyah radhiallahu ‘anha), lalu kami berkata: ‘Wahai Umm al-Mu’minin! Bagaimana akhlak Rasulullah ﷺ dulu?’ Ia pun menjawab, ‘Akhlaknya adalah (sebagaimana) Al-Qur’an’”
    (HR. Al-Bukhari)

    Penjelasan Umm al-Mu’minin di atas memberi kita gambaran bagaimana Rasulullah ﷺ menjadi role model dari nilai-nilai yang terkandung di Al-Qur’an. Perbuatan-perbuatannya tidak pernah lepas dari garis-garis yang sudah ditetapkan Al-Qur’an. Beliau ﷺ, singkatnya, adalah ‘Alquran yang berjalan’ di muka bumi ini.

    Tapi bagaimana menghafal Al-Qur’an bisa memperbaiki akhlak generasi buah hati kita? Apa ada kaitan langsung antara keduanya? Ataukah ada penghubung antara dua proses tersebut?

    Boyle, masih pada bukunya, juga mengangkat teori embodiment (penjelmaan); yaitu bagaimana menghafal Al-Qur’an adalah proses penjelmaan Al-Qur’an, dari nilai-nilai yang hanya di dalam teks menjadi hidup di tengah masyarakat.

    Dalam ungkapan lain, menghafal Al-Qur’an adalah investasi awal menciptakan ‘Al-Qur’an berjalan’, insan yang menjadikan Al-Qur’an sebagai inspirasi kehidupan.

    Simak Live Streaming Qur’anic Parenting Rambu-Rambu Penting Dalam Mendidik Anak

    Dalam salah satu karyanya, Ma’alim at-Tanzil, Sayyid Quthb menerangkan bahwa seharusnya, orang yang mempelajari Al-Qur’an mesti berorientasi pada pengamalan. Ya, inilah penghubung yang mengaitkan proses menghafal Al-Qur’an dan memperbaiki akhlak.

    Disamping itu, perlu bagi guru-guru Al-Qur’an kita untuk bisa mengajarkan nilai-nilai yang terkandung. Tanpa hal tersebut, kita hanya bisa menciptakan para penghafal Al-Qur’an, bukannya pengamal Al-Qur’an.

    Justru berbahaya ketika yang tercetak bukannya ‘Al-Qur’an yang berjalan’, malah ‘mushaf berjalan’. Hanya ada lisan yang mampu membaca tanpa penghayatan. Akhlak-akhlak Al-Qur’an tidak mewarnai hidup mereka, malah Al-Qur’an menjadi label dagang untuk memperlaris ‘jualan’ mereka.

    Generasi yang seperti itu malah terperosok lebih dalam kedalam jurang dekadensi moral karena menyamarkan nafsu-nafsu duniawi mereka dengan jubah kesalehan.

    Penutup

    Umat Islam perlu dibuat dekat kembali dengan Al-Qur’an, terutama sekali generasi-generasi mudanya yang akan memegang tali kendali umat di masa mendatang.

    Salah satu jalannya adalah memanfaatkan usia dini anak-anak untuk membuat mereka cinta pada Al-Qur’an dengan menghafalnya.

    Sembari menghafal, nilai-nilai akhlak yang terkandung juga mesti diajarkan. Barulah kemudian mereka mulai meneruskan perjalanan intelektual membangun peradaban Islam kembali, sembari terus melabuhkan hati kepada Al-Qur’an.

    Wallahu a’lam.

    Penulis: Gilang Eksa Gantara, Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak
    Editor: Al.Choer

  • 7 (Tujuh) Cara Menjaga Fitrah Anak Berdasarkan Perbedaan Jenisnya

    Mendidik anak supaya bisa memahami dan menjaga fitrahnya berkaitan dengan perbedaan jenisnya (laki-laki/perempuan) merupakan hal penting.

    Pendidikan ini juga penting untuk menanamkan adab dalam Islam yang banyak mengatur bagaimana seharusnya interaksi berlainan jenis harus dilakukan, baik antara sesama mahram atau pun bukan. 

    Dalam Islam, pendidikan ini dalam batasan tertentu sudah mulai dikenalkan sejak kanak-kanak. Hal ini penting dalam rangka menjaga (iffah) dan mengarahkan fitrah perbedaan jenis anak sejak dini sehingga bisa membangun orientasi yang benar ketika sudah dewasa nanti. 

    Selain dalam rangka menjaga fitrah tersebut, pendidikan yang dimaksud juga berfungsi untuk menjaga keselamatan diri dari berbagai bentuk kekerasan seksual yang rentan menimpa anak-anak.

    Live Streaming Qur’anic Parenting: Apa Yang Cocok Untuk Anak Kita

    Ada beberapa ajaran Islam yang bisa dikaitkan dengan masalah ini. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan beberapa hal yang harus dilakukan oleh orang tua, di antaranya adalah:

    1. Memisahkan tempat tidur anak laki-laki dengan anak perempuan

    Tempat tidur yang bersamaan bagi anak-anak yang telah memasuki fase baligh sangat memungkinkan mereka mengalami sentuhan anggota tubuh yang tidak layak, menimbulkan rangsangan, bahkan mungkin terjadi hubungan yang tidak benar menurut syariat.

    Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam bersabda,” jika anak-anak kalian telah berusia tujuh tahun maka pisahkanlah tempat tidur mereka (HR. Abu Daud, 409, kitab as-salah)

    Selain itu sangat tidak baik jika anak perempuan tidur bersama ayahnya atau anak laki-laki tidur bersama ibunya dalam satu ranjang jika telah memasuki umur 7 tahun.

    Baca juga: 40 Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an STIU Wadi Mubarak Diwisuda

    2. Tidak melihat aurat anak kecil dan memperlihatkan aurat kepadanya

    Kebiasaan anak-anak melihat aurat orang lain, atau dilihat auratnya oleh orang lain akan mendapatkan keburukan yang menyebabkan mereka kurang memiliki rasa malu.

    Rasulullah shallalahu’alaihi wasallam bersabda, ”hendaknya orang tua tidak melihat aurat anaknya dan anak hendaknya tidak melihat aurat orangtuanya (HR. Hakim, Mustadrak No.5117)

    3. Tidak menyentuh aurat anak-anak 

    Para ahli psikologi mengatakan bahwa anak-anak yang berusia enam sampai tujuh tahun sudah bisa membayangkan hubungan seksual.

    Hendaknya orangtua tidak bermain-main dengan alat kelamin anak karena dapat menimbulkan rangsangan dan mempercepat masa baligh mereka. Itu secara tidak langsung mengajarkan pelecehan kepada mereka.

    Baca Juga: Informasi Pendaftaran Islamic Center Wadi Mubarak Tahun 2022-2023

    4. Membiasakan anak meminta izin ketika membuka pakaian di rumah

    Al-Quran sudah menjelaskan dalam (surah An-Nur :59):

    Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur dewasa, maka hendaklah mereka (juga) meminta izin, seperti orang-orang yang lebih dewasa meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu. Allah Maha mengetahui, Maha bijaksana.

    5. Hindari anak dari melihat orangtua ketika sedang berhubungan 

    Orangtua harus menjaga segala gerak-gerik, terutama hubungan “rahasia” mereka, agar jangan sampai sedikitpun tercium oleh anak-anak.

    Orangtua harus selalu sopan, tidak berciuman, bercumbu atau melontarkan humor yang tidak pantas didepan anak-anak mereka.

    Budayakan rasa malu didepan anak-anak agar mereka menjadi anak-anak yang santun.

    Baca Juga 7 (Tujuh) Amalan Yang Mengalirkan Pahala Terus Menerus

    6. Membatasi orang lain mencium anak laki-laki dan perempuan

    Dalam sebuah riwayat, disebutkan, ”jika anak perempuan telah berusia enam tahun janganlah kalian menciumnya (selain ayah dan ibunya). Dan perempuan dilarang mencium anak laki-laki jika telah berusia tujuh tahun. (HR. At turmudzi No. 1109, Sahih Wa ‘dhaif sunan At-turmudzi) 

    Satu ciuman yang diberikan orang yang bukan mahram kepada anak-anak sangat membekas pada jiwa mereka, sehingga ketika sudah dewasa mereka mengalami kesulitan dalam menjaga kesucian dirinya.

    7. Jauhkan anak dari yang berbau fornografi

    Anak-anak harus dijaga agar mereka tidak saling mempertontonkan aurat, termasuk mencegah mereka dari melihat poster, gambar, atau film fornografi, karena mereka bisa terpengaruhi.

    Maka dari itu orangtua harus memberikan teladan yang baik bagi anak-anaknya, orangtua bukan hanya fokus mendidik anaknya supaya berbakti pada orangtua saja.

    Memang benar ”Surga berada dibawah telapak kaki ibu”, tetapi orangtua harus faham mengenai kewajiban yang lain untuk anak-anaknya, mulai dari ibadahnya, belajarnya, bahkan mengenai pendidikan seksualitasnya agar kelak menjadi generasi yang diridhai Allah Subhanahu Wata’ala.

    Wallahu a’lam

    Penulis: Hafizh Nur Zaman

    Editor: Al.Choer

  • Apa yang Cocok Untuk Anak Kita?

    🏘 KAJIAN QUR’ANIC PARENTING ONLINE 🏘

    Bagaimana mengetahui apa saja yang tepat untuk pertumbuhan anak kita?

    Bagaimana sebaikanya memperlakukannya dengan cara yang baik.

    Bukan hanya baik di mata kita namun sesuai juga dengan metode pendidikan anak dan tentunya yang lebih penting sesuai tuntunan Qur’an dan hadits.

    Lantas apakah kita sebagai orang tua telah menemukan cara atau metode yang cocok bagi anak kita?

    Apakah selama ini yang kita jalani baik menurut pendidikan anak, dan diridhoi oleh Allah Ta’ala?

    Yuk Ikuti Kajian Parenting Online Bersama Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I., Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak, dengan membahas;

    📋 Tema: Apa yang Cocok Untuk Anak Kita?
    🗓 Tanggal: Sabtu, 15 Rabiul Akhir 1443 H/20 November 2021 M
    🕰 Waktu: 19.45 WIB – Selesai
    🎥 Live on Youtube Channel Darsuna TV:
    https://youtube.com/c/DarsunaTV

    ➖➖➖➖➖➖
    .
    .
    Mari ajak keluarga, rekan, dan sahabat untuk bersama saling menimba ilmu, meningkatkan kapasitas diri dalam mendidik dengan mengikuti majelis ilmu yang bermanfaat ini.
    .
    .
    .
    🏷 Find Us On:

    Instagram Qur’anic Parenting: https://bit.ly/IGquranicparenting
    Grup Facebook Qur’anic Parenting: https://www.facebook.com/groups/229276489202028/?ref=share
    Twitter Qur’anic Parenting: https://twitter.com/parenting_qur?s=08
    Lantama
    https://instagram.com/lantamawisata?utm_medium=copy_link
    Instagram;
    •Bimbel SaQu : https://instagram.com/bimbelsaqu_wm?igshid=1byytnk9u70bs
    •ICWM : https://instagram.com/ic_wadimubarak?igshid=16yvuiperya78
    🔗 Web : https://wadimubarak.com

  • 7 (Tujuh) Amalan Mengalirkan Pahala Terus Menerus

    Amal jariyah merupakan suatu amalan yang pahalanya akan terus mengalir meskipun orang yang mendapatkan amal kebaikan tersebut sudah lama meninggalkan dunia.

    Namun kebaikan yang dilakukan semasa hidupnya dahulu akan terus mendatangkan kebaikan baginya dan mengalirkan pahala kepada pelakunya.

    Hadis tentang amal jariyah yang populer dari Abu Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    إذا مات ابنُ آدمَ انقطع عملُه إلا من ثلاثٍ : صدقةٍ جاريةٍ أو علمٍ يُنتفَعُ به أو ولدٌ صالحٌ يدعو له

    “Apabila anak Adam (manusia) wafat, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu sedekah jariah, ilmu yang berman­faat, dan anak saleh yang mendoakannya”
    (HR. Muslim).

    Selain hadits di atas, ada pula hadits mengenai 7 (tujuh) amalan yang tidak terputus pahala bagi pelakunya yang di riwayatkan oleh Ibnu Majah:

    عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنَّ مِمَّا يلحقُ المؤمنَ من عملِهِ وحسناتِه بعدَ موتِه عِلمًا علَّمَه ونشرَه وولدًا صالحًا ترَكَه ومُصحفًا ورَّثَه أو مسجِدًا بناهُ أو بيتًا لابنِ السَّبيلِ بناهُ أو نَهرًا أجراهُ أو صدَقةً أخرجَها من مالِه في صِحَّتِه وحياتِه يَلحَقُهُ من بعدِ موتِهِ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ  bersabda:
    “Sesungguhnya yang didapati oleh orang yang beriman dari amalan dan kebaikan yang ia lakukan setelah ia mati adalah: Ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan. Anak sholeh yang ia tinggalkan. Mushaf Al-Qur’an yang ia wariskan. Masjid yang ia bangun. Rumah bagi ibnu sabil (musafir yang terputus perjalanan) yang ia bangun. Sungai yang ia alirkan. Sedekah yang ia keluarkan dari harta ketika ia sehat dan hidup. Semua itu akan dikaitkan dengannya setelah ia mati.”

    (HR. Ibnu Majah)

    Jika dijabarkan dari hadits di atas ketujuh amalan tersebut adalah:

    1. Ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan, yaitu dengan cara menunjukkan atau mengirimkannya kepada orang lain dalam bentuk apapun. Baik dalam bentuk pengajaran maupun berupa tulisan-tulisan.

    2. Anak sholeh yang ia tinggalkan, dalam riwayat lain “Anak sholeh yang mendoakannya” yaitu ketika seorang anak yang sholeh mengerjakan suatu kebaikan maka pahala dari perbuatan itu pun akan mengalir kepada orangtuanya.

    3. Mushaf Al-Qur’an yang ia wariskan, yaitu Al-Qur’an yang ia miliki lalu diwariskan kepada ahli waris atau pun Al-Qur’an yang ia wakafkan untuk umat Islam.

    4. Masjid yang ia bangun, yaitu membangun dengan harta sendiri maupun ia ikut membangun dengan tenaganya.

    5. Rumah bagi ibnu sabil yang ia bangun, yaitu membangun rumah untuk persinggahan para ibnu sabil / musafir baik yang dikenal olehnya maupun yang tidak.

    6. Sungai yang ia alirkan, yaitu membuat aliran sungai walau kecil hingga air akan mengalir darinya sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh orang banyak.

    7. Sedekah yang ia keluarkan dari hartanya ketika ia sehat dan hidup, yaitu sedekah dari hartanya baik sedekah yang ia niatkan untuk beramal jariyah maupun tidak. Karena dengan sedekah tersebut banyak orang mendapatkan manfaatnya walau setelah kematiannya.

    Penulis: Abu Samudera
    Referensi: Dorar.net

  • Orang Tua Adalah Pintu Surga

    Islam sangat menghormati kedudukan orang tua, bahkan menyandingkan ketaatan kepada mereka setelah ketaatan kepada Allah subhanallahu wa ta’ala.

    Dan menjadikan kebaikan seseorang kepada orang tuanya merupakan salah satu tingkatan tertinggi dari kebajikan yang mendatangkan pahala dan kesuksesan dunia akhirat, bahkan jika kedua orang tua bukan seorang muslim.

    Baca Juga Berbakti Kepada Orang Tua

    Maka merawat orang tua adalah kewajiban seorang anak. Apalagi jika orangtua kandung sudah lansia atau terkena penyakit tua.

    وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

    “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
    (Al-Isra’: 23)

    Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari menafsirkan ayat di atas dengan penjelasan berikut:

    لا تؤفف من شيء تراه من أحدهما أو منهما مما يتأذّى به الناس، ولكن اصبر على ذلك منهما، واحتسب في الأجر صبرك عليه منهما، كما صبرا عليك في صغرك

    “Janganlah berkata ah, jika kalian melihat sesuatu dari salah satu atau sebagian dari keduanya yang dapat menyakiti manusia. Akan tetapi bersabarlah dari mereka berdua. Lalu raihlah pahala dengan bersabar pada mereka sebagaimana mereka bersabar merawatmu di waktu kecil.”

    Setiap anak patut mengingat peran orang tua yang telah membesarkannya. Dari keridhaan orang tua, seorang anak akan mendapatkan keridhaan Allah subhanallahu wa ta’ala.

    Baca juga: Informasi Pendaftaran MAHABBAH BOARDING SCHOOL Program Tahfizh Tingkat SMP-SMA Putri

    Dalam riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    الوالِدُ أوسَطُ أبوابِ الجَنَّةِ، فاحفَظْ ذلكَ البابَ أو دَعْهُ

    “Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Maka jagalah pintu itu atau kalian bisa tinggalkan (sia-siakan pintu itu).”

    Sehingga tak ada dalih apapun bagi seorang anak untuk tidak berbakti kepada orang tua.

    اللهم اجعل أبي وأمي من الذاكرين لك، الشاكرين لك، الطائعين لك، المنيبين لك
    اللهم وأعني على خدمتهم كما ينبغي لهما علينا
    اللهم اجعلني باراً طائعين لهما
    اللهم لا تجعلنا ممن يعقّون فنعقّ أو ممّن يهجرون فنهجر
    اللهم لا تتوفاهما إلا وهما راضيين عنا تمام الرضى
    اللهم وأعنا على خدمتهما كما ينبغي لهما علينا
    اللهم اجعلنا بارين طائعين لهما
    اللهم أعنا على الإحسان إليهما في كبرهما
    اللهم تقبل توبتهما، وأجب دعوتهما
    اللهم اجعل أوقاتهما بذكرك معمورة‎
    اللهم أبعد عن أبي وأُمي متاعب الدنيا، ولا تذقهما طعم الألم، ولا دموع الحزن
    يا رب بحجم سمائك السابعة أرح قلوبهما، وأسعدهما واحفظهما لي
    اللهم اجعل ذريتهم ذرية صالحة تدعو لهم بالخير إلى يوم الدين واجعل ذريتهم سترا بينهم وبين نار جهنم
    اللهم أنزل على قبورهم الضياء والنور والفسحة

    Ya Allah, jadikanlah ayahku dan ibuku termasuk orang-orang yang mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, taat kepada-Mu, dan bertaubat kepada-Mu.
    Ya Allah, bantulah aku untuk melayani mereka sebagaimana mestinya.
    Ya Allah, jadikanlah aku orang yang sholeh dan taat kepada mereka.
    Ya Allah, jangan jadikan kami termasuk orang yang cerewet kepada mereka, atau pula termasuk orang yang mendiamkan mereka.
    Ya Allah, jangan wafatkan mereka kecuali mereka benar-benar telah ridha kepada kami.
    Ya Allah, bantulah kami untuk melayani mereka sebagaimana mestinya.
    Ya Allah, bantulah kami untuk berbuat baik kepada mereka di hari tua mereka.
    Ya Allah, terimalah taubat mereka, dan kabulkan doa mereka,
    Ya Allah, penuhi waktu mereka dengan mengingat-Mu.
    Ya Allah, jauhkan ayah dan ibuku dari kesulitan dunia, dan jangan buat mereka merasakan rasa sakit, atau air mata kesedihan.
    Ya Allah, dengan keluasan langit ketujuh-Mu, hiburlah hati mereka, buatlah mereka bahagia, dan jagalah mereka untuk saya.
    Ya Allah, jadikanlah anak-anak mereka keturunan yang shalih yang akan mendoakan mereka sampai hari kiamat, dan jadikan keturunan mereka sebagai penghalang antara mereka dan api neraka.
    Ya Allah, turunkan cahaya dan penerang serta keluasan ruang kubur mereka.
    (Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I)

     
    Penulis: Abu Samudera
    
    
  • Rambu-Rambu Penting Dalam Mendidik Anak

    🌍 KAJIAN QUR’ANIC PARENTING ONLINE 🌍

    Rambu-Rambu Penting dalam Mendidik Anak..

    Dalam sebuah pendidikan tentunya membutuhkan rambu-rambu yang perlu diperhatikan bagi seorang pendidik, terlebih mendidik sang buah hati tercinta.

    Dengan rambu-rambu yang kita berikan maka anak akan mengetahui apa yang seharusnya ia kerjakan dan apa yang tidak baik ia kerjakan.
    Melindunginya dan memberinya rambu-rambu adalah tanda kasih sayang orang tua terhadap anak-anaknya.

    Apa saja rambu-rambu yang penting itu?

    Yuk contek tips mendidik anak agar patuh sejak kecil.

    Ikutilah Kajian Parenting Online
    Bersama
    Ustadz Dr. Didik Hariyanto, Lc., M.P.I.,
    Pimpinan Islamic Center Wadi Mubarak
    pembahasan:

    📑 Tema: Rambu-Rambu Penting dalam Mendidik Anak.
    🗓 Tanggal: Sabtu, 30 Oktober 2021
    📱Waktu: 19.30 WIB – Selesai
    🎥 Live on Youtube Channel Darsuna TV:
    https://youtube.com/c/DarsunaTV

    ➖➖➖➖➖➖

    ✒ Mari ajak keluarga, rekan, dan sahabat bersama-sama menimba ilmu, meningkatkan kapasitas diri dengan mengikuti majelis ilmu yang bermanfaat ini.
    .
    .
    .

    Find Us On:
    Instagram;
    •Graha Quran : https://www.instagram.com/grahaquran_wm/
    •ICWM : https://instagram.com/ic_wadimubarak?igshid=16yvuiperya78
    •Lantama Wisata : https://instagram.com/lantamawisata?utm_medium=copy_link
    🔗 Web : https://wadimubarak.com

  • 8 (Delapan) Golongan Yang Disukai Allah ﷻ Tertulis Dalam Al-Qur’an Al-Karim (Bag. 2)

    8 (Delapan) Golongan Yang Disukai Allah ﷻ Tertulis Dalam Al-Qur’an Al-Karim (Bag. 2)

    5. Allah menyukai orang yang berbuat kebajikan (Al-Muhsinun)

    Muhsinîn berasal dari kata ihsan, secara harfiyah berarti berbuat kebaikan.

    Rasulullah saw mendefinisikan ihsan dengan seseorang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.

    Berbuat ihsan kepada makhluk ciptaan Allah adalah memperlakukan semua makhluk dengan perlakuan yang baik, tidak menyakiti atau pun merusak.

    فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

    “Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”
    (Ali ‘Imran: 148)

    وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

    “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”
    (Al-Baqarah: 195)

    الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

    “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”
    (Ali ‘Imran: 134)

    Baca juga Informasi Pendaftaran MAHABBAH Boarding School Program Tahfizh Tingkat SMP-SMA Putri

    6. Allah menyukai orang yag bertaubat (At-Tawwabun)

    At-Tawwabun adalah orang yang bertaubat setelah mengerjakan dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil dengan tidak mengulang kembali

    وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

    “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”
    (Al-Baqarah: 222)

    Baca juga: Shalat Sunnah Yang Dilakukan Secara Berjamaah, Bagian 2

    7. Allah menyukai orang yang bertakwa (Al-Muttaqun)

    Menurut Tafsir Ibnu Katsir, arti dasar dari “takwa” adalah menaati Allah SWT dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Maka Al-Muttaqun adalah orang yang meyakini adanya Allah swt dengan menjauhkan diri dari perbuatan syirik dan patuh akan segala perintah-Nya

    بَلَىٰ مَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ وَاتَّقَىٰ فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

    “(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa”
    (Ali ‘Imran: 76)

    إِلَّا الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ثُمَّ لَمْ يَنْقُصُوكُمْ شَيْئًا وَلَمْ يُظَاهِرُوا عَلَيْكُمْ أَحَدًا فَأَتِمُّوا إِلَيْهِمْ عَهْدَهُمْ إِلَىٰ مُدَّتِهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

    “Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.”
    (At-Taubah: 4)

    كَيْفَ يَكُونُ لِلْمُشْرِكِينَ عَهْدٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ رَسُولِهِ إِلَّا الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۖ فَمَا اسْتَقَامُوا لَكُمْ فَاسْتَقِيمُوا لَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

    “Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil haraam? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.”
    (At-Taubah: 7)

    8. Allah menyukai orang yang berjuang di jalan Allah (Al-Mujahidun Fi Sabilillah)

    Yaitu seseorang yang ikut dalam peperangan dalam menegakkan agama Allah.

    إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

    “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
    (Ash-Shof: 4)

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

    “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”
    (Al-Ma’idah: 54)

    Penulis: Abu Samudera

    Referensi: Mukhtashor Kitab Asror wa Kunuz Mahabbatillah Li Muhammad Sa’id Ghalib Al-Syahriy. Tahun 2019

    Dapatkan Informasi terkini dengan mengikuti saluran ICWM di https://whatsapp.com/channel/ICWM

  • 8 (Delapan) Golongan Yang Disukai Allah ﷻ Tertulis Dalam Al-Qur’an Al-Karim (Bag. 1)

    8 (Delapan) Golongan Yang Disukai Allah ﷻ Tertulis Dalam Al-Qur’an Al-Karim (Bag. 1)

    Sungguh beruntung orang-orang yang termasuk dalam golongan yang disukai Allah ﷻ ini. Karena ketika Allah ﷻ menyukai suatu golongan maka akan banyak kebaikan dan rahmat yang Allah ﷻ limpahkan kepadanya.

    Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ telah memberitahukan 8 (delapan) golongan yang disukai oleh-Nya. Dan sepatutnya umat Islam berlomba-lomba untuk masuk dalam golongan tersebut.

    Golongan apa sajakah itu?

    1. Golongan orang yang bersih (Al-Muththohhirun)

    Yaitu orang-orang yang selalu menjaga dirinya dari hadats besar dan kecil, dan jika berhadats maka ia segera membersihkannya.

    لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

    “Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (At-Taubah: 108)


    وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

    “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”
    (Al-Baqarah: 222)

    Baca juga Informasi Pendaftaran MAHABBAH Boarding School Program Tahfizh Tingkat SMP-SMA Putri

    2. Allah menyukai orang yang bertawakal kepadaNya (Al-Muttawakkilun)

    Ibnu Jarir At-Thobari dalam tafsirnya menjelaskan makna tawakkal. Yaitu ridho dengan ketetapan Allah ﷻ, tunduk pada segala keputusan-Nya.

    Semakna dengan itu adalah bermakna membebaskan diri dari segala ketergantungan selain Allah dan menyerahkan keputusan atas segala sesuatunya hanya kepada Allah SWT. Hal ini pula yang membuat tawakal disebut sebagai perbuatan menyerahkan segala perkara, ikhtiar, dan usaha kita kepada Allah SWT.

    فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

    “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”
    (Ali Imran: 159)

    Baca juga: Dunia: Manis Dan Hijau

    3. Allah menyukai orang yang berbuat adil (Al-Muqsithun)

    Al-Qisthu semakna dengan al-‘adlu dan al-wazn. Dalam KBBI, adil adalah (1) sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak (2) berpihak kepada yang benar; berpegang pada kebenaran. (3) sepatutnya; tidak sewenang-wenang.

    Ibnu ‘Utsaimin dalam tafsirnya menjelaskan makna al-qithu, yaitu melihat suatu permasalahan dari inti masalahnya, bukan berdasarkan siapa yang membawa masalah tersebut

    لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

    “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
    (Al-Mumtahanah: 8)

    سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ ۚ فَإِنْ جَاءُوكَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ ۖ وَإِنْ تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَنْ يَضُرُّوكَ شَيْئًا ۖ وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

    “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.”
    (Al-Ma’idah: 42)

    وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

    “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
    (Al-Hujurat: 9)

    Baca juga Pembatal-Pembatal Shalat (Seri Madrasah Fiqh Online)

    4. Allah menyukai orang yang sabar (Ash-Shobirun)

    Definisi sabar menurut Ibnu Qayyim al-Jauzi adalah menahan diri dari rasa gelisah, cemas dan amarah; menahan lidah dari keluh kesah, menahan tubuh dari kekacauan.

    Sedangkan menurut M. Quraish Shihab, sabar adalah menahan diri atau membatasi jiwa dari keinginan demi mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik.

    وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

    “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.”
    (Ali ‘Imran: 146)

    Bersambung Bagian 2

    Dapatkan Informasi terkini dengan mengikuti saluran ICWM di https://whatsapp.com/channel/ICWM

  • Dunia: Manis Dan Hijau

    Dunia: Manis Dan Hijau

    عن أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم (إنَّ الدُّنيا حلوةٌ خَضِرة، وإنَّ الله مُستخلفكم فيها، فينظر كيف تعملُون؟ فاتقوا الدُّنيا، واتَّقُوا النِّساء؛ فإنَّ أوَّل فِتنة بني إسرائيل كانت في النِّساء) رواه مسلم

    Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah telah menguasakannya kepadamu sekalian. Kemudian Allah menunggu (memperhatikan) apa yang kamu kerjakan (di dunia itu). Karena itu takutilah dunia dan takutilah wanita, karena sesungguhnya sumber bencana Bani Isarail adalah wanita.”
    (HR. Muslim)

    “Dunia itu manis dan hijau.” Artinya, dunia itu manis rasanya, penuh kelezatan dan kenikmatan. Dan hijau adalah bahwa dunia indah dipandang dan bisa menyegarkan mata.

    Jika ada sesuatu yang manis rasanya dan hijau berada di depan mata, maka mata akan menangkapnya terlebih dahulu dan setelah itu barulah jiwa yang akan berusaha mencapainya.

    Baca juga: Informasi Pendaftaran MAHABBAH BOARDING SCHOOL Program Tahfizh Tingkat SMP-SMA Putri

    Dan apabila keduanya sudah berpadu, antara kesenangan mata dan jiwa maka dikhawatirkan seseorang akan terjerumus ke dalamnya. Terjerumus dalam tipu daya dan kesibukan dunia.

    Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan kepada umatnya bahwa Allah subhanallahu wa ta’ala telah menunjuk manusia sebagai khalifah di bumi, mendiami bumi sehingga manusia dapat hidup di dalamnya serta merawatnya.

    Sebagai khalifah di muka bumi pun manusia harus melakukan ketaatan kepada-Nya, menahan diri dari hawa nafsu serta tidak tertipu oleh dunia ini.

    Sebagaimana Firman Allah subhanallahu wa ta’ala:

    فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

    “…maka janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu treperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah”
    (QS. Luqman: 33)

    Dunia ini memiliki penampilan yang begitu mempesona, tetapi kenyataannya adalah sebaliknya.

    Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan kepada umatnya bahwa dunia bukanlah tempat tinggal yang abadi. Karena itu, jadikan hidup di dunia ini seolah-olah hanyalah seorang musafir dengan tujuan akhir adalah kehidupan akhirat.

    Baca juga: Bercanda Tapi Bohong Hati-Hati

    Bagi seorang muslim, dunia tak lebih dari sebuah penjara karena ia tidak bisa bebas sepuas-puasnya. Ia juga tidak bisa mengumbar nafsu semaunya. Ada aturan yang membatasi.

    Jika ia melewati batas itu, ia akan terjungkal sedalam-dalamnya ke lembah kenistaan yang berujung penyesalan.

    Namun, sebaliknya, bagi orang kafir dunia ini adalah kesenangannya. Dunia ini adalah ‘surga’nya. Ia bebas melakukan apa saja semaunya; tak ada yang melarang. Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan, dalam sabdanya;

    الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

    “Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir” 
    (HR. Muslim).

    Semua bentuk kelezatan dunia merupakan ujian dan cobaan. Tetapi yang terbesar dan terkuat dari semua cobaan adalah fitnah wanita, karena fitnah (cobaan) mereka sangat besar.

    Baca juga: Pendaftaran Pendidikan Guru Tahfizh Anak Usia Dini Angkatan XVI

    Setidak-tidaknya, wanita mendorong seorang pria untuk mencintai dunia. Di samping itu, sering kali terjadi pelanggaran yang haram, pembunuhan, dan permusuhan disebabkan oleh wanita.

    Jika diamnya saja seorang wanita dapat menggoda kaum lelaki, apalagi gerakannya? Baik dari suara maupun gerak tubuhnya tentu dapat lebih menggoda. Maka seorang muslim patut menundukkan pandangannya ketika berjumpa dengan para wanita. Dan Islam telah mensyari’atkan agar para wanita menutup semua bagian tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.

    Hal ini sebagaimana ujian pertama yang diujikan Allah subhanallahu wa ta’ala kepada Bani Israil adalah dari seorang wanita. Maka selayaknya umat Islam tidak terjerumus sebagaimana umat terdahulu.

    Wallahu a’lam

    Penulis: Abu Samudera